Aku baru menyadari betapa mudahnya seseorang menghapus enam tahun kebersamaan ketika melihat punggung Mas Yoga menghilang di balik pintu kaca kafe.
Laki-laki yang pernah berjanji akan menemaniku sampai tua itu pergi sambil membawa kardus seserahan, seolah yang baru saja kami selesaikan hanyalah urusan pengembalian barang belanjaan.
Aku masih duduk di tempat yang sama ketika seorang pelayan menghampiriku.
“Maaf, Mbak. Mas yang tadi meninggalkan ini.”
Dia meletakkan selembar kertas kecil di atas meja.
Kupikir itu surat permintaan maaf. Namun begitu kubuka, ternyata hanya daftar barang seserahan yang ditulis tangan.
Di bagian bawah terdapat sebuah kalimat yang membuat dadaku kembali sesak.
Tolong pastikan cincin pertunangan juga dikembalikan. Ibu tidak ingin ada barang keluarga kami yang tertinggal.
Aku menatap jari manisku.
Cincin emas putih dengan batu kecil itu masih melingkar di sana. Cincin yang dipasangkan Mas Yoga sendiri sambil berjanji di hadapan keluarga besar bahwa dia akan menjagaku.
Tiba-tiba, cincin itu terasa begitu berat.

Aku melepaskannya perlahan, membungkusnya dengan tisu, lalu memasukkannya ke dalam tas.
Hujan mulai turun ketika aku keluar dari kafe.
Dini ternyata belum pulang. Sepupuku itu duduk di atas sepeda motornya, berteduh di bawah kanopi toko sebelah.
“Katanya aku disuruh pulang?” tanyanya ketika melihatku.
Aku mencoba tersenyum.
“Kamu memang susah diatur.”
Dini tidak membalas candaku. Dia justru memandang tanganku yang kosong.
“Dia minta cincin juga?”
Aku mengangguk.
Wajah Dini langsung memerah.
“Enam tahun, Tari. Enam tahun kamu menemani dia dari masih kuliah sampai jadi guru tetap. Sekarang semuanya dihitung pakai daftar barang?”
“Sudahlah, Din.”
“Enggak. Aku cuma mau tahu, harga diri kamu juga mau dia minta kembali?”
Pertanyaan itu membuat pertahananku runtuh.
Aku menangis di pinggir jalan, di tengah suara hujan yang menghantam atap seng. Dini memelukku tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kami dibatalkan, aku tidak berusaha terlihat kuat.
Sesampainya di rumah, Bapak sedang memperbaiki kursi bambu di teras.
Melihat wajahku, beliau langsung meletakkan peralatannya.
“Sudah selesai urusannya, Nduk?”
“Sudah, Pak.”
“Bapak minta maaf.”
Aku terdiam.
“Kenapa Bapak minta maaf?”
Beliau menunduk.
“Kalau bukan karena Bapak, mungkin pernikahanmu tetap berjalan.”
Aku segera berjongkok di hadapannya.
“Bapak jangan bicara begitu.”
“Tapi keluarga Yoga mempermasalahkan pekerjaan Bapak. Mereka bilang Bapak cuma tukang kayu yang tidak pantas besanan dengan keluarga guru dan pegawai negeri.”
Aku menggenggam tangannya yang kasar.
Tangan itu dipenuhi bekas luka kecil akibat puluhan tahun menggergaji dan memahat kayu.
Dengan tangan itulah Bapak membiayai sekolahku sampai lulus kuliah.
Dengan tangan yang sama, beliau pernah membuatkan meja belajar untuk Mas Yoga ketika laki-laki itu belum mampu membeli perabot untuk kamar kontrakannya.
“Bapak dengarkan Tari baik-baik,” kataku sambil menahan tangis. “Pernikahan itu batal bukan karena pekerjaan Bapak. Pernikahan itu batal karena mereka tidak tahu cara menghormati orang lain.”
Bapak memalingkan wajah.
Aku melihat matanya basah.
Malam harinya, ketika seluruh keluarga sudah pulang, Ibu masuk ke kamarku membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Ini titipan Bapakmu.”
Aku membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah buku tabungan dan beberapa lembar kuitansi.
“Uang apa ini, Bu?”
“Tabungan untuk pernikahanmu.”
Aku membuka halaman terakhir.
Jumlahnya hampir delapan puluh juta rupiah.
Tanganku gemetar.
Selama ini aku tahu Bapak menabung, tetapi tidak pernah membayangkan jumlahnya sebesar itu.
“Kenapa Bapak tidak pernah cerita?”
“Karena dia ingin memberimu kejutan. Katanya, kalau nanti kamu menikah, uang itu bisa dipakai untuk membuka usaha kecil bersama suamimu.”
Aku menutup buku tabungan itu.
“Bu, Tari enggak mau uang ini dipakai untuk apa pun dulu.”
Ibu mengangguk.
“Memang tidak perlu. Tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Beliau duduk di sampingku.
“Tiga bulan sebelum lamaran, Yoga pernah datang menemui Bapak sendirian.”
Aku menoleh.
“Untuk apa?”
“Meminjam uang.”
Jantungku seolah berhenti berdetak.
“Berapa?”
“Dua puluh lima juta.”
Aku menatap Ibu tidak percaya.
“Mas Yoga tidak pernah cerita.”
“Dia bilang butuh uang untuk menyelesaikan masalah administrasi dan cicilan kendaraan. Bapakmu memberikan uang itu karena menganggap Yoga sudah seperti anak sendiri.”
“Sudah dikembalikan?”
Ibu menggeleng.
Aku merasakan sesuatu yang dingin menjalar dari tengkuk hingga ujung jari.
Selama enam tahun, Mas Yoga selalu mengatakan bahwa dia tidak pernah mau merepotkan keluargaku.
Dia bahkan beberapa kali menasihatiku agar tidak terlalu bergantung kepada orang tua.
Namun diam-diam dia meminjam uang dari Bapak.
“Kenapa Bapak tidak menagih?”
“Karena Bapak percaya dia akan menjadi suamimu.”
Aku tidak bisa tidur malam itu.
Keesokan paginya, aku mengirim pesan kepada Mas Yoga.
Mas, cincin pertunangan masih ada padaku. Aku akan mengembalikannya. Tapi sebelum itu, aku ingin menanyakan uang dua puluh lima juta yang Mas pinjam dari Bapak.
Pesanku dibaca lima menit kemudian.
Tidak ada balasan.
Satu jam berlalu.
Lalu dua jam.
Menjelang siang, ponselku akhirnya berbunyi.
Tari, tolong jangan mencampuradukkan urusan kita dengan masalah uang. Aku pasti mengembalikannya kalau sudah punya rezeki.
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Kemudian kubalas.
Aku tidak meminta uang itu untuk diriku. Aku hanya ingin Mas mengakui bahwa Bapak pernah membantumu.
Balasannya datang hampir seketika.
Jangan membuat masalah semakin besar. Ibuku sudah cukup kecewa dengan keluargamu.
Aku memejamkan mata.
Ternyata setelah semua yang terjadi, dia masih menganggap keluargaku sebagai sumber masalah.
Tiga hari kemudian, sebuah kejadian membuatku memahami bahwa pembatalan pernikahan kami menyimpan persoalan yang jauh lebih besar daripada hitungan weton.
Siang itu aku sedang membantu Bapak mencatat pesanan lemari ketika Dini datang dengan wajah tegang.
“Tari, kamu harus lihat ini.”
Dia menunjukkan unggahan Facebook milik Bu Ratna, ibu Mas Yoga.
Foto acara lamaran kami terpampang jelas.
Di bawahnya terdapat tulisan panjang tentang pentingnya memilih pasangan dari keluarga yang sepadan.
Bu Ratna tidak menyebut namaku secara langsung, tetapi hampir seluruh warga kampung mengetahui siapa yang dimaksud.
Yang paling menyakitkan adalah satu kalimat di bagian akhir.
Kami bersyukur anak kami terhindar dari keluarga yang terlalu berharap pada keadaan ekonomi calon menantu.
Aku membaca kalimat itu sampai tiga kali.
“Dia menuduh keluarga kita matre?” tanyaku pelan.
Dini mengangguk.
“Komentarnya sudah ramai. Ada yang bilang Bapakmu sengaja meminta uang seserahan terlalu besar.”
Aku merasa darahku mendidih.
Padahal Bapak tidak pernah meminta mahar tertentu. Bahkan beliau menawarkan agar acara pernikahan digelar sederhana di rumah.
Aku mengambil tangkapan layar unggahan itu.
Kemudian menelepon Mas Yoga.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kedua ditolak.
Pada panggilan ketiga, dia akhirnya mengangkat.
“Ada apa lagi, Tari?”
“Mas sudah lihat unggahan Ibumu?”
Dia diam sebentar.
“Sudah.”
“Kenapa Mas membiarkannya?”
“Itu cuma pendapat Ibu.”
“Pendapat yang menuduh keluargaku mengincar uangmu?”
“Tari, jangan berlebihan.”
Aku tertawa kecil.
Enam tahun bersama laki-laki itu, baru sekarang aku merasa benar-benar tidak mengenalnya.
“Mas tahu Bapak pernah meminjamkan uang kepadamu. Mas juga tahu Bapak tidak pernah meminta apa pun. Kenapa Mas diam ketika nama baiknya dihancurkan?”
“Tolong jangan ungkit uang itu terus!”
Suaranya meninggi.
“Aku sedang banyak masalah!”
“Masalah apa?”
Dia tidak menjawab.
Lalu terdengar suara perempuan dari kejauhan.
“Yoga, cepat! Ibu sudah menunggu!”
Aku mengenali suara itu.
Bu Ratna.
Sebelum telepon terputus, aku sempat mendengar perempuan itu berkata dengan nada kesal.
“Kalau Tari menelepon lagi, bilang saja kita sudah tahu semuanya!”
Aku berdiri terpaku.
Tahu semuanya?
Apa sebenarnya yang mereka maksud?
Sore harinya, seseorang datang ke rumah kami.
Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun mengenakan kemeja krem dan celana bahan hitam.
Dia memperkenalkan diri sebagai Rika, kakak sepupu Mas Yoga.
Aku mengenalnya karena kami pernah bertemu beberapa kali dalam acara keluarga.
“Maaf datang mendadak, Tari. Aku perlu bicara.”
Kami duduk di teras.
Rika tampak gelisah. Berkali-kali dia memeriksa ponselnya sebelum akhirnya membuka percakapan.
“Kamu tahu kenapa keluarga Yoga benar-benar membatalkan pernikahan?”
“Karena weton kami tidak cocok.”
Rika menggeleng.
“Itu alasan yang mereka sampaikan kepada keluargamu.”
Aku menegakkan tubuh.
“Maksud Mbak?”
“Yoga sedang dijodohkan dengan perempuan lain.”
Aku tidak langsung bereaksi.
Rika melanjutkan dengan suara pelan.
“Namanya Melinda. Anak teman dekat Bu Ratna. Ayahnya punya beberapa usaha dan tanah di Sleman.”
Aku merasa seluruh suara di sekelilingku mendadak menjauh.
“Sejak kapan?”
“Kurang lebih empat bulan lalu.”
Empat bulan.
Artinya ketika Mas Yoga datang melamar secara resmi, keluarganya sudah membicarakan perempuan lain.
“Tapi kenapa mereka tetap datang melamar?”
“Awalnya Yoga menolak perjodohan itu. Namun setelah mengetahui keluarga Melinda bersedia membantu melunasi utangnya, sikapnya berubah.”
“Utang?”
Rika mengangguk.
“Yoga punya masalah pinjaman daring dan cicilan. Jumlahnya cukup besar.”
Aku teringat dua puluh lima juta rupiah milik Bapak.
“Berapa totalnya?”
“Terakhir yang kudengar, hampir seratus juta.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Selama ini Mas Yoga selalu tampil sebagai laki-laki sederhana dan bertanggung jawab. Dia sering mengingatkanku agar tidak membeli barang yang tidak diperlukan.
Ternyata ada kehidupan lain yang disembunyikannya.
“Kenapa Mbak memberitahuku?”
Rika menarik napas panjang.
“Karena aku hadir ketika ibunya menghina Bapakmu. Aku juga tahu siapa yang sebenarnya menanggung banyak biaya selama Yoga berjuang mendapatkan pekerjaan.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Dan karena minggu depan keluarga mereka berencana mengadakan lamaran dengan Melinda.”
Aku menatap halaman rumah yang basah setelah hujan.
Anehnya, kali ini aku tidak menangis.
Aku hanya merasa sangat lelah.
“Mbak Rika, boleh aku minta satu bantuan?”
“Apa?”
“Kalau nanti ada orang yang bertanya kenapa pernikahanku batal, tolong jangan berbohong.”
Rika mengangguk.
“Aku janji.”
Malam itu, untuk pertama kalinya aku menghapus seluruh foto Mas Yoga dari galeri ponselku.
Tidak semuanya mudah.
Ada foto wisuda ketika aku memegang bunga untuknya.
Ada foto ulang tahunnya yang kami rayakan dengan mi ayam di pinggir jalan.
Ada foto ketika dia sakit dan aku menunggu di rumah sakit sampai pagi.
Setiap foto menyimpan kenangan yang pernah terasa begitu indah.
Namun aku mulai memahami bahwa kenangan baik tidak selalu menjadi alasan untuk mempertahankan hubungan yang buruk.
Keesokan harinya, aku mendatangi sekolah tempat Mas Yoga mengajar.
Bukan untuk membuat keributan.
Aku sudah mengirim pesan dan meminta bertemu di luar jam mengajar. Dia menyetujuinya dengan syarat pembicaraan kami tidak berlangsung lama.
Kami bertemu di warung makan seberang sekolah.
Begitu duduk, aku meletakkan sebuah amplop kecil di atas meja.
“Cincinmu ada di dalam.”
Mas Yoga mengambilnya.
“Terima kasih.”
“Aku juga membawa salinan bukti transfer uang dari Bapak.”
Wajahnya berubah.
“Tari…”
“Aku tidak datang untuk mempermalukanmu. Aku hanya ingin kepastian kapan uang itu dikembalikan.”
Dia menunduk.
“Aku belum punya uang.”
“Kalau begitu, kita buat surat pengakuan utang dan kesepakatan cicilan.”
Mas Yoga menatapku tajam.
“Kamu sekarang memperlakukanku seperti penipu?”
Aku menahan napas.
“Mas, aku memperlakukanmu sebagai orang yang punya kewajiban.”
Dia terdiam.
Setelah beberapa menit, dia akhirnya mengangguk.
Kami menuliskan jumlah utang, tanggal peminjaman, dan jadwal cicilan yang sanggup dia penuhi. Dia menandatangani surat itu, lalu aku memotretnya untuk disimpan.
Sebelum pergi, Mas Yoga tiba-tiba memegang pergelangan tanganku.
“Tari, sebenarnya aku masih sayang kamu.”
Aku menatapnya.
“Kalau masih sayang, kenapa kamu memilih pergi?”
Dia melepaskan tanganku.
“Aku terdesak. Utangku banyak. Ibu terus menekan. Aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Jadi kamu memilih membiarkan Bapakku dihina?”
Matanya memerah.
“Aku salah.”
Aku mengangguk.
“Iya, Mas. Kamu salah.”
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu menghiburnya.
Dua minggu kemudian, kabar pertunangan Mas Yoga dengan Melinda menyebar.
Namun acara itu ternyata tidak berlangsung seperti yang direncanakan.
Rika meneleponku pada malam hari.
“Tari, kamu sudah dengar?”
“Dengar apa?”
“Lamaran Yoga dibatalkan.”
Aku terdiam.
“Kenapa?”
“Melinda mengetahui masalah utangnya. Katanya ada orang yang menghubungi keluarganya dan meminta pembayaran pinjaman Yoga.”
Aku tidak merasa senang.
Aku justru teringat betapa sakitnya ketika rencana pernikahan dihancurkan di depan keluarga.
“Kasihan Melinda,” gumamku.
“Dia baik-baik saja. Justru dia yang meminta semuanya dihentikan sebelum terlambat.”
Beberapa hari setelah itu, Bu Ratna datang ke rumah.
Beliau tidak datang bersama Mas Yoga.
Perempuan yang dahulu selalu tampil anggun dan berbicara dengan nada tinggi itu kini duduk di ruang tamu kami dengan wajah pucat.
“Bapak, Ibu, saya datang untuk meminta maaf.”
Bapak hanya mengangguk pelan.
Bu Ratna menatapku.
“Tari, Yoga ingin memperbaiki hubungan kalian.”
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.
“Memperbaiki hubungan bagaimana, Bu?”
“Kalau kamu bersedia, kami ingin membicarakan kembali rencana pernikahan.”
Ibu langsung menegakkan tubuh.
“Setelah keluarga kami dipermalukan?”
Bu Ratna menunduk.
“Saya mengakui kesalahan saya.”
Aku memperhatikan perempuan itu cukup lama.
Dahulu, aku sangat ingin diterima olehnya.
Aku belajar memasak makanan kesukaan keluarganya, menghafal kebiasaan mereka, bahkan beberapa kali membatalkan rencana pribadiku agar bisa menghadiri acara keluarga Mas Yoga.
Namun sekarang, keinginanku itu sudah hilang.
“Bu Ratna,” kataku perlahan, “saya memaafkan Ibu.”
Beliau mengangkat wajah dengan mata berbinar.
“Tapi saya tidak akan kembali kepada Mas Yoga.”
Senyumnya menghilang.
“Kenapa, Tari? Kalian sudah bersama enam tahun.”
“Justru karena enam tahun itulah saya tahu betapa beratnya keputusan ini.”
Aku menarik napas.
“Saya tidak membutuhkan suami yang selalu bisa memenuhi keinginan saya. Saya hanya membutuhkan seseorang yang berani mengatakan bahwa menghina orang tua saya itu salah.”
Bu Ratna tidak menjawab.
“Saya juga tidak ingin menikah dengan seseorang yang baru kembali setelah pilihan lainnya gagal.”
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa saat kemudian, Bu Ratna berdiri dan berpamitan.
Bapak mengantarnya sampai teras.
Sebelum perempuan itu pergi, beliau berkata dengan suara tenang.
“Bu Ratna, saya memang cuma tukang kayu. Saya tidak punya jabatan atau harta sebanyak keluarga Ibu.”
Bu Ratna menunduk.
“Tapi saya membesarkan anak saya supaya tidak menilai manusia dari pekerjaan dan kekayaannya. Itu saja yang bisa saya wariskan.”
Aku melihat bahu Bapak bergetar ketika beliau kembali masuk.
Aku segera memeluknya.
“Maaf ya, Pak, Tari pernah membuat Bapak mengalami semua ini.”
Bapak mengusap kepalaku.
“Jangan minta maaf karena memilih mempertahankan harga dirimu, Nduk.”
Enam bulan berlalu.
Mas Yoga mulai membayar utangnya kepada Bapak secara bertahap. Tidak selalu tepat waktu, tetapi setiap pembayaran dicatat dengan baik.
Aku sendiri memutuskan menggunakan sebagian tabunganku untuk mengembangkan usaha furnitur Bapak.
Selama bertahun-tahun, beliau hanya menerima pesanan dari tetangga dan pelanggan lama.
Aku membuatkan katalog digital, memotret hasil kerjanya, lalu memasarkannya melalui media sosial dan toko daring.
Awalnya Bapak menolak.
“Bapak sudah tua, Nduk. Tidak usah macam-macam.”
“Tugas Bapak membuat furnitur yang bagus. Urusan pelanggan, biar Tari yang mengurus.”
Pesanan pertama datang dari sebuah kafe di Yogyakarta.
Mereka memesan dua belas kursi kayu dan empat meja.
Sebulan kemudian, sebuah penginapan di kawasan Prawirotaman memesan perlengkapan kamar.
Usaha kecil kami perlahan berkembang.
Bapak mulai mempekerjakan dua tetangga yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap.
Suatu sore, ketika kami sedang memeriksa pesanan baru, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Seorang laki-laki turun sambil membawa map.
Dia memperkenalkan diri sebagai Arga, pemilik usaha interior yang tertarik bekerja sama dengan bengkel furnitur Bapak.
Usianya sekitar tiga puluh lima tahun. Penampilannya sederhana, tetapi cara bicaranya tenang dan sopan.
Yang membuatku terkejut, sebelum membahas harga atau kontrak, dia justru meminta izin melihat proses pengerjaan furnitur.
Hampir satu jam dia berbincang dengan Bapak tentang jenis kayu, teknik sambungan, dan kualitas finishing.
“Bapak belajar dari mana?” tanyanya.
“Bapak saya dulu juga tukang kayu,” jawab Bapak sambil tersenyum.
Arga mengangguk kagum.
“Pantas hasilnya rapi sekali. Keahlian seperti ini tidak bisa digantikan mesin begitu saja.”
Aku melihat wajah Bapak berseri-seri.
Sudah lama sekali aku tidak melihat beliau sebahagia itu ketika membicarakan pekerjaannya.
Setelah Arga pulang, Ibu menyenggol lenganku.
“Laki-laki tadi kelihatannya baik.”
Aku tertawa.
“Bu, dia datang mau pesan lemari, bukan melamar anak Ibu.”
Ibu ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah kami kembali dipenuhi suara tawa yang tidak dipaksakan.
Kerja sama dengan Arga berjalan baik. Beberapa bulan kemudian, bengkel kecil Bapak mendapatkan pesanan untuk mengisi furnitur sebuah hotel butik.
Nilai kontraknya jauh lebih besar daripada pesanan yang pernah kami terima.
Pada hari penandatanganan kerja sama, Arga datang bersama timnya.
Di tengah pembicaraan, dia menyerahkan sebuah foto lama kepada Bapak.
“Pak, Bapak masih ingat orang ini?”
Bapak memperhatikan foto tersebut.
Seorang laki-laki muda berdiri di depan bengkel kayu sederhana sambil menggendong anak kecil.
Wajah Bapak mendadak berubah.
“Ini… Pak Hendra?”
Arga tersenyum.
“Itu ayah saya.”
Aku dan Ibu saling berpandangan.
Bapak duduk perlahan.
“Dulu ayahmu pernah bekerja bersama Bapak. Waktu usahanya bangkrut, dia sempat tinggal beberapa minggu di rumah ini.”
Arga mengangguk.
“Ayah sering bercerita tentang seseorang yang membantunya ketika semua orang menjauh.”
Matanya berkaca-kaca.
“Beliau meninggal tiga tahun lalu. Sebelum meninggal, beliau berpesan kalau suatu hari saya bertemu Pak Sastro di Bantul, saya harus menyampaikan terima kasih.”
Bapak terdiam lama.
“Ah, itu sudah lama sekali. Bapak cuma membantu sebisanya.”
“Justru karena Bapak tidak pernah menganggapnya utang, ayah saya tidak pernah melupakannya.”
Aku menatap Bapak.
Laki-laki yang pernah dihina karena pekerjaannya itu ternyata menyimpan begitu banyak kebaikan yang bahkan tidak pernah diceritakannya kepada kami.
Setelah pertemuan itu, aku mengantar Arga sampai ke mobil.
“Terima kasih sudah datang,” kataku.
Dia tersenyum.
“Saya yang seharusnya berterima kasih. Ayahmu orang luar biasa.”
Aku menunduk sambil tersenyum.
“Iya. Saya baru semakin menyadarinya belakangan ini.”
Arga memandangku sejenak.
“Saya dengar kamu yang mengembangkan usaha ini.”
“Kami mengerjakannya bersama.”
“Kalau begitu, saya berharap kerja sama kita bisa berlangsung lama.”
Aku mengangguk.
“Semoga.”
Sebelum masuk ke mobil, dia berhenti.
“Oh ya, Tari. Kalau suatu hari kamu punya waktu, saya ingin mengajakmu minum kopi. Bukan untuk membicarakan furnitur.”
Aku terkejut.
Arga segera menambahkan dengan senyum canggung.
“Tentu saja kalau kamu berkenan. Tidak perlu menjawab sekarang.”
Aku tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya, ajakan seorang laki-laki tidak membuatku memikirkan masa lalu dengan rasa sakit.
“Baik. Nanti saya kabari.”
Malam itu, ketika sedang membereskan dokumen pesanan, ponselku berbunyi.
Pesan dari nomor yang sudah lama tidak menghubungiku.
Mas Yoga.
Tari, aku dengar usaha Bapakmu sekarang maju. Aku ikut senang. Kadang aku berpikir, seandainya dulu aku lebih berani, mungkin sekarang kita masih bersama.
Aku membaca pesan itu tanpa merasakan dorongan untuk menangis.
Beberapa saat kemudian, kubalas.
Mas, aku juga pernah berharap begitu. Tapi sekarang aku bersyukur kita mengetahui semuanya sebelum menikah. Semoga Mas bisa belajar dari kejadian ini dan menjalani hidup dengan lebih baik.
Aku meletakkan ponsel, lalu keluar menuju teras.
Bapak sedang duduk menikmati teh hangat.
Aku duduk di sampingnya.
“Pak, Tari mau tanya sesuatu.”
“Apa, Nduk?”
“Kalau dulu pernikahan Tari benar-benar jadi, menurut Bapak hidup Tari bakal bagaimana?”
Bapak berpikir sebentar.
“Bapak tidak tahu. Masa depan tidak ada yang bisa memastikan.”
Beliau menyeruput tehnya.
“Tapi Bapak tahu satu hal. Kalau kamu harus kehilangan harga diri supaya bisa menikah dengan seseorang, berarti harga yang kamu bayar terlalu mahal.”
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
Angin malam berembus pelan melewati halaman rumah kami.
Di tempat yang sama, beberapa bulan lalu aku pernah menangis karena merasa seluruh masa depanku hancur.
Sekarang aku memahami bahwa yang hancur sebenarnya hanyalah rencana yang selama ini kupaksakan untuk menjadi kenyataan.
Aku tidak tahu apakah Arga akan menjadi seseorang yang penting dalam hidupku. Aku juga tidak tahu kapan aku akan menikah atau seperti apa kehidupanku lima tahun mendatang.
Namun untuk pertama kalinya, ketidakpastian itu tidak lagi menakutkan.
Sebab aku sudah memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada janji pernikahan.
Aku memiliki keluarga yang mencintaiku tanpa syarat, pekerjaan yang membuatku bangga, dan keberanian untuk memilih jalan hidupku sendiri.
Beberapa hari kemudian, aku menemukan kembali daftar seserahan yang dahulu ditinggalkan Mas Yoga di kafe.
Kertasnya sudah kusut, tetapi tulisannya masih terbaca jelas.
Pakaian, sepatu, tas, kosmetik, cincin.
Semua telah dikembalikan.
Aku tersenyum, lalu merobek kertas itu dan membuangnya.
Dahulu aku mengira daftar tersebut adalah bukti bahwa aku tidak lagi memiliki apa pun dari hubungan kami.
Ternyata aku keliru.
Mas Yoga memang berhasil mengambil kembali seluruh barang yang pernah diberikannya.
Namun tanpa dia sadari, kepergiannya justru mengembalikan sesuatu yang selama enam tahun perlahan hilang dari diriku.
Keberanian untuk mencintai diriku sendiri.
Dan kali ini, tidak akan kubiarkan siapa pun mengambilnya kembali.
