Ruangan itu mendadak begitu sunyi hingga suara minyak mendesis dari dapur terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh.
Aku menatap nama Selvi Anindita yang tercetak pada formulir pencairan dana pendidikan itu.
Empat puluh juta rupiah.
Uang yang ditabung Nenek untuk masa depanku bahkan sebelum aku memahami apa arti universitas.
Dan dua hari lalu, seseorang mencoba memindahkannya ke rekening kakak iparku.
“Mas?”
Suaraku nyaris tak terdengar.
Dimas masih menunduk.
“Lihat aku.”
Ia tidak bergerak.
“Mas ikut ke bank?”
Rahangnya mengeras.
Selvi tiba-tiba menyambar formulir itu, tetapi Ibu lebih cepat menariknya.
“Jangan sentuh.”
“Ibu mau mempermalukan saya?” bentak Selvi.

Ibu menatapnya datar.
“Tidak. Kamu melakukannya sendiri.”
Ayah mematikan rokoknya dengan kasar.
“Sudahlah, Ratri. Uangnya belum cair. Tidak ada yang hilang.”
Aku menoleh kepadanya.
Tidak ada yang hilang?
Laptopku rusak. Ponselku disembunyikan. Akun emailku dibobol. Beasiswaku sengaja ditolak. Tanda tanganku dipalsukan.
Dan menurut Ayah, tidak ada yang hilang hanya karena rencana mereka gagal.
Ibu membuka map merah itu lagi.
“Kalau cuma soal formulir bank, mungkin aku masih bisa menganggap Dimas sedang panik karena biaya persalinan.”
Selvi mendengus.
“Memang itu alasannya.”
“Tapi masalahnya, biaya persalinan tiga puluh lima juta itu juga bohong.”
Wajah Selvi seketika membeku.
Dimas mengangkat kepala.
“Maksud Ibu?”
Ibu mengeluarkan ponselnya.
“Tadi pagi aku menelepon klinik yang namanya tercetak di surat itu.”
Selvi langsung menyela, “Mereka tidak boleh memberikan informasi pasien!”
“Mereka memang tidak memberikan informasi medis apa pun.”
Ibu mengangguk.
“Mereka hanya memastikan satu hal. Dokter bernama dr. Mahendra Prakoso yang tercetak di surat ini tidak pernah bekerja di klinik tersebut.”
Dimas perlahan menoleh kepada istrinya.
“Apa?”
Selvi memucat.
“Pasti Ibu salah dengar.”
Ibu mengeluarkan selembar kertas lain.
“Nomor telepon yang tercantum di surat juga bukan nomor klinik.”
Ibu meletakkannya di meja.
“Itu nomor prabayar yang baru aktif tiga minggu lalu.”
“Bu, cukup!” bentak Ayah.
Untuk pertama kalinya, Ibu menatap Ayah dengan sorot yang membuatku merinding.
“Kenapa Bapak selalu menyuruhku berhenti setiap kali kebohongan mulai terbuka?”
Ayah tidak menjawab.
Dan saat itulah aku menyadari sesuatu.
Ayah bukan sekadar ingin menghindari pertengkaran.
Ia takut.
“Ibu tahu apa?” tanyaku.
Ibu menatapku lama.
“Lebih banyak daripada yang seharusnya.”
Selvi mendadak meraih tasnya.
“Aku capek. Aku sedang hamil dan kalian membuatku stres. Mas, kita pergi.”
Namun Dimas tidak bergerak.
“Selvi.”
“Apa?”
“Surat dokter itu palsu?”
Selvi terdiam.
“Jawab.”
“Aku melakukan itu untuk anak kita!”
“Jadi palsu?”
Selvi mulai menangis.
“Kamu tahu kita tidak punya uang.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku cuma ingin punya persiapan!”
“Dengan mencuri uang Alya?”
“Aku tidak mencuri!”
Suara Selvi meninggi.
“Aku hanya memindahkan uang yang akhirnya juga akan dipakai keluarga!”
Aku tertawa pendek karena tidak percaya.
“Uangku otomatis menjadi milikmu karena kamu menikah dengan kakakku?”
Selvi menatapku tajam.
“Kamu belum mengerti hidup. Empat puluh juta mungkin terasa besar buat anak delapan belas tahun, tapi bayi membutuhkan banyak biaya.”
“Kalau begitu kenapa harus memalsukan tanda tanganku?”
Ia terdiam.
Ibu kemudian mengeluarkan satu bundel rekening koran.
“Karena uang itu bukan untuk bayi.”
Selvi benar-benar kehilangan warna di wajahnya.
Ibu mendorong rekening koran itu ke arah Dimas.
“Lihat.”
Dimas membaca halaman pertama.
Aku melihat tangannya mulai gemetar.
“Apa ini?”
“Transfer dari rekeningmu selama enam bulan terakhir,” jawab Ibu.
Dimas menatap Selvi.
“Dua juta delapan ratus?”
Ia membalik halaman.
“Empat juta?”
Halaman berikutnya.
“Tujuh juta lima ratus?”
Selvi mencoba merebutnya.
“Mas, dengarkan aku dulu.”
Dimas mundur.
“Ke mana uang ini?”
Ibu menjawab sebelum Selvi sempat berbicara.
“Ke rekening seseorang bernama Riko Pranata.”
Nama itu tampaknya tidak berarti apa pun bagiku.
Namun bagi Dimas, efeknya seperti pukulan.
“Kamu bilang Riko sudah tidak berhubungan denganmu sejak kita menikah.”
Selvi menelan ludah.
Aku baru mengerti.
Riko adalah mantan pacarnya.
“Aku bisa menjelaskan.”
“Jelaskan.”
“Dia punya usaha.”
“Usaha apa?”
“Investasi barang elektronik.”
Dimas tertawa pahit.
“Kamu mengirim hampir dua puluh juta kepada mantanmu untuk investasi, sementara aku mengambil lembur setiap minggu?”
“Aku mau uang kita berkembang!”
“Lalu empat puluh juta Alya juga mau kamu investasikan?”
Selvi tidak menjawab.
Ibu membuka halaman terakhir.
“Bukan.”
Ia menunjuk sebuah percakapan yang sudah dicetak.
“Aku menemukan ini di tablet lama Dimas yang dipakai Selvi beberapa bulan lalu.”
Aku membaca beberapa barisnya.
Pesan itu antara Selvi dan Riko.
Kalimat terakhir membuat perutku terasa dingin.
Begitu uang empat puluh juta masuk, aku transfer semuanya. Setelah itu utang kita selesai. Dimas tidak perlu tahu.
Dimas terduduk.
Untuk beberapa detik, kemarahannya menghilang. Yang tersisa hanya wajah seorang laki-laki yang baru menyadari bahwa hidup yang dipercayainya dibangun di atas kebohongan.
“Utang apa?” tanyanya.
Selvi menangis semakin keras.
“Mas, aku takut.”
“Utang apa?”
“Aku cuma salah sedikit.”
“Berapa?”
Selvi diam.
“BERAPA?”
“Enam puluh delapan juta.”
Ayah sampai berdiri.
“Utang apa sampai sebanyak itu?”
Selvi menutup wajah.
“Pinjaman online.”
Dimas mematung.
“Untuk apa?”
“Awalnya belanja.”
Selvi terisak.
“Lalu aku pinjam lagi untuk menutup cicilan. Setelah itu bunganya membesar. Riko bilang dia bisa membantu menggabungkan semuanya.”
Aku mulai memahami seluruh rencananya.
Dana Nenek bukan untuk biaya melahirkan.
Bukan untuk rumah sakit.
Bukan untuk bayi.
Uang itu akan digunakan untuk menutup utang yang selama ini disembunyikan Selvi.
Namun masih ada sesuatu yang menggangguku.
Aku menatap Ayah.
“Kenapa Ayah tadi menyuruh Ibu menyimpan map ini?”
Semua mata beralih kepadanya.
Ayah membuang muka.
“Ayah tahu?”
Tidak ada jawaban.
“Ayah tahu mereka mencoba mengambil uangku?”
“Alya…”
“Jawab.”
Ayah mengusap wajah.
“Dimas datang kepada Ayah dua hari lalu.”
Dimas langsung menoleh.
“Ayah!”
“Dia bilang mereka butuh dana darurat.”
Dadaku sesak.
“Dan Ayah mengizinkan mereka memalsukan tanda tanganku?”
“Ayah tidak tahu soal pemalsuan.”
“Tapi Ayah tahu mereka mau mengambil uangnya?”
Ayah terdiam.
Jawaban itu sudah cukup.
Aku duduk perlahan.
Orang yang seharusnya melindungiku ternyata menganggap masa depanku sebagai tabungan darurat yang bisa dibongkar kapan saja.
Dimas berdiri.
“Aku cuma ingin membantu istriku.”
Aku menatapnya.
“Dengan menghancurkan hidup adikmu?”
“Aku tidak tahu Selvi berbohong soal biaya rumah sakit.”
“Tapi Mas tahu kalian masuk ke emailku.”
Ia membisu.
“Tahu ponselku disembunyikan.”
Diam.
“Tahu beasiswaku ditolak.”
Air mata mengalir tanpa bisa kutahan.
“Mas tahu semuanya.”
Dimas akhirnya menunduk.
“Maaf.”
Satu kata itu terasa terlalu kecil.
Ibu memegang bahuku.
“Ambil barangmu.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Kita pergi.”
Ayah terkejut.
“Pergi ke mana?”
“Jakarta.”
Aku bahkan tidak sempat bereaksi.
Ibu mengambil sebuah amplop putih dari dalam map merah.
“Universitas mengizinkan penerima beasiswa datang lebih awal untuk proses administrasi. Bu Lestari sudah membantu menghubungi pihak kampus.”
Aku menatap Ibu.
“Ibu sudah merencanakan ini?”
“Sejak seminggu lalu.”
“Kenapa?”
Ibu tersenyum sedih.
“Karena Ibu sudah tahu mereka mengincar uang Nenek.”
Selvi mendadak berkata, “Jadi Ibu sengaja menjebak saya?”
“Tidak.”
Ibu menatapnya.
“Aku hanya berhenti menyelamatkanmu dari akibat perbuatanmu sendiri.”
Dimas mendekati Ibu.
“Bu, jangan bawa Alya pergi. Kita bisa menyelesaikan ini.”
“Selama bertahun-tahun aku selalu mengatakan hal yang sama.”
Ibu memandang putranya.
“Ketika kamu meminjam uang sekolah Alya untuk motor, aku menyelesaikannya.”
“Ketika kamu berutang untuk renovasi kamar, aku menyelesaikannya.”
“Ketika Selvi meminta uang untuk pemeriksaan kehamilan, aku memberikannya tanpa banyak bertanya.”
Suara Ibu mulai bergetar.
“Tapi kalian tidak pernah belajar bertanggung jawab.”
Dimas menunduk.
“Bu…”
“Kali ini tidak.”
Ibu lalu mengeluarkan dokumen terakhir.
Ayah terlihat semakin pucat.
“Apa lagi itu?” tanyanya.
“Surat kepemilikan rumah.”
Ruangan kembali sunyi.
Selvi menatap Ibu.
Ayah langsung berkata, “Ratri, jangan.”
Ibu membuka dokumen tersebut.
“Rumah ini dibeli Nenek Alya lima belas tahun lalu.”
Aku membeku.
Selama ini Ayah selalu mengatakan rumah itu hasil kerja kerasnya setelah bertahun-tahun menarik angkot.
Ibu melanjutkan.
“Nenek membelinya atas namaku karena tahu penghasilan Bapak tidak tetap.”
Ayah mengepalkan tangan.
“Kenapa harus dibahas sekarang?”
“Karena tadi ada seseorang yang mengatakan Alya harus memilih antara menyerahkan uangnya atau keluar dari rumah ini.”
Ibu menatap Selvi.
“Padahal orang yang mengatakannya tidak memiliki satu sentimeter pun rumah ini.”
Selvi tidak mampu menjawab.
Ibu lalu menatap Dimas.
“Kamu dan istrimu punya waktu tiga puluh hari untuk mencari tempat tinggal.”
Dimas tersentak.
“Bu!”
“Aku akan membantu biaya sewa bulan pertama.”
“Setelah itu, urus keluarga kalian sendiri.”
Selvi berdiri sambil menangis.
“Bagaimana dengan bayi saya?”
Ibu memandang perutnya.
“Bayi itu tidak bersalah.”
Nada suara Ibu melunak.
“Kalau benar ada kebutuhan medis, tunjukkan hasil pemeriksaan asli. Aku akan membantu langsung membayar rumah sakit.”
“Tapi aku tidak akan memberikan uang tunai.”
Selvi menggigit bibir.
Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Dimas, ia tidak memiliki jawaban.
Malam itu aku tidak tidur.
Laptopku mungkin sudah rusak permanen, tetapi beasiswaku selamat.
Pukul sembilan malam, Bu Lestari mengirim tangkapan layar dari sistem universitas.
Namaku masih tercatat.
Alya Ratri Prameswari.
Status penerimaan: dikonfirmasi.
Aku menangis hampir setengah jam sambil memeluk Ibu.
Dua hari kemudian kami berangkat ke Jakarta menggunakan kereta pagi.
Aku hanya membawa satu koper, ransel, beberapa buku, dan laptop lama milik Bu Lestari yang dipinjamkan sementara.
Sebelum pergi, Dimas menungguku di depan pintu.
Matanya merah.
“Dek.”
Aku berhenti.
“Mas benar-benar minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
“Aku panik. Selvi bilang bayi kami dalam bahaya.”
“Tapi Mas tetap menekan tombol penolakan itu.”
Ia terdiam.
Aku menarik napas.
“Aku bisa memaafkan Mas suatu hari nanti.”
Matanya sedikit terangkat.
“Tapi memaafkan tidak berarti aku harus kembali mempercayai Mas seperti dulu.”
Aku masuk ke mobil sewaan.
Tiga bulan kemudian, aku memulai semester pertamaku di Universitas Indonesia.
Dana empat puluh juta milik Nenek tetap utuh.
Ibu bahkan menolak menggunakannya untuk membayar tempat tinggal sementara kami.
Ia membuka usaha katering kecil di Depok bersama seorang teman lamanya. Pesanannya perlahan bertambah.
Dimas pindah ke rumah kontrakan bersama Selvi.
Belakangan aku mendengar mereka mengikuti konseling pernikahan.
Utang Selvi ternyata lebih besar daripada pengakuan awalnya, tetapi Dimas memilih menyelesaikannya dengan syarat semua akses keuangan mereka dibuka secara transparan.
Aku tidak ikut campur.
Sampai suatu sore, sekitar lima bulan setelah kejadian itu, Ibu meneleponku ketika aku sedang berada di perpustakaan.
“Alya, pulang akhir pekan ini.”
“Ada apa?”
“Selvi melahirkan.”
Aku terdiam.
“Bayinya sehat?”
“Sehat. Perempuan.”
Aku mengembuskan napas lega.
Namun Ibu belum selesai.
“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Sabtu pagi aku pulang.
Di meja makan rumah lama kami, ada sebuah kotak kecil.
Dimas duduk di sofa sambil menggendong bayi perempuan yang wajahnya merah muda.
Selvi duduk di sampingnya.
Ia tampak jauh berbeda.
Tidak ada riasan. Tidak ada tatapan angkuh.
Ketika melihatku, ia berdiri perlahan.
“Alya.”
Aku tidak menjawab.
Selvi mengambil kotak itu dan menyerahkannya kepadaku.
Di dalamnya ada sebuah laptop baru.
Aku menatapnya.
“Apa ini?”
“Pengganti laptopmu.”
“Aku tidak mau.”
“Tolong.”
Suara Selvi bergetar.
“Aku menjual gelang dan ponselku.”
Aku menatap Dimas.
Ia mengangguk.
“Bukan uang Ibu. Bukan uang Ayah. Bukan pinjaman.”
Selvi menahan air mata.
“Aku tahu laptop tidak bisa mengganti apa yang kulakukan.”
“Dan aku tahu minta maaf tidak membuat semuanya kembali seperti semula.”
Ia menatap bayi dalam pelukan Dimas.
“Tapi setelah anakku lahir, aku terus memikirkan satu hal.”
“Apa?”
Selvi menelan ludah.
“Bagaimana kalau suatu hari seseorang melakukan hal yang sama kepadanya?”
Aku terdiam.
“Aku akan membenci orang itu.”
Air matanya jatuh.
“Lalu aku sadar, aku pernah menjadi orang itu untukmu.”
Aku menatap laptop tersebut cukup lama.
Kemudian aku menutup kotaknya.
“Aku terima.”
Selvi menangis.
“Tapi bukan berarti semuanya langsung selesai.”
“Aku tahu.”
“Kepercayaan harus dibangun lagi.”
Ia mengangguk.
“Aku tahu.”
Aku kemudian mendekati bayi kecil itu.
Dimas tersenyum canggung.
“Mau gendong?”
Aku menerima keponakanku dengan hati-hati.
Bayi itu membuka mata sebentar, lalu menggenggam ujung jariku.
Ibu berdiri di pintu dapur sambil memperhatikan kami.
Belakangan, saat kami hanya berdua, aku bertanya kepadanya sesuatu yang sejak lama menggangguku.
“Bu, waktu itu bagaimana Ibu tahu mereka akan mencoba mengambil dana Nenek?”
Ibu tersenyum.
“Karena Nenekmu sudah menduganya jauh sebelum meninggal.”
Aku mengerutkan kening.
Ibu mengambil amplop tua dari lemari.
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan Nenek.
Tanggalnya sebelas tahun lalu.
Salah satu kalimatnya membuatku terdiam lama.
Uang ini bukan sekadar untuk sekolah Alya. Uang ini harus menjadi pintu yang tidak boleh ditutup siapa pun ketika suatu hari dia ingin memilih hidupnya sendiri.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Barulah aku memahami mengapa Ibu menjaga dana tersebut begitu keras.
Empat puluh juta itu tidak pernah benar-benar tentang uang.
Beasiswa itu pun bukan hanya tentang universitas.
Semua itu tentang hak seseorang untuk memiliki masa depan yang tidak ditentukan oleh ketakutan, rasa bersalah, atau tuntutan keluarga.
Aku melipat surat Nenek dan mengembalikannya kepada Ibu.
“Bu.”
“Ya?”
“Terima kasih sudah menyelamatkan beasiswaku.”
Ibu menggeleng.
“Bukan Ibu yang menyelamatkannya.”
Aku menatapnya bingung.
Ibu tersenyum.
“Kamu menyelamatkannya sejak tiga tahun lalu, setiap malam ketika kamu memilih belajar sementara orang lain tidur.”
“Yang Ibu lakukan cuma memastikan tidak ada orang yang mencuri hasil kerja kerasmu.”
Dari ruang tengah terdengar tangisan keponakanku.
Dimas panik mencari botol susu, sementara Selvi tertawa kecil untuk pertama kalinya tanpa nada mengejek.
Aku memandang mereka dari ambang pintu.
Keluargaku belum sempurna.
Mungkin tidak akan pernah.
Ada luka yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Ada kepercayaan yang mungkin tidak pernah kembali sepenuhnya.
Namun hari itu aku mengerti sesuatu.
Menjadi keluarga bukan berarti kita berhak mengambil masa depan satu sama lain.
Kadang-kadang, bentuk kasih sayang yang paling sulit justru adalah memasang batas, mengatakan tidak, dan membiarkan orang yang kita cintai bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Dan ternyata, satu gelas teh memang bisa merusak sebuah laptop.
Tapi tidak pernah cukup untuk menghancurkan masa depan seseorang yang sudah berjuang keras membangunnya.
