Adikku Memotong Rambut Tujuh Tahunku Demi Taruhan, Pacarku Ikut Membayar—Malam Itu Aku Memutuskan Pergi untuk Selamanya

Malam itu, ketika semua orang di meja makan masih tertawa melihat rambutku yang dipotong sebelah, aku menerima pekerjaan yang selama sebulan terakhir kutolak demi mereka.

“Saya berangkat.”

Pesan itu terkirim pukul 20.47.

Tak sampai semenit, direkturku membalas.

“Keputusan yang tepat. Senin depan datang ke Surabaya. Semua fasilitas relokasi kami siapkan.”

Aku mematikan layar ponsel.

Tidak ada rasa lega yang meledak-ledak. Tidak ada keberanian dramatis seperti dalam film. Yang kurasakan justru hening.

Seolah sesuatu yang selama bertahun-tahun mengikat dadaku akhirnya putus.

“Laras.”

Suara Raka membuatku mengangkat kepala.

Dia menunjuk piringku.

“Kamu nggak makan?”

“Nggak lapar.”

Nadya tertawa kecil.

“Jangan bilang masih ngambek gara-gara rambut.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak marah.

Mungkin karena aku sudah tahu bahwa sebentar lagi perempuan di depanku tidak akan punya kesempatan mempermainkanku lagi.

“Enggak,” jawabku. “Aku cuma capek.”

Ibu mendengus.

“Bagus kalau sadar. Jangan bikin suasana Lebaran jadi nggak enak.”

Aku mengangguk.

Setelah makan malam selesai, aku masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Di depan cermin, barulah aku melihat kerusakannya dengan jelas.

Rambut sebelah kiriku masih menjuntai melewati pinggang. Sebelah kanan terpotong tidak rata sedikit di bawah telinga.

Aku menyentuh bagian yang hilang.

Tujuh tahun.

Aku mulai memanjangkannya setelah nenek meninggal. Nenek selalu menyisir rambutku ketika aku kecil dan berkata bahwa rambut panjangku mirip milik almarhumah ibunya.

Nadya tahu cerita itu.

Raka juga tahu.

Mereka tetap menjadikannya taruhan dua ratus ribu rupiah.

Anehnya, aku tidak menangis lagi.

Aku mengambil gunting dari meja rias.

Cras.

Rambut panjang di sisi satunya jatuh.

Aku terus memotong sampai panjangnya hampir sama, lalu memesan salon untuk pagi berikutnya.

Setelah itu aku membuka lemari.

Koper terbesar kuturunkan.

Pakaian kerja, dokumen, laptop, buku tabungan, ijazah, paspor.

Satu per satu kumasukkan.

Pukul sebelas malam, Raka mengetuk pintu.

“Sayang?”

Aku diam.

“Buka dong. Aku mau ngomong.”

Aku membuka pintu.

Raka masuk sambil membawa sebuah kotak kecil.

Aku mengenali kotak itu.

Cincin.

“Aku sebenarnya mau kasih ini setelah Lebaran,” katanya. “Tapi kayaknya sekarang waktu yang tepat.”

Dia membukanya.

Sebuah cincin berlian kecil berkilau di bawah lampu.

“Ini bukan lamaran resmi. Anggap aja tanda kalau akhir tahun nanti kita benar-benar tunangan.”

Dulu, mungkin aku akan menangis bahagia.

Malam itu aku hanya bertanya, “Kamu bayar berapa ke Nadya?”

Wajahnya berubah.

“Apaan?”

“Taruhan tadi.”

“Dua ratus ribu. Kamu lihat sendiri.”

“Bukan itu.”

Aku menatap matanya.

“Berapa kamu bayar supaya dia memotong rambutku?”

Raka membeku.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku melihatnya.

“Aku nggak ngerti maksudmu.”

Aku mengambil ponsel.

Ketika Nadya mengirim foto ke grup keluarga tadi, aku sempat melihat layar ponselnya. Ada notifikasi transfer lain tepat di bawah transfer dua ratus ribu.

Satu juta rupiah.

Dari Raka.

“Aku lihat transfer satu juta.”

Raka mengusap wajah.

“Ya ampun, Laras.”

Dia tertawa pendek.

“Itu cuma tambahan taruhan.”

“Taruhan apa?”

Dia tidak menjawab.

Aku membuka pintu kamar.

“Nadya!”

Beberapa detik kemudian adikku muncul.

“Apa sih?”

“Raka transfer satu juta buat apa?”

Nadya menoleh kepada Raka.

Kesalahan terbesar mereka malam itu adalah saling menatap.

Aku langsung tahu.

“Nadya.”

“Ya buat seru-seruan aja.”

“Seru-seruan apa?”

Dia mulai kesal.

“Mas Raka bilang kalau aku berani potong lebih dari tiga puluh sentimeter, dia kasih sejuta.”

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

Aku menoleh kepada pria yang tujuh tahun menemaniku.

Raka langsung membela diri.

“Aku cuma bercanda.”

“Jadi kamu menyuruh dia?”

“Nggak menyuruh. Aku cuma bilang kalau dia berani.”

“Apa bedanya?”

Suara kami membuat Ayah dan Ibu datang.

Begitu mendengar persoalannya, Ayah justru berkata, “Sudahlah. Uangnya juga cuma sejuta.”

Aku tertawa.

Entah kenapa, kalimat itu lucu sekali.

“Jadi masalahnya jumlah uang?”

“Laras,” tegur Ibu. “Jangan cari ribut lagi.”

Aku mengangguk perlahan.

“Benar.”

Semua orang menatapku.

“Aku memang seharusnya berhenti cari ribut.”

Aku masuk kamar dan menutup pintu.

Raka mengira pembicaraan selesai.

Padahal bagiku, hubungan kami sudah selesai.

Keesokan paginya aku pergi ke salon.

Aku meminta penata rambut memotong semuanya menjadi bob pendek sebahu.

Saat rambut terakhir jatuh, aku menatap perempuan di cermin.

Wajah yang sama.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku merasa perempuan itu adalah milikku sendiri.

Tiga hari berikutnya kuhabiskan dengan tenang.

Aku mencari apartemen di Surabaya, mengurus pemindahan pekerjaan, mengirim sebagian barang lewat jasa ekspedisi, dan memindahkan seluruh tabunganku dari rekening yang selama ini diketahui Raka ke rekening baru.

Aku juga membatalkan rencana pembayaran uang muka gedung pernikahan.

Raka tidak tahu.

Keluargaku juga tidak.

Mereka mengira aku sudah memaafkan semuanya karena aku kembali makan bersama dan tidak pernah membahas rambut lagi.

Nadya bahkan beberapa kali bercanda.

“Kak Laras ternyata cocok rambut pendek. Harusnya dari dulu aku potong.”

Aku hanya tersenyum.

Hari Minggu malam, sehari sebelum keberangkatanku, Ibu masuk kamar.

“Koper kamu mana?”

“Sudah dikirim.”

“Dikirim ke mana?”

“Surabaya.”

Wajah Ibu berubah.

“Untuk apa?”

“Aku pindah.”

Beliau tertawa karena mengira aku bercanda.

Sampai kuberikan salinan surat penempatan.

“Besok pagi aku berangkat. Mulai bulan depan aku kepala operasional cabang Surabaya.”

Ibu membaca surat itu dua kali.

Kemudian suaranya meninggi.

“Kamu sudah gila?”

Ayah datang tergesa-gesa.

Nadya menyusul.

Dalam waktu kurang dari lima menit, ruang keluarga berubah menjadi pengadilan.

“Kamu mau meninggalkan keluarga hanya karena rambut?” bentak Ayah.

“Bukan karena rambut.”

“Terus karena apa?”

Aku memandang mereka.

“Karena tiga puluh tahun hidup di rumah ini cukup untuk membuatku tahu bahwa perasaanku selalu dianggap lelucon.”

Ibu langsung menangis.

“Kami membesarkanmu dari kecil!”

“Aku tahu.”

“Kami menyekolahkanmu!”

“Aku juga tahu.”

“Lalu begini balasanmu?”

Aku menarik napas.

“Aku pindah kota untuk bekerja, Bu. Bukan melakukan kejahatan.”

Nadya menyilangkan tangan.

“Drama banget.”

Aku menatapnya.

“Mulai bulan depan, cicilan mobilmu bayar sendiri.”

Wajahnya langsung pucat.

“Apa?”

Mobil yang digunakan Nadya setiap hari dibeli atas namaku dua tahun lalu karena saat itu penghasilannya belum memenuhi syarat kredit.

Setiap bulan aku membayar hampir tujuh puluh persen cicilannya.

“Kakak serius?”

“Sangat.”

“Kak, aku cuma bercanda soal rambut.”

“Dan aku tidak bercanda soal cicilan.”

Ayah memukul meja.

“Jangan libatkan uang!”

Aku hampir tertawa.

Selama bertahun-tahun aku membayar tagihan internet rumah, asuransi kesehatan Ibu, sebagian cicilan mobil Nadya, dan beberapa kebutuhan lain karena penghasilanku paling stabil.

Tidak pernah ada yang menyebut uang sampai aku berhenti memberikannya.

Pukul sembilan malam, Raka datang.

Entah siapa yang meneleponnya.

Dia langsung masuk ke kamarku.

“Kamu mau ke Surabaya?”

“Iya.”

“Kapan kamu mau kasih tahu aku?”

“Sekarang kamu sudah tahu.”

“Bagaimana dengan pertunangan kita?”

“Batal.”

Dia terdiam.

Wajahnya berubah merah.

“Cuma gara-gara taruhan bodoh?”

Aku mengeluarkan kotak cincin yang diberikannya malam itu.

Kutaruh di telapak tangannya.

“Bukan karena taruhan.”

“Terus?”

“Karena ketika seseorang menyakitiku, kamu ikut tertawa.”

Raka menggenggam cincin itu.

“Aku sudah tujuh tahun sama kamu.”

“Justru itu.”

Aku menatapnya lurus.

“Tujuh tahun seharusnya cukup untuk tahu kapan aku benar-benar terluka.”

Dia mencoba meraih tanganku.

Aku mundur.

“Laras, jangan buang tujuh tahun cuma karena satu malam.”

“Aku tidak membuang tujuh tahun.”

Suaraku bergetar, tetapi aku tidak menghindari tatapannya.

“Aku menghentikan tahun kedelapan supaya tidak sama seperti tujuh tahun sebelumnya.”

Pagi berikutnya aku berangkat.

Tidak ada adegan dramatis.

Ayah tidak mengantarku.

Ibu tidak keluar kamar.

Nadya mengunci diri.

Raka mengirim puluhan pesan yang tidak kubalas.

Ketika pesawat meninggalkan Jakarta, aku melihat kota itu mengecil dari jendela.

Aku menangis.

Bukan karena menyesal.

Aku menangisi diriku sendiri yang selama bertahun-tahun mengira bertahan adalah bukti cinta.

Enam bulan pertama di Surabaya tidak mudah.

Aku tinggal sendirian di apartemen kecil dekat kantor. Aku bekerja lebih keras daripada sebelumnya karena tidak ingin orang menganggap promosiku sebuah kesalahan.

Namun perlahan, hidupku berubah.

Aku mulai berlari setiap pagi.

Aku menemukan salon kecil langganan.

Aku punya teman-teman baru yang tidak menjadikan kelemahanku bahan candaan.

Dan untuk pertama kalinya, setiap kali pulang kerja, aku membuka pintu rumah tanpa takut seseorang akan mempermalukanku lalu menyebutnya bercanda.

Tiga bulan setelah kepindahanku, Ibu menelepon.

Bukan untuk menanyakan kabarku.

“Laras, cicilan mobil Nadya menunggak.”

“Hubungi Nadya.”

“Dia belum dapat pekerjaan tetap.”

“Itu mobilnya.”

“Tapi atas nama kamu.”

“Makanya minggu lalu sudah aku jual setelah dia setuju menyerahkannya ke leasing.”

Telepon mendadak sunyi.

“Kamu tega sekali sama adik sendiri.”

Aku menutup mata.

Dulu kalimat seperti itu bisa membuatku merasa bersalah berhari-hari.

Sekarang tidak lagi.

“Bu, membantu orang bukan berarti aku harus membiarkan dia memperlakukanku sesuka hati.”

Ibu memutus telepon.

Setahun berlalu.

Karierku berkembang jauh lebih cepat dari perkiraanku.

Cabang Surabaya yang sebelumnya terus merugi berhasil mencatat keuntungan untuk pertama kalinya dalam empat tahun.

Perusahaan kemudian memberiku tanggung jawab mengawasi wilayah Jawa Timur.

Suatu sore, saat aku selesai memimpin rapat, resepsionis menelepon.

“Bu Laras, ada seseorang ingin bertemu.”

“Siapa?”

“Katanya adik Ibu.”

Aku turun ke lobi.

Nadya berdiri di sana.

Dia terlihat berbeda.

Tidak ada pakaian mahal, tidak ada tas bermerek yang biasa dipamerkannya. Rambutnya diikat sederhana.

Ketika melihatku, dia tidak tersenyum.

“Kak.”

Aku menunggu.

“Aku mau minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

Dia menelan ludah.

“Bukan soal rambut saja.”

Matanya mulai basah.

“Semua.”

Dia bercerita bahwa setelah aku pergi, keadaan rumah berubah.

Ayah dan Ibu mulai menyadari betapa banyak hal yang selama ini kuurus diam-diam.

Tagihan.

Janji dokter.

Administrasi keluarga.

Masalah kendaraan.

Bahkan hadiah Lebaran untuk kerabat.

Nadya kehilangan pekerjaannya beberapa bulan kemudian dan untuk pertama kalinya harus menghadapi masalah tanpa aku membereskan semuanya.

“Aku dulu pikir Kakak selalu ada karena Kakak memang harus ada.”

Air matanya jatuh.

“Aku nggak pernah mikir Kakak juga bisa capek.”

Aku menatapnya lama.

“Kenapa sekarang?”

Nadya mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Sebuah amplop.

Di dalamnya ada uang satu juta dua ratus ribu rupiah.

Jumlah yang persis sama dengan uang taruhan malam itu.

“Aku kerja hampir dua bulan buat nyisihin ini.”

Aku menatap uang itu.

“Buat apa?”

“Balikin harga yang dulu kami kasih untuk perasaan Kakak.”

Dia mengusap air mata.

“Aku baru sadar, seharusnya perasaan seseorang nggak pernah punya harga.”

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Jakarta, aku memeluk adikku.

Aku belum sepenuhnya memaafkannya.

Tetapi hari itu, setidaknya dia akhirnya mengerti.

Tentang Raka, aku baru mengetahui sesuatu beberapa minggu kemudian.

Nadya mengaku bahwa setelah aku pergi, Raka sempat beberapa kali menghubunginya.

Bukan untuk menanyakan kabarku.

Dia mengajak Nadya keluar.

Pesan-pesannya semakin lama semakin genit.

Nadya menunjukkan semuanya kepadaku.

Aku membaca percakapan itu tanpa merasa sakit.

Malah aku tertawa kecil.

Ternyata malam ketika mereka memotong rambutku bukan awal kehancuran hubunganku.

Itu hanya malam ketika aku akhirnya melihat apa yang selama ini sudah rusak.

Dua tahun setelah kepindahanku, aku kembali ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan sepupu.

Rambutku sudah tumbuh melewati bahu.

Saat acara berlangsung, seorang tante melihatku dan berkata, “Laras, rambutmu panjang lagi. Sayang sekali dulu dipotong Nadya.”

Aku tersenyum.

Nadya yang berdiri di sampingku langsung terlihat tidak nyaman.

Namun aku menyentuh ujung rambutku dan menjawab tenang.

“Enggak sayang, Tante.”

Semua orang menoleh.

Aku memandang Nadya.

Dia tersenyum kecil.

Aku melanjutkan.

“Justru potongan rambut itu salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku.”

Tante tampak bingung.

Aku tidak menjelaskan.

Karena tidak semua kehilangan adalah kerugian.

Kadang-kadang hidup mengambil sesuatu yang kita rawat bertahun-tahun hanya untuk memperlihatkan apa yang seharusnya sudah lama kita tinggalkan.

Malam itu Nadya memotong rambut yang kupanjangkan tujuh tahun.

Namun tanpa dia sadari, gunting itu juga memutus hubunganku dengan seorang pria yang tidak menghormatiku, ketergantunganku pada keluarga yang selalu meremehkan batasanku, dan kebiasaanku meminta izin kepada orang lain untuk menentukan hidupku sendiri.

Rambutku tumbuh kembali.

Harga diriku juga.

Bedanya, kali ini aku tidak akan membiarkan siapa pun memotongnya lagi hanya karena mereka menganggap rasa sakitku lucu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang