AKU MERASA HANYA TIGA HARI TERSESAT DI HUTAN, TAPI SAAT PULANG WARGA SEDANG TAHLILAN—LALU FOTO TAHUN 1978 MEMBUAT AYAHKU PUCAT

“Pak Darman itu ayah kandung Ibu.”

Kalimat itu membuat seluruh suara di sekitarku seolah menghilang.

Aku menatap Ibu Ratna yang berdiri di hadapanku. Wajahnya pucat, sementara kedua tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Jadi orang yang menolongku keluar dari hutan itu kakekku sendiri?”

Ibu mengangguk perlahan.

“Tapi selama ini Ibu bilang kakek dari pihak Ibu meninggal sebelum aku lahir.”

“Ibu memang mengatakan begitu.”

“Kenapa?”

Air mata mengalir di pipinya.

“Karena selama bertahun-tahun, Ibu sendiri tidak tahu apakah beliau masih hidup atau sudah meninggal.”

Ayah tiba-tiba menutup kotak kayu di atas meja.

“Cukup, Ratna. Raka baru pulang. Dia perlu istirahat.”

Aku menoleh kepadanya.

“Justru Ayah yang harus menjelaskan semuanya.”

Ayah terdiam.

Aku mengeluarkan jam mekanik peninggalan Kakek Surya dari saku. Jarumnya masih berhenti pada pukul 17.17.

“Empat puluh dua hari, Yah. Semua orang mengira aku sudah mati. Tapi selama di hutan, aku cuma merasa melewati tiga hari. Sekarang aku menemukan foto orang yang menolongku, dan ternyata dia kakekku sendiri. Ayah masih mau menyembunyikan sesuatu?”

Pak Hadi yang berdiri di dekat pintu mendadak menyela.

“Surya pernah memperingatkan kita tentang hari ini.”

Ayah langsung menatapnya tajam.

“Pak Hadi!”

“Sudah cukup, Bima. Anak itu berhak tahu.”

Pak Hadi mendekat, lalu menunjuk jam di tanganku.

“Raka, sebelum kakekmu meninggal, dia pernah berpesan bahwa kalau jam itu berhenti pada pukul lima lewat tujuh belas, jangan pernah membiarkanmu kembali ke hutan.”

Aku merasakan sesuatu yang dingin merambat di tengkuk.

“Kenapa?”

Pak Hadi menatap Ayah.

“Karena dulu, pada tahun 1978, Surya juga pulang membawa jam yang berhenti pada waktu yang sama.”

Malam itu, acara tahlilan yang semula diadakan untuk mendoakan keselamatanku berubah menjadi pertemuan keluarga paling menegangkan sepanjang hidupku.

Setelah para tetangga pulang, Ayah mengunci pintu rumah. Ibu duduk di sampingku, sementara Pak Hadi mengambil sebuah buku catatan tua dari dalam kotak Kakek Surya.

Halaman-halamannya menguning. Beberapa bagian dipenuhi tulisan tangan yang hampir tidak terbaca.

Pak Hadi membuka halaman bertanggal 17 Juli 1978.

“Empat puluh delapan tahun lalu, Surya dan Darman bekerja sebagai petugas pemetaan lahan di kawasan perbukitan Gunungkidul. Mereka ditugaskan memeriksa jalur lama yang akan digunakan untuk pembangunan jalan.”

Aku mengangguk.

“Lalu?”

“Mereka menemukan sebuah kampung yang tidak tercatat di peta.”

Menurut Pak Hadi, kampung itu terletak di balik lembah yang selalu diselimuti kabut. Rumah-rumahnya terbuat dari kayu, dengan sebuah sumur batu di tengah permukiman.

Penduduknya ramah, tetapi memiliki satu kebiasaan aneh.

Setiap sore, tepat pukul 17.17, semua orang harus masuk ke rumah dan menutup pintu.

Tidak seorang pun boleh berada di luar sampai matahari terbit.

“Kenapa?” tanyaku.

Pak Hadi membalik halaman.

“Surya juga menanyakan hal yang sama. Kepala kampung hanya menjawab bahwa setelah waktu itu, jalan pulang tidak lagi menuju tempat yang sama.”

Aku teringat pohon beringin besar yang kulewati berkali-kali.

“Di sana ada pohon beringin?”

Tangan Pak Hadi berhenti.

“Kamu melihatnya?”

“Aku selalu kembali ke pohon itu meskipun berjalan ke arah berbeda.”

Pak Hadi menutup matanya sesaat.

“Persis seperti yang ditulis Surya.”

Ayah akhirnya berbicara.

“Pada hari ketiga, Kakek Surya berhasil keluar dari kampung itu. Tapi ketika sampai di Wonosari, dia mengetahui bahwa dirinya sudah hilang selama sebelas bulan.”

Aku terpaku.

“Sebelas bulan?”

Ayah mengangguk.

“Darman tidak ikut pulang.”

Aku kembali menatap foto tahun 1978.

“Kalau begitu, kenapa Pak Darman masih terlihat tua saat bertemu denganku? Seharusnya usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun.”

Ibu menjawab dengan suara lirih.

“Karena waktu di tempat itu tidak berjalan seperti di luar.”

Aku ingin membantah. Sebagai lulusan teknik informatika, aku terbiasa mencari penjelasan rasional untuk setiap kejadian.

Mungkin aku mengalami amnesia.

Mungkin ada seseorang yang sengaja menyembunyikanku.

Mungkin ponselku rusak dan aku kehilangan kesadaran selama berminggu-minggu.

Tetapi ada satu hal yang sulit kujelaskan.

Selama empat puluh dua hari menghilang, rambut dan janggutku hampir tidak bertambah panjang. Luka kecil di telapak tanganku yang kudapat sebelum memasuki hutan juga masih tampak baru.

Aku menatap Ibu.

“Kalau Pak Darman hilang sejak 1978, bagaimana Ibu bisa menjadi anaknya?”

Ibu menarik napas panjang.

“Karena Ibu lahir setelah beliau kembali untuk pertama kalinya.”

Aku mengerutkan kening.

“Pertama kalinya?”

“Darman keluar dari hutan pada tahun 1981. Beliau hanya berada di rumah selama sembilan bulan sebelum menghilang lagi. Saat itu nenekmu sedang mengandung Ibu.”

“Kenapa dia kembali ke sana?”

Ibu tidak langsung menjawab.

Ayahlah yang akhirnya berkata, “Karena ada seseorang yang tertinggal.”

Aku menunggu.

“Adik perempuan Surya. Namanya Sekar.”

Nama itu terdengar asing.

“Berarti Kakek Surya punya adik?”

“Punya,” jawab Ayah. “Tapi keluarga kami dilarang membicarakannya.”

Pak Hadi kembali membuka buku catatan.

Pada halaman terakhir terdapat sebuah foto kecil.

Seorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun berdiri di samping sumur batu. Rambutnya panjang, wajahnya cantik, dan senyumnya terlihat lembut.

Aku langsung merasakan jantungku berdebar.

“Aku pernah melihat perempuan ini.”

Ketiganya menatapku.

“Di mana?” tanya Ayah.

“Di gubuk tempat aku bermalam.”

Aku mengingat malam kedua di hutan.

Saat itu hujan turun deras. Aku terbangun karena mendengar suara seseorang menyanyikan lagu Jawa dari luar jendela.

Ketika mengintip, aku melihat seorang perempuan berdiri di dekat pohon pisang.

Dia mengenakan gaun putih sederhana.

Aku mengira dia penduduk desa sekitar.

Perempuan itu menatapku lama, kemudian tersenyum.

Aku sempat membuka pintu untuk bertanya arah, tetapi pria tua bernama Darman tiba-tiba muncul dan menarikku kembali ke dalam.

“Jangan keluar!” bentaknya.

Aku masih mengingat wajahnya yang ketakutan.

“Perempuan itu cuma berdiri di sana, Pak.”

Darman menutup pintu dan mengganjalnya dengan balok kayu.

“Dia sudah terlalu lama menunggu seseorang.”

Aku menceritakan semuanya.

Ketika selesai, Ibu menangis semakin keras.

Ayah bangkit dan berjalan mondar-mandir.

“Tidak mungkin. Sekar tidak mungkin masih ada.”

Pak Hadi memandangnya.

“Kita tidak pernah menemukan jasadnya, Bima.”

Aku menatap mereka bergantian.

“Siapa sebenarnya Sekar?”

Ayah berhenti berjalan.

“Adik Kakek Surya yang masuk ke hutan bersama mereka pada tahun 1978.”

“Kenapa dia ikut?”

“Dia membantu mencatat hasil pemetaan. Tapi saat mereka hendak meninggalkan kampung itu, Sekar menghilang.”

Pak Hadi menyambung, “Darman berjanji akan mencarinya. Itulah sebabnya dia terus kembali.”

Aku terdiam cukup lama.

Kemudian sebuah pertanyaan muncul.

“Kalau Kakek tahu hutan itu berbahaya, kenapa Ayah justru menyuruhku pergi ke gudang kebun lewat jalur lama?”

Ayah tidak menjawab.

Aku berdiri.

“Yah?”

Wajahnya berubah tegang.

“Ayah pikir semuanya sudah selesai.”

“Apa maksudnya?”

Ayah duduk perlahan, seolah kedua kakinya kehilangan tenaga.

“Tiga bulan lalu, Ayah menerima surat tanpa nama pengirim.”

Dia membuka laci lemari dan mengeluarkan amplop putih.

Di dalamnya terdapat selembar kertas.

Tulisan itu singkat.

Surya sudah meninggal. Janjinya belum selesai. Kirimkan pewaris yang membawa jam sebelum bulan ketujuh berakhir.

Aku membaca surat itu berulang kali.

“Jadi Ayah sengaja menyuruhku masuk ke sana?”

“Ayah cuma menyuruhmu mengambil kotak dari gudang. Ayah tidak pernah membayangkan kamu akan tersesat.”

“Tapi Ayah tahu ada kemungkinan itu terjadi!”

Suara bentakanku membuat Ibu tersentak.

Ayah menunduk.

“Ayah takut, Raka.”

“Takut pada siapa?”

“Pada orang yang mengirim surat itu.”

Aku mengepalkan tangan.

“Empat puluh dua hari aku hilang. Ibu menangis setiap malam. Semua orang mengira aku mati. Dan Ayah tahu sesuatu sejak awal?”

Ayah mengusap wajahnya.

“Ayah pernah masuk ke hutan itu juga.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Ayah masuk tahun 1996. Saat itu Ayah masih muda. Ayah mencari Surya yang menghilang selama beberapa minggu.”

“Lalu?”

“Ayah menemukan kampung yang sama.”

Ayah menatap jam di tanganku.

“Di sana, Ayah bertemu seorang perempuan bernama Sekar. Dia terlihat masih tujuh belas tahun, persis seperti foto tahun 1978.”

Aku menahan napas.

“Dia bilang apa?”

“Dia mengatakan bahwa Surya sudah pulang, tetapi ada satu orang yang harus tinggal untuk menjaga jalan keluar.”

“Siapa?”

“Darman.”

Aku mulai memahami mengapa Darman tidak pernah benar-benar kembali.

“Jadi Pak Darman terjebak di sana?”

Ayah mengangguk.

“Dia menjaga jalan agar orang yang tersesat bisa keluar. Tetapi setiap kali dia menolong seseorang, waktunya sendiri semakin berkurang.”

Aku teringat wajah lelaki tua itu.

Kulitnya keriput, tetapi matanya jernih. Saat memberiku air, tangannya bergetar seolah menahan rasa sakit.

“Kenapa dia menolongku?”

Ibu menggenggam tanganku.

“Karena kamu cucunya.”

Malam semakin larut ketika aku memutuskan memeriksa seluruh isi tas.

Ponsel, dompet, senter, dan botol minum masih ada.

Namun di bagian dasar tas, aku menemukan benda yang sebelumnya tidak kusadari.

Sebuah kunci besi kecil.

Diikat dengan benang merah.

Bersamanya terdapat secarik kertas yang dilipat empat.

Aku membukanya.

Tulisan tangan di sana sangat rapi.

Jangan percaya orang yang menyuruhmu masuk. Cari apa yang disembunyikan Surya di bawah rumah.

Aku menatap Ayah.

Dia membaca pesan itu dan wajahnya seketika berubah.

“Ayah tahu ini?”

“Tidak.”

Tetapi suaranya terdengar tidak meyakinkan.

Aku segera menuju kamar belakang, tempat Kakek Surya tinggal sebelum meninggal.

Rumah kami merupakan bangunan lama yang telah direnovasi beberapa kali. Sebagian lantainya masih menggunakan papan kayu.

Aku teringat sesuatu.

Semasa kecil, Kakek selalu melarangku memindahkan lemari jati di kamarnya.

Dengan bantuan Pak Hadi, kami menggeser lemari tersebut.

Di bawahnya terdapat sebuah papan yang berbeda warna.

Kunci besi itu ternyata cocok dengan lubang kecil pada pengait tersembunyi.

Ketika papan terangkat, terlihat sebuah kotak logam.

Di dalamnya tersimpan buku harian, beberapa surat, dan sebuah kaset video lama.

Aku mengambil buku harian itu.

Pada halaman pertama tertulis nama Sekar Pranoto.

Tulisan berikutnya membuat darahku serasa berhenti mengalir.

Aku tidak hilang. Aku sengaja tinggal.

Aku membaca lebih cepat.

Sekar menulis bahwa kampung di balik kabut bukan tempat tinggal makhluk halus seperti yang dipercaya penduduk sekitar.

Tempat itu merupakan wilayah yang terperangkap dalam fenomena waktu yang tidak dapat dijelaskan.

Setiap kali kabut tertentu turun, jalur menuju kampung terbuka.

Namun perbedaan waktu membuat orang yang masuk sulit kembali ke masa yang sama.

Sekar memilih tinggal untuk mempelajari fenomena itu.

Darman membantunya.

Surya pulang untuk mencari pertolongan.

Tetapi bertahun-tahun berlalu tanpa ada seorang pun yang percaya.

Di halaman berikutnya, terdapat catatan bertanggal 1981.

Darman berhasil pulang. Aku memintanya membangun kehidupan bersama perempuan yang dicintainya. Dia berjanji akan kembali untuk menjemputku setelah anaknya lahir.

Aku berhenti membaca.

Ibu menutup mulutnya.

Aku melanjutkan.

Namun Darman kembali terlalu cepat. Di sini, hanya dua hari berlalu sejak kepergiannya. Dia tidak tahu bahwa di luar, hampir tiga tahun sudah lewat.

Pada halaman terakhir terdapat kalimat yang digarisbawahi.

Jika Darman terus membuka jalan bagi orang lain, suatu hari dia tidak akan mampu keluar lagi. Hanya seseorang yang membawa jam Surya dapat menemukan pintu terakhir.

Aku menatap jam yang masih berhenti pada pukul 17.17.

Tiba-tiba ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Raka, jangan kembali. Kakek sudah berhasil menutup jalan. Hidup baik-baik bersama ibumu.

Aku langsung menelepon nomor tersebut.

Tidak aktif.

Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.

Dan jangan salahkan ayahmu. Dia mengirimmu karena aku yang memintanya.

Aku memandang Ayah.

Dia menangis tanpa suara.

“Ayah tahu Darman masih hidup?”

“Ayah tidak yakin. Surat-surat itu selalu datang tanpa alamat. Ayah berharap kamu hanya mengambil kotak, lalu pulang.”

“Kenapa tidak memberi tahu aku?”

“Karena Ayah takut kamu tidak mau pergi. Di dalam kotak itu seharusnya ada catatan tentang cara menutup jalur tersebut.”

Aku menatap buku harian Sekar.

“Jadi semua ini dilakukan untuk menutup jalan?”

Pak Hadi mengangguk.

“Surya pernah mengatakan bahwa semakin sering jalan itu terbuka, semakin banyak orang yang akan tersesat.”

Aku kembali membaca halaman terakhir.

Di sana ada tulisan yang sebelumnya tertutup lipatan.

Untuk menutup jalan, seseorang harus membawa jam kembali ke pohon beringin. Tetapi dia tidak boleh masuk ke kampung.

Aku terdiam.

“Berarti Pak Darman tidak menyuruhku kembali karena dia sudah melakukannya?”

Tidak seorang pun menjawab.

Keesokan paginya, aku pergi ke kantor polisi bersama Ayah.

Kami menyerahkan seluruh catatan dan menceritakan lokasi terakhir tempat aku menghilang.

Petugas yang menangani laporanku, Inspektur Aditya, awalnya mengira aku mengalami gangguan ingatan akibat dehidrasi.

Namun ketika dia memeriksa rekaman kamera pengawas dari sebuah SPBU dekat jalan raya, wajahnya berubah serius.

Rekaman itu menunjukkan aku berjalan sendirian pada pukul 06.12 pagi, hari ketika aku ditemukan kembali.

Tetapi ada sesuatu yang aneh.

Di belakangku berjalan seorang lelaki tua mengenakan baju cokelat.

Aku langsung menunjuk layar.

“Itu Pak Darman!”

Inspektur Aditya memperbesar gambar.

Lelaki itu berhenti beberapa meter sebelum memasuki area SPBU.

Dia menatapku yang terus berjalan, kemudian berbalik menuju hutan.

Pada detik terakhir sebelum menghilang dari kamera, dia menoleh.

Wajahnya terlihat jelas.

Sama persis dengan pria dalam foto tahun 1978.

Petugas itu terdiam lama.

“Kami akan memeriksa identitasnya,” katanya.

Tiga hari kemudian, polisi menemukan sesuatu di dekat pohon beringin tua.

Bukan jasad.

Bukan pakaian.

Melainkan sebuah papan kayu kecil yang ditanam di tanah.

Di atasnya terukir dua nama.

Darman Santoso.

Sekar Pranoto.

Di bawah kedua nama itu terdapat kalimat pendek.

Kami sudah pulang.

Aku datang ke lokasi bersama Ayah dan Ibu setelah polisi menyatakan area tersebut aman untuk dikunjungi.

Pohon beringin itu masih berdiri.

Tetapi kabut yang dahulu menutupi sekelilingnya sudah tidak ada.

Aku mengeluarkan jam Kakek Surya.

Untuk pertama kalinya sejak kembali, jarum detiknya bergerak.

Tik.

Tik.

Tik.

Pukul 17.18.

Ibu menangis sambil memeluk Ayah.

Aku memandang jalan setapak yang kini terlihat jelas di antara pepohonan.

Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Seolah hutan itu akhirnya berhenti menahan napas.

Sebulan kemudian, hasil penyelidikan polisi belum mampu menjelaskan ke mana Darman dan Sekar pergi.

Namun aku menemukan satu kejutan terakhir.

Saat membersihkan kotak logam, aku menemukan amplop kecil yang terselip di balik sampul buku harian.

Di depannya tertulis namaku.

Surat itu ditulis oleh Sekar.

Raka, jika kamu membaca ini, berarti Darman berhasil mengantarmu pulang. Jangan mencari kami. Selama bertahun-tahun, kami mengira tugas kami adalah menjaga orang lain agar tidak tersesat. Padahal yang paling sulit adalah menerima bahwa dunia terus berjalan meskipun kami tertinggal.

Aku membaca kalimat berikutnya dengan mata berkaca-kaca.

Darman selalu bercerita tentang putrinya, Ratna. Dia menyimpan foto ibumu sejak bayi dan membawanya ke mana pun pergi. Dia ingin melihatnya tumbuh dewasa, tetapi waktu tidak memberinya kesempatan itu.

Aku menelan ludah.

Di bagian paling bawah terdapat satu pesan.

Tolong katakan kepada Ratna bahwa ayahnya tidak pernah meninggalkannya karena tidak mencintainya. Dia hanya tersesat terlalu lama ketika berusaha pulang.

Aku menyerahkan surat itu kepada Ibu.

Dia membacanya dalam diam.

Lalu untuk pertama kalinya sejak aku kembali, Ibu tersenyum di tengah air matanya.

Malam itu kami duduk bersama di ruang keluarga.

Tidak ada lagi foto berbingkai hitam di meja.

Tidak ada lagi doa untuk orang yang dianggap meninggal.

Hanya ada tiga orang yang akhirnya berani membicarakan rahasia keluarganya.

Aku mengira semuanya telah berakhir.

Sampai beberapa minggu kemudian, ketika sedang memindahkan foto-foto lama ke komputer, aku menemukan sesuatu yang membuat tanganku berhenti bergerak.

Pada foto tahun 1978, Surya dan Darman berdiri di depan rumah kayu.

Aku memperbesar bagian jendela di belakang mereka.

Ada seorang anak laki-laki berdiri di sana.

Usianya sekitar sepuluh tahun.

Wajahnya sangat mirip denganku ketika kecil.

Aku membuka foto masa kecilku yang tersimpan di komputer.

Baju berbeda.

Rambut berbeda.

Tetapi wajah itu tidak mungkin tertukar.

Aku segera menelepon Ayah.

“Ayah, siapa anak kecil yang ada di foto tahun 1978?”

Di ujung telepon terdengar keheningan panjang.

Lalu Ayah menjawab dengan suara gemetar.

“Raka, dengarkan Ayah baik-baik. Jangan sentuh jam itu lagi.”

Aku menoleh ke meja.

Jam Kakek Surya yang tadi bergerak normal kini kembali berhenti.

Pukul 17.17.

Dan dari halaman belakang rumah, terdengar suara lelaki tua memanggil namaku.

“Raka.”

Aku membeku.

Suara itu sangat kukenal.

Suara Pak Darman.

Kemudian terdengar satu kalimat yang membuat seluruh tubuhku merinding.

“Jangan menoleh, Nak. Yang berdiri di belakangmu itu bukan ayahmu.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang