Aku tidak pulang ke rumah dinas sore itu.
Foto yang diambil dari balik jendelaku lima tahun lalu terus terbayang di kepala. Semakin kupikirkan, semakin banyak hal kecil yang selama ini kuanggap sebagai kebetulan tiba-tiba terasa mengerikan.
Arga tahu kapan lampu kamarku mati.
Dia tahu kapan aku pulang terlambat dari sekolah.
Dia tahu kipas anginku rusak.
Dia bahkan pernah mengatakan bahwa setiap Selasa malam aku biasanya mencuci pakaian.
Saat itu aku hanya tertawa dan menganggap kehidupan di desa memang membuat semua orang mengetahui urusan tetangganya.
Sekarang aku sadar.
Bukan desa yang memperhatikanku.
Arga.
Aku membawa tas dan beberapa dokumen penting lalu menginap di rumah Bu Sari, kepala sekolah yang tinggal sekitar dua kilometer dari sekolah.
Begitu melihat selebaran yang kubawa, wajah Bu Sari langsung pucat.
“Dari mana kamu dapat foto ini?”
“Arga yang menyebarkannya.”
Bu Sari menatap foto jendelaku lama sekali.
Kemudian ia mengunci pintu rumah.

Gerakannya membuat dadaku berdebar.
“Bu?”
Ia tidak langsung menjawab.
“Nadira, besok pagi jangan ke sekolah sendirian.”
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan.”
Aku menatapnya.
“Bu Sari tahu sesuatu?”
Perempuan berusia hampir enam puluh tahun itu duduk perlahan. Tangannya gemetar ketika menuangkan air.
“Tiga tahun lalu pernah ada guru honorer perempuan di desa sebelah. Dia juga didekati seorang laki-laki dari sini.”
“Arga?”
Bu Sari menggeleng.
“Sepupunya.”
Aku merasakan hawa dingin menjalar di punggung.
“Lalu?”
“Perempuan itu pindah diam-diam. Keluarga laki-laki tersebut mengatakan dia kabur setelah menerima lamaran. Sejak itu warga menganggap perempuan pendatang memang tidak bisa dipercaya.”
Aku memegang selebaran semakin erat.
“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”
“Karena aku tidak pernah mengira Arga akan melakukan hal yang sama.”
Malam itu aku hampir tidak tidur.
Sekitar pukul dua dini hari, suara motor berhenti di depan rumah Bu Sari.
Lampu ruang tamu kami matikan.
Dari celah tirai, kulihat seseorang berdiri di seberang jalan.
Arga.
Dia tidak mengetuk.
Dia hanya berdiri dalam kegelapan sambil menatap rumah.
Hampir dua puluh menit.
Kemudian pergi.
Pagi harinya aku memutuskan satu hal.
Aku harus meninggalkan Sukamaju sebelum tanggal pernikahan yang mereka tentukan.
Masalahnya, satu-satunya angkutan menuju kecamatan hanya lewat dua kali sehari. Jalan utama juga melintasi rumah keluarga Arga.
Aku mencoba menghubungi kantor dinas pendidikan.
Sinyal muncul satu garis lalu menghilang.
Bu Sari menyarankan kami pergi ke bukit belakang sekolah, tempat sinyal biasanya lebih kuat.
Namun sebelum berangkat, seorang muridku datang berlari.
Namanya Dimas, kelas enam.
“Bu Nadira!”
Dia terengah-engah.
“Kenapa, Mas?”
Dimas mengeluarkan sebuah kunci kecil dari sakunya.
“Ini punya Bu Guru?”
Aku menggeleng.
“Dapat dari mana?”
“Dari Kak Arga.”
Tubuhku menegang.
Dimas buru-buru menjelaskan.
“Kemarin Kak Arga menyuruh saya mengambil kotak di gudang belakang rumahnya. Kuncinya jatuh. Saya takut dimarahi, jadi saya simpan.”
“Kotak apa?”
Dimas berpikir.
“Kotaknya besar. Ada tulisan nama Bu Guru.”
Aku dan Bu Sari saling pandang.
Rumah Arga berjarak sekitar lima ratus meter dari sekolah.
Aku tahu seharusnya aku melapor kepada polisi.
Tapi polisi terdekat berada hampir satu jam perjalanan dari desa, sementara kami bahkan kesulitan mendapat sinyal.
Aku akhirnya melakukan sesuatu yang mungkin bodoh.
Aku pergi ke rumah Arga saat mengetahui dia sedang mengantar ibunya ke pasar kecamatan.
Bu Sari menemaniku.
Gudang itu berada di belakang rumah.
Pintunya tidak terkunci.
Di dalamnya ada karung pupuk, peralatan pertanian, dan sebuah lemari besi kecil.
Kunci Dimas cocok.
Ketika pintunya terbuka, lututku hampir kehilangan tenaga.
Bukan satu foto.
Bukan sepuluh.
Ratusan.
Aku sedang mengajar.
Aku membeli sayur.
Aku menyapu halaman.
Aku tertidur di kursi teras sambil membaca buku.
Aku berbicara dengan guru laki-laki.
Aku menerima paket dari kurir.
Bahkan ada foto saat aku demam dan tertidur dengan jendela sedikit terbuka.
Tanggal paling tua tercetak lima tahun lalu.
Tiga hari setelah kedatanganku di Sukamaju.
Tanganku gemetar ketika menemukan beberapa buku catatan.
Di halaman pertama tertulis namaku.
Nadira Prameswari.
Di bawahnya ada daftar.
Makanan favorit.
Ukuran sepatu.
Tanggal ulang tahun.
Nama orang tuaku.
Alamat rumahku di Semarang.
Jadwal mengajar.
Siklus menstruasi.
Aku menjatuhkan buku itu.
Bu Sari menutup mulut.
“Ya Allah…”
Kemudian kami menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk.
Sebuah denah rumah.
Rumah baru Arga.
Setiap ruangan sudah diberi nama.
Kamar utama.
Kamar anak pertama.
Kamar anak kedua.
Di samping kamar utama terdapat tulisan tangan.
Kamar Nadira.
Jendela tidak boleh menghadap jalan.
Pintu belakang harus dikunci dari luar.
Aku hampir muntah.
Tiba-tiba terdengar suara motor.
Bu Sari langsung mematikan senter ponselnya.
Motor berhenti di depan rumah.
“Dia pulang,” bisiknya.
Kami tidak sempat keluar.
Langkah kaki mendekat.
Aku melihat sebuah pintu kecil di belakang gudang.
Terkunci.
Bu Sari menunjuk jendela.
Kami memanjat keluar beberapa detik sebelum pintu gudang terbuka.
Kami berlari melewati kebun singkong tanpa menoleh.
Dari belakang terdengar teriakan.
“NADIRA!”
Aku terus berlari.
Kami berhasil mencapai sekolah.
Bu Sari mengunci gerbang.
Namun tidak sampai sepuluh menit kemudian Arga datang.
Kali ini wajahnya tidak lagi ramah.
“Kamu masuk rumah saya?”
Aku berdiri di balik pagar.
“Aku sudah melihat semuanya.”
Wajahnya berubah sesaat.
Kemudian dia tersenyum.
Anehnya, senyum itu justru membuatku semakin takut.
“Bagus.”
“Bagus?”
“Sekarang kamu tahu seberapa serius saya.”
“Serius?”
Suaraku bergetar karena marah.
“Kamu memotretku diam-diam selama lima tahun!”
“Saya menjaga kamu.”
“Kamu menguntit saya!”
“Saya memastikan tidak ada laki-laki yang macam-macam.”
Aku menatapnya tak percaya.
Arga mendekat ke pagar.
“Lima tahun, Nadira. Lima tahun saya menunggu. Saya memperbaiki rumahmu, mengantar obat saat kamu sakit, membantu sekolah, menjaga kamu. Kamu pikir semua itu gratis?”
Aku merasa jijik.
“Aku tidak pernah meminta.”
“Itulah masalah perempuan kota.”
Rahangnya mengeras.
“Selalu merasa bisa menerima perhatian laki-laki tanpa memberikan apa pun sebagai balasan.”
Aku mengambil ponsel.
“Aku akan membawa semua foto itu ke polisi.”
Arga tertawa.
“Bawa saja.”
Lalu dia mengeluarkan ponselnya.
“Apa kamu pikir cuma kamu yang punya bukti?”
Dia menunjukkan layar.
Ada foto-fotoku bersama Pak Reza, guru olahraga.
Foto kami berbicara di ruang guru.
Foto Pak Reza mengantarkanku ketika motorku rusak.
Sudut pengambilan gambar sengaja dibuat seolah kami berpelukan.
“Kalau foto ini tersebar,” katanya, “orang-orang akan percaya kamu punya hubungan dengan suami orang.”
Pak Reza memang sudah menikah.
“Dan kalau sekolah menerima laporan bahwa seorang guru merusak rumah tangga warga?”
Aku akhirnya mengerti.
Pernikahan itu bukan hanya paksaan.
Arga telah membangun jebakan.
Kalau aku menerima, aku menjadi istrinya.
Kalau menolak, dia akan menghancurkan reputasiku.
Namun dia melakukan satu kesalahan.
Dia terlalu yakin aku sendirian.
Siang itu, ketika Arga pergi, aku dan Bu Sari naik ke bukit.
Setelah hampir empat puluh menit berjalan, akhirnya ponselku mendapat sinyal.
Aku menelepon kakakku di Semarang.
Kemudian polisi.
Aku mengirim foto buku catatan, selebaran, dan beberapa foto dari gudang yang sempat kuabadikan.
Polisi meminta aku tidak menghadapi Arga sendirian.
Mereka berjanji datang keesokan pagi.
Sayangnya, seseorang mendengar percakapan kami.
Malam itu seluruh desa mati listrik.
Sekitar pukul sebelas, terdengar suara keras dari depan rumah Bu Sari.
BRAK.
Pintu didobrak.
Arga masuk bersama dua laki-laki.
Ibunya berdiri di luar.
“Bawa Nadira pulang,” katanya dingin. “Besok akad dipercepat.”
Aku berteriak.
Bu Sari mencoba menghalangi, tetapi didorong hingga jatuh.
Arga menarik lenganku.
“Lepaskan!”
“Sudah cukup, Nadira.”
“Aku tidak mau menikah denganmu!”
“Besok setelah sah, kamu akan tenang.”
Aku menggigit tangannya.
Arga berteriak dan melepaskanku.
Aku berlari ke dapur.
Namun pintu belakang sudah dijaga.
Arga mendekat.
Untuk pertama kalinya aku melihat kemarahan tanpa topeng di wajahnya.
“Kamu seharusnya bersyukur!”
“Bersyukur karena dikuntit?”
“Saya mencintai kamu!”
“Itu bukan cinta!”
Kalimatku membuatnya berhenti.
Aku menatap langsung matanya.
“Cinta tidak memotret perempuan diam-diam. Cinta tidak menyimpan jadwal menstruasinya. Cinta tidak membuat pintu yang bisa dikunci dari luar.”
Wajah Arga memucat.
Dua laki-laki yang bersamanya saling pandang.
Mereka rupanya tidak tahu soal gudang.
Aku mengangkat suara.
“Dia punya ratusan foto saya selama lima tahun. Ada denah kamar yang akan dikunci dari luar.”
Salah satu laki-laki mundur.
“Ga, benar?”
“Diam!”
Arga menerjangku.
Namun sebelum tangannya menyentuhku, cahaya lampu kendaraan memenuhi halaman.
Suara sirene terdengar.
Polisi.
Arga membeku.
Beberapa petugas masuk bersama kakakku.
Ternyata setelah menerima teleponku, kakakku langsung berangkat dari Semarang dan bertemu polisi di kecamatan.
Arga mencoba mengatakan bahwa semuanya salah paham.
Bahwa aku tunangannya.
Bahwa aku sudah menerima seserahan.
Seorang petugas hanya bertanya,
“Mana persetujuan calon mempelai?”
Arga terdiam.
“Dia menerima telur saya.”
Petugas itu menatapnya beberapa detik.
“Menerima telur bukan persetujuan menikah.”
Gudang diperiksa malam itu.
Polisi menemukan lebih banyak daripada yang kulihat.
Hard disk.
Kartu memori.
Foto.
Rekaman video.
Bahkan beberapa kamera kecil.
Salah satunya identik dengan kamera yang pernah ditemukan rusak di dekat kamar mandi rumah dinasku dua tahun sebelumnya.
Aku dulu mengira benda itu milik anak-anak yang bermain.
Yang paling mengejutkan bukan hanya bukti terhadapku.
Ada folder lain.
Nama perempuan lain.
Guru honorer dari desa sebelah yang diceritakan Bu Sari.
Ternyata sepupu Arga bukan pelaku utamanya.
Arga yang menguntit perempuan itu.
Ketika perempuan tersebut menyadarinya dan kabur, keluarganya menyebarkan cerita bahwa dia mempermainkan laki-laki desa.
Aku bukan yang pertama.
Aku hanya target yang bertahan paling lama.
Arga dibawa ke kantor polisi.
Ibunya menangis dan menuduhku menghancurkan keluarga mereka.
Namun untuk pertama kalinya, beberapa warga tidak membelanya.
Dimas bahkan menyerahkan satu benda lagi kepada polisi.
Sebuah ponsel lama yang pernah diberikan Arga kepadanya untuk mengambil foto saat aku mengajar.
“Aku kira Kak Arga mau bikin kejutan untuk Bu Guru,” katanya sambil menangis.
Aku memeluknya.
“Kamu tidak salah.”
Seminggu kemudian, aku meninggalkan Sukamaju.
Hari terakhirku mengajar terasa lebih berat daripada yang kubayangkan.
Anak-anak menangis.
Beberapa orang tua murid meminta maaf karena pernah ikut menertawakanku di depan gerbang.
Aku tidak marah kepada desa itu.
Sukamaju memberiku banyak kenangan baik.
Masalahnya bukan karena mereka orang desa dan aku perempuan kota.
Masalahnya adalah ketika kebiasaan, rasa sungkan, dan omongan orang dipakai untuk menghapus hak seseorang berkata tidak.
Sebelum mobil membawaku pergi, Bu Sari menyerahkan sebuah amplop.
“Ini ditemukan polisi di rumah Arga.”
Di dalamnya ada sebuah foto.
Foto hari pertamaku datang ke Sukamaju.
Aku berdiri di pinggir jalan dengan koper berlumpur.
Di kejauhan terlihat Arga berjalan mendekat untuk membantuku.
Aku membalik foto itu.
Ada tulisan tangan.
Hari pertama.
Dia belum mengenalku.
Tapi dia akan menjadi istriku.
Tanggalnya membuat napasku berhenti.
Foto itu bukan diambil tiga hari setelah kedatanganku seperti foto paling tua yang kutemukan di gudang.
Foto itu diambil hampir satu jam sebelum aku pertama kali bertemu Arga.
Artinya ketika dia datang menawarkan bantuan mengangkat koperku, pertemuan itu bukan kebetulan.
Dia sudah melihatku.
Sudah memotretku.
Sudah memilihku.
Aku merobek foto itu menjadi empat bagian.
Kemudian kubuang ke tempat sampah di depan sekolah.
Delapan bulan kemudian, aku mengajar di sebuah sekolah di Semarang.
Suatu pagi seorang murid datang membawa kantong berisi telur dari peternakan keluarganya.
“Bu Nadira, Mama titip.”
Tanganku sempat berhenti.
Lalu anak itu tersenyum polos.
“Katanya buat Bu Guru bikin telur dadar.”
Aku tertawa.
Untuk pertama kalinya, sebuah telur kembali menjadi sekadar telur.
Aku menerimanya.
“Bilang terima kasih kepada Mama, ya.”
Saat anak itu berlari masuk kelas, aku berdiri di dekat jendela.
Dulu aku takut melihat keluar karena merasa seseorang mungkin sedang mengawasiku.
Sekarang jendela itu terbuka lebar.
Aku tidak memasang tirai.
Bukan karena dunia tiba-tiba menjadi aman.
Melainkan karena akhirnya aku memahami sesuatu yang tidak pernah bisa dipahami Arga.
Mencintai seseorang tidak pernah memberikan hak untuk memilikinya.
Kebaikan bukan utang.
Perhatian bukan kontrak.
Dan sekecil apa pun sebuah pemberian, tidak ada benda di dunia ini yang bisa menggantikan satu kata yang seharusnya selalu bebas diucapkan setiap manusia.
Tidak.
