Di Pernikahan Sahabat Terbaikku, Dia Memberiku Sebutir Obat Anti-Mabuk. Tiba-Tiba Sebuah Suara Terdengar di Kepalaku: “Jangan Diminum! Dia Ingin Menghancurkanmu Malam Ini!”

“Video lama apa, Sit?”

Wajah Siti langsung pucat.

Untuk beberapa detik, suara musik, tawa para tamu, dan denting gelas di ballroom seolah menghilang dari pendengaranku. Yang kulihat hanya perempuan bergaun pengantin putih di depanku, perempuan yang selama hampir sepuluh tahun kupanggil sahabat.

Siti melangkah cepat dan mengambil ponselnya dari meja.

“Kamu baca pesan orang tanpa izin?”

“Aku tidak menyentuh ponselmu. Pesannya muncul sendiri di layar.”

“Itu tetap bukan urusanmu.”

“Kalau isinya membicarakan aku, itu urusanku.”

Rahang Siti mengeras.

Aku menunjukkan layar ponselku. Foto percakapan grup TIM SERU masih terbuka.

“Apa maksud Agus dengan video lama dari rumah kos kita?”

Siti menatapku beberapa detik, lalu tiba-tiba tertawa kecil.

“Kamu serius percaya omongan Agus? Dia memang suka bercanda kelewatan.”

“Dan pil yang kamu berikan tadi?”

Senyumnya membeku.

“Obat lambung.”

“Obat lambung atau sesuatu yang bisa membuatku linglung?”

Mata Siti membesar.

Saat itulah aku tahu.

Dia tidak terkejut karena dituduh.

Dia terkejut karena aku tahu.

“Dewi, jangan bikin keributan di hari pernikahanku.”

“Aku belum membuat keributan apa pun.”

“Bagus. Jadi hapus foto-foto itu dan kembali tersenyum seperti biasa.”

Nada suaranya dingin.

Bukan permintaan.

Perintah.

Aku memandang perempuan di depanku dan tiba-tiba teringat semua hal kecil selama beberapa bulan terakhir.

Setiap kali Budi memujiku karena berhasil mendapatkan promosi, Siti akan diam.

Setiap kali teman-teman lama kami mengatakan aku terlihat semakin cantik, Siti akan mengganti topik.

Bahkan tiga minggu lalu, ketika fitting gaun bridesmaid, Siti sempat berkata sambil bercanda, “Jangan terlalu cantik, ya. Nanti orang salah kira siapa pengantinnya.”

Saat itu aku tertawa.

Sekarang kalimat tersebut terasa berbeda.

“Aku cuma ingin tahu satu hal,” kataku. “Kenapa?”

Siti memandang sekeliling untuk memastikan tidak ada tamu yang mendengar.

Kemudian dia mendekat.

“Karena kamu selalu begitu.”

“Begitu bagaimana?”

“Seolah-olah kamu tidak melakukan apa-apa, tapi semua orang melihatmu.”

Aku terdiam.

“Waktu kuliah, dosen ingat namamu. Waktu kita melamar kerja, kamu yang diterima lebih dulu. Waktu kita datang ke reuni, semua orang bertanya tentangmu. Bahkan calon suamiku sendiri pernah bilang kamu cantik.”

“Siti, Budi cuma mengatakan gaun yang kupakai cocok.”

“Bagimu itu tidak berarti apa-apa karena kamu selalu mendapat pujian!”

Suaranya meninggi.

Beberapa tamu mulai menoleh.

Siti segera menurunkan suara.

“Kamu tahu bagaimana rasanya berdiri di samping seseorang bertahun-tahun dan selalu merasa seperti bayangan?”

Aku menatapnya tak percaya.

“Jadi karena itu kamu ingin mempermalukanku?”

“Aku cuma mau memberi pelajaran.”

“Dengan obat?”

Siti tidak menjawab.

Aku merogoh saku gaun dan mengeluarkan tisu kecil berisi pil putih.

Begitu melihatnya, wajah Siti berubah.

“Kamu tidak meminumnya?”

“Tidak.”

Dia mundur satu langkah.

Pada saat bersamaan, suara itu kembali muncul di kepalaku.

Jernih.

Dingin.

【Jangan serahkan pil itu kepadanya.】

Aku mengepalkan tangan.

“Dewi.”

Siti mengulurkan tangan.

“Kasih obatnya.”

“Tidak.”

“Jangan bodoh. Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan.”

“Justru sekarang aku mulai tahu.”

Aku berbalik hendak pergi.

Siti tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku.

“Kalau kamu bikin masalah hari ini, persahabatan kita selesai.”

Aku menoleh kepadanya.

“Siti, persahabatan kita selesai saat kamu memasukkan pil itu ke tanganku.”

Aku melepaskan tangannya.

Aku baru berjalan beberapa langkah ketika Budi muncul dari arah panggung.

“Kalian kenapa?”

“Tidak ada apa-apa,” jawab Siti cepat.

Aku menatap Budi.

Pria itu masih mengenakan jas pengantin, wajahnya terlihat lelah tetapi bahagia. Aku tidak tahu apakah dia bagian dari rencana ini.

Lalu suara itu muncul lagi.

【Budi tidak tahu.】

Aku tidak tahu dari mana suara itu berasal, tetapi dua kali peringatannya terbukti benar.

Aku memutuskan mengambil risiko.

“Bud, aku perlu bicara sama kamu.”

Siti langsung menyela.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Budi mengernyit.

“Masalah apa?”

Aku belum sempat menjawab ketika Agus datang bersama dua temannya.

“Nah, ini dia!”

Dia membawa sebuah gelas tinggi berisi minuman berwarna merah muda.

“Waktunya permainan!”

Beberapa teman Budi langsung bersorak.

Siti menatap Agus.

Ada kepanikan kecil di matanya.

Namun Agus tidak menyadarinya.

“Dewi, minum ini dulu!”

“Isinya apa?”

“Rahasia.”

“Aku tidak minum sesuatu kalau tidak tahu isinya.”

Agus tertawa.

“Waduh, baru satu jam jadi bridesmaid sudah kaku banget.”

Beberapa ponsel mulai terangkat.

Mereka merekam.

Persis seperti peringatan suara itu.

Aku justru tersenyum.

“Katanya mau bikin permainan?”

“Nah, gitu dong!”

“Boleh. Tapi sebelum mulai, aku juga punya permainan.”

Aku mengambil mikrofon nirkabel yang tergeletak di meja dekat panggung.

Siti langsung bergerak.

“Dewi!”

Aku mundur.

“Tenang. Bukankah kamu ingin hari ini jadi kenangan?”

Musik berhenti.

Ratusan pasang mata mengarah kepadaku.

Budi terlihat bingung.

Aku mengangkat gelas merah muda yang diberikan Agus.

“Teman-teman, sebelum permainan dimulai, aku mau tanya. Ada yang tahu isi minuman ini?”

Agus tertawa gugup.

“Ya minuman biasa.”

“Kalau begitu kamu minum.”

Senyumnya menghilang.

“Kenapa gue?”

“Karena kamu yang membawanya.”

Ballroom mulai berbisik.

Aku kemudian mengeluarkan pil putih dari saku.

“Dan ini diberikan kepadaku oleh pengantin perempuan sekitar satu jam lalu. Katanya obat anti-mabuk.”

Siti merebut mikrofon dari tanganku.

“Cukup!”

Suara keras itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Siti menatap para tamu, lalu tertawa canggung.

“Maaf, semuanya. Sahabat saya mungkin terlalu banyak minum.”

Aku hampir kagum.

Dia cepat sekali membalikkan keadaan.

Beberapa tamu mulai memandangku dengan ragu.

Siti melanjutkan, “Dewi memang akhir-akhir ini sedang banyak tekanan kerja. Mungkin dia salah paham.”

Budi mendekat.

“Dewi, kamu baik-baik saja?”

Aku membuka ponsel.

“Bagus. Kalau aku dianggap salah paham, kita lihat bersama.”

Aku menyambungkan ponsel ke layar LED yang sebelumnya digunakan menampilkan foto prewedding.

Foto percakapan grup TIM SERU muncul sebesar dinding.

Pilnya sudah diminum?

Kalau sudah mulai linglung, kasih kode.

Kita mulai permainannya.

Ruangan membeku.

Lalu muncul pesan Siti.

Aku lihat sendiri Dewi menelannya. Tunggu saja efeknya.

Wajah Budi kehilangan warna.

“Siti?”

Siti tidak menjawab.

Aku menggeser foto berikutnya.

Aku cuma mau sekali saja Budi dan semua orang berhenti bilang dia lebih cantik dariku. Malam ini biar semua orang lihat wajah aslinya.

Budi menatap istrinya seolah baru pertama kali melihat perempuan itu.

“Ini apa?”

“Bud, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan.”

“Itu cuma permainan.”

“Permainan pakai obat?”

“Aku tidak tahu obat apa itu! Agus yang beli!”

Semua kepala langsung berbalik kepada Agus.

Agus panik.

“Lho, kok jadi gue? Siti yang minta!”

“Bohong!”

“Lu sendiri yang bilang cari sesuatu yang bikin dia kelihatan kacau!”

Suasana pecah.

Orang tua Siti berlari mendekat. Keluarga Budi mulai bertanya satu sama lain. Beberapa tamu terus merekam.

Aku memandang Agus.

“Sekarang tentang video lama.”

Agus diam.

“Video apa?”

“Enggak ada.”

Aku mengangkat mikrofon.

“Kalau memang tidak ada, seharusnya kamu tidak takut menjelaskan.”

Siti tiba-tiba berteriak.

“Jangan!”

Semua orang menoleh kepadanya.

Air mata mulai mengalir di wajahnya.

Dan saat itulah aku menyadari video itu mungkin jauh lebih serius daripada rencana malam ini.

“Siti,” kataku perlahan. “Video apa?”

Dia menutup wajah.

Agus mengumpat pelan.

Akhirnya Budi merebut ponsel Agus.

Agus mencoba mengambilnya kembali, tetapi dua teman Budi menahan tangannya.

Setelah beberapa menit memeriksa galeri dan aplikasi penyimpanan, wajah Budi berubah.

“Dewi.”

Dia menatapku.

“Kamu harus lihat ini.”

Tanganku gemetar ketika menerima ponselnya.

Video itu direkam sekitar empat tahun lalu di rumah kos yang kutinggali bersama Siti.

Aku mengenali kamarku.

Aku sedang berganti pakaian.

Video direkam dari celah ventilasi kecil di atas lemari.

Tubuhku terasa dingin.

Aku langsung menghentikan video.

“Siapa yang merekam?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku menatap Siti.

“Siapa?”

Siti menangis semakin keras.

“Aku.”

Jawaban itu jauh lebih menyakitkan daripada dugaan apa pun.

“Kenapa?”

“Aku tidak bermaksud menyebarkannya.”

“Kamu merekamku diam-diam!”

“Aku cuma…”

Dia terisak.

“Aku cuma ingin punya sesuatu.”

“Sesuatu untuk apa?”

Siti menatapku dengan mata merah.

“Jaga-jaga.”

Aku merasa seperti ditampar.

Empat tahun.

Selama empat tahun, seseorang yang tidur di kamar sebelahku menyimpan video pribadi tanpa sepengetahuanku.

Agus akhirnya mengaku bahwa beberapa minggu sebelum pernikahan, Siti memberikan video tersebut kepadanya. Mereka mengeditnya agar terlihat seolah-olah aku sedang melakukan sesuatu yang memalukan di sebuah kamar hotel.

Rencananya sederhana.

Setelah obat mulai bekerja, mereka akan membuatku kehilangan kendali dalam sebuah permainan di depan tamu.

Video baru itu akan digabungkan dengan rekaman lama.

Kemudian akun anonim akan mengunggahnya.

Siti ingin orang-orang percaya bahwa aku mabuk, menggoda laki-laki, dan membuat keributan di pernikahannya.

Aku menatap sahabatku.

“Semua ini hanya karena Budi pernah bilang aku cantik?”

Siti menggeleng sambil menangis.

“Bukan cuma itu.”

“Lalu apa?”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

Dia memandang Budi.

“Takut suatu hari dia sadar dia memilih perempuan yang salah.”

Budi menatapnya lama.

Kemudian berkata pelan, “Aku memang baru sadar hari ini.”

Siti membeku.

Budi melepas cincin di jarinya dan meletakkannya di meja.

“Bukan karena Dewi.”

Dia menatap istrinya.

“Karena kamu tega menghancurkan seseorang yang menganggapmu saudara.”

Siti jatuh terduduk.

Namun aku tidak merasakan kemenangan.

Yang kurasakan hanya kehilangan.

Malam itu polisi dipanggil setelah keluarga Budi mengetahui ada obat tak dikenal dan rekaman pribadi yang dibuat tanpa persetujuanku. Pil tersebut kuserahkan sebagai barang bukti bersama tangkapan layar percakapan dan salinan video.

Aku meninggalkan ballroom tanpa menunggu pesta selesai.

Gaun bridesmaid masih melekat di tubuhku ketika aku duduk sendirian di dalam mobil.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku menangis.

Bukan karena hampir dipermalukan.

Bukan karena video itu.

Aku menangisi sepuluh tahun persahabatan yang ternyata tidak pernah kulihat dengan benar.

Lalu suara misterius itu muncul sekali lagi.

【Kamu berhasil mengubah akhirnya.】

Aku menegakkan tubuh.

“Siapa kamu?”

Untuk pertama kalinya, aku menjawabnya dengan suara keras.

Tidak ada jawaban.

Aku menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Tetap sunyi.

Kupikir semuanya telah selesai sampai ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Aku membukanya.

Hanya ada satu foto.

Foto diriku dan Siti saat masih kuliah, duduk di lantai kamar kos sambil memegang semangkuk mi instan.

Aku mengenali foto itu.

Tetapi ada sesuatu yang aneh.

Di sudut gambar tertulis tanggal pengambilan.

Tanggalnya adalah besok.

Di bawah foto terdapat satu kalimat.

“Kamu pikir malam ini adalah pertama kalinya hidupmu diubah?”

Darahku membeku.

Pesan kedua masuk.

“Jangan pulang ke rumah kos lamamu besok.”

Aku langsung mengetik.

“Siapa kamu?”

Pesanku terkirim.

Satu centang.

Kemudian nomor itu menghilang.

Aku menatap jalanan Jakarta di balik kaca mobil. Lampu-lampu kota masih menyala seperti biasa. Orang-orang masih tertawa di trotoar. Kendaraan masih memenuhi jalan.

Dunia tidak berubah.

Tetapi aku tahu hidupku tidak akan pernah sama lagi.

Keesokan paginya, berita muncul di ponselku.

Sebuah kebakaran terjadi di rumah kos lama tempat aku dan Siti pernah tinggal.

Api bermula dari kamar yang dulu kutempati.

Petugas menemukan sesuatu di balik ventilasi di atas lemari.

Sebuah kamera kecil.

Dan sebuah kartu memori.

Polisi kemudian memberitahuku bahwa kamera itu bukan milik Siti.

Perangkat tersebut sudah terpasang sebelum kami menyewa kamar.

Di dalam kartu memori terdapat rekaman puluhan penghuni perempuan selama bertahun-tahun.

Siti memang pernah menemukan kamera itu empat tahun lalu.

Namun alih-alih melapor, dia mengambil salah satu rekamanku dan menyimpannya.

Itulah kesalahannya.

Tetapi seseorang yang memasang kamera tersebut masih belum diketahui.

Aku berdiri di depan jendela apartemen sambil membaca laporan awal polisi.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Tidak ada foto.

Tidak ada peringatan panjang.

Hanya satu kalimat.

“Sekarang kamu mengerti. Siti bukan awal dari semuanya.”

Aku menatap layar cukup lama.

Kemudian pesan itu menghilang.

Anehnya, kali ini aku tidak takut.

Aku mengambil napas panjang lalu menyimpan ponsel.

Selama bertahun-tahun aku mengira kepercayaan berarti mengenal seseorang begitu dekat sampai kita tidak lagi merasa perlu bertanya.

Ternyata aku salah.

Kepercayaan bukan menutup mata terhadap orang yang kita sayangi.

Kepercayaan adalah memberikan hati tanpa menyerahkan kewaspadaan.

Siti mungkin pernah menjadi sahabat terbaikku.

Kenangan kami tidak semuanya palsu.

Tawa kami pernah nyata.

Tangis kami pernah nyata.

Persahabatan kami pun mungkin pernah nyata.

Namun rasa iri yang dibiarkan tumbuh diam-diam telah mengubah kasih sayang menjadi persaingan, lalu persaingan menjadi kebencian.

Dan malam itu aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting daripada suara misterius di kepalaku.

Kadang-kadang orang yang menghancurkan kita bukanlah musuh yang berdiri di depan.

Melainkan seseorang yang sudah terlalu lama berdiri di samping kita, tersenyum, sampai kita lupa melihat apa yang sebenarnya tersembunyi di balik tatapannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang