SEMALAM SEBELUM PERNIKAHAN, SAHABAT MASA KECIL SUAMIKU MENCUKUR HABIS RAMBUTKU SAAT AKU TERTIDUR. NAMUN, BEGITU IBU MERTUAKU MELIHATNYA, DIA LANGSUNG MENAMPAR WANITA ITU.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di depan cermin sebelum akhirnya pintu suite terbuka.

Aditya masuk sambil masih memegang ponsel.

“Ada perubahan meja untuk keluarga Om Hendra, jadi besok—”

Kalimatnya terputus.

Tatapannya jatuh ke kepalaku.

Untuk sesaat, aku melihat keterkejutan di wajahnya. Aku bahkan sempat berharap dia akan marah.

“Astaga, Laras. Rambut kamu kenapa?”

Citra langsung tertawa.

“Aku yang potong.”

Aditya menoleh cepat. “Kamu?”

“Cuma bercanda.” Citra menggoyangkan alat cukur merah muda di tangannya. “Kak Laras terlalu serius. Lagian dia tetap cantik, kan?”

Aku menatap Aditya.

Aku menunggu.

Mungkin hanya beberapa detik, tetapi rasanya sangat lama.

Lalu Aditya mengembuskan napas dan mengusap wajah.

“Citra, kamu keterlaluan.”

Nada suaranya terdengar seperti seseorang sedang menegur anak kecil karena menumpahkan minuman.

Citra langsung memasang wajah memelas.

“Marah, ya?”

“Ya, jangan begini lagi.”

Kemudian Aditya mendekat kepadaku.

“Sudahlah, Laras. Besok kita panggil hairstylist. Bisa pakai wig atau veil. Rambut juga nanti tumbuh lagi.”

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

“Tiga tahun.”

“Apa?”

Aku akhirnya mampu mengeluarkan suara.

“Aku memanjangkannya tiga tahun.”

Aditya terdiam.

Aku menunjuk serpihan rambut yang masih berserakan di bantal.

“Dan dia mencukurnya ketika aku tidur.”

“Aku tahu kamu marah, tapi besok pernikahan kita. Jangan sampai masalah begini merusak semuanya.”

Masalah begini.

Dua kata itu justru membuat air mataku berhenti.

Aku menatap laki-laki yang telah bersamaku hampir lima tahun itu dan tiba-tiba merasa seperti sedang melihat orang asing.

Citra mendekat dari belakangnya.

“Maaf deh, Kak. Kalau mau, biaya wig-nya aku bayar.”

Beberapa bridesmaid kembali tertawa kecil.

Saat itulah pintu suite terbuka keras.

Bu Ratna masuk.

Tatapannya menyapu ruangan, berhenti pada rambut di lantai, kemudian kepalaku.

Wajahnya berubah.

“Siapa yang melakukan ini?”

Tidak seorang pun menjawab.

Citra, entah karena terlalu percaya diri atau terlalu bodoh, mengangkat alat cukur di tangannya.

“Aku, Tante. Cuma bercanda.”

Bu Ratna berjalan mendekat.

Plak.

Tamparannya membuat kepala Citra terlempar ke samping.

Semua orang membeku.

“Tante!”

“Kalau orang tuamu tidak pernah mengajarimu bagaimana memperlakukan orang lain, hari ini biar saya yang mengajarimu.”

Citra memegangi pipinya.

“Aku cuma bercanda!”

“Bercanda?”

Bu Ratna menunjukku.

“Dia minum obat. Dia tertidur. Kamu mencukur rambutnya tanpa izin, merekamnya, lalu menertawakannya ramai-ramai. Bagian mana yang lucu?”

Citra menoleh kepada Aditya.

“Kak…”

Aditya maju.

“Ma, sudah. Jangan pakai kekerasan.”

Bu Ratna menatap putranya.

Aku tidak pernah melupakan ekspresi di wajahnya saat itu.

Bukan marah.

Kecewa.

“Kamu tadi ada di sini?”

“Aku baru datang.”

“Dan setelah melihat calon istrimu seperti ini, yang kamu lakukan apa?”

Aditya mengerutkan kening.

“Aku sudah bilang Citra keterlaluan.”

“Lalu?”

“Besok hari penting. Aku cuma tidak mau semuanya jadi drama.”

Bu Ratna tertawa pendek tanpa sedikit pun humor.

“Drama?”

Dia mengambil ponsel dari meja dan menelepon seseorang.

“Surya, naik ke suite sekarang.”

Aditya mulai terlihat gelisah.

“Ma, jangan libatkan Papa.”

“Diam.”

Satu kata itu membuatnya bungkam.

Kemudian Bu Ratna menghampiriku.

Tangannya terangkat, tetapi berhenti beberapa sentimeter dari kepalaku.

Berbeda dengan Citra yang tadi ingin menyentuhku untuk mengejek, Bu Ratna justru bertanya pelan, “Boleh Mama lihat lukanya?”

Aku mengangguk.

Dia memeriksa goresan di belakang telingaku.

Rahangnya mengeras.

“Ini bukan cuma rambut.”

Untuk pertama kalinya malam itu, seseorang memahami apa yang kurasakan.

Bu Ratna menyuruh semua bridesmaid yang ikut tertawa keluar dari kamar. Maya sempat memprotes karena ponselnya diminta diserahkan.

“Ada video pribadi Laras di situ,” kata Bu Ratna. “Hapus di depan saya.”

“Kenapa harus—”

“Sekarang.”

Maya langsung menurut.

Citra justru mengambil tasnya.

“Kalau begini caranya, aku pulang saja.”

“Tidak.”

Suara Bu Ratna menghentikannya.

“Kamu tunggu orang tuamu datang.”

“Aku bukan anak kecil!”

“Kalau begitu bersikaplah seperti orang dewasa dan bertanggung jawab.”

Beberapa menit kemudian Pak Surya tiba.

Berbeda dengan istrinya yang meledak seperti api, Pak Surya justru semakin tenang ketika marah.

Dia melihat kondisi kamar, mendengarkan penjelasan singkat, lalu bertanya kepadaku, “Laras, kamu mau ke rumah sakit?”

Aku sempat ingin mengatakan tidak.

Aku tidak ingin merepotkan siapa pun.

Kebiasaan buruk itu hampir keluar lagi.

Namun Bu Ratna memegang tanganku.

“Jangan pikirkan pesta. Jawab yang kamu butuhkan.”

Aku menelan ludah.

“Kulit kepala saya perih, Pa.”

“Kita ke rumah sakit.”

Aditya langsung berkata, “Sekarang? Sudah lewat tengah malam.”

Bu Ratna menoleh tajam.

“Justru karena sudah lewat tengah malam, seharusnya kamu yang paling khawatir.”

Citra mendengus.

“Cuma lecet sedikit.”

Bu Ratna berbalik begitu cepat sampai Citra mundur satu langkah.

“Kamu beruntung saya masih menganggap orang tuamu teman keluarga.”

Aku dibawa ke rumah sakit swasta terdekat.

Dokter menemukan beberapa luka akibat alat cukur dan iritasi kulit yang diperparah produk rambut sebelumnya. Tidak serius, tetapi harus dibersihkan untuk mencegah infeksi.

Yang tidak kuduga, Pak Surya meminta dokumentasi medis lengkap.

“Untuk apa?” tanya Aditya.

Pak Surya menjawab datar, “Karena apa yang terjadi dilakukan tanpa persetujuan Laras.”

Citra yang sejak tadi duduk di ruang tunggu langsung pucat.

“Kalian mau laporin aku?”

Aku menatapnya.

Beberapa jam sebelumnya, aku mungkin akan diam.

Namun ketika melihat pantulan diriku di kaca rumah sakit, sesuatu di dalam diriku berubah.

“Kalau aku melakukan hal yang sama saat kamu tidak sadar, menurutmu itu cuma bercanda?”

Citra membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

Pukul tiga pagi kami kembali ke hotel.

Aku meminta kamar sendiri.

Aditya mengikuti sampai depan pintu.

“Laras.”

Aku berhenti.

“Besok tetap jadi, kan?”

Pertanyaan itu terasa begitu absurd hingga aku hampir tertawa.

Bukan bagaimana kondisiku.

Bukan apakah aku masih kesakitan.

Yang dia tanyakan adalah apakah pesta tetap berlangsung.

“Aku belum tahu.”

Wajahnya langsung berubah.

“Jangan emosional. Kita sudah mengundang hampir seribu orang.”

“Justru karena aku tidak mau emosional, aku ingin sendirian.”

“Laras, ini cuma karena Citra.”

Aku menatapnya.

“Bukan.”

Dia terdiam.

“Kalau cuma Citra, masalahnya sederhana. Masalahnya adalah ketika dia menyakitiku, kamu lebih takut dia tersinggung daripada aku terluka.”

“Dia sahabatku sejak kecil.”

“Aku istrimu.”

Aditya tidak menjawab.

Dan keheningan itu memberiku jawaban yang selama ini tidak berani kutanyakan.

Pagi harinya, aku bangun pukul tujuh.

Ponselku dipenuhi pesan.

Beberapa bridesmaid meminta maaf. Maya mengaku Citra sebenarnya sudah membicarakan rencana mencukur rambutku sejak sore. Mereka mengira dia hanya bercanda.

Satu pesan membuat tanganku dingin.

Maya mengirim tangkapan layar percakapan grup mereka.

Citra menulis dua hari sebelumnya.

Besok gue bikin Laras nggak jadi putri sehari. Penasaran Aditya masih pilih dia kalau penampilannya hancur.

Di bawahnya ada balasan seseorang.

Kalau Kak Aditya marah gimana?

Citra menjawab.

Dia nggak bakal marah sama gue. Dari dulu juga begitu.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Kemudian sebuah pesan baru masuk dari nomor Bu Ratna.

Mama di depan pintu. Boleh masuk?

Aku membukakan pintu.

Bu Ratna membawa sarapan dan sebuah kotak panjang.

Dia menaruhnya di meja.

“Ada sesuatu yang seharusnya Mama ceritakan sebelum kalian menikah.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

Bu Ratna duduk di hadapanku.

“Aditya dan Citra pernah hampir bertunangan.”

Aku terpaku.

“Apa?”

“Keluarga kami dekat. Sejak remaja semua orang mengira mereka akan bersama. Tapi Aditya selalu bilang Citra seperti adiknya sendiri.”

“Kenapa Aditya tidak pernah cerita?”

“Karena dia tahu kamu tidak nyaman dengan kedekatan mereka.”

Aku tertawa hambar.

“Jadi dia memilih menyembunyikannya.”

Bu Ratna mengangguk.

“Itu kesalahan dia.”

Dia lalu mendorong kotak panjang tadi ke arahku.

Di dalamnya terdapat kerudung pengantin sederhana dengan bordir bunga kecil.

“Ini veil Mama dulu.”

Aku menyentuh kainnya.

“Ma…”

“Kalau kamu tetap mau menikah hari ini, pakai ini kalau kamu suka. Kalau kamu tidak mau, Mama sendiri yang akan turun ke ballroom dan membatalkan acaranya.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Itu anak Mama.”

“Justru karena dia anak saya, saya tidak boleh membiarkannya menjadi laki-laki yang menganggap luka istrinya sebagai hal kecil.”

Air mataku kembali jatuh.

Namun kali ini bukan karena Citra.

Aku akhirnya memutuskan turun ke ballroom.

Bukan untuk menikah.

Aku mengenakan gaun pengantin, tanpa wig.

Veil milik Bu Ratna menutupi sebagian kepalaku, tetapi aku sengaja tidak menyembunyikannya sepenuhnya.

Ketika pintu ballroom terbuka, ratusan tamu menoleh.

Aditya berdiri di ujung ruangan dengan wajah lega.

Dia mungkin mengira kehadiranku berarti aku sudah memaafkannya.

Aku berjalan sampai ke depan.

Lalu aku meminta mikrofon.

Ruangan menjadi sunyi.

Tanganku gemetar.

Dulu, ketika marah, aku tidak bisa bicara.

Hari itu aku memaksa diriku melakukannya.

“Terima kasih karena sudah datang.”

Aku menarik napas.

“Pesta hari ini tidak akan dilanjutkan.”

Suara bisik-bisik langsung terdengar.

Wajah Aditya memucat.

“Laras…”

Aku mengangkat tangan.

“Aku menghabiskan tiga tahun memanjangkan rambut untuk hari ini. Tapi tadi malam, seseorang mencukurnya ketika aku berada dalam kondisi tidak sadar.”

Beberapa tamu tersentak.

“Aku bisa memaafkan rambut. Rambut akan tumbuh lagi.”

Aku menatap Aditya.

“Tapi kepercayaan tidak tumbuh semudah itu.”

Dia mendekat.

“Kita bisa bicara berdua.”

“Kita sudah bicara.”

Citra tiba-tiba muncul dari sisi ballroom. Entah siapa yang membiarkannya masuk.

Matanya bengkak karena menangis.

“Semua ini gara-gara rambut doang?”

Bu Ratna berdiri dari kursinya.

Namun kali ini aku lebih dulu menjawab.

“Bukan.”

Aku menatap Citra.

“Ini karena kamu sengaja menyakiti seseorang untuk membuktikan bahwa kamu tetap lebih penting bagi laki-laki yang akan menikahinya.”

Wajahnya membeku.

Aku kemudian menatap Aditya.

“Dan ternyata kamu berhasil membuktikannya.”

Aditya menggeleng.

“Itu nggak benar.”

“Kalau tidak benar, kenapa kamu memintaku diam supaya Citra tidak merasa bersalah?”

Dia tidak bisa menjawab.

Pak Surya berdiri dan memberi isyarat kepada koordinator acara untuk menghentikan musik.

Pesta pernikahan yang direncanakan selama hampir setahun berakhir sebelum dimulai.

Enam bulan kemudian, aku resmi berpisah dari Aditya.

Citra juga menghilang dari lingkaran keluarga mereka setelah orang tuanya mengetahui seluruh kejadian dan rekaman percakapan grup tersebar di antara keluarga dekat.

Namun kejutan terbesar datang hampir setahun kemudian.

Suatu sore, Bu Ratna mengajakku minum kopi.

Rambutku saat itu sudah tumbuh pendek hingga menyentuh telinga.

Ketika aku datang, dia menatap kepalaku cukup lama.

Aku tersenyum.

“Sudah lumayan panjang, Ma.”

Aku baru sadar memanggilnya Mama setelah kata itu keluar.

Bu Ratna diam.

Kemudian telinganya kembali memerah seperti saat pertama kali aku memanggilnya begitu.

Dia mengeluarkan kotak kecil dari tas.

Gelang giok putih yang dulu diberikannya kepadaku ada di dalamnya.

Aku terkejut.

“Aku kira ini harus dikembalikan setelah aku dan Aditya berpisah.”

“Siapa bilang?”

“Aditya.”

Bu Ratna mendengus.

“Gelang itu milik saya. Saya yang kasih. Dia ikut campur apa?”

Aku tertawa untuk pertama kalinya setiap kali mengingat pernikahan yang gagal itu.

Bu Ratna memasangkan gelang tersebut ke pergelangan tanganku.

“Dulu saya memberikannya karena mengira kamu akan menjadi menantu saya.”

Dia berhenti sebentar.

“Sekarang saya memberikannya lagi karena saya menyayangimu sebagai Laras.”

Mataku panas.

Aku menunduk melihat gelang itu.

Selama berbulan-bulan aku mengira malam tersebut telah merampas terlalu banyak dariku.

Rambutku.

Pernikahanku.

Laki-laki yang kukira akan menjadi tempatku pulang.

Ternyata malam itu justru menyelamatkanku.

Citra mencukur rambutku karena ingin mempermalukanku di hari pernikahan.

Tanpa dia sadari, dia malah membuka sesuatu yang jauh lebih penting daripada penampilanku.

Dia menunjukkan siapa yang akan tertawa ketika aku terluka.

Siapa yang akan menyuruhku diam demi menjaga kenyamanan orang lain.

Dan siapa yang akan berdiri di depanku ketika aku bahkan belum mampu membela diriku sendiri.

Rambutku akhirnya tumbuh kembali.

Namun perempuan yang melihat dirinya di cermin setelah semua itu bukan lagi Laras yang dulu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ketika seseorang melewati batas, aku tidak lagi kesulitan mencari kata-kata.

Aku hanya perlu satu kalimat.

“Jangan lakukan itu kepadaku lagi.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang