KELUARGAKU MEMBUANGKU SAAT AKU KEHILANGAN KAKI, LALU 18 TAHUN KEMUDIAN MEREKA DATANG KE PENTHOUSE-KU MEMBAWA MAP COKELAT DAN MENUNTUT RP14 MILIAR—NAMUN SAAT AYAH MENYEBUT NAMA ADIKKU, AKU SUDAH TAHU RAHASIA YANG BISA MENGHANCURKAN MEREKA

Aku menatap foto Tante Mira di layar ponsel sampai jemariku terasa dingin.

Farhan, pengacaraku, membaca pesan ancaman itu dua kali sebelum mengangkat wajah.

“Jangan balas.”

“Aku tidak berniat membalas.”

“Apa yang mau kamu lakukan?”

Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.

“Memberi mereka apa yang mereka minta.”

Farhan menatapku seolah aku baru kehilangan akal sehat.

“Empat belas miliar?”

“Bukan uangnya.”

Aku menoleh kepada Arief.

“Mereka ingin aku takut. Jadi kita buat mereka percaya bahwa aku benar-benar takut.”

Malam itu juga kami menyusun rencana.

Aku menghubungi ayah.

Telepon baru berdering sekali ketika dia mengangkatnya.

“Akhirnya kamu sadar juga.”

Tidak ada sapaan. Tidak ada pertanyaan tentang keadaanku.

Aku tersenyum pahit.

Beberapa orang memang tidak berubah. Mereka hanya menua.

“Aku akan bayar.”

Hening sesaat.

Lalu nada suaranya berubah lebih lunak.

“Ayah tahu kamu sebenarnya masih peduli pada keluarga.”

Kalimat itu hampir membuatku tertawa.

“Aku punya syarat. Aku ingin bertemu Dinda. Semua dokumen asli harus dibawa. Perjanjian perdamaian, bukti transaksi, semuanya.”

“Untuk apa?”

“Empat belas miliar bukan uang kecil.”

Ayah terdiam.

“Aku mau memastikan setelah aku bayar, namaku tidak terseret.”

“Kamu terlalu curiga.”

“Delapan belas tahun cukup untuk mengajarkanku.”

Akhirnya dia setuju.

Pertemuan dilakukan dua hari kemudian di sebuah ruang privat hotel di Jakarta Pusat.

Aku datang bersama Farhan yang diperkenalkan hanya sebagai penasihat keuangan.

Ayah sudah berada di sana.

Ibu duduk di sampingnya.

Dan untuk pertama kalinya setelah hampir dua dekade, aku melihat Dinda dari jarak beberapa meter.

Adikku sudah berusia tiga puluh tiga tahun.

Rambutnya tertata rapi. Tas bermerek tergeletak di kursi sebelahnya. Wajahnya masih memiliki garis yang sama seperti gadis tiga belas tahun yang berdiri di tangga ketika aku diusir.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Dia tampak ketakutan.

“Nadia.”

Aku duduk tanpa menjawab.

Dinda menelan ludah.

“Aku tahu kamu marah.”

“Aku tidak datang untuk membahas perasaanku.”

Ayah mendorong map ke arahku.

“Dokumennya.”

Aku membuka lembar demi lembar.

Perjanjian dengan Salma ada di sana.

Namaku tercantum sebagai penjamin.

Tanda tangan palsu itu terlihat sangat meyakinkan.

Aku mengangkat dokumen tersebut.

“Siapa yang membuat ini?”

Ayah menjawab cepat.

“Pengacara perusahaan.”

“Siapa yang memberikan salinan KTP-ku?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku memandang Dinda.

Wajahnya memucat.

“Dinda?”

“Aku tidak tahu.”

“Menarik.”

Aku mengeluarkan fotokopi KTP dari map.

“Karena kartu ini baru diperbarui delapan bulan lalu. Kalian bahkan tidak tahu alamat rumahku sampai beberapa minggu lalu.”

Ibu menyela.

“Sekarang bukan waktunya mencari kesalahan.”

“Justru sekarang waktu yang sempurna.”

Ayah membanting telapak tangan ke meja.

“Kamu mau menolong atau tidak?”

Aku menatapnya.

“Salma ditabrak siapa?”

Ruangan mendadak sunyi.

Dinda menjatuhkan sendok kecil yang sejak tadi dimainkan di tangannya.

Ayah berdiri.

“Kita pulang.”

Aku tidak bergerak.

“Aku punya foto SUV itu.”

Dinda mulai gemetar.

“Aku juga tahu Salma menemukan transaksi fiktif sebelum kecelakaan.”

“Nadia, cukup!”

Suara ayah menggelegar.

Tetapi kali ini aku bukan gadis tujuh belas tahun yang tergeletak di lantai sambil menunggu seseorang membantuku berdiri.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Duduk.”

Mungkin sesuatu dalam suaraku membuatnya sadar bahwa permainan telah berubah.

Dia duduk kembali.

Aku memandang Dinda.

“Apakah kamu menabraknya?”

Air mata mulai memenuhi matanya.

“Tidak.”

“Lalu siapa?”

“Aku tidak tahu.”

“Bohong.”

“Aku benar-benar tidak tahu!”

Dinda tiba-tiba berdiri.

“Aku memang mengambil uang perusahaan. Aku memang membuat transaksi palsu. Tapi aku tidak menabrak Salma.”

Ibu memegang lengannya.

“Dinda, diam.”

Dinda menepis tangan ibu.

“Sudah, Bu!”

Itulah pertama kalinya aku melihatnya melawan ibu.

“Aku sudah capek!”

Dia menatapku.

“Aku memakai uang perusahaan karena Ayah memintaku.”

Aku memandang ayah.

Wajahnya membeku.

Dinda melanjutkan sambil menangis.

“Perusahaan Ayah sudah hampir bangkrut dua tahun lalu. Utangnya besar. Beberapa aset dijadikan jaminan. Ayah bilang kalau aku tidak membantu, rumah Ibu akan disita.”

“Dinda!”

Ayah berteriak.

Namun Dinda seperti bendungan yang akhirnya pecah.

“Aku memindahkan uang lewat vendor palsu. Awalnya cuma dua miliar. Lalu lima. Lalu sembilan. Aku terus menutup transaksi lama dengan transaksi baru.”

“Dan Salma menemukannya,” kataku.

Dinda mengangguk.

“Dia menghubungiku. Dia bilang akan menyerahkan semua bukti kepada auditor.”

“Lalu dia ditabrak.”

“Aku tidak melakukannya.”

“Siapa yang tahu tentang pertemuan Salma dengan auditor?”

Dinda memandang ayah.

Aku tidak perlu mendengar jawabannya.

Ayah bangkit dan berjalan menuju pintu.

Namun sebelum tangannya menyentuh gagang, pintu terbuka dari luar.

Dua petugas kepolisian berdiri di sana bersama Arief.

Wajah ayah berubah.

“Apa ini?”

Aku berdiri perlahan.

“Pertemuan keluarga.”

Salah satu petugas menunjukkan identitasnya.

“Pak Budi Santoso, kami perlu meminta keterangan terkait dugaan pemalsuan dokumen, penyalahgunaan identitas, dan kecelakaan yang melibatkan Salma Rahardini.”

Ayah menoleh kepadaku.

“Kamu menjebak kami?”

“Tidak.”

Aku mengambil tongkat kecil yang biasa kugunakan ketika prostesisku terasa tidak nyaman setelah duduk lama.

“Kalian datang sendiri.”

Ibu mulai menangis.

“Nadia, dia ayahmu.”

Aku berhenti di depannya.

“Kalimat itu selalu muncul ketika kalian membutuhkan sesuatu dariku. Aneh sekali, aku tidak pernah mendengarnya ketika aku membutuhkan kalian.”

Ternyata penyelidikan setelah hari itu membuka sesuatu yang jauh lebih besar daripada dugaan kami.

Rekaman CCTV hotel yang semula dinyatakan rusak ternyata tidak benar-benar hilang.

Seorang petugas keamanan menyimpan salinan karena curiga ketika manajemen memerintahkannya menghapus rekaman.

Dalam video terlihat SUV milik Dinda memasuki basement.

Tetapi Dinda tidak mengemudikannya.

Ayah yang berada di balik kemudi.

Salma sedang berjalan menuju mobil ketika SUV itu melaju ke arahnya.

Mobil berhenti beberapa meter setelah menabraknya.

Ayah turun.

Dia melihat Salma tergeletak.

Lalu kembali masuk ke mobil dan pergi.

Yang lebih mengejutkan, Salma ternyata tidak meminta empat belas miliar sebagai uang tutup mulut.

Perjanjian itu palsu.

Angka empat belas miliar dibuat oleh ayah.

Dia membutuhkan uang tersebut untuk menutup utang pribadinya sekaligus melarikan diri sebelum audit perusahaan selesai.

Nama Salma dicatut.

Namaku digunakan sebagai penjamin agar jika transaksi itu kelak diperiksa, sebagian tanggung jawab finansial dapat diarahkan kepadaku.

Namun masih ada satu pertanyaan.

Dari mana mereka mendapatkan salinan KTP terbaruku?

Jawabannya datang tiga hari setelah penangkapan ayah.

Farhan masuk ke ruang kerjaku dengan ekspresi yang sulit kubaca.

“Kamu harus melihat ini.”

Dia meletakkan laporan akses dokumen dari kantor notaris yang menangani pembelian gedung perusahaanku.

Salinan KTP-ku pernah diunduh dari sistem internal.

Pengguna yang mengaksesnya adalah seorang staf bernama Rika.

Aku tidak mengenalnya.

Tetapi ketika Arief menyelidiki rekening Rika, ditemukan transfer rutin selama enam bulan dari seseorang.

Tante Mira.

Aku membaca nama itu berkali-kali.

Tidak mungkin.

Perempuan yang menampungku ketika aku diusir.

Perempuan yang membelikanku prostesis pertama yang layak.

Perempuan yang menyelamatkan hidupku.

Aku langsung pergi ke rumahnya.

Tante Mira membuka pintu dan tersenyum seperti biasa.

“Nadia? Kok tidak bilang mau datang?”

Aku menunjukkan laporan transfer.

Senyumnya hilang.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat Tante Mira takut kepadaku.

“Kenapa?”

Dia duduk perlahan.

Matanya berkaca-kaca.

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan.”

Ternyata enam bulan sebelumnya ayah mendatanginya.

Bisnisnya hancur. Utangnya menumpuk. Dia memohon agar Tante Mira membantunya menghubungiku.

Tante menolak.

Lalu ayah mengungkit sesuatu yang selama puluhan tahun disembunyikan keluarga.

Uang yang digunakan Tante Mira untuk membelikanku prostesis, membayar sekolah, dan membantuku kuliah ternyata sebagian berasal dari warisan nenek.

Warisan yang seharusnya juga menjadi hak ayah.

Tante Mira mengambil bagian lebih besar tanpa persetujuan ayah karena tahu jika uang itu diberikan kepadanya, tidak satu rupiah pun akan sampai kepadaku.

“Aku takut dia melaporkanku,” katanya sambil menangis. “Aku takut kalau aku masuk penjara, kamu akan tahu semua bantuan yang kuberikan kepadamu bukan sepenuhnya dari uangku sendiri.”

Aku terdiam.

“Jadi Tante memberikan KTP-ku?”

“Tidak.”

Dia menggeleng keras.

“Aku hanya bilang kepada Rika bahwa aku perlu salinannya untuk urusan administrasi keluarga. Aku tidak tahu kakakmu akan menggunakannya untuk perjanjian palsu.”

“Kenapa Tante tidak bilang kepadaku?”

“Karena aku malu.”

Aku menatap perempuan yang selama delapan belas tahun kuanggap satu-satunya keluargaku.

Anehnya, aku tidak marah seperti yang kubayangkan.

Aku hanya lelah.

“Kenapa semua orang di keluarga ini selalu merasa berhak menentukan apa yang boleh kuketahui?”

Tante Mira menangis.

Aku duduk di hadapannya.

“Waktu aku tujuh belas tahun, Tante menyelamatkanku. Itu tidak berubah. Tapi apa yang Tante lakukan sekarang juga tidak hilang hanya karena dulu Tante pernah berbuat baik.”

Dia mengangguk sambil terisak.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya, aku memahami sesuatu yang tidak pernah kupahami ketika masih muda.

Mencintai seseorang tidak berarti menghapus konsekuensi dari kesalahannya.

Aku meminta Tante Mira memberikan keterangan lengkap kepada penyidik.

Dia melakukannya.

Rika juga mengaku.

Beberapa bulan kemudian, kasus ayah memasuki persidangan.

Dinda bekerja sama dengan penyidik dan menyerahkan seluruh catatan transaksi. Dia tetap harus mempertanggungjawabkan penggelapan yang dilakukannya, tetapi keterangannya membantu membongkar jaringan transaksi palsu yang lebih luas.

Ibu menjual rumah di Bandung untuk membayar sebagian kewajiban perusahaan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada seorang pun yang datang menyelamatkan Dinda dari konsekuensi.

Salma selamat.

Cedera pada kakinya membutuhkan rehabilitasi panjang, tetapi dia dapat berjalan kembali.

Aku menemuinya satu kali.

Bukan untuk meminta maaf atas nama keluargaku.

Aku sudah berhenti memikul dosa orang lain.

Aku datang untuk menyerahkan dokumen yang mungkin membantunya dalam perkara perdata.

Sebelum aku pergi, Salma melihat prostesisku.

“Kita sama-sama harus belajar berjalan lagi,” katanya.

Aku tersenyum.

“Mungkin bedanya cuma kapan kita dipaksa belajar.”

Setahun kemudian, pada suatu sore yang hujan, aku berdiri di depan sebuah bangunan baru di Bandung.

Bukan penthouse.

Bukan hotel.

Bukan kantor mewah.

Sebuah pusat rehabilitasi untuk anak dan remaja yang kehilangan anggota tubuh akibat penyakit atau kecelakaan.

Di bagian depan hanya tertulis satu nama sederhana.

Rumah Langkah.

Program itu menyediakan prostesis, fisioterapi, pendampingan psikologis, dan beasiswa tanpa biaya bagi keluarga yang membutuhkan.

Ketika wartawan bertanya mengapa aku mendirikannya, aku tidak menceritakan keluargaku.

Aku hanya berkata,

“Karena seorang anak tidak seharusnya dibuat merasa menjadi beban hanya karena tubuhnya berubah.”

Setelah acara selesai, seorang anak perempuan berusia sekitar sebelas tahun mendekatiku dengan prostesis baru di kaki kanannya.

Dia berjalan masih sedikit kaku.

“Mbak Nadia.”

“Ya?”

“Kalau pakai kaki seperti ini, nanti aku bisa sukses juga?”

Aku berjongkok agar wajah kami sejajar.

Dulu, ketika aku seusianya, aku berharap ada seseorang yang menjawab pertanyaan itu untukku.

Aku tersenyum.

“Kaki itu cuma membantumu berjalan.”

Aku menunjuk kepalanya.

“Yang menentukan kamu mau pergi sejauh apa ada di sini.”

Lalu kutunjuk dadanya.

“Dan di sini.”

Anak itu tersenyum lebar lalu berlari kecil menuju ibunya.

Aku berdiri dan melihat langkahnya.

Tidak sempurna.

Sedikit goyah.

Tetapi maju.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak menghubungiku.

Dinda.

Sidangnya selesai pagi itu.

Pesannya hanya satu kalimat.

Kak, sekarang aku akhirnya mengerti kenapa dulu Kakak tidak menolongku.

Aku membaca kalimat itu beberapa detik.

Kemudian mematikan layar tanpa membalas.

Bukan karena aku membencinya.

Bukan pula karena aku belum memaafkan.

Aku hanya akhirnya memahami bahwa memaafkan tidak selalu berarti membuka kembali pintu yang pernah menghancurkanmu.

Delapan belas tahun lalu, aku meninggalkan rumah orang tuaku dengan dua kantong pakaian, sepasang kruk tua, dan keyakinan bahwa hidupku sudah berakhir.

Ternyata aku salah.

Yang berakhir malam itu hanyalah hidup yang mereka pilihkan untukku.

Sedangkan hidupku sendiri baru saja dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang