Delapan Kali Maya Membuang Bayinya karena Dianggap Pembawa Sial—Kehamilan Kesembilan Justru Membongkar Penipuan Suami dan Obat Busuk

Dua garis merah itu seharusnya menjadi kabar paling membahagiakan dalam hidup Laras.

Namun pagi itu, ia justru berdiri membeku di toilet rumah sakit dengan tangan gemetar.

Di tangan kanannya ada alat tes kehamilan.

Di tangan kirinya ada salinan laporan laboratorium yang baru saja diterimanya dari gudang obat milik Yayasan Wijaya.

Laras menatap dua benda itu bergantian.

Satu memberitahunya bahwa kehidupan baru sedang tumbuh di dalam tubuhnya.

Satu lagi memberitahunya bahwa seseorang mungkin sedang mempertaruhkan kehidupan ratusan orang demi uang.

“Bu Laras?”

Ketukan di pintu membuatnya tersentak.

“Sebentar.”

Ia memasukkan alat tes ke dalam tas, mencuci wajah, lalu keluar.

Di lorong sudah menunggu Dimas, apoteker muda yang tiga hari sebelumnya membantunya mengambil sampel bahan herbal dari gudang.

Wajah lelaki itu tegang.

“Hasil lengkapnya sudah keluar.”

“Aku sudah lihat.”

“Bukan cuma jamur.”

Laras berhenti berjalan.

Dimas menurunkan suara.

“Ada kandungan bahan yang seharusnya tidak ada. Beberapa sampel dicampur serbuk obat kedaluwarsa yang digiling ulang. Kalau dikonsumsi lansia dengan gangguan hati atau ginjal, risikonya serius.”

Darah Laras terasa turun ke kakinya.

Program kesehatan gratis keluarga Wijaya setiap bulan mendistribusikan obat dan suplemen herbal kepada ribuan warga miskin.

Selama ini Maya memegang bagian pengadaan.

Dan tanda tangan persetujuan terakhir memang miliknya.

“Jangan bicara kepada siapa pun dulu,” kata Laras.

Dimas mengangguk.

Tetapi mereka terlambat.

Sore itu, saat Laras pulang, sebuah mobil hitam sudah terparkir di depan rumahnya.

Maya duduk di ruang tamu.

Di sampingnya ada Bu Ratna.

Peramal yang selama bertahun-tahun menentukan nasib delapan kehamilan Maya.

Begitu melihat Laras, Bu Ratna langsung menatap perutnya.

Tatapannya membuatku menggigil.

Aku mengenali perempuan itu.

Delapan kali aku mendengar suaranya.

Delapan kali pula kalimatnya menjadi alasan Maya menolakku.

“Jadi benar,” gumam Bu Ratna.

Laras mengernyit.

“Apa yang benar?”

Maya berdiri.

“Kamu hamil?”

Laras terdiam beberapa detik.

“Aku belum memberitahu keluarga.”

“Jawab.”

“Ya.”

Wajah Maya berubah.

Bukan bahagia.

Bukan terkejut.

Melainkan takut.

Bu Ratna segera memegang pergelangan tangan Maya.

“Jangan panik.”

“Apa maksud kalian?” tanya Laras.

Bu Ratna tersenyum tipis.

“Kehamilanmu datang pada waktu yang buruk.”

Laras hampir tertawa.

Kalimat itu terdengar terlalu familiar.

“Waktu yang buruk menurut siapa?”

“Menurut tanda-tanda yang muncul.”

“Gudang obat?”

Senyum Bu Ratna lenyap.

Maya langsung menatap Laras.

“Kamu tahu soal gudang?”

Saat itulah Laras memahami sesuatu.

Mereka bukan datang karena kehamilannya.

Mereka datang karena laporan laboratorium.

Laras meletakkan tasnya perlahan.

“Aku belum mengatakan apa pun tentang gudang. Kenapa Kak Maya langsung tahu?”

Ruangan mendadak sunyi.

Raka baru pulang beberapa menit kemudian dan menemukan istrinya berdiri berhadapan dengan kakak iparnya.

“Ada apa?”

Maya segera mengambil tasnya.

“Tidak ada. Aku cuma datang menjenguk.”

Sebelum pergi, Bu Ratna mendekati Laras.

“Tidak semua anak datang membawa kebahagiaan.”

Laras menatap lurus ke matanya.

“Dan tidak semua orang yang mengaku bisa membaca nasib mengatakan kebenaran.”

Untuk pertama kalinya, Bu Ratna kehilangan senyum.

Malam itu Laras menceritakan semuanya kepada Raka.

Tentang kehamilan.

Tentang obat.

Tentang kedatangan Maya.

Raka memeluknya lama ketika mendengar kabar kehamilan.

Namun kegembiraan itu segera berubah menjadi kecemasan setelah melihat laporan laboratorium.

“Kalau Kak Maya terlibat, kita tidak bisa langsung menuduhnya,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kita butuh bukti.”

Mereka sepakat melakukan audit diam-diam.

Dalam dua minggu berikutnya, semakin banyak kejanggalan ditemukan.

Harga pembelian bahan herbal tercatat hampir tiga kali lipat dari harga pasar.

Beberapa pemasok menggunakan alamat kantor palsu.

Ada pembayaran rutin kepada sebuah perusahaan konsultan bernama PT Cahaya Anugerah Nusantara.

Perusahaan itu tidak memiliki pegawai.

Tidak memiliki gudang.

Bahkan alamat kantornya ternyata sebuah rumah kosong di Tangerang.

Namun yang paling mengejutkan adalah pemilik perusahaan tersebut.

Ratna Kusumawati.

Bu Ratna.

Raka membaca dokumen itu tiga kali.

“Peramal?”

Laras mengangguk.

“Dia menerima miliaran rupiah dari perusahaan keluarga.”

Pertanyaan berikutnya jauh lebih mengerikan.

Untuk apa?

Jawabannya datang dari seseorang yang tidak mereka duga.

Suatu malam, sopir lama keluarga bernama Pak Surya menemui Laras diam-diam.

Tangannya gemetar saat menyerahkan sebuah amplop.

“Saya sudah menyimpan ini hampir tujuh tahun.”

Di dalamnya terdapat fotokopi kuitansi klinik, catatan transfer, dan beberapa foto.

Salah satu foto memperlihatkan Maya keluar dari sebuah klinik bersama Bu Ratna.

Namun foto berikutnya membuat Raka berdiri.

Di belakang mereka ada seorang laki-laki.

Adrian Wijaya.

Suami Maya.

“Pak Surya,” suara Raka berubah berat, “kenapa Ayah tidak pernah tahu?”

“Saya takut, Pak.”

Pak Surya menunduk.

“Pak Adrian yang membayar Bu Ratna.”

Laras merasa tengkuknya dingin.

“Sejak kapan?”

“Sejak kehamilan pertama Bu Maya.”

Kebenaran yang selama ini terkubur akhirnya mulai terbuka.

Bertahun-tahun lalu, Adrian diam-diam mengetahui bahwa ayahnya berencana membagi kepemilikan perusahaan keluarga berdasarkan keturunan.

Jika Maya melahirkan anak, bagian saham yang kelak jatuh kepada keluarga Adrian akan ditempatkan dalam perwalian untuk anak tersebut.

Artinya Adrian tidak akan memiliki kendali penuh.

Pada saat yang sama, Adrian sedang menggelapkan dana perusahaan bersama beberapa pemasok.

Seorang anak akan membuat struktur warisan semakin sulit ia kuasai.

Maka ia mencari kelemahan terbesar istrinya.

Ketakutan Maya terhadap pertanda buruk.

Bu Ratna dibayar untuk memelihara ketakutan itu.

Setiap kali Maya hamil, Adrian menciptakan atau memanfaatkan masalah yang muncul di sekitar keluarga.

Kerugian usaha.

Pemeriksaan proyek.

Pencurian.

Kecelakaan kecil.

Kemudian Bu Ratna datang memberikan satu kesimpulan.

Bayi itu membawa sial.

Namun ada satu hal yang belum mereka pahami.

Mengapa Maya masih bekerja sama dengan Bu Ratna setelah delapan kali?

Jawabannya muncul ketika Laras memeriksa kembali berkas gudang.

Ia menemukan pembelian satu jenis kapsul herbal yang dilakukan secara rutin selama sembilan tahun.

Nama produknya sederhana.

Sari Kesuburan Wanita.

Produk itu dikirim khusus ke rumah Maya.

Laras membawa satu kapsul ke laboratorium.

Hasilnya membuat dokter yang memeriksanya mengerutkan dahi.

“Kandungan ini bukan sekadar herbal.”

“Apa maksud Dokter?”

“Ada senyawa obat yang tidak dicantumkan pada kemasan. Penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan bisa mengganggu sistem hormonal.”

Laras membeku.

Maya ternyata bukan hanya dimanipulasi dengan ramalan.

Tubuhnya juga dimanipulasi.

Aku yang pernah delapan kali berada di dalam rahimnya akhirnya memahami mengapa setiap kedatanganku terasa semakin lemah.

Maya memang membuat keputusan-keputusan itu.

Tetapi seseorang terus menanam ketakutan di kepalanya dan mengacaukan tubuhnya agar ia semakin mudah dikendalikan.

Tiga hari kemudian, Laras meminta Maya bertemu di vihara.

Maya datang dengan wajah dingin.

“Apa lagi?”

Laras tidak menjawab.

Ia hanya meletakkan dokumen-dokumen di atas meja.

Transfer kepada Bu Ratna.

Laporan obat.

Catatan perusahaan palsu.

Foto Adrian.

Dan hasil laboratorium kapsul yang dikonsumsi Maya selama bertahun-tahun.

Maya membaca semuanya tanpa suara.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

“Ini palsu.”

“Kalau Kakak mau, kita bisa mengujinya di laboratorium lain.”

“Suamiku tidak mungkin melakukan ini.”

Laras mengeluarkan bukti terakhir.

Rekaman suara.

Pak Surya pernah tanpa sengaja merekam percakapan Adrian dan Bu Ratna di dalam mobil.

Suara Adrian terdengar jelas.

“Kalau Maya hamil lagi, buat dia takut. Aku tidak peduli alasannya apa. Selama dia percaya anak itu membawa masalah, dia akan membereskannya sendiri.”

Maya berhenti bernapas seolah dadanya baru dihantam sesuatu.

Rekaman berlanjut.

Bu Ratna tertawa.

“Kalau suatu hari dia sadar?”

“Setelah delapan kali? Dia bahkan lebih percaya padamu daripada pada dirinya sendiri.”

Ponsel terlepas dari tangan Maya.

Untuk beberapa saat, tak ada suara selain dengung pendingin ruangan.

Kemudian Maya berlari ke toilet.

Ia muntah.

Saat kembali, wajahnya basah oleh air mata.

“Delapan…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

“Delapan anakku…”

Laras duduk di depannya.

Maya menutup wajah.

“Aku yang melakukannya.”

Tidak ada yang membantah.

Karena itu benar.

Maya telah membuat delapan keputusan.

Ketakutan dan manipulasi menjelaskan mengapa ia melakukannya, tetapi tidak dapat menghapus tanggung jawabnya.

“Aku bahkan menyalahkan mereka,” bisiknya. “Setiap kali sesuatu terjadi, aku menyalahkan bayi yang belum pernah melihat dunia.”

Laras tidak menghiburnya dengan kebohongan.

“Kakak tidak bisa mengubah yang sudah terjadi.”

Maya mengangkat wajah.

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Berhenti membuat kesalahan kesembilan.”

Maya memandang perut Laras.

Matanya membesar.

Untuk sesaat aku merasakan ketakutan lama muncul kembali.

Namun kali ini Maya tidak memanggil Bu Ratna.

Ia tidak mencari ramalan.

Ia bertanya,

“Apa yang harus kulakukan?”

“Bantu kami menghentikan mereka.”

Malam itu Maya pulang seperti biasa.

Ia berpura-pura tidak mengetahui apa pun.

Ketika Adrian bertanya tentang Laras, Maya bahkan tertawa.

“Anaknya mungkin memang membawa sial. Sejak dia hamil, masalah gudang mulai muncul.”

Adrian terlihat lega.

Ia tidak tahu ponsel Maya sedang merekam.

Selama empat hari berikutnya, Maya memainkan peran perempuan yang masih mudah ditakut-takuti.

Adrian akhirnya terpancing.

Ia memerintahkan Maya memusnahkan beberapa dokumen pengadaan sebelum audit keluarga dilakukan.

Ia juga menghubungi Bu Ratna dan meminta perempuan itu menyiapkan cerita bahwa kehamilan Laras akan membawa kehancuran bagi keluarga Wijaya.

Semua percakapan tersimpan.

Pada hari rapat tahunan keluarga, Adrian datang dengan setelan mahal dan senyum tenang.

Ia tidak tahu dua penyidik sudah menunggu di ruangan sebelah bersama penasihat hukum keluarga.

Maya berdiri di depan seluruh keluarga.

Tangannya gemetar.

Adrian tersenyum.

“Kamu kenapa?”

Maya menatap lelaki yang telah tidur di sampingnya selama hampir dua belas tahun.

Kemudian ia menyalakan rekaman.

Suara Adrian memenuhi ruangan.

Senyumnya hilang.

“Apa-apaan ini?”

Maya tidak menjawab.

Ia hanya meletakkan delapan gelang kecil di atas meja.

Delapan gelang rumah sakit.

Delapan tanggal.

Delapan keputusan yang akan ia sesali sepanjang hidup.

“Aku pernah percaya delapan anakku membawa sial,” katanya.

Air matanya jatuh.

“Ternyata kesialan terbesar dalam hidupku tidur di sebelahku setiap malam.”

Adrian mencoba merampas ponsel, tetapi Raka menghadangnya.

Penyelidikan berikutnya membongkar penggelapan dana, perusahaan fiktif, distribusi bahan obat yang tidak layak, dan pembayaran kepada Bu Ratna.

Program kesehatan dihentikan sementara.

Seluruh stok ditarik.

Maya menyerahkan dokumen dan memberikan kesaksian.

Ia juga melepaskan jabatannya dari bagian pengadaan.

Beberapa bulan kemudian, ketika kasus itu masih berjalan, Laras melahirkan seorang bayi perempuan sehat.

Maya tidak berani masuk ke ruang bersalin.

Ia berdiri sendirian di lorong sambil memegang delapan gelang rumah sakit dalam sebuah kotak kecil.

Raka keluar membawa bayi.

“Kak.”

Maya mundur.

“Aku tidak pantas menyentuhnya.”

Dari ranjang, Laras mendengar kalimat itu.

“Bawa dia masuk.”

Maya berjalan perlahan.

Saat melihat bayi dalam pelukan Laras, tubuhnya gemetar.

Bayi itu membuka mata.

Aku melihat perempuan yang pernah delapan kali menjadi ibuku.

Tidak ada kemarahan dalam diriku.

Hanya sebuah ingatan yang sangat panjang.

Maya menangis.

“Maaf.”

Tangannya tidak berani mendekat.

Laras kemudian melakukan sesuatu yang tidak pernah diduga Maya.

Ia meletakkan bayi itu ke dalam pelukannya.

“Namanya Kirana.”

“Kenapa… kenapa kamu membiarkanku menggendongnya?”

“Karena menyesal saja tidak cukup. Kakak harus belajar menjaga kehidupan yang masih ada.”

Maya menunduk menatap Kirana.

Untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya apakah bayi itu membawa keberuntungan.

Ia hanya memastikan kepalanya tersangga dengan baik.

Setahun kemudian, klinik sosial keluarga kembali dibuka dengan sistem pengadaan baru yang transparan.

Maya bekerja di sana.

Bukan sebagai direktur.

Bukan sebagai pemilik.

Ia memilih membantu bagian pelayanan pasien.

Setiap bulan, sebagian penghasilannya digunakan untuk membiayai pemeriksaan kesehatan perempuan dari keluarga kurang mampu.

Di vihara, delapan lampu kecil tetap menyala.

Kini Maya sendiri yang mengisi minyaknya.

Suatu sore, Kirana yang baru belajar berjalan menghampiri deretan lampu itu sambil menggenggam jari Laras.

Maya berlutut di sampingnya.

“Kirana,” bisiknya, “itu kakak-kakakmu.”

Laras menoleh, tetapi tidak mengatakan apa pun.

Aku memahami sesuatu saat itu.

Selama sembilan kesempatan, semua orang mengira tugasku adalah membawa keberuntungan.

Mereka salah.

Aku tidak pernah datang untuk membuat keluarga Wijaya kaya.

Aku datang untuk memperlihatkan apa yang mereka sembunyikan.

Keserakahan Adrian.

Kebohongan Bu Ratna.

Kesalahan Maya.

Dan kebaikan Laras yang dilakukan tanpa berharap balasan.

Mungkin itulah sebabnya aku akhirnya memilih rahim Laras.

Bukan karena dia tidak pernah melakukan kesalahan.

Melainkan karena ketika masalah datang, dia tidak mencari seseorang untuk disalahkan.

Dia mencari kebenaran.

Di depan delapan lampu kecil, Kirana tiba-tiba tertawa.

Tangannya menunjuk cahaya yang berkelip-kelip.

Maya ikut tersenyum meski matanya dipenuhi air.

Dan untuk pertama kalinya dalam perjalanan panjangku, aku tidak lagi merasa seperti roh yang dibuang delapan kali.

Aku memiliki nama.

Aku memiliki rumah.

Dan yang paling penting, aku akhirnya memiliki seorang ibu yang ketika dunia mulai kacau, memilih memelukku lebih erat daripada membuangku karena takut.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang