Teman Sekamarku Sengaja Mencuci Boneka Berisi Rekaman Terakhir Suara Ibuku, Lalu Menuduhku Membullynya karena Depresi

Tamparanku mendarat tepat di pipi Nadya.

Suara itu terdengar begitu keras hingga kamar kami mendadak sunyi.

Nadya terhuyung setengah langkah. Tangannya perlahan menyentuh pipinya yang memerah. Rani dan Siska menatapku seolah aku baru saja melakukan sesuatu yang tak termaafkan.

Sementara aku berdiri dengan boneka kelinci basah di dada.

Tanganku gemetar.

Bukan karena marah lagi.

Melainkan karena suara Ibu benar-benar sudah hilang.

“Nisa!”

Rani menarik bahuku.

“Kamu gila? Kenapa main tangan?”

Aku bahkan tidak mampu menjawab.

Nadya menatapku dengan mata membesar. Senyum kecil yang tadi kulihat sudah lenyap. Air mata mulai memenuhi matanya.

“Aku cuma mencuci bonekanya.”

“Kamu tahu ada rekamannya.”

“Aku nggak tahu.”

“Jangan bohong!”

Aku menekan tombol di perut boneka.

“Krrrzzzt.”

Suara elektronik rusak itu menusuk telingaku.

“Seminggu lalu kamu dengar sendiri suara Ibu!”

Wajah Nadya berubah.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku melihatnya.

Dia ingat.

Siska berdiri di depan Nadya seolah melindunginya dariku.

“Cukup, Nis. Dia memang salah, tapi kamu nggak boleh mukul orang.”

Lalu Nadya mulai menangis.

“Aku benar-benar lupa.”

Dia menutup wajahnya.

“Akhir-akhir ini pikiranku kacau. Aku susah tidur. Aku bahkan sering nggak ingat apa yang kulakukan.”

Rani langsung memeluknya.

Dan seperti biasa, percakapan berhenti pada satu kata.

Depresi.

Aku yang marah menjadi kejam.

Nadya yang menghancurkan barang paling berharga milikku menjadi korban.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku membongkar jahitan perut boneka dengan tangan gemetar dan mengeluarkan modul suara kecil yang basah.

Aku mengeringkannya dengan tisu, meletakkannya di depan kipas, lalu mencari forum elektronik sampai hampir subuh.

Tidak ada yang menjamin rekamannya bisa kembali.

Sekitar pukul tiga pagi, ponselku bergetar.

Grup kelas mendadak ramai.

Seseorang mengirim tangkapan layar status WhatsApp Nadya.

“Aku sudah berusaha bertahan. Tapi tinggal satu kamar dengan orang yang membenci kondisi mentalku ternyata lebih berat daripada yang kukira. Hari ini aku ditampar hanya karena melakukan kesalahan kecil. Mungkin memang aku yang seharusnya pergi.”

Di bawahnya ada foto pipinya yang memerah.

Namaku memang tidak disebut.

Tapi semua orang tahu kami sekamar.

Pagi harinya, aku menerima belasan pesan.

“Nis, serius kamu nampar Nadya?”

“Bukannya kamu juga punya gangguan mental? Harusnya kamu lebih ngerti.”

“Kalau sampai dia kenapa-kenapa gimana?”

Kalimat terakhir membuat dadaku sesak.

Bukan karena merasa bersalah.

Melainkan karena aku tahu apa yang sedang terjadi.

Nadya telah mengubah ceritanya sebelum aku sempat mengatakan apa pun.

Siang itu dosen wali memanggil kami.

Nadya datang ditemani Rani.

Aku sendirian.

Di ruangan itu Nadya menangis sambil bercerita bahwa selama beberapa bulan terakhir dia merasa ditekan olehku.

Katanya aku sering memaksanya mengerjakan tugas ketika kondisinya buruk.

Katanya aku tidak pernah menghargai depresinya.

Katanya aku sengaja berbicara kasar karena tahu dia mudah panik.

Tamparan kemarin disebut sebagai puncaknya.

Aku mendengarkan sampai selesai.

Kemudian dosen wali bertanya, “Nisa, kamu mengakui menampar Nadya?”

“Iya.”

Ruangan langsung sunyi.

“Tapi saya menamparnya setelah dia mengambil barang pribadi saya tanpa izin dan sengaja merusaknya.”

“Sengaja?” Nadya langsung mengangkat kepala. “Kamu punya bukti?”

Aku terdiam.

Aku tidak punya.

Yang kumiliki hanya ingatan bahwa dia pernah mendengar rekaman Ibu.

Dan senyum kecil yang hanya kulihat sendiri.

Akhirnya pihak kampus meminta kami tidak tinggal sekamar sementara waktu. Aku juga mendapat teguran karena melakukan kekerasan fisik.

Kupikir masalah itu akan berhenti.

Ternyata baru dimulai.

Dua hari kemudian, sebuah akun anonim mengunggah cerita tentang “mahasiswi bipolar yang melakukan kekerasan kepada teman sekamarnya yang depresi”.

Tidak ada nama.

Tetapi detailnya terlalu spesifik.

Fakultas kami.

Kos kami.

Tugas kelompok kami.

Bahkan boneka kelinci disebut.

Komentarnya ratusan.

Sebagian orang menyebutku munafik.

Sebagian mempertanyakan apakah orang dengan bipolar pantas tinggal bersama mahasiswa lain.

Yang paling menyakitkan bukan hinaan mereka.

Melainkan ketakutanku sendiri.

Aku mulai sulit tidur.

Tanganku terus dingin.

Pikiranku melaju semakin cepat.

Aku mengenali tanda-tandanya.

Karena itu aku menghubungi psikiaterku.

Aku tidak mau membiarkan Nadya menyeretku sampai kehilangan kendali atas diriku sendiri.

Dokter menyuruhku menjaga rutinitas, tidak menghentikan obat, membatasi media sosial, dan segera mencari bantuan jika gejalaku memburuk.

Untuk pertama kalinya sejak Ibu meninggal, aku harus belajar menenangkan diri tanpa rekamannya.

Ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan.

Seminggu kemudian aku membawa modul suara boneka itu ke sebuah toko servis elektronik kecil di kawasan Dago.

Pemiliknya, seorang pria bernama Pak Dedi, memeriksanya hampir setengah jam.

“Speakernya mati. Beberapa jalurnya korosi.”

“Datanya masih ada?”

Pak Dedi mengangkat bahu.

“Kalau chip memorinya selamat, mungkin.”

Kata mungkin menjadi satu-satunya harapanku.

Aku meninggalkan modul itu di sana.

Tiga hari kemudian Pak Dedi menelepon.

“Neng, bisa datang?”

Aku berlari ke sana setelah kelas.

Pak Dedi memasang modul itu ke perangkat kecil yang terhubung dengan laptop.

“Ada beberapa file audio di memorinya.”

Jantungku berdegup keras.

“Bisa diputar?”

“Sebagian rusak.”

Dia mengklik sebuah file.

Suara berdesis memenuhi ruangan.

Kemudian samar-samar terdengar suara yang sangat kukenal.

“Nisa…”

Aku langsung menutup mulut.

Air mataku jatuh.

“Nisa, jangan takut.”

Suara Ibu pecah-pecah, tetapi masih ada.

Aku menangis begitu keras sampai Pak Dedi memberiku tisu dan pura-pura sibuk melihat layar.

Namun kemudian dia mengernyit.

“Ini aneh.”

“Apa?”

“Perangkat ini pernah merekam ulang setelah kena air.”

Aku membeku.

“Memangnya bisa?”

“Modulnya sederhana. Tombolnya kalau ditekan lama masuk mode rekam.”

Dia membuka file terakhir.

Tanggalnya sehari setelah boneka dicuci.

Suara pertama yang terdengar membuat darahku dingin.

Suara Nadya.

Pelan, tetapi sangat jelas.

“Kalau rusak begini, dia pasti ngamuk.”

Kemudian terdengar suara lain.

Siska.

“Kamu sengaja masukin ke mesin cuci?”

Beberapa detik sunyi.

Lalu Nadya tertawa kecil.

“Biar dia tahu rasanya kehilangan sesuatu.”

Aku berhenti bernapas.

Rekaman berlanjut.

Siska terdengar panik.

“Ya ampun, Nad. Kamu bilang cuma mau pinjam.”

“Dia sok paling menderita cuma karena ibunya meninggal dan dia bipolar. Semua orang selalu bilang dia kuat. Aku muak.”

Kemudian terdengar suara gesekan.

Nadya kembali berkata,

“Kalau dia marah, lebih bagus. Orang bakal lihat sifat aslinya.”

Tanganku mencengkeram meja.

Jadi benar.

Dia memang sengaja.

Namun bagian berikutnya bahkan lebih mengejutkan.

Siska bertanya,

“Kamu yang bikin akun anonim itu juga?”

Nadya menjawab santai.

“Biar dia kapok.”

Aku menatap Pak Dedi.

Dia juga menatapku.

Tak satu pun dari kami bicara.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, aku memiliki bukti.

Tetapi aku tidak langsung mengunggahnya.

Aku membuat salinan file, menyimpannya di beberapa tempat, lalu membawanya ke dosen wali dan pengelola kos.

Siska dipanggil.

Awalnya dia menyangkal.

Sampai rekaman diputar.

Wajahnya langsung pucat.

Akhirnya dia mengaku.

Nadya memang sengaja mengambil bonekaku.

Dia tahu persis rekaman suara Ibu ada di dalamnya.

Lebih buruk lagi, ternyata selama beberapa bulan Siska beberapa kali melihat Nadya menggunakan kondisi mentalnya untuk menghindari tanggung jawab.

Namun dia diam karena takut dianggap tidak berempati.

Rani juga akhirnya bicara.

Menurutnya, beberapa status tentang kematian ternyata selalu muncul tepat setelah Nadya bertengkar dengan seseorang atau diminta bertanggung jawab.

Bukan berarti depresi Nadya palsu.

Itulah bagian yang paling rumit.

Nadya memang pernah mendapat diagnosis depresi.

Dia memang menjalani terapi.

Dia memang pernah mengalami masa yang sangat buruk.

Tetapi sakit tidak membuat semua tindakannya otomatis benar.

Ketika dipanggil pihak kampus, Nadya menangis.

Kali ini tangisannya berbeda.

Tidak ada status WhatsApp.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada orang yang langsung membelanya.

Hanya dirinya dan rekaman suaranya sendiri.

“Aku waktu itu marah,” katanya.

“Kamu selalu kelihatan baik-baik saja, Nis. Kamu punya bipolar, tapi nilai kamu bagus. Kamu tetap bisa presentasi. Semua orang bilang kamu kuat. Sedangkan aku…”

Dia menunduk.

“Aku selalu dianggap merepotkan.”

Aku menatapnya lama.

Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu selain kebencian.

Iri.

“Jadi kamu menghancurkan suara terakhir ibuku?”

Nadya menangis.

“Aku cuma ingin kamu kehilangan kendali sekali saja.”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada semua hinaan di internet.

Karena akhirnya aku mengerti.

Dia tidak menginginkan bonekaku.

Dia menginginkan kehancuranku.

Pihak kampus menjatuhkan sanksi atas perusakan barang, penyebaran informasi menyesatkan, dan intimidasi digital. Nadya juga diwajibkan menjalani pendampingan psikologis lebih intensif.

Aku tidak meminta dia dikeluarkan.

Bukan karena aku memaafkannya.

Tetapi karena aku tidak ingin balas dendam menjadi alasan lain bagiku untuk kehilangan kendali.

Aku juga menerima konsekuensi atas tamparanku.

Karena meskipun kemarahanku punya alasan, tanganku tetap tanggung jawabku.

Beberapa minggu kemudian, akun anonim itu menghapus semua unggahannya.

Siska meminta maaf.

Rani juga.

“Aku kira membela orang yang depresi berarti harus selalu percaya semua yang dia bilang,” katanya.

Aku menjawab pelan, “Orang yang sakit tetap bisa salah. Orang yang terlihat kuat juga tetap bisa terluka.”

Boneka kelinciku akhirnya kembali.

Pak Dedi mengganti speaker dan membuat salinan digital semua rekaman yang berhasil diselamatkan.

Tidak semuanya utuh.

Ada bagian yang hilang selamanya.

Namun suara terpenting masih ada.

Malam pertama setelah boneka itu kembali, aku duduk sendirian di kamar baruku.

Aku menekan tombol di perutnya.

Ada sedikit desis.

Kemudian suara Ibu terdengar.

“Nisa, jangan takut.”

Aku memejamkan mata.

“Tarik napas pelan-pelan. Ibu di sini.”

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, aku tersenyum.

Lalu suara Ibu berlanjut.

Sebuah bagian yang sebelumnya tidak pernah kudengar.

Mungkin selama bertahun-tahun rekamannya selalu berhenti sebelum mencapai bagian itu.

“Nisa, suatu hari mungkin Ibu sudah tidak ada ketika kamu mendengar ini.”

Dadaku sesak.

“Tapi jangan jadikan suara Ibu satu-satunya alasan kamu bertahan.”

Air mataku mulai jatuh.

“Kamu harus belajar menjadi suara yang menenangkan dirimu sendiri.”

Aku menutup mulut, menangis tanpa suara.

“Ibu sayang kamu. Tapi hidupmu bukan milik Ibu. Hidupmu milikmu.”

Rekaman berhenti.

Aku duduk lama sambil memeluk boneka itu.

Selama bertahun-tahun aku mengira benda itu adalah jangkar yang menyelamatkanku.

Ternyata Ibu sejak awal tidak pernah ingin aku bergantung padanya selamanya.

Beberapa bulan kemudian, aku bertemu Nadya sekali lagi di klinik kampus.

Kami duduk berjauhan.

Dia terlihat lebih kurus.

Sebelum pergi, dia menghampiriku.

“Aku nggak minta kamu memaafkan aku.”

Aku diam.

“Aku cuma mau bilang… waktu itu depresiku memang nyata. Tapi aku memakai rasa sakitku untuk menyakiti orang lain.”

Aku menatapnya.

Nadya menelan ludah.

“Dan aku baru sadar, diagnosis bukan izin untuk melakukan apa saja.”

Aku tidak memeluknya.

Tidak mengatakan semuanya baik-baik saja.

Karena memang tidak.

Aku hanya mengangguk.

“Semoga kamu benar-benar sembuh, Nad.”

Dia tersenyum tipis.

“Kamu juga.”

Aku pulang sore itu melewati jalanan Bandung yang basah setelah hujan.

Boneka kelinci Ibu tidak lagi kubawa ke mana-mana.

Sekarang ia kusimpan di kamar, di dalam kotak bening bersama foto Ibu.

Rekamannya sudah kusimpan di laptop dan beberapa penyimpanan cadangan.

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa disalin ke perangkat mana pun.

Pelajaran bahwa empati tidak berarti membiarkan seseorang menyakiti kita.

Kesehatan mental menjelaskan banyak hal, tetapi tidak menghapus tanggung jawab.

Dan menjadi kuat bukan berarti tidak boleh hancur.

Kadang kekuatan justru dimulai ketika kita berani berkata bahwa sesuatu telah menyakiti kita, meminta pertolongan, lalu memilih untuk tidak meneruskan luka itu kepada orang lain.

Malam itu, sebelum tidur, aku tidak menekan tombol boneka.

Aku menarik napas pelan-pelan.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Kemudian di dalam kepalaku, untuk pertama kalinya suara yang berkata jangan takut bukan lagi suara Ibu.

Itu suaraku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang