Tanganku gemetar ketika menarik selembar kertas dari dalam amplop tua itu.
Kertasnya sudah menguning di bagian tepi. Ada bekas lipatan berkali-kali, seolah surat itu pernah dibuka, dibaca, lalu disimpan kembali entah berapa ratus kali selama tujuh tahun terakhir.
Alya berdiri beberapa langkah di depanku.
Wajahnya pucat.
Dua anak kembar itu masih berlindung di belakang tubuhnya. Anak perempuan menggenggam ujung kaus ibunya, sementara anak laki-laki terus menatapku dengan mata yang membuat jantungku berdetak semakin keras.
Aku mengenal tatapan itu.
Karena setiap pagi aku melihatnya di cermin.
Aku mulai membaca.
Raka,
Kalau suatu hari surat ini sampai kepadamu, mungkin semuanya sudah terlambat.
Hari ini dokter memastikan bahwa aku hamil.
Bukan satu anak.
Dua.
Aku terdiam.
Suara pasar di sekelilingku seperti menghilang.
Aku membaca kalimat berikutnya dengan napas tertahan.
Mereka anakmu.

Tanganku jatuh ke sisi tubuh.
Aku menatap Alya.
“Kamu hamil waktu kita bercerai?”
Alya tidak menjawab.
“Alya!”
Beberapa orang menoleh. Bu Sari segera membawa si kembar sedikit menjauh, tetapi anak laki-laki itu masih menatapku.
Alya akhirnya mengangguk.
“Iya.”
Satu kata itu menghantamku lebih keras daripada apa pun.
“Tujuh tahun,” kataku pelan. “Selama tujuh tahun kamu menyembunyikan anak-anakku?”
Mata Alya langsung memerah.
“Jangan bicara seolah aku melakukan semuanya karena aku mau.”
“Lalu karena apa?”
“Baca sampai selesai.”
Aku kembali melihat surat itu.
Aku sebenarnya ingin datang menemuimu. Aku ingin mengatakan bahwa kita mungkin sudah gagal menjadi suami istri, tetapi kita masih bisa menjadi orang tua.
Namun seseorang datang lebih dulu.
Aku berhenti membaca.
“Seseorang?”
Alya menunduk.
Aku melanjutkan.
Ibumu datang ke kontrakanku tiga hari setelah aku mengetahui kehamilan ini.
Dadaku mendadak sesak.
Ibuku?
Perempuan yang selama ini kukenal sebagai sosok paling tenang dan paling mendukungku?
Aku membaca lebih cepat.
Beliau sudah tahu aku hamil. Aku tidak tahu dari mana.
Dia mengatakan perusahaan keluargamu sedang berada di ambang kehancuran. Investor sedang mengawasi setiap keputusanmu. Perceraian kita sudah menjadi bahan pembicaraan. Jika aku kembali dengan kehamilan, katanya hidupmu akan semakin berantakan.
Aku mengatakan aku tidak peduli.
Aku hanya ingin anak-anak ini mengenal ayah mereka.
Lalu ibumu menunjukkan sesuatu kepadaku.
Foto.
Aku menelan ludah.
Di bawah tulisan itu terdapat sebuah foto kecil yang sudah pudar.
Aku mengenali perempuan di dalamnya.
Nadia.
Putri salah satu mitra bisnis ayahku.
Saat itu kami memang sering terlihat bersama karena sedang mengurus restrukturisasi perusahaan. Media pernah memotret kami keluar dari hotel tempat sebuah rapat bisnis berlangsung.
Aku tidak pernah memiliki hubungan dengannya.
Namun dari sudut pengambilan gambar, foto itu memang bisa terlihat berbeda.
Aku kembali membaca.
Ibumu mengatakan kau sudah memulai hidup baru. Dia mengatakan kau meminta agar aku tidak mengganggumu lagi.
Aku mengangkat kepala.
“Itu bohong.”
Alya tersenyum getir.
“Sekarang aku tahu.”
“Kenapa kamu percaya?”
“Karena saat itu aku meneleponmu.”
Aku membeku.
“Aku tidak pernah menerima teleponmu.”
“Aku menelepon belasan kali.”
“Tidak ada.”
Alya menatapku beberapa detik, kemudian berkata pelan, “Nomorku diblokir dari ponselmu.”
Aku teringat sesuatu.
Setelah perceraian, ibuku memang mengambil alih banyak urusan pribadiku karena aku hampir tidak pernah pulang dari kantor. Bahkan telepon dan jadwalku sering diurus asistennya.
Tiba-tiba potongan-potongan masa lalu mulai terasa berbeda.
“Aku datang ke kantormu,” lanjut Alya. “Satpam mengatakan namaku masuk daftar orang yang tidak boleh menemuimu.”
Aku menggeleng.
“Aku tidak pernah membuat daftar itu.”
“Aku tahu.”
“Kenapa kamu tidak mencari cara lain?”
Kali ini Alya menatapku tajam.
“Karena aku juga manusia, Raka.”
Suaranya bergetar.
“Aku baru bercerai. Aku hamil anak kembar. Aku tidak punya keluarga yang bisa membantuku. Lalu aku diberi tahu bahwa mantan suamiku sudah bersama perempuan lain dan tidak ingin melihatku lagi. Menurutmu berapa kali seseorang harus dipermalukan sebelum dia berhenti mengetuk pintu?”
Aku tidak bisa menjawab.
Bu Sari memeluk bahu anak perempuan itu.
Aku melanjutkan membaca surat.
Jika suatu hari kau mengetahui keberadaan mereka, jangan salahkan mereka.
Mereka tidak memilih dilahirkan ketika kita sedang saling membenci.
Aku memberi mereka nama Arka dan Ara.
Aku ingin setidaknya ada sedikit bagian darimu dalam hidup mereka, meskipun hanya melalui nama.
Mataku panas.
Arka.
Ara.
Aku menatap anak laki-laki itu.
“Namamu Arka?”
Ia ragu, lalu mengangguk.
Anak perempuan di sampingnya berbisik, “Aku Ara.”
Suara kecil itu hampir meruntuhkan seluruh pertahananku.
Aku berjongkok agar sejajar dengan mereka.
Namun Alya segera berdiri di antara kami.
“Jangan.”
Aku menatapnya.
“Aku ayah mereka.”
“Secara darah, mungkin.”
Kalimat itu menusuk.
“Tapi mereka tidak mengenalmu.”
Aku berdiri perlahan.
“Lalu kenapa kamu bekerja seperti ini?”
Aku menunjuk kardus-kardus besar di belakangnya.
“Kamu lulusan universitas. Dulu kamu bekerja di perusahaan desain. Kenapa menjadi buruh angkut?”
Alya terdiam.
Bu Sari yang menjawab.
“Karena Ara sakit.”
Alya langsung menoleh.
“Bu…”
“Apa sakitnya?” tanyaku.
Tidak ada jawaban.
Aku melihat Ara.
Baru saat itu aku menyadari kulitnya tampak lebih pucat dibanding saudara kembarnya.
Bu Sari menarik napas.
“Kelainan darah. Sudah hampir dua tahun bolak-balik rumah sakit.”
Kakiku terasa lemas.
“Kenapa tidak menghubungiku?”
Alya tertawa kecil, tetapi air matanya jatuh.
“Menghubungi siapa? Pria yang menurutku bahkan tidak tahu mereka ada?”
“Kamu bisa mencari tahu.”
“Aku sudah pernah mencoba mencari tahu.”
“Lalu?”
“Aku melihat berita tentangmu.”
Aku terdiam.
“Tentang perusahaanmu. Rumah barumu. Acara-acara besar. Foto bersama perempuan-perempuan yang diperkenalkan keluargamu.”
Alya mengusap air matanya.
“Aku pikir hidupmu baik-baik saja tanpa kami.”
Aku hampir mengatakan bahwa hidupku tidak pernah benar-benar baik.
Rumah besar itu selalu terasa seperti hotel.
Setiap malam aku pulang ke ruangan yang sunyi.
Aku punya uang, jabatan, dan perusahaan yang semakin besar, tetapi selama tujuh tahun aku tidak pernah merasa benar-benar pulang.
Namun sebelum sempat bicara, Ara tiba-tiba memegang lengan Alya.
“Ibu…”
Tubuh kecilnya limbung.
Alya langsung menangkapnya.
“Ara!”
Wajah anak itu kehilangan warna.
Aku tidak berpikir panjang.
Aku mengangkat tubuh Ara.
Alya mencoba mengambilnya dariku.
“Raka, turunkan dia!”
“Rumah sakit mana?”
“Raka!”
“Rumah sakit mana, Alya?”
Mungkin karena melihat kepanikan di wajahku, ia akhirnya menyebut nama rumah sakit.
Aku membawa Ara ke mobil.
Sepanjang perjalanan, Alya duduk di belakang sambil memeluk putrinya. Arka berada di sampingnya dengan wajah ketakutan.
Aku mengemudi lebih cepat daripada yang seharusnya.
Di rumah sakit, Ara segera dibawa ke ruang pemeriksaan.
Aku berdiri di lorong sambil menatap pintu tertutup.
Arka duduk beberapa kursi dariku.
Aku ingin mendekatinya, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.
Akhirnya justru dia yang berbicara.
“Om kenal Ibu?”
Aku tercekat mendengar ia memanggilku Om.
“Iya.”
“Teman lama?”
Aku memandang Alya yang berdiri di ujung lorong.
“Lebih dari itu.”
Arka mengangguk, seolah mencoba memahami.
Lalu ia berkata sesuatu yang membuat tenggorokanku tercekat.
“Om mirip aku.”
Alya langsung menutup mata.
Aku tersenyum tipis.
“Menurutmu?”
“Iya. Tapi Ibu bilang aku mirip seseorang yang dulu suka makan telur pakai kecap terlalu banyak.”
Aku tertawa kecil.
Di tengah ketegangan itu, kenangan lama muncul begitu saja.
Setiap pagi Alya memang selalu mengejekku karena kebiasaanku menuangkan kecap berlebihan ke telur goreng.
Aku menatapnya.
Alya menangis tanpa suara.
Beberapa jam kemudian dokter keluar.
Kondisi Ara stabil, tetapi dokter mengatakan ia membutuhkan rangkaian perawatan lanjutan yang selama ini beberapa kali tertunda.
“Karena biaya?” tanyaku.
Dokter tidak menjawab langsung.
Alya yang menjawab.
“Iya.”
Aku memejamkan mata.
Malam itu aku langsung meminta seluruh biaya pengobatan Ara ditanggung.
Namun Alya menolak.
“Aku tidak butuh belas kasihan.”
“Ini bukan belas kasihan.”
“Kalau begitu apa?”
“Tanggung jawab.”
Aku menatap kedua anak itu.
“Tanggung jawab yang seharusnya kulakukan sejak mereka lahir.”
“Kamu bahkan belum tahu pasti.”
Aku mengerti maksudnya.
Tes DNA.
Dua hari kemudian, atas persetujuan kami berdua, tes dilakukan.
Aku tidak tidur selama menunggu hasilnya.
Namun sebelum hasil keluar, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Ibuku datang ke rumah sakit.
Entah dari mana ia mengetahui semuanya.
Begitu melihat Alya, wajahnya kehilangan warna.
“Alya?”
Aku berdiri.
“Ibu tahu, kan?”
Ia menatap si kembar.
Lalu matanya jatuh pada Arka.
Tidak perlu tes DNA untuk melihat ketakutan di wajahnya.
“Ibu tahu Alya hamil.”
Ia tidak menjawab.
“Aku tanya sekali lagi. Ibu tahu?”
Akhirnya ia mengangguk.
Aku merasa sesuatu dalam diriku runtuh.
“Kenapa?”
Ibuku mulai menangis.
“Waktu itu perusahaan hampir bangkrut. Ayahmu baru meninggal. Kamu kacau setelah perceraian. Investor mengancam mundur. Ibu pikir kalau Alya kembali, kamu akan meninggalkan semuanya.”
“Jadi Ibu menghapus tujuh tahun hidup anak-anakku?”
“Ibu ingin melindungimu.”
“Melindungiku?”
Suaraku menggema di lorong.
“Arka memanggilku Om. Ara hampir tidak mendapatkan perawatan yang cukup sementara aku tinggal di rumah dengan kamar kosong lebih banyak daripada yang bisa kuhitung. Itu yang Ibu sebut melindungi?”
Ibuku menangis semakin keras.
Namun kali ini aku tidak bisa menghiburnya.
Tiga hari kemudian hasil tes DNA keluar.
Probabilitas hubungan biologis 99,99 persen.
Aku adalah ayah Arka dan Ara.
Kupikir itulah rahasia terbesar.
Ternyata aku salah.
Saat kami keluar dari rumah sakit, Bu Sari datang membawa sebuah map.
“Alya, sudah waktunya Raka tahu semuanya.”
Alya terlihat panik.
“Bu Sari…”
Aku membuka map itu.
Di dalamnya terdapat bukti transfer.
Jumlahnya besar.
Transfer dilakukan setiap bulan selama hampir enam tahun.
Pengirimnya adalah sebuah rekening perusahaan yang kukenal.
Perusahaan keluargaku.
Aku menatap Alya.
“Kamu menerima uang dari keluargaku?”
Alya menggeleng cepat.
“Tidak pernah.”
Aku memeriksa nomor rekening penerima.
Bukan milik Alya.
Nama penerimanya membuat darahku terasa dingin.
Hendra Kusuma.
Mantan direktur keuangan perusahaan kami.
Orang kepercayaan ibuku.
Bu Sari menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun Hendra mengambil dana yang sebenarnya dialokasikan ibuku untuk kebutuhan Alya dan anak-anak.
Ibuku ternyata pernah berubah pikiran setahun setelah kelahiran si kembar.
Ia diam-diam meminta Hendra mencari Alya dan memberikan bantuan tanpa menyebut namanya.
Namun Hendra melaporkan bahwa Alya sudah menikah lagi dan pindah ke luar negeri.
Semua itu bohong.
Dana bantuan terus dicairkan.
Hendra mengambilnya.
Aku menatap ibuku.
Wajahnya sama terkejutnya denganku.
Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa tragedi tujuh tahun ini bukan disebabkan satu kebohongan.
Melainkan rangkaian ketakutan, kesombongan, asumsi, dan orang-orang yang memilih diam.
Beberapa minggu kemudian Hendra dilaporkan setelah audit internal menemukan bukti penyalahgunaan dana lain.
Ara menjalani perawatan terbaik.
Alya berhenti bekerja di pasar, bukan karena aku memaksanya, melainkan karena aku menawarkan pekerjaan di sebuah studio desain yang menjadi mitra perusahaanku. Ia menerima setelah memastikan pekerjaannya tidak berada langsung di bawahku.
Hubungan kami tidak serta-merta membaik.
Tidak ada pelukan dramatis.
Tidak ada keputusan untuk kembali bersama.
Aku harus belajar menjadi ayah dari awal.
Pertama kali Arka memintaku mengantarnya sekolah, aku bangun dua jam lebih awal karena gugup.
Pertama kali Ara tertidur di bahuku setelah perawatan, aku tidak bergerak hampir satu jam karena takut membangunkannya.
Mereka masih memanggilku Om Raka.
Sampai suatu sore, sekitar enam bulan setelah pertemuan kami di pasar.
Aku sedang memperbaiki roda sepeda Arka di halaman rumah kecil yang disewa Alya ketika Ara keluar membawa dua gelas jus.
Ia menyerahkan satu kepadaku.
“Ini buat Ayah.”
Tanganku berhenti.
Aku menatapnya.
“Apa?”
Ara terlihat bingung.
“Kenapa?”
“Kamu tadi memanggilku apa?”
Wajahnya memerah.
Ia berbalik hendak masuk.
Aku memeluknya sebelum ia sempat pergi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis di depan anakku.
Arka yang melihat dari dekat sepeda tertawa.
“Kalau begitu aku juga boleh panggil Ayah?”
Aku merentangkan tangan.
Ia langsung berlari memelukku.
Di ambang pintu, Alya berdiri diam.
Matanya berkaca-kaca.
Aku menatap perempuan yang pernah menjadi istriku itu.
“Alya.”
“Hm?”
“Aku tidak akan meminta tujuh tahun itu kembali. Aku tahu tidak ada yang bisa mengembalikannya.”
Ia diam.
“Tapi kalau kamu mengizinkan, aku ingin ada untuk semua tahun setelah ini.”
Alya menatap kedua anak kami.
Lalu kepadaku.
“Aku tidak bisa menjanjikan kita akan kembali seperti dulu.”
“Aku juga tidak mau kembali seperti dulu.”
Ia mengernyit.
Aku tersenyum.
“Karena kita yang dulu terlalu sibuk merasa benar sampai lupa bicara jujur.”
Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, Alya tersenyum kepadaku seperti perempuan yang pernah kukenal.
Namun kisah kami tidak berakhir dengan pernikahan kedua.
Setidaknya belum.
Setahun kemudian, aku kembali ke pasar tempat kami bertemu.
Bukan untuk melihat gudang.
Aku datang bersama Arka dan Ara.
Bu Sari masih bekerja di sana.
Ketika melihat kami, ia tersenyum lebar.
Ara berlari memeluknya.
Arka membantu membawa barang belanjaan.
Aku berdiri di tempat yang hampir sama dengan hari ketika pertama kali melihat Alya mengangkat kardus.
Saat itu aku mengira aku sedang melihat mantan istriku yang hidupnya telah jatuh jauh setelah meninggalkanku.
Ternyata akulah yang selama tujuh tahun hidup dalam kemiskinan yang tidak terlihat.
Aku punya perusahaan.
Rumah.
Mobil.
Rekening yang tidak pernah sempat kuhitung.
Namun Alya memiliki sesuatu yang tidak kumiliki.
Dua anak yang setiap malam memeluknya dan memanggilnya Ibu.
Kini aku akhirnya mengerti.
Ada kehilangan yang tidak bisa dibayar dengan uang.
Ada kesalahan yang tidak selesai hanya dengan permintaan maaf.
Dan ada keluarga yang tidak bisa dibangun kembali hanya karena hubungan darah.
Keluarga harus dipilih.
Setiap hari.
Ketika kami hendak pulang, Arka tiba-tiba menarik tanganku.
“Ayah.”
Aku menoleh.
“Ibu bilang malam ini kita makan di rumah.”
Aku melihat Alya yang sedang berbicara dengan Bu Sari.
“Terus?”
Arka mendekat dan berbisik seolah menyampaikan rahasia besar.
“Ibu beli telur.”
Aku mengerutkan dahi.
Ara langsung tertawa.
“Katanya ada orang yang masih suka makan telur pakai kecap kebanyakan.”
Aku menatap Alya dari kejauhan.
Seolah tahu sedang dibicarakan, ia menoleh kepadaku.
Kemudian tersenyum.
Senyum yang sama seperti tujuh tahun lalu.
Bedanya, kali ini aku tidak membiarkan kesombongan, ketakutan, atau kesalahpahaman berbicara lebih dulu.
Aku berjalan menghampirinya.
Karena tujuh tahun sebelumnya kami kehilangan keluarga akibat terlalu banyak hal yang tidak pernah dikatakan.
Dan kali ini, apa pun yang terjadi setelahnya, aku tidak akan membiarkan diam mengambil satu hari pun lagi dari hidup kami.
