Aku baru mengetahui alasan Galang mengabaikan tujuh teleponku tiga hari setelah aku meninggalkan rumah.
Bukan karena rapat.
Bukan karena ponselnya dalam mode senyap.
Dan bukan pula karena ia tidak melihat namaku muncul di layar.
Ia melihat semuanya.
Tujuh panggilan itu muncul satu per satu di layar ponselnya ketika ia sedang duduk di dalam mobil bersama Kirana.
Fakta itu kutemukan dari Kirana sendiri.
Aku tinggal di rumah Tante Lestari setelah pergi dari apartemen. Dua hari pertama, Galang tidak datang. Ia hanya mengirim pesan-pesan pendek yang semakin lama semakin terdengar seperti instruksi.
“Minum obat sesuai jadwal.”
“Jangan minum kopi.”
“Besok aku jemput pukul sepuluh.”
Aku tidak membalas.
Pada hari ketiga, ia menelepon Tante Lestari.

Entah apa yang dikatakannya, tetapi setelah telepon ditutup, Tante masuk ke kamarku dengan wajah kesal.
“Kamu yakin mau mengakhiri semuanya?”
Aku sedang melipat pakaian.
“Iya.”
“Galang bilang kamu sedang tidak stabil setelah kehilangan kandungan.”
Tanganku berhenti.
“Dia bilang begitu?”
Tante mengangguk.
“Dia khawatir kamu mengambil keputusan saat emosimu belum pulih.”
Aku tertawa kecil.
Bahkan setelah aku pergi, Galang masih menggunakan aturan kedua.
Perasaan tidak boleh dibawa-bawa.
Bedanya, sekarang perasaanku justru dipakai untuk membuktikan bahwa keputusanku tidak sah.
Aku mengambil ponsel.
Ada sebelas pesan dari Galang.
Pesan terakhir berbunyi, “Kita bicara setelah kamu bisa berpikir objektif.”
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku memblokir nomornya.
Sore itu, seseorang datang ke rumah Tante.
Kirana.
Pergelangan kakinya masih dibalut penyangga elastis. Ia berdiri di teras dengan wajah pucat dan membawa kantong kertas berisi buah.
“Aku cuma mau bicara lima menit.”
“Aku tidak punya urusan denganmu.”
“Aku tahu.”
Aku hendak menutup pintu ketika ia berkata pelan, “Aku tahu soal tujuh telepon itu.”
Tanganku berhenti di gagang pintu.
Kirana menunduk.
“Malam itu aku ada di mobil Galang.”
Aku membiarkannya masuk.
Kami duduk berhadapan di ruang tamu.
Kirana meremas tali tasnya.
“Waktu telepon pertama masuk, Galang melihat layar.”
Dadaku terasa kosong.
“Lalu?”
“Dia matikan.”
“Telepon kedua?”
“Dia matikan lagi.”
Aku tidak tahu mengapa aku masih bertanya.
“Mengapa?”
Kirana menggeleng cepat.
“Bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku sedang kacau malam itu. Aku baru tahu Dimas selingkuh. Aku menangis dan bilang aku ingin naik ke apartemennya untuk membuat keributan. Galang takut aku melakukan sesuatu yang bodoh.”
“Jadi dia tidak bisa menjawab telepon selama sepuluh detik?”
Kirana diam.
Aku menatapnya.
“Telepon ketujuh?”
Bibirnya gemetar.
“Aku bilang kepadanya untuk mengangkatnya.”
“Lalu?”
“Dia bilang kalau memang penting, kamu akan mengirim pesan.”
Aku tidak menangis.
Aneh sekali.
Selama berhari-hari aku mengira jika mengetahui kenyataan sebenarnya, aku akan hancur.
Ternyata tidak.
Rasanya justru seperti sebuah pintu akhirnya terbuka.
Aku hanya bertanya, “Kenapa kamu datang memberitahuku?”
Kirana mengeluarkan ponselnya.
“Aku bertengkar dengan Galang tadi siang.”
Ia membuka percakapan mereka dan meletakkannya di meja.
Ada puluhan pesan suara.
Sebagian berdurasi lebih dari dua menit.
Galang membalas hampir semuanya.
Tidak ada satu pun kalimat seperti “langsung ke intinya”.
Tidak ada “cukup sampaikan sekali”.
Tidak ada “jangan emosional”.
Aku menggulir layar sampai menemukan percakapan dua minggu sebelum aku kehilangan kandungan.
Kirana mengirim pesan pukul 22.14.
“Aku takut Dimas meninggalkanku.”
Galang menjawab pukul 22.15.
“Aku telepon sekarang.”
Malam yang sama.
Malam ketika aku mengirim foto hasil pemeriksaan kehamilan.
Balasan Galang kepadaku datang pukul 22.17.
“Sudah diterima.”
Tiga menit setelahnya, ia menelepon Kirana selama satu jam empat puluh delapan menit.
Kirana menarik kembali ponselnya.
“Alya, aku minta maaf.”
“Tidak perlu.”
“Aku tidak pernah bermaksud merebut Galang.”
Aku menatapnya.
“Masalahnya bukan kamu.”
Kirana tampak terkejut.
“Kalau bukan aku, lalu apa?”
“Galang.”
Selama bertahun-tahun, aku menyalahkan keadaan.
Kirana sedang sakit.
Kirana sedang patah hati.
Kirana membutuhkan bantuan.
Pekerjaan Galang sedang berat.
Ibunya sedang bermasalah.
Temannya membutuhkan pinjaman.
Selalu ada alasan.
Aku baru menyadari sesuatu yang sangat sederhana.
Orang-orang itu tidak pernah memaksanya memilih mereka.
Galang sendiri yang memilih.
Keesokan paginya aku pergi menemui notaris yang sebelumnya membantu kami menyiapkan dokumen sebelum pencatatan pernikahan.
Karena pernikahan kami belum tercatat secara resmi, urusannya ternyata jauh lebih sederhana daripada yang kubayangkan.
Apartemen itu atas nama Galang.
Mobil yang kugunakan atas namaku.
Rekening kami terpisah.
Aku membatalkan rencana pencatatan pernikahan dan meminta semua dokumenku dikembalikan.
Sore harinya, Galang muncul di depan rumah Tante.
Aku sedang menyiram tanaman ketika mobilnya berhenti.
Ia turun tanpa membawa apa pun.
“Aku cuma ingin bicara.”
“Bicara.”
“Di dalam.”
“Di sini saja.”
Rahangnya mengeras.
“Alya.”
“Aku mendengarkan.”
Ia menarik napas.
“Kirana datang kemari?”
“Iya.”
Wajah Galang berubah.
“Apa yang dia katakan?”
“Fakta.”
Satu kata itu membuatnya terdiam.
Aku hampir tersenyum.
Bukankah itu yang selalu ia inginkan?
Fakta.
“Dia sedang marah kepadaku,” kata Galang akhirnya. “Jangan percaya semua yang dia katakan.”
“Apakah kamu melihat tujuh teleponku?”
Diam.
“Jawab dengan fakta.”
“Aku melihat beberapa.”
“Tujuh.”
“Aku tidak menghitung.”
“Kamu menolaknya?”
Galang mengusap wajah.
“Aku sedang menangani Kirana.”
“Ya atau tidak?”
“Iya.”
Untuk pertama kalinya, aturan buatannya sendiri tidak bisa melindunginya.
Aku mengangguk.
“Cukup.”
“Alya, dengarkan dulu.”
“Masalahnya sudah disampaikan sekali.”
“Aku salah.”
Aku berbalik hendak masuk.
Galang menangkap lenganku.
“Aku bilang aku salah.”
Aku menatap tangannya sampai ia melepaskanku.
“Apa itu belum cukup?”
“Tidak.”
“Apa lagi yang kamu mau?”
“Aku tidak mau apa-apa.”
Itulah jawaban yang paling membuatnya takut.
Selama enam tahun, aku selalu menginginkan sesuatu darinya.
Waktu.
Perhatian.
Penjelasan.
Permintaan maaf.
Kali ini tidak.
Galang menatapku lama.
“Aku bisa berubah.”
“Aku percaya.”
Ia tampak sedikit lega.
“Tapi aku tidak harus menunggu perubahan itu.”
Kelegaan di wajahnya lenyap.
“Alya, enam tahun bukan waktu yang sebentar.”
“Benar.”
“Dan kamu mau membuang semuanya hanya karena satu malam?”
Aku menggeleng.
“Bukan satu malam.”
Aku mengeluarkan kertas aturan komunikasi dari saku celana.
Kertas itu sudah kusut.
“Kamu tahu kenapa aku membawa ini?”
Galang tidak menjawab.
“Karena selama enam bulan aku benar-benar percaya bahwa masalah kita adalah caraku berbicara.”
Aku menyerahkan kertas itu kepadanya.
“Aku pikir kalau aku lebih singkat, kamu akan mendengarkan. Kalau aku tidak menangis, kamu akan menganggapku masuk akal. Kalau aku hanya menyampaikan sesuatu sekali, kamu akan menghargainya.”
Galang menunduk menatap tulisan tangannya sendiri.
“Ternyata bukan itu masalahnya.”
“Apa?”
“Kamu mampu mendengarkan pesan suara enam puluh detik. Bahkan dua menit. Kamu mampu menghadapi orang yang menangis dan berbicara dengan emosi. Kamu juga mampu membahas masalah yang sama berkali-kali.”
Aku menunjuk ponselnya.
“Kamu melakukannya untuk Kirana.”
Galang membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.
“Jadi bukan caraku berkomunikasi yang salah. Kamu hanya tidak ingin memberikan ruang yang sama kepadaku.”
Wajahnya perlahan memucat.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Galang tidak memiliki argumen.
Dua minggu berlalu.
Aku kembali bekerja.
Tubuhku perlahan pulih, meski terkadang rasa sakit masih datang tiba-tiba.
Suatu sore, dokter menelepon dan memintaku datang karena hasil pemeriksaan jaringan sudah keluar.
Aku datang sendirian.
Dokter menjelaskan bahwa kehilangan kehamilan itu bukan disebabkan oleh stres, makanan, aktivitas, atau keterlambatan Galang menjawab telepon.
Tidak ada yang bisa kulakukan untuk mencegahnya.
Aku mengangguk sambil menggenggam ujung tas.
Anehnya, justru kalimat itulah yang akhirnya membuatku menangis.
Bukan karena aku menyalahkan Galang atas kematian anak kami.
Aku tidak pernah menyalahkannya untuk itu.
Aku hanya tidak bisa melupakan kenyataan bahwa ketika aku mengetahui anak kami telah tiada, orang yang seharusnya menjadi keluargaku memilih untuk tidak menjawab.
Saat keluar dari rumah sakit, Galang berdiri di dekat pintu masuk.
Aku berhenti.
“Bagaimana kamu tahu aku di sini?”
“Tante Lestari.”
Aku tidak marah kepada Tante.
Mungkin ia hanya ingin semuanya mendapat penutup.
Galang terlihat berbeda.
Lebih kurus.
Matanya cekung.
Ia menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
“Apa ini?”
“Buka nanti.”
“Apa isinya?”
“Dokumen pembatalan semuanya. Dan surat pengalihan mobil. Aku sudah tanda tangan.”
Aku menerimanya.
Galang tersenyum hambar.
“Aku akhirnya mengerti sesuatu.”
Aku menunggu.
“Selama ini aku membuat aturan karena aku merasa kewalahan setiap kali kamu marah atau menangis. Aku pikir kalau semuanya dibuat sederhana, aku bisa mengendalikan keadaan.”
Ia menatap lantai.
“Ternyata aku bukan sedang mengatur komunikasi. Aku sedang mengatur seberapa banyak dirimu yang boleh muncul di hadapanku.”
Aku tidak menjawab.
“Aku minta maaf.”
Kali ini ia tidak mencoba memegang tanganku.
Tidak menyuruhku pulang.
Tidak menjanjikan akan berubah.
Ia hanya berdiri di sana.
Kemudian ponselnya berbunyi.
Nama Kirana muncul di layar.
Galang melihatnya sebentar.
Lalu mematikan layar.
Aku tertawa kecil.
“Angkat saja.”
Ia menggeleng.
“Tidak penting.”
Aku menatapnya.
“Jangan lakukan itu.”
Galang terdiam.
“Jangan mengabaikan seseorang hanya untuk membuktikan sesuatu kepadaku. Kalau dia membutuhkanmu dan kamu ingin menjawab, jawablah.”
Ia menatapku seolah baru memahami bahwa aku benar-benar sudah tidak meminta tempat dalam hidupnya.
Aku berjalan pergi.
Tiga bulan kemudian, aku pindah ke apartemen kecil dekat kantor.
Suatu malam ketika sedang membersihkan berkas lama di ponsel, aku menemukan rekaman suara yang tidak pernah kukirim.
Rekaman itu dibuat di toilet rumah sakit pada hari aku kehilangan kandungan.
Durasinya satu menit empat puluh tujuh detik.
Jauh melewati batas dua puluh detik milik Galang.
Aku menekan tombol putar.
Suara perempuan yang keluar dari ponsel terdengar seperti orang asing.
“Lang, aku takut. Dokter bilang detak jantungnya sudah tidak ada. Mereka mau melakukan tindakan sebentar lagi. Aku sendirian. Aku tahu kamu mungkin sibuk, tapi kalau bisa, datanglah. Aku tidak butuh kamu menjelaskan apa-apa. Aku cuma ingin kamu ada di sini.”
Setelah itu terdengar tangisan pelan.
Kemudian rekaman berakhir.
Aku duduk lama di lantai kamar.
Dulu aku menghapus rekaman itu dari ruang percakapan karena takut dianggap terlalu emosional.
Ternyata salinannya masih tersimpan di folder rekaman ponsel.
Aku tidak mengirimkannya kepada Galang.
Aku juga tidak menghapusnya.
Aku menyimpannya.
Bukan sebagai pengingat tentang dirinya.
Melainkan tentang diriku sendiri.
Tentang seorang perempuan yang pernah belajar mengecilkan rasa sakitnya agar lebih mudah dicintai.
Enam bulan kemudian, pada hari yang seharusnya menjadi perkiraan kelahiran anak kami, sebuah paket kecil tiba di apartemenku.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya hanya ada satu benda.
Kertas “Aturan Komunikasi” milik Galang.
Ketiga aturan itu telah dicoret.
Di bawahnya ada tulisan tangan baru.
“Tidak semua hal harus diselesaikan. Beberapa hal hanya perlu didengarkan.”
Aku mengenali tulisan Galang.
Aku membaca kalimat itu sekali.
Lalu melipat kertas tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam amplop.
Aku tidak meneleponnya.
Tidak mengirim pesan.
Tidak bertanya apakah ia sudah berubah.
Karena untuk pertama kalinya, diam di antara kami bukan hukuman.
Bukan permainan.
Bukan aturan.
Itu adalah akhir.
Dan kali ini, kami berdua akhirnya mendengarnya.
