AKU PULANG LEBIH AWAL DAN MEMERGOKI SUAMIKU BERSAMA WANITA LAIN, PAGINYA KELUARGANYA MENUNGGU DI RUANG TAMU

Aku pulang lebih awal malam itu, dan dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh pernikahanku berubah menjadi sesuatu yang bahkan tidak lagi ingin kuselamatkan.

“Kamu… kok sudah pulang?”

Itulah kalimat pertama Dimas ketika melihatku duduk di ruang tamu bersama ibu dan kakaknya.

Bukan “Maaf.”

Bukan “Aku bisa menjelaskan.”

Bahkan bukan “Kamu salah paham.”

Aku menatapnya beberapa detik, lalu menunjuk kursi kosong di depanku.

“Duduk.”

Dimas tidak bergerak.

Rina menatap adiknya dengan wajah pucat. Ibu mertuaku menundukkan kepala. Tidak ada seorang pun yang berani memecah keheningan.

Akhirnya Dimas berjalan perlahan menuju sofa.

“Aku bisa jelaskan,” katanya.

“Aku tahu.”

Dia mengangkat wajah.

Aku mendorong dua lembar surat perceraian ke arahnya.

“Jelaskan setelah tanda tangan.”

Tangannya berhenti beberapa sentimeter dari kertas.

“Ini serius?”

Aku hampir tertawa.

“Menurutmu aku mencetaknya jam dua pagi untuk bercanda?”

Dimas menelan ludah.

“Siapa yang kasih kamu ide ini?”

“Tidak ada yang memberi aku ide.”

Aku menatap lurus ke matanya.

“Aku hanya pulang lebih awal.”

Rina mengambil napas panjang.

“Dimas, perempuan itu siapa?”

Dimas diam.

“Jawab!” suara ibunya tiba-tiba meninggi.

Dimas menoleh kepada ibunya.

“Bu, jangan sekarang.”

“Justru sekarang!” Ibu mertuaku berdiri. “Kamu bawa perempuan ke rumahmu sendiri ketika istrimu sedang dinas?”

Dimas mengusap wajah.

“Aku salah.”

Aku menyela.

“Belum selesai.”

Aku mengambil ponsel, membuka rekaman video, lalu meletakkannya di atas meja.

“Lihat sampai selesai.”

Dimas menatap layar.

Wajahnya berubah ketika rekaman menampilkan kamar kami, pakaian yang berserakan, dan perempuan yang tidur di sampingnya.

Namun ketika wajah perempuan itu terlihat jelas, justru Rina yang mendadak berdiri.

“Sebentar.”

Aku menghentikan video.

Rina menatap layar ponselku dengan mata membesar.

“Itu Maya.”

Aku mengangguk.

“Kakak kenal?”

Rina tidak langsung menjawab.

Ibu mertua memandangnya.

“Rina?”

“Maya itu… teman Dimas sejak kuliah.”

Aku menatap Dimas.

“Teman?”

Dimas menunduk.

Rina menggeleng pelan.

“Bukan cuma teman.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Dimas memejamkan mata.

Aku menyandarkan tubuh ke sofa.

“Berapa lama?”

Tidak ada jawaban.

“Berapa lama, Dimas?”

“Enam bulan.”

Ibu mertua langsung terduduk.

Rina menutup mulut dengan tangan.

Aku hanya mengangguk pelan.

Enam bulan.

Selama enam bulan aku percaya alasan lembur, perjalanan kerja mendadak, rapat malam, dan telepon yang selalu dibawa ke balkon adalah bagian dari kehidupan seorang suami yang sibuk.

Ternyata semua itu hanya cerita.

“Kenapa?”

Pertanyaan itu keluar dari mulutku tanpa emosi.

Dimas mengangkat kepala.

“Aku tidak tahu.”

Aku tersenyum kecil.

“Setidaknya kali ini jujur.”

Dia mendekat.

“Aku memang salah. Tapi aku tidak pernah berniat meninggalkan kamu dan Nara.”

“Jadi kamu ingin mempertahankan kami sambil mempertahankan dia?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Dimas terdiam.

Aku membuka laci meja dan mengeluarkan satu map cokelat.

“Ini bukan cuma surat perceraian.”

Aku meletakkan map itu di meja.

“Ini salinan rekening bersama, dokumen rumah, polis asuransi, dan catatan pembayaran cicilan selama lima tahun.”

Dimas menatapku.

“Kamu sudah menyiapkan semuanya?”

“Aku mulai mempersiapkannya sejak pukul satu pagi.”

“Kenapa?”

“Karena selama ini aku yang selalu memikirkan masa depan keluarga kita. Ternyata aku harus mulai memikirkan masa depanku sendiri.”

Ibu mertua menangis pelan.

“Nak, jangan terburu-buru. Kalian masih punya anak.”

Aku menatap beliau.

“Justru karena ada Nara, aku tidak mau mengajarinya bahwa seorang perempuan harus bertahan dalam pernikahan yang sudah kehilangan kejujuran.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kecil dari tangga.

“Nak?”

Semua orang menoleh.

Nara berdiri di anak tangga terakhir sambil memeluk boneka kelincinya.

Matanya masih mengantuk.

“Mama kenapa?”

Aku langsung berdiri.

“Tidak apa-apa, Sayang. Mama hanya sedang bicara dengan Ayah.”

Nara menatap Dimas.

“Ayah mau pergi?”

Dimas membeku.

Dia membuka kedua tangannya.

“Nara… sini.”

Anakku berjalan mendekat, lalu memeluk ayahnya.

Aku melihat mereka tanpa berkata apa-apa.

Untuk pertama kalinya malam itu, dadaku terasa sesak.

Bukan karena Dimas.

Karena Nara.

Aku tidak ingin hidupnya berubah karena kesalahan orang dewasa.

Aku mengambil napas panjang.

“Nara, naik lagi ke kamar. Mama menyusul sebentar lagi.”

“Janji?”

“Janji.”

Setelah Nara pergi, Dimas mengusap wajahnya.

“Aku akan putus dengan Maya.”

Aku menatapnya.

“Bukan itu masalahnya.”

“Aku akan melakukan apa pun.”

“Masalahnya adalah kamu sudah menghancurkan kepercayaan yang kubangun selama lima tahun.”

“Aku bisa memperbaikinya.”

“Tidak semua yang rusak harus diperbaiki.”

Dimas terdiam.

Aku mengambil pena dan meletakkannya di atas surat perceraian.

“Tanda tangan.”

Dia memegang pena itu.

Tangannya gemetar.

Namun sebelum ujung pena menyentuh kertas, ponsel Dimas yang berada di meja tiba-tiba bergetar.

Satu pesan masuk.

Nama pengirimnya terlihat jelas.

Maya.

Dimas buru-buru hendak mengambil ponselnya.

Aku lebih cepat.

Aku membuka pesan itu.

Hanya satu kalimat.

“Kamu sudah bilang padanya?”

Aku menatap Dimas.

“Bilang apa?”

Wajahnya langsung pucat.

Rina berdiri.

“Apa maksudnya?”

Aku membuka percakapan sebelumnya.

Pesan-pesan mereka muncul satu demi satu.

Aku membacanya tanpa suara.

Lalu aku berhenti pada sebuah pesan yang dikirim Maya tiga hari sebelumnya.

“Kalau kamu terus menunda, aku sendiri yang akan memberi tahu istrimu tentang bayi ini.”

Tanganku berhenti.

Ruangan seolah kehilangan udara.

Aku mengangkat wajah.

“Bayi?”

Dimas menutup matanya.

Ibu mertuaku memegang dada.

Rina menatap adiknya dengan wajah tidak percaya.

“Dimas… Maya hamil?”

Dimas tidak menjawab.

Aku berdiri perlahan.

“Berapa bulan?”

“Dua.”

Suara Dimas nyaris tidak terdengar.

Aku mengangguk.

Tiba-tiba semua potongan kejadian selama enam bulan terakhir terasa masuk akal.

Aku tidak menangis.

Aneh sekali.

Aku justru merasa sangat tenang.

Aku mengambil surat perceraian itu kembali.

“Baik.”

Dimas menatapku.

“Apa?”

“Aku akan mengubah beberapa bagian.”

Dia tampak bingung.

“Kamu tidak jadi bercerai?”

Aku menggeleng.

“Justru sebaliknya.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali sebagai suamiku.

“Aku tidak akan membiarkan kamu menganggap ini hanya perceraian karena perselingkuhan.”

Aku menunjuk map cokelat di meja.

“Kita akan menyelesaikan semuanya secara resmi. Rumah, tabungan, kendaraan, biaya Nara, dan seluruh tanggung jawab yang memang menjadi bagianmu.”

Dimas terdiam.

“Aku tidak akan mengambil apa yang bukan hakku,” lanjutku. “Tapi aku juga tidak akan meninggalkan apa yang menjadi hakku.”

Rina mengangguk pelan.

“Dia benar.”

Ibu mertua mengusap air matanya.

“Maafkan Ibu.”

Aku menatap beliau.

“Ibu tidak perlu meminta maaf atas perbuatan Dimas.”

Aku berhenti sebentar.

“Tapi mulai hari ini, jangan minta aku kembali hanya demi menjaga nama baik keluarga.”

Ibu mertua menangis lebih keras.

Dimas masih berdiri di tempatnya.

“Aku mencintaimu.”

Aku menatapnya.

“Dulu aku juga.”

Kalimat itu membuatnya terdiam.

“Dan mungkin bagian paling menyakitkan dari semua ini bukan karena kamu mencintai orang lain.”

Aku menarik napas.

“Melainkan karena selama aku berusaha mempertahankan rumah ini, kamu diam-diam sudah membangun rumah lain.”

Aku mengambil surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam map.

“Sekarang kita berhenti berpura-pura.”

Beberapa minggu kemudian, proses perceraian mulai berjalan.

Dimas pindah sementara ke apartemen miliknya.

Maya tidak pernah datang ke rumah.

Aku tidak pernah mencari tahu apa yang terjadi di antara mereka setelah itu.

Aku hanya fokus pada Nara, pekerjaan, dan hidup yang selama ini tanpa sadar kutunda demi pernikahan.

Suatu malam, ketika sedang membereskan lemari, aku menemukan sebuah kotak kecil berisi foto-foto lama.

Ada foto pernikahan kami.

Foto saat Nara lahir.

Foto liburan pertama kami.

Aku melihat semuanya satu per satu.

Tidak ada satu pun foto yang perlu kuhapus.

Karena kenangan baik tetap pernah menjadi bagian dari hidupku, meskipun akhirnya tidak menjadi masa depanku.

Aku memasukkan foto-foto itu kembali ke dalam kotak.

Lalu aku membuka jendela.

Udara malam masuk perlahan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu terasa benar-benar sunyi.

Tetapi bukan sunyi yang menakutkan.

Sunyi yang memberi ruang untuk bernapas.

Beberapa bulan kemudian, aku menerima sebuah amplop dari pengacara.

Semua urusan pembagian aset telah selesai.

Di halaman terakhir ada satu catatan yang membuatku berhenti cukup lama.

Dimas menyerahkan hak kepemilikannya atas rumah itu kepada Nara.

Aku membaca kalimat tersebut dua kali.

Kemudian aku menutup dokumen.

Aku tidak tahu apakah itu bentuk penyesalan, tanggung jawab, atau sekadar usaha terakhirnya untuk menebus kesalahan.

Aku juga tidak perlu mengetahuinya.

Karena pada akhirnya, aku tidak menang ketika Dimas kehilangan aku.

Aku hanya menang ketika akhirnya berhasil menemukan kembali diriku sendiri.

Malam itu, Nara datang membawa boneka kelincinya.

“Mama.”

“Ya?”

“Besok kita sarapan bersama?”

Aku tersenyum.

“Tentu.”

“Cuma kita berdua?”

Aku memeluknya.

“Cuma kita berdua.”

Di luar jendela, lampu-lampu Jakarta Selatan masih menyala seperti biasa.

Kota itu tidak tahu bahwa hidupku baru saja berubah.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak membutuhkan siapa pun untuk tahu.

Aku hanya perlu tahu satu hal.

Aku sudah pulang.

Bukan sekadar pulang ke rumah.

Tapi pulang kepada diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang