Aku menatap nama Dimas di dokumen itu sampai huruf-hurufnya terasa kabur.
Suamiku.
Laki-laki yang tadi sore masih menelepon dari Balikpapan, menangis karena hanya bisa melihat putra pertamanya lewat panggilan video.
Laki-laki yang berkata, “Jaga Bima sampai aku pulang, ya.”
Sekarang namanya tercetak di atas sebuah persetujuan untuk memindahkan bayi kami.
Dengan harga tiga ratus lima puluh juta rupiah.
“Aulia?”
Suara Farah membuatku tersadar.
Aku segera menelepon Dimas.
Sekali.
Dua kali.

Tiga kali.
Tidak diangkat.
Reza mengambil dokumen itu dari tanganku.
“Jangan simpulkan apa pun sebelum kita tahu tanda tangan ini asli atau tidak.”
“Tapi itu tanda tangannya.”
“Mirip belum tentu asli.”
Aku ingin mempercayainya.
Namun pesan dari Ibu terus terngiang di kepalaku.
Kamu belum tahu siapa yang bayar semua ini.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Ibu berdiri di sana.
Tas hitamnya tergantung di bahu.
Wajahnya berubah ketika melihat dokumen-dokumen berserakan di atas ranjang.
“Aulia.”
Aku berdiri.
“Dimas ikut?”
Ibu tidak menjawab.
“Jawab, Bu!”
Farah mundur sambil memeluk bayinya. Reza langsung berdiri di depan istrinya.
Ibu menutup pintu.
“Kamu seharusnya tidak menemukan itu.”
Dadaku seperti ditusuk.
“Jadi benar?”
“Aulia, dengarkan Ibu.”
“Dimas menjual anak kami?”
“Bukan begitu.”
“Lalu apa?”
Ibu menarik napas panjang.
“Uang itu bukan harga Bima.”
Aku tertawa getir.
“Namanya ada di formulir perpindahan bayi dan ada angka tiga ratus lima puluh juta. Ibu masih mau bilang itu bukan harga anakku?”
Ibu melangkah mendekat.
“Dimas tidak tahu.”
Aku terdiam.
“Apa?”
“Dia tidak tahu soal pertukaran bayi.”
“Lalu tanda tangannya?”
“Dipalsukan.”
Aku tidak langsung percaya.
Ibu membuka tasnya, mengeluarkan ponsel, lalu meletakkannya di ranjang.
Ada percakapan dengan seseorang bernama Lukman.
Pesan terakhir dikirim sore tadi.
Semua sudah siap.
Dua gelang baru selesai dicetak.
Pastikan ibu kandungnya tidur sampai lewat tengah malam.
Aku membaca pesan berikutnya.
Bu Yuni jangan berubah pikiran. Uang muka sudah masuk.
Aku mengangkat kepala.
“Uang muka?”
Ibu menunduk.
“Lima puluh juta.”
“Untuk siapa?”
Ibu tidak menjawab.
Reza mengambil ponsel itu.
“Siapa yang menyuruh kalian?”
Ibu menatap Farah.
Anehnya, ketakutan di wajahnya bukan ketakutan seorang pelaku yang tertangkap.
Dia terlihat seperti seseorang yang takut pada orang lain.
“Saya tidak bisa bilang.”
Reza maju satu langkah.
“Kalian hampir mengambil anak saya.”
“Justru bukan anak Bapak yang mereka inginkan.”
Ruangan langsung sunyi.
Aku memandang Ibu.
“Maksud Ibu?”
Ibu menatap Bima dalam pelukanku.
“Mereka menginginkan Bima.”
Bulu kudukku berdiri.
Farah memeluk bayinya semakin erat.
“Kenapa?”
Ibu duduk di kursi.
Dua puluh tahun bekerja untuk keluarga Pranata membuatnya tahu banyak hal. Beberapa bulan sebelumnya, perusahaan tekstil keluarga itu mengalami konflik kepemilikan. Pendiri perusahaan, Harsono Pranata, sedang sakit keras.
Menurut Ibu, Harsono memiliki satu-satunya cucu laki-laki dari Reza dan Farah.
Dalam rancangan pembagian saham keluarga, sebagian besar aset akan ditempatkan dalam perwalian atas nama cucu itu.
“Jadi Bima mau dijadikan anak mereka supaya mendapat warisan?” tanyaku.
Ibu menggeleng.
“Bukan keluarga Pranata yang merencanakan.”
Reza langsung memahami.
“Orang dari dalam keluarga?”
Ibu menutup wajahnya.
Sebelum sempat menjawab, pintu kembali terbuka.
Dua petugas keamanan masuk bersama kepala perawat.
“Bu Yuni Kartika?”
Ibu berdiri.
“Kami perlu Ibu ikut ke ruang keamanan.”
Ibu tidak melawan.
Namun sebelum keluar, dia menggenggam tanganku.
“Jangan percaya siapa pun yang datang mengaku dari keluarga Pranata.”
Aku menarik tanganku.
“Termasuk Ibu?”
Matanya berkaca-kaca.
“Terutama Ibu.”
Ibu dibawa pergi.
Aku duduk lemas.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Dimas menelepon.
Aku langsung mengangkatnya.
“Kamu tanda tangan surat pemindahan Bima?”
“Apa?”
“Jawab!”
“Aulia, aku bahkan tidak tahu kamu bicara apa.”
Aku mengirim foto dokumen itu.
Beberapa detik kemudian terdengar suara napasnya memburu.
“Ini tanda tanganku, tapi aku tidak pernah menandatangani surat ini.”
“Bagaimana bisa sama persis?”
Dimas terdiam.
Kemudian dia berkata pelan.
“Dua minggu lalu ibumu minta fotokopi KTP dan contoh tanda tanganku.”
“Untuk apa?”
“Katanya untuk mengurus tambahan administrasi persalinan karena aku tidak bisa mendampingi.”
Aku menutup mata.
Satu bagian teka-teki terjawab.
Tetapi bagian lainnya justru semakin mengerikan.
“Dimas, ada uang tiga ratus lima puluh juta.”
“Aku tidak pernah menerima uang.”
“Pulang.”
“Aku cari penerbangan malam ini.”
Sebelum menutup telepon, suaranya pecah.
“Jangan lepaskan Bima dari tanganmu.”
Malam itu rumah bersalin berubah seperti tempat kejadian perkara.
Polisi datang.
Rekaman CCTV diamankan.
Lukman tidak ditemukan di meja administrasi.
Dia menghilang sekitar dua puluh menit setelah kepala perawat menemukan ketidaksesuaian gelang.
Namun kamera parkiran merekamnya masuk ke sebuah mobil hitam.
Mobil itu terdaftar atas nama perusahaan milik keluarga Pranata.
Reza langsung menelepon ayahnya.
Untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya benar-benar pucat.
“Ayah bilang tidak pernah menyuruh mobil perusahaan menjemput Lukman.”
“Lalu siapa yang menggunakan mobil itu?”
Reza menatap layar ponselnya.
“Hanya beberapa orang yang punya wewenang.”
Salah satunya adalah pamannya.
Bram Pranata.
Adik kandung Harsono.
Bram menjabat sebagai direktur keuangan perusahaan dan selama bertahun-tahun dikabarkan akan menjadi penerus utama sebelum Reza kembali dari luar negeri dan masuk ke jajaran direksi.
Jika anak Reza menjadi pewaris saham, pengaruh Bram akan berkurang drastis.
Namun aku masih tidak mengerti.
“Kalau Bram ingin menghilangkan hak waris anak Farah, kenapa harus ditukar dengan Bima? Bukankah Bima tetap akan dianggap anak Farah?”
Reza menatapku.
“Itulah yang aneh.”
Jawabannya datang satu jam kemudian.
Seorang polisi menemukan sesuatu dalam dokumen yang dibawa Ibu.
Bukan hanya formulir pertukaran identitas.
Ada jadwal pemeriksaan DNA.
Tiga hari setelah bayi dipulangkan.
Aku membaca lembar itu berkali-kali.
Bayi yang akan dibawa pulang sebagai anak Farah sebenarnya adalah Bima.
Setelah itu, seseorang akan mengirim laporan anonim yang menuduh Farah berselingkuh.
Tes DNA akan dilakukan.
Hasilnya tentu menunjukkan bahwa bayi tersebut bukan anak Reza.
Skandal akan meledak.
Farah akan dituduh melahirkan anak dari laki-laki lain.
Pernikahannya bisa hancur.
Dan yang paling penting, bayi itu kehilangan status sebagai keturunan biologis keluarga Pranata.
Bram tidak perlu menculik atau membunuh siapa pun.
Dia hanya perlu menciptakan bukti bahwa cucu Harsono bukan darah keluarga.
“Lalu anakku?” suara Farah bergetar. “Anakku yang asli mau diapakan?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku merasa mual.
Ibu akhirnya mau bicara setelah polisi memperlihatkan seluruh bukti.
Rencananya, bayi Farah yang mengenakan identitas Bima akan dibawa pulang bersamaku.
Dua hari kemudian, seseorang akan mengambilnya dengan alasan pemeriksaan lanjutan.
Setelah itu, Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi.
“Aku bersumpah aku tidak tahu mereka akan menyakiti bayi itu,” kata Ibu kepadaku dari balik meja ruang pemeriksaan.
Aku menatapnya tanpa air mata.
“Tapi Ibu tahu mereka mengambil anak Farah.”
“Ibu pikir mereka akan menyerahkannya ke keluarga lain.”
“Dan itu membuatnya lebih baik?”
Ibu menangis.
“Aku cuma memikirkan Bima.”
“Jangan gunakan nama anakku untuk membenarkan kejahatan Ibu.”
Ibu terdiam.
Aku akhirnya mengerti sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Ibu memang dimanfaatkan Bram.
Tetapi Ibu juga bersalah.
Dia menerima lima puluh juta rupiah.
Jika rencana berhasil, dia dijanjikan tiga ratus juta lagi.
Dan sebagai tambahan, Bima akan dibesarkan dalam keluarga kaya.
Dalam pikirannya, dia sedang mengorbankan satu identitas demi masa depan cucunya.
Dia bahkan meyakinkan dirinya bahwa itu adalah bentuk cinta.
Dimas tiba di Surabaya menjelang subuh.
Begitu melihatku, dia langsung memelukku dan Bima.
Aku sempat kaku.
Namun kemudian aku menangis di dadanya.
“Aku kira kamu menjual anak kita.”
Dimas memelukku semakin erat.
“Kalau semua yang kita punya tinggal satu kamar kontrakan, Bima tetap anak kita. Aku tidak akan menukarnya dengan apa pun.”
Pagi harinya, polisi menemukan Lukman.
Dia ditangkap di sebuah hotel dekat Bandara Juanda.
Dari ponselnya ditemukan percakapan dengan Bram, bukti transfer, foto gelang bayi, jadwal pergantian perawat, bahkan foto kamar bersalinku.
Bram ditangkap beberapa jam kemudian.
Dia menyangkal semuanya.
Namun bukti digital terlalu banyak.
Yang paling mengejutkan justru muncul ketika polisi memeriksa rekening tujuan tiga ratus lima puluh juta rupiah.
Rekening itu bukan milik Ibu.
Bukan milik Lukman.
Bukan pula milik Dimas.
Rekening tersebut dibuat menggunakan identitas palsu dan dirancang seolah-olah terhubung dengan Dimas.
Jika rencana terbongkar setelah pembayaran dilakukan, suamiku yang akan terlihat sebagai ayah yang menjual bayinya sendiri.
Bram sudah menyiapkan kambing hitam untuk setiap kemungkinan.
Lukman akan dituduh memalsukan gelang.
Ibu akan dianggap sebagai perantara.
Dimas akan dituduh menerima uang.
Dan Bram tetap bersih.
Tiga hari kemudian, aku bersiap meninggalkan rumah bersalin.
Farah datang ke kamarku sambil menggendong putranya.
Kami berdiri saling berhadapan.
Dua ibu.
Dua bayi.
Dua keluarga yang hampir dihancurkan hanya karena seseorang menganggap identitas manusia bisa dipindahkan seperti label pada barang.
Farah menatap Bima.
“Kalau malam itu kamu benar-benar tidur…”
Aku menggeleng.
“Jangan dipikirkan.”
“Tapi kamu menyelamatkan anakku.”
“Cetakan telapak kaki yang menyelamatkan mereka.”
Farah tersenyum kecil.
“Bukan. Kamu yang memutuskan untuk tidak diam.”
Aku menatap kaki kecil Bima.
Jempol kirinya masih miring sedikit.
Ciri kecil yang sebelumnya hanya membuatku tertawa karena mirip ayahnya.
Ternyata ciri itulah yang membuatku mengenali anakku ketika gelang, kode QR, dokumen, tanda tangan, bahkan sistem komputer semuanya sudah dimanipulasi.
Sebelum pulang, aku menemui Ibu sekali lagi.
Dia akan menjalani proses hukum.
“Aulia,” katanya sambil menangis, “Ibu tahu kamu mungkin tidak akan memaafkan Ibu.”
Aku menatapnya lama.
“Aku belum tahu apakah suatu hari aku bisa memaafkan Ibu.”
Dia menunduk.
“Tapi ada satu hal yang harus Ibu tahu.”
Ibu mengangkat wajah.
Aku memeluk Bima lebih erat.
“Kemiskinan bukan alasan untuk menyerahkan anak kepada orang kaya. Rumah kontrakan bukan kegagalan. Motor cicilan bukan aib. Anak tidak membutuhkan nama keluarga besar untuk memiliki masa depan.”
Air mata Ibu jatuh.
Aku melanjutkan.
“Yang hampir menghancurkan masa depan Bima justru orang-orang dewasa yang merasa berhak menentukan hidupnya dengan uang.”
Aku berbalik dan pergi.
Enam bulan kemudian, kami masih tinggal di rumah kontrakan yang sama.
Dimas masih mencicil motornya.
Aku mulai menerima pekerjaan dari rumah.
Tidak ada warisan.
Tidak ada rumah mewah.
Tidak ada ratusan juta rupiah.
Namun setiap malam Bima tidur di antara aku dan Dimas, sering menendang selimut sampai jatuh ke lantai.
Suatu malam aku menemukan kotak kenangan kelahirannya.
Di dalamnya ada gelang QR lama dan salinan cetakan telapak kaki A-0719.
Aku menempelkan telapak kaki Bima yang sekarang sudah lebih besar di samping cetakan itu.
Jempol kirinya masih miring.
Dimas tertawa.
“Masih sama.”
Aku tersenyum.
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Pada malam kelahirannya, hampir semua hal yang dianggap resmi telah berbohong kepadaku.
Gelang bisa ditukar.
Kode QR bisa dicetak ulang.
Tanda tangan bisa dipalsukan.
Dokumen bisa direkayasa.
Uang bahkan bisa membuat seorang nenek percaya bahwa pengkhianatan adalah bentuk kasih sayang.
Tetapi ada satu hal yang tidak berhasil mereka palsukan.
Jejak pertama anakku di dunia.
Sebuah cetakan telapak kaki kecil yang menjadi saksi bahwa sebelum siapa pun mencoba memberinya nama, harga, keluarga, atau masa depan yang berbeda, Bima sudah menjadi anakku.
Dan sejak malam itu aku tahu, menjadi ibu bukan hanya tentang melahirkan seorang anak.
Kadang-kadang, menjadi ibu berarti menjadi orang pertama yang berani melawan ketika seluruh dunia menyuruhmu diam.
