Kalimat di bawah foto itu hanya terdiri dari beberapa kata.
“Aku menyukaimu sejak hari ini.”
Aku menatap pesan itu cukup lama sampai layar ponsel meredup sendiri.
Dua tahun lalu.
Hari ketika foto itu diambil adalah hari pertama Su Jinghe pindah ke sekolah kami.
Aku masih ingat samar-samar. Saat itu aku baru saja kembali setelah memenangkan kompetisi akademik tingkat nasional. Cheng Yi tidak datang menjemputku karena katanya latihan basket lebih penting. Aku pulang sendiri sambil membawa piala yang berat dan sekotak hadiah dari panitia.
Jadi, ketika membaca kalimat Su Jinghe, jantungku berdetak aneh.
Aku mengetik perlahan.
“Kamu menyimpan foto ini selama dua tahun?”
Balasannya datang cepat.
“Ya.”

“Kenapa?”
Kali ini dia tidak langsung menjawab.
Hampir satu menit kemudian, tiga kata muncul di layar.
“Besok akan kuceritakan.”
Aku menggigit ujung sumpit tanpa sadar.
Lalu aku teringat pertanyaan awalku.
“Jadi, sarapannya apa?”
“Yang biasa kamu makan.”
Aku mengerutkan kening.
“Kamu tahu aku biasa makan apa?”
“Xia Zhi.”
“Apa?”
“Aku memperhatikanmu lebih lama daripada yang kamu kira.”
Wajahku mendadak panas.
Aku segera membalik ponsel di atas meja.
Sial.
Laki-laki yang selama ini kukira hanya mengenaliku sebagai rival akademik ternyata jauh lebih berbahaya daripada Cheng Yi.
Keesokan paginya aku membawa dua porsi bubur ayam dan susu kedelai.
Begitu masuk kelas, aku melihat Cheng Yi berdiri di samping mejaku.
Atau lebih tepatnya, meja yang sekarang ditempati Qin Ran.
Wajahnya terlihat buruk.
Ketika melihat kantong sarapan di tanganku, ekspresinya sedikit melunak.
“Kamu masih tahu harus membawakanku sarapan?”
Aku berhenti.
Lalu berjalan melewatinya.
Aku meletakkan salah satu kantong di depan Su Jinghe.
“Punyamu.”
Su Jinghe mengangkat kepala.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Terima kasih.”
Suara kursi bergeser keras di belakang kami.
Cheng Yi mencengkeram pergelangan tanganku.
“Xia Zhi, apa maksudmu?”
Aku melihat tangannya.
“Lepaskan.”
“Jangan kekanak-kanakan cuma karena aku pacaran dengan Qin Ran.”
Aku hampir tertawa.
“Bukankah kamu yang memutuskanku?”
“Itu hanya sementara.”
Cheng Yi mengatakan kalimat itu dengan sangat wajar.
“Ranran sedang dalam kondisi buruk. Aku hanya menemaninya melewati masa sulit. Aku sudah menjelaskan semuanya di unggahanku.”
Aku menarik tanganku.
“Lalu?”
“Lalu apa?”
“Kenapa aku harus menunggumu?”
Wajahnya membeku.
Mungkin sepanjang hidupnya dia tidak pernah membayangkan aku akan mengatakan kalimat itu.
Sejak kecil, memang aku yang selalu berjalan di belakangnya.
Kalau dia lupa membawa buku, aku meminjamkan milikku.
Kalau dia terlambat bangun, aku menunggunya.
Kalau dia kalah pertandingan, aku orang pertama yang menghiburnya.
Lama-lama semua perhatian itu dianggap kewajiban.
Cheng Yi menurunkan suaranya.
“Xia Zhi, berhenti pura-pura marah. Aku tahu kamu.”
Su Jinghe yang sejak tadi diam akhirnya menutup bukunya.
“Kalau sudah selesai bicara, minggir.”
Cheng Yi menatapnya tajam.
“Ini urusanku dengan Xia Zhi.”
“Dia teman sebangkuku.”
“Terus?”
Su Jinghe menatap tangan Cheng Yi yang tadi menyentuhku.
“Dan dia sudah bilang jangan menyentuhnya.”
Suasana kelas langsung hening.
Qin Ran buru-buru datang.
Dia memegang lengan Cheng Yi.
“Sudahlah. Jangan bertengkar karena aku.”
Kalimatnya terdengar lembut, tetapi matanya menatapku penuh kemenangan.
Lalu dia tersenyum.
“Xia Zhi, kalau kamu marah karena kehilangan Cheng Yi, kamu boleh menyalahkanku. Tapi jangan sengaja menggunakan Ketua Su untuk membuat Cheng Yi cemburu.”
Aku menatapnya.
“Kamu terlalu percaya diri.”
Wajahnya berubah sedikit.
Aku melanjutkan dengan tenang.
“Aku tidak tertarik membuat mantan pacarku cemburu. Apalagi menggunakan seseorang yang jauh lebih baik darinya.”
Su Jinghe tiba-tiba terbatuk.
Telinganya merah.
Aku baru menyadari apa yang kukatakan.
Namun sebelum suasana semakin aneh, wali kelas masuk bersama seorang staf administrasi.
“Qin Ran, setelah pelajaran pertama, datang ke kantor administrasi.”
Qin Ran tampak bingung.
“Ada apa, Bu?”
“Masalah bantuan pendidikanmu.”
Wajah Qin Ran langsung pucat.
Dia menoleh kepadaku.
Aku tidak mengatakan apa pun.
Satu jam kemudian, kabar itu sudah menyebar.
Bantuan pendidikan Qin Ran dihentikan.
Bukan hanya biaya sekolah, tetapi juga tunjangan tempat tinggal dan biaya kompetisi yang selama ini ditanggung yayasan keluarga Xia.
Qin Ran kembali ke kelas dengan mata merah.
Dia langsung menghampiriku.
“Kenapa?”
Seluruh kelas mendadak diam.
Aku menutup buku.
“Apa?”
“Kenapa keluargamu menghentikan bantuanku?”
“Karena itu bantuan dari keluargaku.”
“Tapi ibumu sudah berjanji akan membiayaiku sampai lulus!”
Aku menatapnya.
“Dengan syarat penerimanya memenuhi aturan yayasan.”
“Aku melanggar aturan apa?”
“Memalsukan dokumen pengeluaran kompetisi.”
Wajahnya langsung kehilangan warna.
Cheng Yi berdiri.
“Xia Zhi, jangan asal menuduh.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Pagi tadi ibu sudah mengirim hasil pemeriksaan awal yayasan.
Selama setahun terakhir, Qin Ran beberapa kali mengajukan penggantian biaya buku, transportasi, dan pelatihan yang ternyata sudah dibayar pihak sekolah.
Nominalnya tidak besar bagi keluargaku.
Tetapi masalahnya bukan uang.
Masalahnya adalah kejujuran.
Aku memperlihatkan layar kepada Cheng Yi.
“Kalau tidak percaya, baca sendiri.”
Qin Ran tiba-tiba menangis.
“Aku terpaksa!”
Semua orang menatapnya.
“Ayahku sakit. Ibuku punya utang. Aku cuma ingin membantu keluarga!”
Aku terdiam sesaat.
Kalau semua ini terjadi beberapa bulan lalu, mungkin aku akan merasa bersalah.
Namun Su Jinghe tiba-tiba berkata dari sampingku,
“Kesulitan bukan izin untuk berbohong.”
Qin Ran menatapnya dengan mata penuh air.
“Apa orang kaya seperti kalian mengerti rasanya nggak punya uang?”
Su Jinghe tetap tenang.
“Tidak. Karena itu aku tidak akan berpura-pura mengerti. Tapi menerima bantuan dan memalsukan bukti adalah dua hal berbeda.”
Aku menoleh kepadanya.
Untuk pertama kalinya aku memahami kenapa Su Jinghe selalu terlihat begitu dingin.
Dia tidak mudah terbawa emosi, tetapi juga tidak pernah menggunakan keadaan seseorang untuk merendahkannya.
Cheng Yi justru memeluk bahu Qin Ran.
“Tenang. Kalau keluarga Xia tidak mau membiayaimu, aku yang akan membayar.”
Qin Ran langsung menangis di dadanya.
Beberapa teman memandangku seolah aku orang jahat.
Aku tidak peduli.
Sampai siang itu, ayah Cheng Yi datang ke sekolah.
Dia langsung membawa Cheng Yi ke ruang kepala sekolah.
Ketika Cheng Yi kembali, wajahnya benar-benar pucat.
Dia menarikku ke koridor.
“Kamu membatalkan pertunangan kita?”
“Ya.”
“Kamu serius?”
“Bukankah itu yang kamu mau?”
“Aku cuma bilang putus sementara!”
Aku menatapnya, benar-benar tidak mengerti.
“Cheng Yi, hubungan bukan pintu hotel. Kamu tidak bisa keluar sebentar, masuk ke kamar orang lain, lalu kembali saat sudah bosan.”
Wajahnya memerah.
“Keluarga kita sudah merencanakan semuanya sejak kecil!”
“Itu rencana keluarga.”
Aku menunjuk dadanya.
“Kamu sendiri bilang siapa yang mau boleh mengambilku.”
Dia terdiam.
Aku tersenyum.
“Sekarang ada yang mau.”
Tatapannya langsung bergerak ke belakangku.
Aku ikut menoleh.
Su Jinghe berdiri beberapa meter dari kami.
Entah sejak kapan dia berada di sana.
Cheng Yi mengepalkan tangan.
“Kamu benar-benar menyukainya?”
Aku belum sempat menjawab ketika Su Jinghe berjalan mendekat.
Dia berhenti di sampingku.
“Pertanyaan itu tidak ada hubungannya denganmu.”
Cheng Yi tertawa dingin.
“Kamu pikir Xia Zhi benar-benar menyukaimu? Dia cuma memanfaatkanmu untuk membalas dendam padaku.”
Su Jinghe mengangguk santai.
“Tidak masalah.”
Aku menatapnya.
Dia melanjutkan,
“Asalkan dia mau memanfaatkanku seumur hidup.”
Aku hampir tersedak udara.
Cheng Yi benar-benar kehilangan kata-kata.
Setelah dia pergi, aku menendang ringan sepatu Su Jinghe.
“Kamu bicara apa tadi?”
“Fakta.”
“Kamu belum menjelaskan foto itu.”
Su Jinghe terdiam sebentar.
Kemudian dia mengajakku naik ke rooftop gedung sekolah.
Angin siang bertiup cukup kencang.
Dia berdiri di samping pagar sambil menatap lapangan.
“Dua tahun lalu, aku pindah ke sini karena ibuku meninggal.”
Aku membeku.
Aku tidak pernah tahu.
“Selama beberapa bulan, aku tidak punya tujuan. Nilai bagus atau buruk terasa sama saja.”
Dia tersenyum tipis.
“Hari pertama masuk sekolah, aku melihatmu di aula.”
Aku mulai memahami foto itu.
“Kamu sedang berdiri di atas panggung menerima penghargaan. Kepala sekolah bertanya bagaimana kamu bisa selalu mempertahankan nilai.”
Aku mengingatnya.
Saat itu aku menjawab sesuatu yang sangat sederhana.
“Aku bilang kalau seseorang belum tahu ingin menjadi apa, setidaknya dia harus berusaha menjadi versi terbaik dirinya hari ini.”
Su Jinghe menatapku.
“Kalimat itu membuatku kembali belajar.”
Dadaku terasa hangat.
“Jadi kamu terus merebut peringkat pertamaku?”
“Supaya kamu memperhatikanku.”
Aku terdiam.
“Cara pendekatanmu menyebalkan sekali.”
“Aku baru sadar.”
Untuk pertama kalinya, Su Jinghe tertawa lepas.
Sejak hari itu, hubungan kami berubah.
Kami belajar bersama.
Makan bersama.
Berdebat soal jawaban matematika sampai penjaga perpustakaan mengusir kami.
Sementara itu, hubungan Cheng Yi dan Qin Ran mulai retak jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan.
Cheng Yi memang membayar biaya sekolah Qin Ran.
Namun keluarga Cheng membekukan kartu kreditnya setelah mengetahui dia menggunakan uang keluarga tanpa izin.
Qin Ran mulai mengeluh bahwa Cheng Yi tidak menepati janji.
Cheng Yi mulai marah karena Qin Ran terus membandingkan hidupnya denganku.
Puncaknya terjadi saat seleksi beasiswa nasional.
Qin Ran gagal.
Aku mendapat peringkat pertama.
Su Jinghe peringkat kedua dengan selisih satu poin.
Setelah pengumuman, Qin Ran menungguku di tangga belakang.
“Kamu puas sekarang?”
Aku menatapnya bingung.
“Kenapa aku harus puas?”
“Karena kamu mengambil semuanya dariku.”
Aku menghela napas.
“Qin Ran, tidak ada yang mengambil apa pun darimu.”
“Kamu punya keluarga kaya. Kamu bahkan tidak membutuhkan beasiswa!”
“Aku tidak mendaftar beasiswa bantuan ekonomi.”
Dia terdiam.
“Yang kumenangkan adalah beasiswa prestasi. Dan aku menolaknya setelah hasil diumumkan supaya diberikan kepada peserta berikutnya.”
Wajahnya membeku.
“Apa?”
“Aku mengikuti seleksi karena universitas yang kutuju mempertimbangkan hasil kompetisinya.”
Untuk pertama kalinya, kemarahan di wajah Qin Ran berubah menjadi kebingungan.
Selama ini dia membenciku karena menganggap aku sengaja merebut sesuatu darinya.
Padahal kami bahkan tidak berlari di jalur yang sama.
Aku berjalan melewatinya.
Namun Qin Ran tiba-tiba berkata,
“Cheng Yi sebenarnya masih menyukaimu.”
Aku berhenti.
“Dia selalu menyebut namamu kalau kami bertengkar.”
Aku menoleh.
Qin Ran tersenyum pahit.
“Aku pikir kalau berhasil mengambilnya darimu, berarti akhirnya aku menang darimu dalam sesuatu.”
Kalimat itu membuatku akhirnya memahami semuanya.
Dia tidak mencintai Cheng Yi.
Setidaknya bukan pada awalnya.
Dia hanya ingin membuktikan bahwa ada sesuatu milikku yang bisa dia rebut.
“Aku tidak pernah berlomba denganmu, Qin Ran.”
Matanya memerah.
“Itulah yang paling kubenci.”
Aku tidak menjawab lagi.
Beberapa bulan kemudian, kami lulus.
Pada hari kelulusan, Cheng Yi menungguku di depan aula.
Dia tampak jauh lebih kurus.
Di tangannya ada sebuah kotak kecil.
“Aku masih menyimpan cincin yang dulu dipilih keluarga kita.”
Aku menatap kotak itu.
“Kenapa?”
“Aku salah.”
Untuk pertama kalinya, Cheng Yi tidak terlihat sombong.
“Aku pikir karena kamu selalu ada, kamu akan selamanya ada.”
Dia menarik napas.
“Xia Zhi, bisakah kita mulai lagi?”
Aku belum sempat menjawab ketika seseorang mengambil topi kelulusanku dari belakang.
Su Jinghe.
Dia memasangkannya kembali ke kepalaku dengan benar.
“Foto keluarga sudah mau dimulai.”
Cheng Yi menatapnya.
Kemudian menatapku.
Kali ini dia tidak marah.
Mungkin akhirnya dia mengerti.
Aku tersenyum kepada Cheng Yi.
“Terima kasih sudah pernah tumbuh bersamaku.”
Matanya perlahan memerah.
“Tapi?”
“Tidak ada tapi.”
Aku berjalan meninggalkannya.
Di halaman sekolah, ibu dan ayah sudah menunggu.
Yang mengejutkanku, orang tua Su Jinghe juga ada di sana.
Aku menatap Su Jinghe.
“Kok keluargamu ikut?”
Dia terlihat sedikit salah tingkah.
Ibuku justru tertawa.
“Kamu belum tahu?”
“Tahu apa?”
Ayah Su Jinghe menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
Di dalamnya ada foto lama.
Foto dua anak kecil berusia sekitar lima tahun sedang berdiri di sebuah pesta ulang tahun.
Anak perempuan itu adalah aku.
Anak laki-laki di sampingku adalah Su Jinghe.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan ibuku.
“Xia Zhi bilang kalau sudah besar ingin menikahi Jinghe karena Jinghe memberikan kue terakhir kepadanya.”
Aku menatap ibu dengan tidak percaya.
“Bu?”
Ibu tertawa sampai bahunya berguncang.
“Kalian sebenarnya pernah bertemu sebelum keluarga Su pindah ke luar negeri. Kamu saja yang lupa.”
Aku perlahan menoleh kepada Su Jinghe.
Dia menghindari tatapanku.
Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal.
Foto kompetisiku.
Perhatian diam-diamnya.
Kursi kosong di sebelahnya.
Bahkan makanan favoritku yang dia ketahui.
Aku menyipitkan mata.
“Kamu ingat sejak awal?”
Su Jinghe berdeham.
“Sedikit.”
“Su Jinghe.”
“Ya, aku ingat.”
“Jadi kalimatmu bahwa kamu menyukaiku sejak dua tahun lalu itu bohong?”
Dia akhirnya menatapku.
“Bukan.”
“Lalu?”
Su Jinghe mengambil foto masa kecil itu dari tanganku.
“Aku menyukaimu waktu umur lima tahun karena kamu memberikan setengah permenmu kepadaku.”
Dia membalik foto itu.
“Lalu aku bertemu denganmu lagi dua tahun lalu dan menyukaimu untuk kedua kalinya.”
Aku tidak bisa menahan senyum.
“Kalau begitu kenapa baru sekarang mendekat?”
Dia memasukkan kedua tangan ke saku.
“Karena waktu itu kamu punya pacar.”
Jawabannya sederhana.
Namun justru itu yang membuatku terdiam.
Selama bertahun-tahun Cheng Yi selalu mengatakan bahwa karena kami tumbuh bersama, aku pasti menjadi miliknya.
Sementara Su Jinghe, meski menyukaiku begitu lama, memilih menjaga jarak karena menghormati pilihanku.
Ternyata cinta bukan tentang siapa yang datang paling awal.
Bukan pula tentang siapa yang paling lama mengenal kita.
Cinta adalah tentang seseorang yang tetap menghormati batas kita bahkan ketika dia sangat ingin mendekat.
Aku mengulurkan tangan kepada Su Jinghe.
Dia menatapnya.
“Kenapa?”
“Kamu bilang kalau benar-benar mengejarku, kamu tidak akan mengalah, kan?”
Matanya langsung berbinar.
Aku tersenyum.
“Sekarang aku kasih kesempatan.”
Su Jinghe menggenggam tanganku.
“Terlambat.”
Aku mengerutkan kening.
“Apa?”
Dia menarikku sedikit lebih dekat.
“Aku sudah mulai mengejarmu sejak dua tahun lalu.”
Aku tertawa.
Di belakang kami, kamera berbunyi.
Foto kelulusan itu kemudian menjadi foto favoritku.
Bertahun-tahun setelahnya, ketika aku melihatnya lagi, aku selalu teringat pada hari ketika kupikir aku baru saja kehilangan seseorang yang telah menemaniku sejak kecil.
Padahal sebenarnya, hari itu bukan hari ketika aku kehilangan cinta.
Hari itu adalah hari ketika aku berhenti mengejar seseorang yang menganggap kehadiranku sebagai kepastian.
Dan akhirnya melihat seseorang yang selama ini diam-diam menganggap kehadiranku sebagai sesuatu yang berharga.
