Di Malam Takbiran, Mertua Mengusirku karena Sambal Terlalu Pedas dan Amplop THR Hilang; Suamiku Diam, Aku Terbang ke Lombok, Besoknya Mereka Menelepon 23 Kali sambil Menuduhku Menghancurkan Keluarga Mereka

Rekaman itu hanya berdurasi empat puluh tujuh detik.

Namun empat puluh tujuh detik itulah yang akhirnya membongkar kebohongan yang sudah terlalu lama hidup di rumah keluarga Bagas.

Aku berdiri di area kedatangan Bandara Lombok dengan koper di samping kaki. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarku, tetapi mataku tidak bisa lepas dari layar ponsel.

Pukul 14.17 kemarin.

Kamera ruang keluarga merekam Rani berjalan keluar dari kamarnya.

Dia melihat ke kanan dan kiri.

Saat itu semua orang memang sedang sibuk. Aku berada di dapur. Bagas pergi membeli gas bersama sepupunya. Bu Endang sedang mandi.

Rani mendekati lemari kayu di dekat televisi.

Dia membuka laci kedua.

Tangannya masuk.

Beberapa detik kemudian, sebuah amplop cokelat muncul di tangannya.

Dadaku langsung berdegup keras.

Rani memasukkan amplop itu ke dalam tas belanja berwarna hitam, lalu membawa tas tersebut ke kamarnya.

Sebelum pergi, dia sempat menoleh ke arah kamera.

Seolah memastikan tidak ada yang melihat.

Aku memutar rekaman itu sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Bukan karena aku belum yakin.

Aku hanya sedang berusaha memahami bagaimana seseorang bisa tersenyum saat tasku digeledah, padahal dia tahu persis siapa yang mengambil uang itu.

Ponselku kembali berdering.

Bagas.

Aku membiarkannya.

Lalu Bu Endang.

Kubiarkan lagi.

Sebuah pesan masuk dari Rani.

Mbak, pulang saja. Jangan bikin masalah tambah besar. Mama sudah emosi.

Aku hampir tertawa.

Jadi sekarang aku yang membuat masalah?

Aku duduk di bangku dekat pintu keluar bandara, lalu mengunduh rekaman itu dan menyimpannya di tiga tempat berbeda.

Setelah itu aku membuka aplikasi perbankan.

Ada satu hal yang tiba-tiba terlintas di kepalaku.

Selama tiga tahun mengurus katering, seluruh pemasukan dan pengeluaran usaha melewati pembukuan yang kubuat. Rekening usaha memang atas nama Bu Endang, tetapi hampir semua transaksi pemasok, invoice pelanggan, catatan pajak, sampai daftar utang ada di laptopku.

Dan selama beberapa bulan terakhir, aku menemukan banyak angka yang tidak cocok.

Awalnya kukira hanya kesalahan pencatatan.

Sekarang aku tidak lagi yakin.

Aku menelepon seseorang yang sudah lama tidak kuhubungi.

Namanya Dita, teman kerjaku dulu di perusahaan logistik.

“Ratih?”

Suaranya terdengar kaget.

“Kamu di mana? Kok pagi-pagi telepon?”

“Lombok.”

“Lombok?”

Aku tertawa hambar.

“Ceritanya panjang.”

Dita diam sebentar.

“Kamu menangis?”

Pertanyaan itu membuat pertahananku runtuh.

Aku menutup mulut.

Air mata yang sejak semalam kutahan akhirnya jatuh.

Bukan karena amplop dua belas juta.

Bukan karena sambal.

Bukan bahkan karena Bu Endang menggeledah tasku.

Aku menangis karena baru kusadari betapa lama aku membiarkan diriku diperlakukan seperti orang yang keberadaannya hanya berguna selama bisa melayani.

Dita mendengarkan semuanya tanpa memotong.

Setelah aku selesai, dia hanya berkata, “Jangan pulang dulu.”

“Aku memang tidak mau.”

“Bukan itu maksudku. Jangan pulang karena mereka memaksa. Kalau nanti kamu pulang, pulanglah karena kamu sudah tahu apa yang mau kamu lakukan.”

Aku menatap langit Lombok dari balik kaca bandara.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tidak ada yang memanggil namaku dari dapur.

Tidak ada yang menyuruhku mengambil piring.

Tidak ada yang bertanya stok santan tinggal berapa.

Aku menarik napas panjang.

“Aku tahu.”

Aku menyewa kamar kecil di sebuah penginapan dekat Senggigi untuk tiga malam.

Begitu tiba, aku membuka laptop.

Ada satu folder yang selama ini tidak pernah diketahui keluarga Bagas.

Namanya Arsip Pribadi.

Di dalamnya tersimpan salinan semua transaksi katering selama tiga tahun.

Aku mulai memeriksa satu per satu.

Dua jam kemudian, tubuhku terasa dingin.

Ada transfer rutin dari rekening usaha ke rekening pribadi Rani.

Nominalnya tidak besar jika dilihat satu per satu.

Dua juta.

Tiga juta.

Lima juta.

Kadang tujuh juta.

Keterangan transaksinya selalu berbeda.

Belanja bahan.

DP pemasok.

Biaya pengiriman.

Padahal invoice asli yang kusimpan menunjukkan pembayaran kepada pemasok dilakukan lewat transaksi lain.

Aku menghitung totalnya.

Seratus delapan puluh enam juta rupiah.

Tanganku berhenti di atas keyboard.

Tiba-tiba banyak hal terasa masuk akal.

Beberapa bulan terakhir, usaha katering sering kekurangan kas meski pesanan meningkat.

Bu Endang berkali-kali menyalahkanku.

“Kamu ini bisa bikin pembukuan enggak, sih?”

Bahkan dua bulan lalu aku sampai menggunakan tiga belas juta dari tabunganku untuk menutup pembayaran bahan baku karena takut pesanan pernikahan pelanggan gagal.

Aku mengirim pesan kepada pemasok utama kami, Pak Yanto.

Pak, maaf mengganggu hari Lebaran. Saya mau konfirmasi beberapa transaksi.

Jawabannya datang lima belas menit kemudian.

Mbak Ratih, justru saya mau tanya. Pembayaran yang tanggal 12 kemarin kapan dilunasi? Katanya Mbak Rani sudah transfer, tapi belum masuk.

Aku menutup mata.

Jadi bukan cuma uang THR.

Rani sudah melakukan ini berbulan-bulan.

Mungkin lebih lama.

Pukul sebelas siang, Bagas akhirnya mengirim pesan suara.

Kali ini suaranya marah.

“Ratih, kamu keterlaluan. Tamu sudah datang, katering berantakan, Mama nangis terus. Kalau ada masalah, jangan lari. Kamu istri aku. Kamu punya tanggung jawab di keluarga ini.”

Aku mendengarkannya dua kali.

Aneh.

Tidak ada satu kata pun tentang tuduhan pencurian.

Aku membalas singkat.

“Aku akan kirim sesuatu ke grup keluarga.”

Bagas langsung menelepon.

Aku menolak.

Kemudian aku membuka grup WhatsApp keluarga besar.

Ada empat puluh tiga anggota.

Aku mengunggah rekaman CCTV.

Tanpa penjelasan panjang.

Hanya satu kalimat.

“Ini rekaman pukul 14.17 kemarin, beberapa jam sebelum saya dituduh mengambil amplop THR.”

Pesan terkirim.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Dua puluh detik.

Lalu grup meledak.

Tante Rina menjadi orang pertama yang menulis.

“Itu Rani?”

Sepupu Bagas membalas.

“Amplop cokelatnya sama, kan?”

Pak Harun langsung meneleponku.

Kali ini kuangkat.

“Ratih.”

Suaranya gemetar.

“Kamu dapat video itu dari mana?”

“Kamera rumah, Pak.”

Dia terdiam.

“Bapak tidak tahu ada kamera?”

“Tahu. Tapi selama ini Bagas yang pasang aplikasi di ponselmu.”

Aku tersenyum pahit.

Memang aku yang mengurus semuanya.

Bahkan keamanan rumah mereka.

Dari kejauhan terdengar suara Bu Endang berteriak.

“Kasih sini teleponnya!”

Beberapa detik kemudian suaranya memenuhi telingaku.

“Ratih! Kamu kenapa sebarkan itu ke grup? Itu urusan keluarga!”

Aku sampai kehilangan kata-kata.

“Ibu menuduh saya mencuri di depan keluarga.”

“Ya, tapi kamu bisa bicara dulu sama Mama!”

“Mama menggeledah tas saya di depan mereka.”

“Itu karena Mama panik!”

“Dan sekarang Mama panik karena ternyata yang mengambil uang itu anak Mama sendiri?”

Sunyi.

Kemudian Bu Endang berkata pelan, “Rani cuma memindahkan.”

Aku tertawa.

“Ke dalam tasnya?”

“Dia bilang mau mengamankan.”

“Kenapa kemarin dia tidak bicara ketika Mama menuduh saya?”

Tidak ada jawaban.

Telepon direbut Bagas.

“Ratih, cukup.”

Nada suaranya rendah.

“Kamu sudah mempermalukan Mama dan Rani.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada yang kuduga.

Bukan karena menyakitkan.

Karena akhirnya aku melihat suamiku dengan sangat jelas.

“Mas.”

“Apa?”

“Waktu Mama membongkar tasku di depan semua orang, kamu bilang aku mungkin mengambil uang itu.”

Bagas diam.

“Waktu itu aku dipermalukan. Kenapa kamu tidak bilang cukup?”

“Itu beda.”

“Bedanya apa?”

“Ini keluargaku.”

Aku memejamkan mata.

Lalu bertanya, “Kalau begitu selama tiga tahun ini aku siapa?”

Tidak ada jawaban.

Aku memutus sambungan.

Namun aku belum selesai.

Sore itu, aku mengirimkan rekap transaksi seratus delapan puluh enam juta kepada Pak Harun secara pribadi.

Aku tidak mengirimnya ke grup.

Masalah itu lebih besar dan harus diperiksa dengan kepala dingin.

Kurang dari satu jam kemudian, Pak Harun menelepon.

“Ratih, angka-angka ini benar?”

“Semua bukti transaksinya ada.”

“Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya?”

“Karena saya baru selesai mencocokkannya hari ini.”

Suara Pak Harun melemah.

“Uang sebanyak ini ke mana?”

“Saya tidak tahu. Tanya Rani.”

Malam itu, rumah yang kutinggalkan berubah menjadi medan perang.

Aku mengetahuinya dari Tante Rina yang diam-diam mengirim pesan.

Rani akhirnya mengaku.

Dia memiliki utang dari pinjaman online dan belanja paylater hampir dua ratus juta.

Awalnya dia hanya mengambil dua juta dari rekening katering dan berniat mengembalikan setelah gajian.

Namun dia sudah berhenti bekerja enam bulan sebelumnya tanpa memberi tahu orang tuanya.

Utang bertambah.

Dia mulai mengambil uang usaha lebih sering.

Amplop THR dua belas juta itu rencananya akan digunakan untuk membayar tagihan yang jatuh tempo dua hari setelah Lebaran.

Tetapi ada bagian yang jauh lebih buruk.

Rani mengatakan Bagas tahu.

Aku membaca pesan Tante Rina berkali-kali.

Bagas tahu?

Tanganku gemetar ketika menelepon suamiku.

Kali ini dia langsung mengangkat.

“Mas, kamu tahu Rani mengambil uang katering?”

Hening.

Jawabannya sudah ada dalam keheningan itu.

“Sejak kapan?”

“Ratih, dengar dulu.”

“Sejak kapan?”

“Sekitar empat bulan.”

Aku merasa dunia berhenti bergerak.

“Empat bulan?”

“Aku mau cerita, tapi Rani janji akan mengembalikan.”

“Termasuk tiga belas juta uang tabunganku yang kupakai menutup pembayaran pemasok?”

Bagas tidak menjawab.

Aku tertawa kecil.

Air mataku kembali jatuh.

“Kamu membiarkan aku menggunakan tabunganku padahal kamu tahu kenapa kas usaha selalu kurang?”

“Aku terjepit.”

“Tidak, Mas.”

Suaraku menjadi sangat tenang.

“Kamu memilih.”

“Kamu memilih melindungi adikmu.”

“Ratih, dia adikku.”

“Dan aku istrimu.”

Bagas mulai meninggikan suara.

“Jangan bikin semuanya hitam putih!”

“Aku tidak perlu.”

Aku mengusap air mata.

“Kamu sudah melakukannya untukku.”

Aku mematikan telepon.

Hari kedua di Lombok, aku berjalan sendirian di tepi pantai.

Tidak ada rencana liburan.

Tidak ada gaun cantik.

Aku bahkan hanya membawa dua kaus dan satu celana panjang.

Tetapi angin laut terasa seperti sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupku.

Kebebasan.

Siang harinya, Dita menelepon.

“Ada posisi finance supervisor kosong di kantor cabang Surabaya.”

Aku terdiam.

“Kamu serius?”

“Bos lama kita masih ingat kamu. Aku sudah cerita kamu sedang cari kerja lagi. Bukan cerita rumah tanggamu, ya.”

Aku tertawa untuk pertama kalinya dengan tulus.

“Terima kasih.”

“Tapi ada satu syarat.”

“Apa?”

“Berhenti bilang kamu sudah tiga tahun tidak bekerja.”

Aku mengernyit.

“Memangnya?”

“Ratih, tiga tahun ini kamu mengelola usaha katering. Kamu bikin sistem pembukuan, mengatur pemasok, pelanggan, kas, inventori. Itu kerja. Cuma karena keluarga suamimu tidak menggajimu, bukan berarti itu bukan kerja.”

Aku tidak langsung menjawab.

Kalimat itu menancap dalam.

Selama ini aku sendiri ikut mengecilkan apa yang kulakukan.

Aku menyebut diriku “cuma bantu katering”.

Padahal usaha itu tumbuh hampir tiga kali lipat sejak aku mengurusnya.

Aku mengirim CV sore itu.

Tiga hari kemudian aku mengikuti wawancara daring.

Seminggu kemudian aku diterima.

Dengan gaji lebih tinggi daripada pekerjaan lamaku.

Ketika akhirnya kembali ke Surabaya, aku tidak pulang ke rumah Bu Endang.

Aku menyewa apartemen studio kecil dekat kantor.

Bagas datang pada malam pertama.

Dia berdiri di depan pintu membawa bunga dan makanan kesukaanku.

Wajahnya tampak jauh lebih kurus.

“Pulang, ya.”

Aku bersandar di pintu.

“Ini rumahku sekarang.”

“Mama sudah menyesal.”

“Bagus.”

“Rani juga.”

“Bagus.”

“Aku juga.”

Aku menatapnya lama.

“Mas, kalau rekaman itu tidak ada, apa yang akan terjadi?”

Bagas terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kalau kamera itu mati, kalau aku tidak punya bukti, apa kamu akan percaya aku?”

Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara.

Dan lagi-lagi, keheningan memberikan jawaban paling jujur.

Aku mengangguk pelan.

“Itulah masalah kita.”

“Ratih, aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

Aku tersenyum tipis.

“Tapi aku tidak harus tinggal sambil menunggu apakah perubahan itu benar-benar terjadi.”

Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Aku tidak mengambil apa pun dari usaha katering keluarga mereka.

Aku hanya meminta tiga belas juta uang pribadiku dikembalikan.

Pak Harun membayarnya sendiri.

Sebelum kami berpisah di pengadilan, dia meminta maaf.

Bu Endang tidak datang.

Rani menjalani konseling keuangan dan menjual mobilnya untuk membayar sebagian utang.

Sedangkan Bagas beberapa kali masih mengirim pesan.

Aku tidak membencinya.

Justru itu yang paling mengejutkanku.

Aku hanya tidak ingin kembali.

Lebaran tahun berikutnya, aku bangun pukul enam pagi di apartemenku.

Tidak ada enam belas menu.

Tidak ada celemek basah.

Tidak ada suara orang memerintah dari ruang tengah.

Aku membuat opor ayam satu panci kecil dan sambal goreng ati.

Ketika mencicipinya, aku tertawa.

Pedas.

Jauh lebih pedas daripada sambal yang membuat Bu Endang marah tahun lalu.

Pukul sembilan pagi, bel pintu berbunyi.

Dita datang membawa ketupat.

Kami makan sambil tertawa.

Lalu ponselku bergetar.

Sebuah transfer masuk.

Dua belas juta rupiah.

Pengirimnya Rani.

Keterangan transfer hanya berbunyi,

“Uang THR tahun lalu. Maaf karena Mbak yang harus membayar harga paling mahal untuk kesalahan saya.”

Aku menatap layar cukup lama.

Kemudian sebuah pesan menyusul.

“Aku baru paham sekarang. Waktu itu yang hilang sebenarnya bukan amplop Mama. Yang hampir hilang adalah hidup Mbak.”

Aku tidak membalas.

Aku meletakkan ponsel dan kembali ke meja makan.

Dita menyodorkan sambal kepadaku.

“Pedas?”

Aku mencicipinya.

“Lumayan.”

“Kurangi?”

Aku menggeleng sambil tersenyum.

“Tidak usah.”

Di luar jendela, suara takbir masih terdengar dari masjid di ujung jalan.

Setahun lalu, pada malam yang sama, aku meninggalkan sebuah rumah dengan satu koper dan tuduhan sebagai pencuri.

Kupikir aku sedang kehilangan keluarga.

Ternyata aku hanya sedang meninggalkan tempat yang terlalu lama membuatku kehilangan diriku sendiri.

Dan kadang-kadang, pintu yang dibanting di belakang kita bukanlah akhir dari sebuah rumah.

Itu adalah suara pertama dari hidup baru yang akhirnya terbuka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang