PADA MALAM PERNIKAHAN MEREKA, SEORANG PRIA PERLAHAN MEMBUKA KERAH YANG MENUTUPI LEHER ISTRINYA—DAN IA LANGSUNG TERDIAM KETIKA MELIHAT RAMBUT LEBAT YANG PANJANGNYA HAMPIR LIMA SENTIMETER. IA MENGAMBIL LAMPU MINYAK TUA DAN MENGARAHKAN CAHAYANYA… NAMUN KETIKA MELIHAT KAKI ISTRINYA, TUBUHNYA SEMAKIN MEMBEKU. “YA ALLAH… SEBENARNYA APA YANG TERJADI PADAMU?”

“Ada alasan mengapa sejak kecil aku tidak pernah membiarkan siapa pun melihat tubuhku.”

Kalimat itu keluar dari bibir Sari dengan suara nyaris tak terdengar.

Ardi masih berdiri di hadapannya, menggenggam lampu minyak yang cahayanya bergetar tertiup angin dari celah jendela. Di luar, hujan mengguyur desa mereka di lereng Gunung Sindoro tanpa henti.

Malam yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan mereka justru berubah menjadi malam penuh pertanyaan.

Ardi meletakkan lampu di meja.

“Kalau kamu belum siap cerita, tidak apa-apa. Tapi aku ingin tahu siapa yang membuat luka-luka itu.”

Sari menggeleng cepat.

“Mas akan menyesal menikahiku.”

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Karena dulu ada orang yang hampir mati setelah mengetahui rahasiaku.”

Ardi terdiam.

Sari menatap pintu kamar seolah takut seseorang sedang mendengarkan.

“Mas, sebelum aku cerita, tolong kunci pintunya.”

Ardi menurut.

Setelah memastikan pintu terkunci, ia kembali duduk di lantai, menjaga jarak agar istrinya tidak merasa terancam.

Sari menarik napas panjang.

“Waktu umurku delapan tahun, ibuku pernah membawaku ke sebuah rumah di tengah perkebunan teh. Katanya, di sana ada orang yang bisa menyembuhkan penyakitku.”

“Penyakit apa?”

Sari perlahan membuka kancing paling atas bajunya.

Rambut kasar berwarna hitam tumbuh di sepanjang bagian belakang leher hingga bahunya. Sebagian tampak lebih panjang daripada rambut manusia pada umumnya.

“Sejak lahir, tubuhku memang begini. Dokter pernah bilang aku punya kelainan bawaan yang sangat langka. Tapi ayahku tidak percaya.”

“Lalu?”

“Ayah bilang ada sesuatu yang menumpang di tubuhku.”

Sari menunduk.

“Dan orang yang katanya bisa menyembuhkanku itu justru membuat semuanya menjadi lebih buruk.”

Namanya Mbah Wiryo.

Dahulu, lelaki itu dikenal sebagai orang pintar yang tinggal di sebuah rumah tua dekat perkebunan teh Tambi.

Ayah Sari, Darsono, merupakan pedagang hasil bumi yang cukup terpandang. Ia sangat menjaga nama baik keluarga.

Ketika mengetahui putrinya memiliki pertumbuhan rambut yang tidak biasa, Darsono merasa malu.

Ia melarang Sari berenang bersama teman-temannya, mengenakan pakaian pendek, bahkan mengikuti kegiatan olahraga di sekolah.

Ibunya, Lastri, beberapa kali mencoba membawa Sari ke dokter kulit di Wonosobo. Namun setiap kali pemeriksaan hendak dilanjutkan ke rumah sakit yang lebih besar, Darsono selalu membatalkannya.

Sampai suatu malam, Darsono membawa pulang Mbah Wiryo.

“Orang itu bilang tubuhku harus dibersihkan dengan cara khusus,” ujar Sari.

Tangannya mulai gemetar.

“Selama empat puluh malam, aku dibawa ke rumahnya.”

Ardi merasakan dadanya sesak.

“Apa yang dia lakukan?”

Sari menyingkap sedikit kain di pergelangan kakinya.

Di antara rambut yang tumbuh lebat terlihat beberapa bekas luka melingkar, tersusun hampir sejajar.

“Dia mengikat kakiku dengan tali kasar. Katanya supaya sesuatu di dalam tubuhku tidak kabur.”

Ardi mengepalkan tangan.

“Ya Allah…”

“Setiap kali aku menangis, dia bilang tangisanku adalah bukti bahwa pengobatannya berhasil.”

Sari mengusap pipinya.

“Ibuku akhirnya mengetahui semuanya. Dia datang menjemputku tanpa izin ayah.”

“Apa yang terjadi setelah itu?”

Sari terdiam cukup lama.

“Keesokan harinya, ibu ditemukan meninggal di jurang.”

Suara hujan mendadak terasa begitu keras.

“Polisi bilang kecelakaan. Mobil ibu tergelincir ketika hujan. Tapi aku tidak pernah percaya.”

“Kenapa?”

“Karena malam sebelum ibu meninggal, aku mendengar dia bertengkar dengan ayah.”

Sari menatap Ardi.

“Ibu bilang dia akan melaporkan seseorang ke polisi. Ayah mengancam akan mengambilku darinya.”

Ardi mencoba menenangkan istrinya.

“Kamu pernah menceritakan ini kepada orang lain?”

“Pernah. Kepada bibiku.”

“Lalu?”

“Dua minggu kemudian, rumah bibi terbakar.”

Ardi merinding.

“Bibimu meninggal?”

“Tidak. Dia selamat. Tapi setelah itu dia pindah ke Semarang dan tidak pernah mau membicarakan keluargaku lagi.”

Ardi memandangi bekas luka di kaki istrinya.

Selama satu setengah tahun mengenal Sari, ia hanya mengetahui bahwa perempuan itu tinggal bersama ayahnya yang sudah tua dan jarang keluar rumah.

Darsono bahkan tidak menghadiri akad nikah mereka.

Sari mengatakan ayahnya sedang sakit.

Kini Ardi mulai mempertanyakan semuanya.

“Kenapa kamu masih tinggal bersama ayahmu setelah kejadian itu?”

“Karena aku tidak punya tempat lain. Setelah lulus SMA, aku bekerja di toko bahan makanan. Semua gajiku harus kuserahkan kepada ayah.”

“Kenapa tidak pergi?”

Sari tersenyum getir.

“Mas pikir aku tidak pernah mencoba?”

Ia menunjukkan bekas luka kecil di pergelangan tangannya.

“Waktu umur sembilan belas tahun, aku pernah kabur ke rumah teman di Temanggung. Dua hari kemudian, ayah menemukanku.”

Sari menarik kembali lengan bajunya.

“Sejak itu aku tidak berani mencoba lagi.”

Ardi meraih tangan istrinya dengan hati-hati.

“Sekarang kamu tidak perlu kembali ke sana.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Sari menatapnya dengan sedikit harapan.

Namun harapan itu segera lenyap ketika terdengar suara ketukan dari pintu depan.

Tok.

Tok.

Tok.

Ardi melihat jam dinding.

Pukul sebelas lewat empat puluh tujuh menit.

“Siapa malam-malam begini?” gumamnya.

Sari mendadak pucat.

“Mas, jangan buka.”

Ketukan terdengar lagi.

Kali ini lebih keras.

“Ardi! Buka pintunya!”

Suara lelaki tua terdengar dari luar.

Sari langsung mencengkeram tangan suaminya.

“Itu ayah.”

Ardi berdiri.

“Tenang. Aku yang bicara.”

“Jangan, Mas!”

Namun suara Darsono kembali menggema.

“Ayah tahu Sari ada di dalam! Suruh dia keluar!”

Ardi membuka jendela kecil di samping pintu.

Di teras berdiri Darsono dengan jas hujan hitam. Di belakangnya terlihat sebuah mobil pikap tua.

“Ada apa, Pak? Sudah malam.”

Darsono tidak menjawab pertanyaan itu.

“Mana Sari?”

“Dia sedang istirahat.”

“Panggil sekarang.”

“Kalau ada urusan, besok pagi saja.”

Wajah Darsono mengeras.

“Kamu tidak tahu perempuan macam apa yang kamu nikahi.”

Ardi menahan amarah.

“Saya tahu dia istri saya.”

Darsono mendekatkan wajah ke jendela.

“Kalau kamu sudah melihat tubuhnya, berarti kamu juga harus tahu akibatnya.”

Ardi terdiam.

“Akibat apa?”

Darsono menyeringai.

“Perempuan itu membawa kesialan. Ibunya mati gara-gara dia.”

Dari dalam kamar terdengar suara benda jatuh.

Sari rupanya mendengar semuanya.

Ardi menatap mertuanya dengan dingin.

“Pulanglah, Pak.”

“Kamu berani mengusir saya?”

“Saya tidak akan membiarkan Bapak menghina istri saya.”

Darsono memukul daun pintu.

“Kamu akan menyesal!”

Ardi menutup jendela dan mengunci pengaitnya.

Beberapa menit kemudian, suara mesin mobil terdengar menjauh.

Ketika Ardi kembali ke kamar, Sari sedang duduk di lantai sambil memeluk lutut.

“Dia tidak akan berhenti, Mas.”

Ardi berjongkok di hadapannya.

“Kalau begitu, kita cari bantuan.”

Sari menggeleng.

“Tidak ada yang akan percaya.”

“Aku percaya.”

Perempuan itu menangis lagi.

Namun kali ini, Ardi tidak melihat ketakutan yang sama di matanya.

Ada sesuatu yang mulai berubah.

Keesokan paginya, Ardi membawa Sari ke sebuah klinik di pusat kota Wonosobo.

Dokter yang memeriksanya, dr. Maya, tampak terkejut melihat kondisi kulit Sari, tetapi tetap berbicara dengan tenang.

“Pertumbuhan rambut seperti ini bisa berkaitan dengan hipertrikosis, kondisi medis yang menyebabkan rambut tumbuh berlebihan di bagian tubuh tertentu.”

Sari menunduk.

“Jadi saya bukan terkena kutukan, Dok?”

Dokter Maya menggeleng.

“Tidak ada alasan medis untuk menganggap ini kutukan. Kita perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui jenis dan penyebabnya.”

Dokter itu kemudian memperhatikan bekas luka di kaki Sari.

“Kalau bekas ini, sepertinya bukan akibat pertumbuhan rambut.”

Sari terdiam.

“Apakah kamu pernah mengalami kekerasan?”

Pertanyaan itu membuat air matanya kembali mengalir.

Ardi menggenggam tangannya.

Setelah beberapa menit, Sari mulai menceritakan semuanya.

Dokter Maya mendengarkan tanpa menyela.

Selesai pemeriksaan, ia menyarankan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit dan membantu mereka mendapatkan informasi mengenai layanan pendampingan korban kekerasan.

Namun sebelum meninggalkan klinik, Sari tiba-tiba mengingat sesuatu.

“Mas, aku masih menyimpan buku catatan ibu.”

Ardi menoleh.

“Buku apa?”

“Dulu ibu menyuruhku menyembunyikannya. Katanya, kalau suatu hari aku merasa tidak aman, aku harus membawanya kepada orang yang benar-benar bisa dipercaya.”

“Di mana bukunya?”

“Di rumah ayah.”

Ardi menghela napas.

“Kita tidak bisa mengambilnya sembarangan.”

“Aku tahu tempatnya. Di dalam kotak jahit ibu, di lemari kamarku.”

Mereka akhirnya menghubungi Bibi Ratna di Semarang.

Awalnya perempuan itu menolak berbicara.

Namun ketika Sari menyebut buku catatan Lastri, suara bibinya berubah.

“Sari, dengarkan Bibi baik-baik. Jangan kembali ke rumah ayahmu sendirian.”

“Bibi tahu isi buku itu?”

Ratna terdiam.

Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat Sari hampir menjatuhkan telepon.

“Ibumu tidak meninggal karena kecelakaan biasa.”

Sari membeku.

“Apa maksud Bibi?”

“Bibi sudah menunggu bertahun-tahun sampai kamu cukup aman untuk mendengar semuanya.”

Ratna mengaku pernah menerima pesan dari Lastri beberapa jam sebelum kematiannya.

Dalam pesan itu, Lastri mengatakan telah menemukan bukti bahwa Mbah Wiryo bukan sekadar melakukan pengobatan palsu.

Lelaki tersebut menerima uang dari sejumlah keluarga untuk melakukan ritual yang melibatkan anak-anak dengan kondisi medis tertentu.

Darsono diduga membantu mencarikan keluarga yang bersedia membayar.

Lastri ingin melaporkan praktik itu.

Namun sebelum sempat menyerahkan seluruh bukti, ia meninggal.

“Kenapa Bibi tidak melapor?” tanya Sari sambil menangis.

“Bibi sudah mencoba. Tapi waktu itu Bibi cuma punya pesan singkat dan kecurigaan. Setelah rumah Bibi dibakar, Bibi takut kamu yang akan menjadi sasaran berikutnya.”

Ratna menghela napas.

“Bibi tidak membenarkan keputusan Bibi diam selama ini. Bibi menyesal setiap hari.”

Sari memejamkan mata.

“Lalu kenapa Bibi tidak pernah menjemputku?”

“Bibi pernah datang. Ayahmu bilang kamu tidak mau bertemu Bibi.”

Sari menangis semakin keras.

Selama bertahun-tahun, Darsono mengatakan bahwa keluarga ibunya telah membuangnya karena malu.

Ternyata semuanya kebohongan.

Sore itu, Ratna datang ke Wonosobo bersama seorang pengacara yang dikenalnya.

Mereka mendatangi kantor polisi untuk melaporkan dugaan kekerasan yang dialami Sari dan menyerahkan pesan lama Lastri sebagai petunjuk awal.

Polisi kemudian membantu menindaklanjuti informasi mengenai buku catatan tersebut.

Dua hari kemudian, buku itu berhasil ditemukan.

Sari mengenali sampul birunya yang sudah lusuh.

Di halaman pertama tertulis nama ibunya.

Lastri Purnamasari.

Tangan Sari bergetar ketika membukanya.

Sebagian besar halaman berisi tanggal pemeriksaan dokter, obat yang pernah diberikan, serta catatan mengenai pertumbuhan rambut Sari sejak kecil.

Namun di bagian belakang terdapat beberapa nama, tanggal, dan jumlah uang.

Salah satunya membuat Ardi terdiam.

Darsono.

Di samping nama itu tercatat sejumlah pembayaran dari keluarga-keluarga yang pernah membawa anak mereka kepada Mbah Wiryo.

Pada halaman terakhir, Lastri menulis sebuah kalimat.

Jika sesuatu terjadi kepadaku, tolong selamatkan Sari. Dia bukan anak yang membawa kutukan. Dia hanya anak kecil yang membutuhkan perlindungan.

Sari menutup mulutnya.

Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, ia merasa mendengar suara ibunya kembali.

Penyelidikan berlangsung selama beberapa minggu.

Mbah Wiryo ternyata telah meninggal lima tahun sebelumnya.

Namun beberapa mantan korban masih hidup.

Setelah mendapat pendampingan, mereka mulai berani memberikan keterangan.

Salah satunya seorang lelaki bernama Bagas, yang dahulu dibawa ke rumah Mbah Wiryo karena memiliki kelainan kulit.

Bagas mengaku pernah melihat Darsono menerima uang dari orang tua pasien.

Kesaksian itu, bersama dokumen dan bukti lain yang berhasil dikumpulkan, membuat penyelidikan semakin berkembang.

Darsono akhirnya diperiksa secara intensif.

Pada awalnya ia membantah semuanya.

Namun ketika penyidik menunjukkan catatan pembayaran dan keterangan para saksi, sikapnya berubah.

Ia mengakui pernah membantu kegiatan Mbah Wiryo demi mendapatkan uang.

Tetapi mengenai kematian Lastri, ia tetap bersikeras tidak terlibat.

Hingga suatu hari, sebuah informasi baru muncul.

Seorang mantan sopir keluarga menghubungi polisi setelah mengetahui kasus tersebut kembali diselidiki.

Lelaki itu mengaku pernah diminta Darsono mengambil mobil Lastri dari sebuah gudang pada malam sebelum mobil tersebut ditemukan di jurang.

Keterangan itu membuka arah penyelidikan baru.

Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap bukti-bukti yang masih tersedia, polisi menemukan indikasi bahwa kecelakaan Lastri kemungkinan telah direkayasa.

Darsono kemudian ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara yang berkaitan dengan kematian istrinya.

Ketika kabar itu sampai kepada Sari, ia tidak bersorak.

Ia hanya duduk diam di samping jendela.

Ardi menghampirinya.

“Kamu baik-baik saja?”

Sari menggeleng.

“Aku tidak tahu harus merasa apa.”

Ardi duduk di sampingnya.

“Tidak apa-apa kalau kamu belum tahu.”

“Aku menghabiskan hampir seluruh hidupku dengan percaya bahwa aku penyebab kematian ibu.”

Suaranya pecah.

“Padahal ibu meninggal ketika berusaha menyelamatkanku.”

Ardi memeluknya.

“Kamu tidak pernah menjadi penyebab semua itu.”

Beberapa bulan berlalu.

Sari mulai menjalani perawatan kulit secara bertahap. Dokter menjelaskan bahwa pertumbuhan rambutnya mungkin tidak dapat dihilangkan sepenuhnya dan pilihan perawatan harus disesuaikan dengan kondisi kulitnya.

Sari juga mengikuti konseling untuk memulihkan trauma masa kecilnya.

Perubahannya tidak terjadi dalam semalam.

Kadang ia masih terbangun karena mimpi buruk.

Kadang suara ketukan pintu membuat tubuhnya gemetar.

Namun sekarang ia tidak lagi menghadapi semuanya sendirian.

Suatu pagi, Ardi menemukan istrinya berdiri di depan cermin.

Sari mengenakan blus berlengan pendek.

Rambut yang tumbuh di bagian leher dan lengannya terlihat jelas.

Ardi berhenti di ambang pintu.

“Kamu mau pergi?”

Sari mengangguk.

“Ke pasar.”

“Pakai baju itu?”

Sari menatapnya melalui cermin.

“Kenapa? Jelek?”

Ardi tersenyum.

“Bagus. Aku cuma takut kamu kedinginan. Udara pagi Wonosobo dingin sekali.”

Sari tertawa.

Tawa yang begitu lepas hingga Ardi ikut tertawa bersamanya.

Namun kejutan terbesar datang beberapa minggu kemudian.

Ketika sedang membereskan barang peninggalan ibunya, Sari menemukan sebuah amplop kecil terselip di balik sampul buku catatan biru.

Di dalamnya terdapat foto seorang bayi perempuan.

Bayi itu memiliki rambut lebat di bagian leher.

Di belakang foto tertulis sebuah pesan dengan tulisan tangan Lastri.

Untuk Sari, anakku tersayang. Kalau suatu hari kamu bertanya mengapa tubuhmu berbeda, ingatlah bahwa kamu tidak perlu berubah menjadi orang lain untuk pantas dicintai.

Sari menangis sambil memeluk foto tersebut.

Namun ada satu benda lain di dalam amplop.

Sebuah hasil pemeriksaan medis lama.

Di bagian bawah dokumen tertulis bahwa Lastri juga pernah menjalani pemeriksaan karena memiliki pertumbuhan rambut berlebihan pada sebagian tubuhnya ketika masih kecil.

Sari membaca dokumen itu berkali-kali.

Selama ini ia mengira dirinya satu-satunya perempuan dalam keluarga yang memiliki kondisi tersebut.

Ternyata ibunya pernah mengalami hal serupa.

Ratna yang melihat dokumen itu tersenyum sedih.

“Kakakmu itu selalu menutupi bekas rambut di bahunya dengan selendang,” katanya, menyebut Lastri sebagai kakaknya. “Bukan karena malu. Dia cuma tidak suka orang sembarangan bertanya.”

“Kenapa Ibu tidak pernah cerita kepadaku?”

“Mungkin dia menunggu sampai kamu cukup besar untuk memahami.”

Sari menatap foto ibunya yang tersimpan di ponsel.

Kini ia mengerti mengapa Lastri begitu keras memperjuangkan haknya mendapatkan perawatan medis.

Ibunya tahu bagaimana rasanya hidup dengan tubuh yang dianggap berbeda.

Dan ia tidak ingin putrinya mengalami penderitaan yang sama.

Setahun setelah pernikahan mereka, Ardi mengajak Sari kembali ke kamar tempat semuanya bermula.

Lampu minyak tua masih tersimpan di atas meja.

Malam itu hujan kembali turun.

Sari mengambil lampu tersebut, lalu menyalakannya.

“Mas ingat malam pertama kita?”

Ardi mengangguk.

“Aku ingat kamu ketakutan.”

Sari tersenyum.

“Aku pikir Mas akan lari begitu melihat tubuhku.”

“Dan aku justru takut kamu tidak akan pernah mau cerita kepadaku.”

Sari mendekat.

“Sekarang aku ingin menunjukkan sesuatu.”

Ia mengangkat rambutnya dan memperlihatkan bagian belakang leher yang dahulu selalu disembunyikannya.

Rambut kasar itu masih ada.

Bekas luka di kakinya juga belum sepenuhnya hilang.

Namun kali ini, Sari tidak gemetar.

“Mas masih takut melihatnya?”

Ardi menggeleng.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena yang kulihat bukan sesuatu yang menakutkan.”

Ardi menggenggam tangannya.

“Yang kulihat adalah perempuan yang berhasil bertahan hidup setelah melewati begitu banyak hal.”

Sari memeluk suaminya erat.

Di luar, hujan terus membasahi halaman rumah mereka.

Beberapa saat kemudian, Sari mematikan lampu minyak dan menyalakan lampu kamar.

Cahaya putih menerangi wajahnya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu bersembunyi di balik bayangan.

Dahulu, ayahnya mengatakan bahwa rambut yang tumbuh di tubuhnya adalah tanda kutukan.

Namun kini Sari memahami sesuatu yang jauh lebih penting.

Tidak ada kutukan di tubuhnya.

Yang pernah menghancurkan masa kecilnya bukanlah rambut yang tumbuh berbeda, melainkan ketakutan, kebohongan, dan kekejaman orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Dan pada malam ketika suaminya pertama kali melihat rahasia yang selama ini ia sembunyikan, Sari sebenarnya tidak sedang kehilangan kesempatan untuk dicintai.

Justru malam itulah ia mulai menemukan kembali hidupnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang