“Jangan kasih HP-ku ke Ibu. Chat-nya jangan sampai dihapus lagi.”
Itulah kalimat pertama yang diucapkan istriku setelah hampir setengah jam tidak sadarkan diri.
Bukan permintaan air minum. Bukan pertanyaan tentang putri kami yang menangis kelaparan. Melainkan peringatan tentang ponselnya sendiri.
Aku, Raka Pratama, berdiri membeku di samping tandu ambulans.
Di belakangku, ibuku, Bu Ratna, mendadak kehilangan warna wajah.
“Nadira, maksud kamu apa?” tanyaku sambil menggenggam tangan istriku.
Namun Nadira hanya menggeleng lemah. Matanya bergerak ketakutan ke arah ibuku sebelum kembali terpejam.
Petugas medis segera membawanya keluar.
Aku menyerahkan Alya kepada tetangga kami, Bu Sari, yang kebetulan datang setelah mendengar sirene ambulans. Aku memintanya menjaga Alya sebentar sampai adik iparku tiba.
Ketika hendak mengambil tas Nadira, ibuku tiba-tiba menghadang.
“Biar Ibu yang ambilkan barang-barangnya.”
“Tidak perlu, Bu.”
“Ibu cuma mau membantu.”

Aku menatap wajahnya.
“Kalau Ibu benar-benar mau membantu, kenapa tadi Ibu membiarkan Nadira pingsan selama dua puluh menit?”
Ibuku terdiam.
Aku masuk ke kamar dan menemukan ponsel Nadira tergeletak di meja rias. Baterainya tinggal sebelas persen.
Di sebelahnya terdapat buku catatan kecil berwarna biru.
Ketika aku mengambil keduanya, ibuku muncul di ambang pintu.
“Raka, jangan sembarangan membaca barang pribadi istrimu.”
Aku menoleh.
“Aneh sekali, Bu. Tadi Ibu bilang Nadira cuma drama. Sekarang Ibu mendadak khawatir soal privasinya.”
“Ibu hanya tidak mau rumah tangga kalian rusak karena salah paham.”
“Kalau begitu, seharusnya Ibu tidak perlu takut.”
Aku memasukkan ponsel dan buku itu ke tas, lalu meninggalkan rumah tanpa menunggu jawabannya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, kalimat Nadira terus berputar di kepalaku.
Jangan sampai dihapus lagi.
Lagi.
Berarti sesuatu pernah dihapus sebelumnya.
Dan Nadira mengetahuinya.
Di instalasi gawat darurat, dokter menjelaskan bahwa kondisi Nadira memerlukan pemantauan karena mengalami dehidrasi, kelelahan berat, dan kadar gula darah yang rendah. Dokter juga melakukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan tidak ada komplikasi pascapersalinan.
Aku duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk.
Tujuh minggu lalu, aku berjanji kepada Nadira bahwa dia tidak akan menghadapi masa-masa setelah melahirkan sendirian.
Tetapi kenyataannya, setiap pagi aku berangkat bekerja sebelum matahari tinggi. Setiap malam aku pulang ketika Alya hampir tertidur.
Aku mengira membayar semua kebutuhan rumah sudah cukup.
Aku mengira mengatakan “sabar, ya” adalah bentuk dukungan.
Ternyata selama ini aku bahkan tidak tahu kapan terakhir kali istriku makan dengan tenang.
Ponsel Nadira bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Kalau kamu masih mau Raka menghormatimu sebagai istri, hapus semua percakapan itu. Jangan membuat masalah keluarga semakin besar.”
Aku membaca pesan tersebut berulang kali.
Nomor pengirimnya tidak tersimpan.
Namun gaya bahasanya terasa begitu akrab.
Aku pernah mendengar ancaman serupa.
Dari ibuku sendiri.
Tiga bulan sebelum Nadira melahirkan, ibuku pernah berkata, “Perempuan yang terlalu banyak mengadu kepada suami hanya akan membuat laki-laki kehilangan hormat.”
Saat itu aku menganggapnya nasihat kuno.
Sekarang kalimat tersebut terdengar berbeda.
Aku mengambil tangkapan layar pesan itu, lalu memeriksa riwayat percakapan.
Ada puluhan pesan dari nomor yang sama.
Sebagian besar berisi perintah.
“Besok Ibu datang. Siapkan makanan yang layak.”
“Jangan bilang Raka kalau Ibu minta uang belanja tambahan.”
“Kalau kamu memang istri yang baik, jangan hitung-hitungan dengan keluarga suami.”
Lalu sebuah pesan membuat tanganku berhenti bergerak.
“Uang lima belas juta yang Ibu pinjam bulan lalu jangan kamu ungkit lagi. Anggap saja balas budi karena Ibu sudah membesarkan Raka.”
Aku menegakkan tubuh.
Lima belas juta?
Nadira tidak pernah mengatakan apa pun tentang pinjaman itu.
Aku membuka aplikasi perbankannya, tetapi berhenti ketika diminta memasukkan kata sandi.
Aku tidak tahu kata sandinya, dan aku tidak ingin melanggar kepercayaan Nadira meskipun sedang panik.
Aku kembali membuka percakapan.
Pesan terakhir sebelum Nadira pingsan dikirim pukul sebelas lewat tujuh belas menit.
“Kalau sampai sore makanan belum siap, Ibu akan bilang kepada Raka bahwa kamu tidak becus mengurus rumah.”
Dadaku terasa sesak.
Pukul sebelas lewat tujuh belas menit.
Saat itu Nadira mungkin sedang menyusui Alya, menahan lapar, dan berusaha menyiapkan rendang untuk perempuan yang justru mengancamnya.
Namun yang paling mengerikan belum kutemukan.
Ketika membuka galeri, aku melihat sebuah folder bernama Bukti.
Di dalamnya terdapat rekaman suara.
Tanggalnya tiga minggu sebelumnya.
Aku menekan tombol putar.
Suara Nadira terdengar lirih.
“Bu, uang tabungan saya sudah hampir habis. Itu uang untuk kebutuhan Alya.”
Lalu suara ibuku menjawab dengan dingin.
“Anakmu tidak akan mati cuma karena popoknya diganti merek lebih murah.”
“Bukan begitu, Bu. Saya hanya minta uang yang kemarin dikembalikan.”
“Kamu berani menagih ibu mertuamu?”
“Saya tidak bermaksud kurang ajar.”
“Kalau begitu diam. Raka tidak perlu tahu.”
Aku mematikan rekaman.
Tanganku gemetar.
Selama ini ibuku selalu mengeluh bahwa Nadira terlalu boros. Bahkan beberapa kali dia mengatakan kepada keluarga besar bahwa gajiku habis untuk memenuhi keinginan istriku.
Aku mempercayainya.
Aku pernah menegur Nadira karena membeli alat pompa ASI elektrik seharga hampir dua juta rupiah.
Nadira hanya menjawab, “Aku membutuhkannya, Mas.”
Aku malah mengatakan bahwa ibuku dulu bisa menyusui tanpa peralatan mahal.
Sekarang aku ingin menampar diriku sendiri.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka.
Dokter mengatakan Nadira sudah sadar dan kondisinya mulai stabil.
Aku segera masuk.
Nadira berbaring dengan selang infus di tangannya. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya terbuka.
Ketika melihatku, dia langsung bertanya, “Alya di mana?”
“Aman. Sama Bu Sari. Dinda sedang menuju rumah untuk menjemputnya.”
Dia mengangguk lemah.
Aku duduk di samping ranjang.
“Nad, aku sudah lihat pesan-pesan itu.”
Tubuhnya langsung menegang.
“Mas marah?”
Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada apa pun.
Istriku sedang terbaring di rumah sakit karena kelelahan, tetapi yang pertama dia takutkan adalah kemarahanku.
“Kenapa kamu pikir aku akan marah?”
Air matanya mulai mengalir.
“Karena setiap kali aku cerita soal Ibu, Mas selalu bilang aku harus mengerti.”
Aku tidak mampu menjawab.
Nadira menatap langit-langit.
“Awalnya cuma komentar soal masakan. Lalu soal cara aku berpakaian. Setelah hamil, Ibu mulai meminta uang.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Aku bilang, Mas.”
Aku terdiam.
“Waktu bulan kelima kehamilan, aku pernah bilang uang tabunganku berkurang karena Ibu meminjamnya. Mas bilang mungkin aku salah paham.”
Ingatan itu muncul perlahan.
Aku memang pernah mengatakannya.
Saat itu aku sedang menonton pertandingan sepak bola.
Aku bahkan tidak menoleh ketika Nadira berbicara.
“Setelah itu Ibu mulai mengirim pesan dari nomor lain,” lanjutnya. “Dia bilang kalau aku mengadu lagi, dia akan membuat Mas membenciku.”
“Kenapa pesan-pesannya sempat terhapus?”
Nadira menggigit bibir.
“Dua minggu lalu Ibu datang ketika aku sedang mandi. HP-ku tertinggal di ruang tamu. Setelah itu beberapa percakapan hilang.”
“Bagaimana Ibu bisa membuka ponselmu?”
“Dulu Ibu pernah melihat PIN-ku waktu aku membuka aplikasi belanja. Aku baru sadar setelah kejadian itu.”
Nadira menarik napas panjang.
“Aku mengganti PIN dan mulai menyimpan bukti. Aku takut suatu hari Mas benar-benar percaya kalau aku istri yang buruk.”
Aku menggenggam tangannya.
“Maafkan aku.”
Dia memandangku.
“Mas tahu apa yang paling menyakitkan?”
Aku menggeleng.
“Bukan karena Ibu memperlakukanku seperti pembantu.”
Suaranya mulai bergetar.
“Tapi karena setiap kali aku berharap Mas membelaku, Mas justru menyuruhku bersabar.”
Aku menunduk.
Tidak ada alasan yang cukup baik untuk membantahnya.
Beberapa saat kemudian, Nadira mengatakan sesuatu yang membuatku semakin terkejut.
“Mas, uang yang Ibu ambil bukan cuma lima belas juta.”
Aku mengangkat wajah.
“Berapa?”
“Empat puluh tujuh juta.”
Aku merasa seluruh ruangan mendadak sunyi.
“Empat puluh tujuh juta?”
Nadira mengangguk.
“Bertahap sejak aku hamil. Katanya untuk biaya pengobatan, memperbaiki rumah, dan membayar utang lama.”
“Tapi setiap bulan aku mengirim uang kepada Ibu.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa Ibu masih meminta darimu?”
“Itu yang tidak pernah aku mengerti.”
Keesokan paginya, setelah dokter memastikan kondisi Nadira membaik, aku menelepon adik perempuanku, Dinda.
Dia datang membawa Alya dan sebuah tas berisi pakaian bersih.
Begitu melihat Nadira, Dinda langsung menangis.
“Kak Nadira, kenapa sampai begini?”
Nadira hanya tersenyum lemah.
Aku mengajak Dinda berbicara di luar kamar.
“Din, kamu tahu Ibu pernah meminjam uang dari Nadira?”
Wajah Dinda berubah.
“Berapa?”
“Empat puluh tujuh juta.”
Dia menutup mulut.
“Ya Allah.”
“Kamu tahu sesuatu?”
Dinda ragu sebelum menjawab.
“Mas, dua bulan lalu Ibu bilang Kak Nadira yang sering meminta uang darinya.”
Aku tertegun.
“Apa?”
“Ibu bahkan menunjukkan tangkapan layar percakapan. Katanya Kak Nadira mengancam tidak akan mengizinkan Ibu bertemu Alya kalau tidak diberi uang.”
Aku merasakan dingin menjalar di punggung.
“Masih ada tangkapan layarnya?”
Dinda mengangguk dan membuka ponsel.
Ketika melihat gambar itu, aku langsung mengenali foto profil Nadira.
Namun kalimat-kalimat di dalamnya terasa asing.
Salah satunya berbunyi, “Kalau Ibu tidak transfer sepuluh juta, jangan harap bisa melihat cucu Ibu.”
Aku menunjukkan gambar tersebut kepada Nadira.
Dia langsung menggeleng.
“Aku tidak pernah menulis itu.”
Dinda memperbesar tangkapan layar.
Lalu dia menunjuk sesuatu.
“Mas, lihat nomor teleponnya.”
Nomor itu bukan nomor Nadira.
Hanya foto profil dan namanya yang sama.
Seseorang telah membuat akun palsu untuk menyamar sebagai istriku.
Dan orang yang menyebarkan percakapan itu adalah ibuku sendiri.
Sore harinya aku menemui ibuku di rumah lamanya di Ciputat.
Dia sedang menyiram tanaman ketika aku datang.
“Bagaimana Nadira?” tanyanya.
“Sudah membaik.”
“Tuh, kan. Ibu bilang juga cuma kecapekan.”
Aku tidak menjawab.
Aku duduk di teras dan meletakkan ponsel di meja.
“Bu, aku mau tanya sesuatu.”
Ibuku menarik kursi.
“Soal apa?”
“Empat puluh tujuh juta yang Ibu ambil dari Nadira dipakai untuk apa?”
Wajahnya langsung berubah.
“Istri kamu mengadu lagi?”
“Aku cuma bertanya.”
“Itu uang keluarga. Kenapa harus dihitung?”
“Karena itu tabungan Nadira.”
“Ibu membesarkan kamu sampai sukses. Sekarang uang segitu saja dipermasalahkan?”
Aku menarik napas.
“Setiap bulan aku mengirim delapan juta kepada Ibu. Semua kebutuhan rumah ini juga kubayar. Jadi uang Nadira dipakai untuk apa?”
Ibuku membuang muka.
Aku kemudian menunjukkan tangkapan layar akun palsu tersebut.
“Ini juga Ibu yang buat?”
“Ibu tidak mengerti teknologi begituan.”
“Kalau begitu, siapa yang mengirimkannya kepada Dinda?”
“Ibu cuma meneruskan pesan.”
“Dari siapa?”
Dia diam.
Aku menunggu.
Akhirnya ibuku berkata, “Pokoknya Nadira memang tidak menghormati Ibu.”
Aku berdiri.
“Kalau Ibu tidak mau menjelaskan, aku akan meminta bantuan pihak berwenang untuk menelusuri akun ini.”
Wajah ibuku mendadak pucat.
“Raka, jangan mempermalukan keluarga sendiri.”
“Yang mempermalukan keluarga bukan orang yang mencari kebenaran, Bu.”
Aku berbalik hendak pergi.
Namun sebelum mencapai pagar, ibuku memanggil.
“Uangnya masih ada sebagian.”
Aku berhenti.
“Sebagian?”
Ibuku mulai menangis.
Dia mengaku menggunakan uang Nadira untuk membantu adik laki-lakinya, Om Hendra, yang terlilit utang akibat usaha bengkel yang bangkrut.
“Aku takut kamu marah kalau tahu Ibu masih membantu Hendra,” katanya.
“Lalu kenapa harus mengambil uang Nadira?”
“Karena dia punya tabungan.”
“Jadi Ibu merasa berhak mengambilnya?”
Ibuku menangis semakin keras.
“Aku cuma meminjam.”
“Meminjam tidak disertai ancaman, Bu.”
Dia menunduk.
Ketika kutanya soal akun palsu, akhirnya ibuku mengaku bahwa Om Hendra yang membantunya membuat akun tersebut.
Tujuannya agar Dinda dan keluarga besar percaya bahwa Nadira adalah menantu yang serakah.
“Kalau semua orang membenci Nadira, dia tidak akan berani menagih uang itu,” kataku pelan.
Ibuku tidak menjawab.
Diamnya sudah cukup.
Aku pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Selama tiga puluh empat tahun, aku mengenal ibuku sebagai perempuan yang berjuang sendirian setelah ayah meninggal.
Aku tahu dia pernah hidup susah.
Aku tahu dia takut kehilangan kendali atas keluarganya.
Namun penderitaan masa lalu tidak memberinya hak menyakiti orang lain.
Malam itu aku menghubungi Om Hendra.
Awalnya dia membantah semuanya.
Namun ketika kukatakan bahwa ibuku sudah mengaku, suaranya berubah gugup.
Dia akhirnya berjanji mengembalikan uang tersebut secara bertahap.
Aku meminta perjanjian tertulis dan bukti pembayaran yang jelas.
Bukan karena ingin membalas dendam.
Melainkan karena uang itu milik Nadira, dan keputusan untuk memaafkan mereka bukan hakku.
Tiga hari kemudian, Nadira diperbolehkan pulang.
Aku mengambil cuti selama dua minggu dan mengatur bantuan pengasuh paruh waktu agar Nadira memiliki kesempatan beristirahat.
Aku juga mulai mengambil alih pekerjaan rumah.
Mencuci botol susu.
Mengganti popok.
Menyiapkan makanan.
Menidurkan Alya ketika dia terbangun tengah malam.
Pada malam keempat, aku baru memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah kupikirkan.
Alya terbangun enam kali.
Setiap kali aku hampir tertidur, dia kembali menangis.
Pukul lima pagi, aku duduk di tepi ranjang dengan mata perih dan kepala berdenyut.
Nadira terbangun dan melihatku.
“Capek, Mas?”
Aku mengangguk.
Dia tersenyum kecil.
“Aku begitu hampir setiap malam.”
Aku menatapnya lama.
Kemudian aku menangis.
Bukan karena kurang tidur.
Melainkan karena baru sekarang aku memahami betapa sendirinya perempuan yang tidur di sampingku selama ini.
Seminggu kemudian, ibuku datang ke depan pagar.
Dia membawa sekotak kue dan sebuah amplop.
Aku keluar menemuinya.
“Ibu mau bertemu Nadira,” katanya.
“Sudah kutanyakan. Nadira belum siap.”
Wajahnya murung.
“Ibu cuma mau minta maaf.”
“Kalau begitu, Ibu bisa menulis surat. Aku akan memberikannya kepada Nadira kalau dia bersedia.”
Ibuku menyerahkan amplop.
Di dalamnya terdapat uang dua puluh juta rupiah, sebagian dari uang Nadira yang berhasil dikembalikan.
“Aku sudah menjual beberapa perhiasan,” katanya pelan.
Aku menerima amplop itu.
“Terima kasih sudah mulai mengembalikannya, Bu. Tapi masih ada sisanya.”
Ibuku mengangguk.
Untuk pertama kalinya, dia tidak membela diri.
Sebelum pergi, dia bertanya, “Kamu masih menganggap Ibu sebagai ibumu?”
Aku menatap perempuan yang telah membesarkanku itu.
“Tentu.”
Air matanya mengalir.
“Tapi menjadi anak Ibu tidak berarti aku harus membiarkan Ibu menyakiti istriku.”
Dia menunduk lama, lalu berjalan pergi.
Aku tidak tahu apakah suatu hari Nadira akan memaafkannya.
Aku juga tidak tahu apakah hubungan keluarga kami bisa kembali seperti dahulu.
Namun aku tidak akan memaksa Nadira melupakan apa yang telah terjadi hanya demi menjaga suasana keluarga.
Sebulan kemudian, kondisi Nadira jauh lebih baik.
Dia mulai tertawa ketika Alya mengoceh.
Dia kembali membaca novel kesukaannya.
Dan suatu sore, dia meminta kami duduk bersama di ruang keluarga.
“Aku mau menunjukkan sesuatu,” katanya.
Dia mengambil buku catatan biru yang kutemukan pada hari dia pingsan.
Aku mengira buku itu berisi catatan pengeluaran atau bukti uang yang dipinjam ibuku.
Ternyata bukan.
Di halaman pertama tertulis tanggal kelahiran Alya.
Di bawahnya ada sebuah kalimat.
“Hari ini aku menjadi ibu. Semoga aku tidak kehilangan diriku sendiri.”
Aku membalik halaman berikutnya.
Ada catatan tentang jam menyusui, berat badan Alya, dan beberapa hal kecil yang membuat Nadira bahagia.
Namun semakin jauh kubaca, tulisannya berubah.
“Aku ingin tidur empat jam tanpa terbangun.”
“Aku ingin makan selagi nasinya masih hangat.”
“Aku ingin seseorang bertanya apakah aku baik-baik saja, lalu benar-benar mendengarkan jawabannya.”
Tanganku berhenti pada halaman terakhir.
Tanggalnya adalah hari ketika Nadira pingsan.
Tulisan itu tampak tergesa-gesa.
“Aku sudah memasak rendang. Alya terus menangis. Kepalaku sakit sekali. Ibu bilang aku malas karena belum menyiapkan sambal. Aku takut jatuh sambil menggendong Alya, jadi aku meletakkannya di boks.”
Di bawahnya terdapat satu kalimat lagi.
“Kalau aku sampai tidak sadar, semoga Raka pulang sebelum sesuatu terjadi pada anak kami.”
Aku menutup buku itu.
Dadaku terasa seperti diremas.
Nadira memandangku tanpa berkata apa-apa.
Aku menariknya ke dalam pelukan.
“Maaf aku terlambat mengerti.”
Dia menangis di bahuku.
Namun kali ini aku tidak menyuruhnya bersabar.
Aku hanya memeluknya sampai tangisnya mereda.
Beberapa hari setelah itu, sebuah pesan masuk dari ibuku.
Isinya singkat.
“Ibu sudah mentransfer sisa uang Nadira. Ibu tidak meminta dia memaafkan Ibu. Ibu cuma ingin dia tahu bahwa Ibu akhirnya mengerti, seorang ibu tidak seharusnya membuat ibu lain menderita.”
Aku menunjukkan pesan itu kepada Nadira.
Dia membacanya perlahan.
Kemudian meletakkan ponsel di meja.
“Mas, aku belum bisa bertemu Ibu.”
“Tidak apa-apa.”
“Tapi mungkin suatu hari nanti.”
Aku mengangguk.
Tidak ada yang perlu dipaksakan.
Sore itu, ketika matahari mulai turun di balik rumah-rumah Bintaro, aku menggendong Alya di teras.
Nadira duduk di sebelahku sambil menikmati secangkir teh hangat.
Untuk pertama kalinya sejak melahirkan, dia berhasil menghabiskan minumannya sebelum dingin.
Hal kecil yang dulu mungkin tidak akan kusadari.
Alya menggeliat dalam pelukanku.
Aku menatap wajah mungilnya, lalu teringat sesuatu yang pernah dikatakan ibuku.
Dulu Ibu habis melahirkan kamu seminggu kemudian sudah mencuci sendiri.
Dulu Ibu tidak pernah mengeluh.
Dulu Ibu melakukan semuanya tanpa bantuan.
Kini aku memahami bahwa mungkin ibuku memang pernah mengalami penderitaan yang sama.
Mungkin tidak ada seorang pun yang membantunya.
Mungkin dia menganggap kelelahan sebagai kewajiban karena sejak muda tidak pernah diberi pilihan lain.
Namun satu hal menjadi jelas bagiku.
Penderitaan yang diwariskan tidak harus diteruskan.
Aku menoleh kepada Nadira.
“Besok pagi kamu mau sarapan apa?”
Dia tersenyum.
“Martabak keju.”
Aku tertawa kecil.
“Buat sarapan?”
“Iya. Yang waktu itu Mas beli, aku bahkan belum sempat mencicipinya.”
Aku terdiam sejenak.
Martabak yang kubeli pada hari dia pingsan.
Martabak yang tertinggal di meja ketika ambulans datang.
Aku menggenggam tangannya.
“Besok aku belikan yang paling besar.”
Nadira menggeleng sambil tersenyum.
“Tidak usah yang besar, Mas.”
“Lalu?”
Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Yang penting kita makan sama-sama.”
Aku memeluk Alya sedikit lebih erat.
Dan saat itulah aku menyadari sesuatu.
Selama ini aku bekerja keras agar keluargaku tidak kekurangan uang, rumah, atau makanan.
Tetapi hampir saja aku kehilangan keluargaku sendiri karena tidak pernah benar-benar hadir di dalamnya.
Hari ketika istriku pingsan bukanlah hari ketika ibuku menghancurkan rumah tanggaku.
Hari itu adalah hari ketika aku akhirnya melihat betapa lama aku telah membiarkan istriku berjuang sendirian.
Dan untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa menjadi suami yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak yang bisa kuberikan.
Melainkan tentang apakah orang yang kucintai merasa aman, didengar, dan tidak perlu jatuh sakit terlebih dahulu agar penderitaannya dipercaya.
