“Kalau Bapak memang tidak mencuri, kenapa fotokopi KTP Bapak ada di dalam tas itu?”
Pertanyaan Komisaris Wira membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Justru itu yang ingin saya tanyakan, Pak. Saya baru bertemu Pak Gunawan sore ini. Bagaimana mungkin dia sudah memiliki KTP saya, foto anak saya, bahkan kuitansi bertanggal besok?”
Gunawan Pradana berdiri di dekat meja pemeriksaan. Wajahnya sempat memucat, tetapi hanya sesaat.
“Orang ini pandai sekali mengarang cerita,” katanya sambil tertawa pendek. “Mungkin dia sendiri yang memasukkan dokumen itu untuk mengalihkan perhatian.”
Aku hampir kehilangan kesabaran.
“Lalu bagaimana saya bisa membuat kuitansi dengan tanggal besok sebelum mengetahui tas itu ada?”
Gunawan tidak menjawab.
Komisaris Wira mengambil dokumen dari tanganku.
“Cukup. Semuanya akan kami periksa.”
Aku menunjuk ponsel yang tergeletak di meja.
“Saya punya rekaman sejak pertama kali menemukan tas itu. Saya juga punya riwayat perjalanan dan rekaman kamera mobil.”

Wira menatapku tajam.
“Kamera mobil?”
Aku mengangguk.
“Kamera depan dan belakang. Rekamannya otomatis tersimpan di penyimpanan daring.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat Gunawan benar-benar gelisah.
Dia segera mendekati Wira dan membisikkan sesuatu.
Aku tidak mendengar seluruh percakapan mereka. Namun satu kalimat terdengar jelas.
“Jangan sampai rekaman itu keluar.”
Saat itulah aku sadar bahwa masalah ini jauh lebih besar daripada tuduhan pencurian.
Aku bukan sekadar menemukan uang milik orang kaya.
Aku sedang berada di tengah sesuatu yang sengaja direncanakan.
Namaku Bayu Santoso. Umurku tiga puluh delapan tahun. Sudah empat tahun aku menjadi pengemudi mobil sewaan di Semarang.
Dulu aku bekerja sebagai staf administrasi sebuah perusahaan kontraktor. Gajiku tidak besar, tetapi cukup untuk menghidupi istri dan putriku.
Semuanya berubah ketika istriku, Rina, meninggal akibat komplikasi penyakit ginjal.
Tabungan kami habis untuk pengobatan. Rumah kecil yang sedang kami cicil terpaksa dijual. Aku juga kehilangan pekerjaan setelah terlalu sering mengambil cuti untuk mendampingi Rina di rumah sakit.
Sejak itu, hanya ada aku dan Nala.
Putriku berumur sembilan tahun.
Dia tidak pernah meminta mainan mahal atau pakaian bermerek. Bahkan ketika sepatu sekolahnya mulai robek, dia hanya menutup bagian depannya dengan lem.
Suatu malam, aku pernah menemukannya menghitung uang receh di dalam kaleng biskuit.
“Buat apa uangnya, Nak?”
“Buat bantu Ayah bayar sekolah.”
Aku memeluknya sambil menahan tangis.
Karena itulah, ketika melihat Rp900 juta di dalam tas Gunawan, aku sempat tergoda.
Tetapi aku teringat sesuatu yang pernah dikatakan Rina.
“Kita boleh miskin, Mas. Tapi jangan sampai Nala belajar bahwa kesulitan bisa dijadikan alasan untuk mengambil hak orang lain.”
Aku mengembalikan tas itu karena ingin tetap menjadi ayah yang bisa dibanggakan putriku.
Namun sekarang, kejujuranku justru menyeretku ke ruang pemeriksaan polisi.
Komisaris Wira memerintahkan seorang petugas membawa ponselku.
Aku segera berkata, “Saya ingin menghubungi pengacara.”
Wira tersenyum tipis.
“Bapak belum ditetapkan sebagai tersangka.”
“Kalau begitu, kenapa saya tidak boleh pulang?”
Dia tidak menjawab.
Dua jam berlalu.
Aku duduk sendirian di ruang pemeriksaan ketika seorang polisi muda masuk membawa segelas air.
Namanya Briptu Dimas.
Dia meletakkan gelas di hadapanku, lalu berkata pelan, “Pak Bayu, Bapak benar-benar tidak mengambil uang itu?”
Aku menggeleng.
“Demi anak saya.”
Dimas memandang pintu sebelum mendekat.
“Saya tidak seharusnya mengatakan ini. Tapi laporan kehilangan tas itu sudah masuk sebelum Bapak menelepon polisi.”
Aku terdiam.
“Jam berapa?”
“Pukul 16.35.”
Darahku terasa membeku.
Aku baru menemukan tas tersebut pukul 16.42.
Artinya, Gunawan melaporkan kehilangan tujuh menit sebelum aku mengetahui tas itu tertinggal di mobilku.
“Bisa saya lihat laporannya?”
Dimas menggeleng.
“Saya tidak punya kewenangan memberikan dokumen itu. Tapi Bapak harus menyampaikan soal waktunya kepada pengacara.”
Sebelum keluar, dia menambahkan sesuatu yang membuatku semakin takut.
“Pak Gunawan tadi juga meminta seseorang memastikan putri Bapak sudah pulang sekolah.”
Aku langsung berdiri.
“Nala?”
Dimas mengangguk dengan wajah muram.
Aku bergegas meminta ponselku dikembalikan.
Setelah berdebat cukup lama, petugas mengizinkanku menelepon dengan pengawasan.
Aku menghubungi Bu Sari, tetangga yang biasa menjaga Nala ketika aku bekerja.
Telepon tersambung setelah dering keempat.
“Bu, Nala ada?”
“Ada, Bayu. Tapi tadi ada dua orang datang mencari kamu.”
Dadaku sesak.
“Siapa mereka?”
“Katanya dari perusahaan tempat kamu melamar pekerjaan. Mereka tanya apakah Nala benar anakmu.”
Aku memejamkan mata.
“Bu, tolong jangan biarkan Nala keluar rumah. Saya sedang ada masalah.”
Setelah menutup telepon, aku meminta bertemu Komisaris Wira.
Ketika dia masuk, aku langsung berkata, “Jangan libatkan anak saya.”
Wira menarik kursi.
“Kalau Bapak bekerja sama, semuanya akan lebih mudah.”
“Apa maksud Bapak?”
Dia mengeluarkan selembar kertas.
Surat pernyataan.
Isinya menyebutkan bahwa aku telah mengambil Rp300 juta dari tas Gunawan, kemudian bersedia mengembalikannya secara bertahap.
Sebagai gantinya, Gunawan tidak akan melanjutkan perkara.
Aku membaca dokumen itu sampai selesai.
“Bapak ingin saya mengakui pencurian yang tidak pernah saya lakukan?”
“Anggap saja jalan keluar.”
“Dengan utang Rp300 juta?”
Wira menyandarkan tubuh.
“Bapak punya anak yang harus sekolah. Jangan mempersulit hidup sendiri.”
Aku menatapnya lama.
Lalu aku mendorong kertas itu kembali.
“Saya tidak akan menandatanganinya.”
Wira berdiri dengan wajah mengeras.
“Pikirkan baik-baik.”
Setelah dia keluar, aku mulai mengingat sesuatu dari masa laluku.
Nama Gunawan Pradana sebenarnya tidak asing.
Empat tahun lalu, sebelum kehilangan pekerjaan, aku pernah bekerja di PT Cakra Infrastruktur, perusahaan yang menjadi subkontraktor beberapa proyek pembangunan milik kelompok usaha Gunawan.
Aku bertugas mengarsipkan dokumen pembayaran dan laporan pengadaan.
Suatu hari, aku menemukan sejumlah kuitansi dengan nama penerima yang tidak sesuai dengan daftar pekerja.
Aku melaporkannya kepada atasanku.
Seminggu kemudian, kontrakku tidak diperpanjang.
Saat itu aku menganggapnya kebetulan.
Sekarang aku mulai meragukannya.
Aku teringat sebuah nama.
Ratih Puspitasari.
Dulu dia bekerja sebagai staf audit internal. Dialah satu-satunya orang yang pernah mendukung laporanku.
Aku masih menyimpan nomor teleponnya.
Ketika Dimas kembali, aku meminta izin menghubungi seseorang yang bisa membantuku mencari penasihat hukum.
Dia mengizinkan.
Ratih menjawab setelah beberapa kali panggilan.
“Bayu? Ya Tuhan, sudah lama sekali. Ada apa?”
Aku menceritakan semuanya secara singkat.
Ketika menyebut nama Gunawan, suaranya berubah.
“Kamu sekarang di mana?”
“Kantor polisi.”
“Jangan tanda tangan apa pun. Aku akan menghubungi pengacara yang kukenal.”
“Ratih, sebenarnya ada apa?”
Dia terdiam beberapa detik.
“Bayu, kamu ingat laporan pembayaran fiktif yang pernah kamu temukan?”
“Tentu.”
“Kasus itu tidak pernah selesai. Aku sudah mengumpulkan dokumen tambahan selama dua tahun terakhir.”
Aku menelan ludah.
“Lalu?”
“Sebagian dana proyek diduga dialihkan melalui pembayaran kepada orang-orang yang identitasnya dipinjam tanpa izin. Beberapa orang bahkan tidak tahu nama mereka tercatat sebagai penerima uang.”
Aku memandang fotokopi KTP-ku yang kini berada di meja Wira.
“Termasuk aku?”
“Aku belum tahu. Tapi kalau mereka punya KTP-mu, kemungkinan itu harus diperiksa.”
Ratih kemudian mengatakan bahwa dia akan datang bersama pengacara bernama Aditya Prakoso.
Sebelum menutup telepon, dia bertanya, “Bayu, apakah kamu masih punya salinan arsip lama yang pernah kamu laporkan?”
Aku mengingat sebuah hard disk tua di lemari rumah.
“Mungkin masih ada.”
“Jangan biarkan siapa pun mengambilnya.”
Malam semakin larut.
Sekitar pukul sepuluh, Aditya datang bersama Ratih.
Aditya menunjukkan identitas profesinya dan meminta bertemu denganku.
Setelah berbicara dengan petugas, dia berhasil mendampingiku dalam pemeriksaan lanjutan.
Aku menceritakan semuanya dari awal.
Aditya mencatat waktu penemuan tas, laporan kehilangan, jumlah uang, dan dokumen yang ditemukan.
Kemudian dia meminta penyidik membuat berita acara mengenai seluruh barang bukti.
“Rekaman asli dari kamera mobil juga harus diamankan,” katanya. “Termasuk metadata dan riwayat unggahnya.”
Gunawan yang masih berada di kantor polisi tampak tidak senang.
“Kenapa perkara sederhana dibuat rumit?”
Aditya menatapnya.
“Karena ada selisih Rp300 juta dan dokumen pribadi klien saya yang keberadaannya belum dapat dijelaskan.”
Ratih kemudian menunjukkan sesuatu dari laptopnya.
Sebuah laporan pembayaran proyek drainase.
Di salah satu halaman tercantum namaku.
Bayu Santoso.
Penerima dana konsultasi lapangan sebesar Rp300 juta.
Tanggal pencairannya adalah besok.
Aku menatap layar dengan perasaan campur aduk.
“Aku tidak pernah bekerja sebagai konsultan.”
Ratih mengangguk.
“Itulah masalahnya.”
Aditya memeriksa dokumen tersebut.
“Ini salinan dari sistem internal?”
“Ya. Saya mendapatkannya ketika masih memiliki akses audit resmi. Dokumen pendukungnya sudah saya serahkan kepada penyidik tindak pidana korupsi melalui kuasa hukum.”
Ratih lalu menjelaskan dugaan yang mulai terbentuk.
Dana Rp300 juta itu akan dicatat seolah-olah sudah diterima olehku. Tas berisi Rp900 juta sengaja ditinggalkan di mobilku, kemudian Gunawan melaporkan bahwa uang di dalamnya seharusnya Rp1,2 miliar.
Jika aku ketakutan dan menandatangani pengakuan, mereka akan memiliki dokumen yang menghubungkan namaku dengan uang yang sebenarnya tidak pernah kuterima.
Aku akan menjadi orang yang menanggung selisih tersebut.
Namun ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
“Kenapa harus aku?”
Ratih menunduk.
“Karena empat tahun lalu kamu pernah menemukan kejanggalan dalam laporan mereka.”
Aku menatapnya.
“Jadi mereka masih mengingatku?”
“Bukan hanya mengingatmu, Bayu.”
Dia membuka halaman lain.
Di sana terdapat catatan pemeriksaan internal yang pernah kubuat.
Pada bagian bawah, seseorang menulis kalimat dengan tinta merah.
Pegawai ini berpotensi menimbulkan masalah.
Aku merasa seolah kembali ke masa ketika kehilangan pekerjaan, ketika Rina masih sakit dan aku tidak mampu membayar biaya pengobatannya.
Selama ini aku mengira hidupku hancur karena nasib buruk.
Ternyata mungkin ada orang yang sengaja menyingkirkanku karena aku pernah mengatakan kebenaran.
Keesokan paginya, Aditya berhasil memperoleh izin agar aku pulang setelah pemeriksaan, dengan kewajiban memenuhi panggilan berikutnya.
Namun sebelum meninggalkan kantor polisi, aku melihat Gunawan berbicara dengan Wira di lorong.
Gunawan tampak marah.
“Kalau dokumen itu sampai diperiksa lebih jauh, bukan cuma saya yang kena!”
Wira menoleh ketika menyadari keberadaanku.
Aku tidak mengatakan apa pun.
Aku hanya berjalan melewatinya.
Sesampainya di rumah, Nala langsung berlari memelukku.
“Ayah dari mana? Nala takut.”
Aku berlutut dan memeluknya erat.
“Maaf, Sayang. Ayah harus menyelesaikan pekerjaan yang sulit.”
Dia menyentuh wajahku.
“Ayah menangis?”
Aku menggeleng sambil tersenyum.
“Cuma capek.”
Nala kemudian mengambil sebuah amplop dari tas sekolahnya.
“Bu Guru bilang ini buat Ayah.”
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat surat pemberitahuan bahwa tunggakan sekolah harus segera diselesaikan.
Namun di bagian belakang, Nala menulis sesuatu dengan pensil.
Ayah, kalau uangnya belum ada, Nala bisa pindah sekolah. Yang penting Ayah jangan sedih.
Aku tidak sanggup menahan air mata.
Malam itu, setelah Nala tidur, aku mencari hard disk lama yang pernah kusimpan.
Benda itu masih ada di dalam kotak sepatu milik Rina.
Aku menghubungkannya ke laptop.
Puluhan folder muncul di layar.
Sebagian berisi laporan pekerjaan lama. Sebagian lagi foto keluarga.
Di antara semuanya, aku menemukan folder bernama Audit Proyek.
Di dalamnya terdapat salinan daftar pembayaran, surat elektronik, dan dokumen yang pernah kukumpulkan.
Namun ada satu berkas yang tidak kuingat pernah kusimpan.
Namanya Pesan untuk Bayu.
Ketika kubuka, muncul sebuah surat elektronik yang disimpan dalam format PDF.
Pengirimnya adalah Ratih.
Tanggalnya empat tahun lalu.
Bayu, kalau suatu hari kamu membaca ini, berarti aku tidak berhasil menjelaskan semuanya secara langsung. Ada orang yang menggunakan identitas pegawai untuk membuat transaksi palsu. Namamu termasuk dalam daftar yang mereka siapkan.
Aku terus membaca dengan jantung berdebar.
Pada paragraf terakhir, Ratih menulis bahwa salinan dokumen asli disimpan di tempat terpisah.
Aku segera meneleponnya.
“Ratih, kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”
Di ujung telepon, dia terdengar terkejut.
“Kamu menemukan surat itu?”
“Iya.”
Ratih menghela napas panjang.
“Aku pernah mengirimkannya ke alamat email kantormu, tapi akunmu sudah dinonaktifkan. Setelah itu aku menyimpan salinannya di hard disk yang kukembalikan bersama barang-barangmu.”
Aku teringat bahwa Ratih memang pernah menyerahkan sebuah kotak berisi dokumen ketika aku keluar dari perusahaan.
Saat itu Rina sedang dirawat di rumah sakit.
Aku bahkan tidak sempat memeriksa seluruh isinya.
“Kenapa baru sekarang kamu muncul lagi?”
“Karena dulu aku belum punya cukup bukti. Dan karena aku takut.”
Suaranya mulai bergetar.
“Bayu, kakakku pernah kehilangan pekerjaan setelah menolak menandatangani laporan proyek yang sama. Aku tahu akibatnya kalau melawan mereka.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa Ratih juga telah hidup dalam ketakutan selama bertahun-tahun.
Keesokan harinya, kami menyerahkan salinan hard disk dan dokumen pendukung kepada penyidik yang menangani dugaan korupsi proyek tersebut.
Aditya memastikan seluruh proses penyerahan dicatat secara resmi.
Rekaman kamera mobilku juga berhasil diperiksa.
Di dalam video terlihat jelas Gunawan meletakkan tas abu-abu di bawah kursi belakang sebelum turun.
Namun bukti yang paling penting justru berasal dari percakapan teleponnya.
Kamera mobil merekam suara Gunawan ketika berkata, “Pastikan laporan menyebut Rp1,2 miliar.”
Rekaman itu tidak langsung membuktikan seluruh rencana mereka, tetapi cukup untuk memperkuat alasan pemeriksaan lebih lanjut.
Beberapa hari kemudian, penyidik menemukan bahwa alat pelacak di dalam tas telah diaktifkan sebelum Gunawan naik ke mobilku.
Mereka juga memperoleh rekaman kamera pengawas hotel yang menunjukkan seorang pria menyerahkan map kepada Gunawan sebelum perjalanan.
Pria tersebut ternyata bekerja di bagian keuangan perusahaan Gunawan.
Dari pemeriksaan lanjutan, terungkap bahwa fotokopi KTP-ku berasal dari arsip kepegawaian lama yang masih disimpan perusahaan.
Sementara foto Nala diambil oleh seseorang yang beberapa hari sebelumnya mengikuti aktivitasnya di sekitar sekolah.
Mengetahui hal itu, aku hampir tidak bisa tidur.
Tetapi Aditya membantu kami melaporkan dugaan intimidasi dan meminta perlindungan bagi Nala.
Kasus tersebut akhirnya menarik perhatian publik setelah penyidik mengumumkan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak dalam dugaan penyalahgunaan dana proyek.
Gunawan diperiksa berulang kali.
Komisaris Wira juga diperiksa oleh bagian pengawasan internal terkait penanganan laporan dan dugaan tekanan terhadapku.
Beberapa minggu kemudian, penyidik menetapkan Gunawan dan dua pegawai perusahaannya sebagai tersangka dalam perkara pemalsuan dokumen dan dugaan penyimpangan dana.
Pemeriksaan terhadap Wira masih berlangsung.
Aku tidak langsung merasa lega.
Selama berminggu-minggu, setiap suara kendaraan berhenti di depan rumah membuatku waspada.
Setiap kali Nala terlambat pulang sekolah, pikiranku dipenuhi kemungkinan buruk.
Namun perlahan, kehidupan kami mulai kembali tenang.
Suatu sore, Ratih datang membawa kabar.
Perusahaan tempatku dulu bekerja sedang diperiksa terkait pemutusan hubungan kerja dan penggunaan data pribadi pegawai.
Pengacara juga sedang menyiapkan tuntutan ganti rugi atas kerugian yang kualami.
“Aku tidak tahu hasil akhirnya akan seperti apa,” kata Ratih. “Tapi setidaknya sekarang mereka tidak bisa lagi berpura-pura semuanya baik-baik saja.”
Aku mengangguk.
Lalu dia mengeluarkan sebuah amplop kecil.
“Ada satu hal lagi.”
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan.
Aku langsung mengenali tulisan itu.
Tulisan Rina.
Tanganku gemetar ketika membuka lipatannya.
Ratih menjelaskan bahwa Rina pernah menemuinya ketika aku kehilangan pekerjaan.
Rina mengetahui sebagian masalah yang terjadi di perusahaan, tetapi tidak pernah menceritakannya kepadaku karena saat itu kesehatannya semakin memburuk.
Dalam surat tersebut, Rina menulis bahwa dia bangga karena aku tidak mau memalsukan laporan meskipun sedang membutuhkan uang.
Aku membaca kalimat terakhirnya berulang kali.
Mas, kalau suatu hari hidup terasa terlalu berat, ingatlah bahwa Nala tidak membutuhkan ayah yang kaya. Dia membutuhkan ayah yang bisa mengajarinya hidup tanpa mengorbankan hati nurani.
Air mataku jatuh ke atas kertas.
Selama bertahun-tahun aku merasa gagal sebagai suami dan ayah.
Aku tidak mampu menyelamatkan Rina.
Aku tidak mampu memberikan rumah yang layak bagi Nala.
Bahkan biaya sekolah putriku pun sering terlambat kubayar.
Tetapi ternyata, di tengah semua kegagalan yang kurasakan, ada sesuatu yang masih berhasil kujaga.
Kepercayaan keluargaku.
Tiga bulan setelah kejadian itu, proses hukum masih berjalan.
Aku tetap mengemudikan mobil sewaan.
Tidak ada uang ratusan juta yang tiba-tiba masuk ke rekeningku.
Tidak ada rumah mewah atau kehidupan baru yang datang dalam semalam.
Namun sebuah lembaga bantuan pendidikan yang mengetahui kondisi Nala melalui pendampingan hukum menawarkan beasiswa setelah melakukan verifikasi.
Tunggakan sekolahnya akhirnya dapat diselesaikan.
Ketika menerima kabar itu, Nala memelukku sambil melompat kegirangan.
“Ayah, berarti Nala nggak perlu pindah sekolah?”
Aku menggeleng.
“Nggak, Sayang.”
Dia tersenyum lebar.
“Kalau begitu, nanti Nala mau belajar yang rajin supaya bisa jadi pengacara.”
Aku tertawa kecil.
“Kenapa pengacara?”
“Supaya kalau ada orang baik dituduh jahat, Nala bisa bantu.”
Aku memeluknya erat.
Sore itu kami berjalan menyusuri kawasan Kota Lama Semarang.
Di tempat yang sama, beberapa bulan sebelumnya, aku menerima penumpang yang hampir menghancurkan hidupku.
Nala menggenggam tanganku.
“Ayah, waktu menemukan uang sebanyak itu, Ayah nggak pengin mengambil sedikit?”
Aku berhenti berjalan.
Aku bisa saja berbohong dan mengatakan bahwa aku sama sekali tidak tergoda.
Tetapi aku memilih menjawab dengan jujur.
“Pengin, Nak. Ayah sempat membayangkan semua masalah kita selesai.”
“Terus kenapa nggak diambil?”
Aku menatap wajah kecilnya.
“Karena kalau Ayah mengambil uang yang bukan milik kita, mungkin Ayah bisa membayar sekolahmu. Tapi Ayah akan kesulitan mengajarimu untuk tidak mengambil milik orang lain.”
Nala berpikir sebentar.
Kemudian dia menggenggam tanganku lebih erat.
“Berarti kita nggak kaya, tapi kita nggak perlu takut sama diri sendiri, ya?”
Aku tersenyum.
“Iya, Nak.”
Kami melanjutkan perjalanan.
Matahari mulai tenggelam di balik bangunan tua, membuat jalanan berwarna keemasan.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Aditya.
Penyidik baru saja menemukan transaksi lain yang menggunakan identitas puluhan pekerja berpenghasilan rendah. Beberapa di antaranya telah menandatangani pengakuan utang karena takut dipenjara.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Ternyata aku bukan satu-satunya orang yang pernah dijadikan sasaran.
Aku segera membalas bahwa aku bersedia memberikan kesaksian tambahan jika diperlukan.
Nala mendongak.
“Ada apa, Yah?”
Aku memasukkan ponsel ke saku.
“Ada beberapa orang yang mungkin membutuhkan bantuan.”
“Kayak Ayah dulu?”
Aku mengangguk.
Dia tersenyum.
“Kalau begitu, bantu mereka, Yah.”
Aku menatap putriku dengan mata berkaca-kaca.
Dulu aku mengira menemukan tas berisi Rp900 juta adalah ujian terbesar dalam hidupku.
Ternyata ujian sesungguhnya bukanlah memilih antara mengambil uang atau mengembalikannya.
Melainkan tetap berani mempertahankan kebenaran ketika orang-orang berkuasa berusaha membuatku menyesali kejujuranku.
Dan hari itu, sambil menggenggam tangan Nala, aku akhirnya memahami sesuatu.
Uang yang kutemukan memang bukan milikku.
Tetapi keberanian untuk menolak kebohongan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli siapa pun.
Bahkan dengan Rp900 juta sekalipun.
