Telepon itu datang pukul sembilan lewat tujuh belas menit pagi.
Aku masih terbaring di ranjang rumah sakit ketika ponsel murahku bergetar di atas meja kecil. Nomor asing muncul di layar.
Awalnya aku ingin membiarkannya.
Namun entah mengapa, tanganku bergerak mengambil ponsel itu.
“Halo?”
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Lalu terdengar suara seorang lelaki tua.
“Miguel?”
Aku mengernyit.
“Iya. Ini siapa?”
Napas di ujung sana terdengar berat.
“Ini Kakek.”
Tubuhku langsung menegang.
Aku hampir lupa seperti apa suara Kakek Surya. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat berusia sebelas tahun, sebelum ia pindah ke Surabaya untuk mengurus perusahaan peninggalan keluarganya.
Sejak saat itu, komunikasi kami hampir terputus.
Menurut Ibu, Kakek tidak pernah peduli kepadaku.
Katanya, Kakek bahkan menolak membantu ketika keluarga kami jatuh miskin.
“Kakek?”
“Iya, Nak.”
Suaranya bergetar.
“Kakek baru tahu kamu masuk rumah sakit. Bagaimana keadaanmu?”
Aku menatap selang infus di tanganku.
“Lumayan.”

“Kata dokter apa?”
“Malnutrisi. Pneumonia juga.”
Sunyi.
Lalu aku mendengar sesuatu seperti benda jatuh di ujung telepon.
“Apa?”
Suara Kakek berubah.
“Malnutrisi?”
“Iya.”
“Kamu bercanda?”
Aku hampir tertawa.
“Untuk apa aku bercanda soal beginian?”
“Tapi uang yang Kakek kirim?”
Aku terdiam.
“Uang apa?”
Kini giliran Kakek yang terdiam.
Beberapa detik berikutnya terasa sangat panjang.
“Miguel,” katanya perlahan, “selama sembilan tahun terakhir, Kakek mengirim uang untuk kebutuhanmu setiap bulan.”
Jantungku berdegup semakin cepat.
“Berapa?”
“Awalnya dua puluh lima juta. Setelah kamu masuk SMA, Kakek naikkan menjadi lima puluh juta. Sejak kamu berusia delapan belas tahun, tujuh puluh lima juta rupiah setiap bulan.”
Tanganku mulai gemetar.
Aku yakin aku salah dengar.
“Tujuh puluh lima juta?”
“Iya.”
“Setiap bulan?”
“Iya.”
Aku menutup mulut.
Mataku panas.
Selama empat tahun aku bekerja seperti orang gila.
Mengangkut sayuran di pasar sebelum matahari terbit.
Mencuci piring di warung sampai tengah malam.
Menjadi kuli bangunan.
Pernah selama tiga hari aku hanya makan dua bungkus mi instan karena tidak punya uang.
Aku bahkan berhenti kuliah setelah satu semester karena Ayah mengatakan biaya kuliah terlalu mahal.
Dan sekarang seseorang mengatakan ada tujuh puluh lima juta rupiah yang dikirim untukku setiap bulan?
“Dikirim ke mana?”
“Rekening ibumu.”
Aku menutup mata.
Tiba-tiba aku teringat jam tangan seharga empat setengah juta itu.
Ponsel baru Ayah.
Sepatu mahal.
Tas-tas Ibu yang katanya barang bekas pemberian majikan.
Semua potongan kecil yang selama ini terasa aneh mendadak tersusun menjadi satu gambar mengerikan.
“Kakek,” suaraku nyaris tidak terdengar, “Ibu bilang Kakek tidak pernah membantu kami.”
“Apa?”
“Katanya Kakek membenci Ayah. Katanya sejak aku kecil Kakek tidak pernah mengirim satu rupiah pun.”
Kakek tidak langsung menjawab.
Ketika akhirnya bicara, suaranya terdengar berbeda.
Dingin.
“Kakek akan ke Jakarta hari ini.”
Telepon terputus.
Aku masih memegang ponsel ketika pintu kamar terbuka.
Ibu masuk membawa bubur.
“Kamu harus makan.”
Aku menatap wajahnya.
Perempuan itu membesarkanku.
Ketika kecil, ia memelukku saat demam. Ia menyanyikan lagu ketika aku tidak bisa tidur.
Aku mencintainya.
Mungkin itulah alasan kebenaran terasa jauh lebih menyakitkan.
“Bu.”
“Iya?”
“Kakek menelepon.”
Sendok di tangan Ibu berhenti.
Wajahnya langsung pucat.
“Kakek yang mana?”
“Kakek Surya.”
Mangkuk bubur hampir terlepas dari tangannya.
Aku tidak perlu bertanya lagi.
Reaksinya sudah menjawab semuanya.
“Miguel, dengarkan Ibu dulu.”
“Rp75 juta.”
Ia membeku.
“Setiap bulan.”
“Miguel…”
“Sembilan tahun.”
Aku mencabut selimut dari tubuhku dan duduk meski kepalaku berputar.
“Di mana uangnya?”
Ibu mulai menangis.
“Ibu bisa jelaskan.”
“Di mana uangku?”
Suara keras keluar dari mulutku sampai seorang perawat melongok dari pintu.
Ibu menutup wajahnya.
“Ayahmu yang mengatur semuanya.”
Aku tertawa pendek.
Tawa yang bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.
“Tentu saja.”
“Miguel, Ibu terpaksa.”
“Terpaksa membeli tas?”
Ia menatapku.
“Terpaksa membiarkan aku berhenti kuliah?”
“Miguel…”
“Terpaksa melihat anakmu makan tiga kali seminggu?”
Ibu menangis semakin keras.
Aku tidak merasakan iba.
Yang kurasakan hanya kosong.
Sore itu Ayah datang.
Ia tidak tahu bahwa aku sudah mengetahui semuanya.
Ia masuk sambil membawa sekantong jeruk.
“Gimana keadaanmu?”
Aku memperhatikan jam tangan di pergelangan tangannya.
Jam seharga empat setengah juta.
“Bagus jamnya.”
Ayah refleks menutupi pergelangan tangannya.
“Diskon.”
“Pakai uang Kakek?”
Wajahnya berubah.
Ibu yang berdiri di belakangnya langsung menunduk.
“Miguel, jangan bicara sembarangan.”
“Berapa banyak?”
“Apa?”
“Berapa banyak uang yang kalian ambil?”
Ayah meletakkan jeruk dengan keras.
“Itu bukan mengambil. Kakekmu mengirim uang kepada keluarga.”
“Untukku.”
“Kamu bagian dari keluarga.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Aku bagian dari keluarga saat uangnya datang. Tapi waktu makanan dibagi, aku bukan?”
Ayah mengembuskan napas kasar.
“Kamu tidak mengerti susahnya hidup.”
“Aku sangat mengerti.”
Aku mengangkat tanganku yang dipasangi infus.
“Tubuhku mengerti.”
Ayah terdiam.
Saat itulah pintu kamar kembali terbuka.
Seorang lelaki tua berdiri di sana mengenakan kemeja putih sederhana. Di belakangnya ada seorang pria membawa tas dokumen.
Aku mengenali wajah itu meski rambutnya sekarang hampir seluruhnya putih.
Kakek.
Ayah langsung pucat.
“Pak…”
Kakek tidak menjawab.
Ia berjalan mendekat kepadaku.
Matanya berhenti pada lenganku yang kurus, pipiku yang cekung, lalu selang infus.
Tangannya bergetar.
“Kamu… selama ini hidup seperti ini?”
Aku tidak mampu menjawab.
Kakek memelukku.
Untuk pertama kalinya sejak mengetahui semuanya, aku menangis.
Bukan tangisan marah.
Bukan karena uang.
Aku menangis karena baru menyadari bahwa selama bertahun-tahun seseorang sebenarnya memikirkan hidupku, sementara aku dibuat percaya bahwa aku telah dibuang.
Kakek kemudian berbalik.
“Darma.”
Ayah menunduk.
“Bapak dengarkan dulu.”
“Berapa?”
“Apa?”
“Berapa uang cucuku yang kamu habiskan?”
Ayah tidak menjawab.
Pria yang datang bersama Kakek membuka tas dokumennya.
Namanya Pak Anton, pengacara keluarga.
Ia meletakkan beberapa lembar rekening koran di meja.
“Transfer pertama dilakukan sembilan tahun lalu,” katanya. “Total dana yang dikirim sampai bulan lalu sekitar lima koma satu miliar rupiah.”
Aku merasa ruangan berputar.
Lima miliar.
Aku hampir mati karena tidak punya tiga juta untuk berobat.
Pak Anton melanjutkan.
“Sebagian besar dana ditransfer dari rekening penerima ke beberapa rekening lain atas nama Bapak Darma dan Ibu Ratih.”
Ayah mulai panik.
“Pak, uang itu kami pakai untuk keluarga.”
Kakek menatapnya.
“Rumah di Bekasi?”
Aku menoleh cepat.
Rumah?
“Mobil?”
Kakek melanjutkan.
“Deposito atas nama Ratih?”
Ibu terisak.
“Usaha rental mobil?”
Aku memandang Ayah.
Ia tidak pernah menjadi pengemudi becak motor.
Setidaknya tidak selama beberapa tahun terakhir.
Ternyata ia memiliki usaha rental enam mobil yang seluruh modalnya berasal dari uang kiriman Kakek.
Lebih buruk lagi, rumah yang kami tempati bukan satu-satunya rumah mereka.
Mereka memiliki rumah dua lantai di Bekasi yang disewakan.
Aku merasa mual.
“Kenapa?”
Hanya itu yang bisa kukatakan.
Ayah akhirnya menatapku.
“Karena kami juga ingin punya hidup.”
Kalimat itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.
“Kalian ingin hidup?”
Suaraku bergetar.
“Lalu aku?”
Ayah diam.
“Aku ini apa?”
Tidak ada jawaban.
Dua hari kemudian, kebenaran lain muncul.
Dan ternyata uang bukan rahasia terbesar mereka.
Pak Anton menemukan dokumen lama mengenai warisan ibuku.
Aku bukan anak kandung Darma.
Ayah kandungku bernama Adrian, putra tunggal Kakek Surya.
Ia meninggal dalam kecelakaan ketika aku berusia dua tahun.
Ibu kemudian menikah dengan Darma.
Sebelum meninggal, Ayah kandungku meninggalkan saham perusahaan dan dana pendidikan untukku.
Kakek mengirim uang bulanan karena tidak ingin dana warisan utama disentuh sebelum aku berusia dua puluh satu tahun.
Darma mengetahui hal itu.
Itulah sebabnya ia mempertahankan hubungan dengan Kakek melalui Ibu.
Dan itulah sebabnya mereka sengaja membuatku percaya bahwa Kakek membenci kami.
Selama aku tidak berhubungan langsung dengannya, mereka bebas mengambil uang bulanan tanpa takut ketahuan.
“Tapi kenapa Kakek tidak pernah meneleponku?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Wajah Kakek dipenuhi penyesalan.
“Kakek menelepon.”
Aku terdiam.
“Hampir setiap bulan.”
Ibu menangis.
Menurut Kakek, setiap kali ia meminta bicara denganku, Ibu mengatakan aku sedang sekolah, bekerja, tidur, atau tidak ingin berbicara dengannya.
Nomorku juga beberapa kali diberikan kepadanya.
Namun ternyata semuanya nomor palsu.
Kakek bahkan pernah menerima pesan yang mengatasnamakan diriku.
Aku baik-baik saja, Kek. Jangan terlalu sering menelepon. Aku sedang sibuk.
Aku tidak pernah menulis pesan itu.
Tiga minggu setelah keluar dari rumah sakit, aku pindah ke sebuah apartemen kecil yang disediakan Kakek.
Aku menolak tinggal di rumah mewahnya.
Aku belum siap.
Aku juga tidak langsung memaafkan siapa pun.
Pak Anton membantu melaporkan penyalahgunaan dana dan memblokir beberapa aset yang dibeli menggunakan uang kiriman untukku.
Ibu berkali-kali menelepon.
Aku tidak menjawab.
Ayah juga pernah datang.
Ia berdiri di depan apartemen hampir satu jam.
“Miguel, Ayah cuma mau bicara.”
Aku membuka pintu.
Untuk beberapa detik kami hanya saling memandang.
Lelaki di depanku tampak jauh lebih tua.
“Kami salah,” katanya.
Aku diam.
“Tapi semua yang Ayah lakukan juga untuk masa depan keluarga.”
Aku tersenyum pahit.
“Aku hampir mati.”
Ia menunduk.
“Maaf.”
Dulu aku membayangkan jika suatu hari orang yang menyakitiku meminta maaf, hatiku akan terasa lega.
Ternyata tidak.
Beberapa luka tidak langsung sembuh hanya karena orang yang membuatnya akhirnya mengakui kesalahan.
“Aku tidak membencimu,” kataku.
Ayah mengangkat kepala.
“Tapi aku juga belum bisa memaafkanmu.”
Aku menutup pintu.
Enam bulan kemudian, aku kembali kuliah.
Bukan di universitas mahal.
Aku memilih kampus yang dulu terpaksa kutinggalkan.
Aku juga tetap bekerja paruh waktu.
Kakek sempat marah.
“Untuk apa kerja? Uangmu cukup.”
Aku tersenyum.
“Karena sekarang aku ingin bekerja bukan supaya bisa makan, Kek. Aku ingin tahu rasanya bekerja untuk sesuatu yang kupilih sendiri.”
Kakek tidak membantah lagi.
Pada ulang tahunku yang kedua puluh satu, ia mengajakku ke kantor notaris.
Aku mengira hari itu ia akan menyerahkan warisan Ayah.
Namun sebelum dokumen ditandatangani, Kakek mengeluarkan sebuah amplop tua.
“Ini ditemukan di brankas ayahmu setelah dia meninggal.”
Tanganku gemetar ketika membukanya.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan.
Untuk Miguel, jika suatu hari kamu membaca ini, mungkin Ayah sudah tidak bisa menemanimu.
Aku berhenti membaca.
Air mataku jatuh ke kertas.
Di bagian terakhir, Ayah kandungku menulis satu kalimat yang terus kuingat sampai sekarang.
Jangan pernah mengukur kekayaanmu dari jumlah uang yang Ayah tinggalkan. Ukurlah dari seberapa bebas kamu menentukan hidupmu sendiri.
Aku menutup surat itu.
Di meja di hadapanku terletak dokumen tentang uang miliaran rupiah yang kini secara sah menjadi milikku.
Namun untuk pertama kalinya, angka itu tidak terasa penting.
Selama bertahun-tahun aku mengira kemiskinan adalah hal terburuk yang pernah terjadi kepadaku.
Ternyata aku salah.
Yang paling menyakitkan bukanlah tidur dengan perut kosong.
Bukan bekerja sampai tangan lecet.
Bukan pula memakai pakaian yang sama selama bertahun-tahun.
Yang paling menyakitkan adalah mengetahui bahwa penderitaan itu sebenarnya bisa dicegah oleh orang-orang yang setiap hari mengatakan bahwa mereka mencintaimu.
Aku tidak bisa mengubah sembilan tahun yang hilang.
Aku tidak bisa mendapatkan kembali masa sekolah yang kuhabiskan dengan bekerja.
Aku juga tidak bisa menghapus malam-malam ketika aku tidur sambil menekan perut agar rasa lapar sedikit berkurang.
Tetapi aku masih memiliki sesuatu yang gagal mereka ambil.
Masa depanku.
Aku mengambil pena dari atas meja.
Lalu sebelum menandatangani dokumen warisan, aku memandang Kakek.
“Kek.”
“Iya?”
“Aku mau melakukan satu hal dengan sebagian uang ini.”
“Apa?”
Aku teringat diriku sendiri di ranjang rumah sakit.
Kurus.
Ketakutan.
Dan nyaris mati hanya karena tidak memiliki cukup makanan.
“Aku ingin membuat program makan gratis dan beasiswa untuk anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah karena keluarganya tidak mampu.”
Kakek menatapku cukup lama.
Kemudian ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “ayahmu pasti bangga.”
Aku menandatangani dokumen itu.
Dan pada hari ketika akhirnya aku menerima miliaran rupiah yang selama bertahun-tahun disembunyikan dariku, hal pertama yang kupikirkan bukanlah rumah besar, mobil mahal, atau jam tangan seharga jutaan.
Aku hanya teringat tiga ikan asin kecil di atas meja makan.
Dulu, lima orang harus membaginya karena aku dibuat percaya bahwa kami tidak punya apa-apa.
Kini aku tahu satu hal.
Kemiskinan pernah membuat tubuhku kelaparan.
Tetapi keserakahanlah yang hampir menghancurkan hidupku.
Dan aku memutuskan bahwa uang yang pernah menjadi sumber penderitaanku tidak akan mengubahku menjadi seperti orang-orang yang telah menyalahgunakannya.
Uang itu akan menjadi alasan seseorang yang lain tidak perlu tidur dalam keadaan lapar seperti yang pernah kualami.
