Wajah yang muncul di layar kamera kabin itu membuat lututku hampir kehilangan tenaga.
Ibu Ratna.
Ibuku sendiri.
Perempuan yang dua jam lalu memelukku di ruang rias, mencium keningku, lalu berbisik bahwa Ayah pasti akan sangat bahagia melihatku menikah hari ini.
Sekarang dia duduk di dalam mobil boks perusahaan bersama Arga.
Namun, ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada keberadaannya di sana.
Kedua tangan Ibu tampak terikat di depan tubuhnya.
Aku memperbesar rekaman.
Di samping Ibu, terlihat seorang laki-laki mengenakan kemeja hitam. Wajahnya tidak tertangkap kamera, tetapi tangannya mencengkeram bahu Ibu dengan kasar.
Sementara itu, Arga duduk di kursi depan dengan kepala tertunduk.
“Ya Tuhan, Bu…” bisikku.
Pak Udin mendekat.
“Ada apa, Bu Rani?”
Aku memperlihatkan layar ponsel.

“Ini ibu saya. Mereka membawa ibu saya juga.”
Pak Udin mengamati gambar itu dengan saksama.
“Kalau begitu, kita harus segera menghubungi polisi.”
Aku mengangguk, tetapi sebelum sempat menekan nomor darurat, ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Kalau ingin ibumu dan Arga pulang dengan selamat, datanglah ke kantor pusat sendirian. Bawa kartu identitas dan jangan menghubungi polisi.
Di bawahnya terdapat foto Ibu yang duduk dengan wajah pucat.
Aku merasakan amarah menjalar ke seluruh tubuhku.
Selama ini, aku mengira pernikahanku sedang dihancurkan oleh seorang calon suami yang melarikan diri.
Ternyata seseorang sedang menggunakan hari paling penting dalam hidupku untuk merebut perusahaan peninggalan Ayah.
Dan orang itu mengetahui dengan tepat siapa yang harus dijadikan sandera agar aku menurut.
Aku segera menelepon Komisaris Hendra, sahabat lama Ayah yang kini menjadi penasihat hukum perusahaan.
Telepon tersambung setelah tiga dering.
“Rani? Bukankah sekarang kamu sedang akad?”
“Pak Hendra, saya butuh bantuan. Ada yang memalsukan tanda tangan saya untuk menjual saham perusahaan.”
Hening beberapa detik.
“Berapa persen?”
“Delapan belas persen.”
“Ya Tuhan.”
“Ada pinjaman tiga miliar lebih dengan ruko saya sebagai jaminan. Verifikasi notaris dijadwalkan pukul sepuluh lewat lima belas.”
Suara Pak Hendra langsung berubah serius.
“Rani, dengarkan saya. Jangan menandatangani apa pun. Saya akan menghubungi notaris dan bank untuk meminta penghentian proses verifikasi sampai identitas serta keabsahan dokumennya diperiksa.”
“Pak, mereka juga membawa ibu saya.”
“Apa?”
Aku menceritakan semuanya dengan cepat.
Pak Hendra terdiam sesaat sebelum berkata, “Saya akan menghubungi polisi. Kamu jangan datang sendirian.”
Aku memandang layar ponsel yang masih menampilkan foto Ibu.
“Kalau mereka tahu saya membawa polisi, bagaimana?”
“Kita akan menyerahkan penanganannya kepada petugas. Yang penting jangan sampai kamu masuk ke sana tanpa perlindungan.”
Aku mengakhiri panggilan dan menatap Pak Udin.
“Bapak bisa mengantar saya ke Cikarang?”
“Tentu, Bu. Tapi kita ikuti arahan polisi.”
Aku mengangguk.
Di luar gudang, langit mulai mendung.
Gaun pengantinku yang semula putih bersih kini terkena debu dan noda oli.
Aku bahkan belum sempat mengganti sepatu hak tinggi yang membuat kakiku sakit.
Namun, semua itu tidak lagi penting.
Satu-satunya hal yang kupikirkan adalah menyelamatkan Ibu dan menemukan Arga.
Dalam perjalanan menuju Cikarang, aku membuka kembali rekaman kamera kabin.
Ada satu hal yang mengganggu pikiranku.
Mengapa Arga masuk ke mobil itu tanpa perlawanan?
Mengapa dia tidak menghubungiku?
Dan mengapa jam tangannya sengaja ditinggalkan di gudang?
Aku memutar rekaman beberapa detik sebelum mobil berhenti mengirimkan gambar.
Arga terlihat mengangkat wajah.
Bibirnya bergerak.
Kamera tidak merekam suara dengan jelas, tetapi aku bisa membaca dua kata yang diucapkannya.
Jangan tanda tangan.
Dadaku semakin sesak.
Arga tidak melarikan diri.
Dia sedang berusaha memperingatkanku.
Tiba-tiba aku teringat percakapan kami tiga malam sebelumnya.
Saat itu Arga baru pulang dari kantor dengan wajah lelah.
“Ran, kamu benar-benar percaya Om Bowo?”
Aku yang sedang memilih dekorasi pernikahan menoleh.
“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Aku menemukan beberapa transaksi perusahaan yang aneh.”
“Transaksi apa?”
“Pembayaran ke vendor yang tidak pernah mengirimkan barang. Nilainya cukup besar.”
Aku menghela napas.
“Om Bowo sudah mengurus operasional sejak Ayah meninggal. Mungkin ada kesalahan administrasi.”
Arga tidak membantah.
Dia hanya berkata, “Aku berharap memang begitu.”
Saat itu aku menganggap Arga terlalu curiga.
Sekarang aku menyadari bahwa dia mungkin sudah mengetahui sesuatu yang jauh lebih besar.
Setengah jam kemudian, Pak Hendra menelepon kembali.
“Rani, saya sudah berbicara dengan Bu Ratih, notaris yang namanya tercantum dalam dokumen.”
“Bagaimana?”
“Beliau mengatakan tidak pernah menyetujui transaksi itu. Nomor verifikasi yang kamu kirim memang berasal dari sistem kantornya, tetapi permohonan diajukan melalui akun staf yang sedang cuti.”
Aku terdiam.
“Artinya?”
“Ada kemungkinan seseorang menyalahgunakan akses internal. Bu Ratih sudah membekukan prosesnya dan sedang menyiapkan laporan.”
Aku mengembuskan napas lega.
Namun, Pak Hendra belum selesai.
“Ada satu hal lagi. Penjualan delapan belas persen saham itu bukan transaksi biasa.”
“Maksud Bapak?”
“Perusahaan pembelinya bernama PT Bintang Cakrawala Investama. Berdasarkan dokumen yang pernah saya periksa, perusahaan itu memiliki hubungan kepemilikan dengan Om Bowo.”
Aku memejamkan mata.
Selama bertahun-tahun, Om Bowo selalu mengatakan bahwa dirinya hanya ingin menjaga warisan Ayah.
Ternyata dia sedang berusaha mengambilnya.
“Kalau saham itu berpindah, apakah dia bisa menguasai perusahaan?”
“Tidak secara otomatis. Tapi ada rancangan perjanjian pemegang saham baru yang bisa memberinya hak veto atas keputusan penting. Kita harus memeriksa keseluruhan dokumennya.”
Aku menggenggam ponsel semakin erat.
“Jadi, semua ini sudah direncanakan.”
“Sepertinya begitu.”
Ketika kami tiba di kawasan industri Cikarang, sebuah mobil polisi tanpa tanda mencolok sudah menunggu di dekat gerbang kompleks.
Pak Hendra berdiri bersama dua petugas berpakaian sipil.
Aku turun dari mobil.
“Bagaimana dengan Ibu?”
Salah seorang petugas, yang memperkenalkan diri sebagai Inspektur Dimas, menjelaskan bahwa mereka sedang memantau akses keluar masuk kantor pusat.
“Kami belum bisa memastikan posisi semua orang di dalam. Ibu jangan bertindak sendiri.”
Aku menunjukkan pesan ancaman dan rekaman kamera.
Inspektur Dimas mengangguk.
“Kami akan mencoba menghubungi pihak di dalam dan mengutamakan keselamatan sandera.”
Beberapa menit kemudian, ponselku kembali berdering.
Nomor Om Bowo.
Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar.
“Rani, kamu sudah sampai?”
“Om membawa Ibu dan Arga ke mana?”
“Jangan banyak bertanya. Masuk ke ruang rapat lantai tiga.”
“Aku ingin bicara dengan Ibu.”
“Setelah kamu menandatangani dokumen.”
“Kalau Om menyakiti mereka, aku tidak akan pernah memaafkan Om.”
Om Bowo tertawa pendek.
“Kamu masih sama seperti dulu. Terlalu percaya bahwa semua orang akan bertindak berdasarkan perasaan.”
Aku menggigit bibir.
“Kenapa Om melakukan ini?”
“Karena perusahaan itu seharusnya menjadi milikku sejak awal!”
Sambungan terputus.
Aku menatap Pak Hendra.
Dia menggeleng pelan.
“Jangan masuk sebelum petugas memastikan situasinya.”
Aku menunggu di dalam mobil, sementara polisi berkoordinasi dengan petugas keamanan gedung.
Setiap menit terasa seperti satu jam.
Pukul 10.12, sebuah pesan baru masuk.
Waktumu tiga menit.
Di bawahnya ada foto Arga.
Wajahnya lebam. Bibirnya terluka.
Aku tidak mampu menahan air mata.
Laki-laki yang seharusnya sedang mengucapkan ijab kabul bersamaku kini berada dalam keadaan seperti itu.
Aku mengetik balasan.
Aku akan tanda tangan. Tapi aku harus melihat mereka lebih dulu.
Balasan datang hampir seketika.
Naik sekarang.
Aku menyerahkan ponsel kepada Inspektur Dimas.
Setelah berkoordinasi dengan timnya, dia memintaku tetap berada di tempat. Salah seorang petugas berhasil menghubungi manajer keamanan gedung yang bersedia membantu memeriksa keadaan lantai tiga.
Tak lama kemudian, terdengar suara keributan melalui radio komunikasi.
Pintu darurat lantai tiga terbuka.
Dua orang berlari menuju tangga.
Kemudian suara petugas terdengar.
“Semua orang tetap di tempat!”
Aku menahan napas.
Beberapa menit kemudian, Inspektur Dimas menerima kabar bahwa situasi sudah terkendali.
Barulah aku diizinkan masuk bersama Pak Hendra.
Ketika pintu ruang rapat terbuka, pemandangan di hadapanku membuat air mataku langsung jatuh.
Ibu duduk di sebuah kursi, menangis sambil memegang pergelangan tangannya yang memerah.
Arga berada di sampingnya.
Begitu melihatku, dia langsung berdiri.
“Rani!”
Aku berlari memeluknya.
“Mas… aku kira kamu benar-benar pergi.”
Arga memelukku erat.
“Maaf. Aku berusaha menghubungimu, tapi ponselku diambil.”
Aku menangis di dadanya.
“Kenapa kamu ikut Om Bowo?”
Arga menarik napas panjang.
“Pagi tadi dia bilang ibumu mengalami serangan jantung di gudang dan memintaku datang diam-diam supaya kamu tidak panik sebelum akad.”
Aku menoleh ke arah Ibu.
“Bu?”
Ibu mengangguk sambil menangis.
“Om Bowo juga menghubungi Ibu. Katanya Arga mengalami kecelakaan dan sedang dibawa ke kantor perusahaan.”
Aku merasa seluruh tubuhku lemas.
Om Bowo telah membohongi kami semua.
Arga melanjutkan, “Begitu aku masuk mobil, dua orang yang menunggu langsung mengambil ponselku. Mereka mengancam akan menyakiti Ibu kalau aku melawan.”
“Lalu jam tanganmu?”
“Aku berhasil melepasnya saat mereka berhenti di gudang. Aku sengaja menyalakan pelacakan lokasi dan menyembunyikannya di troli.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu memang ingin aku menemukan jam itu?”
Arga mengangguk.
“Aku tahu kamu selalu memeriksa lokasi kita kalau salah satu terlambat. Aku berharap kamu curiga.”
“Tapi kenapa ada dokumen yang keluar dari printer?”
Arga terdiam.
Kemudian dia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari saku jasnya.
“Karena aku sudah menyiapkan sesuatu sebelum hari ini.”
Aku menatap benda itu.
“Apa?”
“Bukti transaksi fiktif Om Bowo selama tiga tahun terakhir. Aku menyimpan salinannya di sistem kantor dan mengatur agar dokumen peringatan tercetak di gudang kalau akun armadaku mengirim sinyal darurat.”
Aku tertegun.
“Sejak kapan kamu menyelidikinya?”
“Empat bulan.”
“Kenapa tidak bilang padaku?”
Arga menunduk.
“Karena aku belum punya bukti yang cukup. Aku takut kamu mengira aku sedang berusaha memecah belah keluargamu.”
Aku tidak langsung menjawab.
Sebagian diriku ingin marah karena dia menyimpan rahasia sebesar itu.
Namun, melihat luka di wajahnya, aku tahu ada hal yang jauh lebih mendesak.
“Om Bowo di mana?”
Pak Hendra menjawab, “Sudah diamankan polisi bersama dua orang lainnya.”
Aku menoleh ke arah pintu.
Di lorong, Om Bowo sedang dibawa petugas.
Dia melihatku dan berhenti.
“Rani, dengarkan Om!”
Aku berjalan mendekat.
“Apa lagi yang ingin Om katakan?”
Wajahnya memerah.
“Ayahmu membangun perusahaan itu dengan uang keluarga kita! Aku juga punya hak!”
Aku menatap laki-laki yang selama ini kuanggap sebagai pengganti Ayah.
“Kalau Om merasa punya hak, kenapa tidak menempuh jalur hukum?”
Dia terdiam.
“Kenapa harus memalsukan tanda tanganku? Kenapa harus mengancam Ibu dan Arga?”
Om Bowo tidak menjawab.
Aku melanjutkan dengan suara bergetar.
“Ayah mempercayai Om. Aku juga. Tapi Om justru menggunakan kepercayaan itu untuk menghancurkan kami.”
Om Bowo menunduk ketika petugas membawanya pergi.
Kupikir semuanya telah selesai.
Ternyata belum.
Saat kami kembali ke ruang rapat, Sinta tiba bersama seorang petugas polisi.
Matanya sembap.
Begitu melihatku, dia langsung menangis.
“Rani, aku minta maaf.”
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
“Aku yang menyerahkan boarding pass itu. Aku juga yang membantu Om Bowo mengambil koper dan kunci mobilmu.”
“Kenapa, Sin?”
Sinta menutup wajahnya.
“Om mengancam akan melaporkan utang suamiku ke keluarga besar. Dia bilang kalau aku membantu, semua utang itu akan dilunasi.”
Aku menarik napas panjang.
“Jadi kamu memilih menghancurkan pernikahanku?”
Sinta mengangguk sambil menangis.
“Aku takut kehilangan rumah tanggaku sendiri.”
Aku menatapnya lama.
“Dan kamu pikir rumah tanggaku tidak berharga?”
Sinta tidak mampu menjawab.
Pak Hendra kemudian menjelaskan bahwa boarding pass tersebut dibuat menggunakan data pribadi Arga, tetapi tidak ada bukti bahwa Arga benar-benar melakukan check-in di bandara.
Surat perpisahan itu juga bukan tulisan Arga.
Semuanya hanya bagian dari rencana untuk membuatku meninggalkan gedung pernikahan dalam keadaan terpukul.
Jika aku pulang dan mengurung diri, Om Bowo berharap bisa menggunakan dokumen palsu serta rekaman verifikasi yang telah disiapkan untuk menyelesaikan transaksi sebelum aku menyadarinya.
Namun, satu pertanyaan masih mengganggu pikiranku.
“Bagaimana mereka bisa meniru tanda tanganku begitu sempurna?”
Sinta mengangkat wajah.
“Karena… aku pernah memberikan buku catatanmu kepada Om.”
Aku membeku.
“Buku yang mana?”
“Buku agenda kulit cokelat milik Ayahmu. Yang kamu simpan di lemari kerja.”
Aku teringat buku itu.
Di halaman terakhir terdapat puluhan tanda tanganku.
Dulu, saat pertama kali belajar mengurus perusahaan, Ayah memintaku berlatih menandatangani dokumen agar tulisanku konsisten.
Aku tidak pernah menyangka kenangan kecil bersama Ayah akan digunakan untuk mencuri warisannya.
Aku menutup mata.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar merasa kehilangan Ayah sekali lagi.
Beberapa jam kemudian, setelah seluruh keterangan awal selesai diberikan kepada polisi, kami kembali ke gedung pernikahan.
Saat itu sudah hampir pukul tiga sore.
Aku mengira semua tamu sudah pulang.
Namun, begitu mobil kami memasuki halaman gedung, aku melihat puluhan kendaraan masih terparkir.
Dari dalam terdengar suara orang berbicara.
Aku menoleh kepada Arga.
“Kenapa masih ramai?”
Dia tersenyum lemah.
“Aku juga tidak tahu.”
Kami masuk melalui pintu utama.
Dan di sana, aku melihat sesuatu yang membuatku kembali menangis.
Sebagian besar keluarga dan sahabat dekat kami masih menunggu.
Dekorasi akad tetap terpasang.
Bunga-bunga putih masih menghiasi meja.
Di barisan depan, nenekku duduk sambil memegang tas kecilnya.
Begitu melihatku, beliau berdiri perlahan.
“Rani, sini, Nak.”
Aku menghampirinya.
Nenek menggenggam kedua tanganku.
“Ibumu sudah menelepon dan menjelaskan semuanya. Kami tidak tahu apakah akadnya masih bisa dilaksanakan hari ini, tapi kami ingin memastikan kamu pulang dengan selamat.”
Aku menangis memeluknya.
“Nek, aku hampir kehilangan semuanya.”
Nenek mengusap rambutku.
“Tidak, Sayang. Hari ini kamu justru mengetahui siapa yang benar-benar berada di sisimu.”
Aku menoleh kepada Arga.
Jasnya kusut.
Ada luka kecil di bibirnya.
Rambutnya berantakan.
Namun, dia masih berdiri di sampingku.
“Ran,” katanya pelan, “kita tidak harus menikah hari ini. Setelah semua yang terjadi, aku mengerti kalau kamu ingin menundanya.”
Aku menatap wajahnya.
“Masih mau menikah denganku?”
Arga tertawa kecil, meski terlihat kesakitan.
“Aku bahkan belum sempat mengucapkan ijab kabul, tapi sudah hampir kehilangan nyawa karena urusan keluargamu. Kalau sekarang aku mundur, rasanya perjuanganku sia-sia.”
Aku tertawa di tengah tangis.
“Jawab yang serius.”
Arga menggenggam tanganku.
“Aku mau menikah denganmu, Rani. Bukan karena perusahaanmu, bukan karena warisan Ayahmu, dan bukan karena apa yang bisa kamu berikan. Aku mau karena bersamamu, aku merasa punya rumah.”
Aku memeluknya.
Setelah memastikan kondisi kami memungkinkan dan seluruh persyaratan akad tetap terpenuhi, keluarga menghubungi penghulu untuk menanyakan apakah prosesi bisa dijadwalkan kembali sore itu.
Syukurlah, beliau bersedia datang.
Menjelang pukul lima, aku kembali duduk di hadapan meja akad.
Kali ini tanpa riasan sempurna.
Gaunku sudah berganti dengan kebaya putih sederhana yang dipinjamkan sepupuku yang lain.
Arga mengenakan kemeja putih bersih.
Ibu duduk di barisan depan, masih terlihat lelah, tetapi tersenyum sambil menangis.
Ketika ijab kabul akhirnya terucap dan para saksi menyatakan sah, aku menunduk sambil menutup wajah.
Bukan karena malu.
Melainkan karena aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.
Pernikahan bukan tentang dua orang yang tidak pernah menghadapi masalah.
Pernikahan adalah tentang dua orang yang tetap memilih saling menggenggam ketika dunia berusaha memisahkan mereka.
Namun, kisah itu belum benar-benar berakhir.
Tiga minggu setelah pernikahan, Pak Hendra datang ke rumah kami membawa sebuah map biru.
Hasil pemeriksaan internal menemukan transaksi fiktif dan pengalihan dana perusahaan selama bertahun-tahun. Proses hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat masih berjalan.
Namun, di antara dokumen yang ditemukan, ada sepucuk surat tulisan tangan Ayah.
Surat itu tersimpan dalam berkas lama yang sebelumnya dikuasai Om Bowo.
Di bagian depan tertulis namaku.
Untuk Rani, ketika kamu sudah siap memimpin.
Aku membuka surat itu dengan tangan gemetar.
Tulisan Ayah masih sama seperti yang kuingat.
Rani, Ayah tahu kamu selalu merasa tidak cukup kuat untuk mengurus perusahaan ini. Tapi kekuatan seorang pemimpin bukan diukur dari seberapa keras dia memerintah, melainkan dari keberaniannya mencari kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu menyakitkan.
Jangan pernah menyerahkan keputusan hidupmu kepada seseorang hanya karena dia keluarga.
Kepercayaan harus dijaga dengan tindakan, bukan dituntut melalui hubungan darah.
Dan kalau suatu hari kamu menemukan seseorang yang berani mengatakan kebenaran meskipun berisiko kehilanganmu, dengarkan dia baik-baik.
Aku berhenti membaca.
Air mataku jatuh ke atas kertas.
Di bagian paling bawah, Ayah menambahkan satu kalimat.
Ayah tidak meninggalkan perusahaan ini agar kamu menjadi kaya. Ayah meninggalkannya agar kamu punya kebebasan untuk tidak tunduk kepada siapa pun.
Aku menutup surat itu dan memeluknya erat.
Arga duduk di sampingku.
“Surat dari Ayah?”
Aku mengangguk.
“Mas, ternyata selama ini aku salah memahami warisannya.”
Arga menggenggam tanganku.
“Kenapa?”
“Aku pikir yang harus kujaga adalah perusahaan.”
Aku menatap foto Ayah yang tergantung di dinding.
“Padahal yang paling ingin Ayah lindungi adalah kebebasanku.”
Enam bulan kemudian, Satria Grafika mulai pulih setelah melalui audit dan perombakan manajemen. Perkara pidana terhadap Om Bowo masih diproses, sementara gugatan terkait dokumen palsu ditangani melalui jalur hukum.
Aku tidak lagi menyerahkan seluruh keputusan kepada satu orang hanya karena hubungan keluarga.
Sinta beberapa kali mengirimkan surat permintaan maaf.
Aku membacanya, tetapi belum mampu membalas.
Memaafkan mungkin membutuhkan waktu. Mempercayai kembali adalah persoalan lain.
Suatu malam, saat aku dan Arga sedang membereskan barang-barang pernikahan, aku menemukan amplop hitam yang dulu dibawa Sinta.
Di dalamnya masih tersimpan boarding pass palsu dan surat perpisahan yang hampir menghancurkan hidupku.
Aku menatapnya lama.
Arga mendekat.
“Kenapa masih kamu simpan?”
Aku tersenyum kecil.
“Sebagai pengingat.”
“Pengingat tentang apa?”
Aku mengambil jam tangannya yang kini sudah diperbaiki dan meletakkannya di samping amplop itu.
“Bahwa dua belas menit sebelum akad, semua orang berusaha meyakinkanku kalau kamu sudah pergi.”
Arga memandangku.
“Tapi aku tidak pergi.”
Aku mengangguk.
“Dan aku hampir percaya pada kebohongan mereka.”
Dia menggenggam tanganku.
“Yang penting kamu mencari tahu.”
Aku tersenyum sambil menyandarkan kepala di bahunya.
Di luar jendela, hujan turun perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan kami, aku merasa benar-benar tenang.
Sebab hari itu aku belajar bahwa pengkhianatan paling menyakitkan terkadang datang dari orang yang paling dekat.
Namun, aku juga belajar sesuatu yang jauh lebih berharga.
Cinta sejati tidak selalu datang membawa janji manis atau kata-kata indah.
Kadang, cinta datang dalam bentuk sebuah jam tangan yang sengaja ditinggalkan di gudang gelap, dengan harapan orang yang kita cintai cukup mengenal kita untuk memahami bahwa kita sedang meminta pertolongan.
Dan setiap kali seseorang bertanya mengapa aku masih menyimpan boarding pass palsu itu, aku selalu memberikan jawaban yang sama.
Karena pada hari semua orang mengatakan calon suamiku telah meninggalkanku, justru dialah satu-satunya orang yang mempertaruhkan segalanya agar aku tidak kehilangan diriku sendiri.
