AKU DITAMPAR OLEH ADMINISTRATOR RUMAH SAKIT YANG SOMBONG DI TENGAH AREA PARKIR HANYA KARENA AKU MEMARKIR SEPEDA TUAKU DI SAMPING MOBIL SPORT MILIKNYA. DIA MENGIRA BISA MEMPERMALUKAN SEORANG PETUGAS KEBERSIHAN RENDAHAN. NAMUN KETIKA SEBUAH HELIKOPTER MENDARAT DAN CEO RUMAH SAKIT BERGEGAS BERLUTUT DI HADAPANKU, SELURUH DUNIA ADMINISTRATOR ANGKUH ITU RUNTUH DALAM SEKEJAP.

Tamparan itu begitu keras hingga telinga kiriku berdenging. Untuk beberapa detik, suara kendaraan dan langkah kaki di area parkir Nusantara Medika International Hospital terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh.

Aku masih terduduk di atas beton ketika Dr. Arga Pratama menunjuk wajahku.

“Dengar baik-baik, Bu Ratna! Mulai hari ini, Ibu tidak punya pekerjaan lagi di sini. Kalau dalam lima menit sepeda rongsokan itu belum disingkirkan, saya suruh satpam membuangnya ke tempat sampah!”

Aku mengusap darah di sudut bibirku dengan punggung tangan.

“Dokter yakin ingin memecat saya?”

Arga tertawa sinis.

“Memangnya Ibu pikir siapa diri Ibu? Pemilik rumah sakit ini?”

Beberapa orang menundukkan kepala. Tidak ada yang tertawa.

Aku menatap matanya.

“Bagaimana kalau ternyata benar?”

Wajah Arga berubah sesaat sebelum dia tertawa semakin keras.

“Astaga! Rupanya bukan cuma miskin, Ibu juga sudah pikun!”

Dia berbalik kepada dua petugas keamanan yang berdiri tidak jauh dari kami.

“Pak Dedi! Pak Rudi! Bawa perempuan ini keluar! Kalau melawan, panggil polisi!”

Pak Dedi, seorang petugas keamanan berusia sekitar lima puluh tahun, tampak ragu. Selama enam minggu bekerja sebagai petugas kebersihan, aku mengenalnya sebagai lelaki pendiam yang selalu membawakan air minum untuk petugas kebersihan saat cuaca panas.

“Maaf, Dok. Tapi Ibu Ratna terluka. Sebaiknya diperiksa dulu.”

Arga langsung membentak.

“Saya yang menentukan siapa boleh diperiksa di rumah sakit ini! Kamu mau kehilangan pekerjaan juga?”

Pak Dedi terdiam.

Namun sebelum dia bergerak, seorang perawat muda menerobos kerumunan.

“Bu Ratna, bibir Ibu berdarah.”

Namanya Sinta. Usianya baru dua puluh enam tahun. Dia bekerja di unit gawat darurat dan sering membantuku mengangkat kantong sampah medis yang sudah dipisahkan sesuai prosedur.

Sinta berjongkok, mengeluarkan tisu bersih, lalu menyerahkannya kepadaku.

“Pelan-pelan, Bu. Jangan berdiri dulu.”

“Sinta!” bentak Arga. “Kembali ke ruanganmu!”

“Maaf, Dok. Tapi beliau baru saja dipukul.”

“Jangan ikut campur!”

Sinta mengangkat wajah.

“Saya perawat, Dokter. Kalau melihat orang terluka, saya wajib menolong.”

Kalimat sederhana itu membuat suasana mendadak hening.

Aku memandang perempuan muda tersebut dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Selama enam minggu, aku telah melihat banyak orang memilih diam demi mempertahankan pekerjaan. Namun pagi itu, seorang perawat yang bahkan belum memiliki jabatan tetap berani mempertaruhkan kariernya untuk menolong seorang petugas kebersihan.

Arga mengeluarkan ponselnya.

“Baik. Saya akan laporkan kalian berdua ke bagian sumber daya manusia. Kalian akan menerima surat pemecatan hari ini juga.”

Aku perlahan berdiri dengan bantuan Sinta.

“Dokter Arga, sebelum melakukan itu, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Apa lagi?”

“Apakah Dokter ingat seorang pasien bernama Pak Hasan yang datang ke IGD tiga minggu lalu?”

Arga mengerutkan kening.

“Siapa?”

“Pengemudi ojek daring. Usianya lima puluh delapan tahun. Mengalami nyeri dada hebat dan kesulitan bernapas.”

“Ada ratusan pasien datang setiap hari. Saya tidak menghafal nama mereka.”

“Tapi Dokter pasti ingat ketika meminta petugas administrasi menahan proses pendaftaran karena keluarganya belum bisa menunjukkan dokumen penjaminan yang lengkap.”

Wajah Arga menegang.

“Itu prosedur!”

“Padahal kondisinya darurat dan membutuhkan penanganan segera.”

“Jangan mengajari saya mengelola rumah sakit!”

Aku tidak menjawab.

Aku ingat betul malam itu.

Pak Hasan datang dengan tubuh berkeringat dingin. Istrinya menangis sambil menggenggam kartu BPJS Kesehatan yang masih aktif. Petugas administrasi meminta mereka menunggu verifikasi tambahan sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.

Aku yang sedang mengepel koridor melihat semuanya.

Untungnya, seorang dokter jaga bernama dr. Farhan segera membawa Pak Hasan masuk dan memulai penanganan darurat.

Pak Hasan selamat.

Namun setelah kejadian itu, dr. Farhan menerima surat peringatan karena dianggap melanggar instruksi administrasi.

Aku telah menyimpan salinan dokumen tersebut.

Dan itu bukan satu-satunya bukti.

“Dokter juga ingat Ibu Marni?” tanyaku.

“Cukup!”

“Perempuan lanjut usia yang diminta pindah dari ruang tunggu VIP karena pakaiannya dianggap mengganggu kenyamanan keluarga pasien kaya?”

“Diam!”

“Atau Pak Yusuf, petugas kebersihan yang gajinya dipotong karena menolak membersihkan rumah pribadi Dokter pada hari liburnya?”

Arga melangkah mendekat.

“Siapa yang menyuruhmu menyelidiki saya?”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Tidak ada.”

“Kamu mata-mata siapa?”

Aku belum sempat menjawab ketika suara deru mesin terdengar dari kejauhan.

Mula-mula samar.

Kemudian semakin keras.

Orang-orang di area parkir menengadah.

Sebuah helikopter putih dengan lambang Nusantara Medika mendekati helipad di atap gedung sayap timur rumah sakit.

Arga ikut melihat ke atas.

“Ada kunjungan penting?” gumamnya.

Beberapa detik kemudian, ponselnya berdering.

Dia membaca nama penelepon dan segera menjawab dengan suara yang mendadak sopan.

“Selamat pagi, Pak Direktur.”

Aku bisa mendengar suara panik dari ujung telepon.

“Arga! Di mana kamu sekarang?”

“Di area parkir VIP, Pak.”

“Jangan bergerak! Ketua Dewan Komisaris akan datang pagi ini!”

Wajah Arga langsung berubah.

“Ketua Dewan Komisaris? Maksud Bapak, pemegang saham mayoritas yang selama ini tidak pernah muncul?”

“Benar! Beliau meminta seluruh direksi berkumpul. Kami baru menerima konfirmasi dari kantor pusat!”

Arga segera merapikan jas putihnya.

“Baik, Pak. Saya akan segera menyambut beliau.”

Dia menutup telepon, lalu menatapku dengan penuh kebencian.

“Beruntung sekali kamu hari ini. Saya sedang tidak punya waktu mengurus orang sepertimu.”

Aku tersenyum tipis.

“Memang sebaiknya Dokter bersiap.”

“Apa maksudmu?”

“Tamu yang datang mungkin tidak menyukai apa yang baru saja Dokter lakukan.”

Arga mendengus.

“Jangan bermimpi orang penting akan peduli pada tukang pel seperti kamu!”

Dia berjalan menuju pintu utama.

Namun langkahnya terhenti ketika tiga mobil hitam memasuki area parkir.

Dari mobil pertama turun seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun dengan setelan jas abu-abu.

Aku mengenalnya dengan sangat baik.

Namanya Bima Santoso, Direktur Utama Nusantara Medika International Hospital.

Di belakangnya berjalan Direktur Keuangan, Kepala Divisi Hukum, dan dua anggota sekretariat dewan komisaris.

Bima tidak berjalan menuju pintu rumah sakit.

Dia justru bergegas ke arahku.

Arga segera menghadangnya.

“Pak Bima! Selamat pagi! Saya baru saja menangani sedikit masalah kedisiplinan pegawai. Ada petugas kebersihan yang bertindak tidak sopan di area VIP.”

Bima tidak menjawab.

Matanya tertuju pada pipiku yang memerah dan darah yang masih terlihat di sudut bibir.

Wajahnya langsung pucat.

“Ya Tuhan…”

Dia mempercepat langkah.

“Bu Ratna!”

Seluruh area parkir mendadak sunyi.

Bima berhenti tepat di hadapanku.

Kemudian, di luar dugaan semua orang, dia berlutut dengan satu kaki di atas beton.

“Maafkan saya, Ibu. Saya terlambat datang.”

Arga membeku.

Pak Dedi menutup mulutnya.

Sinta menatapku dengan mata membesar.

Aku menyentuh bahu Bima.

“Berdirilah, Bima. Tidak perlu seperti ini.”

Namun suaranya bergetar.

“Saya bertanggung jawab atas keselamatan Ibu selama berada di rumah sakit ini. Bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi?”

Aku menarik napas panjang.

“Justru karena itulah saya datang.”

Bima berdiri perlahan, lalu berbalik kepada semua orang.

“Perkenalkan. Beliau adalah Ibu Ratna Kusumawardani, pendiri Nusantara Medika Group, pemegang saham mayoritas, sekaligus Ketua Dewan Komisaris rumah sakit ini.”

Tidak ada seorang pun berbicara.

Arga menatapku seolah sedang melihat sesuatu yang mustahil.

“Tidak… tidak mungkin…”

Aku mengambil kartu identitas dari saku seragam kebersihanku.

Kartu itu bukan kartu pegawai biasa.

Di sana tercantum namaku beserta jabatan resmi yang selama ini kusimpan rapat.

Arga mundur satu langkah.

“Bu… Ibu Ratna?”

Aku menatapnya.

“Ya, Dokter Arga. Saya perempuan yang baru saja Dokter tampar karena memarkir sepeda tua di dekat mobil sport Dokter.”

Wajahnya kehilangan warna.

“Saya… saya tidak tahu…”

“Itulah masalahnya.”

Aku berbicara pelan, tetapi setiap kata terdengar jelas.

“Dokter tidak tahu siapa saya, sehingga Dokter merasa berhak memperlakukan saya seperti sampah.”

Arga mulai berkeringat.

“Bu Ratna, ini kesalahpahaman. Saya sedang tertekan karena pekerjaan. Saya benar-benar tidak bermaksud…”

“Tangan Dokter bergerak dengan sangat jelas. Tidak ada kesalahpahaman tentang itu.”

Dia menunduk.

“Saya mohon maaf.”

Aku memandang orang-orang yang masih berdiri mengelilingi kami.

“Kalau saya benar-benar hanya seorang petugas kebersihan, apakah Dokter akan meminta maaf?”

Arga tidak menjawab.

Aku mengulangi pertanyaanku.

“Apakah Dokter akan meminta maaf?”

Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara keluar.

“Jawabannya tidak, bukan?”

Air mata mulai menggenang di matanya.

Namun aku tidak merasakan kepuasan.

Yang kurasakan justru kesedihan mendalam.

Rumah sakit ini kubangun dua puluh tujuh tahun lalu bersama almarhum suamiku, seorang dokter bedah yang pernah bekerja tanpa dibayar selama berbulan-bulan di klinik kecil pinggiran Jakarta.

Kami memulainya dengan dua belas tempat tidur.

Saat itu, suamiku selalu mengatakan bahwa rumah sakit bukan tempat orang kaya membeli kesempatan hidup lebih besar daripada orang miskin.

Kini bangunan yang kami dirikan telah berubah menjadi kompleks medis megah dengan ratusan kamar.

Tetapi sebagian orang di dalamnya telah melupakan alasan rumah sakit itu dibangun.

“Bima,” kataku.

“Ya, Bu.”

“Saya ingin rapat darurat dewan direksi dimulai sekarang. Dan saya ingin seluruh rekaman kamera pengawas area parkir diamankan.”

“Baik, Bu.”

“Hubungi juga pihak kepolisian. Saya akan membuat laporan resmi atas tindakan kekerasan yang baru saja terjadi.”

Arga langsung mengangkat kepala.

“Bu Ratna! Jangan, Bu! Saya punya istri dan dua anak!”

Aku memandangnya lama.

“Saya juga punya keluarga, Dokter. Dan setiap petugas kebersihan yang pernah Dokter hina memiliki keluarga yang menunggu mereka pulang.”

Dia mulai menangis.

“Saya bisa berubah, Bu!”

“Perubahan tidak dimulai ketika seseorang mengetahui korbannya kaya raya. Perubahan dimulai ketika dia menyadari bahwa orang miskin pun memiliki martabat.”

Aku meminta Sinta mengantarku ke ruang pemeriksaan.

Sebelum pergi, aku menoleh kepada Bima.

“Dokter Arga dinonaktifkan sementara dari seluruh tugas dan kewenangan administratif sampai pemeriksaan selesai. Jangan ada dokumen yang dihapus atau saksi yang ditekan.”

“Siap, Bu.”

Namun kejutan terbesar ternyata belum terjadi.

Siang harinya, ketika aku duduk di ruang rapat lantai dua puluh satu, Kepala Divisi Audit Internal menyerahkan sebuah berkas tebal.

“Bu Ratna, tim kami menemukan sesuatu setelah menerima dokumen yang Ibu kumpulkan selama penyamaran.”

Aku membuka halaman pertama.

Ada daftar pembayaran pengadaan alat kesehatan, kontrak jasa kebersihan, dan sejumlah transaksi yang terlihat tidak wajar.

“Berapa besar selisihnya?” tanyaku.

“Untuk sementara, sekitar empat puluh delapan miliar rupiah dalam tiga tahun terakhir. Kami masih memverifikasi transaksi dan penerima manfaatnya.”

Aku terdiam.

Nama Dr. Arga muncul dalam sejumlah persetujuan administrasi.

Namun nama lain di halaman berikutnya membuat dadaku terasa sesak.

Bima Santoso.

Aku mengangkat wajah.

“Bima, jelaskan ini.”

Direktur Utama yang sejak pagi begitu menghormatiku mendadak kaku.

“Itu… transaksi lama, Bu.”

“Kenapa tanda tanganmu ada di sini?”

“Saya hanya menyetujui berdasarkan rekomendasi bagian pengadaan.”

Kepala Audit menyela.

“Kami juga menemukan surat elektronik yang menunjukkan adanya permintaan perubahan spesifikasi alat kesehatan setelah tender selesai. Beberapa instruksi berasal langsung dari kantor Direktur Utama.”

Ruangan menjadi sunyi.

Bima menelan ludah.

Aku akhirnya memahami sesuatu.

Kesombongan Arga hanyalah bagian yang terlihat di permukaan.

Di belakangnya mungkin tersembunyi persoalan yang jauh lebih besar.

Selama enam minggu menyamar, aku sering bertanya-tanya mengapa keluhan pasien selalu menghilang sebelum mencapai meja direksi.

Mengapa laporan keuangan tampak sempurna meskipun beberapa perawat mengeluhkan kekurangan alat.

Dan mengapa petugas kebersihan harus membeli sarung tangan tambahan menggunakan uang pribadi.

Kini sebagian jawabannya mulai terlihat.

“Bima,” kataku pelan, “selama ini saya mempercayaimu.”

Dia menunduk.

“Saya bisa menjelaskan, Bu.”

“Kalau begitu, jelaskan semuanya kepada tim audit independen dan penyidik apabila ditemukan unsur pidana.”

Aku meminta Kepala Divisi Hukum mencatat keputusan dewan untuk menonaktifkan sementara Bima dari kewenangan operasional selama pemeriksaan berlangsung.

Untuk pertama kalinya sejak rumah sakit itu berdiri, dua pejabat tertingginya harus menghadapi pemeriksaan serius pada hari yang sama.

Namun aku belum selesai.

Sore itu, aku mengumpulkan perwakilan dokter, perawat, petugas administrasi, keamanan, dan kebersihan di auditorium.

Aku berdiri di atas panggung dengan seragam biru tua yang sama.

Pipiku masih terasa nyeri.

Di hadapanku duduk ratusan orang yang selama ini mengenalku sebagai Bu Ratna, petugas kebersihan yang suka membawa bekal nasi dan tempe.

“Saya ingin meminta maaf kepada kalian,” kataku.

Beberapa orang tampak kebingungan.

“Saya membangun rumah sakit ini dengan harapan siapa pun yang masuk melalui pintunya akan diperlakukan sebagai manusia. Namun saya terlalu lama mempercayai laporan dan angka. Saya tidak cukup sering mendengarkan orang-orang yang bekerja di lapangan.”

Aku berhenti sejenak.

“Mulai hari ini, seluruh pengaduan pegawai dan pasien akan dapat disampaikan melalui saluran independen yang diawasi langsung oleh komite dewan. Tidak boleh ada pembalasan terhadap pelapor. Semua dugaan pelanggaran akan diperiksa secara adil.”

Aku kemudian memanggil Sinta ke atas panggung.

Perawat muda itu berjalan dengan gugup.

“Sinta, kenapa tadi pagi kamu berani menolong saya?”

Dia menunduk.

“Karena Ibu terluka.”

“Kamu tidak takut dipecat?”

“Takut, Bu.”

“Lalu kenapa tetap menolong?”

Sinta mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca.

“Ibu saya dulu petugas kebersihan di rumah sakit, Bu. Waktu kecil, saya sering melihat orang memperlakukannya seolah dia tidak terlihat. Ibu saya selalu bilang, kalau suatu hari saya menjadi perawat, jangan pernah membiarkan orang sakit merasa sendirian.”

Aku menggenggam tangannya.

“Siapa nama ibumu?”

“Marni, Bu.”

Jantungku seolah berhenti sesaat.

“Ibu Marni yang pernah diusir dari ruang tunggu VIP?”

Sinta mengangguk.

“Beliau datang menjenguk saya saat istirahat. Tapi karena pakaiannya sederhana, beliau diminta pergi. Saya tidak berani melawan waktu itu.”

Air matanya jatuh.

Aku memeluknya.

“Mulai sekarang, kamu tidak perlu takut memperlakukan manusia dengan baik.”

Tepuk tangan memenuhi auditorium.

Tiga bulan kemudian, rumah sakit kami mulai berubah.

Pemeriksaan terhadap Arga dan Bima masih berjalan melalui jalur hukum dan tata kelola perusahaan. Sejumlah kontrak bermasalah dibekukan untuk ditinjau ulang. Pegawai yang pernah menerima sanksi tidak adil mendapat kesempatan mengajukan peninjauan kembali.

Dokter Farhan kembali bekerja tanpa surat peringatan yang dulu diberikan kepadanya.

Pak Yusuf menerima pembayaran atas potongan gaji yang terbukti tidak sah.

Sinta memperoleh beasiswa pendidikan lanjutan berdasarkan seleksi kompetensi dan rekam kerjanya.

Sedangkan aku?

Aku masih datang ke rumah sakit menggunakan sepeda tua yang sama.

Bedanya, sekarang rantainya sudah diperbaiki dan pedalnya diganti.

Suatu pagi, Pak Dedi menghampiriku di area parkir.

“Bu Ratna, kenapa Ibu masih naik sepeda? Mobil Ibu kan banyak.”

Aku tersenyum.

“Karena sepeda ini mengingatkan saya pada sesuatu yang tidak boleh saya lupakan.”

“Apa itu, Bu?”

Aku memandang gedung rumah sakit yang menjulang di hadapanku.

“Bahwa harga seseorang tidak pernah ditentukan oleh kendaraan yang dipakainya.”

Pak Dedi tersenyum.

Aku baru hendak berjalan ketika seorang perempuan tua menghampiriku dengan membawa kantong plastik berisi pisang rebus.

“Bu Ratna!”

Aku menoleh.

Perempuan itu adalah Ibu Marni, ibu Sinta.

Dia menyodorkan kantong plastik tersebut.

“Saya tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan Ibu. Cuma ini yang bisa saya bawa.”

Aku menerima kantong itu dengan kedua tangan.

“Ini sudah lebih dari cukup, Bu.”

Ibu Marni menggenggam tanganku erat.

“Anak saya bilang Ibu orang paling kaya di rumah sakit ini.”

Aku tertawa kecil.

“Katanya begitu?”

Dia mengangguk.

“Tapi menurut saya, bukan karena uang Ibu.”

Aku terdiam.

“Karena Ibu masih mau mendengarkan orang kecil.”

Mataku terasa panas.

Bertahun-tahun aku mengira kekayaan terbesarku adalah perusahaan yang kubangun bersama suamiku.

Ternyata aku keliru.

Kekayaan terbesar bukanlah memiliki rumah sakit yang megah, melainkan memastikan tidak ada manusia yang kehilangan harga dirinya ketika memasuki rumah sakit itu.

Dan pagi itu, sambil menggenggam sebungkus pisang rebus di samping sepeda berkarat, aku akhirnya memahami satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh laporan keuangan mana pun.

Orang yang benar-benar berkuasa bukanlah mereka yang mampu membuat orang lain berlutut karena takut.

Melainkan mereka yang menggunakan kekuasaannya agar tidak ada seorang pun yang harus berlutut hanya untuk mendapatkan perlakuan manusiawi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang