PASANG KAMERA TERSEMBUNYI! IBU MERTUAKU MENYABOTASE MOBILKU DAN MERENCANAKAN KEMATIANKU, TAPI SUAMIKU MALAH MEMAKAI MOBIL ITU UNTUK PERGI SELINGKUH DENGAN WANITA LAIN!

Pukul enam lewat dua belas menit pagi, Hendra turun ke garasi dengan kemeja putih, celana bahan abu-abu, dan parfum yang aromanya bahkan tercium sampai ke ruang makan.

Maya sedang menuangkan kopi ketika suara kunci mobil beradu terdengar dari arah pintu.

“Aku berangkat dulu.”

Maya menoleh. “Ke Bandung?”

Hendra berhenti sepersekian detik.

“Iya. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Hati-hati.”

Hendra tersenyum, mencium kening Maya sekilas, lalu berjalan keluar.

Dari lantai atas, Bu Utami muncul dengan wajah cerah. Ia berdiri di dekat tangga sambil memperhatikan Hendra membawa tas menuju garasi.

Namun ketika melihat kunci Alphard di tangan putranya, senyumnya langsung lenyap.

“Hendra!”

Suara itu begitu keras hingga Hendra berhenti.

Bu Utami bergegas menuruni tangga.

“Kamu mau bawa mobil itu?”

“Iya, Bu. Kenapa?”

Wajah Bu Utami mendadak pucat.

Maya mengangkat cangkir kopinya perlahan.

Ada beberapa detik keheningan yang terasa panjang.

“Jangan,” kata Bu Utami akhirnya.

Hendra mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Pokoknya jangan.”

Maya menatap ibu mertuanya.

“Kenapa memangnya, Bu? Ada masalah dengan mobil saya?”

Bu Utami seperti baru sadar Maya berada di sana.

“Tidak. Maksud Ibu… mobil itu terlalu besar. Jalan ke Bandung macet. Pakai sedan saja.”

Hendra tertawa kecil.

“Klienku orang penting. Aku butuh mobil yang lebih representatif.”

Ia berbalik menuju garasi.

Bu Utami mengejarnya.

Maya meletakkan cangkir kopi.

Ia sudah mendapatkan apa yang dibutuhkan.

Reaksi panik Bu Utami terekam kamera ruang makan.

Tetapi permainan belum selesai.

Beberapa menit kemudian, suara mesin Alphard terdengar menyala.

Bu Utami berdiri kaku di teras.

Hendra menurunkan kaca.

“Sudah, Bu. Jangan khawatir.”

Mobil bergerak keluar dari halaman.

Begitu gerbang tertutup, Bu Utami langsung berbalik kepada Maya.

“Kamu sengaja, ya?”

Maya memasang wajah bingung.

“Sengaja apa?”

“Kamu tahu Hendra mau pakai mobil itu!”

Maya menatapnya beberapa detik.

“Lalu kenapa?”

Bu Utami membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Maya tersenyum tipis.

“Kalau tidak ada apa-apa dengan mobil saya, seharusnya Ibu tidak perlu takut.”

Maya mengambil tas kerjanya dan berjalan keluar.

Bu Utami berdiri membeku.

Yang tidak diketahuinya, pukul empat pagi tadi Maya sudah memanggil mekanik langganannya.

Pria itu datang diam-diam melalui pintu samping dan memeriksa Alphard.

Baut kaliper rem depan kiri sengaja dilonggarkan. Selang rem juga telah digores hingga hampir bocor.

Jika mobil dipakai menuruni jalan curam dalam waktu lama, tekanan rem bisa hilang.

Maya meminta mekanik memperbaikinya seperti semula.

Kemudian ia memasang kamera kecil di dasbor.

Bukan untuk membahayakan Hendra.

Justru untuk memastikan pria itu pulang hidup-hidup sambil membawa bukti pengkhianatannya sendiri.

Sekitar pukul tujuh pagi, Hendra berhenti di depan sebuah apartemen di Pluit.

Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun masuk ke mobil.

Namanya Selina.

Maya mengenalnya.

Perempuan itu adalah manajer komunikasi di perusahaan tempat Hendra bekerja.

Selina mencium pipi Hendra begitu pintu tertutup.

“Kamu bilang istrimu tidak curiga?”

“Dia terlalu sibuk dengan proyeknya.”

“Lalu ibumu?”

Hendra tertawa.

“Ibu malah lebih benci Maya daripada kamu.”

Selina menyandarkan kepala ke bahu Hendra.

Percakapan mereka terekam jelas.

Namun kalimat berikutnya membuat Maya yang menyaksikan siaran kamera dari kantornya berhenti bernapas.

“Setelah Maya meninggal, rumah itu benar-benar jadi milikmu?”

Hendra tidak langsung menjawab.

Ia memegang kemudi sambil tersenyum.

“Kalau semuanya berjalan sesuai rencana.”

Maya merasa darahnya membeku.

Jadi Hendra tahu.

Bukan hanya tahu.

Ia terlibat.

Selina terlihat gugup.

“Aku masih takut. Bagaimana kalau polisi curiga?”

“Kenapa harus curiga? Mobilnya bermasalah, dia kecelakaan. Selesai.”

“Tapi ibumu yang merusaknya.”

“Makanya aku suruh Ibu. Kalau ada masalah, aku tidak pernah menyentuh mobil itu.”

Maya menutup mulutnya.

Selama beberapa menit ia hanya menatap layar.

Semalam ia masih menyisakan sedikit keraguan. Mungkin Hendra hanya pernah mengeluh tentang sistem rem kepada ibunya. Mungkin Bu Utami bertindak sendiri.

Ternyata tidak.

Suaminya memang merencanakan kematiannya.

Lalu Maya mendengar sesuatu yang lebih mengerikan.

Selina bertanya, “Tapi kenapa kamu malah pakai mobil ini?”

Hendra tertawa.

“Karena sabotase itu belum dilakukan.”

Maya membeku.

“Aku bilang ke Ibu tunggu sampai Jumat malam. Besok Maya ada kunjungan proyek ke Bogor. Baru saat itu remnya dibuat bermasalah.”

Selina ikut tertawa.

“Ibumu memang nekat.”

Hendra menghela napas.

“Orang tua kadang harus diberi pekerjaan supaya merasa berguna.”

Maya segera membuka rekaman CCTV semalam.

Ia memperbesar gambar.

Kunci pas.

Kap mesin.

Roda depan.

Lalu ia teringat laporan mekaniknya.

Sabotase itu nyata.

Berarti Bu Utami tidak mengikuti instruksi Hendra.

Ia mempercepat rencana.

Dan hampir membunuh anaknya sendiri.

Maya memejamkan mata.

Ironi itu terasa mengerikan.

Pukul sebelas siang, Maya menelepon pengacaranya, Arif Pranoto.

“Aku butuh bantuan.”

“Ada masalah apa?”

“Aku punya bukti suamiku dan ibu mertuaku merencanakan kecelakaan untuk membunuhku.”

Di ujung telepon hening.

Kemudian suara Arif berubah serius.

“Jangan pulang sendirian.”

“Aku belum selesai.”

Maya mengirim seluruh rekaman.

“Ada perselingkuhan juga.”

Setelah melihat sebagian bukti, Arif hanya mengatakan satu hal.

“Jangan konfrontasi mereka sebelum kita mengamankan semuanya.”

Maya menurut.

Sore harinya, Hendra mengirim pesan.

Rapat selesai. Mungkin pulang malam.

Maya membalas singkat.

Hati-hati di jalan.

Padahal melalui GPS mobil, ia tahu Hendra sedang berada di vila Puncak.

Pukul tujuh malam, telepon Maya berdering.

Bu Utami.

“Maya!”

Suara perempuan itu gemetar.

“Hendra di mana?”

“Katanya Bandung.”

“Kamu yakin?”

Maya tersenyum pahit.

“Kenapa Ibu bertanya kepada saya?”

Bu Utami terdiam.

Kemudian ia menangis.

“Ada yang Ibu lakukan pada mobil itu.”

Maya menutup mata.

Akhirnya.

“Apa yang Ibu lakukan?”

“Remnya.”

“Kenapa?”

“Ibu cuma mau kasih kamu pelajaran.”

“Pelajaran seperti apa yang bisa membuat orang mati?”

Bu Utami terisak.

“Ibu tidak bermaksud membunuhmu.”

“Kalau begitu kenapa selang rem saya dirusak?”

Sunyi.

Maya melanjutkan dengan suara dingin.

“Hendra sedang membawa mobil itu ke Puncak.”

Terdengar suara benda jatuh.

Bu Utami menjerit.

“Telepon dia! Suruh berhenti!”

“Kenapa saya harus menyelamatkan orang yang merencanakan kematian saya?”

Kalimat itu membuat Bu Utami berhenti menangis.

“Apa maksudmu?”

“Anak Ibu yang menyuruh Ibu melakukannya, bukan?”

“Tidak…”

“Saya punya rekamannya.”

Bu Utami terdiam lama.

Lalu suaranya berubah.

Bukan lagi takut.

Melainkan bingung.

“Hendra bilang… dia cuma mau membuat kamu takut. Dia bilang remnya tidak akan benar-benar rusak.”

Maya akhirnya memahami semuanya.

Hendra memanfaatkan kebencian ibunya.

Ia memberi instruksi samar, membuat Bu Utami percaya mereka hanya akan menakut-nakuti Maya.

Namun ia tahu kerusakan itu bisa mematikan.

Jika Maya meninggal, Bu Utami yang meninggalkan sidik jari.

Hendra mendapatkan aset.

Dan jika polisi menemukan sabotase, ibunya menjadi kambing hitam.

Putra kesayangan yang selama ini dibela Bu Utami ternyata sudah menyiapkan dirinya sebagai tumbal.

“Ibu ingin tahu satu hal lagi?”

Maya mengirim rekaman dari kamera dasbor.

Beberapa menit kemudian terdengar tangisan tertahan.

“Hendra…”

Bu Utami seperti kehilangan tenaga.

“Itu Selina?”

“Iya.”

“Dia bilang kepada Ibu perempuan itu cuma teman kerja.”

“Sepertinya banyak hal yang Hendra katakan kepada kita berdua tidak benar.”

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Maya dan Bu Utami duduk di meja yang sama tanpa saling menyerang.

Bu Utami terlihat sepuluh tahun lebih tua.

“Ibu memang membencimu,” katanya lirih.

Maya tidak menjawab.

“Ibu merasa sejak menikah denganmu, Hendra kehilangan harga dirinya. Rumahmu lebih besar. Penghasilanmu lebih tinggi. Semua orang memuji kamu.”

“Jadi saya pantas mati?”

Air mata Bu Utami jatuh.

“Tidak.”

Ia menunduk.

“Ibu bodoh.”

Maya tidak menghiburnya.

Penyesalan tidak menghapus perbuatan.

Pukul sepuluh malam, Hendra pulang.

Selina tidak bersamanya.

Begitu masuk ruang keluarga, ia langsung tersenyum.

“Kok belum tidur?”

Kemudian ia melihat ibunya.

Wajah Hendra berubah.

“Ibu?”

Bu Utami berdiri.

Tanpa mengatakan apa pun, ia menampar putranya.

Hendra terpaku.

“Apa-apaan ini?”

“Kamu mau menjadikan Ibu pembunuh!”

Hendra langsung menoleh kepada Maya.

Maya duduk tenang di sofa.

Laptop terbuka di meja.

Di layarnya terlihat rekaman Hendra bersama Selina.

Wajah Hendra kehilangan warna.

“Maya, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan bagian mana?”

Maya menatapnya.

“Perselingkuhanmu?”

Ia menekan tombol.

Suara Hendra terdengar dari laptop.

Kalau semuanya berjalan sesuai rencana.

“Atau rencana kematianku?”

Hendra maju dan mencoba merebut laptop.

Namun pintu ruang tamu terbuka.

Arif masuk bersama dua orang petugas kepolisian.

Hendra berhenti.

Maya berdiri.

“Semua bukti sudah disalin.”

Hendra menatap istrinya seolah baru pertama kali melihat perempuan itu.

“Kamu menjebakku.”

Maya tertawa kecil.

“Tidak.”

Ia menunjuk layar.

“Kamu sendiri yang bicara.”

Hendra kemudian menoleh kepada ibunya.

“Ibu jangan percaya dia! Maya sedang memecah keluarga kita!”

Bu Utami menangis.

Namun kali ini ia tidak berdiri di sisi putranya.

“Ibu yang merusak rem itu.”

Hendra terdiam.

“Dan Ibu akan mengatakan semuanya.”

“Ibu!”

“Kamu bilang hanya untuk menakutinya!”

Hendra kehilangan kendali.

“Karena Ibu memang bodoh! Aku bilang sedikit saja, kenapa malah benar-benar dirusak?”

Ruangan mendadak hening.

Hendra baru menyadari kesalahannya.

Pengakuan itu keluar dari mulutnya sendiri.

Salah satu petugas melangkah maju.

Hendra mencoba menarik kembali kata-katanya, tetapi semuanya sudah terlambat.

Beberapa minggu berikutnya mengubah hidup Maya sepenuhnya.

Ia mengajukan perceraian.

Hendra kehilangan pekerjaannya setelah perusahaan mengetahui kasus tersebut dan hubungan tidak pantasnya dengan Selina.

Proses hukum terhadap sabotase kendaraan berjalan berdasarkan rekaman CCTV, laporan mekanik, percakapan di dalam mobil, serta keterangan Bu Utami.

Namun kejutan terakhir baru muncul ketika pengacara Maya memeriksa dokumen keuangan.

Hendra ternyata sudah mencoba mengubah polis asuransi jiwa Maya beberapa bulan sebelumnya.

Nilainya lima miliar rupiah.

Penerima manfaatnya adalah Hendra.

Saat Arif menunjukkan dokumen itu, Maya tidak menangis.

Ia hanya duduk lama di depan jendela kantornya.

Lima tahun pernikahan.

Ribuan sarapan bersama.

Ucapan selamat ulang tahun.

Pelukan ketika ia kelelahan.

Semua itu terasa seperti adegan dari kehidupan orang lain.

Enam bulan kemudian, Maya menjual rumah di Pantai Indah Kapuk.

Bukan karena takut.

Ia hanya tidak ingin lagi tinggal di tempat yang setiap sudutnya menyimpan kebohongan.

Sebelum pindah, Bu Utami datang menemuinya.

Perempuan itu kini berjalan lebih lambat.

“Aku tidak datang untuk meminta maaf lagi,” katanya.

Maya memandangnya.

“Karena aku tahu maaf tidak cukup.”

Bu Utami menyerahkan sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat kalung mutiara yang dikenakannya malam ketika kamera menangkap sabotase tersebut.

“Kenapa diberikan kepada saya?”

“Jual saja. Sumbangkan. Buang. Terserah.”

Bu Utami menarik napas panjang.

“Selama bertahun-tahun aku pikir tugasku sebagai ibu adalah selalu membela anakku. Ternyata mencintai anak tanpa berani mengakui kesalahannya hanya membuat kita ikut membesarkan keburukannya.”

Maya menutup kotak itu.

Ia tidak mengatakan bahwa dirinya sudah memaafkan.

Karena belum.

Namun untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat Bu Utami hanya sebagai musuh.

Ia melihat seorang ibu yang terlambat menyadari bahwa cinta yang buta bisa berubah menjadi senjata.

Sebelum pergi, Bu Utami berhenti di pintu.

“Maya.”

“Ya?”

“Kenapa malam itu kamu membiarkan Hendra membawa mobil itu kalau kamu tahu remnya sudah dirusak?”

Maya terdiam.

Kemudian tersenyum tipis.

“Karena sebelum matahari terbit, saya sudah memperbaikinya.”

Bu Utami menatapnya tidak percaya.

“Jadi Hendra sebenarnya tidak pernah dalam bahaya?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kamu bilang kepadaku dia bisa kecelakaan?”

Maya menatap perempuan itu lurus-lurus.

“Karena saya perlu tahu apakah Ibu masih punya hati.”

Bu Utami menunduk.

Air matanya jatuh.

Maya menutup pintu setelah perempuan itu pergi.

Di luar, sebuah mobil baru menunggunya.

Sebelum masuk, Maya menatap rumah itu untuk terakhir kalinya.

Dulu ia mengira kamera kecil di garasinya telah menyelamatkan nyawanya.

Belakangan ia sadar bukan kamera itu yang menyelamatkannya.

Kamera hanya menunjukkan kebenaran.

Yang benar-benar menyelamatkannya adalah keberanian untuk mempercayai apa yang ia lihat, meskipun kenyataan itu menghancurkan semua hal yang selama ini ia sebut keluarga.

Maya masuk ke mobil.

Mesin menyala.

Kali ini, sebelum menginjak pedal gas, ia memeriksa kaca spion.

Tidak ada Hendra.

Tidak ada Bu Utami.

Tidak ada siapa pun yang menentukan ke mana ia harus pergi.

Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, jalan di depannya benar-benar miliknya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang