Aku menatap foto di layar ponsel sampai mataku terasa perih.
NAYA PRAMESWARI. PERSETUJUAN PEMBEBANAN ASET. Rp64.000.000.000.
Namaku tercantum di sana.
Padahal aku tidak pernah menandatangani apa pun.
Lebih buruk lagi, di samping namaku terdapat nomor identitas pegawai dan jabatan lengkapku sebagai Kepala Risiko Korporasi.
Informasi itu tidak mungkin diperoleh sembarang orang.
Intan membaca dari balik bahuku.
“Naya, ini bukan lagi soal keluarga suamimu memperlakukanmu seperti pembantu.”
Aku menutup laptop perlahan.
“Aku tahu.”
“Ini pemalsuan.”
“Dan kalau dokumen ini lolos, seolah-olah aku menyetujui transaksi yang seharusnya kutinjau secara independen.”

Ponselku kembali bergetar.
Reno menelepon.
Aku membiarkannya berdering sampai mati.
Lalu masuk pesan.
Jangan bikin semuanya rumit. Besok datang. Kita selesaikan baik-baik sebagai keluarga.
Aku hampir tertawa.
Keluarga.
Beberapa jam lalu keluarga itu menyuruhku tidur di gudang pada malam pertama pernikahanku.
Sekarang mereka memakai namaku untuk menopang transaksi enam puluh empat miliar rupiah.
Aku menyimpan foto dari pegawai Aruna ke penyimpanan terenkripsi, lalu menghubungi Direktur Kepatuhan, Pak Hendra.
Saat telepon tersambung, aku hanya mengatakan satu kalimat.
“Pak, saya perlu melaporkan dugaan pemalsuan dokumen dan konflik kepentingan material.”
Pak Hendra tidak bertanya panjang.
“Kirim bukti awal ke kanal resmi. Jangan menghubungi pihak Aruna sendirian. Mulai sekarang, semua komunikasi dicatat.”
Malam itu aku tidak tidur.
Pukul tujuh lewat empat puluh pagi, aku tiba di kantor pusat Aruna Pangan Nusantara di kawasan industri Surabaya.
Reno sudah menunggu di lobi.
Dia mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan wajah seorang suami yang seolah semalam tidak pernah mendorong istrinya sendiri.
“Kamu akhirnya datang.”
“Ayahmu di mana?”
Reno mengernyit.
“Kita bicara dulu.”
“Tidak perlu.”
“Naya.”
Dia merendahkan suara.
“Soal semalam, aku memang emosi.”
Aku menatapnya.
“Begitu cara kamu minta maaf?”
Rahangnya mengeras.
“Kamu juga memancing.”
Kalimat itu menghapus sisa keraguanku.
Aku berjalan menuju lift.
Reno mengejarku.
“Naya, tunggu.”
Pintu lift terbuka.
“Apa sebenarnya isi map itu?”
Aku masuk.
“Bukankah kamu sudah tahu?”
Wajahnya berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup.
Ketika pintu lift terbuka di lantai enam, sekretaris komisaris mengantarku ke ruang rapat.
Di sana sudah ada Pak Surya, ayah Reno, Bu Marni, Vina, direktur keuangan perusahaan, serta pengacara keluarga.
Bu Marni menatapku seperti aku seorang pembantu yang datang terlambat.
“Kamu datang juga.”
Aku duduk tanpa menjawab.
Pak Surya membuka pembicaraan.
“Naya, Bapak dengar tadi malam ada keributan.”
“Ada.”
“Reno bilang kamu tersinggung karena persoalan kamar.”
“Reno mendorong saya.”
Bu Marni langsung menyela.
“Jangan dibesar-besarkan. Suami istri biasa bertengkar.”
Aku mengeluarkan ponsel dan meletakkannya di meja.
“Foto lebamnya ada. Foto pecahan vasnya juga ada.”
Bu Marni terdiam.
Pak Surya berdeham.
“Kita tidak perlu membawa masalah rumah tangga ke kantor.”
“Setuju.”
Aku membuka tas.
“Karena itu saya datang untuk masalah kantor.”
Aku mengeluarkan map cokelat.
Reno langsung menatapnya.
Pak Surya juga.
Suasana berubah.
Aku membuka halaman yang sudah kutandai.
“Siapa yang memasukkan nama saya ke dokumen persetujuan pembebanan aset?”
Tak seorang pun menjawab.
Aku mendorong dokumen itu ke tengah meja.
Direktur keuangan membacanya dan wajahnya langsung pucat.
Pak Surya menoleh kepada Reno.
“Kamu bilang ini sudah beres.”
Reno buru-buru berkata, “Ayah, jangan bicara sembarangan.”
Aku menatap keduanya.
“Jadi memang ada yang harus dibereskan?”
Pak Surya sadar dia terpancing.
Pengacara keluarga segera mengambil alih.
“Mbak Naya, mungkin ini hanya kesalahan administrasi.”
“Kesalahan administrasi tidak memasukkan nama, jabatan, dan nomor identitas saya secara lengkap.”
“Bisa saja staf salah menyalin.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Revisi terakhir dilakukan dari akun RENO.P pukul 22.47.”
Semua mata beralih kepada Reno.
Dia berdiri.
“Banyak orang bisa mengakses komputerku.”
“Bagus. Berarti audit forensik akan mudah memastikan.”
“Audit?”
Untuk pertama kalinya, Bu Marni terlihat khawatir.
Aku mengangguk.
“Transaksi Rp64 miliar sudah saya laporkan untuk ditahan sementara sampai investigasi selesai.”
Pak Surya menghantam meja.
“Kamu gila?”
Reno ikut berdiri.
“Naya, kamu tahu kalau dana itu tidak cair minggu ini, proyek bisa berhenti?”
“Itu bukan alasan untuk memalsukan dokumen.”
“Kamu istriku!”
“Dan itu bukan izin untuk memakai namaku.”
Bu Marni menunjuk wajahku.
“Keluarga kami sudah menerima kamu. Baru sehari jadi istri Reno, kamu malah mau menghancurkan perusahaan?”
Aku menatapnya.
“Ibu menerima saya?”
Aku tersenyum tipis.
“Ibu menyuruh saya tidur di gudang.”
Wajah Bu Marni memerah.
“Itu tradisi keluarga!”
“Tidak. Itu penghinaan yang diberi nama tradisi supaya terdengar terhormat.”
Ruangan mendadak sunyi.
Reno berjalan mendekat.
“Tarik laporanmu.”
“Tidak.”
“Aku bilang tarik.”
“Tidak.”
Tangannya terangkat seolah hendak meraih lenganku.
Aku hanya berkata pelan, “Coba.”
Dia berhenti.
Mungkin baru saat itu dia ingat aku sudah mendokumentasikan kejadian semalam.
Pak Surya mengubah nada.
“Naya, dengarkan Bapak. Perusahaan ini mempekerjakan hampir enam ratus orang. Kalau fasilitas kredit gagal, bukan hanya keluarga kami yang rugi.”
Aku menatapnya.
“Justru karena ada enam ratus orang, perusahaan ini tidak boleh dibangun di atas dokumen palsu.”
Pengacara keluarga berbisik kepada Pak Surya.
Lalu Pak Surya berkata, “Apa yang kamu mau?”
Aku hampir tidak percaya.
“Bapak pikir ini negosiasi?”
“Semua bisa dinegosiasikan.”
“Tidak semuanya.”
Pak Surya menatapku beberapa detik.
Lalu berkata pelan, “Dua miliar.”
Bu Marni terkejut.
“Pak!”
Pak Surya mengangkat tangan.
“Dua miliar untuk Naya. Anggap hadiah pernikahan. Dia mencabut keberatan, transaksi berjalan.”
Aku menatap Reno.
Yang paling menyakitkan bukan tawaran itu.
Melainkan Reno tidak terlihat terkejut.
Seolah percakapan semacam ini memang sudah mereka rencanakan.
“Apa kamu tahu soal ini sejak awal?” tanyaku.
Reno menghindari mataku.
“Jawab.”
“Naya, kita sedang bicara soal masa depan keluarga.”
“Jawab.”
Dia mengembuskan napas.
“Aku cuma tahu perusahaan butuh dukungan.”
“Makanya kamu menikahiku?”
“Jangan dramatis.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Tiga tahun hubungan kami.
Lamaran sederhana di Batu.
Percakapan tentang rumah.
Tentang anak.
Tentang masa depan.
Tiba-tiba semuanya terasa seperti dokumen yang harus kuperiksa ulang.
Pintu ruang rapat terbuka.
Dua orang dari kantor pusat perusahaan penjamin kredit masuk bersama Pak Hendra.
Di belakang mereka ada seorang perempuan berkacamata.
Aku mengenalinya dari foto profil internal Aruna.
Namanya Siska.
Pegawai administrasi yang menghubungiku semalam.
Reno langsung pucat.
“Siska?”
Siska berdiri di dekat pintu.
“Saya sudah menyerahkan salinan log perubahan dan rekaman instruksi revisi.”
Pak Hendra meletakkan sebuah flashdisk di meja.
“Mulai pagi ini, fasilitas pembiayaan Aruna dibekukan untuk pemeriksaan khusus.”
Pak Surya bangkit.
“Pak Hendra, kita bisa bicara.”
“Bisa. Dengan tim audit.”
Reno menunjuk Siska.
“Kamu mencuri data perusahaan!”
Siska gemetar, tetapi tidak mundur.
“Saya menyimpan bukti karena saya disuruh mengubah dokumen yang sudah ditandatangani.”
“Siapa yang menyuruh?”
Semua orang terdiam.
Siska menatap Reno.
“Pak Reno.”
Reno tertawa pendek.
“Bohong.”
Siska mengeluarkan ponselnya.
“Ada pesan suara.”
Wajah Reno kehilangan warna.
Suara yang keluar dari ponsel itu jelas.
Suara Reno.
“Masukkan nama Naya saja. Setelah menikah dia keluarga. Kalau nanti ditanya, bilang persetujuan verbal sudah ada. Yang penting berkas masuk sebelum Jumat.”
Aku merasa telapak tanganku dingin.
Reno mencoba mengambil ponsel Siska, tetapi Pak Hendra menghalanginya.
“Jangan sentuh barang bukti.”
Bu Marni menatap anaknya.
“Reno… kamu bilang Naya memang sudah setuju.”
Reno membentak, “Ibu diam saja!”
Aku memandangnya.
Untuk pertama kalinya aku melihat lelaki yang sebenarnya.
Bukan suami yang kehilangan kendali semalam.
Bukan anak yang terlalu patuh pada ibunya.
Melainkan seseorang yang terbiasa percaya bahwa semua orang bisa dipakai selama tujuannya tercapai.
Namun kejutan belum selesai.
Siska membuka satu dokumen lain.
“Pak, ada satu hal lagi.”
Dia menyerahkannya kepada Pak Hendra.
Itu salinan surel internal dari empat bulan sebelumnya.
Subjeknya membuat napasku berhenti.
PROFIL CALON PENJAMIN DAN HUBUNGAN PERSONAL.
Namaku tercantum di sana.
Empat bulan sebelum Reno melamarku.
Dalam surel itu, Reno menulis kepada ayahnya bahwa posisiku dapat menjadi keuntungan strategis karena perusahaan tempatku bekerja terlibat dalam beberapa fasilitas kredit industri pangan.
Aku membaca kalimat terakhir.
Kalau hubungan ini jadi serius, akses komunikasi akan jauh lebih mudah.
Aku meletakkan kertas itu.
“Jadi bahkan sebelum melamarku…”
Reno mendekat.
“Naya, dengarkan aku. Awalnya memang aku melihat manfaatnya. Tapi setelah itu aku benar-benar mencintaimu.”
Aku menatapnya lama.
Aneh.
Aku tidak menangis.
Mungkin ada titik ketika rasa sakit menjadi terlalu besar sampai air mata tidak lagi berguna.
“Kapan tepatnya kamu mulai mencintaiku?”
Reno terdiam.
“Sebelum atau sesudah kamu memalsukan namaku?”
Dia tidak bisa menjawab.
Aku memasukkan kembali barang-barangku ke tas.
Bu Marni tiba-tiba memegang lenganku.
“Naya, jangan pergi dulu. Kita masih keluarga.”
Aku melepaskan tangannya.
“Tadi malam Ibu bilang perempuan harus tahu tempatnya.”
Aku menatap pintu.
“Sekarang saya tahu.”
Aku berjalan keluar.
Reno mengejarku hingga koridor.
“Naya!”
Aku berhenti.
“Kita baru menikah satu hari.”
“Benar.”
“Kamu mau menghancurkan pernikahan hanya karena satu kesalahan?”
Aku berbalik.
“Satu kesalahan?”
Aku menunjukkan lebam di lenganku.
“Ini satu.”
Lalu menunjuk ruang rapat.
“Pemalsuan itu satu lagi.”
Aku menatap matanya.
“Dan menikahiku sambil menghitung nilai jabatan yang kumiliki adalah satu lagi.”
Reno terdiam.
“Pernikahan kita tidak hancur hari ini, Reno.”
Suaraku bergetar untuk pertama kalinya.
“Pernikahan itu sudah hancur bahkan sebelum dimulai. Aku hanya baru mengetahuinya.”
Dua minggu berikutnya menjadi kekacauan.
Pemeriksaan menemukan beberapa dokumen pendukung lain yang dimanipulasi untuk menutupi utang pemasok.
Pencairan Rp64 miliar dibatalkan.
Namun Aruna tidak langsung bangkrut.
Atas rekomendasi kreditur, perusahaan masuk restrukturisasi. Manajemen profesional ditunjuk dan keluarga Reno kehilangan kendali operasional.
Reno diberhentikan.
Kasus pemalsuan dokumen masuk proses hukum.
Aku juga mengajukan pembatalan perkawinan melalui pengacaraku dan menyerahkan dokumentasi kekerasan yang terjadi pada malam pertama.
Bu Marni mengirim puluhan pesan.
Awalnya marah.
Kemudian menyalahkanku.
Lalu memohon.
Aku tidak membalas satu pun.
Tiga bulan kemudian, sebuah paket kecil tiba di apartemenku.
Pengirimnya Siska.
Di dalamnya ada kartu ucapan.
Terima kasih karena Ibu tidak meminta saya diam demi menyelamatkan perusahaan. Setelah restrukturisasi, kami tetap bekerja. Gaji tidak berhenti. Ternyata menyelamatkan perusahaan tidak selalu berarti menyelamatkan pemiliknya.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Lalu tersenyum.
Malam itu Intan datang membawa makanan.
Dia melihat kartu tersebut.
“Jadi enam puluh empat miliar itu akhirnya tidak pernah cair?”
“Tidak.”
“Padahal dulu mereka mengira hidup mereka bergantung pada uang itu.”
Aku mengangguk.
Intan tertawa kecil.
“Lucu juga. Mereka menyuruhmu tidur di gudang karena menganggapmu bukan siapa-siapa.”
Aku melihat bekas lebam di lenganku yang sudah hampir hilang.
“Bukan itu masalahnya.”
“Lalu?”
Aku menatap jendela. Lampu-lampu Surabaya menyala di kejauhan.
“Mereka mengira harga diri seseorang bergantung pada seberapa berguna orang itu bagi mereka.”
Aku teringat Bu Marni yang menyuruhku bangun pukul setengah lima.
Pak Surya yang menawarkan dua miliar.
Dan Reno yang mengatakan dia mencintaiku setelah terbukti menjadikanku bagian dari strategi bisnis.
“Padahal?”
Aku tersenyum.
“Orang yang menghargaimu tidak perlu tahu berapa nilai berkas di dalam tasmu untuk memperlakukanmu dengan layak.”
Ponselku berbunyi.
Sebuah pesan dari pengacaraku.
Permohonan pembatalan perkawinan telah dikabulkan.
Aku membaca layar beberapa detik.
Lalu mematikannya.
Intan menatapku.
“Selesai?”
Aku mengangguk.
“Selesai.”
Malam pertama pernikahanku seharusnya menjadi awal sebuah rumah tangga.
Sebaliknya, malam itu aku tidur di sofa sahabatku dengan sebuah berkas Rp64 miliar di dalam tas dan lebam di lengan.
Dulu aku menganggapnya sebagai malam terburuk dalam hidupku.
Sekarang aku tidak lagi berpikir begitu.
Karena seandainya Bu Marni tidak menyuruhku tidur di gudang, seandainya Reno tidak mendorongku, mungkin malam itu aku tidak akan membuka map tersebut.
Mungkin aku akan menunda pemeriksaan sampai setelah bulan madu.
Mungkin dokumen palsu itu lolos.
Mungkin aku baru mengetahui siapa suamiku bertahun-tahun kemudian, ketika hidupku sudah terikat jauh lebih dalam dengannya.
Mereka mengira gudang itu adalah tempat untuk mengajariku menjadi menantu yang patuh.
Mereka tidak pernah tahu bahwa justru dari pintu gudang itulah aku keluar dari pernikahan yang dibangun di atas kebohongan.
Dan berkas Rp64 miliar di dalam tasku tidak menyelamatkanku.
Yang menyelamatkanku adalah keberanian untuk berkata tidak ketika semua orang di ruangan itu menuntutku diam.
