Aku baru saja meninggalkan pemakaman ketika sebuah pesan dari Arga masuk.
Pulang sekarang. Kita harus bicara soal rumah ibumu.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Tanah di makam Ibu bahkan belum mengering. Bunga-bunga yang kutaburkan di atas pusaranya mungkin masih basah oleh gerimis. Namun laki-laki yang beberapa jam lalu meninggalkan pemakaman demi menghadiri pernikahan perempuan lain sudah membicarakan rumah peninggalan Ibu.
Aku tidak membalas.
Ketika mobil memasuki Jakarta, ponselku berdering lagi.
Kali ini dari Pak Surya, notaris yang selama bertahun-tahun mengurus dokumen keluarga kami.
“Nadia, kamu sedang bersama Arga?”
“Tidak, Pak.”
Suara di seberang terdengar ragu.
“Tadi Arga menelepon saya. Dia menanyakan sertifikat rumah ibumu dan prosedur pengalihan hak setelah pemilik meninggal.”
Jantungku seperti dihantam sesuatu.
“Untuk apa?”
“Itu yang ingin saya tanyakan kepadamu.”
Aku memejamkan mata.
Rumah Ibu bukan rumah mewah. Sebuah rumah dua lantai di kawasan Tebet yang dibeli Ayah dan Ibu puluhan tahun lalu. Tetapi harga tanah di daerah itu sudah melonjak tajam.

Beberapa bulan terakhir Arga memang beberapa kali membicarakannya.
“Kalau nanti rumah itu jadi milikmu, kita bisa jual,” katanya suatu malam. “Modalnya bisa dipakai memperbesar perusahaan.”
Saat itu aku langsung memotongnya.
“Ibu masih hidup.”
Dia tertawa dan mengatakan aku terlalu sensitif.
Sekarang, beberapa jam setelah Ibu dimakamkan, dia sudah menelepon notaris.
“Pak Surya,” kataku pelan, “jangan berikan informasi atau dokumen apa pun kepada Arga tanpa persetujuan saya.”
“Tentu.”
Aku menutup telepon dan menatap jalanan Jakarta dari balik jendela.
Untuk pertama kalinya, aku mulai bertanya apakah selama ini aku benar-benar mengenal laki-laki yang kunikahi.
Ketika tiba di rumah sekitar pukul tujuh malam, mobil Arga sudah terparkir di garasi.
Aku masuk dan menemukan dia duduk di ruang keluarga.
Jas hitam yang dipakainya saat pemakaman sudah berganti dengan kemeja putih. Di atas meja terdapat dua cangkir kopi.
Seolah kami hanya akan membicarakan masalah biasa.
“Kamu akhirnya pulang,” katanya.
Aku meletakkan tas.
“Kenapa kamu menelepon Pak Surya?”
Wajahnya berubah sesaat.
Kemudian dia bersandar.
“Cepat juga dia mengadu.”
“Jawab pertanyaanku.”
“Aku cuma mencari informasi.”
“Ibuku baru dikuburkan sore ini.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu sudah menanyakan sertifikat rumahnya?”
Arga berdiri.
“Nadia, jangan mencampur emosi dengan masalah keuangan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Emosi?”
“Perusahaan sedang membutuhkan dana. Kamu tahu itu.”
Aku memang tahu.
Perusahaan konstruksi milik keluarga Arga sedang kesulitan setelah dua proyek apartemen tertunda. Selama enam bulan terakhir, dia mencari investor.
Namun aku tidak pernah menyangka solusi yang dia tunggu adalah kematian ibuku.
“Rumah Ibu bukan milikmu.”
“Tapi kamu ahli warisnya.”
“Lalu?”
“Kita suami istri.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Aku hanya tidak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap ketidakberdayaan seseorang memahami betapa menjijikkannya kata-katanya sendiri.
Arga mengambil sebuah map dari meja.
“Kalau rumah itu dijual, nilainya setidaknya delapan miliar. Kita hanya perlu tiga miliar untuk menyelamatkan perusahaan. Sisanya tetap milikmu.”
Aku melihat map itu.
Di dalamnya sudah ada beberapa lembar dokumen.
“Jadi kamu menyiapkan ini sebelum Ibu dimakamkan?”
Dia diam.
Jawaban itu sudah cukup.
Aku menutup map.
“Tidak.”
“Nadia.”
“Aku bilang tidak.”
Arga memukul meja.
“Kamu pikir aku datang ke pemakaman ibumu semalam untuk apa?”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Mungkin dia sadar baru saja mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak keluar dari mulutnya.
Tetapi terlambat.
“Aku membantu keluargamu,” katanya cepat.
“Bukan itu yang kamu katakan.”
“Nadia, jangan memancing.”
Aku maju satu langkah.
“Kamu datang ke rumah duka karena berharap aku merasa berutang budi kepadamu?”
Dia tidak menjawab.
Dan entah kenapa, diamnya terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebuah pengakuan.
Aku mengambil map itu lalu merobek dokumen paling atas menjadi dua.
Wajah Arga memerah.
“Kamu gila?”
“Besok aku akan menemui pengacara.”
“Untuk apa?”
“Perceraian.”
Dia menatapku selama beberapa detik sebelum tertawa.
“Kamu mau bercerai hanya karena kejadian hari ini?”
“Hanya?”
Aku akhirnya kehilangan kendali.
“Arga, kamu memaksa jenazah ibuku mundur sepuluh kilometer demi perempuan yang masih kamu simpan dengan tanda hati di ponselmu. Kamu meninggalkan pemakamannya untuk datang ke pesta pernikahan perempuan itu. Dan sebelum tanah makam Ibu kering, kamu sudah mencari cara menjual rumahnya!”
“Itu semua tidak ada hubungannya dengan pernikahan kita!”
“Justru semuanya menunjukkan seperti apa pernikahan kita.”
Arga terdiam.
Aku berjalan menuju kamar.
Namun sebelum aku mencapai tangga, dia berkata sesuatu yang membuat langkahku berhenti.
“Kalau bukan karena aku, ibumu tidak mungkin bisa bertahan selama itu.”
Aku berbalik.
“Apa?”
Arga terlihat menyesal.
“Aku cuma bilang aku ikut membantu biaya rumah sakit.”
Aku menatapnya tajam.
Biaya rumah sakit Ibu selama tiga bulan terakhir memang besar. Tetapi semuanya dibayar dari rekening Ibu sendiri dan tabunganku.
Arga tidak pernah membayar satu rupiah pun.
“Jangan bohong.”
“Aku tidak bohong.”
“Kalau begitu tunjukkan buktinya.”
Dia tidak menjawab.
Malam itu aku mengunci diri di kamar tamu.
Aku tidak tidur.
Sekitar pukul dua dini hari, aku membuka laptop Ibu yang kubawa dari rumah duka.
Aku sebenarnya hanya ingin mencari foto lama untuk dicetak dan diletakkan di rumah.
Namun ketika membuka folder dokumen, aku menemukan sebuah file bernama Nadia.
Di dalamnya terdapat beberapa scan dokumen.
Salah satunya surat perjanjian pinjaman.
Nama peminjamnya membuat tanganku gemetar.
Arga Pratama.
Dua tahun lalu, tanpa pernah memberitahuku, Ibu meminjamkan Arga uang sebesar dua miliar rupiah.
Aku membaca halaman demi halaman.
Uang itu digunakan untuk menyelamatkan perusahaan Arga ketika mengalami masalah pertama.
Ada satu klausul yang membuatku tercekat.
Jika utang tidak dilunasi sampai batas waktu, saham Arga dalam perusahaan yang dijadikan jaminan akan dialihkan kepada pemberi pinjaman.
Batas waktunya sudah lewat tiga bulan.
Artinya, secara hukum, Ibu memiliki hak atas sebagian saham perusahaan Arga.
Sekarang hak itu masuk ke dalam harta warisan.
Aku akhirnya memahami semuanya.
Arga tidak mengejar rumah Ibu hanya untuk mendapatkan modal.
Dia membutuhkan uang itu untuk membayar utangnya kepada Ibu sebelum proses warisan selesai dan aku menemukan perjanjian tersebut.
Pagi harinya aku langsung menemui Pak Surya.
Begitu melihat dokumen yang kubawa, dia menghela napas panjang.
“Jadi kamu sudah menemukannya.”
Aku membeku.
“Bapak tahu?”
“Ibumu yang membuat perjanjiannya melalui kantor kami.”
“Kenapa Ibu tidak pernah memberitahuku?”
“Beliau tidak ingin rumah tanggamu rusak.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Bahkan sampai akhir hidupnya, Ibu masih melindungiku.
Pak Surya membuka sebuah amplop.
“Beliau juga meninggalkan ini.”
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan.
Tulisan Ibu.
Nadia, kalau kamu membaca surat ini, berarti Ibu sudah tidak ada.
Ibu tahu suatu hari kamu mungkin marah karena Ibu menyembunyikan masalah Arga darimu.
Ibu hanya ingin memberinya kesempatan menjadi suami yang baik.
Tapi kalau suatu hari dia membuatmu merasa bahwa harga dirimu lebih rendah daripada kepentingannya, jangan bertahan hanya karena takut disebut gagal.
Pernikahan yang gagal bukan pernikahan yang berakhir.
Pernikahan yang gagal adalah ketika seseorang kehilangan dirinya sendiri hanya untuk mempertahankannya.
Aku menutup mulut agar tangisku tidak terdengar.
Sore itu, pengacaraku mengirimkan surat permohonan perceraian kepada Arga.
Reaksinya jauh lebih cepat daripada yang kuduga.
Dia datang ke kantor Pak Surya dengan wajah pucat.
“Nadia, kita bisa bicara.”
“Aku sudah tidak punya apa pun untuk dibicarakan.”
“Aku akan minta maaf.”
“Kepada siapa? Kepadaku atau kepada ibuku?”
Arga menunduk.
“Aku salah soal pemakaman.”
“Dan utang dua miliar?”
Wajahnya langsung kehilangan warna.
“Dari mana kamu tahu?”
Aku meletakkan salinan perjanjian di meja.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Arga benar-benar terlihat takut.
“Nadia, dengarkan aku. Waktu itu perusahaan hampir bangkrut.”
“Kenapa kamu meminjam kepada Ibu tanpa memberitahuku?”
“Karena aku malu.”
“Lalu kenapa tidak dibayar?”
“Aku belum punya uang.”
“Tapi kamu punya uang untuk mengirim hadiah pernikahan Citra senilai seratus lima puluh juta.”
Dia terdiam.
Aku tahu nominal itu dari mutasi rekening bersama kami yang baru kuperiksa pagi tadi.
Arga menatapku putus asa.
“Aku akan menjual mobil.”
“Tidak perlu.”
“Aku akan mengembalikan semuanya.”
“Sudah terlambat.”
Aku menunjuk klausul dalam perjanjian.
“Utangnya sudah jatuh tempo. Jaminannya berlaku.”
Arga berdiri mendadak.
“Kamu mau mengambil saham perusahaan keluargaku?”
“Bukan aku yang membuat perjanjian itu.”
“Itu perusahaan ayahku!”
“Dan rumah yang ingin kamu jual itu rumah ibuku.”
Dia tidak mampu menjawab.
Beberapa minggu berikutnya menjadi perang yang melelahkan.
Arga mencoba membujukku.
Kemudian mengancam.
Lalu membawa keluarganya untuk meminta aku mencabut gugatan.
Namun untuk pertama kalinya, aku tidak mundur.
Tiga bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Sebagian saham Arga dialihkan sesuai perjanjian utang dan kemudian masuk ke dalam pembagian warisan.
Aku tidak menjual rumah Ibu.
Aku juga tidak mempertahankan saham itu.
Setelah seluruh proses hukum selesai, aku menjual saham tersebut kepada investor lain dengan harga wajar.
Sebagian uangnya kugunakan untuk melunasi biaya-biaya terakhir Ibu.
Sebagian lagi kusimpan.
Sisanya kugunakan untuk mendirikan sebuah yayasan kecil yang membantu keluarga pasien kanker mendapatkan tempat tinggal sementara selama menjalani pengobatan di Jakarta.
Aku menamainya Rumah Ratih.
Nama Ibu.
Hampir setahun kemudian, aku sedang berada di halaman Rumah Ratih ketika sebuah mobil berhenti di depan gerbang.
Seorang perempuan turun.
Citra.
Aku hampir tidak mengenalinya.
Tidak ada kebaya putih, tidak ada riasan pengantin, tidak ada senyum kemenangan seperti dalam foto hari itu.
Dia berjalan menghampiriku.
“Aku cuma ingin mengatakan sesuatu.”
Aku diam.
“Pernikahanku berakhir tiga bulan lalu.”
Aku sedikit terkejut.
“Kenapa kamu menceritakan itu kepadaku?”
Citra tersenyum pahit.
“Karena selama ini kamu mungkin mengira aku dan Arga…”
“Aku sudah tidak peduli.”
“Aku tahu.”
Dia mengeluarkan ponsel.
“Tapi ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Sebuah percakapan muncul di layar.
Pesan dari Arga.
Dikirim malam sebelum pemakaman Ibu.
Besok aku akan pastikan rombongan Nadia tidak mengganggu perjalananmu. Aku sudah tahu rute kalian.
Aku merasa seluruh tubuhku membeku.
Jadi pertemuan di persimpangan itu bukan kebetulan.
Arga sudah tahu.
Citra menatapku.
“Aku baru tahu setelah pernikahanku. Waktu itu aku memang mengeluh soal rute dan pamali keluarga calon suamiku. Tapi aku tidak pernah meminta dia memundurkan pemakaman ibumu.”
Aku membaca pesan berikutnya.
Setelah acara selesai, kita bicara. Kalau urusan warisan Nadia beres, masalah perusahaanku juga selesai.
Aku mengembalikan ponsel itu.
Anehnya, aku tidak marah.
Tidak lagi.
Aku hanya merasa sangat tenang.
“Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?”
Citra menatap papan bertuliskan Rumah Ratih di belakangku.
“Karena aku baru sadar, hari itu bukan kamu yang kalah.”
Dia pergi beberapa menit kemudian.
Aku berdiri sendirian di halaman.
Angin sore menggoyangkan daun-daun kecil di pohon yang kutanam pada hari peresmian yayasan.
Dulu aku mengira keputusan terbesar dalam hidupku adalah menikahi Arga.
Ternyata bukan.
Keputusan terbesar dalam hidupku adalah hari ketika aku berhenti meminta seseorang memilihku.
Aku teringat perjalanan mundur sepuluh kilometer pada hari pemakaman Ibu.
Saat itu aku merasa sedang dipermalukan.
Namun sekarang aku memahami sesuatu.
Kadang hidup memang memaksa kita mundur beberapa kilometer agar kita akhirnya melihat dengan jelas jalan yang selama ini kita tempuh.
Dan hari ketika Arga memaksa iring-iringan pemakaman ibuku mundur demi perempuan lain, sebenarnya bukan hari ketika aku kehilangan suamiku.
Itulah hari ketika aku akhirnya menemukan kembali diriku sendiri.
