Sirene ambulans sudah lama menghilang dari halaman rumah sakit, tetapi kalimat Kirana terus berputar di kepalaku.
Ada satu lagi di mobil Mama.
Mobil itu sudah dibawa Fajar sebelum polisi tiba.
Dan entah kenapa, aku merasa map merah kedua jauh lebih berbahaya daripada yang ditemukan di ruang kerja Ardi.
AKP Dimas segera menghubungi petugas di lapangan. Nomor polisi mobil Maya disebarkan ke beberapa unit patroli. Rekaman CCTV kompleks diperiksa ulang untuk mengetahui ke arah mana Fajar pergi.
Sementara itu, aku kembali ke ruang perawatan Kirana.
Cucuku sudah tertidur.
Selang infus terpasang di tangan kirinya. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya teratur.
Aku duduk di samping tempat tidur dan menggenggam jemarinya.
Sulit dipercaya bahwa beberapa jam sebelumnya aku duduk di depan foto anak ini, menangisi kematiannya.
Lebih sulit lagi menerima kenyataan bahwa orang yang membuat seluruh kebohongan itu adalah anakku sendiri.

Menjelang pukul empat pagi, dr. Ratri datang membawa hasil pemeriksaan awal.
“Bu Ratna.”
Aku berdiri.
“Bagaimana Kirana?”
“Secara umum stabil. Tapi kami menemukan zat sedatif dalam tubuhnya.”
Dadaku terasa sesak.
“Obat tidur?”
“Jenis obat yang bisa menyebabkan kantuk berat. Kami masih menunggu pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui dosis dan jenis pastinya.”
Aku memandang Kirana.
Anak sekecil itu.
Diberi obat sampai tertidur, lalu dikunci di gudang sementara keluarganya menggelar tahlilan untuk kematiannya sendiri.
“Apakah berbahaya?”
“Dalam dosis tertentu, bisa.”
Aku menutup mulut.
Dokter melanjutkan dengan hati-hati.
“Untung Ibu menemukannya malam ini.”
Kalimat itu membuat kakiku lemas.
Bagaimana kalau aku menurut kepada Ardi dan pergi ke hotel?
Bagaimana kalau ketukan Kirana terlalu lemah untuk kudengar?
Aku bahkan tidak berani membayangkannya.
Pukul lima lewat dua puluh, Dimas kembali.
“Kami menemukan mobil Bu Maya.”
“Fajar?”
“Tidak ada.”
Mobil itu ditemukan di area parkir sebuah minimarket di Ciputat.
Pintu tidak terkunci.
Kunci kendaraan ditinggalkan di dalam.
Namun map merah sudah hilang.
Polisi memeriksa kamera pengawas minimarket. Fajar terlihat turun membawa tas ransel hitam, lalu naik ke mobil lain yang sudah menunggunya.
Pengemudinya tidak terlihat jelas.
“Dia mau kabur?” tanyaku.
“Kami belum tahu.”
“Lalu Ardi dan Maya?”
“Masih diperiksa.”
Aku menatap Dimas.
“Pak, sebenarnya apa yang mereka lakukan?”
Dimas menarik kursi.
“Untuk sekarang kami baru punya beberapa potongan. Kami tidak mau menyimpulkan terlalu cepat.”
“Tapi polis Kirana?”
“Itu salah satu bagian yang sedang kami dalami.”
Aku teringat angka Rp4,8 miliar.
“Apakah mereka berniat membunuh Kirana demi uang?”
Dimas langsung menggeleng.
“Kami belum punya bukti untuk mengatakan itu.”
Aku menghargai jawabannya.
Namun rasa takut tetap tinggal.
Pagi harinya, ketika Kirana bangun, seorang psikolog anak datang menemuinya. Aku diminta tidak memaksanya bercerita.
Aku duduk di sudut ruangan.
Awalnya Kirana hanya menjawab pertanyaan sederhana.
Namanya.
Umurnya.
Sekolahnya.
Boneka favoritnya.
Lalu psikolog itu bertanya, “Kirana ingat kenapa malam itu tidur di kamar belakang?”
Kirana mengangguk.
“Mama bilang aku harus main rahasia-rahasiaan.”
“Rahasia apa?”
“Kalau ada orang datang, aku nggak boleh keluar.”
“Kenapa?”
Kirana berpikir lama.
“Katanya ada orang jahat cari aku.”
Aku dan Dimas saling pandang.
“Siapa orang jahat itu?”
“Nggak tahu.”
“Kirana pernah dengar Ayah atau Mama membicarakannya?”
Kirana kembali mengangguk.
“Om Fajar.”
Jantungku berdegup cepat.
“Apa yang Om Fajar bilang?”
“Dia marah sama Ayah.”
Kirana menirukan suara orang dewasa sebisanya.
“Kalau semuanya gagal, kita habis.”
Ruangan mendadak sunyi.
Psikolog tidak mengejar.
Ia mengalihkan pembicaraan.
Beberapa menit kemudian, Kirana tiba-tiba berkata sendiri.
“Terus Ayah bilang rumah Nenek bisa nutup semuanya.”
Aku menegakkan tubuh.
“Apa maksudnya?”
Kirana mengangkat bahu.
“Aku nggak tahu.”
Tapi aku tahu.
Atau setidaknya mulai mengerti.
Sekitar pukul sembilan pagi, polisi mendapat informasi dari bank yang namanya tercantum dalam dokumen.
Rumahku ternyata sedang diajukan sebagai jaminan pinjaman senilai hampir tiga miliar rupiah.
Menggunakan surat kuasa palsu.
Menggunakan fotokopi identitasku.
Dan tanda tangan yang dipalsukan.
Pengajuannya belum selesai karena pihak bank meminta verifikasi tambahan langsung dariku.
Aku memejamkan mata.
Tahun lalu Ardi memang pernah meminjam uang.
Tidak banyak.
Dua ratus juta.
Katanya bisnis distribusi alat kesehatan yang ia bangun bersama Fajar sedang mengalami masalah arus kas.
Aku memberikannya.
Bukan meminjamkan.
Memberikan.
Karena dia anakku.
Ternyata jumlah itu tidak cukup.
Dimas menunjukkan catatan transaksi yang mulai dikumpulkan penyidik.
Perusahaan Ardi memiliki utang dalam jumlah besar kepada beberapa pihak.
Ada tagihan vendor.
Pinjaman pribadi.
Dan sejumlah transfer mencurigakan ke rekening perusahaan lain.
“Perusahaan siapa?” tanyaku.
Dimas menunjuk satu nama.
PT Lentera Abadi Nusantara.
Aku membaca nama direkturnya.
Fajar Prakoso.
Adik Maya.
Sekarang semuanya mulai tersambung.
Tetapi satu pertanyaan masih belum terjawab.
Kirana.
Mengapa harus membuat anak itu seolah-olah meninggal?
Jawabannya datang siang itu.
Seorang penyidik membawa sebuah laptop yang disita dari ruang kerja Ardi.
Di dalamnya ditemukan draf dokumen klaim asuransi Kirana.
Belum dikirim.
Tetapi sudah disiapkan.
Ada surat kematian palsu.
Ada hasil pemeriksaan medis yang diduga telah dimanipulasi.
Ada bahkan draf surat pernyataan keluarga.
Tanganku dingin saat melihatnya.
“Jadi benar.”
Dimas tidak menjawab.
Aku berdiri.
“Aku mau bicara dengan Ardi.”
Awalnya polisi menolak.
Tetapi setelah beberapa pertimbangan, mereka mengizinkan percakapan singkat dengan pengawasan.
Ardi dibawa ke sebuah ruangan.
Aku hampir tidak mengenali anakku.
Kemejanya kusut.
Matanya merah.
Ia duduk di depanku tanpa berani menatap.
Aku tidak menangis.
Tidak berteriak.
Aku hanya bertanya.
“Kenapa?”
Bibirnya bergerak.
Tidak ada suara.
“Kenapa, Ardi?”
Akhirnya dia menatapku.
“Aku nggak pernah mau menyakiti Kirana.”
“Jangan bohong lagi.”
“Aku serius.”
“Lalu obat itu?”
“Maya cuma kasih supaya dia tidur.”
“Supaya anakmu bisa dianggap mati?”
Ardi menutup wajah.
Aku memukul meja dengan telapak tangan.
“Jawab Mama!”
Dia tersentak.
“Karena aku cuma butuh waktu!”
“Waktu untuk apa?”
“Menyelamatkan semuanya.”
Aku tertawa getir.
“Semuanya? Bisnismu?”
Ardi menggeleng.
“Ma, aku terjebak.”
“Terjebak karena siapa?”
Dia diam.
“Fajar?”
Matanya langsung berubah.
Saat itulah aku tahu.
“Apa yang ada di map kedua?”
Ardi menatap pintu.
“Ma…”
“Apa isinya?”
“Kalau Mama tahu, Mama ikut dalam bahaya.”
Aku mendekat.
“Kirana sudah dalam bahaya.”
Wajahnya runtuh.
Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, aku melihat sesuatu yang benar-benar menyerupai penyesalan.
“Awalnya cuma klaim asuransi palsu,” katanya.
Aku membeku.
“Kami mau bikin Kirana seolah meninggal, klaim uangnya, lalu beberapa bulan kemudian pindah. Fajar bilang dokumennya bisa diatur.”
Aku merasa mual.
“Kamu menyebut itu cuma?”
“Aku sudah putus asa!”
“Dan rumah Mama?”
Air matanya jatuh.
“Aku butuh jaminan tambahan.”
Aku menatapnya lama.
Anak yang dulu kugendong saat demam.
Anak yang kubiayai kuliah.
Anak yang kupikir akan melindungiku ketika aku tua.
Sekarang duduk di depanku dan mengaku telah mencoba mencuri rumahku serta memalsukan kematian putrinya sendiri.
“Map kedua,” kataku lagi.
Ardi menelan ludah.
“Itu bukti transaksi Fajar.”
“Transaksi apa?”
“Dia nggak cuma mengambil uang perusahaan.”
Ardi menurunkan suaranya.
“Dia pakai perusahaan kami untuk memindahkan uang milik orang lain.”
“Siapa?”
“Aku nggak tahu semuanya.”
“Jangan bohong.”
“Aku benar-benar nggak tahu.”
Lalu Ardi mengatakan sesuatu yang membuat semuanya berubah.
“Waktu aku mau mundur, Fajar mengancam akan menjadikan aku satu-satunya tersangka.”
Aku terdiam.
“Dia bilang semua dokumen atas namaku. Semua rekening utama atas namaku. Kalau polisi datang, dia tinggal pergi.”
“Lalu Kirana?”
“Dia melihat map merah itu di ruang kerja.”
Ardi menutup mata.
“Dia melihat foto rumah Mama, salinan rekening, sama beberapa foto orang.”
“Foto siapa?”
“Orang-orang yang transfer uang ke perusahaan.”
Aku langsung teringat ucapan Kirana.
Ayah marah karena aku lihat map merah.
“Jadi kamu mengunci anakmu sendiri supaya dia tidak bicara?”
“Aku panik.”
“Tidak.”
Aku berdiri.
“Kamu memilih.”
Ardi menangis.
Aku meninggalkannya.
Sore harinya, polisi akhirnya menemukan Fajar.
Bukan di bandara.
Bukan di terminal.
Ia ditemukan di sebuah apartemen di Jakarta Selatan setelah mobil yang menjemputnya terlacak melalui kamera lalu lintas.
Tas ransel hitam masih bersamanya.
Begitu dibuka, map merah kedua ditemukan.
Isinya jauh lebih besar dari dugaan.
Ada catatan transfer.
Salinan rekening.
Beberapa perjanjian fiktif.
Percakapan yang dicetak.
Dan sebuah flashdisk.
Namun ada satu dokumen yang membuatku terdiam.
Sebuah surat perjanjian bertanggal enam bulan sebelumnya.
Nama Ardi tercantum di sana.
Tanda tangannya asli.
Menurut dokumen itu, Ardi bukan korban yang baru mengetahui semuanya belakangan.
Dia telah mengetahui skema tersebut sejak awal.
Bahkan menerima bagian keuntungan.
Ketika polisi memperlihatkannya kepadaku, aku tidak bisa berkata apa-apa.
Ardi masih berbohong.
Bahkan ketika semua hampir berakhir.
Malamnya, aku kembali ke kamar Kirana.
Dia sedang menggambar.
Ada rumah.
Ada pohon.
Ada dua orang bergandengan tangan.
“Nenek.”
“Iya?”
“Kalau Ayah sama Mama pulang, aku harus ikut mereka?”
Tanganku berhenti.
Aku duduk di sampingnya.
“Kirana mau ke mana?”
Dia berpikir.
“Ke rumah Nenek.”
Aku memeluknya.
Beberapa hari kemudian, status hukum Ardi, Maya, dan Fajar berubah setelah penyidik mengumpulkan cukup bukti awal. Proses kasus mereka masih panjang dan akan ditentukan melalui pemeriksaan serta pengadilan.
Aku tidak lagi mengikuti setiap detailnya.
Aku hanya ingin Kirana pulih.
Tiga minggu kemudian, dia keluar dari rumah sakit dan untuk sementara tinggal bersamaku di Bandung berdasarkan pengaturan perlindungan yang ditetapkan pihak berwenang.
Tas kelinci ungu yang kubeli sebelum semua kejadian itu akhirnya kuberikan kepadanya.
Dia memeluknya sepanjang perjalanan.
Suatu sore, kami duduk di teras.
Kirana sedang menggambar ketika tiba-tiba bertanya.
“Nenek masih sayang Ayah?”
Pertanyaan itu menghantam bagian paling rapuh dalam diriku.
Aku menatap halaman.
“Iya.”
“Walaupun Ayah jahat?”
Aku menarik napas panjang.
“Ayah melakukan sesuatu yang sangat salah.”
“Terus Nenek masih sayang?”
Aku mengangguk.
“Menyayangi seseorang bukan berarti kita harus membenarkan semua yang dia lakukan.”
Kirana terdiam.
Aku mengusap rambutnya.
“Kadang kita justru harus menghentikan orang yang kita sayangi supaya dia tidak melakukan kesalahan yang lebih besar.”
Dia seperti mencoba memahami.
Kemudian kembali menggambar.
Berbulan-bulan kemudian, aku menerima surat dari Ardi melalui pengacaranya.
Aku hampir tidak membukanya.
Di halaman terakhir, ada satu kalimat yang membuatku menangis.
Ma, malam itu aku takut Mama menghancurkan hidupku dengan membuka map merah. Sekarang aku baru sadar, kalau Mama tidak membuka semuanya, mungkin suatu hari aku benar-benar akan menghancurkan hidup Kirana.
Aku melipat surat itu.
Tidak membalasnya.
Belum.
Aku berjalan ke ruang tengah.
Kirana sedang mengenakan seragam sekolah barunya.
Dia berlari menghampiriku sambil membawa tas kelinci ungu.
“Nenek, ayo! Nanti telat!”
Aku tersenyum.
“Sepatunya sudah dipakai?”
Dia melihat ke bawah.
Belum.
Kami berdua tertawa.
Saat melihatnya berlari mencari sepatu, aku teringat malam ketika seluruh rumah dipenuhi karangan bunga atas namanya.
Semua orang mengira Kirana telah pergi.
Padahal dari balik sebuah pintu terkunci, seorang anak kecil masih berjuang agar suaranya didengar.
Dan pada akhirnya, bukan map merah yang menyelamatkan keluarga kami.
Bukan polisi.
Bukan pula dokumen-dokumen itu.
Melainkan tiga ketukan kecil dari seorang anak enam tahun yang menolak menghilang hanya karena orang-orang dewasa di sekelilingnya memilih berbohong.
Tok.
Tok.
Tok.
Tiga ketukan yang hampir tidak terdengar.
Tapi cukup keras untuk membongkar semuanya.
