Pesan saya hanya centang dua selama hampir satu menit.
Lalu Arga menelepon.
Saya tidak langsung mengangkatnya.
Ibu duduk di seberang meja makan sambil memperhatikan wajah saya. Beliau tidak bertanya apa-apa. Mungkin karena tahu, setelah enam tahun pernikahan, malam itu untuk pertama kalinya saya sedang melihat keluarga suami saya tanpa alasan-alasan yang selama ini saya buat sendiri untuk membenarkan mereka.
Ponsel kembali bergetar.
Arga.
Saya angkat pada panggilan ketiga.
“Apa maksud pesanmu?”
Suaranya terdengar berbeda. Tidak lagi memerintah seperti beberapa menit sebelumnya.
“Persis seperti yang kamu baca.”
“Kamu jangan mulai cari masalah soal rumah.”
“Saya tidak mencari masalah. Kalian yang mau menghibahkan rumah milik saya tanpa bertanya kepada saya.”
“Rumah itu sudah enam tahun ditempati keluarga kita.”

“Menempati tidak membuat seseorang menjadi pemilik.”
Arga terdiam.
Lalu suaranya merendah.
“Naila, dengar dulu. Ini cuma untuk membantu Dimas mengurus pinjaman usaha. Secara administrasi lebih mudah kalau rumah itu atas nama dia.”
Saya sampai harus menarik napas sebelum menjawab.
“Rumah itu masih KPR atas nama saya. Bagaimana kalian bisa berencana menghibahkannya begitu saja?”
“Makanya besok kita ke PPAT. Dimas sudah tanya orang.”
Kalimat itu membuat saya semakin waspada.
“Siapa PPAT-nya?”
“Tidak penting.”
“Kalau tidak penting, kenapa saya harus membawa KTP, KK, dan NPWP?”
Arga kembali diam.
Saya mengenal suami saya cukup lama untuk memahami diam semacam itu. Itu bukan diam karena tidak punya jawaban. Itu diam karena sedang mencari kebohongan yang aman.
“Naila, jangan memperumit keadaan.”
Saya menatap luka di lutut yang mulai mengering.
“Orang yang mengunci saya di ruang cuci hari ini sekarang menyuruh saya jangan memperumit keadaan.”
“Itu cuma bercanda.”
“Setengah jam?”
“Siska kelewatan. Nanti aku tegur.”
“Kamu ada di sana.”
“Aku pikir dia akan segera membukanya.”
“Saya memanggil nama kamu.”
Nada Arga naik.
“Terus kamu mau apa sekarang? Semua orang harus berlutut minta maaf?”
“Tidak.”
Saya menjawab begitu tenang sampai dia terdiam.
“Saya cuma ingin berhenti menjadi orang yang membayar agar bisa dihina di rumah saya sendiri.”
Saya menutup telepon.
Malam itu saya hampir tidak tidur.
Bukan karena sedih.
Saya justru sibuk.
Saya membuka enam tahun mutasi rekening, tagihan kartu kredit, cicilan rumah, pembayaran sekolah, dan transaksi bulanan. Saya membuat satu folder khusus dan mengunduh semuanya.
Menjelang pukul dua pagi, saya menemukan sesuatu yang membuat tangan saya berhenti bergerak.
Tiga bulan sebelumnya, ada transaksi Rp18,7 juta dari kartu tambahan milik Arga.
Nama merchant-nya sebuah toko elektronik.
Saya tidak pernah membeli barang elektronik sebesar itu.
Saya mencari riwayat percakapan keluarga.
Dua hari setelah transaksi tersebut, Siska pernah mengirim foto televisi 75 inci di grup keluarga.
Caption-nya sederhana.
Akhirnya ruang keluarga makin nyaman. Makasih Mas Arga sudah kasih kejutan buat Ibu.
Saya waktu itu hanya memberi emoji hati.
Ternyata sayalah yang membayar kejutan tersebut.
Saya terus memeriksa.
Rp7,4 juta untuk sebuah ponsel.
Rp4,8 juta di toko perlengkapan bayi.
Rp11,2 juta untuk hotel di Bandung.
Saya ingat perjalanan itu.
Arga bilang kantor Dimas mengadakan gathering keluarga.
Ternyata tagihannya masuk ke kartu saya.
Menjelang subuh, saya sudah tidak merasa sakit hati lagi.
Saya merasa bodoh.
Tetapi ada perbedaan besar antara menyadari pernah dimanfaatkan dan memutuskan untuk berhenti dimanfaatkan.
Pukul tujuh pagi, seseorang mengetuk pintu rumah Ibu keras-keras.
Arga.
Ibu hendak membukakan pintu, tetapi saya meminta beliau tetap di ruang tengah.
Saya sendiri yang keluar.
Arga berdiri di teras dengan wajah kusut.
“Kita bicara.”
“Bicara di sini.”
“Pulang dulu.”
“Tidak.”
“Naila, jangan bikin masalah rumah tangga jadi tontonan orang tua.”
Saya hampir tersenyum.
“Lucu. Enam tahun orang tua dan adikmu ikut campur rumah tangga kita, baru hari ini kamu keberatan orang tua saya tahu.”
Rahangnya mengeras.
“Aku datang baik-baik.”
“Kalau begitu bicara baik-baik.”
Arga mengembuskan napas.
“Kenapa kartu Ibu tidak bisa dipakai?”
Saya menatapnya beberapa detik.
Jadi itu.
Bukan tentang saya.
Bukan tentang kejadian kemarin.
Bukan tentang luka di lutut saya.
“Kartu yang mana?”
“Kartu tambahan.”
“Karena saya blokir.”
“Kenapa?”
“Karena itu kartu saya.”
“Ibu tadi pagi mau belanja bulanan.”
“Pakai uang kalian.”
“Naila!”
Saya tetap diam.
“Terus listrik bagaimana? Wi-Fi? Tagihan sekolah Keenan?”
“Bayar sendiri.”
Wajah Arga berubah.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
“Keenan itu keponakanmu.”
“Betul. Bukan anak saya.”
“Kamu tega pendidikan anak dijadikan senjata?”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri saya akhirnya putus.
“Saya membayar sekolah Keenan dua tahun. Saya membayar antar-jemputnya. Bimbelnya. Internet rumah yang dia pakai. Saya tidak pernah sekali pun meminta uang itu kembali. Sekarang, saat saya berhenti membayar, justru saya yang disebut tega?”
Arga tidak menjawab.
Saya masuk sebentar lalu kembali membawa beberapa lembar kertas yang sudah saya cetak.
Saya menyerahkannya.
“Ini transaksi tiga kartu tambahan selama dua tahun terakhir.”
Dia melihat halaman pertama.
Wajahnya langsung pucat.
“Hotel Bandung?”
Dia diam.
“Televisi?”
“Naila, itu untuk Ibu.”
“Ponsel Siska?”
“Itu hadiah ulang tahun.”
“Stroller dua puluh juta yang kalian bicarakan kemarin juga mau menjadi hadiah?”
Arga menatap saya.
Untuk pertama kalinya saya melihat ketakutan di matanya.
“Kamu dengar?”
“Semuanya.”
Saya mengambil kembali kertas-kertas itu.
“Pulanglah.”
“Naila, soal rumah itu sebenarnya…”
“Saya sudah menghubungi bank pagi ini.”
Dia membeku.
Saya memang belum melakukannya ketika mengucapkan kalimat itu. Tetapi saya sudah membuat janji dengan petugas kredit pukul sepuluh.
“Saya juga akan meminta salinan seluruh dokumen KPR dan memastikan tidak ada proses perubahan apa pun tanpa kehadiran saya.”
“Naila, jangan keterlaluan.”
“Rumah saya hampir kalian pindahkan kepada orang lain. Menurutmu siapa yang keterlaluan?”
Arga pulang tanpa membawa saya.
Siang itu masalah pertama muncul.
Siska menelepon sebelas kali.
Saya tidak mengangkat.
Lalu pesan-pesan masuk.
Kak, kartu error ya?
Kak, aku lagi di supermarket.
Kak, malu banget ini antrean panjang.
Kak Naila, minimal kasih tahu kalau mau blokir kartu.
Pesan terakhir membuat saya tertawa.
Seolah-olah saya harus meminta izin sebelum menghentikan orang lain memakai uang saya.
Sore harinya giliran Bu Ratih menelepon.
“Naila, Ibu dengar kamu memblokir semua pembayaran?”
“Benar.”
“Kenapa masalah kecil kemarin dibesar-besarkan?”
“Saya tidak sedang membahas kemarin.”
“Lalu?”
“Saya sedang membereskan keuangan saya.”
“Keluarga tidak hitung-hitungan.”
Saya sudah mendengar kalimat itu terlalu lama.
“Kalau begitu kenapa yang tidak boleh menghitung hanya saya?”
Bu Ratih terdiam.
Saya melanjutkan.
“Kalau keluarga tidak hitung-hitungan, mulai bulan ini listrik dibagi rata. Air dibagi rata. Internet dibagi rata. Belanja juga.”
“Naila, kamu penghasilannya paling besar.”
“Itu bukan alasan saya harus membiayai semua orang dewasa di rumah.”
“Kamu berubah.”
“Tidak, Bu. Saya cuma berhenti takut disebut pelit.”
Telepon diputus.
Tiga hari kemudian, saya bertemu petugas bank.
Dari sana saya mengetahui fakta yang jauh lebih buruk.
Tidak ada proses resmi pengalihan rumah.
Namun dua minggu sebelumnya, seseorang pernah meminta informasi mengenai kemungkinan refinancing dan top-up kredit menggunakan rumah saya.
Nomor kontak yang diberikan adalah nomor Arga.
Saya merasa perut saya seperti jatuh.
Saya meminta semua catatan komunikasi dicetak.
Lalu saya menemui notaris dan PPAT yang direkomendasikan teman kantor.
Setelah memeriksa sertifikat, akad kredit, dan bukti pembayaran, beliau menatap saya serius.
“Selama dokumen dan haknya masih seperti ini, mereka tidak bisa begitu saja mengalihkan rumah tanpa persetujuan Ibu. Tapi saya sarankan semua dokumen asli diamankan.”
Dokumen asli.
Saya langsung teringat satu hal.
Sertifikat dan dokumen KPR saya simpan dalam brankas kecil di kamar Jatiasih.
Malam itu saya kembali ke rumah ditemani Ibu dan sepupu saya, Reza.
Begitu mobil berhenti, saya melihat ruang keluarga terang.
Arga keluar lebih dulu.
Di belakangnya ada Bu Ratih, Siska, Dimas, dan Pak Wiryo.
Seolah mereka sudah menunggu.
“Nah, akhirnya pulang juga,” kata Bu Ratih.
Saya berjalan melewati mereka.
“Saya mengambil barang.”
Siska mendengus.
“Kak, cuma gara-gara bercanda begitu sampai bawa orang?”
Saya berhenti.
“Kalau kemarin cuma bercanda, masuklah ke ruang cuci. Saya kunci dari luar setengah jam.”
Wajahnya langsung berubah.
Tidak ada yang menjawab.
Saya masuk ke kamar.
Brankas masih ada.
Tetapi ketika saya membukanya, map biru tempat saya menyimpan dokumen KPR tidak ada.
Darah saya seketika terasa dingin.
Saya keluar.
“Di mana map biru saya?”
Arga menghindari pandangan.
“Map apa?”
“Dokumen rumah.”
Dimas tiba-tiba berdiri.
“Mungkin terselip.”
Saya menatapnya.
“Bagaimana kamu tahu isinya?”
Ruangan mendadak sunyi.
Dimas sadar dia baru saja salah bicara.
Saya mengambil ponsel.
“Saya kasih waktu lima menit. Kalau dokumen itu tidak kembali, saya telepon polisi dan melaporkan dokumen pribadi saya hilang.”
Bu Ratih langsung berdiri.
“Kamu mau laporkan keluarga sendiri?”
“Kalau keluarga mengambil dokumen saya tanpa izin, iya.”
“Kurang ajar!”
Ibu saya yang sejak tadi diam akhirnya maju.
“Yang kurang ajar itu anak saya dikunci di ruang cuci di rumah yang dia bayar sendiri, lalu dokumen rumahnya diambil.”
Bu Ratih hendak membalas, tetapi Dimas tiba-tiba pergi ke kamar.
Dua menit kemudian dia kembali membawa map biru.
Dia meletakkannya di meja.
“Ini. Tidak ada yang mencuri. Cuma dipinjam.”
Saya membuka map.
Dokumennya lengkap.
Tetapi ada satu lembar baru di dalamnya.
Fotokopi KTP saya.
Di bawahnya ada rancangan surat kuasa.
Nama penerima kuasa adalah Arga Mahendra.
Isinya memberi kewenangan untuk mengurus pembiayaan dengan jaminan properti.
Kolom tanda tangan saya masih kosong.
Saya menatap suami saya.
“Ini apa?”
Arga tidak menjawab.
Dimas menyela.
“Cuma draft.”
“Untuk apa?”
“Usaha.”
“Usaha siapa?”
Dia diam.
Saya menoleh kepada Arga.
“Berapa?”
Tidak ada jawaban.
“Berapa pinjaman yang kalian mau ambil?”
Akhirnya Arga berkata lirih.
“Delapan ratus juta.”
Ibu saya sampai menarik napas keras.
Saya justru merasa sangat tenang.
“Dan jaminannya rumah saya?”
“Usaha Dimas punya prospek.”
Saya menatap lelaki yang sudah enam tahun tidur di sebelah saya.
Tiba-tiba dia terasa seperti orang asing.
“Kalau gagal bayar?”
“Tidak akan.”
“Kalau gagal?”
Arga membentak.
“Kenapa kamu selalu berpikir buruk tentang keluarga?”
Saya mengangguk perlahan.
Lalu memasukkan semua dokumen ke tas.
“Saya sudah dapat jawaban.”
Saya berbalik.
Arga memegang lengan saya.
“Kamu mau ke mana?”
Saya melepaskan tangannya.
“Mulai besok saya akan konsultasi dengan pengacara.”
Wajah Bu Ratih pucat.
“Pengacara?”
“Saya akan mengurus rumah ini dan pernikahan saya.”
Arga menatap saya tajam.
“Kamu mau cerai cuma gara-gara uang?”
Saya memandangnya.
“Bukan.”
Suara saya nyaris berbisik.
“Saya mau pergi karena enam tahun saya pikir saya punya suami. Ternyata saya cuma punya satu keluarga besar yang menganggap rekening saya sebagai anggota keluarga paling penting.”
Saya pergi malam itu.
Dua minggu berikutnya menjadi kekacauan bagi keluarga Mahendra.
Internet rumah terputus lebih dulu.
Kemudian nomor pascabayar Bu Ratih berubah status karena tagihan tidak dibayar.
Bimbel Keenan menghubungi orang tuanya.
Tagihan listrik datang.
Belanja bulanan yang biasanya enam sampai tujuh juta rupiah mendadak harus mereka tanggung sendiri.
Barulah mereka mengetahui angka yang selama bertahun-tahun tidak pernah mereka tanyakan.
Rata-rata saya mengeluarkan hampir tiga puluh juta rupiah setiap bulan untuk kebutuhan mereka, belum termasuk cicilan rumah.
Siska mulai menjual beberapa barang bermerek.
Dimas membatalkan rencana membeli stroller.
Pak Wiryo kembali mengambil pekerjaan konsultasi kecil-kecilan.
Dan Arga akhirnya menyadari gajinya sendiri bahkan tidak cukup untuk mempertahankan gaya hidup yang selama ini dia anggap sebagai hasil kerja kerasnya.
Sebulan kemudian, melalui pengacara, saya mengirim pemberitahuan resmi agar seluruh penghuni rumah Jatiasih mengosongkan rumah dalam jangka waktu yang disepakati sesuai prosedur hukum.
Arga datang ke kantor saya sore itu.
Dia tampak jauh lebih kurus.
“Naila, kita masih bisa memperbaiki semuanya.”
Saya menatapnya dari seberang meja lobi.
“Memperbaiki apa?”
“Aku salah.”
“Bagian mana?”
Dia terdiam.
Saya tersenyum tipis.
“Itu masalahnya, Ga. Kamu bahkan tidak tahu kesalahanmu yang mana karena jumlahnya terlalu banyak.”
“Aku sudah minta Dimas cari kontrakan.”
“Bagus.”
“Ibu juga menyesal.”
“Bagus.”
“Siska mau minta maaf.”
“Bagus.”
Dia menatap saya dengan mata merah.
“Kamu tidak rindu aku?”
Pertanyaan itu hampir menghancurkan saya.
Karena tentu saja saya pernah rindu.
Saya rindu Arga yang dulu menunggu saya pulang lembur sambil membawa martabak.
Arga yang memegang tangan saya ketika ayah meninggal.
Arga yang pernah berjanji kami akan membangun keluarga kecil yang tenang.
Tetapi mungkin orang itu sudah lama hilang.
Atau mungkin saya baru sadar bahwa kenangan baik tidak otomatis membatalkan perlakuan buruk.
“Saya rindu orang yang saya kira adalah kamu,” jawab saya.
Arga menunduk.
Tiga bulan kemudian, keluarga Mahendra keluar dari rumah Jatiasih.
Hari terakhir, saya datang setelah mereka pergi.
Rumah itu kosong.
Ada bekas televisi besar di dinding.
Ada goresan di lantai.
Di dapur, salah satu engsel lemari rusak.
Saya berjalan sampai ke ruang cuci.
Pintunya masih sama.
Selot besi masih terpasang di luar.
Saya berdiri cukup lama di sana.
Kemudian tukang yang saya panggil datang.
“Bu, yang mau diperbaiki jendelanya ini?”
Saya menggeleng.
“Jendelanya biarkan.”
“Terus?”
Saya menunjuk pintu.
“Copot kunci luarnya.”
Tukang mulai bekerja.
Saya duduk di teras belakang sambil melihat cahaya sore masuk melalui jendela kecil yang dulu menjadi jalan keluar saya.
Ponsel berbunyi.
Pesan dari bank.
Autodebet cicilan rumah bulan itu berhasil.
Rp12.800.000.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, angka itu tidak terasa seperti beban.
Itu terasa seperti sesuatu yang benar-benar milik saya.
Beberapa hari kemudian saya menerima satu amplop tanpa nama pengirim.
Di dalamnya hanya ada selembar kertas.
Tulisan tangan Siska.
Kak Naila, aku tidak meminta Kakak memaafkan aku. Aku cuma mau bilang sekarang aku baru tahu berapa banyak yang selama ini Kakak lakukan untuk kami. Waktu semuanya masih dibayar Kakak, aku pikir itu memang sudah seharusnya. Setelah harus membayar hidupku sendiri, aku baru sadar tidak ada satu pun dari itu yang menjadi kewajiban Kakak.
Di bagian bawah ada satu kalimat lagi.
Aku juga baru sadar hari itu bukan Kakak yang kami kunci di ruang cuci. Kami sebenarnya sedang mengunci pintu terakhir yang membuat keluarga ini tetap berdiri.
Saya membaca surat itu dua kali.
Kemudian melipatnya kembali.
Saya tidak membalas.
Tidak semua permintaan maaf membutuhkan rekonsiliasi.
Tidak semua keluarga harus dipertahankan dengan mengorbankan satu orang.
Dan tidak semua pintu yang tertutup adalah penjara.
Kadang-kadang, kita memang harus terkunci selama setengah jam untuk akhirnya menemukan jendela yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kita buka.
