“Bu Rina, pintu pesawat akan segera ditutup. Ibu ikut terbang atau tidak?”
Suara petugas itu terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh.
Aku berdiri membeku di depan gerbang keberangkatan, sementara di balik dinding kaca, langit yang beberapa menit lalu biru kini berubah kelabu kehitaman.
Awan tebal bergerak cepat dari arah barat.
Aku kembali menatap foto Naya di layar ponsel.
Putriku tersenyum sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya.
Tiba-tiba aku teringat percakapan kami pagi tadi.
“Mama pulang besok, kan?”
“Iya.”
“Janji?”
“Janji.”
Aku menarik koper menjauh dari pintu boarding.
“Saya tidak jadi berangkat.”
Petugas menatapku heran.
“Bu, bagasi sudah diproses. Kalau Ibu tidak naik sekarang, penerbangan akan berangkat tanpa Ibu.”
“Tidak apa-apa.”
Tanganku gemetar, tetapi untuk pertama kalinya sejak tiba di bandara, pikiranku terasa jernih.
Aku memilih pulang kepada Naya.
Apa pun akibatnya.
Belum sampai sepuluh langkah, ponselku berbunyi.

Citra menelepon.
Aku langsung mengangkatnya.
“Citra?”
“Rina, kamu benar-benar tidak naik?”
Suara mesin pesawat terdengar samar di belakangnya.
“Turun sekarang.”
Citra tertawa pendek.
“Jangan mulai lagi.”
“Lihat ke luar jendela.”
Beberapa detik sunyi.
“Awan gelap biasa.”
“Citra, dengarkan aku. Kalau masih bisa turun, turunlah.”
“Dan membiarkanmu pergi ke Surabaya besok sendirian?”
“Ini bukan soal kontrak.”
“Buat kamu mungkin.”
Nada suaranya berubah dingin.
“Buat aku, ini kesempatan yang kutunggu dua tahun.”
Aku mengepalkan tangan.
“Kesempatan kerja bisa datang lagi. Nyawa tidak.”
Citra terdiam sebentar.
Lalu terdengar pengumuman agar penumpang mematikan ponsel.
“Aku harus pergi.”
“Citra.”
“Aku tidak akan membiarkan rasa takutmu menghancurkan karierku.”
Sambungan terputus.
Aku langsung menelepon Pak Hendra.
Dia menjawab cepat.
“Sudah terlambat, Rina.”
“Pak, tolong hubungi maskapai. Minta penerbangan ditunda.”
“Kamu sadar apa yang kamu katakan?”
“Cuacanya berubah.”
“Karena awan?”
“Bukan cuma itu.”
“Rina, saya tidak punya waktu melayani kepanikan seperti ini.”
“Kalau sesuatu terjadi bagaimana?”
Pak Hendra menghela napas.
“Citra sudah berada di pesawat. Dia akan menangani klien. Mulai besok, kamu tidak perlu datang ke kantor.”
Aku tercekat.
“Pak…”
“Saya sudah memberi pilihan.”
Telepon ditutup.
Tujuh tahun.
Ratusan malam lembur.
Puluhan proyek.
Semua berakhir dalam satu panggilan.
Anehnya, aku tidak menangis.
Aku hanya menatap pesawat Citra yang perlahan meninggalkan apron.
Kemudian petir membelah langit.
Suara ledakannya mengguncang kaca terminal.
Orang-orang serentak menoleh.
Dalam hitungan menit, angin berubah ganas.
Hujan turun seperti dinding air.
Beberapa penerbangan di layar informasi mendadak berubah status menjadi DELAYED.
Kemudian CANCELED.
Suasana terminal berubah kacau.
Pengumuman terdengar bertubi-tubi.
Aku berdiri di depan jendela sambil memeluk tubuh sendiri.
Pesawat Citra sudah lepas landas.
Ponselku kembali bergetar.
Nomor tak dikenal.
“Bu Rina?”
Suara perempuan tua itu.
Dr. Ratih.
“Bu Ratih? Ibu di mana?”
“Sudah jauh dari kaca?”
Aku menelan ludah.
“Sudah.”
“Jangan pulang dulu.”
“Tapi anak saya di rumah.”
“Di mana?”
“Bekasi.”
Ia terdiam beberapa detik.
“Siapa yang bersamanya?”
“Pengasuhnya.”
“Telepon. Suruh mereka tetap di rumah.”
Jantungku semakin berdebar.
“Bu, sebenarnya apa yang sedang terjadi?”
“Ada perubahan tekanan yang sangat cepat dari Selat Sunda. Sistemnya kecil, tapi berkembang jauh lebih agresif dari model awal.”
“Kenapa tidak ada peringatan?”
“Ada data yang terlambat masuk. Aku melihat pola serupa puluhan tahun lalu.”
Aku memejamkan mata.
“Pesawat teman saya sudah berangkat.”
Ratih diam.
“Rute ke mana?”
“Surabaya.”
“Jam berapa lepas landas?”
Aku memberitahunya.
Napas Ratih terdengar berat.
“Berdoa saja pilotnya mengambil keputusan yang benar.”
Kalimat itu membuat lututku lemas.
Aku segera menelepon Citra.
Tidak aktif.
Sekali.
Dua kali.
Sepuluh kali.
Tetap tidak tersambung.
Sementara itu, hujan semakin brutal.
Air mulai masuk dari salah satu pintu terminal.
Petugas meminta penumpang menjauh dari jendela.
Aku akhirnya menemukan Ratih di sebuah area tunggu dekat lorong layanan.
Perempuan tua itu duduk dengan laptop terbuka, dikelilingi beberapa petugas bandara.
Tidak ada lagi yang menertawakannya.
“Bu Ratih.”
Ia menatapku.
“Kamu tidak naik.”
Aku menggeleng.
Untuk pertama kalinya ia tersenyum.
“Bagus.”
“Tapi teman saya naik.”
Senyumnya hilang.
Sebelum ia menjawab, seorang petugas berlari mendekat.
“Dok, penerbangan tujuan Surabaya tadi meminta perubahan ketinggian.”
Darahku terasa dingin.
“Apa pesawatnya bermasalah?”
Petugas itu tidak menjawabku.
Ratih menatap layar.
“Belum tentu. Pilot mungkin sedang menghindari sel badai.”
“Bisa kembali?”
“Kalau kondisi memungkinkan.”
Aku menatap ponsel.
Tidak ada kabar.
Lima belas menit kemudian, sebuah pesan masuk.
Citra.
Rina.
Hanya namaku.
Aku langsung mengetik.
Kamu aman?
Pesan berikutnya muncul.
Pesawat goyang parah.
Lalu.
Aku takut.
Aku menekan tombol panggilan.
Tidak tersambung.
Aku mengetik secepat mungkin.
Dengarkan instruksi kru. Pakai sabuk. Jangan panik.
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Rina, kalau aku tidak pulang, tolong bilang ke ibuku aku minta maaf.
Dadaku sesak.
Jangan bicara begitu. Kamu akan pulang.
Beberapa detik kemudian, Citra mengirim satu kalimat yang sama sekali tidak kuduga.
Aku yang mengambil desainmu.
Aku terpaku.
Pesan berikutnya masuk.
Proposal Semarang, konsep resort Bali, presentasi Surabaya ini. Semua dari foldermu.
Tanganku mulai gemetar.
Mengapa kamu mengatakan ini sekarang?
Karena aku pikir aku akan mati.
Aku menutup mulut.
Selama dua tahun aku membenci Citra.
Aku menganggapnya licik, ambisius, dan tidak punya hati.
Namun saat membaca pesan itu, yang kubayangkan bukan perempuan yang mencuri pekerjaanku.
Aku membayangkan seseorang yang sedang duduk sendirian di dalam pesawat yang terguncang badai, menyadari semua ambisinya mungkin tidak berarti lagi.
Kamu tidak akan mati, tulisku.
Kalau selamat, kita selesaikan semuanya.
Citra menjawab.
Kenapa kamu masih baik padaku?
Aku menatap pertanyaan itu lama.
Karena saat ini kamu bukan sainganku. Kamu orang yang sedang ketakutan.
Pesan tidak lagi terkirim.
Sinyalnya hilang.
Hampir satu jam aku menunggu.
Setiap menit terasa seperti satu hari.
Kemudian sebuah pengumuman terdengar dari televisi di area tunggu.
