Nama yang muncul di layar komputer itu membuat lututku mendadak lemas.
Rudi Hartono.
Namaku sendiri.
Di sampingnya tercatat waktu akses pukul 18.06, tepat beberapa menit sebelum ledakan yang menghancurkan kiosku.
“Pak Asep, saya bahkan tidak punya kartu akses gedung,” kataku dengan suara bergetar.
Pak Asep mengangguk pelan. Wajahnya terlihat sama bingungnya denganku.
“Itulah yang membuat saya heran, Pak. Nama Bapak terdaftar sebagai petugas teknis sementara sejak kemarin sore.”
“Siapa yang mendaftarkan?”
Pak Asep menggerakkan tetikus. Sebuah formulir digital muncul.
Pada bagian persetujuan tertulis nama Surya Adinata.
Aku memandangi layar itu lama sekali.
Lelaki yang pagi tadi menawarkan uang seratus lima puluh juta rupiah agar aku mengaku bersalah ternyata sudah memasukkan namaku ke dalam sistem sebelum kebakaran terjadi.
“Boleh saya foto, Pak?”
Pak Asep ragu.
“Kalau ketahuan, saya bisa kehilangan pekerjaan.”
Aku menunduk.

“Sebelas tahun saya bekerja di sana, Pak. Semua peralatan saya habis. Anak saya sebentar lagi masuk kuliah. Kalau saya sampai dipenjara karena sesuatu yang tidak saya lakukan, bagaimana nasib keluarga saya?”
Pak Asep menarik napas panjang.
Kemudian ia mencetak dua lembar dokumen.
“Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kalau Bapak memang tidak bersalah, jangan berhenti mencari bukti.”
Aku menerima kertas itu dengan tangan gemetar.
Namaku Rudi Hartono. Umurku empat puluh sembilan tahun. Selama sebelas tahun aku memperbaiki sepatu dan tas di lorong samping Universitas Cakrawala, Bandung.
Aku tidak pernah membayangkan pekerjaan sederhana itu akan menyeretku ke dalam perkara yang melibatkan orang-orang berkuasa.
Semuanya bermula dari Raka Adinata.
Mahasiswa berusia dua puluh tahun yang gemar mempermalukanku di depan teman-temannya.
Tiga bulan terakhir, dia menjadikan kiosku bahan ejekan. Pernah dia menuduhku mengambil jam tangannya, lalu mengunggah video yang membuat pelanggan menjauh.
Puncaknya terjadi ketika dia menendang gerobak perkakasku karena aku menolak mengosongkan lorong sebelum masa sewaku berakhir.
Malam itu, sebuah acara gala mahasiswa berlangsung di gedung belakang kiosku.
Feri, teknisi acara, sempat memperingatkan bahwa kabel tambahan tidak sesuai spesifikasi dan beban listrik terlalu besar.
Namun acara tetap dilanjutkan.
Tak lama kemudian, ledakan terdengar.
Aku menemukan Raka terjebak di balik pintu besi lorong servis. Dengan bantuan tuas manual, aku berhasil menyeretnya keluar.
Aku menyelamatkan nyawanya.
Tetapi kiosku habis terbakar.
Dan sekarang, namaku tercatat sebagai orang yang mengaktifkan panel listrik penyebab kebakaran.
Ketika aku pulang malam itu, putriku, Nabila, sedang duduk di meja makan.
Usianya tujuh belas tahun. Dia baru saja diterima di salah satu perguruan tinggi negeri melalui jalur prestasi.
Di depannya tergeletak brosur biaya daftar ulang.
“Ayah sudah makan?”
Aku menggeleng.
Nabila memperhatikan wajahku.
“Ada masalah lagi?”
Aku menyerahkan dokumen dari Pak Asep.
Dia membacanya perlahan.
“Ayah, ini bukan sekadar salah laporan.”
“Ayah tahu.”
“Ini seperti sudah direncanakan.”
Aku tidak menjawab.
Nabila mengambil laptopnya.
Dia membuka foto label kabel hangus yang kutemukan pada tang kombinasi milik Feri.
Kode QR itu mengarah ke data pengadaan peralatan acara.
Pemasoknya bernama PT Lintas Energi Mandiri.
Nomor pekerjaannya cocok dengan acara gala mahasiswa.
Namun Nabila menemukan sesuatu yang aneh.
“Ayah, lihat tanggal pengadaannya.”
Aku mendekat.
Dokumen itu dibuat enam minggu sebelumnya.
Padahal pemasangan kabel baru dilakukan sehari sebelum acara.
“Memangnya kenapa?”
“Coba lihat keterangan barangnya.”
Pada dokumen tertulis kabel tembaga standar industri dengan kapasitas tertentu.
Namun kode batch pada label hangus menunjukkan jenis kabel dengan spesifikasi lebih rendah.
Nabila membuka katalog teknis yang masih tersimpan di situs pemasok.
“Kalau data ini benar, mereka membayar kabel mahal, tetapi memasang kabel yang lebih murah.”
Aku terdiam.
“Bisa saja salah kirim?”
“Bisa. Tapi kenapa teknisinya sudah memperingatkan dan tetap disuruh menyalakan semuanya?”
Pertanyaan itu membuatku teringat wajah Feri sebelum ledakan.
Lelaki itu tampak ketakutan.
Keesokan paginya aku mendatangi rumah kontrakannya di kawasan Antapani.
Pintu terkunci.
Seorang tetangga mengatakan Feri dibawa pergi dua lelaki malam sebelumnya.
“Katanya mau dibawa ke rumah sakit karena tangannya luka,” ujar perempuan itu.
“Rumah sakit mana?”
“Tidak tahu, Pak. Tapi dia sempat menitipkan sesuatu.”
Perempuan itu menyerahkan kantong plastik kecil.
Di dalamnya ada kunci loker dan secarik kertas.
Tulisan Feri tampak terburu-buru.
Pak Rudi, jangan percaya laporan pertama. Loker 17, bengkel belakang gedung olahraga.
Dadaku berdebar.
Aku segera menghubungi Nabila.
“Ayah mau mengambil sesuatu. Kamu tunggu di rumah.”
Namun putriku langsung menjawab, “Aku ikut.”
“Jangan. Ini berbahaya.”
“Ayah sudah dituduh membakar gedung. Aku tidak mau Ayah menghadapi semuanya sendirian.”
Akhirnya kami pergi bersama.
Bengkel belakang gedung olahraga sedang sepi karena sebagian area kampus masih ditutup untuk pemeriksaan.
Di dalam loker nomor tujuh belas, kami menemukan sebuah ponsel lama, buku catatan teknisi, dan kartu memori.
Nabila memasukkan kartu memori ke laptopnya.
Ada beberapa rekaman video.
Rekaman pertama memperlihatkan Feri sedang memeriksa panel listrik.
Suaranya terdengar jelas.
“Pak, kabel ini tidak sesuai spesifikasi. Saya sudah lapor dua kali. Kalau LED wall dan pendingin tambahan dinyalakan bersamaan, sambungannya bisa terlalu panas.”
Seseorang di luar kamera menjawab.
“Pokoknya acara harus jalan.”
Aku mengenali suara itu.
Raka.
Rekaman kedua membuat darahku berdesir.
Raka berdiri bersama seorang lelaki berjas abu-abu di dekat ruang panel.
Lelaki itu berkata, “Bapakmu sudah mengurus semuanya. Kalau ada masalah, pedagang di lorong itu yang akan bertanggung jawab.”
Raka tampak terkejut.
“Maksud Om Dimas apa?”
“Namanya sudah masuk daftar petugas sementara. Tinggal dibuat seolah dia menyambungkan listrik kiosnya lagi.”
“Bukannya listrik kios itu sudah diputus?”
“Makanya jangan banyak bertanya.”
Rekaman berhenti.
Aku mengenali lelaki berjas abu-abu itu sebagai salah satu orang yang datang bersama Surya untuk menawariku uang.
Nabila menutup mulutnya.
“Ayah, mereka memang mau menjebak Ayah.”
Aku merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kehilangan kios.
Selama ini aku mengira Raka hanya anak kaya yang sombong.
Ternyata orang-orang di sekitarnya telah merancang sesuatu yang jauh lebih kejam.
Namun satu pertanyaan belum terjawab.
Mengapa Raka berada di dalam ruang servis saat kebakaran?
Jawabannya datang sore itu.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Kalau Bapak ingin tahu isi amplop itu, datang ke rumah sakit malam ini. Jangan bawa wartawan.
Pesan tersebut disertai nomor kamar.
Pengirimnya Raka.
Aku hampir menghapus pesan itu.
Namun Nabila mengingatkanku tentang amplop cokelat yang ikut terseret ketika aku menyelamatkannya.
Amplop itu hilang dalam kekacauan malam kebakaran.
Aku belum pernah mengetahui isinya.
Pukul delapan malam, aku tiba di rumah sakit.
Raka berbaring dengan selang oksigen kecil di hidung. Salah satu lengannya dibalut perban.
Wajahnya pucat.
Tidak ada lagi senyum mengejek yang biasa kulihat.
“Bapak datang,” katanya lirih.
“Apa yang kamu inginkan?”
Raka menunduk.
“Saya mau minta maaf.”
Aku tertawa pendek.
“Untuk sepatu? Gerobak? Video yang membuat orang mengira saya pencuri? Atau karena kios saya terbakar?”
Matanya memerah.
“Semuanya.”
Aku berdiri hendak pergi.
Namun Raka mengangkat tangan.
“Pak, amplop itu sebenarnya untuk Bapak.”
Langkahku terhenti.
Raka meraih laci samping ranjang dan mengeluarkan amplop cokelat yang bagian tepinya menghitam.
Namaku masih terlihat jelas.
“Kenapa kamu membawa amplop dengan namaku?”
Raka menatap langit-langit.
“Saya menemukannya di meja kerja ayah saya, dua hari sebelum acara.”
Dia menarik napas perlahan.
“Awalnya saya pikir itu dokumen biasa. Tapi saya melihat nama Bapak dan foto kios Bapak.”
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat salinan surat pengakhiran sewa, rancangan laporan insiden, dan denah renovasi kawasan kampus.
Pada denah tersebut, lokasi kiosku termasuk area pembangunan pusat komersial baru.
Proyek itu bernilai puluhan miliar rupiah.
Raka melanjutkan dengan suara bergetar.
“Ayah saya sudah lama ingin mengambil alih pengelolaan area belakang kampus. Tapi izin penggunaan beberapa kios belum berakhir.”
“Jadi kalian sengaja membuat kebakaran?”
“Tidak, Pak!”
Raka langsung meringis karena batuk.
“Saya memang disuruh membuat Bapak tidak nyaman supaya pergi. Saya mengakui itu. Tapi saya tidak tahu mereka akan memalsukan akses listrik.”
Aku menatapnya tajam.
“Lalu kenapa kamu ada di ruang servis?”
Raka memejamkan mata.
“Saya mendengar Om Dimas berbicara tentang laporan palsu. Saya masuk untuk mengambil dokumen dan mematikan panel sebelum terjadi masalah.”
“Kenapa tidak memanggil petugas?”
“Karena saya takut ayah saya ditangkap.”
Dia menangis tanpa suara.
“Saya masih ingin melindungi dia, Pak. Bahkan setelah tahu apa yang dilakukannya.”
Aku terdiam.
Raka kemudian mengeluarkan ponselnya.
“Ada satu rekaman lagi.”
Dalam video itu, Surya Adinata sedang berbicara dengan Dimas di sebuah ruangan kantor.
“Kalau pedagang itu tetap bertahan, buat saja alasan pelanggaran keselamatan,” kata Surya.
Dimas menjawab, “Kalau terjadi korsleting, kita bisa arahkan pemeriksaan ke kiosnya.”
Surya mengangguk.
“Yang penting proyek tidak tertunda.”
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Kenapa kamu baru menunjukkan ini sekarang?”
Raka menatapku dengan mata basah.
“Karena saya pengecut.”
Dia terdiam sejenak.
“Waktu pintu besi itu terkunci, saya pikir saya akan mati. Saya berteriak sampai suara habis. Orang-orang yang biasanya memanggil saya anak bos sudah lari menyelamatkan diri.”
Air matanya jatuh.
“Yang datang justru Bapak. Orang yang paling sering saya hina.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Raka menggenggam ujung selimutnya.
“Saya sudah menyerahkan salinan rekaman kepada penyidik. Tapi ayah saya punya banyak kenalan. Saya takut buktinya hilang.”
Aku memandang amplop di tanganku.
“Kalau begitu, kita pastikan ada lebih dari satu orang yang menyimpannya.”
Malam itu aku menghubungi seorang pengacara bantuan hukum yang direkomendasikan guru Nabila.
Kami menyerahkan salinan seluruh dokumen dan rekaman kepada penyidik serta pihak universitas melalui jalur resmi.
Nabila membantu membuat cadangan berkas dengan catatan waktu dan sumbernya.
Pak Asep bersedia memberikan keterangan tentang pemutusan listrik kios.
Feri akhirnya ditemukan sedang menjalani perawatan di sebuah klinik swasta.
Dia mengaku diminta menandatangani laporan teknis yang tidak sesuai dengan temuannya.
Namun dia menolak.
Karena itulah ponselnya diambil dan dia ditekan agar tidak berbicara kepada siapa pun.
Dengan bantuan pengacara, Feri memberikan kesaksian.
Pemeriksaan independen kemudian menemukan bahwa sumber panas berasal dari sambungan kabel panel tambahan acara, bukan dari kiosku.
Rekaman kamera pengawas juga menunjukkan Dimas memasuki ruang kontrol menggunakan kartu akses administratif beberapa menit sebelum sistem mencatat namaku.
Nama Rudi Hartono ternyata dimasukkan melalui akun petugas yang memiliki hak mengubah identitas pengguna.
Aku sama sekali tidak pernah menerima kartu akses tersebut.
Dua minggu kemudian, Surya Adinata dipanggil untuk diperiksa.
Dimas juga diperiksa terkait dugaan pemalsuan dokumen dan manipulasi laporan keselamatan.
Kasusnya belum selesai, tetapi untuk pertama kalinya, namaku tidak lagi tercantum sebagai pihak yang diduga menyebabkan kebakaran.
Universitas membatalkan surat evaluasi izin kiosku dan mengumumkan bahwa laporan awal tidak dapat dijadikan dasar untuk menyalahkanku.
Namun kemenangan itu terasa aneh.
Karena kiosku tetap sudah menjadi abu.
Suatu sore, aku berdiri di depan puing-puingnya.
Mesin jahit kulit yang kubeli dari hasil menabung bertahun-tahun hanya menyisakan rangka hitam.
Di bawah meja, aku menemukan sepasang sepatu sekolah kecil.
Sepatu itu milik Nabila ketika masih kelas satu SD.
Dulu aku menyimpannya sebagai pengingat bahwa dari pekerjaan sederhana itulah aku membesarkan putriku.
Aku duduk di lantai dan menangis.
Bukan karena marah.
Melainkan karena untuk pertama kalinya aku tidak tahu harus memulai dari mana.
“Ayah.”
Nabila berdiri di belakangku.
Dia membawa sebuah kotak.
“Ada yang menitipkan.”
Di dalamnya terdapat mesin jahit kulit portabel yang masih baru.
Sebuah kartu kecil tergeletak di atasnya.
Saya tidak meminta Bapak melupakan kesalahan saya. Saya hanya ingin mulai memperbaiki sesuatu yang pernah saya rusak.
Raka.
Aku langsung meneleponnya.
“Kamu pikir mesin ini bisa mengganti sebelas tahun kerja keras saya?”
“Tidak, Pak.”
“Lalu kenapa kamu mengirimnya?”
“Karena saya tidak tahu cara meminta maaf selain mencoba membantu.”
Aku menghela napas.
“Kalau benar ingin berubah, jangan gunakan uang untuk menutupi kesalahanmu.”
Raka terdiam.
“Lalu saya harus bagaimana?”
“Belajar bertanggung jawab. Mulai dari hal yang paling sulit.”
“Apa itu, Pak?”
“Mengatakan kebenaran, meskipun orang yang salah adalah ayahmu sendiri.”
Beberapa hari kemudian, Raka melakukan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.
Dia memberikan kesaksian resmi mengenai keterlibatannya dalam upaya mengintimidasi pedagang dan apa yang diketahuinya tentang penggantian material listrik.
Dia juga mengunggah video permintaan maaf terbuka.
Dalam video itu, dia mengakui bahwa tuduhan tentang jam tangannya tidak berdasar.
Dia menjelaskan bahwa aku tidak pernah mencuri apa pun.
Untuk pertama kalinya, orang-orang yang dulu menertawakanku mulai datang meminta maaf.
Sebagian pelanggan lama kembali menghubungiku.
Komunitas mahasiswa mengadakan penggalangan dana untuk membantu membangun kios sementara.
Namun kejutan terbesar datang dari pihak universitas.
Dalam sebuah pertemuan, wakil rektor menunjukkan dokumen lama.
“Pak Rudi, apakah Bapak mengenal almarhum Pak Hendra Prasetyo?”
Aku tertegun.
“Beliau dosen teknik yang dulu sering memperbaiki sepatu di kios saya.”
Wakil rektor mengangguk.
“Beliau meninggalkan catatan mengenai Bapak.”
Aku tidak mengerti.
Beliau kemudian menyerahkan sebuah map.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan bertanggal delapan tahun sebelumnya.
Aku langsung mengenali nama Hendra di bagian bawah.
Dulu Pak Hendra sering datang membawa sepatu rusak. Kadang dia tidak punya uang tunai dan berjanji membayar minggu berikutnya.
Aku tidak pernah mempermasalahkannya.
Suatu hari dia datang bersama seorang mahasiswa yang hampir putus kuliah karena kesulitan biaya.
Aku ingat memberikan pekerjaan kecil kepada mahasiswa itu untuk membantuku membersihkan sepatu setiap akhir pekan.
Aku bahkan meminjamkan sebagian tabunganku agar dia bisa membayar biaya semester.
Aku sudah lama melupakan kejadian tersebut.
Namun dalam surat itu, Pak Hendra menulis bahwa bantuan kecilku telah menyelamatkan masa depan seorang mahasiswa.
“Mahasiswa itu sekarang menjadi salah satu anggota yayasan pendukung universitas,” kata wakil rektor.
Aku mengangkat wajah.
“Siapa?”
Pintu ruang pertemuan terbuka.
Seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun masuk dengan mata berkaca-kaca.
“Bapak masih ingat saya?”
Aku memperhatikannya lama.
Kemudian ingatanku kembali pada seorang pemuda kurus yang dulu selalu mengenakan jaket biru pudar.
“Deni?”
Lelaki itu tersenyum sambil menangis.
“Iya, Pak. Saya Deni.”
Dia mendekat dan mencium tanganku.
“Dulu Bapak bilang saya boleh mengembalikan uang itu kapan saja kalau sudah bekerja.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu sudah mengembalikannya, Nak. Bahkan lebih.”
Deni menggeleng.
“Belum, Pak.”
Dia menjelaskan bahwa dirinya kini memiliki perusahaan teknologi di Jakarta.
Setelah mendengar kebakaran dan tuduhan terhadapku, dia menghubungi universitas.
Dia tidak ingin sekadar menyumbang uang.
Melalui yayasan yang dikelolanya, Deni menawarkan pembiayaan pembangunan bengkel reparasi dan pelatihan keterampilan bagi warga berpenghasilan rendah di dekat kampus.
Aku diminta menjadi pengelolanya dengan gaji tetap dan kepemilikan usaha yang jelas.
“Bapak tidak perlu menerima karena merasa berutang kepada saya,” katanya. “Saya justru belajar dari Bapak bahwa seseorang bisa menolong tanpa menunggu balasan.”
Aku memandang surat Pak Hendra.
Mataku kembali panas.
Tiga bulan kemudian, bengkel itu resmi dibuka.
Bangunannya tidak besar, tetapi memiliki ruang kerja yang bersih, peralatan memadai, dan tempat pelatihan untuk anak-anak muda yang ingin belajar memperbaiki sepatu serta tas.
Feri menjadi penanggung jawab pemeliharaan peralatan.
Nabila membantu mengurus pencatatan digital di sela persiapannya masuk kuliah.
Dan pada hari pembukaan, seseorang datang membawa sepasang sepatu kulit.
Raka.
Dia tidak lagi mengenakan jam tangan mahal atau datang bersama rombongan teman.
Wajahnya tampak lebih dewasa.
“Pak, sol sepatu saya lepas.”
Aku menerima sepatu itu.
“Bisa diperbaiki. Tunggu sebentar.”
Raka duduk di bangku pelanggan.
Setelah selesai, aku menyerahkan sepatunya.
“Tiga puluh lima ribu.”
Dia mengeluarkan uang lima puluh ribu.
“Simpan kembaliannya, Pak.”
Aku mengambil tiga lembar uang dan mengembalikan sisanya.
“Di sini semua pelanggan membayar sesuai harga. Tidak lebih, tidak kurang.”
Raka menatap uang kembalian itu.
Kemudian dia tersenyum kecil.
“Baik, Pak.”
Sebelum pergi, dia berhenti di depan pintu.
“Pak Rudi, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kenapa malam itu Bapak tetap menyelamatkan saya? Padahal saya sudah begitu jahat kepada Bapak.”
Aku meletakkan alat jahit di meja.
“Karena waktu kamu berteriak minta tolong, saya tidak mendengar suara anak orang kaya.”
Raka terdiam.
“Saya cuma mendengar suara anak muda yang ketakutan dan ingin pulang hidup-hidup.”
Air mata menggenang di matanya.
Dia menunduk lama sebelum akhirnya pergi.
Aku kembali bekerja.
Di luar, hujan mulai turun membasahi jalanan Bandung.
Nabila datang membawa dua gelas teh hangat.
“Ayah, tadi Raka menangis, ya?”
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin matanya kena debu.”
Nabila tertawa.
Kemudian dia memperhatikan sebuah benda yang kupasang di dinding dekat meja kerja.
Itu roda kecil dari gerobakku yang dulu ditendang Raka.
Roda itu penyok dan tidak bisa digunakan lagi.
“Ayah kenapa masih menyimpannya?”
Aku memandang benda itu beberapa saat.
“Supaya Ayah ingat bahwa sesuatu yang rusak tidak selalu harus dibuang.”
Nabila menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Seperti sepatu?”
Aku mengangguk.
“Seperti sepatu. Kadang juga seperti manusia.”
Beberapa bulan kemudian, aku menerima kabar bahwa penyidikan terhadap Surya dan Dimas telah berlanjut ke proses hukum berikutnya. Raka tetap menjalani pemeriksaan atas perannya sendiri dan tidak pernah lagi meminta perlakuan khusus.
Aku tidak tahu bagaimana akhir seluruh perkara itu.
Namun aku tahu satu hal.
Malam ketika aku menarik Raka dari balik pintu besi, aku mengira sedang menyelamatkan seorang anak yang pernah menghancurkan harga diriku.
Ternyata malam itu juga mengubah jalan hidup kami berdua.
Aku kehilangan kios, tetapi menemukan kembali keberanian untuk mempertahankan namaku.
Raka kehilangan rasa aman yang selama ini diberikan kekayaan ayahnya, tetapi mulai belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Dan ketika suatu hari dia datang kembali, bukan untuk memperbaiki sepatu melainkan meminta izin menjadi sukarelawan mengajar komputer kepada peserta pelatihan, aku memberinya satu syarat.
“Di bengkel ini, tidak ada anak orang kaya atau anak orang miskin. Semua orang harus bekerja dan saling menghormati.”
Raka mengangguk.
“Saya mengerti, Pak.”
Aku menyerahkan sapu kepadanya.
“Kalau begitu, mulai dari membersihkan lantai.”
Dia menatap sapu itu sejenak.
Lalu menerimanya tanpa membantah.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat Raka menunduk bukan karena malu atau takut, melainkan karena sedang belajar menghargai pekerjaan orang lain.
Dan aku akhirnya mengerti sesuatu yang dulu tidak pernah diajarkan kepadaku.
Tidak semua orang yang menyakiti kita harus selamanya menjadi musuh.
Tetapi kesempatan kedua hanya berarti jika seseorang berani mengakui kesalahan, menerima akibatnya, dan benar-benar berubah.
Sebab harga sebuah sepatu mungkin hanya tiga puluh lima ribu rupiah.
Namun harga sebuah kejujuran tidak akan pernah bisa dibeli, bahkan dengan seluruh kekayaan seorang miliarder.
