Aku menatap deretan angka di rekening koran itu sampai mataku terasa perih.
Nomor rekening itu sama sekali asing bagiku.
Namun di sampingnya tertulis namaku dengan jelas.
Nisa Wicaksono.
“Tidak mungkin,” bisikku. “Saya tidak pernah membuka rekening ini.”
Pak Jatmiko menurunkan suaranya.
“Rekening itu dibuka sebelas hari setelah ayahmu meninggal.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Di luar, hujan semakin deras. Mobil hitam di seberang gang masih diam tanpa lampu. Dari balik tirai tipis kontrakanku, hanya siluet seseorang di kursi pengemudi yang terlihat.
Ponselku kembali bergetar.
Om Rudi menelepon.
Kali ini kuangkat.
“Nisa.”
Suaranya terdengar tenang. Terlalu tenang.
“Kamu sedang bersama Pak Jatmiko dan istrinya, kan?”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Om tahu dari mana?”
“Jangan banyak tanya. Suruh mereka pergi. Mereka penipu.”
Aku memandang Pak Jatmiko.

“Kalau mereka penipu, kenapa mereka punya laporan pembagian keuntungan perusahaan Ayah?”
Sunyi.
Hanya dua detik, tetapi cukup untuk mengubah segalanya.
“Nisa,” suara Om Rudi berubah dingin, “ada banyak hal yang tidak kamu pahami.”
“Termasuk rekening atas nama saya?”
Telepon langsung terputus.
Pak Jatmiko menarik napas panjang.
“Kita harus pergi.”
“Ke mana?”
“Tempat yang ramai. Sekarang.”
Belum sempat kami bergerak, terdengar suara pintu mobil ditutup dari luar.
Seseorang berjalan memasuki gang.
Pak Jatmiko mematikan layar ponselnya. Bu Rukmini memegang tanganku.
Langkah kaki berhenti tepat di depan kontrakan.
Tok. Tok. Tok.
“Nisa.”
Aku mengenali suara itu.
Om Rudi.
Tubuhku membeku.
“Nisa, buka pintu. Om cuma mau bicara.”
Aku tidak menjawab.
Lalu gagang pintu bergerak.
Untung sudah kukunci.
Pak Jatmiko berbisik, “Jangan buka.”
Om Rudi mengetuk lagi.
“Kamu mengenal Om sejak kecil. Kamu mau lebih percaya dua orang asing?”
Kalimat itu hampir membuatku membuka pintu.
Hampir.
Karena memang benar.
Setelah Ayah meninggal, Om Rudi yang membayar biaya sekolahku selama beberapa bulan. Om Rudi yang membawaku tinggal di rumahnya. Om Rudi pula yang berdiri di sampingku ketika makam Ayah ditutup tanah.
Namun aku juga ingat bagaimana dua tahun kemudian dia mengatakan rumah Ayah harus dijual.
Bagaimana setiap kali kutanya soal warisan, jawabannya selalu sama.
Ayahmu cuma meninggalkan utang.
Aku mendekati pintu.
“Kalau Om mau bicara, jawab satu pertanyaan.”
“Apa?”
“Rekening 0148 itu punya siapa?”
Tidak ada jawaban.
Pak Jatmiko langsung menatapku.
Ekspresinya mengatakan semuanya.
Om Rudi tahu nomor itu.
Aku melanjutkan.
“Kalau Om tidak tahu rekeningnya, seharusnya Om bertanya rekening apa.”
Hening.
Kemudian terdengar langkah kaki menjauh.
Mesin mobil menyala.
Beberapa detik kemudian mobil itu pergi.
Bu Rukmini terduduk lemas.
Aku justru merasa lebih takut setelah Om Rudi pergi.
Karena sekarang aku tahu satu hal.
Pak Jatmiko tidak berbohong.
Malam itu kami tidak tidur.
Pak Jatmiko menceritakan semuanya.
Lima belas tahun lalu, Ayah adalah teknisi pendingin industri. Ia mengenal Pak Jatmiko ketika keduanya bekerja sebagai teknisi lapangan. Mereka kemudian mendirikan usaha kecil bersama empat orang lainnya.
Ayah tidak punya banyak uang, tetapi dialah yang merancang jaringan distribusi dan menemukan banyak pelanggan pertama.
Usaha itu berkembang.
Beberapa tahun kemudian, kepemilikan Ayah tercatat sebesar tiga puluh lima persen.
“Rudi mulai ikut mengurus administrasi setelah perusahaan membesar,” kata Pak Jatmiko.
“Kenapa?”
“Karena ayahmu percaya pada adiknya.”
Kalimat itu terasa seperti pisau.
Pak Jatmiko melanjutkan.
Setelah Ayah meninggal dalam kecelakaan di gudang, Rudi datang membawa surat kuasa dan dokumen pelepasan hak.
Pak Jatmiko sempat curiga, tetapi Rudi menunjukkan salinan KTP-ku, kartu keluarga, dan surat bertanda tangan atas namaku.
“Waktu itu kami tidak tahu kamu masih tujuh belas tahun,” katanya.
“Bapak tidak pernah menemui saya?”
“Saya mencoba.”
Pak Jatmiko menatap lantai.
“Rudi bilang kamu trauma dan tidak mau berhubungan dengan siapa pun dari perusahaan.”
Ternyata uang Rp180 juta yang disebut sebagai kompensasi pelepasan saham ditransfer ke rekening yang dikendalikan seseorang bernama Ratna Prameswari.
Aku tidak mengenal nama itu.
Namun Pak Jatmiko kemudian menunjukkan dokumen lain.
Ratna adalah pegawai administrasi perusahaan saat itu.
Dan tiga tahun kemudian, dia menikah dengan Om Rudi.
Aku sampai tidak mampu berkata-kata.
Tante Ratna.
Perempuan yang selama dua tahun aku panggil Tante.
Perempuan yang pernah memarahiku karena membeli buku seharga tujuh puluh ribu rupiah.
Perempuan yang mengatakan aku harus tahu diri karena tinggal menumpang.
Tanganku mulai gemetar.
“Jadi uang Ayah…”
“Sebagian besar masuk melalui rekening yang mereka kendalikan.”
“Tapi sahamnya sudah dilepas.”
“Itulah keanehan berikutnya.”
Pak Jatmiko mengeluarkan satu lembar lagi.
Ternyata pelepasan saham tidak pernah disahkan sepenuhnya karena salah satu pendiri perusahaan menolak menandatangani perubahan komposisi kepemilikan.
Secara hukum internal perusahaan, bagian Ayah tetap tercatat.
Karena itulah pembagian keuntungan terus dilakukan.
Dan selama hampir sembilan tahun, uang itu terus mengalir ke rekening yang diklaim sebagai milikku.
Aku menghitung kasar.
Jumlahnya bukan ratusan juta.
Lebih dari dua miliar rupiah.
Aku menutup mulut.
Selama ini aku bekerja dari pagi sampai malam di laundry.
Pernah tiga hari makan nasi dengan kecap agar bisa membayar kontrakan.
Pernah menunda berobat ketika demam karena tidak punya uang.
Sementara seseorang menerima miliaran rupiah menggunakan namaku.
“Kenapa Bapak baru datang sekarang?”
Pak Jatmiko terdiam.
Bu Rukmini akhirnya menjawab.
“Karena suami saya juga pengecut.”
Pak Jatmiko menunduk.
Aku menatap mereka.
Bu Rukmini menangis.
“Dia curiga bertahun-tahun. Tapi Rudi mengancam akan melaporkan pelanggaran pajak lama perusahaan dan menyeret semua pendiri. Suami saya takut kehilangan semuanya.”
Pak Jatmiko tidak membela diri.
“Saya salah,” katanya. “Saya membiarkan ketakutan membuat saya diam.”
“Lalu kenapa sekarang?”
“Karena anak kami menemukan dokumen asli.”
Anak mereka, Dimas, bekerja sebagai manajer keuangan untuk Om Rudi.
Dua minggu lalu, Dimas menemukan arsip lama saat perusahaan bersiap menerima investor.
Ada salinan KTP-ku.
Formulir pembukaan rekening.
Surat pelepasan hak.
Dan sebuah surat yang belum pernah dilihat Pak Jatmiko sebelumnya.
Surat tulisan tangan Ayah.
Ayah menulisnya tiga hari sebelum meninggal.
Jika terjadi sesuatu padanya, seluruh hak kepemilikannya harus diberikan kepadaku setelah aku berusia dua puluh satu tahun.
“Suratnya di mana?”
Pak Jatmiko menatapku.
“Dimas yang pegang.”
“Kalau begitu kita temui dia.”
Wajah Bu Rukmini langsung pucat.
“Kami tidak tahu dia sekarang di mana.”
Ternyata setelah Dimas mengatakan akan menyerahkan dokumen itu kepadaku, Om Rudi mengetahui rencananya.
Terjadi pertengkaran.
Dimas kemudian mengusir orang tuanya dari rumah karena menganggap mereka telah membahayakan kariernya.
Aku terdiam.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal.
“Kalau Dimas bekerja untuk Om Rudi dan memilih kariernya, kenapa awalnya dia mau memberikan surat itu kepada saya?”
Pak Jatmiko tidak menjawab.
Aku langsung tahu mereka masih menyembunyikan sesuatu.
“Pak.”
Dia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Dimas bukan anak kandung kami.”
Aku mengerutkan kening.
“Kami mengadopsinya ketika bayi.”
“Apa hubungannya dengan Ayah?”
Bu Rukmini mulai menangis keras.
Pak Jatmiko kemudian mengucapkan kalimat yang tidak pernah kubayangkan.
“Dimas adalah adikmu.”
Dunia seperti runtuh untuk kedua kalinya malam itu.
Ayah ternyata pernah menikah sebelum menikahi Ibuku. Pernikahan itu hanya bertahan sebentar. Mantan istrinya meninggal setelah melahirkan Dimas.
Saat itu Ayah belum mampu merawat bayi sendirian. Pak Jatmiko dan Bu Rukmini yang sudah bertahun-tahun tidak memiliki anak menawarkan untuk mengadopsinya.
Beberapa tahun kemudian Ayah menikahi Ibuku.
“Ayahmu tetap mengunjungi Dimas,” kata Bu Rukmini. “Tapi kami sepakat tidak memberitahunya sampai dia dewasa.”
“Dia tahu?”
“Baru dua minggu lalu.”
Dimas menemukan akta lama bersama surat Ayah.
Jadi bukan sekadar uang yang membuatnya ingin mencariku.
Dia mengetahui dirinya memiliki seorang adik perempuan.
Pagi harinya aku pergi ke kantor polisi bersama Pak Jatmiko.
Kami membawa semua salinan dokumen.
Aku juga menghubungi bantuan hukum.
Siang itu, Om Rudi menelepon belasan kali.
Tidak kuangkat.
Sore hari muncul pesan.
Nisa, kalau kamu lanjutkan ini, kamu akan menyesal.
Aku menyimpan tangkapan layarnya.
Tiga hari kemudian, penyelidikan awal menemukan fakta yang jauh lebih buruk.
Rekening yang memakai identitasku memang benar-benar ada.
Alamat pendaftarannya adalah rumah Om Rudi.
Nomor telepon yang terhubung dahulu milik Tante Ratna.
Sebagian besar uang yang masuk kemudian dipindahkan ke beberapa rekening lain.
Salah satunya digunakan untuk membeli rumah.
Rumah tempat Om Rudi tinggal sekarang.
Namun kejutan terbesar datang ketika penyidik memeriksa kecelakaan Ayah.
Pak Jatmiko menerima telepon malam-malam.
Setelah menutup telepon, wajahnya putih.
“Apa?”
Dia menatapku.
“Kecelakaan ayahmu mungkin bukan kecelakaan biasa.”
Aku merasa lututku kehilangan tenaga.
Catatan keselamatan lama menunjukkan alat pengaman mesin yang menyebabkan kematian Ayah ternyata pernah diperiksa sehari sebelumnya.
Tidak ada kerusakan.
Namun setelah kecelakaan, satu komponen pengunci ditemukan sengaja dilepas.
Orang terakhir yang tercatat masuk gudang malam sebelum kecelakaan adalah Rudi.
Aku tidak mampu menangis.
Kemarahanku sudah terlalu besar untuk berubah menjadi air mata.
Seminggu kemudian, Om Rudi menghilang.
Rumahnya kosong.
Tante Ratna juga tidak ditemukan.
Polisi mulai mencarinya.
Aku kembali bekerja di laundry karena hidup tetap harus berjalan.
Sampai suatu malam seorang laki-laki berdiri di depan kios.
Usianya sekitar tiga puluh lima tahun.
Kemejanya kusut. Matanya merah seperti beberapa malam tidak tidur.
“Nisa?”
Aku mengangguk.
Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
“Aku Dimas.”
Aku tidak tahu harus memeluknya atau marah.
Dia hanya berdiri di depanku dengan mata berkaca-kaca.
“Aku minta maaf.”
“Karena mengusir orang tuamu?”
Dia menggeleng.
“Karena membuat mereka berpura-pura terlantar.”
Aku membeku.
Dimas menjelaskan semuanya.
Pak Jatmiko dan Bu Rukmini sebenarnya tidak diusir.
Itu rencana mereka.
Dimas mengetahui Om Rudi mengawasi komunikasi keluarganya. Kalau Pak Jatmiko langsung mencariku, Om Rudi akan segera curiga.
Mereka sengaja pergi tanpa uang, berpindah dari Salatiga ke Semarang, lalu mencoba menemukan alamatku.
“Tapi bagaimana mereka tahu saya akan menolong?”
“Mereka tidak tahu.”
Dimas tersenyum getir.
“Mereka bahkan hampir menyerah malam itu.”
Aku teringat nasi, telur balado, dan tempe seharga dua puluh tujuh ribu rupiah.
Satu-satunya makanan yang kupunya.
Ternyata keputusan kecil itulah yang membuka rahasia sembilan tahun.
Dimas menyerahkan amplop itu.
Di dalamnya ada surat asli Ayah.
Tulisan tangannya langsung kukenal.
Untuk Nisa dan Dimas.
Tanganku berhenti.
Ayah menyebut nama kami berdua.
Aku membaca kalimat terakhir dengan pandangan kabur.
Ayah tidak membagi kepemilikannya hanya kepadaku.
Tiga puluh lima persen saham itu diwariskan kepada kami berdua.
Aku menyerahkan surat kepada Dimas.
“Kakak sudah tahu?”
Dia mengangguk.
“Kenapa tidak mengambil bagianmu?”
Dimas tersenyum.
“Karena aku sudah punya orang tua yang memberiku hidup. Aku datang bukan mencari warisan.”
“Lalu?”
Dia menatapku lama.
“Aku datang mencari adikku.”
Untuk pertama kalinya sejak Ayah meninggal, aku menangis seperti anak kecil.
Beberapa bulan kemudian Om Rudi dan Tante Ratna ditemukan di Surabaya.
Kasus pemalsuan dokumen, penyalahgunaan identitas, penggelapan dana, dan dugaan keterlibatan dalam kematian Ayah diproses secara terpisah.
Sebagian aset mereka dibekukan.
Hak kepemilikan Ayah akhirnya dikembalikan kepada ahli waris yang sah.
Namun ketika pembayaran pertama masuk ke rekeningku sendiri, aku tidak langsung membeli rumah atau mobil.
Aku membeli sebuah meja makan.
Meja kayu sederhana dengan enam kursi.
Pak Jatmiko tertawa ketika melihatnya.
“Dengan uang sebanyak itu, kamu cuma beli meja?”
Aku menghidangkan nasi hangat, telur balado, tempe, sayur asem, dan ayam goreng.
Bu Rukmini tersenyum sambil mengusap matanya.
Dimas duduk di seberangku.
Aku memandang mereka bertiga.
“Aku pernah berpikir malam itu aku kehilangan makan malam terakhirku.”
Pak Jatmiko tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum.
“Ternyata aku sedang membeli kembali keluargaku.”
Kami makan sampai larut.
Dan baru setelah semuanya selesai, Dimas mengeluarkan satu foto lama dari dompetnya.
Foto Ayah menggendong seorang bayi.
Di belakangnya ada tulisan tangan Ayah.
Suatu hari, kalau kalian bertemu, jangan bertengkar soal apa yang Ayah tinggalkan. Harta bisa dicari lagi. Keluarga yang hilang belum tentu bisa pulang.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu memandang meja di depanku.
Sembilan tahun aku mengira Ayah tidak meninggalkan apa pun.
Ternyata aku salah.
Warisan terbesar Ayah bukan tiga puluh lima persen saham.
Bukan miliaran rupiah yang dicuri.
Bukan rumah yang akhirnya bisa kurebut kembali.
Warisan terbesarnya adalah sebuah jalan panjang yang, setelah begitu banyak kebohongan, akhirnya membawaku kepada orang-orang yang seharusnya menjadi keluargaku sejak awal.
