Semua orang mengira dia sudah meninggal—tetapi sang miliarder diam-diam selamat dan bersembunyi bersama seorang wanita sederhana… hingga pada suatu malam, ingatannya kembali dan sebuah kenyataan kejam akhirnya terungkap.

Petir menyambar begitu dekat hingga seluruh rumah kayu itu bergetar.

Adrian Wijaya berdiri di bawah atap yang bocor dengan tubuh basah kuyup, sementara di belakangnya Sari memeluk Raka yang masih gemetar setelah berhasil dikeluarkan dari gudang yang roboh.

Namun Adrian hampir tidak mendengar tangisan mereka.

Kepalanya terasa seperti dibelah dari dalam.

Satu demi satu gambar muncul di benaknya.

Gedung pencakar langit di Sudirman.

Ruang rapat berlapis kaca.

Logo Wijaya Artha Group.

Seorang perempuan mengenakan gaun putih yang menggenggam lengannya di sebuah pesta.

Dan seorang pria yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum.

Bram.

Adik kandungnya sendiri.

Adrian jatuh berlutut di tanah berlumpur.

“Dimas!”

Sari berlari menghampirinya.

Adrian mengangkat wajah. Tatapannya sudah berbeda.

Untuk pertama kalinya sejak ditemukan beberapa bulan lalu, matanya tidak lagi kosong.

“Nama saya bukan Dimas.”

Sari terdiam.

Adrian menarik napas berat.

“Nama saya Adrian Wijaya.”

Malam itu, setelah Raka dan Ayu tertidur, Adrian duduk di depan meja kayu kecil. Lampu darurat menjadi satu satunya penerangan karena listrik padam akibat badai.

Sari meletakkan secangkir teh hangat di hadapannya.

“Jadi semua ingatanmu sudah kembali?”

“Hampir semuanya.”

Adrian menatap kedua tangannya.

“Saya pemilik Wijaya Artha Group.”

Sari mengernyit.

Nama itu bahkan dikenal orang yang jarang mengikuti berita bisnis.

“Kamu serius?”

Adrian mengangguk.

“Sebelum kecelakaan, kekayaan saya mungkin lebih besar daripada seluruh desa ini.”

Sari justru tersenyum tipis.

“Lalu kenapa wajahmu seperti orang yang baru kehilangan segalanya?”

Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam.

Karena Sari benar.

Ingatan yang kembali bukan hanya membawa identitasnya.

Ia juga membawa kembali kehidupan yang selama beberapa bulan terakhir tanpa sadar telah ia lupakan.

Adrian mengingat ayahnya yang meninggal dan meninggalkan perusahaan kepadanya. Ia mengingat Bram, adiknya yang selalu merasa hidup di bawah bayang bayangnya.

Ia juga mengingat Vanessa.

Tunangan yang akan dinikahinya.

Cantik, berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga pengusaha terpandang.

Dan malam terakhir sebelum kecelakaan itu.

Adrian sedang menuju Bandung untuk bertemu seorang auditor internal bernama Hendra. Pria itu mengaku menemukan transaksi mencurigakan bernilai ratusan miliar rupiah dari beberapa anak perusahaan.

Hendra takut membicarakannya melalui telepon.

Adrian berangkat diam diam.

Namun di Tol Cipularang, sebuah truk tiba tiba memotong jalurnya.

Mobil Adrian menghantam pembatas.

Ia masih sadar ketika seseorang membuka pintu mobilnya.

Dalam ingatannya yang samar, Adrian melihat sepatu hitam dan mendengar suara seorang pria.

“Pastikan kali ini dia tidak kembali.”

Setelah itu semuanya gelap.

Adrian mengepalkan tangan.

“Seseorang mencoba membunuh saya.”

Sari menatapnya lama.

“Kalau begitu jangan pulang.”

Adrian menoleh.

“Mereka mengira kamu sudah mati, kan? Biarkan mereka tetap berpikir begitu sampai kamu tahu siapa yang melakukannya.”

Kalimat sederhana itu justru menjadi keputusan paling penting yang dibuat Adrian.

Keesokan harinya ia meminjam ponsel milik kepala desa.

Ia tidak menghubungi keluarganya.

Ia menghubungi satu orang yang selama dua puluh tahun bekerja untuk ayahnya.

Surya Mahendra, pengacara keluarga Wijaya.

Ketika mendengar suara Adrian, Surya tidak berbicara selama hampir sepuluh detik.

“Pak Adrian?”

“Saya masih hidup.”

Suara di seberang berubah gemetar.

“Ya Tuhan. Semua orang mengira Bapak meninggal.”

“Siapa yang memegang perusahaan sekarang?”

Surya terdiam.

“Pak Bram.”

Adrian sudah menduganya.

“Vanessa?”

Kali ini keheningan berlangsung lebih lama.

“Pak Adrian… saya rasa sebaiknya Bapak melihat sendiri.”

Dua hari kemudian Surya datang diam diam ke Indramayu.

Pria berusia hampir enam puluh tahun itu menangis ketika melihat Adrian.

Namun keterkejutannya berubah menjadi kegelisahan setelah Adrian menceritakan kecelakaan tersebut.

Surya membuka laptop.

“Banyak hal berubah sejak Bapak hilang.”

Ia menunjukkan laporan perusahaan.

Tiga minggu setelah Adrian dinyatakan hilang, dewan direksi menunjuk Bram sebagai pelaksana tugas presiden direktur.

Sebulan kemudian beberapa aset perusahaan dijual.

Rekening investasi dipindahkan.

Sejumlah direktur lama dipecat.

Kemudian Surya membuka sebuah foto.

Adrian membeku.

Bram berdiri di sebuah acara perusahaan.

Di sampingnya ada Vanessa.

Tangan perempuan itu melingkar di lengan Bram.

Keduanya tersenyum kepada kamera.

“Media menyebut mereka pasangan baru paling berpengaruh di Jakarta,” kata Surya pelan.

Adrian tidak berkata apa apa.

Anehnya, yang muncul bukan rasa patah hati.

Hanya rasa jijik.

Tetapi kejutan terbesar datang ketika Surya menunjukkan salinan dokumen transfer.

Dana perusahaan sebesar dua ratus delapan puluh miliar rupiah telah dipindahkan ke perusahaan cangkang di Singapura.

Tanda tangan persetujuannya menggunakan nama Adrian.

Tanggalnya dua hari setelah kecelakaan.

“Saya tidak pernah menandatangani ini.”

“Saya tahu.”

“Siapa yang menyerahkan dokumen tersebut?”

Surya menatapnya.

“Vanessa.”

Potongan ingatan terakhir seketika muncul.

Malam sebelum Adrian berangkat ke Bandung, Vanessa datang ke ruang kerjanya membawa anggur.

Ia bertanya tentang pertemuan dengan auditor.

Adrian menceritakan semuanya.

Termasuk tempat dan waktu keberangkatannya.

Adrian menutup mata.

Bukan musuh bisnis yang membocorkan perjalanannya.

Ia sendiri yang memberitahukannya kepada perempuan yang hendak dinikahinya.

Surya ingin segera membawa Adrian ke Jakarta.

Namun Adrian menolak.

“Saya ingin mereka percaya saya sudah mati.”

Selama dua minggu berikutnya, Adrian tetap tinggal di rumah Sari.

Dari tempat sederhana itu, ia menyusun langkah.

Surya mengumpulkan dokumen.

Seorang mantan kepala keamanan perusahaan melacak rekaman kamera.

Auditor Hendra ternyata masih hidup, tetapi bersembunyi di Yogyakarta setelah menerima ancaman.

Ketika akhirnya berhasil dihubungi, ia mengungkap fakta yang jauh lebih gelap.

Bram dan Vanessa telah menggelapkan uang perusahaan selama hampir tiga tahun.

Adrian terlalu sibuk mengejar ekspansi internasional hingga mempercayakan sebagian besar urusan internal kepada mereka.

Ketika Hendra menemukan transaksi palsu, mereka panik.

Kecelakaan itu dirancang untuk menutup semuanya.

Namun satu pertanyaan masih tersisa.

Jika mereka memang ingin membunuh Adrian, mengapa jasadnya tidak pernah ditemukan?

Jawabannya datang dari orang yang sama sekali tidak mereka duga.

Seorang sopir truk bernama Jajang datang menemui Surya.

Dialah pengemudi kendaraan yang memotong mobil Adrian malam itu.

Namun Jajang bersumpah tidak berniat membunuh siapa pun.

Ia dibayar untuk membuat kecelakaan kecil.

Setelah mobil Adrian keluar jalur, dua orang lain datang.

Jajang ketakutan dan melarikan diri.

Beberapa jam kemudian ia kembali karena merasa bersalah.

Adrian sudah tidak ada.

Rupanya tubuh Adrian terlempar ke lereng dan terbawa aliran air setelah hujan deras. Seorang pengemudi pikap menemukannya dalam keadaan hidup dan membawanya menuju puskesmas, tetapi dalam perjalanan Adrian yang kebingungan turun dan berjalan tanpa arah.

Berhari hari kemudian ia akhirnya sampai di daerah tempat Sari menemukannya.

Adrian selamat bukan karena rencana seseorang gagal.

Ia selamat karena serangkaian kebetulan kecil yang tidak dapat dikendalikan siapa pun.

Tiga minggu kemudian, Wijaya Artha Group mengadakan rapat pemegang saham luar biasa di Jakarta.

Agenda utamanya adalah mengangkat Bram sebagai presiden direktur permanen.

Ruangan dipenuhi pengusaha, komisaris, pengacara, dan wartawan.

Bram berdiri di podium dengan setelan mahal.

Vanessa duduk di barisan depan.

“Setelah kehilangan kakak saya,” ujar Bram, “saya berjanji akan meneruskan warisan yang ia tinggalkan.”

Tepuk tangan terdengar.

Lalu pintu ruang pertemuan terbuka.

Suara tepuk tangan berhenti satu demi satu.

Seorang pria berjalan masuk.

Setelan hitam sederhana.

Tubuh lebih kurus dibandingkan foto fotonya dahulu.

Bekas luka masih terlihat di pelipis.

Namun wajah itu tidak mungkin salah dikenali.

Gelas di tangan Vanessa jatuh ke lantai.

Bram memucat.

Adrian berjalan hingga ke depan ruangan.

“Lanjutkan,” katanya tenang. “Saya juga ingin mendengar bagaimana kamu akan meneruskan warisan orang yang kamu coba bunuh.”

Ruangan meledak dalam kegaduhan.

Bram mundur.

“Ini tidak mungkin.”

Adrian tersenyum.

“Saya juga sempat berpikir begitu.”

Polisi yang sudah menunggu di luar masuk beberapa detik kemudian.

Surya menyerahkan bukti transaksi, rekaman komunikasi, laporan auditor, dan kesaksian Jajang.

Vanessa mencoba meninggalkan ruangan.

Ia tidak sempat mencapai pintu.

Sebelum dibawa pergi, perempuan itu menatap Adrian dengan mata merah.

“Saya tidak pernah ingin kamu mati.”

Adrian menatapnya dingin.

“Tapi kamu tahu mereka akan mencelakai saya.”

Vanessa menangis.

“Bram bilang kecelakaannya hanya untuk membuatmu dirawat beberapa bulan. Kami cuma butuh waktu untuk mengambil kendali perusahaan.”

“Dan ketika mobil saya jatuh?”

Vanessa tidak mampu menjawab.

Adrian mengangguk pelan.

“Diam juga sebuah pilihan, Vanessa.”

Beberapa bulan berikutnya menjadi kekacauan terbesar dalam sejarah Wijaya Artha Group.

Bram dan beberapa orang lainnya ditetapkan sebagai tersangka atas berbagai perkara terkait penggelapan dan upaya mencelakai Adrian. Vanessa bekerja sama dengan penyidik untuk mengungkap aliran dana, tetapi tetap harus menghadapi konsekuensi atas keterlibatannya.

Adrian kembali menjadi pemimpin perusahaan.

Namun orang orang di kantor segera menyadari sesuatu telah berubah.

Ia tidak lagi bekerja sampai pukul dua pagi.

Ia tidak lagi mengukur manusia berdasarkan jabatan.

Beberapa aset mewahnya dijual.

Sebagian uang digunakan untuk membangun program pertanian dan fasilitas kesehatan di wilayah pedesaan.

Tetapi ada satu hal yang membuat media penasaran.

Setiap Jumat sore, mobil Adrian meninggalkan Jakarta menuju Indramayu.

Suatu sore, ia tiba di rumah Sari membawa sebuah map.

Sari sedang menjemur pakaian.

“Apa itu?”

“Surat kepemilikan.”

Sari langsung mengernyit.

“Jangan bilang kamu membeli rumah besar lagi.”

Adrian tertawa.

“Bukan.”

Ia menyerahkan map itu.

Di dalamnya terdapat dokumen lahan pertanian dan rumah yang selama ini ditempati Sari.

Tanah tersebut sebelumnya milik seorang rentenir yang sudah lama menagih utang peninggalan mantan suaminya.

Kini semuanya tercatat atas nama Sari.

Wajah perempuan itu berubah.

“Saya tidak bisa menerima ini.”

“Bisa.”

“Saya menolongmu bukan supaya dibayar.”

“Saya tahu.”

“Lalu kenapa?”

Adrian memandang sawah yang menguning di kejauhan.

“Karena selama hidup saya, orang selalu mendekati saya karena tahu siapa saya.”

Ia menatap Sari.

“Kamu satu satunya orang yang menolong saya ketika saya sendiri bahkan tidak tahu siapa saya.”

Mata Sari berkaca kaca.

Ayu berlari keluar rumah.

“Om Dimas!”

Adrian tertawa.

Sudah berkali kali ia menjelaskan bahwa namanya Adrian.

Namun bagi Ayu, ia tetap Dimas.

Raka mengikuti dari belakang sambil membawa layang layang rusak.

“Om, perbaiki ini.”

Adrian melepas jam tangan mahalnya dan meletakkannya di meja.

“Lima menit.”

Sari memperhatikannya duduk bersama kedua anak itu di teras.

Kemudian ia bertanya pelan, “Kamu tidak kangen kehidupanmu di Jakarta?”

Adrian berhenti mengikat benang layang layang.

“Dulu saya pikir kehidupan saya ada di sana.”

“Lalu sekarang?”

Adrian memandang rumah kayu yang pernah menjadi tempat perlindungannya.

“Sekarang saya tahu hidup bukan tempat kita paling berkuasa.”

Ia menatap Sari, Raka, dan Ayu.

“Hidup adalah tempat seseorang masih membuka pintu ketika kita datang tanpa membawa apa apa.”

Sari tidak menjawab.

Namun senyum kecil muncul di wajahnya.

Setahun kemudian, sebuah rumah baru berdiri tidak jauh dari rumah lama Sari.

Tidak besar.

Tidak memiliki pagar tinggi.

Di belakangnya terbentang sawah.

Orang desa sering melihat Adrian berada di sana ketika akhir pekan.

Kadang mengenakan kaus lusuh sambil memperbaiki pompa air.

Kadang membantu Raka belajar.

Kadang tertidur di teras ketika Ayu menggambar di sebelahnya.

Media pernah mencoba mencari tahu hubungan Adrian dengan Sari.

Ia hanya menjawab satu kalimat.

“Dia adalah orang yang menyelamatkan hidup saya.”

Namun ada satu rahasia yang bahkan Sari tidak ketahui sampai suatu malam.

Saat membersihkan lemari lama, Adrian menemukan pakaian yang dikenakannya ketika pertama kali ditemukan.

Di dalam lapisan jaket yang robek, jarinya menyentuh sesuatu.

Sebuah kartu memori kecil.

Adrian membawanya ke Jakarta.

Isinya rekaman suara.

Ternyata sebelum kecelakaan, Adrian sendiri telah mencurigai Bram.

Ia diam diam merekam percakapan terakhir mereka.

Suara Bram terdengar jelas.

Tetapi kemudian muncul suara lain.

Suara seorang perempuan.

Bukan Vanessa.

Adrian mendengarkan rekaman itu tiga kali.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

Perempuan itu berkata bahwa Adrian harus disingkirkan sebelum menemukan siapa sebenarnya yang mengendalikan rekening rahasia tersebut.

Adrian mengenal suara itu.

Sangat mengenalnya.

Suara ibunya sendiri.

Perempuan yang selama setahun terakhir selalu tampil di televisi sambil menangisi putranya yang hilang.

Adrian menutup laptop.

Di luar jendela kantornya, Jakarta menyala dengan jutaan lampu.

Dahulu kota itu adalah dunianya.

Sekarang ia justru merasa asing di dalamnya.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Sari muncul.

Raka menanyakan kapan kamu pulang. Ayu tidak mau tidur sebelum Om Dimas datang.

Adrian membaca pesan itu lama.

Kemudian ia mengambil kunci mobil.

Rekaman tersebut tidak akan ia abaikan.

Kebenaran tentang ibunya akan ia hadapi.

Namun bukan malam ini.

Malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian tahu persis ke mana ia ingin pulang.

Bukan ke rumah terbesar yang pernah dimilikinya.

Bukan kepada keluarga yang memiliki darah yang sama dengannya.

Melainkan kepada tiga orang sederhana yang pernah menerima seorang pria tanpa nama, tanpa uang, tanpa masa lalu, dan tanpa sedikit pun kepastian bahwa ia mampu membalas kebaikan mereka.

Karena kecelakaan itu memang hampir merenggut nyawa Adrian Wijaya.

Tetapi kehilangan ingatan justru menyelamatkannya dari kehidupan yang selama ini ia salah kira sebagai kebahagiaan.

Dan ketika semua ingatannya akhirnya kembali, Adrian baru memahami satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh kekayaan.

Keluarga bukan selalu tentang siapa yang memiliki darah yang sama.

Kadang keluarga adalah orang yang memilih untuk tidak meninggalkan kita ketika dunia bahkan sudah menganggap kita mati.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang