Aku Naik 30 Kilo demi Menyelamatkan Sahabat, Tiga Tahun Kemudian Kakaknya Ternyata Mantan Pacar Online yang Menghinaku

Tiga tahun kemudian, aku baru tahu bahwa tiga puluh kilogram yang pernah kutambahkan demi menyelamatkan sahabatku ternyata juga menjadi alasan lelaki yang kucintai menghancurkan harga diriku.

Pagi setelah menginap di hotel, aku terbangun karena ponselku bergetar tanpa henti.

Keira menelepon sebelas kali.

Begitu kuangkat, suaranya langsung meledak.

“Dara! Kamu di mana? Jangan bilang kamu sudah kabur ke bandara!”

“Aku masih di hotel.”

“Syukurlah. Jangan ke mana-mana. Aku jemput.”

Aku bahkan belum sempat bertanya ketika sambungan diputus.

Empat puluh menit kemudian, Keira sudah berdiri di depan hotel. Dia menyeretku masuk ke mobil sambil terus mengomel karena aku menolak menginap di rumahnya.

Aku hanya tertawa kecil.

“Kita mau ke mana?”

“Makan siang.”

“Dengan siapa?”

“Keluargaku.”

Aku langsung menoleh.

Keira pura-pura sibuk memasang sabuk pengaman.

“Kak Galang pulang tadi malam.”

Jantungku entah kenapa berdegup sedikit lebih cepat.

Mungkin karena percakapan kemarin.

Mungkin karena cerita tentang mantan pacar online kakaknya terasa terlalu mirip dengan masa laluku.

Namun aku segera menepis pikiran itu.

Jakarta dihuni jutaan orang.

Tidak mungkin dunia sekecil itu.

Kami tiba di sebuah restoran di kawasan Menteng menjelang siang. Keira menggandeng lenganku menuju ruang privat di lantai dua.

Pintu baru dibuka ketika seorang laki-laki berdiri dari kursinya.

Langkahku berhenti.

Dia tinggi.

Jauh lebih tinggi daripada yang kubayangkan dari foto.

Kemeja hitam sederhana membungkus tubuh tegapnya. Rambutnya dipotong rapi, wajahnya tegas, dan jam di pergelangan tangannya sama persis dengan jam yang kulihat dalam foto di ponsel Keira.

Tetapi bukan itu yang membuat darah di wajahku seolah menghilang.

Melainkan suaranya.

“Keira, kenapa lama sekali?”

Tiga tahun berlalu.

Aku pernah berganti nomor.

Pindah negara untuk kuliah.

Menurunkan berat badan.

Menjalani berbagai perawatan sampai tubuhku kembali sehat.

Namun aku tidak mungkin melupakan suara itu.

Suara yang selama bertahun-tahun pernah menemaniku belajar bahasa Inggris hingga lewat tengah malam.

Suara yang pernah berkata di tengah salju, “Hadiah buat anak baik.”

Galang.

Ikan Santai.

Ternyata orang yang sama.

Keira menarik tanganku dengan antusias.

“Kak, kenalin. Ini Dara yang sering kuceritakan.”

Tatapan Galang jatuh ke wajahku.

Aku melihat perubahan kecil di matanya.

Bingung.

Terkejut.

Lalu tidak percaya.

“Dara?”

Aku tersenyum.

“Halo, Kak Galang.”

Dia menatapku terlalu lama.

“Kita pernah bertemu?”

“Sepertinya belum.”

Aku berbohong tanpa berkedip.

Untuk pertama kalinya, aku bersyukur dia hanya pernah melihat wajahku selama tiga detik melalui kamera tiga tahun lalu.

Pertemuan kami yang sebenarnya terjadi ketika berat badanku sudah hampir tujuh puluh lima kilogram.

Wajahku membulat.

Tubuhku berubah drastis.

Dan hari itu, sebelum aku sempat memperkenalkan diri sebagai pacarnya, aku mendengar teman-temannya tertawa.

“Galang, serius? Ini pacar online lo?”

“Gue kira foto profilnya cantik.”

“Ini mah beda server.”

Seseorang bahkan menirukan suara babi.

Aku berdiri di depan pintu restoran sambil menggenggam hadiah ulang tahun yang kubeli dengan tabunganku sendiri.

Galang melihatku.

Dia tahu siapa aku.

Karena aku mengenakan syal biru yang sudah kami sepakati sebagai tanda.

Namun dia tidak menghentikan mereka.

Dia hanya berdiri diam.

Kemudian salah satu temannya bertanya, “Lang, ini benar pacar lo?”

Dan jawaban Galang menghancurkan sesuatu dalam diriku.

“Bukan.”

Satu kata.

Hanya satu kata.

Aku pulang membawa hadiah itu.

Malamnya, aku menghapus akun dan memutus semua hubungan.

Dia mencoba mencariku beberapa kali.

Aku tidak pernah menjawab.

Sekarang lelaki itu berdiri beberapa meter dariku tanpa menyadari perempuan di hadapannya adalah “perempuan gendut” yang selama tiga tahun menjadi bahan lelucon.

Makan siang berlangsung aneh.

Keira terus berbicara, sedangkan Galang lebih banyak diam.

Beberapa kali aku merasakan tatapannya.

Sampai Keira pergi menerima telepon.

Ruangan mendadak sunyi.

Galang meletakkan cangkir kopinya.

“Kita benar-benar belum pernah bertemu?”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Suaramu familiar.”

Aku hampir tertawa.

Dulu dia bisa mengenali suaraku hanya dari satu kata.

Sekarang dia membutuhkan waktu hampir satu jam.

“Mungkin wajahku pasaran.”

“Bukan wajah.”

Tatapannya semakin tajam.

“Cara kamu mengucapkan kata tertentu.”

Tanganku berhenti mengaduk teh.

Galang tiba-tiba berkata dalam bahasa Inggris, “Repeat after me.”

Dadaku seperti dipukul.

Itu kalimat pertama yang dia ucapkan ketika mengajariku tiga tahun lalu.

Aku mengangkat mata.

Tatapan kami bertemu.

Wajah Galang perlahan berubah.

“Anak baik?”

Dua kata itu membuat seluruh luka yang kukira sudah sembuh kembali terbuka.

Aku meletakkan sendok.

“Jangan panggil aku begitu.”

Wajahnya pucat.

“Dara?”

Aku tidak menjawab.

Dia berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Kamu… Ikan Kecil?”

Itu nama pengguna lamaku.

Aku tersenyum tipis.

“Selamat. Akhirnya kamu ingat.”

Galang seperti kehilangan kemampuan berbicara.

Pandangan matanya menyapu wajahku, lalu tubuhku, kemudian kembali ke wajahku.

Dan justru gerakan itu membuatku muak.

“Aku berubah banyak, ya?”

“Bukan begitu.”

“Dulu terlalu gendut sampai sulit dikenali?”

“Dara, dengarkan aku.”

“Aku sudah cukup banyak mendengarkanmu tiga tahun lalu.”

Aku berdiri.

Saat itulah Keira kembali.

Dia melihat wajah kakaknya, lalu wajahku.

“Ada apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Galang menatap adiknya.

“Dara adalah dia.”

“Dia siapa?”

Galang mengepalkan tangan.

“Mantan pacar online-ku.”

Keira membeku.

Aku melihat warna di wajahnya menghilang sedikit demi sedikit.

Mungkin dia teringat semua yang dikatakannya kemarin.

Gemuk.

Kusam.

Tidak sadar diri.

Celana dalam seperti parasut.

Keira menutup mulut.

“Ya Tuhan…”

Aku mengambil tas.

“Dara, tunggu.”

Aku berjalan keluar.

Keira mengejarku sampai ke koridor.

Dia menangis bahkan sebelum berhasil memegang tanganku.

“Aku nggak tahu.”

“Aku tahu.”

“Aku benar-benar nggak tahu itu kamu.”

Aku menatap sahabat yang pernah hampir kehilangan nyawanya.

“Aku justru bersyukur kamu nggak tahu, Kei.”

Dia terdiam.

“Karena kemarin aku akhirnya tahu bagaimana kamu menilai seseorang ketika kamu tidak tahu kisah di balik tubuhnya.”

Air matanya jatuh.

Aku tidak marah.

Itulah bagian paling menyakitkan.

Aku hanya kecewa.

“Aku naik hampir tiga puluh kilogram karena dokter memintaku memperbaiki kondisi tubuh sebelum menjalani proses donor untukmu.”

Keira mulai menangis lebih keras.

“Tapi seandainya aku gemuk bukan karena menyelamatkanmu, apakah aku pantas dihina?”

Dia menggeleng cepat.

“Tidak.”

“Seandainya aku gemuk karena penyakit, obat, hormon, stres, atau memang tubuhku seperti itu, apakah aku menjadi lebih rendah?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa perempuan yang kamu kira bukan aku pantas ditertawakan?”

Keira tidak bisa menjawab.

Aku memeluknya sebentar.

“Pulanglah.”

Lalu aku pergi.

Kupikir semuanya selesai.

Ternyata Galang tidak menyerah.

Selama seminggu berikutnya, dia mengirim pesan melalui nomor baru.

Tidak ada bunga.

Tidak ada hadiah mahal.

Hanya permintaan maaf.

Hari pertama dia menulis bahwa dirinya pengecut.

Hari kedua dia mengakui bahwa saat pertemuan itu terjadi, dia takut menjadi bahan tertawaan teman-temannya.

Hari ketiga dia mengatakan satu kalimat yang justru membuatku semakin marah.

“Aku sebenarnya tidak pernah malu karena kamu gemuk. Aku malu karena aku terlalu lemah untuk membelamu.”

Aku akhirnya membalas.

“Bedanya apa bagiku?”

Tidak ada jawaban selama beberapa jam.

Kemudian dia menulis.

“Tidak ada. Dampaknya tetap sama. Aku menyakitimu.”

Untuk pertama kalinya, dia tidak mencari alasan.

Beberapa hari kemudian, aku bertemu Keira lagi.

Dia membawa sebuah kotak tua.

“Aku menemukan ini di kamar Kak Galang.”

Di dalamnya terdapat sebuah syal biru.

Syal yang seharusnya dia kenakan ketika kami bertemu tiga tahun lalu.

Di bawahnya ada puluhan lembar kertas.

Email.

Tangkapan layar.

Alamat kampus.

Bahkan salinan pengumuman penerimaan mahasiswa yang pernah kukirim.

Galang ternyata mencariku selama hampir dua tahun.

“Dia pernah datang ke rumah sakit,” kata Keira pelan.

Aku menoleh.

“Apa?”

“Setelah kamu menghilang, dia menemukan petunjuk kalau kamu sering berada di rumah sakit tempat aku dirawat. Tapi waktu itu aku belum tahu kamu donor yang cocok. Mama dan Papa merahasiakan identitas donor karena kamu yang minta.”

Aku terdiam.

Keira menggigit bibir.

“Ada satu hal lagi yang nggak pernah aku tahu.”

Dia menyerahkan sebuah amplop.

Isinya bukti transfer biaya pengobatan dalam jumlah besar kepada yayasan yang membantu pasien leukemia.

Nama pengirimnya disamarkan.

Namun tanggalnya tepat seminggu setelah aku menghilang.

“Kak Galang pernah bilang ada seseorang yang membuat dia sadar uang nggak ada artinya kalau kita nggak punya keberanian menjaga orang yang penting.”

Aku menggenggam kertas itu.

Perasaanku kacau.

Tapi aku tidak ingin sebuah donasi menghapus penghinaan.

Kesalahan tetap kesalahan.

Dua minggu sebelum aku kembali ke Hong Kong, Galang meminta bertemu sekali.

Aku setuju.

Kami bertemu di taman dekat rumah sakit tempat Keira dulu dirawat.

Dia datang sendirian.

Tidak membawa apa pun.

“Aku nggak akan minta kamu kembali,” katanya.

Aku sedikit terkejut.

Galang menatap pepohonan.

“Tiga tahun lalu aku mencintai versi kamu yang cantik dan kurus lewat layar. Ketika melihat kamu berubah, aku pikir aku tetap mencintaimu. Tapi ketika teman-temanku tertawa, aku diam.”

Dia tersenyum pahit.

“Itu berarti cinta yang kubanggakan ternyata lebih kecil daripada egoku.”

Aku tidak menyela.

“Aku menyesal bukan karena sekarang kamu cantik lagi.”

Dia menatapku.

“Aku menyesal karena baru setelah kehilanganmu aku sadar, orang yang berdiri di depan restoran hari itu tetap perempuan yang menemaniku bertahun-tahun. Tubuhmu berubah. Tapi aku yang ternyata berubah menjadi orang paling buruk.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Galang tanpa bayangan Ikan Santai.

Dia bukan pangeran.

Bukan monster.

Hanya manusia yang pernah melakukan kesalahan besar dan harus hidup dengan konsekuensinya.

“Aku memaafkanmu,” kataku.

Matanya langsung memerah.

“Tapi aku tidak akan kembali.”

Harapan yang baru muncul di wajahnya padam.

Aku tersenyum.

“Memaafkan seseorang tidak berarti kita wajib memberinya kembali tempat yang pernah dia hancurkan.”

Galang mengangguk perlahan.

“Aku mengerti.”

Aku berjalan meninggalkannya.

Tiga bulan kemudian, dari Hong Kong, aku menerima foto dari Keira.

Dia sedang menjadi relawan dalam sebuah kampanye kesehatan yang membahas stigma terhadap perubahan berat badan pasien setelah pengobatan.

Pesannya singkat.

“Aku masih belajar menjaga mulut dan hati.”

Aku tertawa.

Kemudian sebuah pesan lain masuk.

Dari Galang.

Tidak ada rayuan.

Dia hanya mengirim foto salju pertama di kota tempatnya sedang bekerja.

Di bawahnya tertulis satu kalimat.

“Semoga kamu selalu baik-baik saja.”

Aku memandang foto itu cukup lama.

Lalu membalas.

“Kamu juga.”

Setahun kemudian aku pulang ke Jakarta setelah lulus.

Di acara perayaan kelulusan Keira, aku kembali bertemu Galang.

Dia sedang berbicara dengan seorang perempuan.

Perempuan itu bertubuh besar.

Cantik.

Percaya diri.

Saat seorang kenalan melontarkan candaan tentang berat badannya, Galang langsung menghentikannya.

“Jangan menjadikan tubuh orang lain sebagai bahan lelucon.”

Nada suaranya tenang.

Namun tegas.

Dia tidak tahu aku berdiri beberapa meter di belakangnya.

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa masa lalu sudah selesai.

Keira datang membawa dua gelas minuman.

“Kamu masih mencintai Kak Galang?”

Aku menerima satu gelas.

“Entahlah.”

“Kalau dia minta kesempatan lagi?”

Aku melihat lelaki yang pernah menjadi cinta pertamaku.

Lalu menggeleng sambil tersenyum.

“Ada orang yang datang ke hidup kita untuk tinggal. Ada juga yang datang untuk mengajarkan sesuatu.”

Keira menatapku.

“Dia mengajarkan apa?”

Aku memandang tanganku sendiri.

Tubuh ini pernah hanya empat puluh lima kilogram.

Pernah hampir tujuh puluh lima.

Pernah sakit.

Pernah lemah.

Pernah dianggap cantik.

Pernah disebut menjijikkan.

Namun tubuh yang sama pernah membantu menyelamatkan seorang sahabat.

“Aku pernah mengira tiga puluh kilogram itu menghancurkan kisah cintaku,” kataku.

“Ternyata tidak.”

Keira menunggu.

Aku tersenyum.

“Tiga puluh kilogram itu justru menyelamatkanku dari seseorang yang saat itu belum cukup dewasa untuk mencintaiku.”

Aku menatap Keira.

“Dan menyelamatkanmu.”

Keira langsung memelukku sambil menangis.

Aku tertawa dan memeluknya kembali.

Di seberang ruangan, Galang menoleh.

Mata kami bertemu.

Kali ini tidak ada penyesalan yang harus dijelaskan.

Tidak ada cinta yang harus dipaksakan kembali.

Dia hanya mengangguk kecil.

Aku membalasnya.

Tiga tahun lalu, aku menambah berat badan karena ingin menyelamatkan seseorang yang kucintai.

Aku kehilangan seorang kekasih karenanya.

Namun akhirnya aku memahami sesuatu.

Orang yang benar-benar mencintaimu mungkin tidak selalu mampu menyelamatkanmu.

Tetapi dia tidak akan membuatmu merasa harus menjadi orang lain terlebih dahulu agar pantas dicintai.

Dan terkadang, kehilangan seseorang bukanlah akhir yang menyedihkan.

Terkadang itu adalah cara hidup mengembalikan kita kepada satu-satunya orang yang seharusnya tidak pernah kita tinggalkan.

Diri sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang