AKU SEORANG CEO YANG DIKEJAR KELOMPOK BERBAHAYA DAN TERPAKSA MEMINTA TOLONG PENJUAL IKAN DI PASAR!

Aku masih ingat tatapan Nadira malam itu.

Bukan tatapan seorang perempuan yang ketakutan setelah berhadapan dengan tiga pria berbahaya. Bukan pula tatapan seorang pedagang ikan yang kebetulan menolong orang asing.

Tatapannya terlalu tenang.

Seolah-olah sejak awal dia sudah tahu aku akan datang.

Tanganku masih memegang amplop cokelat bertuliskan namaku ketika suara mesin mobil terdengar dari luar pasar.

Nadira langsung menoleh.

“Jangan buka sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena kita harus pergi.”

Dimas yang berdiri di sampingku tampak semakin tegang. “Pak Arga, kita sebaiknya dengarkan dia.”

Aku menatap mereka bergantian.

“Aku CEO perusahaan dengan ribuan karyawan, tapi malam ini semua orang sepertinya tahu apa yang terjadi kecuali aku.”

Nadira mengambil tas lusuh dari bawah meja kios.

“Kalau ingin tetap hidup cukup lama untuk mendapat jawabannya, ikut aku.”

Nada suaranya datar, tetapi cukup membuatku berhenti membantah.

Kami keluar melalui pintu belakang pasar, melewati lorong sempit yang berbau air laut dan ikan segar. Nadira bergerak cepat seolah hafal setiap sudut tempat itu.

Lima menit kemudian kami sudah berada di dalam sebuah rumah sederhana tak jauh dari pesisir.

Nadira mengunci pintu.

Barulah dia mengangguk ke arah amplop di tanganku.

“Sekarang buka.”

Di dalamnya ada beberapa lembar dokumen dan sebuah foto lama.

Aku mengambil foto itu terlebih dahulu.

Jantungku seperti berhenti.

Dalam foto tersebut ada seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di samping seorang perempuan muda berseragam hitam.

Perempuan itu Nadira.

Namun bukan itu yang membuatku terpaku.

Pria di sampingnya adalah ayahku.

Rendra Mahendra.

Pendiri Mahendra Digital yang meninggal tiga tahun lalu dalam kecelakaan mobil.

“Ayahku?”

Nadira menunduk.

“Aku pernah bekerja untuk beliau.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Sebagai pengawal?”

“Lebih dari itu. Aku menangani perlindungan khusus dan investigasi internal.”

Aku membaca dokumen berikutnya.

Beberapa transaksi perusahaan tercatat di sana. Nilainya sangat besar dan semuanya mengarah pada sebuah perusahaan konsultan bernama Garuda Prima Advisory.

Nama itu tidak asing.

Perusahaan tersebut sudah menjadi mitra Mahendra Digital selama hampir lima tahun.

Kemudian aku melihat tanda tangan yang menyetujui transaksi.

Surya Mahendra.

Pamanku sendiri.

Wakil Komisaris Utama perusahaan.

“Tidak mungkin.”

“Justru karena kamu akan berkata begitu, ayahmu tidak pernah memberitahumu,” kata Nadira.

Aku mengangkat kepala.

“Apa maksudmu?”

“Tiga tahun lalu, Pak Rendra menemukan bahwa seseorang di jajaran pimpinan sedang mengalihkan dana perusahaan melalui beberapa perusahaan cangkang. Beliau meminta timku menyelidiki diam-diam.”

“Dan hasilnya?”

“Semua mengarah kepada Surya.”

Aku tertawa pendek karena tidak percaya.

Pamanku adalah orang yang membimbingku setelah ayah meninggal. Orang yang berdiri di sampingku ketika aku pertama kali memimpin rapat direksi.

“Paman Surya membesarkanku seperti anak sendiri.”

Nadira menatapku lama.

“Itulah alasan dia bisa berada sedekat itu denganmu.”

Ruangan mendadak terasa dingin.

Aku membuka dokumen terakhir.

Sebuah laporan kecelakaan.

Mobil ayahku kehilangan kendali di jalan tol menuju Bandung.

Selama tiga tahun aku percaya itu kecelakaan.

Namun di bawah laporan tersebut terdapat hasil pemeriksaan teknis independen.

Sistem pengereman telah dimanipulasi.

Tanganku gemetar.

“Ayahku dibunuh?”

Nadira tidak langsung menjawab.

“Kami tidak pernah mendapatkan bukti yang cukup untuk membawa seseorang ke pengadilan.”

“Kenapa kamu menghilang?”

“Karena dua anggota timku meninggal dalam waktu enam bulan setelah penyelidikan.”

Aku terdiam.

Nadira melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Ayahmu menyuruhku pergi. Beliau bilang kalau sesuatu terjadi kepadanya, aku harus melindungimu dari jauh.”

Aku memandang perempuan di depanku.

“Jadi selama tiga tahun kamu mengawasiku?”

“Ya.”

“Dari kios ikan?”

Untuk pertama kalinya, senyum tipis muncul di wajahnya.

“Kios itu milik bibiku. Tidak ada tempat yang lebih baik untuk menghilang daripada menjadi seseorang yang tidak dianggap penting.”

Tiba-tiba Dimas yang sejak tadi diam berkata, “Pak Arga, ada sesuatu yang harus saya akui.”

Aku menoleh.

Wajahnya pucat.

“Apa?”

“Saya tahu sebagian tentang Nadira.”

Aku langsung berdiri.

“Sejak kapan?”

“Sejak enam bulan lalu.”

Amarahku meledak.

“Kamu bekerja denganku setiap hari dan menyembunyikan ini?”

“Saya diperintahkan ayah Anda sebelum beliau meninggal.”

Ruangan menjadi sunyi.

Dimas mengeluarkan ponsel lama dari sakunya.

“Pak Rendra memberikan ini kepada saya. Saya baru boleh menyerahkannya jika seseorang mencoba mengambil kendali perusahaan secara paksa.”

Dia menyalakan perangkat itu.

Ada satu rekaman suara.

Suara ayahku terdengar.

“Arga, kalau kamu mendengar rekaman ini, berarti aku gagal menyelesaikan semuanya sendiri.”

Dadaku sesak.

Tiga tahun aku tidak mendengar suara itu.

“Ada orang di dalam perusahaan yang menginginkan kendali penuh atas teknologi keamanan data yang kita kembangkan. Teknologi itu jauh lebih berharga daripada perusahaan kita sendiri.”

Aku menatap Dimas.

Ayah melanjutkan.

“Jangan percaya seseorang hanya karena dia keluarga. Percayalah pada bukti.”

Rekaman berhenti.

Pada saat bersamaan ponselku berdering.

Nama yang muncul membuat kami bertiga saling berpandangan.

Paman Surya.

Aku mengangkatnya.

“Arga, kamu di mana?”

“Kenapa?”

“Ada kabar kamu diserang. Paman khawatir.”

Aku menatap Nadira.

Dia menggeleng pelan.

Aku menjawab, “Aku baik-baik saja.”

“Berikan lokasimu. Paman akan mengirim keamanan.”

Aku hampir menjawab ketika Nadira menulis sesuatu di secarik kertas.

Dia tahu kamu bersama kami.

Aku menahan napas.

“Tidak perlu, Paman.”

Surya terdiam beberapa detik.

Kemudian suaranya berubah.

“Arga, dengarkan Paman. Perempuan bernama Nadira itu berbahaya.”

Aku memandang Nadira.

“Bagaimana Paman tahu aku bersama Nadira?”

Sunyi.

Telepon kemudian terputus.

Jawabannya sudah cukup.

Kami bergerak malam itu juga.

Namun Nadira tidak membawaku ke polisi.

Dia membawaku kembali ke kantor pusat Mahendra Digital.

“Ini gila,” kataku saat mobil berhenti di basement.

“Justru mereka tidak akan mengira kamu kembali ke sini.”

Kami menggunakan akses servis menuju lantai server.

Menurut dokumen ayahku, bukti transaksi asli tersimpan dalam server lama yang sudah dianggap tidak aktif.

Ketika kami sampai, pintu ruang server terbuka.

Lampu menyala.

Paman Surya berdiri di dalam.

Di belakangnya ada dua pria yang kukenal sebagai staf keamanan perusahaan.

“Arga.”

Nada suaranya terdengar kecewa.

“Seharusnya kamu pulang.”

Aku menggenggam amplop ayah.

“Paman menyuruh orang mengejarku?”

“Aku menyuruh mereka mengambil dokumen yang dibawa Dimas. Tidak ada yang seharusnya terluka.”

Nadira tertawa kecil.

“Tiga tahun berlalu dan kebohonganmu masih sama buruknya.”

Surya menatapnya tajam.

“Kamu seharusnya tetap menjual ikan.”

“Dan Anda seharusnya belajar bahwa orang yang dianggap kecil sering melihat lebih banyak daripada orang yang duduk di ruang rapat.”

Surya memerintahkan dua pria itu maju.

Namun Nadira sama sekali tidak bergerak.

Dia hanya mengangkat ponselnya.

“Percakapan kita sedang direkam.”

Surya tersenyum.

“Rekaman tidak membuktikan apa pun.”

“Benar.”

Nadira menunjuk kamera keamanan di sudut ruangan.

“Tapi pengakuan Anda tentang dokumen yang Anda cari cukup menarik bagi penyidik.”

Wajah Surya berubah.

Ternyata sebelum masuk, Dimas telah mengirim seluruh dokumen kepada tim hukum independen dan pihak berwenang.

Kami tidak datang untuk mencari bukti.

Kami datang untuk membuat Surya menunjukkan bahwa dia tahu bukti itu ada.

Beberapa menit kemudian petugas memasuki gedung.

Surya tidak melawan.

Sebelum dibawa pergi, dia berhenti di depanku.

“Ayahmu memilih perusahaan daripada keluarga.”

Aku menatapnya.

“Tidak. Paman yang memilih keserakahan daripada keluarga.”

Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.

Transaksi mencurigakan berhasil ditelusuri. Sejumlah eksekutif diberhentikan dan kasus kematian ayahku dibuka kembali.

Namun satu hal terus menggangguku.

Pertanyaan yang belum dijawab Nadira.

Kami pernah bertemu di mana?

Suatu sore aku kembali ke kios ikan.

Nadira sedang membersihkan meja ketika aku datang.

“Kamu masih punya satu rahasia.”

Dia tersenyum.

“Aku tahu kamu akan menanyakannya.”

“Kapan kita pernah bertemu?”

Nadira mengambil sebuah kotak kecil.

Di dalamnya ada foto lain.

Aku mengenali tempat itu.

Rumah sakit.

Lima tahun lalu aku pernah mengalami kecelakaan saat pulang dari Bandung. Mobilku terguling dan aku kehilangan banyak darah.

Ingatan tentang malam itu samar.

“Aku yang menemukan mobilmu,” kata Nadira.

Aku menatapnya.

“Kamu?”

“Aku sedang menjalankan tugas. Aku menarikmu keluar sebelum mobil terbakar.”

Potongan ingatan tiba-tiba kembali.

Suara seorang perempuan.

Tangannya menggenggam tanganku.

Aku ingat pernah bertanya namanya.

Namun sebelum dia menjawab, aku kehilangan kesadaran.

“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”

Nadira menatap laut di kejauhan.

“Karena beberapa orang masuk ke hidup kita bukan untuk mendapatkan ucapan terima kasih.”

Aku tertawa kecil.

“Jadi pertama kamu menyelamatkanku dari mobil. Kemudian menyelamatkanku dari orang-orang Surya.”

“Jangan terlalu percaya diri. Aku cuma kebetulan lewat.”

“Kebetulan dua kali?”

Dia akhirnya tertawa.

Sejak hari itu aku mulai sering datang ke pasar.

Awalnya untuk berbicara tentang penyelidikan.

Kemudian tanpa alasan.

Kadang aku membantu mengangkat kotak ikan meski Nadira selalu mengeluh caraku bekerja terlalu lambat.

Kadang kami makan nasi goreng di pinggir jalan setelah kios tutup.

Di dekatnya, aku tidak perlu menjadi CEO.

Aku hanya Arga.

Setahun kemudian, aku melamarnya di tempat pertama kami bertemu kembali.

Di depan kios ikan.

Nadira memandang cincin di tanganku lalu berkata, “Kamu sadar tempat ini bau ikan?”

“Aku sudah memikirkan restoran mahal.”

“Lalu?”

“Aku takut kamu mengira aku orang normal.”

Dia tertawa sambil menghapus air mata.

“Dasar CEO aneh.”

“Jadi jawabannya?”

Nadira mengulurkan tangannya.

“Iya.”

Namun kejutan terbesar datang beberapa hari sebelum pernikahan kami.

Dimas menyerahkan sebuah surat terakhir dari ayah.

Surat itu ditulis tiga tahun lalu.

Di bagian akhir terdapat satu kalimat yang membuatku lama terdiam.

Jika suatu hari Arga mengetahui semuanya dan Nadira masih berada di sisinya, katakan kepadanya bahwa aku tidak pernah memintamu menjaga anakku selamanya. Setelah kebenaran terungkap, hiduplah untuk dirimu sendiri.

Aku menyerahkan surat itu kepada Nadira.

Matanya berkaca-kaca.

“Jadi ayahmu sudah tahu aku akan pergi setelah semuanya selesai.”

Aku menggenggam tangannya.

“Tapi dia tidak tahu satu hal.”

“Apa?”

“Bahwa aku tidak akan membiarkanmu pergi.”

Nadira tersenyum.

Bertahun-tahun kemudian aku baru memahami bahwa malam ketika aku berlari memasuki pasar ikan bukanlah malam ketika aku bertemu calon istriku.

Aku sebenarnya sedang kembali kepada perempuan yang pernah menyelamatkan hidupku, menjaga keluargaku dari jauh, dan mempertaruhkan keselamatannya demi janji kepada seorang ayah yang sudah tiada.

Aku dulu berpikir orang paling berkuasa adalah mereka yang duduk di kursi tertinggi, memiliki perusahaan terbesar, atau dikelilingi pengawal.

Nadira mengajariku sesuatu yang berbeda.

Kekuatan terbesar sering bersembunyi di tempat yang tidak pernah kita perhatikan.

Kadang di balik pakaian sederhana.

Kadang di balik sebuah kios kecil di pasar.

Dan kadang, orang yang kita kira sedang kita datangi untuk meminta pertolongan ternyata adalah orang yang selama bertahun-tahun diam-diam memastikan kita masih memiliki kesempatan untuk pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang