“Bukan racun,” kata dokter itu sekali lagi.
Aku menatapnya tanpa berkedip. Entah mengapa, jawaban itu tidak membuatku lega. Justru cara dokter menggenggam lembar hasil pemeriksaan membuat tengkukku terasa dingin.
“Lalu apa yang ada di dalam susu saya?”
Dokter mempersilakanku duduk. Ia menutup pintu ruang konsultasi, lalu meletakkan laporan di meja.
“Zat yang kami temukan adalah obat penenang dalam dosis sangat rendah. Bukan dosis yang akan langsung membahayakan nyawa. Tetapi jika dikonsumsi terus-menerus, apalagi tanpa pengawasan dokter, efeknya bisa serius.”
Aku merasa darah di wajahku menghilang.
“Obat penenang?”
“Ya. Dari konsentrasinya, kemungkinan hanya beberapa tetes setiap kali. Apakah akhir-akhir ini Ibu sering tidur sangat nyenyak? Sulit bangun malam? Kadang pusing atau kehilangan fokus saat pagi?”
Pertanyaan itu seperti membuka pintu yang selama bertahun-tahun terkunci di kepalaku.
Aku teringat bagaimana selama beberapa tahun terakhir aku hampir tidak pernah terbangun tengah malam.
Dulu, sebelum menikah dengan Dimas, tidurku sangat ringan. Suara pintu bergeser sedikit saja bisa membangunkanku. Tetapi belakangan, setelah meminum susu malam, aku bisa tidur sampai pagi tanpa mengingat apa pun.

Aku selalu menganggap itu karena chamomile.
“Sudah berapa lama suami Ibu memberi susu itu?”
“Tujuh tahun.”
Dokter terdiam.
Aku melihat sesuatu di matanya. Kekhawatiran.
“Bu Ratih, saya menyarankan Ibu jangan langsung menuduh siapa pun. Tapi mulai sekarang, jangan konsumsi minuman atau obat yang tidak Ibu siapkan sendiri. Dan sebaiknya lakukan pemeriksaan kesehatan lengkap.”
Aku pulang dengan kepala penuh suara.
Sepanjang perjalanan, satu kalimat terus berputar di benakku.
Tujuh tahun.
Malam itu Dimas menyambutku di depan rumah seperti biasa.
“Kok pulangnya terlambat, Sayang Kecil?”
Ia mengambil tasku sebelum aku sempat menjawab.
Wajahnya tetap sama.
Senyumnya hangat.
Tatapannya lembut.
Pria yang selama tujuh tahun tidur di sampingku itu tiba-tiba terasa seperti orang asing.
“Ada urusan dengan teman lama,” jawabku.
Dimas mengangguk.
Malamnya, tepat pukul sepuluh, ia kembali membawa susu.
“Habiskan, ya.”
Aku menerima gelas itu dengan tangan yang nyaris gemetar.
Aku menunggu sampai ia masuk kamar mandi, lalu menuangkan susu ke dalam pot tanaman di balkon.
Ketika Dimas kembali, gelasnya sudah kosong.
Ia tersenyum puas.
“Pintar.”
Lalu mengecup keningku.
Malam itu aku tidak tidur.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku benar-benar terjaga setelah tengah malam.
Pukul satu lewat dua belas menit, Dimas bangkit.
Ia menatapku beberapa detik.
Aku menutup mata dan mengatur napas.
“Ratih?”
Aku tidak menjawab.
Ia memanggil sekali lagi.
“Sayang Kecil?”
Tetap diam.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah kakinya menjauh.
Pintu kamar terbuka.
Aku menunggu hampir satu menit sebelum bangun dan mengikutinya.
Dimas tidak menuju dapur.
Ia masuk ke ruang kerjaku.
Ruangan yang hampir tidak pernah ia gunakan.
Dari celah pintu, aku melihatnya membuka lemari dokumen dan mengambil map berisi surat kepemilikan rumah, dokumen deposito, dan beberapa berkas perusahaan peninggalan almarhum suamiku.
Tanganku dingin.
Jadi mereka benar.
Semua orang yang dulu memperingatkanku ternyata benar.
Dimas mengincar hartaku.
Aku kembali ke kamar sebelum ia keluar.
Pagi berikutnya aku menghubungi pengacaraku, Pak Surya.
Aku meminta semua dokumen aset diperiksa.
Jawaban yang kuterima sore harinya justru membuat semuanya semakin membingungkan.
Tidak ada aset yang berpindah tangan.
Tidak ada surat kuasa mencurigakan.
Tidak ada perubahan penerima manfaat.
Bahkan selama tujuh tahun pernikahan kami, Dimas tidak pernah sekalipun meminta namanya dimasukkan ke dalam kepemilikan rumah, deposito, maupun perusahaan.
“Ada satu hal aneh,” kata Pak Surya.
“Apa?”
“Suami Ibu memang beberapa kali meminta salinan dokumen.”
Dadaku berdebar.
“Untuk apa?”
“Setiap kali, alasannya sama. Dia bilang ingin memastikan semuanya tersimpan dengan benar.”
Aku semakin tidak mengerti.
Malam berikutnya aku kembali membuang susu.
Dan kembali berpura-pura tidur.
Dimas bangun pukul satu.
Kali ini ia tidak membuka lemari dokumen.
Ia mengambil laptopku.
Kemudian sesuatu terjadi.
Ponselnya berdering.
Dimas buru-buru keluar ke balkon.
Aku mendekati pintu.
“Sudah tujuh tahun,” katanya pelan.
Aku menahan napas.
Suara perempuan terdengar samar dari telepon, tetapi aku tidak bisa memahami kata-katanya.
Dimas menjawab,
“Aku tahu. Tapi aku belum bisa berhenti sekarang.”
Jantungku berdetak keras.
Kemudian ia berkata sesuatu yang membuat lututku hampir kehilangan tenaga.
“Kalau Ratih tahu apa yang kulakukan setiap malam, dia pasti tidak akan memaafkanku.”
Aku mundur.
Saat itulah kakiku menyenggol meja kecil.
Bunyi benda jatuh terdengar keras.
Dimas langsung menoleh.
“Ratih?”
Aku membeku.
Beberapa detik kemudian ia berdiri di hadapanku.
Tidak ada lagi senyum.
“Kamu belum tidur?”
Aku menatap matanya.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku tidak melihat suamiku.
Aku melihat seseorang yang menyimpan rahasia besar.
“Apa yang kamu lakukan setiap malam?”
Wajah Dimas berubah.
“Apa maksudmu?”
“Jangan bohong.”
Aku berjalan ke dapur, membuka laci paling bawah, lalu mengambil botol cokelat yang selama ini ia sembunyikan.
Aku meletakkannya di meja.
“Aku sudah memeriksakan susu itu.”
Dimas langsung pucat.
“Aku tahu kamu memasukkan obat penenang.”
Ia tidak menjawab.
“Aku juga tahu kamu masuk ke ruang kerjaku setiap malam.”
Dimas menunduk.
Amarah yang kutahan akhirnya pecah.
“Kamu menungguku tidur supaya bisa mencuri dokumen?”
“Bukan.”
“Lalu apa?”
Ia masih diam.
“Jawab aku!”
Untuk pertama kalinya, aku berteriak kepada pria itu.
Dimas mengangkat wajah. Matanya merah.
“Aku melakukannya karena kamu.”
Aku tertawa pahit.
“Jangan berani menyebut itu cinta.”
“Aku memang salah.”
“Siapa perempuan yang meneleponmu tadi malam?”
Dimas terdiam cukup lama.
Kemudian ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
“Datang sekarang,” katanya.
Aku mundur.
“Siapa yang kamu panggil?”
“Seseorang yang seharusnya sudah kukenalkan sejak lama.”
Dua puluh menit kemudian, bel rumah berbunyi.
Seorang perempuan sekitar empat puluh tahun masuk.
Aku mengenalnya.
Namanya dr. Maya.
Dokter saraf yang pernah merawatku delapan tahun lalu setelah aku mengalami kecelakaan mobil.
Aku menatap mereka bergantian.
“Apa hubungan kalian?”
Dr. Maya meletakkan sebuah map tebal di meja.
“Bu Ratih, saya rasa sudah waktunya Ibu mengetahui semuanya.”
Ia membuka map itu.
Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan otak, catatan medis, dan beberapa lembar tulisan tangan.
Namaku tercetak di setiap halaman.
Tanggalnya dimulai delapan tahun lalu.
Setahun sebelum aku menikah dengan Dimas.
“Setelah kecelakaan itu,” kata dr. Maya, “kami menemukan tanda awal gangguan neurologis yang berpotensi memengaruhi memori jangka pendek.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Waktu itu Ibu menolak pemeriksaan lanjutan.”
Aku sama sekali tidak mengingatnya.
Dr. Maya membuka halaman lain.
“Ada satu hal lagi.”
Ia mendorong kertas ke arahku.
Itu tulisan tanganku sendiri.
Jika suatu hari aku mulai lupa, jangan biarkan anakku tahu sebelum benar-benar diperlukan. Aku tidak ingin hidupku berubah menjadi ruang tunggu rumah sakit.
Tanganku gemetar.
“Aku menulis ini?”
Dimas mengangguk perlahan.
Air matanya jatuh.
“Waktu kita bertemu, kamu sudah tahu kondisimu.”
Aku menatapnya.
“Tidak mungkin.”
“Kamu yang menceritakannya kepadaku.”
Dimas duduk di lantai di depanku.
“Tahun pertama setelah menikah, kamu mulai sering terbangun malam dalam keadaan panik. Kadang kamu keluar rumah tanpa sadar. Pernah suatu malam aku menemukanmu hampir membuka pagar jam tiga pagi.”
Aku tidak mengingat satu pun.
“Dokter memberikan obat?”
“Awalnya iya.”
Dr. Maya langsung menyela.
“Tetapi saya tidak pernah menyarankan pemberian diam-diam selama bertahun-tahun. Itu keputusan Dimas sendiri setelah Ibu berkali-kali menolak minum obat.”
Dimas menutup wajah.
“Aku takut.”
Aku menatap botol cokelat itu.
“Jadi kamu membiusku?”
“Dosisnya aku kurangi jauh dari resep awal. Tapi tetap saja aku salah. Aku seharusnya bicara denganmu.”
“Lalu dokumen-dokumenku?”
Dimas berdiri dan membuka laptop.
Ia menunjukkan ratusan folder.
Foto.
Video.
Catatan.
Rekaman suara.
Setiap folder diberi tanggal.
Dimas membuka salah satunya.
Di layar muncul diriku sendiri tujuh tahun lalu.
Aku sedang tertawa di sebuah restoran.
Folder berikutnya menunjukkan ulang tahunku yang ke-53.
Berikutnya perjalanan kami ke Yogyakarta.
Ada rekaman suara Dimas menceritakan kejadian-kejadian kecil.
Hari ini Ratih menanam bunga melati di halaman belakang.
Hari ini Ratih marah karena aku membeli terlalu banyak mangga.
Hari ini kami bertengkar karena aku lupa ulang tahun kucing tetangga yang bahkan bukan kucing kami.
Aku menatapnya, tidak memahami apa yang kulihat.
“Apa semua ini?”
Dimas menangis.
“Cadangan ingatanmu.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Aku masuk ke ruang kerja setiap malam untuk memindai dokumen, foto lama, surat, apa pun yang berhubungan dengan hidupmu. Aku takut suatu hari kamu bangun dan tidak mengenali rumah ini.”
Dadaku sesak.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Karena setiap kali kita membicarakan penyakitmu dulu, kamu ketakutan.”
Ia mengambil sebuah amplop dari lemari.
“Tapi ada sesuatu yang lebih penting.”
Di dalamnya terdapat surat.
Tulisan tanganku lagi.
Tanggalnya tujuh tahun lalu, tiga hari sebelum pernikahan kami.
Untuk Dimas.
Jika suatu hari aku tidak lagi mengingat alasan kita menikah, jangan paksa aku mengingatmu. Jangan jadikan cintamu penjara untukku.
Aku membaca kalimat berikutnya dengan pandangan kabur.
Dan kalau aku mulai takut pada dunia, panggil aku Sayang Kecil. Itu panggilan yang diberikan ayahku ketika aku masih kecil. Mungkin suatu hari otakku melupakan namamu, tetapi bagian terdalam diriku masih akan mengingat bagaimana rasanya merasa aman.
Aku menutup mulut.
Tiba-tiba aku mengerti.
“Sayang Kecil…”
Dimas mengangguk sambil menangis.
“Itu bukan panggilan yang kubuat.”
“Kenapa aku tidak ingat pernah menulis surat ini?”
Tak seorang pun menjawab.
Aku sudah mengetahui jawabannya.
Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan lengkap dilakukan.
Diagnosis dokter tidak seperti yang kutakutkan, tetapi juga bukan kabar baik.
Gangguan memoriku memang berkembang perlahan.
Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk memperlambat dampaknya, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa menjanjikan bagaimana keadaanku lima atau sepuluh tahun mendatang.
Dimas menghentikan semua obat yang diberikannya diam-diam.
Ia meminta maaf berkali-kali.
Aku tidak langsung memaafkannya.
Cinta tidak menghapus kesalahan.
Niat baik tidak membuat kebohongan menjadi benar.
Kami menjalani konseling. Semua keputusan medis sejak hari itu harus melibatkanku. Tidak ada lagi botol tersembunyi. Tidak ada lagi susu yang harus kuminum tanpa mengetahui isinya.
Enam bulan kemudian, pada suatu malam, Dimas kembali datang membawa segelas susu hangat.
Ia berhenti di depan pintu.
“Cuma susu, madu, dan chamomile. Aku bisa minum dulu kalau kamu mau.”
Aku hampir tertawa.
“Taruh saja.”
Ia meletakkannya di meja.
Kemudian hendak pergi.
“Dimas.”
Ia menoleh.
Aku menatap pria yang kini berusia dua puluh enam tahun lebih muda daripada kenangan tertuaku tentang diriku sendiri.
“Aku masih marah.”
“Aku tahu.”
“Mungkin suatu hari aku benar-benar akan lupa kamu.”
Dimas tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa.”
“Kalau begitu kamu akan bagaimana?”
Ia duduk di tepi tempat tidur, tetapi tidak menyentuhku sebelum aku mengulurkan tangan lebih dulu.
“Kalau besok kamu lupa siapa aku, aku akan memperkenalkan diri lagi.”
Aku menggenggam tangannya.
“Kalau lusa lupa lagi?”
“Aku kenalan lagi.”
“Kalau setiap hari?”
Ia tertawa pelan.
“Berarti setiap hari aku punya kesempatan membuatmu jatuh cinta lagi.”
Aku menatap gelas susu di meja.
Selama berbulan-bulan aku mengira rahasia paling mengerikan dalam rumah kami tersimpan di dalam botol kecil berwarna cokelat.
Ternyata aku salah.
Rahasia terbesar itu tersimpan di dalam kepalaku sendiri.
Dan pada ulang tahunku yang ke-59, aku membuka folder terakhir yang dibuat Dimas.
Di sana hanya ada satu video.
Aku menekan tombol putar.
Perempuan di layar adalah diriku sendiri, direkam tujuh tahun sebelumnya.
Aku menatap kamera sambil tersenyum.
“Ratih, kalau kamu menonton ini karena kamu mulai lupa, dengarkan baik-baik. Jangan percaya begitu saja kepada siapa pun, bahkan kepada Dimas. Tanyakan. Periksa. Pastikan kamu tetap punya kendali atas hidupmu.”
Aku terdiam.
Kemudian diriku di dalam video tersenyum lebih lebar.
“Tapi kalau setelah semua itu dia masih berada di sampingmu, jangan tanyakan kenapa pria muda itu memilih perempuan tua sepertimu.”
Aku di layar tertawa kecil.
“Karena sebenarnya bukan dia yang mengejarmu.”
“Kam yang melamarnya lebih dulu.”
Aku menoleh cepat kepada Dimas.
Ia berdiri di ambang pintu sambil menahan tawa dan air mata.
“Kamu tidak pernah menceritakan bagian itu.”
Dimas mengangkat bahu.
“Kamu bilang aku tidak boleh membocorkan rahasia.”
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tertawa sampai menangis.
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Ingatan memang bisa memudar.
Tubuh bisa menua.
Bahkan orang yang mencintai kita bisa membuat keputusan yang salah karena ketakutan kehilangan.
Namun cinta yang sehat bukan tentang menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada seseorang.
Cinta adalah keberanian untuk tetap saling menjaga tanpa mengambil hak satu sama lain untuk memilih.
Aku mengangkat gelas susu itu dan mengendusnya.
Dimas langsung berkata, “Serius, cuma susu.”
Aku menatapnya tajam.
Lalu tersenyum.
“Bagus.”
Aku meminum seteguk.
“Karena mulai sekarang, Sayang Kecil menjaga dirinya sendiri.”
Dan Dimas, seperti seseorang yang akhirnya memahami arti sebenarnya dari kalimat itu, hanya mengangguk.
