Aku baru menyadari betapa nekat keputusanku ketika mobilku sudah meninggalkan halaman penampungan hewan.
Pepper duduk diam di dalam kandangnya di kursi sebelah. Sesekali mata hijaunya yang keruh menatapku melalui jeruji besi.
“Aku baru saja mengkhianati sahabatku yang sudah meninggal,” gumamku.
Pepper mengeong pelan.
“Jangan ikut campur. Ini gara-gara kamu.”
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman Dorothy, aku tertawa.
Suara itu terdengar asing di dalam mobil.
Hari-hari berikutnya, Pepper mulai mengubah rumahku tanpa meminta izin.
Dia duduk di depan kamar mandi setiap pagi seolah memastikan aku belum jatuh di dalam. Dia tidur di dekat kakiku ketika aku menonton televisi. Tepat pukul enam sore, dia berdiri di dapur dan menatapku sampai aku memberinya makan.
Aku bahkan mulai berbicara dengannya.
Awalnya hanya hal-hal kecil.
“Hujan lagi.”
“Atau mungkin aku harus membeli roti.”

Kemudian percakapan itu menjadi lebih panjang.
Aku bercerita tentang mendiang suamiku, Richard. Tentang anak-anakku yang sibuk dengan keluarga mereka sendiri. Tentang rasa takut menjadi tua sendirian.
Pepper tentu saja tidak pernah menjawab.
Namun Dorothy juga dulu tidak selalu menjawab.
Kadang seseorang memang tidak membutuhkan nasihat.
Kita hanya membutuhkan makhluk lain yang tetap tinggal ketika kita sedang berbicara.
Seminggu setelah Pepper tinggal bersamaku, seseorang mengetuk pintu.
Claire berdiri di teras.
Putri Dorothy itu tinggal di Oregon dan seharusnya sudah kembali bekerja.
“Aku kira kau sudah pulang,” kataku.
“Aku memang pulang. Kemarin aku terbang kembali.”
Wajahnya terlihat tegang.
“Aku perlu mengambil beberapa dokumen Ibu.”
Aku mempersilahkannya masuk.
Pepper sedang tidur di sofa.
Begitu Claire melihatnya, langkahnya berhenti.
“Pepper?”
Aku merasakan perutku mengeras.
“Ya.”
Claire menatapku.
“Kupikir Ibu meminta Bibi membawanya ke penampungan.”
“Aku memang membawanya.”
“Lalu?”
“Aku membawanya pulang lagi.”
Claire terdiam cukup lama.
“Jadi Bibi tidak menepati janjinya?”
Aku tidak suka cara kalimat itu menusukku, terutama karena dia benar.
“Tidak.”
Claire menghela napas.
“Ibu sangat jelas soal Pepper.”
“Aku tahu.”
“Dia bahkan membicarakannya denganku.”
Aku menatap Claire.
“Apa katanya?”
“Katanya Bibi tidak boleh memelihara Pepper.”
Nada suaranya membuatku kesal.
“Maaf, tetapi aku masih cukup sehat untuk memutuskan apakah aku sanggup merawat seekor kucing.”
“Ini bukan soal itu.”
“Lalu soal apa?”
Claire membuka mulut, kemudian menutupnya lagi.
“Aku hanya ingin menghormati keinginan Ibu.”
“Aku juga.”
“Dengan melakukan kebalikan dari permintaannya?”
Kalimat itu menyakitkan.
Pepper terbangun dan mengangkat kepala.
Aku berdiri.
“Kalau kau datang hanya untuk membuatku merasa bersalah, sebaiknya kau pergi.”
Claire terlihat menyesal.
“Aku tidak bermaksud begitu.”
“Tapi itulah yang kau lakukan.”
Dia mengambil tasnya.
Sebelum keluar, Claire menatap Pepper sekali lagi.
“Ada alasan Ibu meminta itu, Bibi Evelyn.”
“Apa?”
Claire menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Kemudian dia pergi.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Pepper berada di ujung tempat tidur seperti biasa, tetapi perkataan Claire terus terngiang di kepalaku.
Ada alasan.
Keesokan harinya aku pergi ke rumah Dorothy.
Claire memberiku kunci sebelum kembali ke hotel. Rumah itu akan dijual, dan dia mengatakan aku boleh mengambil beberapa barang kenangan.
Begitu pintu terbuka, aroma rumah Dorothy menyambutku.
Sabun lavender.
Kayu tua.
Sedikit aroma kopi yang seolah masih tertinggal di udara.
Untuk sesaat, aku hampir memanggil namanya.
Aku mulai dari ruang tamu.
Foto-foto lama.
Buku resep.
Selimut rajutan.
Di atas meja kecil dekat kursi favorit Dorothy terdapat sebuah kotak kayu.
Aku mengenalinya.
Dorothy menyimpan surat dan kartu ulang tahun di sana.
Aku membukanya.
Di bawah tumpukan foto, aku menemukan amplop putih.
Namaku tertulis di depannya.
Evelyn.
Tulisan tangan Dorothy.
Tanganku langsung gemetar.
Aku duduk di kursinya sebelum membuka amplop.
Evie,
Kalau kau membaca surat ini, berarti Claire akhirnya membereskan rumahku atau kau sedang mengobrak-abrik barang-barangku tanpa izin. Aku lebih percaya kemungkinan kedua.
Aku tertawa sambil menangis.
Begitu khas Dorothy.
Aku melanjutkan membaca.
Aku tahu aku sudah memintamu membawa Pepper ke penampungan. Mungkin kau marah kepadaku. Mungkin kau melakukannya tanpa bertanya. Namun ada sesuatu yang tidak sanggup kukatakan ketika aku masih hidup.
Beberapa bulan terakhir, aku memperhatikanmu.
Kau semakin jarang keluar rumah.
Kau berhenti datang ke klub buku.
Kau tidak lagi berkebun.
Setiap kali aku bertanya, kau bilang kau hanya lelah.
Aku mengenalmu lebih dari lima puluh tahun, Evelyn. Aku tahu bedanya lelah dan menyerah.
Aku berhenti membaca.
Tanganku menutup mulut.
Dorothy tahu.
Tentu saja dia tahu.
Setelah Richard meninggal, kesepianku tidak datang seperti badai.
Ia datang seperti debu.
Sedikit demi sedikit.
Sampai suatu hari, seluruh hidupku tertutup olehnya.
Aku membaca lagi.
Aku ingin meminta kau memelihara Pepper. Sungguh.
Tetapi aku takut kau akan menerimanya hanya karena merasa kasihan kepadaku.
Aku tidak ingin meninggalkan kewajiban sebagai warisan terakhirku.
Kalau Pepper tinggal bersamamu, aku ingin itu karena kau memilihnya.
Bukan karena aku mati dan memaksamu.
Jadi aku meminta kau membawanya ke tempat penampungan.
Kalau kau menyerahkannya, aku tahu dia akan aman.
Tetapi kalau di tengah perjalanan kau berubah pikiran, mungkin itu berarti kalian memang saling membutuhkan.
Air mataku jatuh ke kertas.
Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat.
Dan kalau itu terjadi, jangan merasa bersalah karena mengingkari janjimu.
Itulah satu-satunya janji kepadaku yang sebenarnya kuharapkan kau langgar.
Aku menangis begitu keras sampai dadaku sakit.
Selama seminggu aku mengira telah mengkhianati Dorothy.
Ternyata bahkan dalam kematian, perempuan keras kepala itu masih mengenalku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara dari pintu depan.
“Bibi Evelyn?”
Claire.
Aku buru-buru mengusap wajah.
Dia masuk ke ruang tamu dan melihat surat di tanganku.
Wajahnya berubah.
“Bibi menemukannya.”
“Kau tahu tentang surat ini?”
“Tidak isinya. Ibu hanya pernah bilang kalau ada sesuatu untuk Bibi di rumah.”
Aku menyerahkan surat itu kepadanya.
Claire membacanya perlahan.
Ketika selesai, dia duduk di sofa dan menangis.
“Aku salah,” katanya.
Aku menggenggam tangannya.
“Kita berdua hanya berusaha melakukan apa yang kita kira diinginkan ibumu.”
Claire tertawa kecil di sela tangis.
“Dia bahkan berhasil mengatur hidup orang setelah meninggal.”
“Itu memang bakat ibumu.”
Kami tertawa bersama.
Sebelum Claire kembali ke Oregon dua hari kemudian, dia datang ke rumahku untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Pepper.
Namun sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Pepper tidak menghampirinya.
Dia duduk di depan pintu.
Menatap keluar.
Claire berjongkok.
“Apa yang kau tunggu?”
Aku langsung tahu.
Dorothy.
Pepper masih menunggu.
Aku duduk di lantai di sampingnya.
“Dia tidak akan pulang, Pep.”
Pepper menatapku.
Aku menyentuh kepalanya.
“Tapi aku ada di sini.”
Malam itu Pepper tidur lebih dekat daripada biasanya.
Bukan di ujung tempat tidur.
Dia meringkuk di samping pinggangku.
Dua bulan kemudian, hidupku sudah berubah jauh lebih banyak daripada yang kubayangkan.
Aku kembali berjalan-jalan setiap pagi karena dokter hewan mengatakan Pepper perlu menjaga berat badan dan aku merasa tidak adil menyuruhnya sehat sementara aku sendiri duduk seharian.
Aku kembali ke klub buku.
Aku mulai berkebun lagi.
Aku bahkan mengenal tetangga baru di seberang jalan, seorang janda bernama Marlene yang sering datang membawa camilan kucing meskipun Pepper jelas lebih menyukai dirinya daripada camilannya.
Anak-anakku mulai menelepon lebih sering.
Suatu sore, putraku berkata melalui telepon, “Ibu terdengar berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
“Seperti Ibu punya sesuatu untuk dikerjakan.”
Aku memandang Pepper yang sedang tidur di bawah sinar matahari.
“Mungkin memang begitu.”
Namun empat bulan setelah Dorothy meninggal, aku bangun dan menemukan Pepper tidak mau makan.
Dia hanya berbaring.
Aku membawanya ke dokter hewan.
Setelah pemeriksaan, dokter itu duduk di depanku.
“Ada massa di ginjalnya.”
Aku tahu arti nada suaranya bahkan sebelum dia menjelaskan.
Kanker.
Sudah menyebar.
Usia Pepper membuat operasi hampir tidak mungkin.
“Mungkin beberapa minggu,” katanya. “Mungkin dua atau tiga bulan kalau dia merespons obat.”
Aku pulang sambil menangis.
Rasanya tidak adil.
Aku baru saja memilihnya.
Aku baru saja belajar mencintainya.
Malam itu aku duduk di lantai bersama Pepper.
“Aku tidak siap kehilanganmu.”
Pepper meletakkan kepalanya di pahaku.
Aku teringat sesuatu.
Dorothy pernah mengatakan kalimat yang membuatku kesal ketika Richard meninggal.
Tidak ada waktu yang cukup panjang untuk membuat kita siap kehilangan seseorang yang kita cintai.
Saat itu aku menganggapnya omong kosong.
Sekarang aku mengerti.
Selama enam minggu berikutnya, dunia kami menjadi kecil.
Obat setiap pagi.
Makanan lunak.
Tidur siang di bawah matahari.
Aku membawanya ke teras ketika cuaca hangat.
Pada suatu sore, aku membawa Pepper ke rumah Dorothy untuk terakhir kalinya.
Rumah itu sudah kosong dan akan diserahkan kepada pemilik baru keesokan harinya.
Aku membuka pintu.
Pepper berjalan perlahan masuk.
Dia menuju ruang tamu.
Kemudian berhenti di tempat kursi Dorothy dulu berada.
Dia duduk di sana.
Menunggu.
Aku duduk di lantai di sampingnya.
“Dia mencintaimu,” bisikku.
Pepper mendengkur.
“Dan kurasa dia menitipkan kita satu sama lain.”
Pepper menoleh kepadaku.
Untuk pertama kalinya sejak Dorothy meninggal, dia tidak melihat ke arah pintu.
Dia melihatku.
Tiga hari kemudian, Pepper berhenti minum.
Aku tahu waktunya tiba.
Dokter hewan datang ke rumah agar Pepper tidak perlu merasa takut.
Aku memeluknya di sofa.
Tanganku membelai telinga sobeknya.
“Kau boleh pergi,” bisikku.
Kalimat itu terasa seperti ditujukan kepada dua makhluk sekaligus.
Pepper.
Dan Dorothy.
“Aku akan baik-baik saja.”
Pepper mengembuskan napas terakhirnya dengan kepala di tanganku.
Rumah kembali sunyi.
Tetapi kali ini kesunyian itu berbeda.
Aku menangis selama berhari-hari.
Namun aku tidak menutup tirai.
Aku tidak mematikan telepon.
Aku tidak menghilang.
Seminggu kemudian, aku kembali ke tempat penampungan tempat aku pernah hampir meninggalkan Pepper.
Nina masih bekerja di sana.
Begitu melihatku, dia tersenyum.
“Bagaimana Pepper?”
Aku mengatakan yang sebenarnya.
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Aku ikut sedih.”
“Terima kasih.”
Aku berdiri di depan meja yang sama.
Tempat Pepper pernah mengulurkan kaki kecilnya dan menggenggam jariku.
Nina bertanya, “Ada yang bisa kubantu?”
Aku melihat ke ruangan di belakangnya.
Puluhan kandang.
Puluhan mata menunggu seseorang berhenti.
“Aku tidak ingin membawa pulang kucing hari ini.”
Nina mengangguk.
“Tapi aku ingin menjadi relawan.”
Wajahnya langsung berubah cerah.
“Serius?”
“Dua kali seminggu. Kalau kalian mau menerima perempuan tua yang cerewet.”
“Kami sangat membutuhkan perempuan tua yang cerewet.”
Aku tertawa.
Kemudian dari salah satu kandang terdengar suara mengeong.
Seekor kucing hitam tua duduk sendirian di sudut.
Satu matanya sudah tidak ada.
Aku mendekat.
“Siapa namanya?”
“Walter. Empat belas tahun. Sudah enam bulan di sini.”
Aku memasukkan satu jari melalui jeruji.
Walter mengendusnya.
Kemudian menempelkan kepalanya ke jariku.
Aku menutup mata.
Untuk sesaat, aku bisa merasakan Pepper.
Dorothy.
Richard.
Semua kehilangan yang pernah kukira akan menghancurkanku.
Ternyata cinta tidak menyelamatkan kita dari kehilangan.
Cinta hanya mengajarkan bahwa kehilangan bukan alasan untuk berhenti hidup.
Aku membuka mata.
Nina berdiri di belakangku sambil tersenyum.
“Katanya tidak mau membawa pulang kucing hari ini?”
Aku menatap Walter.
Kemudian menatap Nina.
“Aku memang mengatakan begitu.”
Nina tertawa.
Aku ikut tertawa.
Lalu aku teringat sahabatku yang pernah membuatku berjanji menyerahkan seekor kucing, hanya karena dia mengenalku cukup baik untuk berharap aku akan mengingkarinya.
Aku membuka pintu kandang Walter.
“Sepertinya,” kataku pelan, “aku memang tidak terlalu pandai menepati janji.”
