SAAT MEMBERSIHKAN HOTEL, MILIONER MEMINTAKU JADI ISTRINYA SEMALAM. DI GALA, TANTANYA MENGHINA LEWAT MIKROFON. SAAT AKU PERGI, SANG KAKEK MEMBONGKAR RAHASIA BESAR!

Adrian menatap bukti transfer di atas mejanya, lalu menatap Maya dengan sorot mata yang berbeda.

“Kalau saya ingin memaksamu, saya tidak perlu melakukannya diam-diam.”

“Lalu kenapa?”

“Karena adikmu butuh operasi.”

Maya mengepalkan tangan.

“Dan itu membuat Bapak merasa berhak menyelamatkan keluarga saya?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Adrian terdiam beberapa detik.

“Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, saya bertemu seseorang yang menolak uang saya ketika dia benar-benar membutuhkannya.”

Maya menarik napas panjang.

“Saya akan mengembalikannya.”

“Tidak perlu.”

“Saya akan tetap mengembalikannya.”

Adrian hampir tersenyum.

“Baik.”

Maya berbalik menuju pintu.

Namun sebelum tangannya menyentuh gagang, suara Adrian terdengar lagi.

“Maya.”

Ia berhenti.

“Saya tidak akan meminta kamu menjadi istri pura-pura lagi.”

Maya menoleh.

“Bagus.”

“Tapi saya ingin mengajakmu makan malam.”

Maya mengernyit.

“Untuk apa?”

“Sebagai dua orang biasa.”

Maya melirik ruangan seluas apartemen kecil itu, jas mahal Adrian, serta pemandangan gedung pencakar langit di balik jendela.

“Bapak bahkan tidak tahu caranya menjadi orang biasa.”

Untuk pertama kalinya, Adrian tertawa.

Dan entah mengapa, sejak hari itu sesuatu berubah.

Adrian mulai turun ke kantin karyawan, bukan memanggil makanan ke ruangannya. Ia mulai mengingat nama petugas keamanan, staf dapur, bahkan petugas laundry yang sudah bekerja bertahun-tahun.

Maya tahu perubahan itu tidak terjadi hanya karena dirinya.

Adrian seperti seseorang yang selama bertahun-tahun hidup di dalam ruangan tanpa jendela, lalu tiba-tiba menyadari ada dunia lain di luar sana.

Dua minggu kemudian, operasi Arya berhasil.

Maya menangis ketika ibunya menelepon dari Surabaya.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia bisa tidur tanpa membayangkan adiknya berhenti bernapas.

Pada sore yang sama, Adrian menemukannya di taman belakang hotel.

“Operasinya berhasil?”

Maya mengangguk.

“Terima kasih.”

Itulah pertama kalinya ia mengucapkan kata itu kepada Adrian.

Pria itu hanya mengangguk.

Tidak meminta apa pun sebagai balasan.

Sebulan berlalu.

Pak Hardi ternyata berhasil melewati masa kritis, tetapi kesehatannya terus menurun. Gala tahunan keluarga Wijaya yang sempat ditunda akhirnya dijadwalkan ulang di ballroom utama Hotel Grand Nusantara.

Tiga hari sebelum acara, Adrian mendatangi Maya.

Kali ini tidak ada pengawal.

Tidak ada tawaran uang.

Tidak ada cincin pinjaman.

“Saya ingin kamu datang ke gala.”

Maya menatapnya curiga.

“Sebagai apa?”

“Sebagai Maya.”

“Bukan istri pura-pura?”

“Bukan.”

“Pacar pura-pura?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Adrian tersenyum tipis.

“Sebagai perempuan yang sedang saya dekati dengan sangat buruk selama sebulan terakhir.”

Maya menahan senyum.

“Setidaknya Bapak sadar.”

“Maukah kamu datang?”

Maya memandang pria itu cukup lama.

“Baik.”

Malam gala tiba.

Ballroom dipenuhi pengusaha, pejabat, selebritas, dan keluarga konglomerat.

Maya mengenakan gaun biru tua sederhana yang ia beli dari butik kecil di Blok M. Tidak ada berlian. Tidak ada tas bermerek.

Namun ketika ia turun dari mobil bersama Adrian, puluhan kamera langsung mengarah kepada mereka.

Bisikan terdengar di mana-mana.

“Siapa perempuan itu?”

“Bukannya dia pegawai hotel?”

“Petugas kebersihan, kan?”

Maya mendengarnya.

Adrian juga.

Pria itu mengulurkan tangan.

Maya tidak langsung menyambutnya.

“Kamu boleh pulang kapan saja kalau tidak nyaman.”

Maya akhirnya menggenggam tangannya.

“Saya datang bukan untuk lari.”

Di dalam ballroom, seorang perempuan berusia sekitar 55 tahun memandangi mereka dari kejauhan.

Rina Wijaya.

Adik mendiang ayah Adrian.

Selama bertahun-tahun, Rina menganggap dirinya orang paling layak mengendalikan bisnis keluarga.

Ketika Adrian membawa Maya mendekat, senyum Rina terlihat ramah.

Namun matanya dingin.

“Adrian, Tante kira kamu akhirnya membawa perempuan yang pantas diperkenalkan kepada keluarga.”

Adrian mengencangkan rahangnya.

“Tante, ini Maya.”

“Oh, Tante tahu.”

Rina menatap gaun Maya.

“Semua orang di hotel ini tahu.”

Maya mengulurkan tangan.

“Senang bertemu dengan Ibu.”

Rina tidak menyambutnya.

Ia hanya tersenyum.

“Menarik sekali.”

Adrian hendak mengatakan sesuatu, tetapi Maya menyentuh lengannya.

“Tidak apa-apa.”

Acara dimulai.

Setelah makan malam, Rina naik ke panggung untuk menyampaikan pidato mewakili keluarga.

Awalnya semuanya normal.

Ia berbicara mengenai yayasan, beasiswa, pembangunan rumah sakit, dan sejarah keluarga Wijaya.

Lalu pandangannya jatuh kepada Maya.

“Saya percaya keluarga besar dibangun bukan hanya dengan kekayaan, tetapi juga martabat.”

Beberapa tamu mulai menoleh.

Rina tersenyum.

“Karena itu saya sedikit terkejut malam ini.”

Adrian langsung berdiri.

“Tante.”

Namun Rina melanjutkan.

“Keponakan saya rupanya membawa seorang perempuan yang bekerja membersihkan kamar hotel.”

Ruangan mendadak hening.

Ratusan mata tertuju kepada Maya.

“Tidak ada yang salah dengan pekerjaan halal,” lanjut Rina, seolah terdengar bijaksana.

“Tetapi tentu kita harus bertanya, apakah seseorang mendekati keluarga ini karena cinta atau karena melihat kesempatan mengubah nasib?”

Beberapa orang mulai berbisik.

Maya merasakan dadanya sesak.

Rina belum selesai.

“Saya bahkan mendengar keluarga perempuan itu baru saja menerima bantuan biaya rumah sakit dalam jumlah besar.”

Wajah Maya memucat.

Adrian berjalan menuju panggung.

“Cukup!”

Namun mikrofon masih berada di tangan Rina.

“Lima ratus juta? Satu miliar? Berapa harga yang dibutuhkan agar seorang petugas kebersihan berubah menjadi calon nyonya konglomerat?”

Adrian merebut mikrofon.

“Tante sudah keterlaluan.”

Tetapi kerusakan sudah terjadi.

Maya melihat orang-orang menatapnya.

Sebagian kasihan.

Sebagian mencibir.

Sebagian mengangkat ponsel.

Ia tahu besok wajahnya mungkin muncul di media sosial dengan judul perempuan miskin pemburu miliarder.

Maya berdiri.

Adrian turun dari panggung dan mengejarnya.

“Maya.”

“Jangan.”

“Maya, dengarkan saya.”

Perempuan itu menahan air mata.

“Saya bisa menghadapi hinaan tentang pekerjaan saya.”

“Tapi saya tidak akan berdiri di ruangan yang menggunakan sakit adik saya sebagai hiburan.”

“Saya akan mengurus Tante.”

“Ini bukan soal tante Anda.”

Maya melepaskan tangannya.

“Ini dunia Anda, Adrian.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.

“Saya tidak malu menjadi petugas kebersihan. Saya tidak malu berasal dari keluarga miskin. Tapi saya tidak mau hidup setiap hari dengan membuktikan kepada orang-orang seperti mereka bahwa saya pantas berdiri di samping Anda.”

Maya berjalan menuju pintu ballroom.

Saat itulah suara berat terdengar dari belakang.

“Tunggu.”

Semua orang menoleh.

Seorang lelaki tua berdiri di pintu samping ballroom menggunakan tongkat.

Pak Hardi.

Dua perawat mendampinginya.

Adrian membeku.

“Kakek?”

Rina turun dari panggung dengan wajah pucat.

“Ayah seharusnya di rumah sakit.”

Pak Hardi mengabaikannya.

Tatapannya tertuju kepada Maya.

“Kamu Maya Pertiwi?”

Maya mengangguk perlahan.

Pak Hardi berjalan mendekat.

Setiap langkahnya lambat.

Namun ballroom yang dipenuhi ratusan orang itu benar-benar sunyi.

“Saya sudah mencari keluargamu selama dua puluh enam tahun.”

Maya mengernyit.

“Apa maksud Bapak?”

Pak Hardi mengeluarkan sebuah foto lama dari saku jasnya.

Foto seorang perempuan muda berseragam perawat.

Wajah Maya langsung berubah.

“Itu ibu saya.”

Rina tiba-tiba menjatuhkan gelas.

Pak Hardi menatapnya.

“Sekarang kamu ingat, Rina?”

Adrian memandang tantenya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Pak Hardi menarik napas.

“Dua puluh enam tahun lalu, terjadi kebakaran di gudang lama milik perusahaan kita di Semarang.”

Beberapa anggota keluarga mulai saling berpandangan.

“Kebakaran itu hampir membunuh saya.”

Pak Hardi menunjuk foto.

“Perempuan ini bernama Sulastri Pertiwi. Saat itu dia perawat klinik perusahaan.”

Maya menatap foto ibunya dengan tangan gemetar.

“Ibumu masuk ke gedung yang terbakar dan menarik saya keluar.”

Pak Hardi berhenti.

“Tapi itu bukan rahasia terbesar.”

Rina mulai mundur.

“Ayah, jangan.”

Pak Hardi menatap putrinya tajam.

“Diam.”

Suara lelaki tua itu menggema.

“Gudang itu terbakar karena ada dokumen yang sengaja dimusnahkan.”

Adrian memandang Rina.

“Dokumen apa?”

“Bukti penggelapan dana perusahaan.”

Pak Hardi menjawab.

“Pelakunya suami Rina.”

Wajah Rina kehilangan warna.

“Setelah kebakaran, mereka membutuhkan kambing hitam. Sulastri melihat terlalu banyak. Maka ia dituduh lalai sehingga menyebabkan kebakaran.”

Maya seperti kehilangan kemampuan bernapas.

“Ibu saya bilang dia berhenti bekerja karena ingin pulang kampung.”

“Dia tidak berhenti.”

Pak Hardi menundukkan kepala.

“Dia dipaksa pergi.”

Maya menatap Rina.

Perempuan itu tidak lagi terlihat angkuh.

Pak Hardi melanjutkan.

“Saat saya sadar dari koma, laporan sudah dipalsukan. Sulastri sudah meninggalkan Semarang. Saya mencoba mencarinya, tapi dia menghilang.”

“Kenapa Bapak mencari ibu saya?”

Pak Hardi menatap Maya dengan mata berkaca-kaca.

“Karena sebelum pergi, ibumu mengembalikan sesuatu yang nilainya jauh lebih besar daripada seluruh hotel yang saya miliki.”

“Apa?”

“Kesempatan kedua untuk hidup.”

Pak Hardi lalu mengeluarkan sebuah amplop tua.

“Saya berjanji kalau suatu hari menemukan keluarga Sulastri, saya akan memperbaiki kesalahan keluarga saya.”

Rina tiba-tiba berteriak.

“Ayah mau memberikan perusahaan kepada anak petugas kebersihan?”

Pak Hardi menoleh.

“Lihat.”

Ia menunjuk Maya.

“Bahkan setelah dihina di depan ratusan orang, dia memilih pergi tanpa membalas.”

Kemudian ia menunjuk Rina.

“Sedangkan kamu lahir dengan nama Wijaya, pendidikan terbaik, rumah terbaik, dan semua kesempatan. Tapi malam ini kamu menggunakan penyakit seorang pemuda untuk mempermalukan kakaknya.”

Rina terdiam.

Pak Hardi menyerahkan amplop kepada Adrian.

“Buka.”

Adrian mengeluarkan dokumen dari dalamnya.

Matanya membesar.

“Kakek…”

“Apa isinya?” tanya Maya.

Pak Hardi tersenyum tipis.

“Bukan warisan.”

Ia menatap Maya.

“Itu pengakuan tertulis saya tentang kejadian dua puluh enam tahun lalu, beserta bukti yang membersihkan nama ibumu.”

Air mata Maya akhirnya jatuh.

Bukan karena saham.

Bukan karena uang.

Selama bertahun-tahun, ibunya selalu menghindari pembicaraan tentang masa mudanya.

Sekarang Maya mengerti.

Ibunya bukan perempuan yang gagal.

Ibunya adalah seseorang yang pernah dihancurkan karena melakukan hal yang benar.

Pak Hardi lalu meminta mikrofon.

“Mulai malam ini, Rina diberhentikan dari seluruh jabatan di perusahaan dan yayasan sampai audit independen selesai.”

Rina menatap ayahnya tidak percaya.

“Ayah!”

“Dan satu hal lagi.”

Pak Hardi memandang seluruh ruangan.

“Perempuan yang kalian pandang rendah malam ini bekerja membersihkan lantai hotel saya.”

Ia berhenti.

“Tapi saya ingin kalian tahu, keluarga perempuan itu pernah membersihkan noda yang jauh lebih kotor dari keluarga saya.”

Tidak ada seorang pun bertepuk tangan.

Tidak ada yang berani.

Maya menghampiri Pak Hardi.

“Saya tidak membutuhkan uang Bapak.”

“Saya tahu.”

“Saya juga tidak menginginkan saham.”

“Saya tahu.”

“Saya hanya ingin membawa dokumen itu kepada ibu saya.”

Pak Hardi mengangguk.

“Itulah sebabnya saya tahu saya tidak salah mencarimu.”

Maya mengambil dokumen tersebut.

Lalu ia berjalan keluar.

Adrian mengejarnya sampai halaman hotel.

“Maya.”

Maya berhenti.

“Saya tidak akan meminta kamu kembali ke dalam.”

“Bagus.”

“Saya juga tidak akan meminta kamu menjadi istri saya malam ini.”

Maya menatapnya.

Adrian menarik napas.

“Tapi mungkin suatu hari nanti, kalau saya sudah belajar menjadi laki-laki yang pantas berdiri di sampingmu, bukan laki-laki yang merasa uang bisa menyelesaikan semuanya, saya ingin bertanya lagi.”

Maya menatap wajahnya beberapa detik.

“Kalau hari itu datang, jangan bawa lima ratus juta.”

Adrian tertawa kecil.

“Lalu bawa apa?”

“Keberanian.”

Maya tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.

Enam bulan kemudian, Arya sudah kembali bekerja.

Rina resmi dicopot setelah audit menemukan serangkaian manipulasi keuangan lama yang berkaitan dengan suaminya.

Nama Sulastri Pertiwi dibersihkan.

Pak Hardi mendirikan program beasiswa bagi anak-anak pekerja hotel dan menamainya Yayasan Sulastri Pertiwi.

Maya tetap bekerja.

Namun bukan lagi sebagai petugas kebersihan.

Ia menerima beasiswa manajemen perhotelan dan menjadi koordinator program kesejahteraan karyawan.

Bukan hadiah.

Maya mengikuti seleksi seperti peserta lain dan lulus dengan nilai tertinggi.

Suatu sore, setelah rapat, Maya keluar dari hotel dan menemukan Adrian menunggunya.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada mobil mewah di depan pintu.

Hanya Adrian dengan dua gelas kopi.

“Saya ingin mengajukan sebuah tawaran.”

Maya mengangkat alis.

“Berapa?”

“Dua gelas kopi.”

“Durasi?”

“Kalau kamu bosan, lima belas menit.”

“Dan kalau tidak?”

“Seumur hidup juga boleh.”

Maya tertawa.

Adrian menyerahkan satu gelas kepadanya.

Mereka berjalan bersama menyusuri trotoar Jakarta.

Beberapa langkah kemudian Adrian berhenti.

“Maya.”

“Hm?”

“Saya butuh seorang istri.”

Maya menatapnya tajam.

Adrian buru-buru mengangkat tangan.

“Bukan malam ini.”

Maya tertawa.

Adrian ikut tertawa.

Dan untuk pertama kalinya, pertanyaan itu tidak terdengar seperti transaksi.

Tidak ada angka.

Tidak ada saham.

Tidak ada gala.

Hanya dua manusia yang akhirnya memahami bahwa harga diri tidak pernah ditentukan oleh seragam yang dikenakan seseorang, dan kekayaan terbesar bukanlah kemampuan membeli apa pun yang kita inginkan.

Melainkan kemampuan mengenali sesuatu yang tidak bisa dibeli.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang