Pintu keberangkatan di Stasiun Gambir sudah tertutup ketika Ayah menarik tangan petugas itu.
“Tolong hentikan keretanya.”
Petugas perempuan itu terlihat serba salah. “Pak, kereta sudah dalam prosedur keberangkatan. Kami tidak bisa menghentikannya hanya karena nama seorang penumpang kebetulan berada di gerbong yang sama.”
“Ini bukan kebetulan!”
Suara Ayah meninggi sampai beberapa orang menoleh.
Saya berdiri di sampingnya dengan tubuh gemetar. Dalam ingatan kehidupan sebelumnya, saya tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pagi itu. Yang saya tahu hanya Ibu berangkat ke Yogyakarta dan kemudian menghilang.
Tetapi sekarang saya tahu satu nama.
Rohman Hadi.
Saya menarik ujung kemeja Ayah.
“Yah, telepon polisi.”
Ayah menatap saya lama.
Mungkin dia bingung bagaimana anak enam tahun bisa mengucapkan kalimat setenang itu.
Namun dia tidak bertanya lagi.
Dia langsung mengeluarkan ponsel.
Pada saat yang sama, petugas stasiun kembali berbicara melalui handy talky. Setelah beberapa percakapan cepat, ekspresinya berubah.
“Pak Fajar.”
“Apa?”
“Kami baru mendapat informasi. Kereta belum bergerak. Ada pemeriksaan teknis singkat.”
Jantung saya berdegup keras.
Kesempatan.
Mungkin hanya beberapa menit.
“Bawa kami ke sana!” seru saya.
Petugas itu akhirnya mengangguk.
Kami berlari.
Saya bahkan tidak ingat bagaimana kaki kecil saya mampu mengikuti langkah Ayah. Yang saya ingat hanyalah suara roda koper, pengumuman stasiun, dan satu pikiran yang terus berputar di kepala.
Jangan sampai terlambat lagi.

Ketika kami tiba di peron, KA Taksaka masih berdiri.
Ayah berlari menuju gerbong tempat Ibu berada.
Seorang petugas mencoba menahannya, tetapi petugas perempuan tadi menjelaskan situasinya.
Pintu dibuka.
Kami naik.
“Ibu!”
Saya berteriak sekeras mungkin.
Beberapa penumpang menoleh.
Tidak ada jawaban.
Kami berjalan semakin cepat melewati deretan kursi.
Kursi Ibu kosong.
Tas laptopnya masih ada.
Koper kecilnya masih tersimpan di rak atas.
Namun Ibu tidak ada.
Wajah Ayah langsung kehilangan warna.
“Maya!”
Seorang perempuan paruh baya yang duduk di seberang kursi Ibu mengangkat tangan.
“Mas mencari Mbak yang tadi duduk di sini?”
“Iya. Istri saya. Ke mana dia?”
Perempuan itu menunjuk ke arah sambungan antargerbong.
“Tadi ada laki-laki datang. Sepertinya kenal. Mereka bicara sebentar, lalu Mbaknya ikut keluar.”
“Laki-laki seperti apa?”
“Sekitar empat puluhan. Jaket hitam. Pakai topi.”
Darah saya terasa dingin.
“Rohman.”
Ayah langsung menoleh kepada saya.
Kami berlari ke gerbong berikutnya.
Kosong.
Gerbong berikutnya lagi.
Tidak ada.
Kemudian terdengar teriakan dari ujung peron.
“Pak! Tunggu!”
Seorang petugas keamanan berlari mendekat.
“CCTV menangkap seorang perempuan dengan ciri-ciri istri Bapak turun melalui pintu gerbong belakang sekitar tiga menit lalu.”
“Turun?”
“Iya. Bersama seorang laki-laki.”
Kereta belum berangkat.
Artinya rencana penculikan Ibu memang dimulai di Jakarta.
Bukan di Yogyakarta seperti yang selama ini kami kira.
Ayah menggenggam tangan saya dan berlari turun.
Kami menuju ruang CCTV.
Rekaman diputar.
Di layar terlihat Ibu berjalan di samping seorang pria bertopi hitam. Langkahnya tampak normal, tetapi ada sesuatu yang aneh.
Tangannya menyentuh dinding beberapa kali.
Tubuhnya sedikit sempoyongan.
Lalu pria itu memegang siku Ibu seolah sedang membantu seseorang yang sakit.
Saya menunjuk layar.
“Itu dia!”
Petugas memperbesar gambar.
Wajah pria itu terlihat sesaat ketika dia menoleh.
Ayah terdiam.
Bukan karena dia mengenalinya.
Melainkan karena kamera berikutnya menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Pria itu tidak membawa Ibu menuju pintu keluar utama.
Dia membawanya ke area parkir layanan di sisi belakang stasiun.
Sebuah mobil abu-abu sudah menunggu.
“Blokir pintu keluar!” teriak petugas keamanan.
Semua bergerak hampir bersamaan.
Radio komunikasi berbunyi di mana-mana.
Saya dan Ayah mengikuti mereka sampai ke area parkir.
Sebuah mobil abu-abu sedang bergerak perlahan menuju palang keluar.
Dua petugas berlari menghadangnya.
Mobil itu tiba-tiba berbelok.
Mesinnya meraung.
“IBU!”
Saya melihatnya.
Di kursi belakang.
Kepalanya bersandar ke jendela.
Matanya tertutup.
Ayah langsung berlari ke tengah jalur.
“FAJAR!”
Suara Ibu tidak terdengar.
Tetapi pengemudi mobil menginjak rem mendadak karena beberapa petugas keamanan sudah mengepung dari sisi lain.
Pintu pengemudi terbuka.
Seorang pria mencoba keluar dan berlari.
Saya mengenali wajahnya.
Rohman Hadi.
Persis seperti wajah yang pernah muncul dalam berkas polisi sepuluh tahun kemudian.
Dua petugas mengejarnya.
Pria itu sempat mendorong salah satu petugas, tetapi akhirnya dijatuhkan beberapa meter dari mobil.
Ayah tidak memedulikannya.
Dia membuka pintu belakang.
“Maya!”
Tubuh Ibu hampir jatuh ke pelukannya.
Ibu masih bernapas.
Namun kesadarannya menurun.
Di lantai mobil terdapat sebuah botol minuman plastik yang sudah terbuka.
Saya melihat benda itu dan seluruh tubuh saya merinding.
Minuman.
Sama seperti yang Ibu ceritakan sebelum saya kembali ke masa lalu.
Ambulans dipanggil.
Polisi datang tidak lama kemudian.
Ibu dibawa ke rumah sakit.
Hasil pemeriksaan menemukan zat penenang dalam tubuhnya.
Rohman dibawa ke kantor polisi.
Saya mengira semuanya sudah selesai.
Ternyata saya salah.
Malam itu, seorang penyidik datang menemui Ayah di rumah sakit.
“Pak Fajar, kami menemukan sesuatu di mobil tersangka.”
Dia meletakkan beberapa foto di meja.
Foto perempuan.
Banyak sekali.
Sebagian tampak seperti foto identitas. Sebagian lainnya diambil diam-diam dari kejauhan.
Ada perempuan berseragam kantor.
Mahasiswi.
Pekerja toko.
Bahkan seorang ibu muda yang sedang menggendong bayi.
Di belakang setiap foto terdapat tulisan tangan.
Nama.
Usia.
Alamat.
Rutinitas.
Dan beberapa angka.
Ayah menutup mulutnya.
“Ini apa?”
Penyidik tidak langsung menjawab.
“Kami menduga Rohman bukan bekerja sendiri.”
Penyelidikan kemudian berkembang jauh lebih besar daripada penculikan Ibu.
Polisi menemukan dua ponsel, beberapa kartu identitas palsu, tiket perjalanan atas nama berbeda, serta percakapan yang mengarah ke jaringan perdagangan manusia antarkota.
Nama Rohman hanyalah satu mata rantai.
Yang membuat keadaan semakin mengejutkan adalah cara dia memilih korbannya.
Rohman ternyata pernah bekerja sebagai tenaga outsourcing di sebuah perusahaan penyelenggara acara.
Perusahaan yang beberapa kali bekerja sama dengan kantor Ibu.
Dia memperoleh jadwal perjalanan calon korban melalui dokumen pemesanan transportasi.
Ibu bukan korban acak.
Dia sudah dipantau hampir tiga minggu.
Dua hari setelah penangkapan Rohman, polisi menggerebek sebuah rumah kontrakan di Bekasi.
Tiga perempuan ditemukan di sana.
Salah satunya sudah hilang selama hampir delapan bulan.
Dari pemeriksaan Rohman dan barang bukti yang disita, polisi kemudian menemukan lokasi lain di Jawa Tengah.
Dalam beberapa bulan, jaringan itu terbongkar.
Lebih dari selusin perempuan berhasil diselamatkan.
Saya mendengar semuanya dari percakapan orang dewasa.
Tetapi saya hanya memikirkan satu hal.
Dalam kehidupan sebelumnya, mengapa semua ini tidak pernah terbongkar?
Jawabannya datang beberapa minggu kemudian.
Rohman ternyata memang membeli tiket kereta yang sama dengan Ibu, tetapi rencana awalnya bukan membawa Ibu pergi dari Jakarta.
Dia hanya bertugas mendekati Ibu, memastikan dia meminum sesuatu yang sudah disiapkan, lalu menyerahkannya kepada orang lain ketika kereta tiba di Yogyakarta.
Namun pagi itu, rencana berubah karena Ibu mengenali Rohman.
Mereka pernah bertemu sekilas dalam sebuah acara perusahaan.
Rohman panik.
Dia takut Ibu mengingat wajahnya setelah efek obat mulai bekerja.
Karena itulah dia membawa Ibu turun sebelum kereta berangkat.
Perubahan kecil itulah yang akhirnya menyelamatkan Ibu.
Atau mungkin bukan.
Mungkin perubahan kecil itu adalah saya.
Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, Ibu duduk di tepi tempat tidur saya.
Dia mengusap rambut saya lama sekali.
“Naya.”
“Hm?”
“Ibu mau tanya sesuatu.”
Saya menatapnya.
“Bagaimana kamu tahu nama Rohman Hadi?”
Pertanyaan yang selama berminggu-minggu saya takutkan akhirnya datang.
Saya bisa saja berbohong.
Mengatakan pernah mendengar namanya.
Mengatakan saya bermimpi.
Tetapi ketika melihat wajah Ibu, semua kebohongan terasa terlalu berat.
Air mata saya jatuh.
“Ibu pernah hilang.”
Ibu membeku.
“Sepuluh tahun.”
Saya menceritakan semuanya.
Tentang bagaimana orang-orang menuduhnya kabur.
Tentang Nenek yang menyimpan kebencian.
Tentang keluarga Ibu yang hidup dengan rasa malu.
Tentang Ayah yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari.
Dan tentang diri saya sendiri.
“Saya benci Ibu.”
Suara saya pecah.
“Saya bilang ke Ayah supaya berhenti mencari. Saya bilang Ibu pasti tidak mau pulang.”
Ibu langsung memeluk saya.
Tubuh saya gemetar hebat.
“Ayah sakit karena terus mencari Ibu. Ayah meninggal. Saya bahkan marah kepada Ayah karena tidak bisa melupakan Ibu.”
“Naya…”
“Saya jahat.”
“Tidak.”
Ibu memeluk saya lebih erat.
“Kamu waktu itu masih anak-anak.”
“Tapi saya sudah enam belas.”
“Enam belas juga masih anak Ibu.”
Saya menangis di dadanya sampai tertidur.
Ibu tidak pernah bertanya lagi apakah cerita saya benar.
Dia hanya mempercayainya.
Ayah berbeda.
Dia membutuhkan waktu.
Tetapi setelah mendengar detail yang mustahil saya ketahui, dia akhirnya berhenti mencari penjelasan.
“Kalau memang kamu datang dari masa depan,” katanya suatu malam, “berarti Tuhan memberi keluarga kita kesempatan kedua.”
Saya menggeleng.
“Bukan cuma kita.”
Saya teringat foto-foto perempuan yang ditemukan di mobil Rohman.
Kalau saya tidak berteriak pagi itu, mungkin mereka juga tidak pernah ditemukan.
Tahun-tahun berikutnya berjalan sangat berbeda.
Ayah tidak menjual rumah.
Tidak ada utang pencarian.
Tidak ada poster orang hilang.
Tidak ada pertengkaran keluarga.
Ibu tetap bekerja, tetapi menjadi jauh lebih berhati-hati setiap kali bepergian.
Dan saya tumbuh dalam rumah yang dalam kehidupan sebelumnya hanya tersisa dalam ingatan.
Ketika usia saya kembali mencapai enam belas tahun, saya takut.
Itulah usia ketika kehidupan pertama saya berakhir.
Selama berminggu-minggu saya terbangun setiap malam, khawatir semuanya akan terulang.
Kemudian datang tanggal yang paling saya takuti.
Hari ketika dulu saya menemukan foto Ibu dalam daftar korban longsor.
Pagi itu hujan turun deras.
Saya tidak pergi ke sekolah.
Saya duduk di ruang keluarga sejak subuh.
Ibu keluar dari dapur membawa semangkuk bubur.
“Naya, makan.”
Saya menatapnya.
Wajahnya sehat.
Tidak kurus.
Tidak penuh luka.
Rambutnya masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur.
Ayah muncul dari belakang membawa tiga cangkir teh.
“Kenapa kalian lihat-lihatan begitu?”
Saya tiba-tiba menangis.
Ayah panik.
Ibu tertawa sambil memeluk saya.
Saat itulah ponsel Ibu berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
Kami bertiga langsung terdiam.
Ibu mengangkatnya.
“Halo?”
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
“Ya, saya Maya Lestari.”
Dia mendengarkan lama.
Lalu menatap saya.
Setelah telepon ditutup, Ibu duduk perlahan.
“Itu dari kepolisian.”
Jantung saya berdegup.
“Rohman?”
Ibu mengangguk.
“Dia meninggal tadi malam di penjara karena sakit.”
Saya tidak merasakan lega.
Tidak juga puas.
Hanya kosong.
Lalu Ibu melanjutkan.
“Tapi bukan itu saja.”
Sebelum meninggal, Rohman memberikan keterangan terakhir tentang satu lokasi yang selama ini tidak pernah berhasil ditemukan polisi.
Sebuah bangunan lama di daerah pegunungan Gunungkidul.
Lokasi yang pernah dipakai jaringannya untuk menyembunyikan korban.
Tubuh saya membeku.
Gunungkidul.
Beberapa hari kemudian polisi melakukan pencarian.
Bangunan itu sudah kosong selama bertahun-tahun.
Namun di salah satu ruangan ditemukan goresan-goresan nama di dinding.
Nama perempuan yang pernah dikurung di sana.
Di antara puluhan nama, ada satu ruang kosong.
Di bawahnya terdapat tanggal.
Tanggal yang sama dengan hari Ibu menghilang dalam kehidupan pertama.
Saya memahami sesuatu saat melihat foto dinding itu.
Dalam kehidupan sebelumnya, nama Ibu seharusnya berada di sana.
Tetapi sekarang tidak pernah tertulis.
Takdir ternyata bukan sebuah jalan yang tidak bisa diubah.
Kadang-kadang takdir hanyalah rangkaian keputusan kecil yang tidak pernah kita sadari penting.
Satu anak yang menangis di stasiun.
Satu ayah yang memilih percaya.
Satu petugas yang bersedia memeriksa manifest.
Satu kereta yang terlambat beberapa menit.
Dan satu keluarga yang akhirnya tidak kehilangan sepuluh tahun hidupnya.
Malam itu saya berdiri di balkon bersama Ayah.
“Yah.”
“Hm?”
“Kalau waktu bisa diputar lagi, Ayah akan melakukan apa?”
Ayah berpikir sebentar.
“Tidak ada.”
Saya menatapnya heran.
Dia tersenyum.
“Karena kalau kita terus hidup dengan keinginan mengulang masa lalu, kita akan lupa menjaga apa yang masih ada sekarang.”
Saya menoleh ke dalam rumah.
Ibu sedang memarahi televisi karena sinetron favoritnya memiliki jalan cerita yang tidak masuk akal.
Saya tertawa.
Suara itu terdengar sangat sederhana.
Tetapi dalam kehidupan sebelumnya, saya pernah rela memberikan apa pun hanya untuk mendengarnya sekali lagi.
Saya akhirnya mengerti mengapa saya dikirim kembali.
Bukan untuk membalas dendam kepada Rohman.
Bukan untuk mengubah seluruh dunia.
Saya kembali hanya untuk melakukan satu hal yang dulu gagal saya lakukan.
Mempercayai Ibu sebelum semuanya terlambat.
Saya masuk ke rumah dan memeluknya dari belakang.
Ibu terkejut.
“Ada apa lagi?”
“Tidak ada.”
“Terus kenapa peluk-peluk?”
Saya tersenyum sambil menyandarkan kepala di bahunya.
“Cuma memastikan Ibu masih di sini.”
Ibu mencubit pipi saya.
“Memangnya Ibu mau ke mana?”
Saya tidak menjawab.
Karena kali ini, saya sudah tahu jawabannya.
Ke mana pun Ibu pergi, dia akan pulang.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan saya, kata pulang tidak lagi terdengar seperti janji.
Ia benar-benar menjadi kenyataan.
