Sebelum Menikah, Tunanganku Memaksa Beli Rumah Tiga Kamar—Ternyata Satu Kamar untuk Ibunya, dan Aku Sudah Dijadikan Perawatnya

“Sebenarnya aku berencana memberitahumu setelah rumahnya jadi kita beli.”

Kalimat Arga membuat seluruh tubuhku dingin.

Aku menatap laki-laki yang selama hampir empat tahun kukenal sebagai seseorang yang rasional, tenang, dan selalu bicara tentang pentingnya keterbukaan dalam hubungan.

Ternyata dia sedang merencanakan keputusan terbesar dalam hidup kami tanpa melibatkanku.

“Setelah rumah dibeli?”

Arga mengangguk pelan.

“Karena kalau aku bilang dari awal, aku takut kamu menolak.”

Aku tertawa pendek.

“Jadi kamu tahu aku mungkin menolak, makanya kamu sengaja menyembunyikannya?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Arga mengusap wajahnya kasar.

“Aku cuma ingin semuanya lebih mudah. Setelah rumah dibeli, pernikahan tinggal beberapa bulan. Aku pikir kamu akan lebih bisa menerima.”

Aku menatapnya lama.

“Bukan menerima, Ga. Kamu berharap aku tidak punya jalan keluar.”

Wajahnya langsung berubah.

“Nadira, jangan bicara seolah-olah aku menjebakmu.”

“Tapi memang itu yang kamu lakukan.”

Aku masuk ke mobil dan menutup pintu.

Arga mengetuk kaca beberapa kali, tetapi aku tidak membukanya.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertunangan, aku pulang sendirian.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Bukan karena Bu Ratna akan tinggal bersama kami.

Kalau sejak awal Arga berkata jujur bahwa ibunya membutuhkan perawatan, mungkin kami bisa membicarakan banyak pilihan.

Mencari perawat.

Menyewa rumah dekat tempat tinggal kami.

Membagi biaya dengan keluarga lain.

Atau kalau memang harus tinggal bersama, kami bisa menyusun tanggung jawab dengan jelas.

Yang membuatku takut adalah Arga sudah menentukan semuanya.

Rumahnya harus tiga kamar.

Ibunya harus tinggal bersama kami.

Aku harus menyiapkan sarapan dan obat.

Aku harus membantu membersihkan tubuhnya.

Dan semua itu baru akan diberitahukan setelah rumah dibeli.

Keesokan paginya Arga mengirim belasan pesan.

Aku tidak membalas satu pun.

Sampai sore, sebuah pesan dari nomor yang tidak kukenal masuk.

Ini Ratna, Nak. Ibu Arga. Kalau ada waktu, Ibu ingin bicara.

Aku menatap pesan itu cukup lama sebelum akhirnya menelepon.

Suara Bu Ratna terdengar lemah.

“Nadira, kamu bertengkar sama Arga gara-gara Ibu?”

Aku tidak ingin berbohong.

“Kami bertengkar karena Arga tidak jujur.”

Bu Ratna terdiam.

Kemudian beliau berkata sesuatu yang tidak kuduga.

“Ibu sudah bilang jangan.”

Aku mengernyit.

“Maksud Ibu?”

“Ibu tidak mau tinggal sama kalian.”

Aku duduk tegak.

“Arga bilang kondisi Ibu sekarang sulit bergerak.”

“Memang.”

“Lalu siapa yang merawat Ibu?”

“Sekarang ada Bu Yati. Anak tetangga juga kadang membantu. Arga kirim uang setiap bulan.”

Aku semakin bingung.

“Kalau begitu kenapa Arga memaksa membeli rumah tiga kamar?”

Bu Ratna menarik napas panjang.

“Karena dia merasa berutang kepada Ibu.”

Untuk pertama kalinya aku mendengar cerita yang selama ini tidak pernah disampaikan Arga secara lengkap.

Setelah ayahnya meninggal, Bu Ratna memang bekerja keras membiayai Arga sekolah.

Namun ketika Arga diterima kuliah hukum di Jakarta, Bu Ratna sampai menjual satu-satunya sawah warisan keluarganya.

Sejak itu Arga berjanji akan membawa ibunya tinggal bersamanya setelah mapan.

Janji itu terus menghantuinya.

“Tapi Ibu enggak pernah minta dia melakukan itu,” kata Bu Ratna.

“Kenapa Ibu tidak mau tinggal bersama kami?”

Beliau tertawa kecil.

“Karena Ibu pernah jadi menantu.”

Aku terdiam.

“Merawat orang sakit itu bukan cuma kasih makan dan kasih obat, Nadira. Ada mandi, ganti pakaian, bantu ke toilet, bangun tengah malam. Kadang orang sakit marah tanpa alasan. Kadang tubuhnya berat diangkat. Itu pekerjaan besar.”

Suara beliau bergetar.

“Ibu tidak mau anak perempuan orang lain menikah lalu tiba-tiba hidupnya berubah jadi perawat Ibu.”

Dadaku terasa sesak.

Bu Ratna melanjutkan.

“Kalau kamu mau membantu karena sayang, Ibu bersyukur. Tapi kalau kamu dipaksa karena jadi istri Arga, Ibu tidak mau.”

Setelah telepon ditutup, aku menangis.

Anehnya, bukan karena marah kepada Bu Ratna.

Aku justru semakin menghormatinya.

Dua hari kemudian Arga datang ke apartemenku.

Dia membawa makanan kesukaanku dan bunga.

“Aku salah.”

Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.

Aku membiarkannya masuk.

Arga duduk di sofa dan menundukkan kepala.

“Aku seharusnya jujur dari awal.”

Aku tidak menjawab.

“Aku panik melihat kondisi Ibu. Aku takut kalau suatu hari dia jatuh lagi dan enggak ada orang.”

“Aku paham.”

Arga mengangkat kepala, seolah melihat harapan.

“Tapi memahami alasanmu bukan berarti menyetujui caramu.”

Harapan itu langsung hilang.

Aku mengeluarkan sebuah buku catatan.

“Aku sudah hitung.”

Aku menunjukkan angka-angka kepadanya.

Kalau kami membeli rumah Rp1,68 miliar, cicilan dan pengeluaran rutin akan menghabiskan sebagian besar pendapatan bulanan kami.

Apalagi jika kami memiliki anak.

Belum biaya pengobatan Bu Ratna.

“Jadi aku punya usul.”

Arga menatapku.

“Kita tetap beli rumah dua kamar. Kita carikan perawat harian untuk Ibu di Cirebon. Kamu pulang dua kali sebulan. Aku juga akan ikut kalau bisa.”

Wajah Arga langsung mengeras.

“Jadi kamu tetap enggak mau Ibu tinggal sama kita?”

“Bukan begitu.”

“Ya memang begitu.”

Aku menarik napas.

“Kalau Ibu tinggal bersama kita, kita harus punya caregiver.”

“Buat apa bayar orang kalau kita bisa merawat sendiri?”

“Kita?”

Aku menatapnya.

“Kamu berangkat jam tujuh pagi dan sering pulang jam sebelas malam.”

“Itu kan karena pekerjaan.”

“Persis. Jadi siapa yang sebenarnya akan merawat Ibu?”

Dia terdiam.

Aku menunjuk diriku sendiri.

“Aku.”

“Nadira.”

“Pagi aku. Sore aku. Malam sebelum kamu pulang juga aku. Kalau Ibu perlu ke toilet jam delapan malam, aku. Kalau harus kontrol ke dokter ketika kamu sedang sidang, aku.”

“Jangan dibesar-besarkan.”

Kalimat itu membuatku diam.

Aku menatapnya beberapa detik.

“Merawat ibumu yang separuh tubuhnya sulit digerakkan menurutmu aku besar-besarkan?”

Arga berdiri.

“Aku cuma enggak suka cara kamu menghitung semuanya seperti transaksi.”

Aku ikut berdiri.

“Karena kamu menghitung waktuku seolah-olah gratis.”

Dia membeku.

Aku melanjutkan.

“Kamu menganggap pekerjaanmu tidak bisa diganggu karena penting. Tapi pekerjaanku boleh disesuaikan. Kariermu harus jalan. Karierku dianggap fleksibel. Kamu mau menjadi anak berbakti menggunakan tenaga istrimu.”

Arga menatapku tajam.

“Itu keterlaluan.”

“Mungkin. Tapi salah enggak?”

Dia tidak menjawab.

Tiga hari kemudian kedua keluarga berkumpul di rumah orang tuaku.

Awalnya aku tidak tahu pertemuan itu akan terjadi.

Ibuku menelepon dan memintaku pulang.

Begitu masuk ruang tamu, aku melihat Arga, ayahnya sudah meninggal tentu saja, tetapi ada pamannya, kakak sepupunya, dan seorang perempuan yang kukenal sebagai adik Bu Ratna.

Ayah dan ibuku duduk di sisi lain.

Aku langsung tahu ini bukan pertemuan biasa.

Tante Arga membuka pembicaraan.

“Pernikahan tinggal lima bulan. Jangan sampai masalah kecil membuat semuanya rusak.”

Aku hampir tertawa mendengar kata kecil.

Kemudian pamannya berkata, “Dalam keluarga kami, menantu perempuan memang biasanya membantu mengurus orang tua.”

Ibuku langsung menatapku.

Aku bisa melihat kemarahannya.

Arga mencoba meredakan suasana.

“Nadira sebenarnya cuma takut kewalahan.”

Tante Arga mengangguk.

“Semua perempuan awalnya begitu. Nanti juga terbiasa.”

Aku menatapnya.

“Terbiasa apa, Tante?”

“Ya mengurus rumah tangga.”

“Termasuk menjadi caregiver pasien stroke?”

Ruangan mendadak sunyi.

Pamannya berdeham.

“Kamu jangan menyebutnya begitu. Itu calon ibu mertuamu.”

“Saya tidak sedang merendahkan beliau. Justru saya sedang mengakui bahwa beliau membutuhkan perawatan serius.”

Aku menoleh kepada Arga.

“Dan perawatan serius membutuhkan tenaga, waktu, pengetahuan, dan biaya.”

Tante Arga tersenyum tipis.

“Kalau semua diukur uang, buat apa menikah?”

Sebelum aku sempat menjawab, ayahku berdiri.

“Kalau begitu saya juga punya pertanyaan.”

Semua orang melihatnya.

Ayah mengambil sebuah map dari meja.

“Uang muka rumah itu rencananya sebagian besar berasal dari keluarga kami dan tabungan Nadira. Betul?”

Arga tampak tidak nyaman.

Ayah melanjutkan.

“Kalau rumah tiga kamar dibeli karena kebutuhan keluarga Arga, kenapa anak saya yang harus mengeluarkan lebih banyak uang sekaligus menjadi orang yang merawat?”

Tidak ada yang menjawab.

Lalu terdengar suara dari pintu.

“Karena kalian semua pengecut.”

Kami menoleh.

Bu Ratna berdiri di sana dengan tongkat berkaki empat.

Di sampingnya ada seorang perempuan membantu menopang tubuhnya.

Wajah Arga langsung pucat.

“Ibu?”

Aku bahkan tidak tahu beliau datang ke Jakarta.

Bu Ratna berjalan perlahan masuk.

Setiap langkah terlihat berat.

Arga buru-buru menghampiri, tetapi ibunya mengangkat tangan.

“Duduk.”

Arga berhenti.

Bu Ratna duduk di kursi dekat pintu.

Napasnya terengah-engah.

Kemudian beliau menatap saudara-saudaranya.

“Kalian bilang apa kepada Nadira?”

Tak seorang pun menjawab.

“Katanya menantu perempuan harus merawat mertua?”

Adiknya mencoba tersenyum.

“Mbak, kami cuma ingin menyelesaikan masalah.”

“Kalau begitu bawa aku tinggal di rumahmu.”

Wajah perempuan itu langsung berubah.

“Aduh, Mbak, rumahku sempit.”

Bu Ratna menoleh kepada adik laki-lakinya.

“Atau rumahmu?”

Pamannya berdeham.

“Anak-anak masih sekolah.”

Bu Ratna tersenyum getir.

“Nah.”

Hanya satu kata.

Tetapi seluruh ruangan seakan ditampar.

“Kalian semua punya alasan ketika diminta merawatku. Tapi perempuan yang bahkan belum resmi jadi keluarga kalian dipaksa menerimaku.”

Arga menundukkan kepala.

Bu Ratna menatap putranya.

“Ibu membesarkanmu supaya jadi laki-laki bertanggung jawab, bukan supaya kamu mencari perempuan untuk mengambil alih tanggung jawabmu.”

Mata Arga merah.

“Aku cuma enggak mau Ibu sendirian.”

“Lalu kenapa kamu tidak bilang jujur kepada calon istrimu?”

Arga tidak menjawab.

“Kenapa kamu mau membeli rumah memakai uangnya sebelum memberitahu kamar ketiga untuk siapa?”

Suasana semakin berat.

Lalu Bu Ratna mengatakan sesuatu yang mengejutkan kami semua.

“Ibu sudah menjual rumah di Cirebon.”

Arga langsung mengangkat kepala.

“Apa?”

“Dua minggu lalu.”

“Kenapa Ibu enggak bilang?”

“Karena Ibu sudah daftar ke tempat tinggal lansia dengan fasilitas rehabilitasi di Bandung.”

Arga berdiri.

“Ibu enggak boleh tinggal di panti.”

“Kenapa?”

“Aku anak Ibu!”

“Justru karena kamu anak Ibu.”

Bu Ratna menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu ingin kamu datang menjenguk karena rindu, bukan pulang setiap malam sambil merasa hidupmu menjadi beban.”

Arga menangis.

Untuk pertama kalinya aku melihatnya benar-benar menangis seperti anak kecil.

Dia berlutut di depan ibunya.

“Aku gagal, Bu.”

Bu Ratna menyentuh kepalanya.

“Belum. Tapi kamu hampir menghancurkan rumah tanggamu bahkan sebelum rumah tangga itu dimulai.”

Kupikir setelah hari itu semuanya akan membaik.

Ternyata aku salah.

Seminggu kemudian, ketika kami kembali membicarakan pernikahan, Arga berkata sesuatu yang membuat keputusan terakhirku menjadi sangat mudah.

“Kalau Ibu sudah tinggal di Bandung, kita tetap beli rumah tiga kamar, kan?”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Ya buat investasi. Lagipula orang tuamu sudah siap bantu dua ratus lima puluh juta.”

Aku terdiam.

Dan tiba-tiba semuanya menjadi jelas.

Masalah kami ternyata bukan hanya Bu Ratna.

Masalahnya adalah cara Arga melihat sumber daya di sekelilingnya.

Uang orang tuaku dianggap tersedia.

Waktuku dianggap tersedia.

Tenagaku dianggap tersedia.

Karierku dianggap bisa menyesuaikan.

Dan selama semuanya dibungkus dengan kata keluarga, dia merasa tidak perlu meminta persetujuanku.

Aku melepas cincin tunangan dari jariku.

Arga langsung pucat.

“Nadira.”

Aku meletakkannya di meja.

“Kita batal menikah.”

Dia berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Hanya karena rumah?”

“Bukan.”

“Karena Ibu?”

“Bukan juga.”

“Terus karena apa?”

Aku menatapnya.

“Karena lima bulan sebelum menikah, aku baru sadar kamu tidak mencari pasangan.”

Air mukanya berubah.

“Kamu mencari seseorang yang hidupnya bisa kamu masukkan ke dalam rencana yang sudah kamu buat sendiri.”

Dia menggenggam cincin itu.

“Kita bisa berubah.”

“Kamu mungkin bisa.”

Aku mengangguk.

“Tapi aku tidak mau menikah sambil berharap suatu hari suamiku belajar menghormati batasanku.”

Pernikahan kami dibatalkan.

Undangan belum dicetak, tetapi gedung sudah dibayar uang muka. Beberapa kerabat mulai bergosip. Ada yang bilang aku egois. Ada yang mengatakan aku meninggalkan laki-laki baik hanya karena tidak mau mengurus mertua.

Aku tidak pernah menjelaskan kepada mereka.

Enam bulan kemudian, aku membeli apartemen kecil dua kamar di Tangerang Selatan.

Bukan rumah impianku.

Tapi setiap rupiah uang muka berasal dari tabunganku sendiri dan bantuan orang tuaku yang diberikan tanpa syarat.

Suatu Minggu pagi, aku pergi ke Bandung.

Aku membawa buah dan beberapa buku.

Bu Ratna sedang menjalani fisioterapi ketika aku datang.

Langkahnya sudah jauh lebih stabil.

Begitu melihatku, beliau tersenyum.

“Kamu kelihatan bahagia.”

Aku duduk di sampingnya.

“Lumayan.”

“Arga pernah menghubungimu?”

“Beberapa kali.”

“Jangan kembali hanya karena kasihan.”

Aku tertawa kecil.

“Ibu kok malah begitu?”

Bu Ratna menggenggam tanganku.

“Karena Ibu pernah jadi perempuan muda yang terlalu sering mengalah atas nama keluarga.”

Matanya menerawang ke taman.

Kemudian beliau berkata pelan,

“Orang sering bilang pernikahan berarti menerima keluarga pasangan.”

Aku mengangguk.

“Tapi menerima bukan berarti kehilangan hak menentukan hidup sendiri.”

Aku menatap perempuan yang hampir dijadikan alasan untuk menjebakku ke dalam kehidupan yang tidak pernah kupilih.

Ironisnya, justru dialah orang yang membebaskanku.

Sebelum pulang, Bu Ratna memberikan sebuah amplop.

Aku menolak, tetapi beliau memaksaku membukanya.

Di dalamnya hanya ada selembar kertas.

Bukan uang.

Sebuah surat pendek dengan tulisan tangannya yang agak bergetar.

Nadira, terima kasih karena berani mengatakan tidak pada sesuatu yang bahkan Ibu sendiri tidak berani tolak selama bertahun-tahun.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Ketika mengangkat kepala, Bu Ratna sudah berjalan kembali menuju ruang fisioterapi.

Langkahnya lambat.

Tidak sempurna.

Tetapi dia berjalan dengan kakinya sendiri.

Aku melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam tas.

Saat itu aku akhirnya mengerti.

Kadang-kadang, keputusan terpenting sebelum menikah bukan memilih gedung, tanggal, gaun, atau rumah berapa kamar.

Melainkan memastikan bahwa ketika seseorang berkata “kita akan menjadi keluarga”, kata “kita” benar-benar mencakup dirimu.

Bukan hanya uangmu.

Bukan waktumu.

Bukan tenagamu.

Bukan pengorbananmu.

Dirimu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang