SELAMA SEPULUH TAHUN AKU MENCARI ADIK YANG KUBESARKAN SEPERTI ANAKKU SENDIRI. NAMUN SAAT AKU MEMELUKNYA, DIA MEMBIARKANKU JATUH KE DALAM LUMPUR DAN BERKATA, “AKU TIDAK KENAL WANITA INI.” YANG TIDAK DIA KETAHUI, HARI DIA MENOLAKKU ADALAH HARI DIMULAINYA PEMBALASANKU.

Hujan malam itu turun seperti hendak menenggelamkan seluruh Jakarta.

Aku berdiri di depan sebuah hotel mewah di kawasan Sudirman dengan tubuh basah kuyup, sepatu bot penuh lumpur, dan tangan yang masih gemetar setelah menyentuh lengan lelaki yang kucari selama sepuluh tahun.

Leo.

Adikku.

Anak kecil yang dulu tidur dalam pelukanku ketika kami tidak punya rumah.

Namun perempuan cantik di sampingnya menatapku seolah aku adalah sampah yang tersangkut di karpet merah.

“Ih, siapa perempuan ini?” Isabella mundur sambil mengangkat gaunnya agar tidak terkena lumpur. “Security, tolong singkirkan dia.”

Aku tidak mendengarnya.

Mataku hanya tertuju pada Leo.

“Leo, lihat aku.”

Dia diam.

Aku menunjuk bekas luka kecil di bawah rahangnya.

“Kamu mendapat luka itu waktu umur empat tahun. Kamu jatuh mengejar layang-layang. Kamu menangis sampai demam malamnya. Aku menggendongmu semalaman.”

Wajah Leo berubah.

Hanya sesaat.

Tetapi aku melihatnya.

Dia ingat.

Aku semakin yakin ketika tangannya mengepal.

“Leo…”

Aku hendak memeluknya.

Namun dia mundur.

Gerakan kecil itu terasa lebih menyakitkan daripada semua kelaparan yang pernah kualami.

Isabella menatap Leo dengan curiga.

“Kamu kenal dia?”

Leo memandangku beberapa detik.

Kemudian bibirnya bergerak.

“Aku tidak kenal perempuan ini.”

Dunia seperti berhenti.

“Apa?”

“Aku bilang aku tidak mengenalnya.”

Dua petugas keamanan memegang lenganku.

Aku masih menatapnya.

“Leo, aku Maya.”

Dia membuang muka.

“Tolong jauhkan dia.”

Aku berusaha melepaskan diri.

“Dulu kamu memanggilku Ibu!”

Leo tidak menjawab.

Petugas keamanan menyeretku menjauh. Kakiku terpeleset di ujung trotoar dan tubuhku jatuh ke genangan lumpur.

Orang-orang memandang.

Beberapa mengeluarkan ponsel.

Isabella justru tertawa kecil.

Aku menunggu Leo menolongku.

Dia tidak bergerak.

Mobilnya kemudian melaju pergi.

Malam itu aku pulang ke kamar kontrakanku dengan pakaian kotor dan hati yang terasa kosong.

Di atas meja masih ada sebuah kotak plastik berisi semua yang kukumpulkan selama sepuluh tahun.

Foto Leo ketika berusia lima tahun.

Salinan dokumen panti asuhan.

Catatan para penyelidik yang pernah kusewa.

Dan sebuah mobil mainan merah yang dulu menjadi benda kesayangannya.

Untuk pertama kalinya aku ingin membuang semuanya.

Namun ketika mengangkat kotak itu, sebuah amplop jatuh.

Di dalamnya terdapat laporan penyelidik terakhir yang baru kuterima tiga hari sebelumnya.

Aku membacanya kembali.

Nama Leo setelah diadopsi telah berubah menjadi Leon Adrian Wijaya.

Anak angkat tunggal keluarga Wijaya.

Ayah angkatnya, Adrian Wijaya, meninggal dua tahun lalu dan meninggalkan saham perusahaan investasi bernilai triliunan rupiah.

Ada satu nama lain.

Isabella Hartono.

Putri Surya Hartono, pemilik Hartono Capital.

Aku menatap foto pertunangan mereka.

Kemudian aku melihat tanggal pernikahan.

Tiga minggu lagi.

Aku akhirnya memahami sesuatu.

Leo tidak sekadar menemukan keluarga kaya.

Dia sedang berdiri di ambang menjadi bagian dari salah satu keluarga bisnis paling berpengaruh di negeri ini.

Dan mungkin, baginya, aku adalah noda dari masa lalu yang harus dihapus.

Pagi berikutnya aku berhenti menangis.

Aku menghubungi satu-satunya penyelidik yang masih mau membantuku, Pak Damar.

“Saya mau tahu semuanya tentang keluarga Hartono.”

Dia terdiam.

“Kamu mau melakukan apa, Maya?”

Aku menatap foto Leo.

“Mencari tahu kenapa adik saya takut mengakui saya.”

Dua minggu berikutnya mengubah segalanya.

Ternyata pernikahan Leo dan Isabella bukan sekadar pernikahan dua orang kaya.

Perusahaan peninggalan ayah angkat Leo sedang mengalami masalah likuiditas. Hartono Capital menawarkan investasi besar dengan syarat penggabungan sebagian aset setelah pernikahan.

Namun Pak Damar menemukan sesuatu yang aneh.

Beberapa dokumen menunjukkan saham milik Leo akan dijadikan jaminan setelah ia menikah.

Lebih mengejutkan lagi, ada perubahan dokumen warisan enam bulan sebelumnya.

“Ada tanda tangan Leon di sini,” kata Pak Damar.

Aku memperhatikannya.

“Bukan tanda tangan Leo.”

“Kamu yakin?”

Aku mengambil sebuah kertas tua dari tasku.

Ketika Leo kecil, aku mengajarinya menulis namanya. Bertahun-tahun kemudian, penyelidik pernah mendapatkan salinan tanda tangannya dari dokumen publik.

Ada kebiasaan yang tidak pernah berubah.

Huruf L miliknya selalu memiliki goresan kedua ke arah kiri.

Dokumen baru itu tidak memilikinya.

Pak Damar menatapku.

“Kalau benar palsu, seseorang sedang mencoba mengambil kendali atas aset adikmu.”

Aku tidak merasakan kepuasan.

Justru ketakutan.

Bagaimana jika Leo sebenarnya bukan membuangku karena malu?

Bagaimana jika dia sedang berada dalam masalah?

Jawabannya datang dua malam kemudian.

Seseorang mengetuk pintu kontrakanku.

Ketika kubuka, seorang lelaki berdiri mengenakan hoodie hitam.

Leo.

Aku membeku.

Dia masuk tanpa bicara.

Begitu pintu tertutup, dia berbalik dan memelukku.

Tubuhnya gemetar.

“Ate…”

Satu kata itu menghancurkan seluruh kemarahanku.

Aku mendorongnya.

Tanganku langsung menampar pipinya.

Leo tidak melawan.

“Itu untuk membiarkan aku jatuh di lumpur.”

Air matanya jatuh.

Aku menamparnya sekali lagi.

“Itu untuk mengatakan kamu tidak mengenalku.”

Kemudian tanganku kehilangan tenaga.

Aku memukul dadanya sambil menangis.

“Sepuluh tahun, Leo. Sepuluh tahun aku mencarimu.”

Dia memelukku erat.

“Aku tahu.”

Aku berhenti.

“Apa maksudmu?”

Leo mengeluarkan ponsel.

Di dalamnya ada puluhan foto.

Foto diriku bekerja di rumah sakit.

Foto ketika aku berjualan.

Foto ketika aku pulang malam.

Bahkan foto ketika aku mengunjungi panti asuhan lama.

“Aku menemukanmu tiga tahun lalu.”

Aku merasa sesak.

“Tiga tahun?”

“Aku ingin datang. Tapi Papa Adrian melarangku.”

“Kenapa?”

“Karena seseorang sudah mengawasi keluarga kami.”

Setelah ayah angkatnya sakit, Leo mulai mengetahui bahwa Surya Hartono perlahan mencoba mengambil alih perusahaan mereka. Adrian memintanya berpura-pura mengikuti rencana pernikahan sambil mengumpulkan bukti.

Sebelum meninggal, Adrian memperingatkan Leo agar tidak mendekatiku.

“Papa bilang kalau mereka tahu siapa orang yang paling berarti bagiku, mereka akan menggunakannya.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Jadi malam itu…”

“Aku melihat dua orang Surya berdiri dekat pintu hotel.”

Air mata memenuhi matanya.

“Kalau aku mengaku mengenalmu, mereka akan mencari tahu siapa kamu.”

“Tapi kamu membiarkan mereka mempermalukanku.”

“Aku tahu.”

Suaranya pecah.

“Aku ingin berlari menolongmu. Tapi kalau aku melakukannya, semuanya selesai.”

Aku terdiam.

Kemudian kutunjukkan dokumen yang ditemukan Pak Damar.

Wajah Leo langsung pucat.

“Aku tidak pernah menandatangani ini.”

“Berarti waktumu hampir habis.”

Pernikahan tinggal lima hari.

Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, kami kembali menjadi sebuah tim.

Pak Damar menghubungi pengacara Leo. Mereka menemukan transaksi yang menunjukkan beberapa direktur perusahaan telah menerima pembayaran dari Hartono Capital.

Namun kami masih membutuhkan bukti utama.

Bukti itu justru datang dari Isabella.

Malam sebelum pernikahan, Leo menerima pesan darinya.

Datang ke rumahku. Sendirian.

Aku melarangnya pergi.

Tetapi Leo tersenyum.

“Dulu Ate selalu melindungiku. Sekarang biarkan aku melindungi kita.”

Ternyata Isabella sudah mengetahui rencana ayahnya.

Dia menyerahkan rekaman percakapan Surya dengan pengacara pribadinya mengenai pemalsuan dokumen.

“Aku mencintaimu,” kata Isabella kepada Leo. “Tapi aku tidak mau pernikahan kita dibangun di atas kejahatan ayahku.”

Keesokan harinya ballroom hotel dipenuhi ratusan tamu.

Para pengusaha, pejabat perusahaan, dan media berdiri menunggu pernikahan terbesar tahun itu.

Aku berada di luar gedung.

Bukan sebagai penyapu jalan.

Aku mengenakan gaun sederhana berwarna biru tua.

Ketika pintu ballroom dibuka, semua orang menoleh.

Leo berdiri di altar.

Surya langsung pucat ketika melihatku.

“Apa perempuan itu?”

Leo mengambil mikrofon.

“Namanya Maya.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Dia kakak saya.”

Aku menahan napas.

Leo melanjutkan.

“Lebih tepatnya, dia adalah orang yang membesarkan saya ketika kami tidak punya siapa-siapa.”

Layar besar di belakang altar menyala.

Dokumen palsu muncul.

Kemudian rekaman suara Surya terdengar memenuhi ruangan.

Wajah para tamu berubah.

Surya berdiri.

“Matikan itu!”

Beberapa petugas kepolisian yang telah menunggu di luar masuk bersama pengacara perusahaan.

Pernikahan dibatalkan hari itu.

Investigasi terhadap Hartono Capital dimulai.

Beberapa bulan kemudian, Surya dan dua orang kepercayaannya ditetapkan sebagai tersangka atas pemalsuan dokumen dan percobaan penggelapan aset.

Namun kejutan terbesar bagiku bukan itu.

Leo menjual sebagian kecil saham pribadinya dan membeli sebuah bangunan tua di Jakarta.

Ketika dia mengajakku ke sana, aku melihat papan besar di depan bangunan.

Rumah Maya.

Aku menatapnya.

“Apa ini?”

“Rumah singgah.”

Leo tersenyum.

“Untuk anak-anak yang kehilangan keluarga dan kakak-kakak yang terlalu muda untuk menjadi orang tua, tapi tetap berjuang merawat adiknya.”

Air mataku jatuh.

“Kenapa namaku?”

Leo mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Mobil mainan merah.

Aku terdiam.

“Kamu masih punya?”

“Waktu aku dibawa ke panti, ini satu-satunya barang yang kubawa.”

Dia menggenggamnya.

“Setiap malam aku tidur sambil memegang ini karena aku takut lupa wajah Ate.”

Aku akhirnya memeluknya.

Kali ini dia tidak mundur.

Beberapa bulan setelah kasus itu selesai, aku kembali ke hotel tempat kami bertemu malam itu.

Hujan kembali turun.

Aku berdiri di tempat yang sama ketika dahulu tubuhku jatuh ke lumpur.

Leo berdiri di sampingku membawa payung.

“Ate masih marah?”

Aku tersenyum.

“Sedikit.”

Dia tertawa.

“Berapa lama lagi?”

“Mungkin sepuluh tahun.”

Kami tertawa bersama.

Aku pernah mengira hari ketika Leo menyangkal mengenalku adalah awal dari pembalasanku.

Aku salah.

Hari itu memang melahirkan sebuah pembalasan, tetapi bukan pembalasan terhadap adikku.

Yang kami lawan adalah hidup yang selama bertahun-tahun membuat kami percaya bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang memalukan dan masa lalu harus disembunyikan agar seseorang pantas dihormati.

Leo menggenggam tanganku.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa seperti perempuan yang kehilangan keluarga.

Aku akhirnya pulang.

Karena ternyata rumah bukanlah gedung mewah, uang, atau nama keluarga yang diwariskan kepada kita.

Rumah adalah seseorang yang masih mengingat siapa dirimu ketika seluruh dunia memaksamu menjadi orang lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang