Tanganku masih menggenggam foto basah itu ketika Pak Budi selesai membersihkan saluran toilet.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana. Lima menit, mungkin dua puluh. Yang kuingat hanya suara air mengalir kembali dengan normal, dengung AC apartemen, dan kalimat di belakang foto yang terus berputar di kepalaku.
Keluarga kita di Boyolali, 2024. Rindu ayah selalu.
Ayah.
Anak kecil itu memanggil suamiku ayah.
“Bu Rina?”
Suara Pak Budi membuatku tersentak.
“Salurannya sudah normal. Tapi saya rasa kantong itu memang sengaja dimasukkan ke sana. Plastik seperti ini tebal sekali. Sulit kalau jatuh tanpa sengaja.”
Aku menatapnya.
“Sengaja?”
Pak Budi mengangguk ragu.
“Sepertinya begitu.”
Setelah membayar jasanya, aku mengunci pintu apartemen dan membawa semua isi kantong plastik ke meja makan.
Ada tujuh foto, empat surat, dua bukti transfer, dan sebuah amplop kecil yang sudah hampir hancur terkena air.

Tanganku gemetar ketika menyusunnya satu per satu.
Foto pertama memperlihatkan Dimas bersama perempuan berkebaya biru dan anak kecil bernama Bimo.
Foto kedua membuat napasku tercekat.
Dimas sedang menggendong Bimo yang masih bayi.
Tanggal di belakangnya tiga tahun lalu.
Artinya anak itu lahir dua tahun setelah kami menikah.
Aku membuka bukti transfer.
Nama pengirimnya Dimas Pratama.
Jumlahnya berbeda-beda. Tiga juta. Lima juta. Delapan juta.
Tapi ada sesuatu yang lebih aneh.
Rekening asal transfer bukan rekening Dimas.
Itu rekeningku.
Aku segera membuka aplikasi mobile banking.
Selama bertahun-tahun, aku memberi Dimas akses ke rekening rumah tangga karena aku terlalu sibuk mengurus pengeluaran sehari-hari. Setiap bulan aku mentransfer uang untuk belanja, tagihan, kebutuhan rumah, dan tabungan bersama.
Aku selalu menganggap Dimas pandai mengatur semuanya.
Sekarang aku memeriksa transaksi satu per satu.
Dadaku terasa semakin sesak.
Dalam sepuluh bulan terakhir saja, hampir delapan puluh juta rupiah dikirim ke rekening bernama Sari Wulandari.
Sari.
Nama yang tertulis di bawah salah satu surat.
Aku menutup mulut agar tidak berteriak.
Jadi selama ini aku bukan hanya membiayai suamiku.
Aku membiayai perempuan lain.
Aku membiayai anak mereka.
Aku bahkan mungkin membayar rumah tempat mereka berfoto bahagia.
Tangisku pecah.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, apartemen yang kubeli dengan hasil kerjaku sendiri terasa seperti tempat paling memalukan di dunia.
Namun beberapa menit kemudian, rasa sedih itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin.
Aku mengambil ponsel.
Dimas mengirim pesan dua jam sebelumnya.
“Aku sudah sampai Boyolali. Ayah masih dirawat. Jangan khawatir. Istirahat saja akhir pekan ini. Aku sayang kamu.”
Aku membaca kalimat terakhir berulang kali.
Aku sayang kamu.
Aku hampir tertawa.
Aku tidak membalas.
Sebaliknya, aku menelepon sekretarisku.
“Nadya, tolong ubah cutiku. Aku tetap cuti, tapi jangan bilang siapa pun aku pergi ke mana.”
Setelah itu aku memesan tiket pesawat paling pagi ke Solo.
Aku harus melihat semuanya dengan mata kepala sendiri.
Keesokan paginya aku tiba di Solo, lalu menyewa mobil menuju Boyolali. Alamat rumah Sari kutemukan dari salah satu bukti pengiriman yang terselip di antara surat.
Semakin jauh mobil meninggalkan kota, semakin keras jantungku berdetak.
Akhirnya mobil berhenti di depan rumah joglo yang sama persis dengan foto.
Aku mengenal pohon mangga di halaman.
Pagar kayu.
Bahkan kursi panjang tempat Dimas duduk sambil menggendong Bimo.
Aku turun.
Belum sempat mengetuk pintu, seorang anak laki-laki berlari keluar.
“Ayah!”
Aku membeku.
Namun anak itu tidak berlari kepadaku.
Dimas muncul dari samping rumah.
Ia mengenakan kaus putih dan celana pendek. Wajahnya santai. Tidak ada rumah sakit. Tidak ada ayah yang sedang sakit.
Dimas mengangkat Bimo tinggi-tinggi sambil tertawa.
Kemudian seorang perempuan keluar membawa sepiring pisang goreng.
Sari.
Perempuan dalam foto.
Ia mendekati Dimas dan mengusap keringat di dahinya dengan ujung bajunya.
Gerakan sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada ciuman.
Karena gerakan itu terlihat seperti kebiasaan.
Seperti keluarga.
Aku berdiri di balik pagar hampir satu menit sebelum Dimas akhirnya melihatku.
Senyumnya lenyap.
Tubuhnya membeku.
“Rina?”
Sari menoleh.
Wajahnya berubah pucat.
Aku membuka pagar.
“Jadi ayahmu sakit?”
Dimas menurunkan Bimo perlahan.
“Rin, dengarkan aku dulu.”
“Di rumah sakit mana?”
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tertawa pendek.
“Kalimat paling klasik dari seorang pembohong.”
Sari menarik Bimo ke belakang tubuhnya.
Anehnya, ia tampak ketakutan.
Bukan marah.
Bukan merasa menang.
Takut.
“Mas,” katanya kepada Dimas, “siapa dia?”
Aku menatapnya.
Sekarang giliranku yang terdiam.
Dimas langsung memotong.
“Sari, masuk dulu.”
“Siapa dia?” ulang Sari.
Aku menjawab sebelum Dimas sempat membuka mulut.
“Aku Rina Wijaya. Istrinya.”
Piring di tangan Sari jatuh.
Pisang goreng berserakan di tanah.
Wajahnya kehilangan warna.
“Tidak mungkin.”
Aku menatap Dimas.
Untuk pertama kalinya aku melihat kepanikan nyata di matanya.
Sari mundur beberapa langkah.
“Mas bilang istrimu meninggal.”
Aku merasa dunia kembali berhenti.
“Apa?”
Sari mulai menangis.
“Dia bilang istrinya meninggal karena kecelakaan lima tahun lalu.”
Aku menoleh perlahan kepada Dimas.
“Kamu bilang aku mati?”
“Rina, aku bisa jelaskan.”
Aku menamparnya.
Suara tamparan itu terdengar keras di halaman.
Bimo menangis.
Aku langsung menyesal karena anak itu melihatnya.
Sari menggendong Bimo dan membawanya masuk.
Aku menatap Dimas.
“Lima tahun aku bekerja sampai tengah malam supaya kita punya kehidupan yang nyaman. Dan kamu menggunakan uangku untuk membangun keluarga lain?”
Dimas menunduk.
Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Sari bukan selingkuhanku.”
Aku tertawa getir.
“Anaknya memanggilmu ayah.”
“Karena Bimo memang anakku.”
“Lalu apa bedanya?”
Dimas mengusap wajah.
“Aku menikahi Sari sebelum bertemu kamu.”
Aku tidak bisa bernapas.
Dimas akhirnya mengaku.
Delapan tahun lalu, ketika masih tinggal di Boyolali, ia menikah secara agama dengan Sari. Mereka tidak mencatatkan pernikahan itu secara resmi karena masalah administrasi dan biaya. Setelah beberapa tahun hidup miskin, Dimas pergi ke Jakarta mencari pekerjaan.
Di Jakarta ia bertemu denganku.
Ia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya sudah menikah.
Ketika hubungan kami semakin serius, ia takut kehilangan kesempatan mendapatkan kehidupan yang selama ini ia impikan.
Jadi ia berbohong.
Kepada keluargaku, ia mengaku lajang.
Kepada Sari, ia mengatakan bekerja keras di Jakarta.
Setelah menikah denganku, ia pulang beberapa kali setahun dengan alasan menjenguk orang tua.
Tiga tahun lalu, Bimo lahir.
“Jadi aku ini apa?” tanyaku.
Dimas diam.
“ATM?”
“Tidak.”
“Pembantu kariermu?”
“Rina, aku benar-benar mencintaimu.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Jangan menghina kata cinta.”
Sari keluar lagi.
Matanya merah.
Ia membawa sebuah map plastik.
“Aku juga tidak tahu.”
Ia menyerahkannya kepadaku.
Di dalamnya ada salinan dokumen pernikahan sederhana, foto-foto lama, dan pesan Dimas.
Aku membaca salah satunya.
“Aku tidak bisa pulang bulan ini. Perusahaan sedang banyak pekerjaan.”
Perusahaan.
Ia menyebut apartemenku sebagai perusahaan.
Ada pesan lain.
“Aku tinggal di mess bersama pekerja lain.”
Lalu yang paling menghancurkan.
“Kalau suatu hari aku sudah punya cukup uang, aku akan pulang selamanya.”
Aku menatap Dimas.
“Kamu merencanakan meninggalkanku?”
Ia tidak menjawab.
Diamnya sudah cukup.
Aku kembali ke Jakarta hari itu juga.
Namun sebelum pergi, Sari mengejarku sampai ke mobil.
“Mbak Rina.”
Aku menoleh.
Ia menangis sambil memeluk Bimo.
“Aku minta maaf.”
Aku menggeleng.
“Kamu tidak berutang permintaan maaf kepadaku.”
Untuk sesaat kami hanya saling menatap.
Dua perempuan yang selama bertahun-tahun hidup dalam kebohongan laki-laki yang sama.
“Ada sesuatu yang harus Mbak tahu,” katanya.
Sari mengeluarkan ponselnya.
“Dua minggu lalu Mas Dimas bilang akan membawa kami pindah ke Jakarta. Katanya dia sudah punya uang untuk membeli rumah.”
Aku mengernyit.
“Uang apa?”
Sari membuka pesan.
Dimas menulis bahwa sebentar lagi ia akan mendapatkan hampir dua miliar rupiah.
Darahku terasa dingin.
Dua miliar.
Aku langsung teringat deposito investasi yang akan jatuh tempo bulan depan.
Jumlahnya sekitar dua miliar seratus juta.
Dimas mengetahui PIN dan beberapa data keuanganku.
Malam itu juga, begitu tiba di Jakarta, aku menghubungi bank.
Semua akses rekening kuganti.
Kartu tambahan kubekukan.
Deposito kupindahkan ke rekening baru.
Aku juga menghubungi pengacara.
Ternyata tindakannya jauh lebih buruk daripada yang kukira.
Selama hampir empat tahun, Dimas memalsukan tanda tanganku pada beberapa dokumen keuangan kecil. Ia juga menggunakan kartu kredit tambahan atas namaku untuk membayar renovasi rumah di Boyolali.
Total kerugianku lebih dari tiga ratus juta rupiah.
Namun kejutan terbesar datang tiga hari kemudian.
Pengacaraku menelepon.
“Bu Rina, kami menemukan pengajuan pinjaman dengan jaminan apartemen Ibu.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
“Apa?”
“Pengajuannya belum selesai. Ada tanda tangan yang diduga dipalsukan.”
Dimas ternyata berencana menggadaikan apartemenku.
Apartemen tempat ia memasak untukku.
Tempat ia memijat punggungku.
Tempat ia mengatakan mencintaiku setiap malam.
Ia sedang bersiap mengambil semuanya.
Aku melaporkan pemalsuan dokumen itu.
Dimas pulang ke Jakarta dua hari kemudian.
Ia menemukan kunci apartemen sudah diganti.
Aku menunggunya di lobi bersama pengacaraku.
“Rina, kita bicara berdua.”
“Tidak ada lagi pembicaraan berdua.”
Ia berlutut.
Benar-benar berlutut di lantai marmer lobi.
“Aku salah. Aku takut kehilanganmu.”
“Tidak. Kamu takut kehilangan hidup yang kubiayai.”
“Aku akan berubah.”
Aku memandang laki-laki yang lima tahun lalu membuatku melawan orang tuaku sendiri.
Anehnya, aku tidak lagi merasa marah.
Aku hanya merasa kosong.
“Aku dulu mengira ayahku merendahkanmu karena kamu miskin dan berasal dari desa.”
Dimas menatapku.
“Ternyata ayahku juga salah. Asal seseorang tidak menentukan apakah dia baik atau buruk.”
Aku menarik napas.
“Yang menentukan adalah pilihan yang dia buat ketika tidak ada orang yang melihat.”
Aku berjalan pergi.
Proses perceraian berlangsung berbulan-bulan.
Penyelidikan terhadap dokumen palsu juga berjalan.
Sari memberikan semua bukti yang ia miliki. Ia tidak pernah kembali kepada Dimas.
Beberapa bulan kemudian, ia membuka usaha katering kecil di Boyolali. Diam-diam aku membantu memasukkan produknya ke salah satu jaringan pemasok acara perusahaan yang kukenal.
Bukan karena kasihan.
Karena aku tahu bagaimana rasanya harus membangun hidup kembali setelah seseorang menghancurkan fondasinya.
Setahun berlalu.
Suatu sore, aku duduk di balkon apartemen yang sama.
Apartemen itu sudah direnovasi.
Tidak ada lagi furnitur yang dipilih Dimas.
Tidak ada lagi lilin aromaterapi kesukaannya.
Di meja kecil terdapat sebuah foto.
Bukan foto pernikahan.
Foto diriku bersama ayah dan ibu.
Setelah perceraian, aku akhirnya meminta maaf kepada mereka.
Ayah hanya memelukku.
Ia tidak pernah berkata, “Ayah sudah bilang.”
Itulah yang membuatku menangis lebih keras.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Sari.
Sebuah foto Bimo memakai seragam sekolah.
Di bawahnya tertulis, “Hari pertama masuk TK. Terima kasih karena dulu Mbak tidak membenci kami.”
Aku tersenyum.
Kemudian pandanganku jatuh pada pintu kamar mandi.
Setahun lalu, sebuah toilet tersumbat hampir menghancurkan hidupku.
Sekarang aku justru bersyukur.
Karena beberapa kehancuran sebenarnya adalah penyelamatan yang datang dengan cara paling buruk.
Belakangan aku baru mengetahui satu hal terakhir.
Kantong plastik berisi foto dan surat itu ternyata bukan dibuang oleh Dimas.
Sari yang memasukkannya ke tas Dimas ketika terakhir kali ia pulang dari Boyolali.
Ia mulai curiga Dimas menyembunyikan sesuatu dan sengaja menyelipkan foto serta surat agar “teman-teman di mess” tahu bahwa Dimas memiliki keluarga.
Dimas menemukan kantong itu ketika tiba di Jakarta.
Dalam kepanikan, ia mencoba membuangnya ke toilet sebelum aku pulang kerja.
Namun kantong itu tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya tersangkut jauh di dalam pipa selama berbulan-bulan.
Menunggu.
Menunggu sampai kebohongan yang dikubur Dimas sendiri akhirnya menyumbat kehidupannya.
Dan sejak hari itu aku memahami satu hal.
Kebenaran bisa ditutup rapat, dibungkus plastik, didorong sejauh mungkin, bahkan dikubur di tempat yang paling kotor.
Namun kebenaran memiliki cara aneh untuk kembali ke permukaan.
Kadang-kadang, yang kita perlukan hanyalah satu penyumbatan kecil untuk membuka jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ternyata dibangun di atas kebohongan.
