PUKUL 01.43 DINI HARI, AKU MENELEPON 112 KARENA BAPAK DAN IBU TAK BISA DIBANGUNKAN. LALU POLISI MENEMUKAN BENDA MISTERIUS YANG MEMBUAT RUMAH KAMI DISEGEL. SAAT RAHASIA KELUARGA TERBONGKAR, SEMUANYA BERUBAH!

Tiga hari setelah malam pukul 01.43 itu, aku mengetahui bahwa hal paling menakutkan bukanlah melihat rumah sendiri dipasangi garis polisi.

Hal paling menakutkan adalah menyadari bahwa seseorang yang ingin membunuh orang tuamu mungkin masih berada di dekatmu.

Aku duduk di lorong Rumah Sakit Sardjito sambil memeluk boneka kelinciku. Sejak malam kejadian, aku tinggal sementara bersama Tante Mira, adik Ibu yang datang dari Solo setelah menerima telepon polisi.

Bapak masih belum sadar.

Ibu sempat membuka mata selama beberapa menit, tetapi kondisinya terlalu lemah untuk berbicara.

Setiap kali pintu ruang perawatan terbuka, aku selalu berdiri.

“Boleh aku lihat Ibu?”

Tante Mira menggenggam tanganku.

“Nanti kalau dokter sudah mengizinkan.”

Aku menunduk.

Sejak kecil, Tante Mira adalah orang yang paling kusukai setelah Bapak dan Ibu. Ia selalu membawakanku buku gambar, mengajakku makan es krim, dan tidak pernah marah ketika aku menumpahkan minuman.

Namun sejak datang ke Yogyakarta, ia berubah.

Ia sering melamun.

Beberapa kali aku melihatnya menangis diam-diam di toilet rumah sakit.

Aku mengira ia hanya khawatir pada Ibu.

Sampai sore itu Bripka Arif datang bersama seorang pria berpakaian sipil bernama Iptu Dimas.

“Alya, kami mau bertanya sedikit lagi.”

Aku mengangguk.

Iptu Dimas meletakkan beberapa foto di meja.

“Ada yang kamu kenal?”

Ada foto Om Bayu, tetangga kami, dua karyawan Bapak, dan seorang wanita berambut panjang.

Tanganku berhenti pada foto terakhir.

“Ini perempuan yang ada di foto Bapak.”

Iptu Dimas dan Bripka Arif saling pandang.

“Kamu pernah melihatnya langsung?”

Aku menggeleng.

“Namanya Rina Kurniawati,” kata Iptu Dimas. “Dia pernah bekerja bersama Bapakmu.”

Tante Mira yang duduk di sebelahku tiba-tiba menjatuhkan botol air mineral.

Aku menoleh.

Wajahnya pucat.

“Tante kenal?”

“Tidak,” jawabnya terlalu cepat.

Iptu Dimas menatapnya beberapa detik, tetapi tidak berkata apa-apa.

Malamnya aku terbangun karena mendengar suara orang berbicara di ujung lorong.

Aku turun dari sofa ruang tunggu dan berjalan perlahan.

Tante Mira sedang menelepon seseorang.

“Aku sudah bilang jangan hubungi nomor ini lagi.”

Ia diam mendengarkan.

“Tidak. Polisi belum tahu semuanya.”

Dadaku berdebar.

Aku maju satu langkah.

Lantai berbunyi pelan.

Tante Mira langsung menoleh.

Teleponnya segera dimatikan.

“Alya?”

Aku berdiri kaku.

“Tante bicara sama siapa?”

“Teman.”

“Kenapa polisi tidak boleh tahu?”

Wajah Tante Mira berubah.

Ia mendekat dan berjongkok di depanku.

“Alya, orang dewasa punya banyak urusan yang sulit dimengerti anak kecil.”

“Tapi Om polisi bilang kalau ada yang aneh, aku harus cerita.”

Untuk pertama kalinya aku melihat kemarahan di matanya.

“Alya, jangan ikut campur urusan orang dewasa!”

Aku terkejut.

Tante Mira seperti menyadari kesalahannya. Ia segera memelukku.

“Maaf. Tante capek.”

Tetapi malam itu aku tidak bisa tidur lagi.

Keesokan paginya, kabar baru datang.

Polisi menemukan rekaman CCTV dari sebuah minimarket sekitar dua ratus meter dari rumah kami.

Rekaman itu menunjukkan seseorang mengenakan jaket hitam dan helm memasuki gang rumah kami pukul 23.18.

Orang itu keluar pukul 00.07.

Waktunya cocok.

Masalahnya, wajahnya tidak terlihat.

Namun ada sesuatu yang membuat polisi curiga.

Orang itu berjalan pincang pada kaki kirinya.

Aku langsung teringat sesuatu.

“Pak Arif!”

Aku menarik lengan polisi itu.

“Om Bayu jalannya tidak pincang.”

Bripka Arif mengangguk.

“Betul.”

“Tapi aku pernah lihat orang yang jalannya begitu.”

Semua mata tertuju kepadaku.

Aku mencoba mengingat.

“Pak Rudi.”

Pak Rudi adalah sopir Bapak.

Enam bulan sebelumnya ia mengalami kecelakaan motor. Sejak itu kaki kirinya sedikit pincang.

Polisi bergerak cepat.

Pak Rudi ditangkap sore harinya di sebuah rumah kontrakan di Bantul.

Aku yakin semuanya akan selesai.

Namun beberapa jam kemudian, Iptu Dimas datang membawa kabar mengejutkan.

Pak Rudi memang orang dalam rekaman CCTV.

Tetapi ia bersikeras tidak mencoba membunuh siapa pun.

“Aku cuma disuruh mengambil amplop dari ruang kerja Pak Hendra,” katanya saat diperiksa.

“Siapa yang menyuruh?”

Pak Rudi terdiam lama.

“Aku tidak tahu namanya. Aku menerima uang dua puluh juta rupiah. Instruksinya lewat pesan dari nomor sekali pakai.”

“Bagaimana kamu masuk rumah?”

“Pakai kunci cadangan.”

“Kunci dari mana?”

Pak Rudi mengeluarkan sebuah kunci.

Polisi langsung mengenalinya.

Itu kunci cadangan yang biasa disimpan Ibu di dalam pot bunga dekat dapur.

“Siapa yang tahu lokasi kunci itu?”

Pertanyaan itu membuat penyelidikan berubah arah.

Bukan hanya Pak Rudi.

Ada beberapa orang yang mengetahuinya.

Bapak.

Ibu.

Aku.

Pembantu kami yang sedang pulang kampung.

Dan Tante Mira.

Dua hari kemudian, kondisi Ibu membaik.

Polisi akhirnya diizinkan berbicara dengannya.

Aku tidak berada di ruangan ketika pemeriksaan berlangsung, tetapi setelah keluar, Bripka Arif terlihat sangat serius.

Malam itu ia mendatangiku.

“Alya, waktu malam kejadian, kamu bilang mendengar suara mendesis. Sebelumnya kamu dengar suara lain?”

Aku berpikir keras.

Kemudian aku teringat.

“Ada.”

“Apa?”

“Suara Ibu dan Bapak bertengkar.”

“Tentang apa?”

Aku menggigit bibir.

“Bapak bilang, ‘Aku sudah capek menutupi semuanya.’”

Bripka Arif langsung menulis.

“Ibu bilang apa?”

“Kalau semuanya terbongkar, keluarga kita hancur.”

“Ada lagi?”

Aku memejamkan mata.

Kemudian satu kalimat muncul kembali dalam ingatanku.

“Ibu bilang nama Tante Mira.”

Bripka Arif berhenti menulis.

“Persisnya?”

“Bapak bilang, ‘Mira harus tahu siapa yang sebenarnya mengambil uang itu.’”

Wajah Bripka Arif berubah.

Dua hari berikutnya, rahasia keluarga kami mulai terbuka satu demi satu.

Bapak ternyata memang memiliki utang ratusan juta rupiah.

Tetapi bukan karena perjudian atau gaya hidup mewah seperti dugaan awal polisi.

Tiga tahun sebelumnya, Bapak dan Bayu menjalankan usaha investasi emas bersama.

Rina Kurniawati menjadi bagian administrasi.

Puluhan orang menitipkan dana.

Pada awalnya bisnis itu berjalan baik.

Kemudian hampir dua miliar rupiah hilang dari rekening perusahaan.

Semua bukti transaksi mengarah kepada Bapak.

Bayu menuduh Bapak mengambil uang.

Hubungan mereka hancur.

Bapak terpaksa berutang untuk mengembalikan sebagian dana investor.

Tetapi Bapak selalu bersikeras bahwa ia tidak mengambil uang tersebut.

Lalu polisi menemukan sesuatu di perekam suara yang disembunyikan Bapak.

Benda itu ternyata sengaja dipasang sendiri oleh Bapak.

Ia sedang mengumpulkan bukti.

Salah satu rekaman dibuat dua hari sebelum kejadian.

Suara Bapak terdengar jelas.

“Aku sudah menemukan rekening penampungnya.”

Kemudian suara seorang wanita menjawab.

“Jangan libatkan Mira.”

Itu suara Ibu.

“Bagaimana aku tidak melibatkannya?” bentak Bapak. “Rekening itu dibuat menggunakan identitas Mira!”

Dadaku serasa berhenti ketika mendengar bagian itu beberapa tahun kemudian dari salinan berkas perkara.

Tetapi kejutan terbesar belum datang.

Polisi memeriksa rekening atas nama Tante Mira.

Benar.

Dana investasi yang hilang pernah masuk ke sana.

Namun tanda tangan pembukaan rekening bukan milik Tante Mira.

Seseorang memalsukannya.

Jejak digital kemudian mengarah kepada Rina.

Rina ternyata bukan kekasih Bapak.

Foto mereka di depan toko emas sengaja diambil saat pertemuan bisnis, kemudian digunakan untuk memeras Bapak dengan narasi perselingkuhan.

Polisi akhirnya menemukan Rina di Surabaya.

Ia mengaku mencuri dana investasi bersama seseorang.

Tetapi bukan Bayu.

Bukan Bapak.

Dan bukan Tante Mira.

Orang itu adalah Ibu.

Aku tidak percaya ketika mendengarnya.

Perempuan yang setiap malam menyelimutiku, membacakan cerita sebelum tidur, dan mengajariku bahwa berbohong adalah perbuatan buruk ternyata menyimpan rahasia selama tiga tahun.

Ibu dan Rina menggunakan identitas Tante Mira untuk membuka rekening penampung.

Awalnya Ibu mengaku hanya ingin “meminjam” uang perusahaan karena terlilit utang akibat investasi properti yang gagal.

Namun kerugian membesar.

Kebohongan demi kebohongan harus dibuat untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Ketika Bapak mulai menemukan bukti, Ibu panik.

Tetapi satu pertanyaan belum terjawab.

Siapa yang membuka gas malam itu?

Jawabannya datang dari tempat yang tidak pernah diduga.

Boneka kelinciku.

Seorang petugas menemukan benda keras kecil di dalam boneka ketika aku tidak sengaja menjatuhkannya di kantor polisi.

Ternyata itu alat pelacak suara mini.

Aku langsung menangis.

“Itu hadiah dari Tante Mira!”

Semua orang menoleh kepada Tante Mira.

Ia pucat.

Polisi membawanya ke ruang pemeriksaan.

Tiga jam kemudian, Tante Mira keluar sambil menangis.

Ia akhirnya mengaku memasang alat itu.

Tetapi bukan untuk mencelakai kami.

Selama berbulan-bulan, Tante Mira menerima surat penagihan dan ancaman atas transaksi yang tidak pernah dilakukannya. Namanya tercatat dalam berbagai dokumen perusahaan.

Ia curiga identitasnya telah digunakan.

Karena Bapak dan Ibu selalu menghindari pertanyaannya, ia menyembunyikan alat perekam di bonekaku setiap kali datang ke rumah.

“Aku cuma ingin tahu siapa yang menghancurkan namaku,” katanya sambil terisak.

Rekaman terakhir dari boneka itulah yang akhirnya memecahkan semuanya.

Pukul 00.31 terdengar suara Bapak.

“Kamu yang mengambil uang itu?”

Kemudian suara Ibu.

“Aku akan mengembalikannya.”

“Besok pagi kita ke polisi.”

“Kalau aku masuk penjara, bagaimana dengan Alya?”

“Kita sudah tidak bisa terus hidup dalam kebohongan.”

Beberapa detik hening.

Kemudian Ibu menangis.

“Aku tidak mau kehilangan Alya.”

Setelah itu terdengar suara benda jatuh.

Bapak ternyata meminum obat tidur malam itu karena sakit kepala dan kelelahan.

Saat obat mulai bekerja, Ibu membuat keputusan yang hampir menghancurkan seluruh keluarga kami.

Ia menutup ventilasi.

Melepas alarm.

Membuka katup gas.

Lalu berbaring di samping Bapak.

Tidak ada pembunuh yang melarikan diri dari rumah.

Tidak ada orang misterius yang mengunci kamar dari luar.

Ibulah yang melakukannya.

Ia berniat mengakhiri hidup bersama Bapak sebelum seluruh penipuan terbongkar.

Ia mengira aku sudah tidur di kamar bawah dan gas tidak akan menyebar sejauh itu.

Tetapi suara mendesis membangunkanku.

Panggilan telepon seorang anak berusia delapan tahun pada pukul 01.43 menyelamatkan mereka berdua.

Ibu akhirnya menjalani proses hukum setelah kondisinya pulih. Kasus keuangan dan tindakannya malam itu diproses secara terpisah. Rina juga ditangkap.

Bapak selamat, tetapi pernikahan mereka tidak pernah kembali seperti sebelumnya.

Setelah perceraian, aku tinggal bersama Bapak.

Tante Mira perlahan membersihkan namanya dan memulai hidup baru.

Bertahun-tahun kemudian, ketika aku berusia dua puluh dua tahun, aku kembali berdiri di depan rumah lama kami di Yogyakarta.

Rumah itu sudah menjadi milik keluarga lain.

Catnya berubah.

Pagar telah diganti.

Tangga kayu yang dulu membuatku ketakutan bahkan sudah tidak ada.

Di tanganku masih ada boneka kelinci yang sama.

Bapak pernah bertanya mengapa aku tidak membuangnya.

Aku hanya tersenyum.

Karena bagiku, boneka itu bukan pengingat tentang kejahatan Ibu.

Ia mengingatkanku pada seorang anak kecil yang ketakutan, tetapi memilih mengangkat telepon dan meminta pertolongan.

Ibu pernah mengirim surat kepadaku dari tempat ia menjalani hukuman.

Di bagian terakhir ia menulis bahwa kesalahan terbesar dalam hidupnya bukanlah kehilangan uang atau tertangkap polisi.

Kesalahan terbesarnya adalah mengira kematian lebih mudah bagi anaknya daripada menghadapi kebenaran.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Butuh waktu bertahun-tahun.

Tetapi akhirnya aku memahami sesuatu.

Rahasia keluarga sering kali tidak menghancurkan rumah ketika rahasia itu terbongkar.

Rumah justru mulai hancur sejak semua orang memilih diam untuk mempertahankannya.

Dan malam pukul 01.43 itu, tanpa kusadari, satu panggilan telepon bukan hanya menyelamatkan nyawa Bapak dan Ibu.

Panggilan itu menghentikan kebohongan yang telah meracuni keluarga kami jauh sebelum gas memenuhi kamar mereka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang