Begitu jari saya menyentuh kancing terakhir kebayanya, ia tiba-tiba memegang tangan saya.
“Tunggu.”
Suaranya pelan, tetapi saya bisa merasakan tangannya gemetar.
Saya menatap wajahnya. Sejak kami masuk kamar, senyum yang sepanjang hari menghiasi wajahnya perlahan menghilang.
“Ada apa, Ratna?”
Ia tidak menjawab.
Ratna hanya menunduk. Beberapa detik kemudian, ia melepaskan tangan saya dan membiarkan saya melanjutkan.

Ketika kebaya putih itu akhirnya terbuka, saya membeku.
Di sisi kiri dadanya terlihat bekas luka panjang yang sudah mengering. Ada beberapa bekas jahitan dan perubahan bentuk yang jelas menunjukkan bahwa ia pernah menjalani operasi besar.
Saya mundur setengah langkah.
“Ratna…”
Ia buru-buru menarik kain untuk menutupi tubuhnya.
Air matanya jatuh.
“Maaf.”
Hanya satu kata itu.
Namun entah mengapa, kata tersebut membuat dada saya terasa jauh lebih sakit daripada apa pun yang baru saja saya lihat.
Saya duduk di sampingnya.
“Kenapa kamu minta maaf?”
Ratna menggigit bibir, berusaha menahan tangis.
“Aku tidak pernah cerita kepadamu.”
“Cerita tentang apa?”
Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Dua tahun lalu, dokter menemukan tumor di payudaraku.”
Saya merasa seolah seseorang baru saja menarik lantai dari bawah kaki saya.
Ratna mengatakan bahwa ia didiagnosis kanker payudara stadium awal. Ia menjalani operasi di Surabaya, dilanjutkan dengan beberapa rangkaian pengobatan. Menurut pemeriksaan terakhir, kondisinya stabil dan tidak ditemukan tanda penyebaran.
Tetapi ketakutan itu belum pernah benar-benar meninggalkannya.
“Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?”
Suara saya tanpa sengaja meninggi.
Ratna tersentak.
Saya langsung menyesal.
Namun hati saya dipenuhi begitu banyak perasaan sekaligus. Takut, sedih, kecewa, dan terutama cemas kehilangan seseorang lagi.
“Aku ingin mengatakannya,” katanya. “Berkali-kali.”
“Lalu kenapa tidak?”
Ratna menatap saya.
“Karena setiap kali kamu bercerita tentang bagaimana istrimu sakit bertahun-tahun, bagaimana kamu menjaganya sampai hari terakhir, aku melihat ketakutan di matamu.”
Saya terdiam.
Ia benar.
Istri pertama saya meninggal setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit. Saya masih ingat bau rumah sakit, suara mesin di kamar perawatan, tumpukan obat di meja, dan malam-malam ketika saya terbangun hanya untuk memastikan ia masih bernapas.
Ratna melanjutkan dengan suara bergetar.
“Aku takut kalau kamu tahu, kamu akan mundur.”
“Jadi kamu pikir aku menikahimu hanya karena tubuhmu sehat?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Ratna menutup wajahnya.
“Aku takut membuatmu mengalami semuanya lagi.”
Tangisnya pecah.
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali, saya melihat perempuan yang selama ini selalu tersenyum itu benar-benar rapuh.
Saya ingin memeluknya.
Namun sesuatu dalam diri saya masih menahan.
Bukan karena bekas luka itu.
Melainkan karena ia menyimpan sesuatu sebesar ini sampai malam pernikahan kami.
Saya bangkit dan keluar dari kamar.
Ratna tidak mengejar.
Saya duduk sendirian di ruang tamu.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh.
Hujan mulai turun di luar.
Aneh sekali.
Selama tujuh tahun, suara hujan selalu membuat saya merasa kesepian.
Malam itu, untuk pertama kalinya rumah saya tidak lagi kosong, tetapi saya justru merasa lebih takut daripada sebelumnya.
Saya membayangkan berbagai kemungkinan buruk.
Bagaimana jika penyakit itu kembali?
Bagaimana jika beberapa tahun lagi saya harus duduk di lorong rumah sakit sekali lagi?
Bagaimana jika saya harus kehilangan istri untuk kedua kalinya?
Pikiran-pikiran itu berputar sampai saya tidak menyadari Ratna sudah berdiri di belakang saya.
Ia telah mengganti kebayanya dengan piyama panjang.
Di tangannya ada sebuah amplop cokelat.
“Aku seharusnya memberikan ini sebelum kita menikah.”
Ia meletakkannya di meja.
Saya membukanya.
Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan medis, surat dokter, dan beberapa laporan laboratorium.
Ratna tidak berbohong.
Operasinya dilakukan hampir dua tahun sebelumnya. Pemeriksaan berkala terakhir menunjukkan kondisinya baik, meskipun ia tetap diwajibkan kontrol rutin.
Namun ada satu lembar yang membuat saya berhenti.
Tanggalnya hanya tiga minggu sebelum pernikahan kami.
Saya menatap Ratna.
“Kamu masih pergi ke rumah sakit?”
Ia mengangguk.
“Kenapa tidak bilang?”
“Aku takut kamu membatalkan semuanya.”
Saya menutup amplop itu.
“Ratna, dengarkan aku. Yang membuatku sakit bukan bekas luka itu. Yang membuatku sakit adalah kamu menjalani ketakutan ini sendirian padahal kita sudah memutuskan untuk hidup bersama.”
Ia menunduk.
“Seumur hidup aku terbiasa tidak merepotkan orang lain.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi setelah mendengar kisah hidupnya, saya mulai memahami.
Suaminya dulu seorang pekerja keras, tetapi juga sangat dominan. Ratna terbiasa mengurus rumah, membesarkan anak, merawat suami ketika sakit, dan menyimpan masalahnya sendiri.
Bahkan ketika menemukan benjolan pertama kali, ia pergi memeriksakan diri seorang diri.
Anak-anaknya baru diberi tahu setelah jadwal operasi ditentukan.
“Aku selalu berpikir kalau aku terlihat kuat, anak-anakku tidak akan khawatir,” katanya.
“Dan sekarang kamu melakukan hal yang sama kepadaku.”
Ratna tersenyum pahit.
“Mungkin aku memang tidak tahu bagaimana caranya menjadi lemah di depan seseorang.”
Saya tidak bisa menahan diri lagi.
Saya meraih tangannya.
“Kita menikah bukan supaya kamu punya satu orang lagi yang harus kamu lindungi dari kenyataan.”
Air matanya kembali jatuh.
Malam pertama kami akhirnya tidak berlangsung seperti yang dibayangkan orang.
Kami tidak tidur sampai hampir pukul tiga pagi.
Kami duduk berdampingan di ruang tamu, membicarakan penyakit, kematian, anak-anak, masa lalu, dan ketakutan-ketakutan yang selama ini tidak pernah kami ungkapkan.
Keesokan paginya, saya membuat satu keputusan.
“Saya mau ikut kontrol berikutnya.”
Ratna langsung menolak.
“Tidak perlu.”
“Sekarang saya suamimu.”
“Aku bisa sendiri.”
“Saya tahu kamu bisa.”
Saya menatapnya.
“Tapi bisa sendiri bukan berarti harus selalu sendiri.”
Untuk pertama kalinya, Ratna tidak membantah.
Dua minggu kemudian kami pergi ke rumah sakit bersama.
Saya duduk di sampingnya sambil membawa map berisi hasil pemeriksaan. Ketika nama Ratna dipanggil, saya bahkan lebih gugup daripada dirinya.
Dokter memeriksa hasil terbaru dan mengatakan tidak ada temuan yang mengkhawatirkan. Ia hanya perlu melanjutkan kontrol sesuai jadwal dan menjaga kondisi tubuh.
Saya mengembuskan napas panjang.
Ratna tertawa kecil.
“Yang sakit aku, kok kamu yang pucat?”
“Karena kamu terlalu santai.”
Dokter ikut tersenyum.
Dalam perjalanan pulang, kami mampir makan soto.
Untuk pertama kalinya setelah malam pernikahan itu, saya merasa ketakutan di dada saya mulai berkurang.
Namun persoalan berikutnya datang dari arah yang tidak kami duga.
Anak sulung saya mengetahui riwayat penyakit Ratna.
Entah dari siapa.
Malam itu ia datang bersama adiknya.
“Ayah tahu sejak sebelum menikah?”
Saya menjawab jujur.
“Tidak.”
Wajah anak saya langsung berubah.
“Berarti Ayah ditipu.”
Ratna yang sedang membuat teh di dapur berhenti.
Saya segera berkata, “Jangan bicara seperti itu.”
“Tapi dia menyembunyikan penyakit serius!”
“Itu urusan saya dan istri saya.”
Anak kedua saya ikut bicara.
“Kami cuma khawatir. Kalau nanti penyakitnya kambuh, siapa yang akan merawat? Ayah juga sudah tua.”
Saya memahami kekhawatiran mereka.
Tetapi saya tidak bisa menerima cara mereka memandang Ratna seolah-olah ia adalah beban yang baru saya bawa masuk ke rumah.
Ratna keluar dari dapur.
“Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Mereka benar.”
“Tidak.”
Saya berdiri.
Selama bertahun-tahun, saya selalu mengalah kepada anak-anak karena merasa mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing.
Namun malam itu saya harus mengatakan sesuatu.
“Kalian setiap bulan datang membawakan Ayah uang dan obat. Ayah berterima kasih. Tapi kalian tahu apa yang paling Ayah butuhkan selama tujuh tahun terakhir?”
Mereka diam.
“Seseorang yang bertanya apakah Ayah sudah makan.”
Saya menunjuk meja makan.
“Ratna melakukan itu setiap hari. Ketika lutut Ayah sakit, dia yang mengoleskan obat. Ketika Ayah tidak bisa tidur, dia duduk menemani. Kalau suatu hari nanti dia sakit, giliran Ayah yang merawatnya.”
Anak sulung saya menunduk.
Saya melanjutkan lebih pelan.
“Pernikahan bukan transaksi mencari orang sehat supaya hidup kita mudah.”
Tidak ada yang berbicara.
Ratna menangis diam-diam.
Beberapa minggu kemudian, hubungan kami dengan anak-anak perlahan membaik.
Mereka mulai memahami.
Ratna pun berubah.
Ia tidak lagi menyembunyikan jadwal kontrolnya. Jika tubuhnya lelah, ia mengatakannya. Jika takut, ia tidak lagi berpura-pura kuat.
Begitu pula saya.
Saya mulai belajar bahwa mencintai seseorang di usia tua ternyata berbeda dengan cinta ketika muda.
Ketika muda, kita sering membayangkan cinta sebagai masa depan yang panjang.
Rumah.
Anak-anak.
Karier.
Puluhan tahun bersama.
Di usia 63 tahun, saya tidak tahu berapa banyak waktu yang masih kami miliki.
Sepuluh tahun?
Dua puluh?
Atau mungkin jauh lebih sedikit.
Namun justru karena itu, setiap hari terasa lebih berharga.
Enam bulan setelah pernikahan, Ratna mengajak saya pergi ke rumah lamanya.
Ia membuka sebuah lemari tua dan mengeluarkan kotak kecil yang sudah menguning.
“Ada sesuatu yang belum pernah aku ceritakan.”
Saya tertawa.
“Rahasia lagi?”
“Yang ini tidak berbahaya.”
Dari dalam kotak, ia mengeluarkan selembar kertas yang sudah rapuh.
Saya langsung mengenali tulisan tangan itu.
Tulisan saya.
Itu surat yang saya kirimkan kepadanya 42 tahun lalu, beberapa hari setelah mendengar ia akan menikah.
Saya bahkan sudah lupa pernah menulisnya.
Ratna menyimpannya selama lebih dari empat dekade.
Saya membaca kalimat terakhir dengan mata berkaca-kaca.
Jika suatu hari kita bertemu lagi ketika rambut kita sudah memutih, semoga saat itu kita bisa duduk bersama tanpa harus berpisah karena keputusan orang lain.
Tangan saya gemetar.
Saya menatap Ratna.
“Kamu menyimpan ini?”
“Selama 42 tahun.”
“Suamimu tahu?”
Ia menggeleng.
“Tidak pernah.”
Saya hampir tertawa sekaligus menangis.
Ternyata malam pernikahan kami bukanlah malam pertama saya mengetahui rahasia terbesar Ratna.
Rahasia terbesarnya bukan bekas operasi di tubuhnya.
Bukan penyakitnya.
Melainkan kenyataan bahwa selama empat puluh dua tahun, di antara perpindahan rumah, kelahiran anak, kematian suami, dan berbagai perubahan hidup, ia masih menyimpan selembar surat dari seorang pemuda yang pernah mencintainya.
Saya menggenggam tangannya.
“Berarti kita terlambat 42 tahun.”
Ratna menggeleng sambil tersenyum.
“Tidak.”
Ia menyandarkan kepala di bahu saya.
“Kita datang pada waktu ketika kita akhirnya mengerti cara mencintai seseorang.”
Sekarang, setiap kali hujan turun pada malam hari, saya tidak lagi berbaring sendirian mendengarkan suara air di atap.
Ratna biasanya sudah tidur di sebelah saya.
Kadang ia mendengkur kecil.
Kadang selimutnya ia tarik sampai saya kedinginan.
Dan sesekali tangan saya tanpa sadar menyentuh bekas luka di tubuhnya.
Dulu bekas luka itu membuat saya takut karena mengingatkan bahwa saya mungkin akan kehilangan seseorang lagi.
Sekarang saya melihatnya secara berbeda.
Bekas luka itu adalah bukti bahwa perempuan yang saya cintai pernah berjuang keras untuk tetap hidup.
Mungkin pada akhirnya, cinta di usia senja bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna.
Bukan pula tentang memastikan bahwa tidak akan ada penyakit, kehilangan, atau kesedihan.
Cinta adalah ketika dua orang yang sama-sama membawa luka akhirnya berhenti menyembunyikannya.
Lalu duduk berdampingan dan berkata,
“Kalau masih ada waktu, mari kita jalani sisanya bersama.”