Sejumlah penerbangan dialihkan karena cuaca ekstrem.
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku jatuh.
Seorang petugas memeriksa informasi.
“Penerbangan ke Surabaya tadi dialihkan.”
“Ke mana?”
“Yogyakarta.”
“Sudah mendarat?”
“Sedang melakukan pendekatan.”
Aku menggenggam ponsel begitu erat sampai jari-jariku sakit.
Lima belas menit.
Dua puluh menit.
Lalu pesan masuk.
Aku selamat.
Aku langsung menangis.
Bukan tangisan pelan.
Aku menangis seperti seseorang yang baru menyadari betapa tipis jarak antara kehidupan biasa dan kehilangan.
Malam itu bandara penuh penumpang terlantar.
Aku tidur di kursi sambil memeluk koper.
Ratih duduk tidak jauh dariku.
Menjelang tengah malam, aku bertanya kepadanya.
“Bagaimana Ibu bisa yakin?”
Ratih tersenyum lelah.
“Aku tidak yakin.”
Aku terdiam.
“Tapi tadi Ibu mengatakan…”
“Aku melihat tanda-tandanya. Tekanan turun cepat, pola angin berubah, kelembapan meningkat. Aku memperkirakan risiko berdasarkan pengalaman.”
“Jadi Ibu bisa saja salah?”
“Tentu.”
Ia menatapku lama.
“Ilmu pengetahuan bukan kemampuan melihat masa depan, Rina. Kita hanya belajar membaca tanda sebelum akibatnya terlihat.”
Aku memandang hujan di luar.
“Kalau ternyata tidak terjadi apa-apa, semua orang akan menganggap Ibu gila.”
Ratih tersenyum tipis.
“Itu pernah terjadi.”
“Lalu kenapa tetap memperingatkan orang?”
“Karena harga dipermalukan jauh lebih murah daripada harga diam ketika kita melihat bahaya.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Tiga hari kemudian, cuaca membaik.
Aku pulang.
Naya berlari dari pintu dan memeluk pinggangku.
“Mama tidak jadi ke Surabaya?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Aku berjongkok.
“Karena Mama memilih pulang.”
Naya mengangguk seolah jawaban itu sudah cukup.
Senin pagi, aku mulai memperbarui CV.
Aku sudah kehilangan pekerjaan.
Setidaknya itulah yang kupikirkan.
Pukul sembilan, bel rumah berbunyi.
Citra berdiri di depan pintu.
Wajahnya pucat.
Matanya sembap.
Di tangannya ada laptop dan map tebal.
“Aku boleh masuk?”
Aku tidak menjawab beberapa detik.
Akhirnya aku membuka pintu.
Citra duduk di ruang tamu.
“Aku sudah mengundurkan diri.”
Aku terkejut.
“Apa?”
“Pagi tadi.”
Ia meletakkan map di meja.
“Aku juga mengirim semua bukti kepada direksi.”
“Bukti apa?”
Citra membuka laptop.
Email.
Riwayat dokumen.
File presentasi.
Percakapan dengan Pak Hendra.
Semua ada.
Termasuk pesan Pak Hendra yang memintanya mengambil beberapa konsep dari folder kerjaku karena menurutnya aku “terlalu idealis untuk tahu cara menjual ide”.
Dadaku panas.
“Jadi Pak Hendra tahu?”
Citra menunduk.
“Dia yang pertama kali menyuruhku.”
“Dan kamu menurut?”
Air mata memenuhi matanya.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku takut.”
Aku tertawa getir.
“Takut?”
“Kontrakku hampir tidak diperpanjang waktu itu. Ayahku sakit. Aku butuh uang.”
Ia mengusap wajah.
“Awalnya aku pikir cuma satu presentasi. Setelah berhasil, semuanya semakin mudah.”
Aku diam.
Tidak ada alasan yang bisa menghapus apa yang dia lakukan.
Tetapi untuk pertama kalinya aku memahami bagaimana seseorang bisa berjalan terlalu jauh setelah melakukan satu kesalahan kecil.
“Aku tidak meminta kamu memaafkan aku,” katanya. “Aku cuma ingin mengembalikan sesuatu yang seharusnya milikmu.”
“Apa?”
“Proyek Surabaya.”
Aku mengernyit.
Citra menggeser laptop ke arahku.
Ada email dari direktur perusahaan klien.
Mereka mengetahui seluruh kejadian setelah penerbangan dialihkan.
Mereka juga menerima bukti bahwa sebagian besar konsep desain berasal dariku.
Klien menolak melanjutkan pembicaraan dengan Pak Hendra.
Mereka ingin berbicara langsung denganku.
“Nilai proyeknya lebih besar dari sebelumnya,” kata Citra.
Aku menatap layar tanpa percaya.
“Kenapa mereka memilihku?”
Citra tersenyum pahit.
“Karena ternyata mereka tidak hanya mencari orang yang bisa membuat desain bagus.”
Ia berhenti.
“Mereka mencari orang yang berani mengambil keputusan ketika semua orang menyuruhnya melakukan hal sebaliknya.”
Dua minggu kemudian, Pak Hendra diberhentikan setelah audit internal menemukan sejumlah pelanggaran lain.
Aku ditawari kembali ke kantor.
Aku menolak.
Sebagai gantinya, aku mendirikan studio kecil bersama dua mantan rekan yang selama ini sering membantuku.
Klien Surabaya menjadi proyek pertama kami.
Citra?
Aku tidak langsung menerimanya bekerja.
Kepercayaan tidak bisa dipulihkan hanya dengan permintaan maaf.
Namun enam bulan kemudian, setelah melihat bagaimana ia benar-benar memperbaiki hidupnya, aku memberinya kesempatan sebagai konsultan pemasaran proyek.
Dengan satu syarat.
Tidak ada lagi karya siapa pun yang boleh kehilangan nama penciptanya.
Ia setuju.
Suatu sore, hampir setahun setelah kejadian itu, aku kembali ke Bandara Soekarno-Hatta.
Kali ini bukan untuk mengejar kontrak.
Aku akan pergi berlibur bersama Naya.
Saat melewati taman kecil tempat semuanya bermula, aku melihat seorang perempuan tua sedang duduk sendirian.
Rambut putih.
Tas cokelat.
Botol air di tangan.
Aku tersenyum.
“Bu Ratih?”
Ia menoleh.
“Kamu.”
Aku duduk di sampingnya.
“Naya, ini orang yang pernah menyelamatkan Mama.”
Ratih tertawa.
“Bukan aku.”
Ia menatapku.
“Aku cuma memberi peringatan. Ibumu yang memilih mendengarkan.”
Sebelum berpisah, aku bertanya satu hal yang selama setahun terus menggangguku.
“Bu, waktu itu kenapa Ibu mengejar saya? Ada ratusan orang di bandara. Kenapa saya?”
Ratih terdiam.
Kemudian ia tersenyum.
“Karena ketika aku hampir pingsan, ratusan orang lewat.”
Ia menunjuk botol air di tangannya.
“Hanya kamu yang berhenti.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Ratih berdiri dan berjalan perlahan menjauh.
Naya menggenggam tanganku.
“Mama.”
“Hmm?”
“Kalau waktu itu Mama tidak nolong Nenek Ratih, berarti Nenek Ratih juga tidak akan nolong Mama?”
Aku memandang perempuan tua itu menghilang di antara kerumunan.
“Mungkin.”
“Berarti Mama selamat karena Mama baik?”
Aku tersenyum dan mengusap rambut putriku.
“Bukan begitu.”
“Terus?”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Kadang kita tidak pernah tahu ke mana satu kebaikan kecil akan membawa kita.”
Di papan keberangkatan, penerbangan kami mulai memanggil penumpang.
Kali ini langit cerah.
Aku dan Naya berjalan menuju gerbang.
Dan akhirnya aku mengerti.
Hari itu aku memang kehilangan penerbangan yang kupikir akan menentukan masa depanku.
Aku kehilangan pekerjaan.
Aku kehilangan tujuh tahun karier yang kubangun dengan susah payah.
Namun justru karena kehilangan semua itulah, aku menemukan sesuatu yang selama ini tidak pernah kumiliki.
Keberanian untuk menentukan hidupku sendiri.
Dan semuanya bermula dari keputusan sederhana di sebuah bandara.
Berhenti sebentar ketika orang lain memilih terus berjalan.
