“Mas, kalau aku melahirkan malam ini, apa Mas masih mau tidur?”
Kalimat itu keluar begitu pelan dari mulut istriku hingga hampir tenggelam oleh suara air keran.
Aku berdiri membeku di ambang pintu dapur.
Pukul sepuluh malam. Rumah peninggalan almarhum ayahku di sebuah desa di Jawa Tengah sudah sepi. Lampu ruang tamu padam, sementara kedua kakak perempuanku beserta keluarga mereka telah tidur nyenyak di kamar masing-masing.
Namun, Rina, istriku yang sedang hamil delapan bulan, masih duduk di bangku plastik rendah, mencuci piring yang menumpuk hampir setinggi pinggangnya.
Kedua tangannya membengkak. Wajahnya pucat. Sesekali ia berhenti untuk memegangi perut dan mengatur napas.
Aku segera menghampirinya.
“Rina, kenapa kamu masih di sini?”
Ia menoleh, lalu tersenyum lemah.
“Sebentar lagi selesai, Mas. Tinggal beberapa panci.”
Aku melihat ke arah bak cuci. Masih ada dua panci besar, puluhan gelas, dan setumpuk mangkuk bekas acara tahlilan ayahku.
“Siapa yang menyuruhmu mengerjakan semuanya?”
Rina menunduk.
“Nggak ada yang menyuruh, Mas. Aku cuma membantu.”
Aku mengenal istriku. Setiap kali ia mengatakan tidak ada masalah sambil menghindari tatapanku, biasanya ada sesuatu yang sedang disembunyikannya.
Aku mematikan keran, mengambil spons dari tangannya, lalu membantunya berdiri.
Baru saja tubuhnya tegak, Rina meringis.
“Aduh, Mas.”
Aku langsung memegang bahunya.

“Kenapa?”
“Pinggangku sakit. Dari tadi perutku juga kadang terasa kencang.”
Dadaku berdebar.
“Sejak kapan?”
“Sehabis Magrib.”
“Kenapa nggak bilang?”
Rina terdiam cukup lama.
“Tadi aku mau naik ke kamar, tapi Mbak Sari bilang semua piring harus selesai malam ini. Besok pagi masih banyak pekerjaan.”
Aku merasakan sesuatu yang panas menjalar ke kepala.
Mbak Sari adalah kakak sulungku. Kakak keduaku bernama Wati. Keduanya sudah menikah dan tinggal di desa sebelah, tetapi setiap kali ada acara keluarga, mereka selalu datang bersama suami dan anak-anak mereka.
Aku menatap Rina.
“Kamu sudah makan malam?”
Ia menggeleng.
“Belum sempat. Tadi lauknya habis. Aku pikir nanti bikin telur setelah selesai mencuci.”
Aku hampir tidak percaya.
Sejak pagi, istriku memasak untuk puluhan orang, menyajikan makanan, membersihkan meja, dan sekarang mencuci semua peralatan. Sementara itu, ia bahkan belum mendapatkan makan malam.
Aku memeluknya dengan hati-hati.
“Maafkan Mas.”
Rina justru mengusap punggungku.
“Jangan marah, Mas. Ini kan rumah keluarga kita.”
“Justru karena ini rumah keluarga kita, kamu seharusnya diperlakukan seperti keluarga.”
Aku mengantarnya ke kamar, mengambilkan air hangat, lalu membuatkan telur dadar dan nasi dari sisa makanan di dapur.
Setelah memastikan ia duduk dengan nyaman, aku menghubungi nomor bidan desa yang diberikan tetangga. Mendengar keluhan perut kencang dan pembengkakan, bidan menyarankan agar Rina segera diperiksa, terutama karena kehamilannya belum cukup bulan.
Aku meminta tetangga mengantar kami ke klinik bersalin terdekat.
Hasil pemeriksaan membuatku semakin gelisah. Tekanan darah Rina lebih tinggi daripada biasanya. Bidan menyarankan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit malam itu juga.
Kami akhirnya pergi ke rumah sakit kabupaten. Setelah diperiksa dokter, Rina diminta beristirahat dan menjalani pemantauan karena ada tanda-tanda kontraksi yang perlu diwaspadai.
Dokter menatapku dengan serius.
“Istri Bapak membutuhkan istirahat. Jangan biarkan melakukan pekerjaan berat atau berdiri terlalu lama. Kalau kontraksinya teratur, keluar darah, atau gerakan bayi berkurang, segera kembali.”
Aku mengangguk berkali-kali.
Ketika kami pulang menjelang dini hari, Rina sudah sangat kelelahan.
Aku membantunya berbaring, kemudian duduk di samping tempat tidur sampai napasnya terdengar teratur.
Pagi harinya, sebelum matahari terbit, aku turun ke ruang tengah.
Kedua kakakku sedang menikmati teh hangat dan pisang goreng.
Mbak Sari melihatku sambil tersenyum.
“Wah, akhirnya bangun juga, anak Jakarta. Rina mana? Suruh cepat turun. Nanti orang-orang datang lagi buat beres-beres.”
Aku menarik kursi dan duduk di hadapan mereka.
“Rina tidak akan mengerjakan apa pun lagi.”
Mbak Wati mengangkat alis.
“Kenapa? Masih tidur?”
“Semalam aku membawanya ke rumah sakit.”
Tangan Mbak Sari berhenti di atas piring.
“Rumah sakit? Kenapa?”
“Karena dia kelelahan, tekanan darahnya meningkat, dan mengalami kontraksi. Dokter menyuruhnya beristirahat.”
Mbak Wati mendecakkan lidah.
“Perempuan hamil memang begitu. Dulu aku juga masih nyuci baju sampai mau melahirkan.”
Aku menatapnya.
“Kalau Mbak dulu mengalami hal sulit, bukan berarti Rina harus mengalami hal yang sama.”
Suasana langsung berubah.
Mbak Sari meletakkan gelasnya dengan keras.
“Kamu sekarang mau menyalahkan kami?”
“Aku mau bertanya. Kenapa istriku yang hamil delapan bulan harus mencuci piring sampai pukul sepuluh malam, sementara kalian tidur?”
“Kami juga capek!” sahut Mbak Wati.
“Capek karena apa? Sejak sore kalian duduk mengobrol. Bahkan makan malam Rina pun tidak kalian sisakan.”
Mbak Sari berdiri.
“Jaga bicaramu! Kami ini kakak-kakakmu!”
“Aku tahu. Tapi Rina juga istriku. Dan anak yang dikandungnya adalah tanggung jawabku.”
Aku menarik napas panjang.
“Besok, setelah kondisinya memungkinkan untuk bepergian dan dokter mengizinkan, aku akan membawa Rina kembali ke Jakarta. Istriku bukan pembantu yang bisa kalian perlakukan seenaknya.”
Kedua kakakku terdiam.
“Mulai sekarang, urus sendiri pekerjaan rumah kalian. Dan jangan pernah lagi meneleponku hanya untuk meminta uang.”
Wajah Mbak Wati seketika berubah.
“Jadi gara-gara istri, kamu mau memutus hubungan dengan saudara sendiri?”
“Bukan. Aku hanya berhenti membiarkan kalian memanfaatkan rasa tanggung jawabku.”
Mbak Sari tertawa sinis.
“Memangnya selama ini kamu sudah memberi apa?”
Pertanyaan itu membuatku terpaku.
Selama tujuh tahun bekerja di Jakarta, aku rutin mengirim uang kepada kedua kakakku. Awalnya untuk biaya sekolah keponakan, kemudian untuk memperbaiki rumah, membayar cicilan motor, dan membantu usaha suami mereka.
Aku tidak pernah menghitung jumlahnya.
Tetapi Rina pernah menghitung.
Enam bulan sebelumnya, ketika kami sedang menyusun anggaran persalinan, ia menunjukkan catatan transfer dari rekening kami.
Dalam tiga tahun terakhir saja, jumlah bantuan kepada kedua kakakku mencapai lebih dari seratus delapan puluh juta rupiah.
Rina tidak pernah melarangku membantu keluarga.
Ia hanya pernah berkata, “Mas, kita juga harus menyiapkan masa depan anak kita.”
Saat itu aku malah merasa tersinggung.
Sekarang aku mengerti betapa tidak adilnya sikapku.
“Kalau Mbak merasa aku tidak pernah membantu, mulai hari ini memang tidak perlu ada bantuan lagi.”
Mbak Sari hendak membalas, tetapi suara seseorang terdengar dari belakang.
“Cukup, Sari.”
Ibuku berdiri di pintu kamar.
Tubuhnya kurus, rambutnya hampir seluruhnya memutih. Namun, tatapannya pagi itu begitu tajam.
“Ibu sudah dengar semuanya.”
Mbak Wati segera menghampirinya.
“Bu, lihat sendiri kan? Adik kita sekarang berubah gara-gara istrinya.”
Ibu menggeleng.
“Bukan adikmu yang berubah. Kalian yang sudah keterlaluan.”
Aku terkejut.
Selama ini, Ibu jarang mencampuri pertengkaran kami. Beliau selalu meminta kami mengalah demi menjaga kerukunan keluarga.
Namun, kali ini suaranya terdengar tegas.
“Kemarin Ibu lihat Rina mengangkat panci besar sendirian. Ibu suruh dia berhenti, tapi Sari bilang pekerjaan itu harus selesai sebelum malam.”
Mbak Sari langsung menyela.
“Kan cuma mencuci piring, Bu!”
“Kalau cuma mencuci piring, kenapa kamu tidak melakukannya sendiri?”
Tidak ada jawaban.
Ibu kemudian duduk di sampingku.
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu, Nak.”
Beliau mengeluarkan sebuah buku tulis kecil dari saku bajunya.
Sampulnya sudah lusuh.
“Ini catatan pengeluaran rumah sejak Bapakmu meninggal.”
Aku membukanya.
Di dalamnya tertulis tanggal, jumlah uang, dan keperluan rumah tangga.
Ada satu hal yang membuatku bingung.
Setiap bulan aku mengirim tiga juta rupiah untuk kebutuhan Ibu. Namun, dalam buku itu, uang yang diterima Ibu hanya satu juta rupiah.
Aku mengangkat kepala.
“Bu, kenapa cuma satu juta?”
Ibu tampak ragu.
“Katanya dua juta lagi dipakai untuk biaya administrasi dan tabungan keluarga.”
“Siapa yang bilang?”
Ibu menatap Mbak Sari.
Kakak sulungku langsung memalingkan wajah.
Aku merasakan dadaku sesak.
“Mbak, uang yang kukirim ke rekeningmu selama ini tidak semuanya diberikan kepada Ibu?”
Mbak Sari terdiam.
Aku kembali bertanya.
“Jawab, Mbak.”
“Ya, sebagian kami pakai. Tapi itu juga untuk keluarga!”
“Tanpa memberitahuku?”
“Kamu kan punya gaji besar di Jakarta!”
Aku tertawa getir.
“Jadi karena aku bekerja di Jakarta, kalian merasa berhak menggunakan uangku sesuka hati?”
Mbak Wati mulai menangis.
“Kamu tidak tahu susahnya hidup di kampung!”
“Aku tahu hidup kalian tidak mudah. Makanya aku membantu. Tapi kenapa harus berbohong?”
Tiba-tiba Ibu mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik buku.
“Masih ada satu hal lagi.”
Di dalam amplop itu terdapat beberapa kuitansi pembayaran obat, pemeriksaan kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari.
Semuanya atas nama Rina.
Aku membeku.
“Ini apa, Bu?”
Ibu tersenyum sedih.
“Selama dua tahun terakhir, Rina diam-diam mengirim uang langsung kepada Ibu. Katanya jangan bilang kepadamu karena dia tidak mau kamu merasa terbebani.”
Aku menatap angka-angka pada kuitansi itu.
Ada pembayaran obat, biaya kontrol dokter, bahkan pembelian kasur baru untuk kamar Ibu.
Selama ini aku mengira semua kebutuhan Ibu sudah terpenuhi dari uang yang kukirim melalui Mbak Sari.
Ternyata istriku mengetahui ada sesuatu yang tidak beres.
Dan alih-alih membuat keributan, ia memilih memastikan Ibu tetap mendapatkan perawatan.
“Kenapa Rina tidak pernah cerita?” tanyaku lirih.
Ibu mengusap matanya.
“Dia bilang kamu sangat menyayangi kedua kakakmu. Dia takut kalau membicarakan uang, hubungan kalian jadi rusak.”
Aku tidak mampu berkata-kata.
Perempuan yang selama ini selalu mengalah ternyata diam-diam menjaga keluargaku jauh lebih baik daripada diriku sendiri.
Saat itulah Mbak Sari kembali berbicara.
“Kalau Rina memang sebaik itu, kenapa sekarang dia membuat adik kita membenci kami?”
Aku berdiri.
“Jangan salahkan Rina. Dia bahkan memintaku tidak marah kepada kalian.”
Mbak Wati menunduk.
Namun, Mbak Sari masih berkeras.
“Kalau kamu berhenti membantu, bagaimana cicilan rumahku?”
Aku menatapnya lama.
“Rumah Mbak?”
Ia terdiam.
“Bukankah tahun lalu Mbak bilang uang lima puluh juta yang kupinjamkan dipakai untuk biaya operasi suami Mbak?”
Wajahnya memucat.
Mbak Wati spontan menoleh.
“Operasi apa? Mas Darto tahun lalu sehat-sehat saja.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku merasa seperti baru saja ditampar.
“Mbak Sari, uang itu sebenarnya dipakai untuk apa?”
Ia menggigit bibir.
Setelah beberapa saat, jawabannya keluar dengan suara hampir tidak terdengar.
“Uang muka rumah kontrakan yang mau kami beli.”
Aku memejamkan mata.
Lima puluh juta rupiah itu berasal dari tabungan yang kukumpulkan bersama Rina untuk membeli rumah pertama kami di Jakarta.
Saat itu, Rina sedang menjalani program kehamilan. Kami menunda membeli rumah karena aku mengatakan ada keadaan darurat dalam keluarga.
Rina menyetujuinya tanpa mengeluh.
Ternyata keadaan darurat itu tidak pernah ada.
Aku mengambil ponsel dan membuka riwayat transfer.
“Mbak, uang itu harus dikembalikan. Kita buat kesepakatan tertulis dan jadwal cicilan yang realistis. Kalau Mbak tidak mau menyelesaikannya baik-baik, aku akan mencari bantuan hukum.”
Mbak Sari menangis.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus segera menenangkannya.
Aku hanya berkata, “Aku tetap adik kalian. Tapi menjadi saudara bukan berarti kalian boleh berbohong dan menyakiti keluargaku.”
Ketika aku kembali ke kamar, Rina sudah bangun.
Ia duduk bersandar pada bantal sambil memegang perutnya.
“Mas, tadi ada ribut-ribut?”
Aku duduk di sampingnya.
“Maafkan aku, Rin.”
Ia mengerutkan kening.
“Kenapa minta maaf terus?”
“Karena aku terlalu sibuk menjadi adik yang baik sampai lupa menjadi suami yang baik.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
Aku menggenggam tangannya.
“Aku sudah tahu soal uang yang kamu kirim ke Ibu.”
Rina terdiam.
“Mas marah?”
“Tidak. Aku justru malu.”
Air matanya akhirnya jatuh.
“Aku cuma nggak mau Ibu kekurangan obat, Mas. Beliau sudah seperti ibuku sendiri.”
Aku memeluknya.
Di tengah pelukan itu, Rina tiba-tiba menegang.
Tangannya mencengkeram lenganku.
“Mas, perutku kencang lagi.”
Aku segera mengambil ponsel.
Kali ini, aku tidak menunggu.
Kami langsung kembali ke rumah sakit.
Dokter memeriksa Rina dan memutuskan untuk merawatnya karena kontraksi kembali muncul. Selama dua hari berikutnya, aku hampir tidak meninggalkan sisinya.
Untungnya, kondisi Rina berangsur stabil. Kontraksinya mereda, tekanan darahnya membaik, dan dokter akhirnya mengizinkan kami pulang dengan pesan agar ia beristirahat serta menjalani pemeriksaan lanjutan.
Aku tidak langsung membawanya menempuh perjalanan jauh ke Jakarta.
Kami tinggal sementara di rumah seorang kerabat dekat rumah sakit sampai dokter memastikan perjalanan cukup aman.
Selama masa itu, Ibu datang setiap hari membawa makanan.
Kedua kakakku tidak muncul.
Namun, pada hari kelima, Mbak Wati datang sendirian.
Ia membawa sekotak buah dan sebuah amplop.
“Aku mau minta maaf sama Rina,” katanya dengan mata sembap.
Rina mempersilakannya duduk.
Mbak Wati menunduk.
“Aku selama ini ikut-ikutan Mbak Sari. Aku pikir karena kamu dari Jakarta, kamu pasti terbiasa hidup enak. Aku iri karena adik kami selalu membelamu.”
Rina menggeleng pelan.
“Aku tidak pernah ingin merebut adik Mbak. Aku cuma ingin kita saling menghargai.”
Mbak Wati menangis.
Ia menyerahkan amplop itu kepadaku.
“Ini sebagian uang yang pernah kupinjam. Belum semuanya. Sisanya akan kucicil.”
Aku menerimanya.
Bukan karena jumlahnya, melainkan karena untuk pertama kalinya kakakku mengakui tanggung jawabnya.
Sebulan kemudian, setelah kami kembali ke Jakarta, Rina melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat.
Kami menamainya Alya.
Ketika aku menggendongnya untuk pertama kali, seluruh kejadian di kampung terlintas kembali.
Aku teringat Rina yang duduk sendirian di dapur, tangannya memerah, perutnya besar, sementara aku tidur tanpa mengetahui penderitaannya.
Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu.
Beberapa minggu setelah Alya lahir, Ibu datang ke Jakarta.
Beliau membawa sebuah kotak kayu kecil peninggalan almarhum Bapak.
“Dulu Bapakmu berpesan agar Ibu memberikan ini kepadamu setelah kamu punya anak,” katanya.
Di dalamnya terdapat sebuah surat tulisan tangan.
Aku mengenali tulisan Bapak yang sedikit miring ke kanan.
Anakku, kalau suatu hari kamu menjadi kepala keluarga, ingatlah bahwa tanggung jawabmu bukan hanya mencari uang. Kamu harus menjadi tempat paling aman bagi istri dan anakmu. Jangan sampai orang yang paling tulus mencintaimu justru menjadi orang yang paling sering kamu biarkan terluka.
Aku membaca surat itu berulang kali.
Di bagian bawah, ada satu kalimat yang membuat air mataku jatuh.
Bapak bangga kalau kamu bisa membantu saudara-saudaramu. Tetapi Bapak akan jauh lebih bangga kalau kamu tahu kapan harus berkata cukup.
Aku menatap Ibu.
“Bapak menulis ini kapan?”
“Beberapa bulan sebelum meninggal. Waktu itu dia melihat kamu terus mengirim uang kepada kakak-kakakmu, padahal kamu sendiri masih mengontrak.”
Ibu tersenyum tipis.
“Bapakmu pernah bilang, anak laki-laki yang baik bukan anak yang selalu menuruti semua permintaan keluarga. Anak yang baik adalah anak yang berani melakukan hal benar, meskipun keluarganya sendiri tidak menyukainya.”
Aku menunduk, mencium tangan Ibu.
Di kamar, Rina sedang menidurkan Alya.
Aku menghampiri mereka, lalu duduk di tepi tempat tidur.
“Rin, aku mau tanya sesuatu.”
“Apa, Mas?”
“Kalau waktu bisa diputar kembali, apa kamu masih mau menikah denganku?”
Rina menatapku cukup lama.
Kemudian ia tersenyum.
“Aku masih mau menikah denganmu, Mas. Tapi kali ini, aku ingin kamu lebih cepat sadar kalau aku juga butuh dijaga.”
Aku tertawa kecil sambil mengusap air mata.
“Iya. Aku janji.”
Enam bulan kemudian, hubungan kami dengan kedua kakakku perlahan membaik.
Mbak Wati menepati janji cicilannya. Mbak Sari akhirnya meminta maaf setelah suaminya mengetahui kebohongan mengenai uang operasi. Ia mulai mengembalikan uang sesuai kemampuannya, meskipun hubungan kami belum sepenuhnya pulih.
Aku tetap membantu biaya pengobatan Ibu, tetapi kini uangnya kukirim langsung kepada beliau. Semua pengeluaran keluarga kecil kami juga selalu kubicarakan bersama Rina.
Suatu sore, ketika Alya mulai belajar duduk, ponselku berdering.
Mbak Sari menelepon.
Aku mengangkatnya dengan sedikit waspada.
“Assalamualaikum, Dik.”
“Waalaikumsalam, Mbak.”
“Aku cuma mau tanya. Rina sama Alya sehat?”
“Alhamdulillah, sehat.”
Ia terdiam sebentar.
“Kalau nanti kalian pulang kampung, bilang sama Rina, ya. Dia nggak perlu masuk dapur. Biar aku yang masak.”
Aku tersenyum.
“Baik, Mbak.”
Setelah telepon ditutup, Rina bertanya siapa yang menelepon.
Aku menceritakan semuanya.
Ia tersenyum lega.
“Syukurlah, Mas.”
Aku menatap perempuan yang duduk di hadapanku itu.
Dulu aku mengira menjaga keutuhan keluarga berarti selalu mengalah, selalu memberi, dan tidak pernah menolak permintaan saudara.
Ternyata aku keliru.
Kadang, keluarga justru bisa diselamatkan ketika seseorang berani menetapkan batas.
Dan malam ketika aku menemukan istriku mencuci piring sendirian pada pukul sepuluh, aku hampir kehilangan dua orang paling berharga dalam hidupku.
Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi menganggap pengorbanan Rina sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya.
Karena cinta bukan tentang siapa yang paling kuat menanggung penderitaan.
Cinta adalah tentang siapa yang bersedia menghentikan penderitaan itu sebelum semuanya terlambat.
