Dimas sudah tahu.
Kesadaran itu terasa lebih menyakitkan daripada rasa lapar yang sejak tadi melilit perutku.
Aku menatap suamiku, berharap dia akan menyangkal. Berharap dia akan bertanya kepada ibunya kenapa tiga kotak makanan lengkap disimpan untuk Lina sementara aku, istrinya yang sedang menyusui anak kami, hanya diberi nasi dingin dan sisa kuah.
Namun Dimas justru menghindari tatapanku.
“Sudahlah, Maya,” katanya pelan. “Jangan diperpanjang.”
Aku tercekat.
“Kamu tahu?”
“Maksudmu apa?”
“Kamu tahu makanan itu disimpan untuk Lina?”
Dimas mengusap wajahnya. “Aku lihat Ibu masukin ke kulkas tadi.”
“Dan kamu diam?”
“Maya, itu cuma makanan.”
Aku mengangguk perlahan.
Benar.
Hanya makanan.
Sepotong ayam tidak akan membuatku miskin. Tiga kotak nasi tidak akan menghancurkan rumah tanggaku.
Tapi yang kulihat hari itu bukan persoalan ayam.
Aku melihat posisi sebenarnya yang diberikan keluarga ini kepadaku.

Dan yang lebih menyakitkan, aku melihat posisi yang dipilih suamiku untukku.
Di bawah ibunya.
Di bawah adiknya.
Mungkin bahkan di bawah harga tiga kotak nasi.
Kirana mulai menangis dari ruang depan.
Aku segera keluar dan menggendongnya. Bayi kecil itu menggeliat di dadaku, wajahnya memerah.
Bu Marni mengikuti dari belakang.
“Jangan sedikit-sedikit bikin masalah besar. Kamu itu sudah jadi istri Dimas. Harus tahu cara menghormati keluarga suami.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya mengambil tas bayi, memasukkan botol susu, popok, dan beberapa pakaian Kirana.
Dimas langsung panik.
“Kamu mau ke mana?”
“Cari makan.”
“Ya sudah, aku antar.”
“Tidak perlu.”
“Maya.”
Aku menatapnya.
“Aku cuma mau makan, Dimas. Bukankah itu terlalu banyak untuk diminta di rumah keluargamu?”
Wajahnya memerah karena beberapa kerabat masih memperhatikan kami.
“Kamu sengaja mempermalukanku?”
Aku tersenyum hambar.
“Aneh. Aku yang tidak diberi makan, tapi kamu yang merasa dipermalukan.”
Aku membawa Kirana keluar.
Ada warung soto sekitar lima ratus meter dari rumah. Aku berjalan ke sana sambil menggendong putriku karena tidak ingin menunggu siapa pun.
Pemilik warung, seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan, langsung berdiri ketika melihatku.
“Lho, Mbak, bawa bayi jalan kaki? Duduk sini.”
Aku memesan soto ayam dan nasi.
Ketika mangkuk panas diletakkan di depanku, entah kenapa mataku justru panas.
Perempuan itu mungkin mengira aku kelelahan.
Dia mengambil telur rebus dari etalase dan memasukkannya ke mangkukku.
“Ini tambahan. Ibu menyusui harus banyak makan.”
Aku hampir menangis.
Seorang perempuan asing yang bahkan tidak tahu namaku memikirkan apakah aku cukup makan.
Sementara keluarga yang selama ini kubantu justru sengaja membiarkanku kelaparan.
Aku baru menghabiskan setengah mangkuk ketika ponselku berbunyi.
Pesan dari Dimas.
Jangan lama-lama. Ibu makin marah.
Bukan pertanyaan apakah aku sudah makan.
Bukan permintaan maaf.
Aku mematikan layar.
Ketika kembali ke rumah sekitar satu jam kemudian, suasana sudah lebih sepi. Sebagian besar kerabat pulang.
Aku hendak langsung masuk kamar ketika mendengar suara Bu Marni dari dapur.
Dia sedang berbicara dengan Bude Sri.
Aku sebenarnya tidak berniat menguping.
Namun langkahku berhenti ketika mendengar namaku.
“Kalau dari awal tidak dikerasin, nanti makin berani.”
Suara Bu Marni terdengar jelas.
Bude Sri tertawa kecil.
“Memangnya tadi sengaja tidak disisakan?”
“Ya memang.”
Tubuhku membeku.
Bu Marni melanjutkan.
“Perempuan seperti Maya itu terlalu merasa dirinya penting. Gajinya lebih besar dari Dimas, tinggal di Jakarta, semua keputusan rumah tangga dia yang pegang. Kalau dibiarkan, lama-lama Dimas tidak punya harga diri.”
“Makanya makanannya tidak dikasih?”
“Biar tahu rasanya masuk keluarga orang. Biar belajar tunduk. Perempuan kalau sudah jadi istri itu harus ikut suami, bukan suami yang ikut istri.”
Bude Sri tertawa lagi.
“Tapi dia menyusui.”
“Memangnya orang menyusui tidak bisa lapar sebentar?”
Kemudian terdengar suara lain.
Dimas.
Aku tidak sadar dia juga ada di dapur.
“Ibu jangan keras-keras ngomongnya.”
Jantungku berdetak cepat.
Aku menunggu.
Inilah kesempatan terakhirnya.
Aku berharap dia akan mengatakan bahwa ibunya keterlaluan.
Namun yang keluar dari mulut suamiku justru,
“Nanti kalau Maya dengar, urusannya panjang lagi.”
Bu Marni mendengus.
“Kamu takut sama istrimu sendiri?”
“Bukan takut. Dia kalau sudah marah susah.”
“Makanya kamu harus tegas. Jangan karena dia yang bayar cicilan apartemen terus kamu nurut.”
Aku merasa seperti seseorang baru saja membuka pintu yang selama ini terkunci.
Ternyata bukan hanya Bu Marni.
Dimas tahu.
Dan dia membiarkannya.
Aku kembali ke kamar tanpa membuat suara.
Malam itu aku tidak mengatakan apa pun.
Justru ketenanganku membuat Dimas gelisah.
Saat Kirana sudah tidur, dia duduk di tepi kasur.
“Kamu masih marah?”
“Tidak.”
“Besok jangan dibahas lagi, ya.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Biar nggak makin panjang.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Dia terlihat lega.
Mungkin dia mengira aku akhirnya belajar tunduk.
Dia tidak tahu malam itu aku membuka aplikasi mobile banking.
Selama hampir empat tahun menikah, sebagian besar pengeluaran rumah tangga kami memang berasal dari penghasilanku.
Dimas bekerja sebagai supervisor operasional dengan gaji cukup baik, tetapi hampir sepertiganya selalu dikirim ke orang tuanya.
Aku tidak pernah keberatan.
Aku membayar cicilan apartemen.
Asuransi Kirana.
Belanja bulanan.
Biaya persalinan.
Bahkan mobil yang dipakai Dimas setiap hari dibeli dengan uang muka dari tabunganku.
Yang tidak pernah kuketahui adalah seberapa jauh bantuanku kepada keluarga Dimas sebenarnya berjalan.
Aku membuka riwayat transaksi rekening bersama.
Transfer dua juta.
Tiga juta.
Lima juta.
Nama penerimanya hampir selalu sama.
Marni Wulandari.
Aku mulai menghitung.
Dalam sebelas bulan terakhir, jumlahnya mencapai lebih dari empat puluh juta rupiah.
Tanganku dingin.
Aku tidak pernah menyetujui sebanyak itu.
Aku membangunkan Dimas.
“Ini apa?”
Dia menyipitkan mata melihat layar ponselku.
Wajahnya langsung berubah.
“Besok saja ngomongnya.”
“Sekarang.”
“Maya, aku capek.”
“Empat puluh tiga juta rupiah, Dimas.”
Dia duduk.
“Itu uang buat orang tuaku.”
“Aku tahu. Pertanyaanku, kenapa dari rekening bersama?”
Dia diam.
“Bukannya kamu bilang selama ini kamu kirim dari gajimu?”
“Ya sebagian.”
“Sebagian yang mana?”
Nada suaraku tetap rendah.
Justru itu membuatnya semakin gugup.
Akhirnya dia mengaku.
Ayahnya punya utang akibat usaha pupuk yang gagal. Lina juga beberapa kali meminjam uang untuk membayar cicilan mobil.
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Karena aku tahu kamu bakal keberatan.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Jadi karena kamu tahu aku tidak setuju, kamu ambil diam-diam?”
“Jangan bilang ambil. Itu uang kita.”
“Rekening itu tujuh puluh persen isinya dari penghasilanku.”
Wajah Dimas mengeras.
“Nah, kan. Ujung-ujungnya kamu hitung-hitungan.”
Aku tertawa kecil.
Akhirnya keluar juga.
Kalimat yang selama ini mungkin menumpuk di kepalanya.
“Kamu merasa rendah karena penghasilanku lebih besar?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Ibumu bilang begitu.”
Dia langsung terdiam.
Aku menceritakan semua yang kudengar di dapur.
Dimas pucat.
Namun bukannya meminta maaf, dia justru berkata,
“Kamu nguping?”
Saat itu, sesuatu dalam diriku benar-benar selesai.
Bukan cinta.
Mungkin rasa hormat.
Aku berdiri dan mulai memasukkan pakaian Kirana ke koper.
Dimas ikut berdiri.
“Kamu mau apa?”
“Besok aku pulang ke Jakarta.”
“Kita rencananya tiga hari di sini.”
“Rencananya berubah.”
“Kamu nggak bisa seenaknya.”
Aku berhenti melipat pakaian.
“Bisa.”
“Maya, jangan kekanak-kanakan.”
Aku menatapnya lurus.
“Aku tidak pergi karena sepiring ayam. Aku pergi karena suamiku melihat ibunya sengaja merendahkan istrinya dan memilih diam.”
“Itu ibu kandungku.”
“Dan aku istrimu.”
Dia tidak menjawab.
Pagi berikutnya, pertengkaran yang sesungguhnya terjadi.
Bu Marni mengetahui aku hendak pulang lebih awal.
Dia berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.
“Kalau kamu keluar sekarang, jangan berharap saya akan minta maaf.”
“Aku tidak menunggu permintaan maaf, Bu.”
“Kamu mau bawa cucu saya?”
“Kirana anak saya.”
“Dia juga darah keluarga kami.”
Aku mengangguk.
“Benar. Karena itu seharusnya Ibu juga menghormati ibunya.”
Bu Marni menatap tajam.
Kemudian mengucapkan kalimat yang tidak pernah kulupakan.
“Perempuan yang terlalu mandiri memang susah jadi istri.”
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin. Tapi perempuan mandiri juga tahu kapan dia sedang diperlakukan tidak layak.”
Aku pergi bersama Kirana.
Dimas tidak ikut.
Tiga hari kemudian dia baru pulang ke Jakarta.
Selama tiga hari itu aku melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak lama.
Aku memeriksa seluruh keuangan kami.
Dan menemukan kejutan lain.
Ternyata empat puluh tiga juta bukan semuanya.
Ada pinjaman daring atas nama Dimas.
Ada cicilan mobil Lina yang beberapa kali dibayar menggunakan kartu kredit tambahan milikku.
Bahkan empat juta yang katanya untuk biaya syukuran ternyata hanya dua juta yang diberikan kepada Bu Marni.
Sisanya digunakan Dimas membayar tunggakan utang adiknya.
Ketika Dimas tiba di apartemen, kartu aksesnya tidak berfungsi.
Aku menunggunya di lobi.
“Kamu ganti akses?”
“Aku sudah bicara dengan pengelola.”
“Maya, ini rumah kita.”
“Unit ini milikku.”
Apartemen itu memang kubeli dua tahun sebelum menikah.
Nama Dimas tidak pernah tercantum dalam sertifikat.
Dia menatapku seolah baru menyadari sesuatu.
Selama ini dia menganggap semua yang kumiliki otomatis menjadi miliknya.
Namun segala sesuatu yang dia berikan kepada keluarganya dianggap bukan urusanku.
“Aku suamimu.”
“Karena itu aku memberimu kesempatan menjelaskan.”
Aku menyerahkan map berisi hasil cetak transaksi.
“Kalau kamu mau pernikahan ini tetap berjalan, kita konseling. Keuangan dipisah. Tidak ada satu rupiah pun uangku dikirim kepada keluargamu tanpa persetujuanku. Dan kamu harus mengatakan kepada ibumu bahwa apa yang dia lakukan salah.”
Dimas menatap map itu.
“Kalau aku tidak mau?”
“Berarti kita tahu jawabannya.”
Dua minggu kemudian dia memilih pulang ke rumah ibunya.
Bukan karena aku mengusir.
Dia berkata membutuhkan waktu.
Sebulan kemudian, Bu Marni menelepon.
Untuk pertama kalinya suaranya tidak terdengar tinggi.
“Maya, Dimas bilang kamu menghentikan pembayaran obat Bapak.”
Aku menarik napas.
“Benar.”
“Kenapa?”
“Karena selama ini saya membayarnya sebagai bantuan sukarela, Bu. Sekarang Dimas tinggal bersama Ibu. Dia bisa membayarnya.”
“Gajinya tidak cukup.”
Aku terdiam.
Kalimat itu terasa ironis.
Perempuan yang mengatakan aku harus tunduk karena aku seorang istri, kini membutuhkan penghasilanku untuk mempertahankan kehidupan keluarganya.
Namun aku tidak mengejeknya.
“Kalau begitu, mungkin keluarga harus duduk bersama dan mengatur keuangan.”
“Maya…”
Suara Bu Marni melemah.
“Saya memang salah soal waktu itu.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Yang mana, Bu?”
Dia terdiam lama.
“Soal makanan.”
“Bukan soal makanan.”
Aku berkata pelan.
“Ibu sengaja membuat saya lapar supaya saya merasa lebih rendah. Itu yang salah.”
Telepon sunyi.
Akhirnya dia berkata,
“Saya cuma takut Dimas kehilangan kendali dalam rumah tangganya.”
Aku memandang Kirana yang sedang tidur di sampingku.
“Rumah tangga bukan tempat satu orang mengendalikan orang lain, Bu.”
Untuk pertama kalinya, Bu Marni tidak membantah.
Enam bulan kemudian, aku dan Dimas resmi bercerai.
Bukan karena sepiring ayam.
Bukan karena tiga kotak nasi.
Perceraian kami terjadi karena setelah berbulan-bulan konseling, Dimas akhirnya mengakui sesuatu.
Dia tahu ibunya sengaja mengujiku sejak awal pernikahan.
Komentar tentang caraku berpakaian.
Sindiran tentang pekerjaanku.
Permintaan uang mendadak.
Bahkan beberapa pertengkaran kecil yang selama ini kukira terjadi secara kebetulan ternyata berawal dari pesan Bu Marni kepada Dimas.
Dimas selalu tahu.
Dan selama bertahun-tahun, dia memilih memintaku mengalah karena itu lebih mudah daripada meminta ibunya berhenti.
Hari terakhir setelah sidang, Dimas menungguku di depan pengadilan.
Wajahnya terlihat lebih kurus.
“Aku menyesal,” katanya.
Aku percaya dia sungguh menyesal.
Namun penyesalan tidak selalu berarti sesuatu harus diperbaiki kembali.
Kadang penyesalan hanya berarti seseorang akhirnya memahami harga dari pilihannya.
“Aku juga menyesal,” jawabku.
Dia menatapku penuh harap.
“Apa?”
“Aku menyesal terlalu lama menganggap diam sebagai bentuk menjaga rumah tangga.”
Aku menggendong Kirana dan berjalan menuju mobil.
Setahun kemudian, aku kembali ke Sukoharjo untuk menghadiri pernikahan sepupu Dimas. Aku datang karena hubungan Kirana dengan ayahnya tetap kujaga.
Di meja prasmanan, aku sedang membantu Kirana mengambil buah ketika seseorang menyentuh lenganku.
Bu Marni.
Rambutnya tampak lebih banyak beruban.
Dia menyerahkan sebuah kotak makanan kepadaku.
“Apa ini?”
“Buat perjalanan pulang.”
Aku membukanya.
Nasi.
Ayam.
Telur pindang.
Sambal goreng kentang.
Sayur.
Lengkap.
Aku menatapnya.
Matanya berkaca-kaca.
“Dulu saya pikir kalau seorang menantu dibuat tunduk, keluarga akan jadi kuat.”
Dia mengusap sudut matanya.
“Ternyata saya justru menghancurkan keluarga anak saya sendiri.”
Aku menutup kotak itu.
Aku tidak mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja.
Karena tidak semua luka perlu dihapus agar hidup bisa berlanjut.
Namun sebelum pergi, aku berkata,
“Terima kasih sudah menyisakan makanan, Bu.”
Dia mengangguk.
Di perjalanan pulang, Kirana tertidur di kursi belakang.
Kotak makanan itu berada di sampingku.
Aku memandangnya cukup lama.
Dulu, sepiring kosong membuatku merasa tidak dianggap.
Sekarang sebuah kotak penuh tidak membuatku merasa menang.
Ia hanya mengingatkanku pada satu hal.
Sering kali, wajah asli sebuah hubungan tidak terlihat ketika kita memberikan banyak hal.
Ia terlihat ketika kita meminta sesuatu yang sangat sederhana.
Sedikit perhatian.
Sedikit penghormatan.
Atau hanya satu porsi makanan yang sudah dijanjikan.
Dan jika seseorang harus membuatmu lapar, kecil, takut, atau tidak berdaya agar kamu dianggap tahu diri, itu bukan keluarga yang sedang mengajarimu menghormati mereka.
Mereka sedang mengajarimu melupakan cara menghormati dirimu sendiri.
