Sejak pagi itu, aku tidak pernah lagi percaya bahwa kematian selalu datang setelah seseorang mengucapkan selamat tinggal.
Kadang-kadang, orang yang sudah mati justru datang untuk memastikan kita pulang dengan selamat.
Tanganku gemetar ketika menggenggam gantungan doa pemberian Pak Darto. Benda kecil itu terasa dingin meski sejak semalam berada di dalam saku jaketku.
“Pak Darto meninggal jam berapa?” tanyaku.
Tetangga yang membawa kabar itu, Pak Ujang, mengusap wajahnya.
“Belum tahu pasti. Mayatnya ditemukan sekitar setengah enam pagi. Angkotnya ada dekat kebun bambu.”
“Angkot hijau?”
“Iya.”
Rani yang berdiri di sampingku langsung mencengkeram lenganku.
“Tidak mungkin.”
Ayah Rani segera mengambil jaket. Beberapa lelaki kampung sudah berkumpul di depan rumah. Mereka hendak menuju lokasi penemuan mayat.
Aku dan Rani ingin ikut, tetapi ibu Rani melarang keras.
“Tidak. Kalian di rumah.”
“Tapi, Bu…”

“Semalam kalian sudah mengalami kejadian aneh. Jangan cari masalah lagi.”
Kami akhirnya hanya bisa menunggu.
Satu jam kemudian, ayah Rani pulang dengan wajah yang jauh lebih pucat dibanding ketika berangkat.
Beliau tidak langsung berbicara.
Ia duduk di ruang tamu, meminta segelas air, lalu meminumnya sampai habis.
“Ayah lihat Pak Darto?” tanya Rani.
Ayahnya mengangguk.
“Benar beliau?”
“Iya.”
“Terus angkotnya?”
Pertanyaan itu membuat ayah Rani menatap kami lama.
“Angkotnya rusak.”
Aku merasa jantungku berhenti sesaat.
“Rusak bagaimana?”
“Bagian depannya hancur karena menabrak pohon.”
Rani langsung berdiri.
“Tidak mungkin! Semalam angkot itu baik-baik saja!”
Ayahnya mengangkat tangan.
“Dengarkan dulu.”
Menurut warga yang menemukan lokasi, angkot Pak Darto keluar dari jalan sekitar pukul delapan malam. Bekas bannya masih terlihat di tanah basah. Kendaraan itu kemudian menabrak pohon besar di pinggir kebun bambu.
Jam di dashboard berhenti pada pukul delapan lewat tujuh belas menit.
Polisi memperkirakan kecelakaan terjadi tidak lama setelah itu.
Aku memandang jam dinding.
Semalam Pak Darto menjemput kami hampir pukul sembilan.
“Berarti…”
Suara Rani terdengar kecil.
“Ketika dia menjemput kita…”
Tidak seorang pun melanjutkan kalimat itu.
Ruangan mendadak terasa sangat dingin.
Ayah Rani kemudian mengatakan sesuatu yang membuat keadaan semakin aneh.
Di dalam angkot ditemukan dompet, ponsel, dan barang-barang milik Pak Darto.
Tetapi ada satu benda yang tidak ditemukan.
Gantungan doa yang biasanya tergantung di kaca spion.
Semua mata langsung mengarah kepadaku.
Perlahan aku membuka telapak tangan.
Benda itu ada di sana.
Ibu Rani membaca istigfar.
Aku tidak tahu harus berpikir apa.
Kalau Pak Darto memang sudah meninggal sebelum pukul sembilan, siapa yang menjemput kami?
Siapa yang menarik tangan Rani ketika dia hendak turun?
Dan siapa yang memberikan benda ini kepadaku?
Siang harinya polisi datang meminta keterangan.
Aku dan Rani menceritakan perjalanan semalam, tetapi kami menghilangkan bagian tentang perempuan berkaki terbalik. Kami hanya mengatakan Pak Darto mengantar kami pulang.
Petugas bernama Bripka Arif memandang kami dengan ekspresi aneh.
“Kalian yakin kendaraan yang kalian naiki angkot Pak Darto?”
Rani mengangguk.
“Yakin, Pak.”
“Warna hijau?”
“Iya.”
“Nomor kendaraannya ingat?”
Kami tidak ingat.
Bripka Arif menghela napas.
“Masalahnya, menurut pemeriksaan sementara, Pak Darto kemungkinan meninggal tidak lama setelah kecelakaan. Sulit membayangkan dia masih bisa mengemudi setelah itu.”
Aku ingin menunjukkan gantungan doa, tetapi entah kenapa aku mengurungkan niat.
Setelah polisi pergi, Rani menarikku ke kamar.
“Kita harus pulang ke Bandung.”
Aku menatapnya.
“Hari ini?”
“Sekarang.”
“Kenapa?”
Rani mengeluarkan ponselnya.
Ada sebuah foto di layar.
Foto itu diambil semalam di warung.
Kami berdua berdiri sambil memegang kantong gorengan. Di belakang kami terlihat jalan raya dan beberapa kendaraan.
“Apa yang aneh?”
“Zoom bagian sana.”
Rani memperbesar gambar.
Di kejauhan, di bawah lampu jalan, terlihat seorang perempuan berdiri sendirian.
Rambutnya panjang.
Bajunya pucat.
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Ini perempuan semalam?”
“Aku tidak tahu.”
Rani memperbesar bagian kakinya.
Gambar terlalu buram untuk melihat dengan jelas.
Namun ada sesuatu yang lebih mengganggu.
Perempuan itu menghadap kamera.
Seolah sejak awal dia sedang memperhatikan kami.
Aku menutup ponsel.
“Kita pulang.”
Sore itu ayah Rani mengantar kami menuju terminal kecil untuk mendapatkan kendaraan ke Bandung. Kami sengaja berangkat sebelum matahari terbenam.
Aku merasa sedikit lega ketika akhirnya duduk di dalam minibus yang cukup ramai.
Ada mahasiswa, pedagang, seorang ibu membawa tas belanja, dan dua pekerja yang tampaknya baru pulang.
Tidak ada jalan gelap.
Tidak ada angkot tua.
Tidak ada Pak Darto.
Aku bahkan mulai berpikir semua kejadian semalam mungkin memiliki penjelasan yang belum kami pahami.
Sampai kendaraan memasuki jalan pegunungan.
Hujan turun.
Awalnya gerimis, lalu semakin deras.
Kabut turun begitu cepat hingga sopir harus memperlambat kendaraan.
Sekitar pukul enam sore, lalu lintas berhenti.
Ada pohon tumbang di depan.
Sopir mengatakan kami harus mengambil jalan alternatif melewati beberapa desa.
Rani langsung menatapku.
“Jangan bilang…”
Aku tahu apa yang dia pikirkan.
Jalan alternatif itu ternyata melewati kawasan perkebunan dan kebun bambu.
Aku meremas gantungan doa di dalam saku.
“Banyak orang di kendaraan ini,” bisikku. “Kita tidak sendirian.”
Minibus terus bergerak.
Semakin jauh, rumah-rumah semakin jarang.
Hujan membuat jendela berkabut.
Aku mencoba tidur.
Kemudian kendaraan mengerem mendadak.
Beberapa penumpang berteriak.
“Ada apa?” seseorang bertanya.
Sopir menunjuk ke depan.
Seorang perempuan berdiri di tengah jalan.
Tubuhku langsung kaku.
Rambut panjang.
Baju pucat.
Kepalanya sedikit tertunduk.
“Pak, jangan berhenti!” teriakku.
Sopir menoleh kesal.
“Mbak, ada orang.”
“Jangan turun!”
Rani ikut berteriak.
Beberapa penumpang memandang kami seperti orang gila.
Perempuan itu mengangkat tangan.
Meminta kendaraan berhenti.
Sopir membuka pintu.
Aku langsung berdiri.
“PAK, JANGAN!”
Terlambat.
Seorang penumpang lelaki turun lebih dulu.
“Mungkin dia butuh bantuan.”
Begitu kakinya menyentuh jalan, perempuan itu mengangkat kepala.
Aku melihat wajahnya.
Sama.
Senyum yang terlalu lebar.
“Masuk!” jeritku.
Lelaki tadi berhenti.
Perempuan itu melangkah mendekat.
Lalu aku melihat kakinya.
Terbalik.
Aku mengeluarkan gantungan doa dan tanpa sadar menggenggamnya erat.
Perempuan itu tiba-tiba berhenti.
Senyumnya menghilang.
Matanya beralih kepadaku.
Untuk pertama kalinya aku mendengar suaranya.
“Berikan.”
Suaranya terdengar seperti bisikan dari dasar sumur.
“Apa?”
“Yang dia berikan kepadamu.”
Aku membeku.
Gantungan doa.
Dia menginginkan benda milik Pak Darto.
Rani menarik penumpang lelaki tadi masuk. Sopir segera menutup pintu dan menginjak gas.
Perempuan itu tidak mengejar.
Dia hanya berdiri di tengah hujan.
Namun beberapa detik kemudian terdengar benturan keras dari atap.
BRAK!
Semua orang menjerit.
Sesuatu merayap di atas kendaraan.
Suara kuku menggores logam.
Krek.
Krek.
Krek.
Aku menggenggam gantungan itu sambil membaca doa yang kuingat.
Suara di atas kendaraan berhenti.
Lalu terdengar bisikan tepat dari jendela di sampingku.
“Dia bukan menyelamatkan kalian.”
Aku tidak berani melihat.
“Dia sedang membayar utangnya.”
Setelah itu suara menghilang.
Kami baru berhenti ketika mencapai jalan besar.
Tidak ada seorang pun berani membicarakan apa yang baru terjadi.
Ketika sampai Bandung malam itu, aku demam.
Selama tiga hari aku hampir tidak keluar kamar.
Tetapi kalimat perempuan itu terus terngiang.
Pak Darto sedang membayar utangnya.
Utang apa?
Aku akhirnya menelepon Rani.
“Aku ingin tahu tentang Pak Darto.”
Rani terdiam cukup lama.
“Kamu yakin?”
“Kalau kita tidak tahu, aku merasa ini belum selesai.”
Rani kemudian bertanya kepada ayahnya.
Jawabannya datang malam berikutnya.
Ternyata dua puluh tiga tahun lalu, Pak Darto pernah mengalami kecelakaan di jalan yang sama.
Saat itu dia masih sopir muda.
Malam hujan.
Seorang perempuan berdiri di jalan meminta pertolongan.
Pak Darto tidak berhenti.
Bukan karena takut makhluk halus.
Dia takut dirampok.
Keesokan paginya, warga menemukan perempuan itu meninggal di dekat kebun bambu.
Perempuan sungguhan.
Bukan makhluk gaib.
Dia sedang hamil dan berusaha mencari kendaraan karena mengalami komplikasi.
Sejak kejadian itu, Pak Darto berubah.
Dia selalu menolong orang yang membutuhkan kendaraan pada malam hari.
Namun beberapa tahun kemudian mulai muncul cerita tentang perempuan yang berdiri di jalan yang sama.
Ada yang mengatakan rohnya marah.
Ada pula yang mengatakan sosok itu bukan perempuan yang meninggal, melainkan sesuatu yang menggunakan wajahnya.
Aku kembali memandang gantungan doa di tanganku.
Mungkin selama puluhan tahun Pak Darto hidup dengan rasa bersalah.
Mungkin malam terakhirnya, dia melihat perempuan itu lagi.
Dan mungkin ketika dia meninggal, ada satu hal yang belum selesai.
Mengantar dua perempuan muda pulang.
Aku hampir merasa lega.
Sampai Rani mengirim satu pesan lagi.
Alya, ada sesuatu yang Ayah baru ingat.
Aku meneleponnya.
“Apa?”
Suara Rani terdengar gemetar.
“Pak Darto punya anak perempuan.”
“Terus?”
“Namanya Sari.”
Aku menunggu.
Rani menarik napas.
“Sari hilang tujuh tahun lalu.”
“Di mana?”
“Di jalan kebun bambu.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Malam berikutnya aku bermimpi.
Aku berdiri sendirian di jalan gelap.
Pak Darto ada beberapa meter di depanku.
Wajahnya terlihat lebih muda.
Dia menunjuk gantungan doa di tanganku.
“Jangan simpan terlalu lama.”
Aku terbangun pukul tiga lewat tujuh belas menit.
Gantungan itu tergeletak di atas meja.
Padahal sebelum tidur aku memasukkannya ke dalam laci.
Keesokan harinya aku kembali ke Garut bersama Rani dan ayahnya.
Kami mendatangi rumah Pak Darto.
Istrinya, Bu Ningsih, menerima kami.
Ketika melihat gantungan doa itu, perempuan tua tersebut langsung menangis.
“Itu punya Sari.”
Aku terdiam.
“Bukan punya Pak Darto?”
Bu Ningsih menggeleng.
“Itu hadiah ayahnya untuk Sari. Sejak Sari hilang, Bapak selalu menggantungnya di angkot.”
Aku menceritakan semuanya.
Tentang perempuan di jalan.
Tentang bisikan yang meminta gantungan itu.
Bu Ningsih menangis semakin keras.
Kemudian dia mengambil sebuah foto.
Seorang perempuan muda tersenyum di depan kamera.
Rambut panjang.
Wajah lembut.
Aku hampir menjatuhkan foto itu.
“Itu…”
Rani ikut melihat.
Wajah kami sama-sama pucat.
Perempuan dalam foto adalah perempuan yang kami tabrak malam itu.
“Sari,” kata Bu Ningsih.
“Tapi…”
Aku tidak mampu melanjutkan.
Bu Ningsih mengusap foto putrinya.
“Sari tidak pernah ditemukan.”
Sore itu kami pergi ke kebun bambu bersama beberapa warga.
Di tempat angkot Pak Darto menabrak pohon, aku meletakkan gantungan doa di bawah batang pohon besar.
“Kalau ini milikmu,” bisikku, “aku kembalikan.”
Angin bertiup pelan.
Bambu-bambu bergesekan.
Untuk sesaat aku mendengar suara seorang perempuan menangis.
Lalu sunyi.
Sejak hari itu, tidak ada lagi laporan tentang perempuan berkaki terbalik di jalan tersebut.
Setidaknya selama beberapa bulan.
Aku kembali menjalani hidup di Bandung.
Sampai suatu malam, hampir setahun kemudian, aku menerima pesan dari nomor Rani.
Sebuah foto.
Jalan gelap.
Kebun bambu.
Di bawah pohon tempat kami meninggalkan gantungan doa, berdiri seseorang.
Seorang lelaki tua.
Pak Darto.
Aku langsung menelepon Rani.
Tidak tersambung.
Kemudian pesan kedua masuk.
Bukan foto.
Hanya satu kalimat.
Alya, jangan percaya perempuan yang mengaku sebagai Sari.
Tanganku mulai gemetar.
Pesan ketiga muncul.
Sari tidak pernah punya kaki terbalik.
Aku menatap layar tanpa bernapas.
Lalu terdengar ketukan di pintu apartemenku.
Tiga kali.
Tok.
Tok.
Tok.
Ponselku berbunyi lagi.
Kali ini pesan dari Rani yang asli.
Alya, HP-ku hilang dari tadi sore. Kalau ada yang menghubungimu pakai nomorku, jangan dibalas.
Ketukan terdengar lagi.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku mundur perlahan.
Dari balik pintu terdengar suara perempuan.
Lembut.
Hampir seperti sedang tersenyum.
“Alya…”
Aku tidak menjawab.
“Aku cuma mau mengambil barang milikku.”
Aku menahan napas.
Kemudian mataku turun ke celah sempit di bawah pintu.
Di sana terlihat bayangan dua kaki.
Diam.
Menghadap ke arah pintu.
Namun ujung kedua telapak kakinya mengarah ke lorong.
Saat itulah aku akhirnya memahami peringatan Pak Darto.
Makhluk itu tidak pernah membutuhkan kita untuk membuka pintu.
Ia hanya membutuhkan kita percaya bahwa seseorang di luar sana sedang meminta pertolongan.
Dan sampai hari ini, setiap kali ada orang mengetuk pintuku setelah tengah malam, aku tidak pernah bertanya siapa.
Aku selalu melihat kakinya terlebih dahulu.
