Malam itu, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku melihat Nero bersiap menyerang sesuatu yang tidak bisa kulihat.
Tubuh piton albino sepanjang hampir dua setengah meter itu melingkar di lantai ruang tamu. Kepalanya terangkat tinggi, lidahnya menjulur berulang kali, sementara matanya terpaku pada pintu dapur.
Hssssss.
Aku berdiri membeku di ambang kamar.
“Nero?”
Dia tidak menoleh.
Dari dapur terdengar suara gesekan lagi.
Sret.
Sret.

Sret.
Seperti seseorang sedang menyeret benda berat melintasi lantai keramik.
Tanganku meraih sakelar lampu.
Namun sebelum sempat menekannya, sesuatu bergerak di balik pintu dapur.
Bayangan hitam melintas begitu cepat.
Nero langsung menerjang.
Tubuh besarnya menghantam pintu hingga terdengar benturan keras. Aku menjerit dan mundur beberapa langkah.
Ketika lampu akhirnya menyala, tidak ada siapa pun di dapur.
Hanya sebuah gelas pecah di lantai.
Dan Nero yang terus mendesis ke arah lemari bawah wastafel.
Aku tidak berani mendekat.
Malam itu aku mengunci diri di kamar mandi sampai azan Subuh terdengar dari masjid dekat rumah.
Pagi harinya, aku menghubungi seorang dokter hewan bernama Dokter Farhan.
Dia sudah mengenal Nero sejak aku pertama kali membawanya pulang.
“Alya, ular yang tidak mau makan selama beberapa minggu belum tentu sakit. Tapi kalau perilakunya berubah drastis, kita harus memeriksanya,” katanya melalui telepon.
“Ada hal lain, Dok.”
“Apa?”
“Dia terus melilit tubuh saya waktu tidur. Seolah-olah sedang melindungi saya.”
Dokter Farhan terdiam sebentar.
“Alya, saya perlu meluruskan sesuatu. Ular tidak menunjukkan kasih sayang seperti manusia. Kalau piton melilit tubuhmu terlalu erat, itu berbahaya. Jangan biarkan dia tidur bersamamu lagi.”
“Tapi dia selalu menatap sesuatu di belakang tempat tidur saya.”
“Mungkin ada tikus atau hewan kecil. Bisa juga dia merespons suhu dan gerakan tertentu. Kita periksa dulu, ya.”
Siang itu aku membawa Nero ke klinik menggunakan kotak khusus yang biasa kupakai untuk transportasi.
Hasil pemeriksaannya tidak menunjukkan masalah serius.
Berat badannya relatif stabil. Tidak ditemukan tanda infeksi yang jelas.
Namun ketika Dokter Farhan mengamati beberapa memar di lenganku, ekspresinya berubah.
“Ini sudah berapa lama?”
“Sekitar dua minggu.”
“Memar seperti ini bisa disebabkan banyak hal. Tapi kamu bilang sering bangun dengan dada terasa berat?”
Aku mengangguk.
“Kadang kepala saya juga sakit. Belakangan saya sering lupa menaruh barang.”
Dokter Farhan menatapku dengan serius.
“Saya sarankan kamu periksa ke dokter umum. Dan satu hal lagi, jangan tidur di kamar itu dulu sampai kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Aku mengikuti sarannya.
Setidaknya, aku mencoba.
Malam berikutnya aku memindahkan kasur tipis ke ruang tengah dan memastikan Nero berada di kandangnya yang terkunci.
Namun tepat pukul dua lewat empat puluh menit, aku terbangun karena mendengar suara perempuan menangis.
Tangisannya pelan.
Terputus-putus.
Berasal dari kamarku.
Aku duduk sambil memeluk lutut.
Suara itu terdengar seperti seseorang sedang menahan kesakitan.
Lalu terdengar bisikan.
“Alya…”
Darahku serasa berhenti mengalir.
Suara itu memanggil namaku.
“Alya… buka pintunya…”
Aku mengenali suara tersebut.
Mustahil.
Itu suara ibuku.
Ibuku sudah meninggal enam tahun lalu akibat kecelakaan mobil di jalan menuju Lembang.
Aku masih mengingat suara terakhirnya ketika meneleponku malam sebelum kecelakaan.
“Jangan lupa makan, Nak. Ibu pulang besok.”
Namun besok yang dijanjikannya tidak pernah datang.
Sekarang suara yang sama terdengar dari balik pintu kamar.
“Alya… Ibu kedinginan…”
Air mataku mengalir tanpa kusadari.
Aku berdiri.
Tanganku hampir menyentuh gagang pintu ketika kandang Nero tiba-tiba bergetar keras.
Brak!
Nero menghantam kaca kandangnya.
Sekali.
Dua kali.
Lalu dia mendesis begitu keras sampai aku tersentak.
Tanganku berhenti.
Suara ibuku langsung menghilang.
Aku menatap pintu kamar.
Dari celah bawahnya, terlihat sesuatu bergerak perlahan.
Seperti ujung kain putih yang sedang ditarik masuk.
Aku berlari keluar rumah tanpa membawa apa pun selain ponsel.
Malam itu aku tidur di rumah tetanggaku, Bu Ratna.
Perempuan berusia hampir enam puluh tahun itu sudah tinggal di lingkungan tersebut lebih dari dua puluh tahun.
Ketika kuceritakan kejadian malam itu, wajahnya mendadak pucat.
“Kamu bilang ada suara perempuan dari kamar belakang?”
Aku mengangguk.
“Dan ularmu selalu melihat ke arah kepala tempat tidur?”
“Iya, Bu.”
Bu Ratna meletakkan gelas tehnya.
“Alya, sebenarnya sejak pertama kamu pindah ke rumah itu, saya ingin mengatakan sesuatu.”
Jantungku berdegup semakin cepat.
“Rumah itu dulu ditempati seorang perempuan bernama Mira.”
Aku menunggu.
“Dia tinggal bersama suaminya. Orangnya pendiam, jarang keluar rumah. Suaminya bilang dia punya gangguan tidur.”
“Lalu?”
“Suatu hari Mira menghilang.”
Aku merasakan tengkukku meremang.
“Menghilang bagaimana?”
“Suaminya bilang dia pergi meninggalkan rumah. Tapi saya ingat sesuatu yang aneh. Beberapa malam sebelum Mira hilang, saya sering mendengar dia berteriak meminta tolong.”
“Kenapa tidak dilaporkan?”
“Saya pernah menelepon polisi. Tapi waktu petugas datang, suaminya bilang mereka hanya bertengkar. Mira sendiri tidak mau bicara.”
Bu Ratna menunduk.
“Sampai sekarang saya menyesal tidak berbuat lebih banyak.”
Aku memandangi perempuan tua itu.
“Siapa nama suaminya?”
“Rendra.”
Nama itu terasa asing.
Namun ketika Bu Ratna menunjukkan foto lama dari ponselnya, tubuhku langsung menegang.
Lelaki dalam foto tersebut pernah kulihat.
Bukan di rumah.
Melainkan di kantor pengelola kontrakan.
Dia adalah lelaki yang menyerahkan kunci rumah kepadaku empat tahun lalu.
Namanya memang Rendra.
Saat itu dia mengaku sebagai perwakilan pemilik rumah.
Aku pulang keesokan harinya bersama Bu Ratna dan adiknya, Pak Hendra.
Kami memeriksa dapur, plafon, jendela, dan seluruh sudut kamar.
Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
Sampai Pak Hendra menggeser tempat tidurku.
Di belakang sandaran ranjang terdapat sebuah lubang kecil.
Ukurannya tidak lebih besar dari kepala paku.
Lubang itu hampir tidak terlihat karena tertutup lapisan cat.
Pak Hendra mendekatkan senter.
“Lho, ini bukan lubang biasa.”
Dia mengetuk dinding.
Tok.
Tok.
Suara yang terdengar kosong.
“Di belakang sini ada ruang.”
Aku mengerutkan kening.
“Tapi sebelah kamar ini kan dapur.”
“Justru itu. Dindingnya terlalu tebal untuk rumah sekecil ini.”
Kami kembali ke dapur.
Pak Hendra membuka lemari bawah wastafel, tempat yang selalu ditatap Nero.
Di belakang pipa air terdapat panel kayu yang warnanya menyerupai dinding.
Panel itu dikunci menggunakan dua baut kecil.
Ketika dibuka, kami menemukan lorong sempit di antara dua dinding.
Lebarnya hanya sekitar enam puluh sentimeter.
Cukup untuk seseorang merangkak.
Dan di lantainya terdapat bekas gesekan.
Aku langsung teringat suara yang kudengar setiap malam.
Sret.
Sret.
Sret.
Pak Hendra mengarahkan senter ke dalam lorong.
Di sana ada sebuah kasur tipis.
Botol air mineral.
Bungkus makanan.
Dan sebuah ponsel.
Yang paling mengerikan, terdapat lubang lain tepat di belakang kepala tempat tidurku.
Seseorang bisa mengintip langsung ke arah wajahku saat tidur.
Aku merasa mual.
Bu Ratna segera menghubungi polisi.
Petugas yang datang meminta kami tidak menyentuh apa pun.
Mereka memeriksa lorong tersebut dan menemukan pintu akses kecil yang terhubung dengan gudang kosong di belakang rumah.
Artinya, seseorang dapat memasuki rumah tanpa melewati pintu utama.
CCTV yang kupasang selama ini tidak pernah merekam gudang itu.
Ketika polisi memeriksa ponsel yang ditemukan di lorong, mereka menemukan puluhan foto diriku.
Sebagian diambil ketika aku sedang bekerja di meja makan.
Sebagian ketika aku sedang mandi, melalui celah ventilasi.
Dan sebagian lagi ketika aku tidur.
Dalam salah satu foto, aku terlihat berbaring dengan Nero melilit bagian bawah tubuhku.
Di sudut gambar terdapat tanggal pengambilan.
Dua malam sebelumnya.
Aku hampir pingsan.
Namun penemuan berikutnya jauh lebih buruk.
Di dalam ponsel itu terdapat rekaman suara.
Suara ibuku.
Suara yang kudengar dari balik pintu kamar.
Ternyata seseorang telah memutarnya menggunakan pengeras suara kecil yang disembunyikan di belakang dinding.
Aku tidak tahu dari mana orang itu memperoleh rekaman tersebut.
Sampai polisi menemukan sebuah folder berisi informasi pribadiku.
Foto keluarga.
Alamat kantor.
Riwayat media sosial.
Bahkan salinan percakapan lama dengan ibuku.
Aku mulai menyadari bahwa kejadian ini bukan sekadar seseorang yang bersembunyi di rumah.
Aku sedang diawasi.
Dengan sengaja.
Selama entah berapa lama.
Polisi menyarankan aku tinggal sementara di tempat lain.
Nero kutitipkan kepada Dokter Farhan karena aku tidak ingin meninggalkannya sendirian.
Namun malam sebelum aku pindah, sebuah pesan masuk ke ponselku.
Nomor tidak dikenal.
Pesannya singkat.
“Kamu seharusnya tidak membuka dinding itu.”
Aku langsung menghubungi polisi.
Mereka meminta aku tetap berada di rumah Bu Ratna dan tidak membalas pesan tersebut.
Sepuluh menit kemudian, pesan kedua masuk.
“Ular itu sudah merusak semuanya.”
Lalu sebuah foto muncul.
Foto Nero di dalam kandangnya.
Di klinik Dokter Farhan.
Aku menjerit.
Orang itu tahu tempat Nero berada.
Aku segera menelepon klinik.
Tidak ada jawaban.
Panggilan kedua juga tidak diangkat.
Baru pada panggilan ketiga Dokter Farhan menjawab dengan suara tergesa-gesa.
“Alya, kamu di mana?”
“Dok, Nero aman?”
“Aman. Tapi tadi ada laki-laki datang mengaku sebagai saudaramu. Dia meminta membawa Nero pulang.”
“Jangan berikan kepada siapa pun!”
“Saya sudah menolaknya. Dia langsung pergi.”
“Seperti apa orangnya?”
“Usianya sekitar empat puluh tahun. Memakai jaket hitam. Ada bekas luka di dekat alis kirinya.”
Aku membeku.
Bekas luka itu ada di wajah Rendra.
Polisi segera mendatangi klinik dan memeriksa rekaman kamera keamanan.
Wajah lelaki tersebut terlihat jelas.
Rendra.
Namun ketika polisi menelusuri identitasnya, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Rendra pernah dilaporkan atas dugaan kekerasan dalam rumah tangga.
Laporan itu dibuat oleh istrinya, Mira, tujuh tahun lalu.
Tidak lama kemudian, Mira dinyatakan hilang.
Kasusnya tidak pernah terselesaikan.
Dan rumah kontrakanku ternyata masih tercatat sebagai salah satu aset keluarga Rendra.
Penyelidikan kemudian mengungkap bahwa Rendra telah beberapa kali memasuki rumah melalui gudang belakang.
Dia menggunakan lorong tersembunyi untuk mengawasiku.
Polisi juga menemukan bukti bahwa dia pernah mencampurkan obat penenang ke dalam minuman yang kusimpan di dapur.
Itulah kemungkinan penyebab beberapa malam aku bangun dengan kepala berat dan ingatan yang kabur.
Memar di tubuhku diduga muncul ketika dia memindahkan atau menahan tubuhku saat aku tidak sepenuhnya sadar.
Aku menangis ketika mendengar penjelasan itu.
Selama berminggu-minggu aku mengira ada makhluk tak terlihat yang menggangguku.
Padahal ancamannya adalah manusia.
Manusia yang bisa tersenyum.
Berbicara sopan.
Dan menyerahkan kunci rumah sambil berpura-pura tidak memiliki niat buruk.
Tetapi satu pertanyaan masih menggangguku.
Mengapa Rendra melakukan semua itu?
Jawabannya muncul tiga hari kemudian.
Polisi berhasil menangkapnya di sebuah penginapan murah di Cimahi.
Ketika diperiksa, Rendra mengakui bahwa sejak awal dia memilih penyewa perempuan yang tinggal sendirian.
Dia memasang perangkat pengintai dan menggunakan informasi pribadi korban untuk menciptakan ketakutan.
Menurut penyidik, dia ingin membuat korbannya merasa kehilangan kendali, lalu menawarkan diri sebagai orang yang dapat membantu.
Namun rencananya terhadapku tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Karena Nero.
Rendra mengaku beberapa kali mencoba memasuki kamarku ketika aku tertidur.
Namun setiap kali dia mendekat, Nero bereaksi.
Piton itu mengangkat kepala, mendesis, dan bergerak ke arahnya.
Pada suatu malam, Rendra bahkan terpaksa mundur ketika Nero menghantam panel kayu di belakang ranjang.
Sejak saat itu, Rendra mulai takut kepada Nero.
Dia berusaha membuatku percaya bahwa ular tersebut berbahaya agar aku menyingkirkannya.
Dia juga memutar rekaman suara ibuku untuk memperburuk kondisi psikologisku.
Namun Nero justru membuatku semakin curiga terhadap rumah itu.
Ada satu hal lain yang baru kupahami setelah berbicara dengan Dokter Farhan.
“Nero bukan sedang melindungimu dalam pengertian seperti manusia melindungi orang yang dicintainya,” jelasnya.
“Dia mungkin merespons bau, getaran, atau gerakan Rendra. Perubahan lingkungan dan stres juga bisa menjelaskan kenapa dia menolak makan.”
Aku mengangguk.
“Tapi kalau dia tidak bereaksi, mungkin saya tidak akan pernah tahu.”
Dokter Farhan tersenyum tipis.
“Itu benar. Hanya saja, mulai sekarang jangan biarkan dia melilit tubuhmu saat tidur. Kamu tetap harus menjaga keselamatanmu dan keselamatannya.”
Aku menatap Nero yang sedang beristirahat di dalam kandang.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, tubuhnya terlihat tenang.
Tidak ada desisan.
Tidak ada gerakan gelisah.
Dia hanya diam di bawah lampu penghangat.
Seolah rumah yang penuh ancaman itu akhirnya berada jauh di belakang kami.
Namun kisah ini belum selesai.
Dua minggu setelah penangkapan Rendra, seorang penyidik meneleponku.
“Alya, kami menemukan sesuatu yang mungkin perlu kamu ketahui.”
“Apa, Pak?”
“Kami sudah menemukan Mira.”
Aku terdiam.
“Dia masih hidup?”
“Iya.”
Ternyata Mira tidak meninggal atau menghilang secara misterius.
Dia berhasil melarikan diri dari Rendra bertahun-tahun lalu dan hidup menggunakan identitas baru setelah mendapatkan bantuan keluarga.
Dia sengaja memutus hubungan dengan lingkungan lamanya karena takut ditemukan.
Namun setelah mengetahui Rendra ditangkap, Mira bersedia memberikan kesaksian.
Aku bertemu dengannya di kantor polisi.
Perempuan itu berusia sekitar empat puluh tahun. Rambutnya pendek, wajahnya tampak lelah, tetapi sorot matanya tegas.
Ketika mengetahui aku tinggal di rumah lamanya, dia menangis.
“Saya pernah berusaha memberi tahu pemilik rumah agar lorong itu ditutup,” katanya.
“Tapi Rendra selalu punya cara untuk membuat orang percaya bahwa saya hanya mengarang cerita.”
Aku menggenggam tangannya.
“Kenapa dia membuat lorong itu?”
Mira menunduk.
“Awalnya dia bilang untuk tempat penyimpanan. Lama-kelamaan dia menggunakannya untuk mengawasi saya. Bahkan ketika saya mengunci kamar, dia tetap bisa melihat semuanya.”
Aku merasakan dadaku sesak.
“Bagaimana Ibu bisa keluar?”
Mira menatapku lama.
“Lewat gudang belakang. Suatu malam dia lupa mengunci pintu aksesnya.”
Lalu dia mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.
“Orang seperti Rendra tidak selalu mengurung korbannya dengan rantai, Alya. Kadang dia membuat kita begitu takut sampai kita sendiri tidak berani membuka pintu.”
Aku pulang dari pertemuan itu dengan perasaan campur aduk.
Sedih.
Marah.
Namun juga lega.
Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa harus menyalahkan diriku karena terlambat menyadari bahaya.
Sebulan kemudian, aku pindah ke rumah kontrakan baru di kawasan Antapani.
Rumahnya lebih terang.
Jendelanya besar.
Tetangganya ramah.
Aku memasang kamera keamanan, mengganti semua kunci, dan memastikan tidak ada akses tersembunyi.
Nero mendapatkan kandang baru yang lebih luas, lengkap dengan penghangat dan tempat bersembunyi.
Beberapa hari setelah pindah, dia mulai makan kembali.
Dokter Farhan mengatakan itu pertanda baik.
Aku pun mulai tidur lebih nyenyak.
Tidak ada lagi suara gesekan dari dapur.
Tidak ada lagi bisikan yang memanggil namaku.
Tidak ada lagi bayangan di belakang tempat tidur.
Sampai suatu malam, ketika sedang merapikan barang-barang lama, aku menemukan sebuah foto.
Foto diriku bersama ibu.
Diambil enam tahun lalu, beberapa minggu sebelum kecelakaannya.
Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan ibu.
“Kalau suatu hari kamu merasa takut, jangan memaksa dirimu menghadapi semuanya sendirian. Meminta pertolongan bukan berarti kamu lemah.”
Aku menangis lama malam itu.
Selama bertahun-tahun aku mengira hidup sendirian adalah cara terbaik untuk melindungi diriku dari rasa sakit.
Aku menutup pintu bagi semua orang.
Menolak undangan teman.
Mengabaikan telepon keluarga.
Dan menjadikan Nero satu-satunya teman yang kupercaya.
Padahal selama ini aku juga membutuhkan manusia lain.
Bu Ratna yang membuka pintunya saat aku ketakutan.
Pak Hendra yang membantu menemukan lorong tersembunyi.
Dokter Farhan yang mengingatkanku untuk mencari penjelasan masuk akal.
Dan Mira yang berani kembali menghadapi masa lalunya agar perempuan lain tidak mengalami hal serupa.
Mereka semua membantuku keluar dari ketakutan yang hampir menghancurkan hidupku.
Malam itu aku duduk di depan kandang Nero.
Dia mengangkat kepala ketika melihatku mendekat.
“Hai, Nero.”
Lidahnya menjulur sebentar.
Aku tersenyum.
“Kita akhirnya aman.”
Tentu saja dia tidak menjawab.
Dia hanya bergerak perlahan menuju tempat persembunyiannya.
Aku mematikan lampu ruang tengah dan berjalan menuju kamar.
Namun sebelum menutup pintu, aku kembali menoleh.
Nero sudah merebahkan tubuhnya dengan tenang.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak merasa perlu memeriksa setiap sudut gelap rumah.
Karena sekarang aku tahu sesuatu yang dulu tidak pernah kupahami.
Hal paling menakutkan bukanlah bayangan yang muncul ketika lampu dipadamkan.
Melainkan seseorang yang diam-diam menciptakan ketakutan itu, lalu membuat kita percaya bahwa tidak ada jalan keluar.
Dan terkadang, peringatan pertama tentang bahaya tidak datang dari suara manusia.
Melainkan dari seekor ular yang tiba-tiba berhenti makan.
Beberapa bulan kemudian, saat persidangan Rendra berlangsung, aku menerima sebuah amplop dari penyidik.
Di dalamnya terdapat salinan foto terakhir yang ditemukan dalam ponsel Rendra.
Foto itu diambil dari balik lubang dinding pada pukul dua lewat empat puluh menit dini hari.
Aku terlihat sedang tidur.
Nero berada di sampingku dengan kepala terangkat.
Namun ada sesuatu yang belum pernah kuperhatikan.
Di sudut bawah foto, terlihat tangan Rendra sedang mendorong sebuah batang logam kecil melalui celah dinding.
Ujungnya mengarah tepat ke kepalaku.
Aku menutup mulut.
Penyidik menjelaskan bahwa benda tersebut ditemukan bersama perlengkapan lain di lorong tersembunyi. Mereka menduga Rendra sedang bersiap menggunakannya untuk mengancam atau melukaiku.
Tetapi foto berikutnya menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Nero telah bergerak.
Tubuhnya melintang di antara kepalaku dan lubang dinding.
Kepalanya menghadap lurus ke arah tangan Rendra.
Dan pada foto terakhir, batang logam itu sudah ditarik kembali.
Aku menatap ketiga foto tersebut lama sekali.
Selama ini aku mengira Nero melilit tubuhku karena dia ingin berada dekat denganku.
Sekarang aku memahami bahwa setiap malam, ketika aku tertidur tanpa mengetahui bahaya yang mengintai, gerakannya telah membuat seorang penyusup mengurungkan niat.
Aku tidak tahu apakah itu naluri mempertahankan wilayah, respons terhadap ancaman, atau sekadar kebetulan yang menyelamatkan hidupku.
Yang kutahu, pada malam ketika seseorang berusaha mendekatiku dari balik dinding, Nero tidak bergerak menjauh.
Dia justru bergerak ke arah bahaya.
Dan sejak hari itu, setiap kali melihat sisik putih keemasannya berkilau di bawah cahaya lampu, aku selalu teringat satu hal.
Tidak semua makhluk yang terlihat menakutkan datang untuk menyakiti kita.
Dan tidak semua manusia yang terlihat ramah datang dengan niat baik.
