Saat Aku Terbangun, Ibu Hendak Kabur Diam-Diam—Namun Aku Melihat Emas Pemberian Ayah Tersembunyi di Dalam Kopernya

“Ibu… kenapa barang milikku juga mau dibawa?”

Suara kecilku membuat kamar itu mendadak terasa sesak.

Ibu berdiri membeku di samping koper. Tangannya masih menggenggam kaleng biskuit tua yang baru saja dikeluarkannya dari bawah lantai.

Wajahnya pucat.

“Alya bicara apa?”

Aku turun dari dipan dan menunjuk kaleng itu.

“Itu punya Alya. Ayah bilang begitu.”

Langkah kaki terdengar dari luar. Nenek muncul di ambang pintu dengan wajah bingung.

“Barang apa?”

Ibu buru-buru memasukkan kaleng ke koper.

“Tidak ada, Bu. Alya mungkin baru bangun, masih mengigau.”

“Alya tidak mengigau.”

Aku berjalan mendekat.

Jantungku berdetak sangat cepat. Aku memang pernah hidup sekali, tetapi tubuhku tetap tubuh anak berusia empat setengah tahun. Menghadapi tatapan tajam orang dewasa tetap membuat lututku gemetar.

Aku menunjuk lantai.

“Ayah menyimpan emas Alya di bawah papan itu.”

Nenek langsung menoleh.

“Emas?”

Ibu menggenggam lenganku.

“Sudah, Alya. Tidur lagi.”

Sakit.

Cengkeramannya begitu kuat sampai mataku berair.

Pada kehidupan sebelumnya, aku selalu takut ketika Ibu memasang wajah seperti itu. Aku akan diam, meminta maaf, lalu bersembunyi di belakang Ayah.

Tetapi sekarang aku tahu apa yang akan terjadi jika aku diam.

Aku akan mati.

Ayah akan kehilangan segalanya.

Dan mungkin ada rahasia lain yang selama ini tidak pernah kuketahui.

Aku tiba-tiba menangis keras.

“Nenek! Sakit!”

Nenek segera maju.

“Ratih! Lepaskan anak itu!”

Ibu tersentak dan melepaskanku.

Aku langsung berlari memeluk kaki Nenek.

“Ayah bilang emas ikan, gelang, sama kalung itu punya Alya. Ibu mengambil semuanya.”

Wajah Nenek berubah.

Ia membuka koper sebelum Ibu sempat mencegahnya.

Di antara pakaian, buku, dan beberapa dokumen, terlihat kaleng biskuit tua.

Nenek mengangkatnya.

Ketika tutupnya dibuka, beberapa keping emas berbentuk ikan berkilau terkena cahaya lampu minyak.

Nenek terdiam.

“Astaga…”

Ibu segera merebut kaleng itu.

“Itu pemberian Arga kepadaku!”

“Bohong!”

Aku sendiri terkejut mendengar teriakanku.

Ibu dan Nenek menatapku.

Aku menggigit bibir, lalu berkata pelan, “Ayah bilang semuanya untuk sekolah Alya.”

Wajah Ibu mengeras.

Untuk sesaat, aku melihat sesuatu yang dulu tidak pernah kusadari.

Bukan kesedihan.

Bukan rasa bersalah.

Melainkan ketakutan karena rahasianya terbongkar.

Nenek kemudian melihat isi koper lebih teliti.

“Ratih, uang sebanyak ini dari mana?”

Ibu diam.

Nenek mengambil beberapa ikat uang dan buku tabungan.

“Ini tabungan Arga.”

“Aku istrinya.”

“Kalian sudah mengurus perpisahan.”

“Aku juga bekerja selama menikah dengannya!”

“Tapi bukankah kamu tadi bilang hanya membawa uang pemberian Arga?”

Ibu kehilangan kata-kata.

Suasana menjadi semakin tegang.

Lalu terdengar ketukan keras dari pintu depan.

Tok. Tok. Tok.

Kami bertiga menoleh.

“Bu! Bu!”

Itu suara Pak Seno, tetangga kami.

Nenek keluar.

Beberapa detik kemudian, suara lelaki itu terdengar tergesa.

“Ada kabar dari kantor kecamatan. Arga dibebaskan sore tadi.”

Tubuh Ibu langsung kaku.

Aku hampir berhenti bernapas.

Ayah dibebaskan?

Dalam kehidupan sebelumnya, Ayah baru kembali beberapa hari setelah aku meninggal.

Kenapa sekarang berbeda?

“Mereka bilang orang yang katanya dipukuli Arga sudah mencabut laporan,” lanjut Pak Seno. “Katanya ada saksi baru.”

Gelas di meja terlepas dari tangan Ibu.

Pecahannya berserakan di lantai.

Aku menatap wajahnya.

Dia ketakutan.

Bukan karena Ayah pulang.

Dia takut Ayah mengetahui sesuatu.

Malam itu Ibu tidak jadi pergi.

Nenek menyimpan koper di kamarnya dan mengambil kuncinya. Ibu marah besar, tetapi tidak berani membuat keributan karena beberapa tetangga mulai berdatangan setelah mendengar kabar Ayah dibebaskan.

Aku duduk di teras sambil memeluk lutut.

Setiap suara motor dari jalan membuatku berdiri.

Namun sampai tengah malam, Ayah belum datang.

Akhirnya aku tertidur di kursi bambu.

Entah berapa lama kemudian, aku merasa tubuhku diangkat.

Bau oli.

Asap rokok yang samar.

Dan aroma sabun murah yang sangat kukenal.

Aku membuka mata.

Wajah itu ada tepat di depanku.

Lebih muda daripada wajah terakhir yang kulihat di samping makamku.

Rambutnya masih hitam.

Matanya masih tajam.

Ada luka di sudut bibirnya.

“Ayah…”

Suara itu keluar seperti bisikan.

Ayah berhenti berjalan.

“Alya?”

Aku langsung memeluk lehernya.

Tangisku pecah.

“Ayah jangan pergi lagi!”

Ayah kebingungan.

“Lho, Ayah cuma pergi sebentar.”

“Jangan tinggalin Alya!”

Tanganku mencengkeram bajunya sekuat tenaga.

Aku tahu orang-orang menganggap Ayah kasar.

Aku tahu dia sering bicara keras.

Aku tahu dia pernah berkelahi.

Tetapi lelaki inilah yang duduk di makamku setiap malam pada kehidupan sebelumnya.

Lelaki inilah yang menangis ketika mengira dirinya gagal menjadi ayah.

Ayah mengusap punggungku.

“Ayah sudah pulang.”

Aku menangis semakin keras.

Dari pintu, Ibu memandang kami tanpa bicara.

Ayah kemudian menoleh kepadanya.

Tatapannya berubah dingin.

“Kamu belum pergi?”

Ibu mengepalkan tangan.

“Kenapa? Kamu berharap aku pergi?”

Ayah tidak menjawab.

Ia membawaku masuk, lalu menurunkanku di kursi.

Nenek keluar membawa koper.

“Arga, ada yang harus kamu lihat.”

Ketika kaleng biskuit diletakkan di meja, wajah Ayah berubah.

Ia membuka tutupnya.

Menghitung isinya.

Kemudian memandang Ibu.

“Kamu mengambil ini?”

Ibu tertawa hambar.

“Kenapa semua orang bertingkah seolah aku pencuri? Aku istrimu.”

“Ini milik Alya.”

“Anak umur empat tahun mau buat apa dengan emas?”

Ayah berdiri.

Untuk pertama kalinya aku melihat Ibu mundur.

Namun Ayah tidak memukulnya.

Ia hanya berkata, “Kalau cuma emas, mungkin aku masih bisa menganggapmu sedang kalap.”

Lalu Ayah membalik koper.

Seluruh isinya jatuh ke lantai.

Pakaian, uang, buku, dan dokumen berserakan.

Sebuah amplop cokelat ikut terjatuh.

Ibu langsung menerjang.

Tetapi Ayah lebih cepat.

Ia mengambil amplop itu.

“Apa ini?”

“Jangan dibuka!”

Ayah membeku.

Justru karena Ibu berteriak seperti itu, semua orang tahu amplop tersebut penting.

Ayah merobeknya.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen.

Aku tidak memahami semua tulisan.

Tetapi aku melihat satu nama.

Arga Pratama.

Dan angka yang sangat besar.

Ayah membaca beberapa saat.

Kemudian wajahnya kehilangan warna.

“Kamu menjual tanah bengkelku?”

Nenek terkejut.

“Tanah yang dekat jalan raya itu?”

Ibu diam.

“Jawab!”

“Aku butuh uang untuk kuliah!”

“Itu tanah yang kubeli sebelum menikah denganmu!”

“Aku juga punya hak!”

“Tidak. Kamu memalsukan tanda tanganku.”

Tanganku mendadak dingin.

Jadi emas bukan masalah terbesar.

Ayah membalik dokumen lain.

Semakin lama dibaca, wajahnya semakin mengerikan.

Ada surat kuasa.

Ada bukti transfer.

Ada salinan perjanjian jual beli.

Lalu sebuah nama muncul berkali-kali.

Hendra Saputra.

Ayah menatap Ibu.

“Hendra siapa?”

Ibu tidak menjawab.

Tetapi Nenek tiba-tiba memegang meja.

“Hendra?”

Semua menoleh kepadanya.

Wajah Nenek pucat.

“Bukankah itu nama lelaki yang melaporkan Arga?”

Ruangan langsung sunyi.

Dadaku berdebar.

Aku mulai memahami sesuatu yang bahkan tidak pernah kuketahui pada kehidupan pertama.

Penahanan Ayah mungkin bukan kebetulan.

Ayah membaca dokumen itu sekali lagi.

Kemudian tertawa pendek.

Tawa tanpa kegembiraan.

“Jadi begini caranya.”

Ibu menggeleng.

“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu bagaimana?”

“Hendra membantu mengurus penjualan tanah. Aku tidak tahu dia akan melaporkanmu.”

“Kenapa dia melaporkanku?”

Ibu terdiam.

Ayah mendekat.

“Ratih. Kenapa?”

“Aku tidak tahu.”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Pada kehidupan sebelumnya, beberapa minggu sebelum Ayah ditangkap, aku pernah melihat seorang lelaki datang saat Ayah tidak di rumah.

Ibu menyuruhku bermain di belakang.

Aku tidak pernah menganggapnya penting.

Tetapi sekarang wajah lelaki itu muncul samar dalam ingatanku.

Ia membawa map cokelat.

Dan sebelum pergi, ia berkata kepada Ibu, “Kalau Arga masuk tahanan, semuanya lebih mudah.”

Aku berdiri.

“Ayah…”

Ayah menoleh.

“Alya pernah lihat Om Hendra.”

Wajah Ibu langsung berubah.

“Alya!”

Aku mundur mendekati Ayah.

“Dia pernah datang ke rumah.”

“Kapan?” tanya Ayah.

“Waktu Ayah pergi memperbaiki mesin penggiling.”

“Alya jangan bohong!” bentak Ibu.

Aku mulai menangis.

Tetapi kali ini aku tidak berhenti.

“Om itu bilang kalau Ayah masuk tahanan, semuanya lebih mudah.”

Ayah memandang Ibu.

Tidak ada kemarahan meledak-ledak.

Justru ketenangannya membuat suasana jauh lebih menakutkan.

“Besok kita ke polisi.”

Ibu langsung panik.

“Arga, dengarkan aku!”

“Tidak ada lagi yang perlu kudengar.”

Keesokan paginya, semuanya bergerak cepat.

Ayah membawa dokumen itu ke kantor polisi. Pak Seno dan dua tetangga ikut menjadi saksi karena mereka pernah melihat Hendra beberapa kali datang ke rumah saat Ayah tidak ada.

Ternyata saksi baru yang membuat Ayah dibebaskan adalah seorang pedagang keliling yang melihat kejadian perkelahian sebenarnya.

Hendra lebih dulu menyerang Ayah dengan batang besi.

Ayah hanya membela diri.

Lebih mengejutkan lagi, polisi menemukan bahwa luka berat yang menjadi dasar laporan ternyata terjadi setelah perkelahian. Hendra sengaja memperparah lukanya sendiri dengan bantuan seseorang agar kasus terhadap Ayah terlihat lebih berat.

Motifnya mulai terbuka ketika dokumen tanah diperiksa.

Hendra bekerja sebagai perantara tanah.

Ia mengetahui rencana pembangunan jalan baru yang akan melewati dekat bengkel Ayah.

Harga tanah di sana diperkirakan naik berkali-kali lipat.

Ibu mengetahui informasi itu darinya.

Mereka berencana menjual tanah sebelum Ayah memahami nilainya, lalu menggunakan uangnya untuk memulai hidup baru di Jakarta.

Namun ada satu hal yang bahkan membuat Ayah terdiam.

Ibu ternyata tidak pernah berniat kembali menjemputku.

Polisi menemukan surat-surat yang disimpan Hendra.

Salah satunya merupakan formulir tempat tinggal mahasiswa yang diisi Ibu.

Pada kolom tanggungan keluarga, tertulis jelas.

Tidak memiliki anak.

Ketika Ayah pulang membawa salinan dokumen itu, aku melihat tangannya gemetar.

Ia duduk lama di teras.

Aku menghampirinya.

“Ayah?”

Ayah cepat-cepat menyembunyikan kertas.

Kemudian ia tersenyum.

Senyum yang sangat buruk.

“Alya mau makan apa?”

Aku tahu dia sedang berusaha tidak menangis.

Aku memeluk pinggangnya.

“Alya mau sama Ayah.”

Tubuhnya kaku.

Lalu kedua lengannya memelukku.

Erat sekali.

Beberapa hari kemudian, Ibu pergi.

Bukan dengan koper penuh uang dan emas seperti rencananya.

Ia pergi hanya membawa pakaian pribadinya setelah perkara pemalsuan dokumen mulai diproses. Karena keterlibatannya tidak sebesar Hendra dan sebagian transaksi belum selesai secara hukum, kasusnya menjadi panjang.

Aku tidak tahu bagaimana akhirnya nanti.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin tahu.

Aku hanya ingin hidup.

Ayah mendapatkan kembali tanahnya.

Beberapa bulan kemudian, pembangunan jalan benar-benar diumumkan.

Harga tanah melonjak.

Ayah tidak menjual semuanya.

Ia hanya melepas sebagian kecil, lalu menggunakan uangnya untuk membuka bengkel mesin yang lebih besar di dekat pasar.

Damar, adik Ayah yang menjadi tentara, pulang ketika mendengar apa yang terjadi.

Ia membantu Ayah mengurus banyak hal.

Nenek juga berubah.

Mungkin karena rasa bersalah, mungkin karena ketakutan kehilangan cucunya.

Ia mulai memperhatikanku lebih baik.

Namun aku tidak pernah melupakan kehidupan pertamaku.

Setiap kali hujan turun, tubuhku masih gemetar.

Aku akan mencari Ayah.

Dan entah bagaimana, dia selalu mengerti.

Suatu malam, beberapa tahun kemudian, hujan deras mengguyur rumah kami.

Aku terbangun karena mimpi buruk.

Dalam mimpi itu, aku kembali menjadi anak kecil yang berlari sendirian di jalan tanah.

“Ibu!”

Aku berteriak sampai tenggorokanku sakit.

Tidak ada yang menjawab.

Aku terbangun sambil menangis.

Pintu kamar terbuka.

Ayah masuk.

Tanpa banyak bertanya, ia duduk di sampingku.

“Mimpi buruk?”

Aku mengangguk.

“Ayah.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari Alya bikin Ayah kecewa, Ayah akan pergi?”

Ayah mengerutkan kening.

“Kenapa Ayah harus pergi?”

“Entahlah.”

Ia terdiam sebentar.

Kemudian mengambil sesuatu dari sakunya.

Liontin emas kecil.

Liontin yang dulu hampir dibawa Ibu.

Ayah memasangkannya di leherku.

“Dulu Ayah pikir tugas orang tua adalah menyiapkan uang supaya anaknya tidak kekurangan.”

Ia mengusap kepalaku.

“Ternyata Ayah salah.”

Aku menatapnya.

“Terus tugas orang tua apa?”

“Pulang.”

Satu kata itu membuat dadaku sesak.

“Sejauh apa pun pergi, sesulit apa pun hidup, kalau punya anak yang menunggu, orang tua harus tahu jalan pulang.”

Air mataku jatuh.

Aku memeluknya.

Aku tidak pernah memberitahu Ayah bahwa sebenarnya aku pernah menunggunya pulang dalam kehidupan yang lain.

Aku juga tidak pernah mengatakan bahwa aku pernah melihatnya menangis di samping sebuah makam kecil.

Mungkin rahasia itu memang hanya untukku.

Bertahun-tahun kemudian, ketika aku sudah cukup dewasa untuk memahami seluruh dokumen lama, aku menemukan fakta terakhir yang selama ini disembunyikan Ayah.

Pada malam sebelum Ibu hendak kabur, ternyata Ayah sebenarnya sudah mengetahui rencananya.

Seorang teman di kantor pertanahan memperingatkannya tentang tanda tangan palsu.

Itulah sebabnya setelah dibebaskan, Ayah tidak langsung pulang.

Ia pergi mencari bukti.

Di antara dokumen lama itu, aku menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan Ayah.

Jika Ratih benar-benar ingin pergi, biarkan. Jangan paksa seseorang tinggal hanya karena takut kehilangan. Yang penting Alya tetap bersamaku.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Lalu aku menemukan tulisan kecil di bagian bawah.

Kalau sampai aku terlambat pulang, semoga Alya tidak mengira Ayah meninggalkannya.

Tanganku bergetar.

Dalam kehidupan pertama, itulah yang benar-benar terjadi.

Ayah terlambat pulang.

Dan aku mati sambil mengira semua orang meninggalkanku.

Aku memeluk kertas itu sambil menangis.

Barulah saat itu aku memahami mengapa Tuhan mengembalikanku ke malam tersebut.

Mungkin kesempatan kedua bukan diberikan agar aku menghukum Ibu.

Bukan pula agar aku menyelamatkan emas atau tanah.

Kesempatan itu diberikan agar sebuah kesalahpahaman yang pernah berakhir di sebuah makam kecil tidak terulang lagi.

Malam itu aku pulang ke rumah Ayah.

Ia sudah tua.

Rambut yang dulu hitam kini dipenuhi uban.

Namun ketika melihatku turun dari mobil, ia masih melakukan kebiasaan yang sama.

Membuka pintu rumah dan bertanya, “Sudah makan?”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Sudah.”

Aku memeluknya.

Ayah tertawa bingung.

“Kenapa tiba-tiba?”

Aku menggeleng.

“Tidak apa-apa. Alya cuma senang Ayah selalu pulang.”

Ayah tidak pernah tahu bahwa kalimat itu memiliki arti sepanjang dua kehidupan bagiku.

Dan aku tidak pernah lagi takut pada hujan.

Karena sekarang aku tahu, rumah bukanlah tempat yang tidak pernah ditinggalkan siapa pun.

Rumah adalah tempat di mana masih ada seseorang yang memilih untuk kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang