Keesokan harinya, tepat pukul tiga sore, aku kembali ke rumah peninggalan Ibu.
Aku sudah mempersiapkan diri untuk melihat sandal merah muda itu lagi.
Aku juga sudah siap jika Maya masih ada di sana bersama ibunya.
Tapi aku sama sekali tidak siap dengan apa yang kulihat begitu pintu ruang keluarga terbuka.
Di dinding utama, tepat di atas sofa baru yang bahkan tidak pernah kupilih, tergantung sebuah foto besar dalam bingkai kayu.
Arga berdiri di dalam foto itu.
Maya berada di sampingnya.
Mereka mengenakan pakaian kasual berwarna senada. Maya tersenyum sambil memegang lengan Arga, sedangkan tangan suamiku berada di pinggangnya.
Foto itu diambil di taman belakang rumahku.
Rumah peninggalan ibuku.

Aku berdiri mematung.
Ada suara langkah kaki dari arah dapur.
Maya muncul sambil membawa cangkir.
Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah.
“Mbak Nadira?”
Aku menunjuk foto di dinding.
“Apa itu?”
Maya menelan ludah.
Belum sempat dia menjawab, Arga keluar dari kamar.
“Nadira, aku sudah bilang jangan datang jam segini.”
Aku menoleh kepadanya.
“Aku tanya sekali lagi. Foto itu apa?”
Arga mengembuskan napas panjang seolah akulah orang yang sedang membuat masalah.
“Itu cuma foto konsep.”
“Konsep apa?”
“Untuk portofolio interior Maya. Supaya rumahnya kelihatan hidup.”
Aku hampir tertawa.
“Jadi untuk membuat rumah terlihat hidup, pegawaimu harus berfoto seperti istrimu?”
“Nadira.”
Nada suaranya berubah menjadi peringatan.
Namun aku berjalan mendekati foto itu.
Di bawah bingkai terdapat tulisan kecil.
Our First Home.
Rumah pertama kami.
Aku merasakan sesuatu dalam diriku runtuh.
Tujuh tahun menikah dengannya, aku tidak pernah punya satu pun foto bersama Arga yang dicetak sebesar itu.
Bahkan foto pernikahan kami masih tersimpan di album tua di lemari kontrakan.
Tapi di rumah yang dibeli ibuku, direnovasi dengan uang warisanku, foto Arga bersama perempuan lain justru dipasang di tempat paling utama.
“Turunkan.”
Maya buru-buru berkata, “Mbak, jangan salah paham. Itu sebenarnya ide fotografer.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak bicara denganmu.”
Wajahnya memerah.
Arga langsung maju.
“Jangan kasar sama Maya.”
Aku menoleh perlahan.
“Aku kasar?”
“Iya. Dari kemarin kamu terus bikin suasana nggak nyaman. Maya sudah bekerja berbulan-bulan mengurus renovasi ini. Kamu datang cuma sesekali, lalu mengkritik semuanya.”
Aku menatap suamiku beberapa detik.
Lalu aku bertanya pelan.
“Siapa yang membayar renovasi ini?”
Arga terdiam.
“Siapa yang punya rumah ini?”
“Nadira, jangan mulai hitung-hitungan.”
“Jawab.”
Wajahnya mengeras.
“Secara surat memang namamu. Tapi kita suami istri. Selama tujuh tahun aku juga berjuang.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Aku berjalan menuju kamar tidur utama.
Arga mengikuti.
“Kamu mau apa?”
“Mengambil barang-barang Ibu.”
Ketika lemari terbuka, aku kembali berhenti.
Pakaian Maya tergantung di dalamnya.
Gaun.
Blazer.
Beberapa kemeja.
Di rak bawah ada kotak kosmetik, parfum, dan pengering rambut.
Bahkan ada pakaian tidur.
Aku mengambil salah satunya.
“Maya menginap di sini?”
Arga tidak langsung menjawab.
Maya yang berdiri di pintu akhirnya berkata, “Kadang renovasi selesai malam, Mbak.”
“Berapa kali?”
“Tidak ingat.”
Aku menatap Arga.
“Dan kamu?”
“Aku kadang juga menginap. Tukang harus diawasi.”
Aku tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya, semuanya terasa sangat jelas.
“Jadi kalian menginap bersama di rumahku?”
“Jangan dipelintir.”
“Aku tidak memelintir apa pun.”
Aku membuka laci meja samping tempat tidur.
Di dalamnya ada dua sikat gigi baru, obat-obatan, charger ponsel, dan sebuah amplop putih.
Aku menarik amplop itu.
Maya langsung bergerak.
“Itu punya saya.”
Aku membuka isinya.
Nota pembelian tempat tidur.
Nama pemesan Maya Larasati.
Nomor telepon Arga Pratama.
Catatan pelanggan berbunyi, kamar utama pasangan.
Tanganku dingin.
Aku mengangkat nota itu.
“Ini juga untuk portofolio?”
Arga merampasnya.
“Cukup.”
“Belum.”
“Nadira, aku bilang cukup.”
Dia menarik lenganku.
Aku langsung melepaskan tangannya.
“Jangan sentuh aku.”
Untuk beberapa detik, kami saling menatap.
Lalu Arga mengatakan sesuatu yang akhirnya membunuh bagian terakhir dari pernikahan kami.
“Maya sedang hamil.”
Ruangan seketika terasa sunyi.
Aku menatap Maya.
Tangannya secara refleks menutupi perut.
Belum terlihat apa pun.
“Minggu kesepuluh,” katanya lirih.
Aku kembali menatap suamiku.
“Anakmu?”
Arga tidak menjawab.
Dia tidak perlu menjawab.
Anehnya, aku tidak menangis.
Mungkin karena rasa sakit memiliki batas.
Ketika seseorang sudah melewati batas itu, yang tersisa bukan lagi kesedihan.
Hanya kejernihan.
“Sejak kapan?”
“Bukan waktu yang tepat membahas itu.”
“Sejak kapan, Arga?”
Dia mengusap wajah.
“Sekitar setahun.”
Setahun.
Berarti ketika Ibu terbaring di rumah sakit sebelum meninggal, Arga sudah tidur dengan Maya.
Ketika aku menangis di pemakaman Ibu dan dia memelukku sambil berkata bahwa aku masih punya dirinya, dia sudah memiliki perempuan lain.
Dan beberapa bulan kemudian, dia membujukku mengeluarkan uang warisan untuk merenovasi rumah ini.
Aku akhirnya mengerti.
Rumah ini sejak awal bukan dipersiapkan untukku.
“Jadi rencananya apa?”
Arga menghela napas.
“Nadira, dengarkan dulu.”
“Aku sedang mendengarkan.”
“Maya tidak punya siapa-siapa selain ibunya. Sekarang dia hamil. Kondisinya juga sensitif. Aku cuma minta kamu jangan mengambil keputusan karena emosi.”
“Keputusan apa?”
“Kita bisa atur semuanya.”
Aku hampir tidak percaya.
“Kita?”
“Kamu tetap istriku.”
Aku menatapnya.
“Lalu Maya?”
Arga diam cukup lama.
“Kita cari jalan terbaik.”
Maya tiba-tiba menangis.
“Aku tidak pernah berniat merebut apa pun dari Mbak.”
Aku memandang sekeliling.
Sandalnya ada di pintu.
Bajunya ada di lemari.
Fotonya ada di dinding.
Tempat tidurnya ada di kamar.
Lalu dia mengatakan tidak berniat merebut apa pun.
Aku mengambil koper kecil milik Ibu dari bawah lemari.
Arga menghalangi pintu.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Rumahmu di sini.”
Aku menatapnya.
“Tidak lagi.”
Wajahnya melunak.
“Nadira, pikirkan tujuh tahun pernikahan kita. Aku memang salah. Aku akui. Tapi sekarang ada bayi yang nggak bersalah.”
Aku mengangguk.
“Benar. Bayinya tidak bersalah.”
Arga tampak sedikit lega.
Lalu aku melanjutkan.
“Karena itu sebaiknya kamu segera mencari rumah yang layak untuk anakmu.”
Ekspresinya berubah.
“Maksudmu?”
“Rumah ini akan dijual.”
Maya langsung pucat.
Arga tertawa pendek.
“Kamu nggak serius.”
“Sudah ada pembeli.”
“Kapan kamu melakukan itu?”
“Kemarin.”
Dia menatapku seperti baru melihat orang asing.
“Kamu gila?”
“Mungkin.”
“Kamu menjual rumah tanpa bicara denganku?”
“Rumah itu milikku.”
“Aku menghabiskan berbulan-bulan mengurus renovasinya!”
“Dengan uang siapa?”
Dia terdiam.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Rp580 juta dari rekening warisan Ibu. Transfernya lengkap. Sertifikat atas namaku. Pajak atas namaku. Tidak ada satu rupiah pun dari uangmu yang dipakai membeli rumah ini.”
Arga mengepalkan tangan.
“Setidaknya ganti biaya desain Maya.”
Aku benar-benar tertawa kali ini.
“Jadi setelah tidur dengan suamiku dan mendekorasi rumahku untuk dirinya sendiri, aku masih harus membayar jasanya?”
Maya menangis semakin keras.
Arga membentak.
“Jangan hina dia!”
Aku memandang laki-laki yang selama tujuh tahun kupanggil suami.
Aneh.
Aku tidak mengenalinya lagi.
“Besok pukul sepuluh pagi agen properti datang bersama calon pembeli. Kalian punya waktu sampai malam ini untuk mengambil barang pribadi.”
“Kami tidak akan pergi.”
“Kalau begitu, aku datang dengan petugas keamanan dan pengacara.”
Aku melewatinya.
Sebelum keluar, aku berhenti di depan foto besar mereka.
Aku mengangkatnya dari dinding.
Arga langsung maju.
“Kamu ngapain?”
Aku meletakkan bingkai itu di lantai.
“Bawa.”
Aku menatap Maya.
“Kamu boleh mengambil semua yang kamu beli. Sandal, pakaian, kosmetik, bahkan tempat tidur itu.”
Kemudian aku menunjuk rumah di sekeliling kami.
“Tapi tembok, tanah, pintu, dan setiap meter rumah ini bukan milik kalian.”
Aku pergi.
Malam itu Arga meneleponku lebih dari tiga puluh kali.
Aku tidak menjawab.
Pagi berikutnya dia datang ke rumah kontrakan.
Aku sudah mengganti kunci.
Dia menggedor pintu hampir sepuluh menit.
“Nadira! Kita bicara baik-baik!”
Aku membuka pintu setelah tetangga mulai keluar.
Arga terlihat kacau.
“Kamu benar-benar mau menghancurkan semuanya cuma karena satu kesalahan?”
“Satu?”
Dia terdiam.
Aku menyerahkan sebuah map.
“Apa ini?”
“Gugatan cerai.”
Wajahnya memucat.
“Nadira.”
“Aku juga sudah menarik diri sebagai penjamin pinjaman usahamu.”
Kali ini dia benar-benar kehilangan kata-kata.
Empat tahun sebelumnya, ketika toko bahan bangunannya hampir bangkrut, aku menjaminkan deposito peninggalan ayahku agar Arga mendapat fasilitas kredit.
Dia selalu bilang akan segera mengganti jaminan itu setelah bisnis stabil.
Dia tidak pernah melakukannya.
Namun dua bulan lalu, tanpa memberitahunya, aku sudah meminta bank melakukan evaluasi ulang.
Ternyata omzet tokonya cukup besar untuk menggunakan aset bisnis sendiri sebagai jaminan.
Aku hanya perlu menandatangani pelepasan.
Dan pagi itu, prosesnya selesai.
“Kamu sengaja merencanakan ini?”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Kamulah yang merencanakannya selama setahun. Aku cuma berhenti melindungimu.”
Tiga minggu kemudian, rumah itu resmi terjual.
Bukan kepada keluarga muda seperti yang kukira.
Pembelinya adalah seorang dokter bernama Ratih, perempuan berusia lima puluhan yang datang bersama putrinya.
Ketika melihat meja makan tua milik Ibu yang ternyata kusimpan di gudang belakang setelah menemukannya sehari sebelum serah terima, Bu Ratih mengusap permukaannya.
“Bagus sekali. Kenapa tidak dibawa?”
Aku tersenyum.
“Karena saya pikir meja ini cocok tetap berada di rumah.”
Dia memandangku.
“Punya kenangan?”
“Banyak.”
“Kalau begitu jangan tinggalkan.”
Aku terdiam.
Bu Ratih tersenyum.
“Rumah bisa berpindah tangan. Kenangan jangan.”
Kalimat itu membuat pertahananku runtuh.
Untuk pertama kalinya sejak mengetahui perselingkuhan Arga, aku menangis.
Bukan karena kehilangan suami.
Bukan karena rumah.
Aku menangis karena akhirnya menyadari selama bertahun-tahun aku terus mengalah demi mempertahankan sesuatu yang sebenarnya hanya dipertahankan oleh satu orang.
Aku.
Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Usaha Arga tidak bangkrut.
Aku tidak berharap itu terjadi.
Namun setelah harus membayar cicilan bisnis sendiri, menyewa rumah baru, dan menanggung biaya hidup Maya serta bayinya, dia terpaksa menjual salah satu cabang tokonya.
Aku mendengar kabar itu dari mantan pegawainya.
Aku juga mendengar Maya akhirnya melahirkan seorang anak perempuan.
Aku tidak pernah mencari tahu lebih jauh.
Sampai suatu sore, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
Mbak Nadira, ini Maya.
Aku hampir menghapusnya.
Namun pesan kedua membuatku berhenti.
Saya cuma ingin mengembalikan sesuatu.
Kami bertemu di sebuah kafe.
Maya terlihat jauh berbeda.
Tidak ada pakaian mahal atau riasan sempurna.
Dia meletakkan sebuah kotak kayu kecil di meja.
“Apa ini?”
“Saya menemukannya waktu pindahan.”
Aku membukanya.
Di dalamnya ada buku resep tulisan tangan Ibu.
Aku langsung mengenal sampul cokelatnya.
Selama berbulan-bulan aku mengira buku itu hilang saat renovasi.
“Kenapa baru sekarang?”
Maya menunduk.
“Karena saya malu.”
Aku menatapnya.
Dia menarik napas.
“Arga meninggalkan saya dua bulan setelah anak kami lahir.”
Aku tidak bereaksi.
“Dia punya perempuan lain.”
Untuk sesaat, dunia terasa seperti sedang membuat lelucon yang sangat kejam.
Maya tertawa pahit.
“Sekarang saya tahu bagaimana rasanya.”
Aku menutup kotak.
“Aku tidak senang mendengarnya.”
Dia menatapku, matanya berkaca-kaca.
“Kenapa?”
“Karena anakmu tidak pantas mengalami akibat dari kesalahan orang dewasa.”
Maya menangis.
Aku berdiri.
Sebelum pergi, dia memanggilku.
“Mbak Nadira.”
Aku menoleh.
“Waktu itu saya pikir Mbak lemah karena selalu diam.”
Aku tidak menjawab.
“Saya salah.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku juga pernah berpikir begitu.”
Setahun setelah rumah Ibu terjual, aku membeli rumah kecil di pinggiran Bogor.
Tidak mewah.
Tidak memiliki kabinet mahal.
Tidak ada tirai impor.
Tapi di ruang makan berdiri meja tua milik Ibu.
Aku membawanya bersamaku.
Di atasnya ada buku resep yang dikembalikan Maya dan sebuah foto Ibu ketika masih muda.
Suatu malam aku memasak sop buntut dari resep tulisan tangannya.
Ketika sedang makan sendirian, ponselku berbunyi.
Pesan dari agen properti yang dulu menjual rumah Ibu.
Dia mengirim foto.
Bu Ratih sedang merenovasi taman belakang.
Di salah satu dinding, mereka menemukan sebuah kotak logam kecil yang tertanam di bawah bangku lama.
Di dalamnya ada surat.
Tulisan tangan Ibu.
Surat itu ditujukan kepadaku.
Tanganku gemetar ketika membacanya.
Nadira, kalau suatu hari rumah ini bukan lagi tempat yang membuatmu merasa pulang, jangan takut meninggalkannya. Ibu mewariskan rumah ini bukan supaya kamu terikat pada temboknya, tapi supaya kamu selalu punya pilihan.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Lalu pandanganku jatuh pada meja makan tua di depanku.
Selama ini aku mengira rumah warisan Ibu adalah bangunan yang hampir direbut Arga dariku.
Ternyata bukan.
Warisan terbesar Ibu adalah kemampuan untuk pergi ketika seseorang membuatku merasa seperti tamu dalam hidupku sendiri.
Aku melipat surat itu perlahan.
Di luar jendela, hujan Bogor turun tipis.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah terasa benar-benar sunyi.
Namun sunyi itu tidak lagi terasa kosong.
Aku mengambil sepasang sandal rumah baru dari bawah meja.
Warnanya hijau tua.
Ukuran 38.
Tidak ada tulisan Nyonya Rumah di atasnya.
Aku tidak membutuhkannya.
Karena akhirnya aku mengerti.
Seorang perempuan tidak menjadi nyonya rumah karena namanya tertulis di sandal, foto, atau bahkan sertifikat.
Dia menjadi pemilik hidupnya ketika tidak lagi meminta izin untuk mempertahankan harga dirinya.
