Pria yang menghabiskan seluruh hidupnya berlari dari masa lalu itu tak pernah menyangka bahwa suatu hari, masa lalunya justru akan menemukannya di samping sebuah gerobak kue di jalanan Eropa yang tenang.

“Ibu…?”

Satu kata itu keluar dari bibir Sebastian seperti sesuatu yang telah terkubur puluhan tahun dan akhirnya berhasil menggali jalan keluar.

Perempuan tua di hadapannya menutup mulut dengan kedua tangan. Air mata yang sejak tadi ditahannya jatuh membasahi pipi.

“Bastian…”

Sebastian tersentak.

Tidak ada seorang pun yang memanggilnya begitu lagi.

Nama itu hanya hidup di bagian masa kecilnya yang nyaris tak pernah ia sentuh. Di London, New York, Singapura, atau ruang rapat mana pun tempat namanya dikenal, semua orang memanggilnya Sebastian Hale.

Tetapi dahulu, seorang perempuan selalu memanggilnya Bastian.

Sebastian menatap foto tua di tangannya.

“Apa nama Anda?”

Perempuan itu menarik napas panjang.

“Mira.”

Dada Sebastian terasa seperti dihantam sesuatu.

Mira.

Nama ibunya.

Namun wajah perempuan itu berbeda dari potongan kenangan yang masih tersisa di kepalanya. Dalam ingatannya, ibunya masih berusia tiga puluhan, berambut hitam panjang dan selalu mengenakan celemek putih berbau tepung.

Perempuan di depannya kini telah renta.

“Tidak mungkin.”

Sebastian mundur satu langkah.

“Anda meninggal.”

Mira terdiam.

“Ayah bilang Anda meninggal.”

Kalimat itu terdengar lebih seperti tuduhan daripada penjelasan.

Perempuan bermantel cokelat yang datang bersama Sebastian, Elena, mencoba menyentuh lengannya.

“Sebastian, mungkin kita sebaiknya duduk dulu.”

“Jangan.”

Suara Sebastian tajam.

Elena langsung menarik tangannya.

Sebastian kembali menatap Mira.

“Kalau Anda benar-benar ibu saya, katakan sesuatu yang hanya dia dan saya yang tahu.”

Mira mengangguk perlahan.

“Kau takut suara petir.”

Sebastian tidak bereaksi.

“Itu bisa diketahui siapa saja.”

“Kalau hujan deras, kau bersembunyi di bawah meja dapur. Aku harus duduk di lantai sambil membuatkanmu roti berbentuk bulan sabit. Kau selalu menggigit bagian tengahnya lebih dulu.”

Sebastian membeku.

Mira melanjutkan dengan suara bergetar.

“Dan kau punya bekas luka kecil di belakang telinga kiri karena jatuh dari sepeda saat umur lima tahun. Kau menangis bukan karena sakit, tetapi karena takut aku akan membuang sepedamu.”

Tanpa sadar, tangan Sebastian terangkat menyentuh belakang telinganya.

Bekas luka itu masih ada.

Wajahnya memucat.

“Apa yang terjadi?”

Mira menatap gerobaknya.

“Bukan di sini.”

Beberapa menit kemudian, mereka duduk di sebuah kedai kopi kecil di ujung jalan. Gerobak Mira dititipkan kepada pemilik toko roti di sebelah.

Sebastian duduk berhadapan dengan ibunya.

Elena memilih meja lain.

Mira menggenggam secangkir teh hangat, tetapi tidak meminumnya.

“Dua puluh sembilan tahun lalu,” katanya, “ayahmu membawamu pergi.”

Sebastian mengerutkan kening.

“Itu bukan yang saya ingat.”

“Tentu saja bukan. Kau baru tujuh tahun.”

Mira mulai bercerita.

Saat itu mereka tinggal di Jakarta. Ayah Sebastian, Richard Hale, adalah pengusaha asal Inggris yang sedang mengembangkan bisnis di Asia Tenggara. Mira bekerja di sebuah toko roti kecil milik keluarganya.

Mereka menikah setelah berkenalan di Jakarta.

Pada awalnya, semuanya tampak sempurna.

Sampai bisnis Richard mulai berkembang.

Dia menjadi semakin jarang pulang, semakin mudah marah, dan semakin malu terhadap kehidupan sederhana istrinya.

Puncaknya terjadi ketika Richard memutuskan membawa Sebastian ke Eropa dengan alasan liburan.

“Dia bilang kalian akan pergi dua minggu,” ujar Mira.

“Tapi kami tidak pernah kembali.”

Mira mengangguk.

“Aku menelepon. Menulis surat. Mendatangi kantornya. Tidak pernah ada jawaban.”

Sebastian menatap meja.

“Ayah bilang Ibu sakit.”

“Aku memang sakit.”

Mira menelan ludah.

“Karena aku hampir kehilangan akal setelah kehilanganmu.”

Sebastian mengepalkan tangannya.

“Lalu dia bilang Ibu meninggal karena penyakit itu.”

Mira memejamkan mata.

“Aku baru tahu bertahun-tahun kemudian.”

Sebastian tertawa pendek tanpa humor.

“Jadi selama hampir tiga puluh tahun saya berkabung untuk seseorang yang masih hidup?”

Mira tidak menjawab.

Sebastian berdiri.

“Aku butuh udara.”

Dia berjalan keluar kedai.

Mira tidak mengejarnya.

Di trotoar, Sebastian mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang di Jakarta.

“Daniel.”

Suara asistennya menjawab cepat.

“Pak Sebastian?”

“Batalkan semua rapat hari ini.”

“Tapi pertemuan investor dimulai satu jam lagi.”

“Batalkan.”

Dia menutup telepon.

Elena keluar dari kedai.

“Aku belum pernah melihatmu seperti ini.”

Sebastian menatap jalan.

“Karena aku juga belum pernah melihat diriku seperti ini.”

Elena berdiri di sampingnya.

“Apa kau percaya padanya?”

“Aku tidak tahu.”

“Kalau begitu cari tahu.”

Kalimat sederhana itu membuat Sebastian terdiam.

Malam itu dia melakukan sesuatu yang selama bertahun-tahun selalu dihindarinya.

Dia membuka arsip lama keluarganya.

Dengan bantuan tim hukum di Jakarta dan London, dokumen-dokumen lama mulai bermunculan.

Catatan perjalanan.

Surat pengadilan.

Dokumen imigrasi.

Laporan dari pengacara.

Lalu sebuah berkas membuat tangannya berhenti.

Permohonan hak asuh anak.

Penggugat: Mira Santoso.

Tahun: dua puluh sembilan tahun lalu.

Sebastian membaca seluruh halaman.

Ibunya memang pernah mencoba mendapatkan dirinya kembali.

Bukan sekali.

Tiga kali.

Semua gugatan gagal karena Richard memiliki sumber daya hukum yang jauh lebih kuat.

Kemudian muncul dokumen lain.

Surat yang ditulis tangan.

Untuk Bastian.

Sebastian membuka hasil pemindaian surat pertama.

Sayang, hari ini Ibu membuat kue kesukaanmu. Ibu tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi, tapi Ibu tetap membuatnya karena Ibu takut lupa rasanya menunggumu pulang.

Ada puluhan surat.

Sebastian membaca satu per satu sampai dini hari.

Sebagian memiliki cap dikembalikan kepada pengirim.

Sebagian tidak pernah dikirim.

Pada surat terakhir, tertulis satu kalimat.

Kalau suatu hari kamu menemukanku dan memilih tidak memaafkanku, tidak apa-apa. Ibu hanya ingin kamu tahu bahwa Ibu tidak pernah meninggalkanmu.

Pagi berikutnya Sebastian kembali ke jalan berbatu itu.

Gerobak kue sudah berada di tempat yang sama.

Mira sedang menata dagangannya.

Dia terlihat terkejut ketika Sebastian datang sendirian.

“Aku menemukan surat-suratnya.”

Tangan Mira berhenti.

“Kenapa Ibu tidak mencariku setelah aku dewasa?”

Pertanyaan itu terdengar seperti kemarahan yang telah berubah menjadi luka.

Mira mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.

“Aku mencarimu.”

Di dalamnya terdapat potongan majalah dan koran.

Wawancara Sebastian.

Foto kelulusannya.

Berita perusahaan pertamanya.

Penghargaan bisnis.

Hampir seluruh perjalanan hidup Sebastian tersimpan di sana.

“Aku tahu kau kuliah di London. Aku tahu perusahaan pertamamu bangkrut. Aku tahu kau membangunnya lagi. Aku tahu kau pindah ke Singapura beberapa tahun.”

Sebastian menatapnya tak percaya.

“Kenapa tidak datang?”

Mira tersenyum sedih.

“Karena setiap fotomu terlihat bahagia.”

“Jadi?”

“Aku takut kalau aku datang, aku hanya akan menghancurkan hidup yang sudah kau bangun.”

Sebastian menunduk.

Ironisnya, hidup yang dianggap bahagia itu sebagian besar hanyalah tampilan.

Dia memiliki rumah di tiga negara, mobil yang hampir tidak pernah dikendarai, dan apartemen mewah yang terlalu sunyi setiap malam.

“Apa yang Ibu lakukan di sini?”

“Setelah nenekmu meninggal, aku menjual toko roti kami di Jakarta. Beberapa tahun kemudian aku ikut adikku pindah ke Eropa. Dia sudah meninggal sekarang.”

Mira mengusap gerobaknya.

“Aku kembali membuat kue.”

“Dan kebetulan aku lewat sini?”

Mira tersenyum.

“Bagian itu memang kebetulan.”

Sebastian menatapnya tajam.

“Tapi Ibu langsung mengenaliku.”

“Seorang ibu bisa lupa banyak hal, Bastian.”

Mata Mira berkaca-kaca.

“Tapi tidak wajah anaknya.”

Untuk pertama kalinya Sebastian tidak menahan air matanya.

Namun sebelum dia mengatakan sesuatu, sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan.

Seorang pria tua turun dengan bantuan tongkat.

Sebastian langsung mengenalinya.

“Ayah?”

Richard Hale kini berusia tujuh puluh enam tahun. Tubuh yang dahulu tegap telah membungkuk.

“Aku mendengar kau membatalkan rapat.”

Sebastian menatap ayahnya dengan dingin.

“Bagaimana Ayah tahu aku di sini?”

Richard tidak menjawab.

Mira justru terlihat pucat.

“Richard.”

Sebastian memandang mereka bergantian.

Ada sesuatu yang salah.

“Kalian sudah pernah bertemu?”

Richard menarik napas.

“Tiga bulan lalu.”

Sebastian merasa darahnya mendidih.

“Apa?”

“Ayah menemukannya lebih dulu.”

“Dan tidak memberitahuku?”

“Aku berniat memberitahumu.”

“Kapan? Setelah dia meninggal sungguhan?”

Richard menunduk.

Mira mencoba bicara.

“Bastian…”

“Tidak, Bu.”

Itu pertama kalinya dia memanggilnya begitu tanpa ragu.

“Biarkan dia menjawab.”

Richard menatap putranya.

“Aku melakukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.”

“Kenapa?”

“Karena aku egois.”

Tidak ada alasan tentang bisnis atau keadaan.

Hanya pengakuan sederhana.

“Aku ingin kau menjadi seperti aku. Aku menganggap kehidupan ibumu terlalu kecil untuk masa depanmu.”

Mira memalingkan wajah.

Richard melanjutkan.

“Ketika kau terus menangis meminta pulang, aku bilang ibumu sakit. Kemudian aku bilang dia meninggal. Setelah beberapa tahun, kebohongan itu terlalu besar untuk kuakui.”

Sebastian mengepalkan rahang.

“Ayah mencuri hampir tiga puluh tahun dari kami.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Ayah tidak tahu.”

Sebastian mendekat.

“Ayah tahu berapa kali aku berdiri di pemakaman orang lain dan berpikir seandainya ibuku masih hidup? Ayah tahu kenapa aku tidak pernah punya keluarga? Karena aku belajar sejak umur tujuh tahun bahwa orang yang kita cintai bisa menghilang tanpa penjelasan.”

Richard tidak mampu menjawab.

Sebastian berbalik.

Namun Mira memegang lengannya.

“Jangan pergi dengan kemarahan yang sama seperti kemarin.”

Sebastian menatapnya.

“Ibu membelanya?”

“Tidak.”

Mira menggeleng.

“Aku hanya tidak ingin masa lalumu mengambil tiga puluh tahun berikutnya juga.”

Sebastian terdiam.

Mira kemudian mengambil satu kue dari gerobak.

“Kau tahu kenapa aku masih membuat ini?”

Sebastian menggeleng.

“Karena pagi terakhir sebelum ayahmu membawamu pergi, kau bilang saat besar nanti kau akan membelikan Ibu toko roti paling besar di Jakarta.”

Sebastian tertawa kecil sambil menangis.

“Aku mengatakan itu?”

“Kau juga bilang tokonya harus punya pintu merah karena merah warna paling mahal menurutmu.”

Untuk pertama kalinya mereka tertawa bersama.

Enam bulan kemudian, sebuah toko roti kecil dibuka di Jakarta.

Bukan gedung mewah.

Bukan jaringan internasional.

Hanya sebuah toko hangat dengan jendela besar dan sebuah pintu merah.

Di atas pintunya tertulis Mira dan Bastian.

Pada hari pembukaan, Sebastian berdiri di belakang meja mengenakan celemek, sesuatu yang membuat para eksekutif perusahaannya hampir tidak percaya.

Mira berdiri di sampingnya.

Richard tidak hadir.

Sebastian belum memaafkannya.

Mungkin suatu hari nanti.

Mungkin juga tidak.

Namun Sebastian akhirnya mengerti bahwa memaafkan bukan syarat untuk berhenti membawa luka ke mana-mana.

Menjelang sore, seorang anak kecil datang bersama ibunya dan menunjuk kue berbentuk bulan sabit.

“Yang itu enak?”

Sebastian mengambil satu, meletakkannya di atas tisu putih, lalu membungkuk agar sejajar dengan anak itu.

“Cobalah.”

Mira yang berdiri beberapa langkah di belakangnya langsung terdiam.

Itu adalah kata yang sama.

Kata yang telah mempertemukan mereka kembali.

Anak itu menggigit kue dan tersenyum lebar.

Sebastian menoleh kepada ibunya.

“Enak?”

Mira mengangguk sambil menahan air mata.

“Rasanya sama.”

Sebastian tersenyum.

“Tidak, Bu.”

Dia menggenggam tangan tua yang pernah terlepas dari tangannya puluhan tahun lalu.

“Kali ini rasanya berbeda.”

“Kenapa?”

Sebastian memandang toko kecil itu, kemudian menatap ibunya.

“Karena kali ini aku pulang.”

Mira tidak pernah memberi tahu Sebastian satu hal.

Malam setelah toko tutup, dia membuka dompet lamanya dan mengeluarkan tiket pesawat menuju Jakarta yang telah dibelinya sebelum pertemuan mereka di Eropa.

Tanggal keberangkatannya adalah hari berikutnya setelah mereka bertemu.

Setelah hampir tiga puluh tahun menunggu, Mira sebenarnya telah memutuskan untuk berhenti.

Dia berniat kembali ke Indonesia dan tidak pernah mencari Sebastian lagi.

Artinya, jika Sebastian melewati gerobak itu beberapa detik lebih cepat, jika dia tidak berhenti, atau jika dia menolak sepotong kue sederhana itu, mereka mungkin tidak akan pernah bertemu lagi.

Mira memandang tiket lama itu untuk terakhir kalinya sebelum menyimpannya di sebuah kotak.

Bukan sebagai pengingat tentang tahun-tahun yang hilang.

Melainkan tentang satu pagi ketika seorang pria yang selalu terburu-buru akhirnya memilih berhenti.

Dan keputusan kecil itu mengembalikan sesuatu yang bahkan seluruh kekayaannya tidak pernah mampu membeli.

Rumah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang