“Kalau Ibu sampai meninggal malam ini, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Arman.”
Itulah kalimat yang kuucapkan kepada suamiku ketika dia berdiri menghalangi pintu rumah, sementara ibuku yang berusia tujuh puluh empat tahun meringkuk kesakitan di lantai kamar mandi.
Saat itu aku belum tahu bahwa larangan Arman membawa Ibu ke rumah sakit bukan karena dia takut mengeluarkan uang.
Dia takut seseorang menemukan sesuatu.
Dan ketakutannya ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan.
Namaku Dina. Aku tinggal di Malang bersama suamiku, Arman Prasetyo, dan ibuku, Bu Sri.
Sejak Ayah meninggal tiga tahun lalu, Ibu tinggal bersama kami. Beliau perempuan sederhana yang sepanjang hidupnya bekerja sebagai guru sekolah dasar. Bahkan setelah pensiun, Ibu masih sering menyisihkan uang untuk membeli beras, telur, dan kebutuhan rumah.
Arman dulu memperlakukan Ibu dengan sangat baik.
Setiap pagi dia membuatkan teh hangat. Setiap bulan dia menawarkan diri mengambil obat rutin Ibu. Bahkan ketika aku sibuk bekerja di sebuah perusahaan distribusi, Arman selalu meyakinkanku bahwa Ibu berada dalam pengawasannya.
Namun enam bulan terakhir, semuanya berubah.
Setiap kali Ibu mengeluh sakit, Arman selalu mengatakan penyakitnya tidak serius.
“Namanya juga orang tua, Din. Sedikit-sedikit merasa sakit. Jangan semua keluhan dibawa ke rumah sakit.”
Awalnya aku percaya.

Sampai suatu malam, Ibu hampir pingsan karena nyeri perut yang tidak tertahankan.
Aku ingin langsung membawanya ke IGD, tetapi Arman menghalangi pintu.
“Kamu mau menghabiskan lima juta lagi cuma buat pemeriksaan?”
Aku menatapnya dengan marah.
“Ini ibuku, Mas.”
“Dan aku suamimu. Aku tahu kondisi keuangan kita.”
Aku tidak ingin bertengkar di depan Ibu. Malam itu aku membantunya kembali ke tempat tidur, lalu diam-diam memotret semua obat yang biasa diminumnya.
Di antara obat tekanan darah dan vitamin, ada satu strip kapsul putih tanpa kemasan.
“Obat apa ini, Bu?”
“Arman yang kasih. Katanya dari dokter BPJS.”
Aku memperhatikan kapsul itu cukup lama.
Tidak ada nama, dosis, ataupun keterangan obat.
Keesokan paginya, begitu Arman berangkat kerja, aku membawa Ibu ke sebuah rumah sakit swasta di Malang.
Dokter penyakit dalam yang memeriksa Ibu bernama dr. Reza.
Setelah pemeriksaan darah dan pencitraan abdomen, beliau menjelaskan bahwa Ibu mengalami peradangan serius pada saluran pencernaan dan membutuhkan perawatan serta pemeriksaan lanjutan.
Aku hampir menangis mendengarnya.
Namun kejutan sebenarnya datang ketika dr. Reza membuka riwayat medis elektronik.
“Bu Dina, apakah Ibu Sri pernah menjalani rawat inap selama enam bulan terakhir?”
“Tidak pernah, Dok.”
“Benar-benar tidak pernah?”
“Ibu tinggal bersama saya. Saya pasti tahu.”
Dokter itu terdiam.
Kemudian beliau memutar layar komputer.
Di sana tercatat empat kali rawat inap atas nama ibuku.
Januari, Maret, Mei, dan Juli.
Diagnosisnya berbeda-beda, mulai dari gangguan lambung, infeksi saluran kemih, hingga komplikasi penyakit metabolik.
Total klaim yang tercatat hampir delapan puluh enam juta rupiah.
Aku merasa ruangan berputar.
“Dok, pasti ada kesalahan.”
Dr. Reza membuka salah satu dokumen.
“Data ini berasal dari sistem administrasi rumah sakit yang terhubung dengan riwayat kepesertaan pasien. Kami perlu melakukan verifikasi lebih lanjut.”
Mataku berhenti pada satu kolom.
Penanggung jawab keluarga.
Arman Prasetyo.
Hubungan dengan pasien.
Anak kandung.
Aku membeku.
Suamiku telah mengaku sebagai anak kandung ibuku.
Padahal Arman bahkan tidak mengenal Ibu sebelum kami menikah.
“Dok, nomor telepon itu milik suami saya.”
Dr. Reza menatapku serius.
“Kalau begitu, sebaiknya Ibu jangan langsung menuduh siapa pun. Kita harus memastikan apakah ini kesalahan pencatatan, penyalahgunaan identitas, atau sesuatu yang lain.”
Aku mengangguk.
Namun dalam hati, aku sudah merasakan sesuatu yang buruk.
Ibu menggenggam tanganku.
“Nduk, Ibu tidak pernah dirawat di tempat-tempat itu.”
“Aku tahu, Bu.”
“Arman pernah meminta KTP Ibu. Katanya mau memperbarui data BPJS.”
Aku langsung menoleh.
“Kapan?”
“Sekitar akhir tahun lalu.”
Dadaku terasa sesak.
Akhir tahun lalu adalah saat Arman mulai mengambil alih semua urusan kesehatan Ibu.
Dr. Reza kemudian menghubungi bagian administrasi dan petugas penjaminan rumah sakit. Karena data yang muncul melibatkan beberapa fasilitas kesehatan, pihak rumah sakit menyarankan pemeriksaan resmi melalui BPJS Kesehatan dan fasilitas terkait.
Sementara itu, Ibu harus dirawat.
Aku menghubungi Arman sore harinya.
“Mas, aku di rumah sakit.”
Hening.
“Rumah sakit mana?”
Aku menyebutkan namanya.
Nada suaranya langsung berubah.
“Kenapa kamu bawa Ibu ke sana?”
“Karena Ibu sakit.”
“Aku sudah bilang jangan!”
Aku terdiam.
Orang yang benar-benar mengkhawatirkan kondisi mertuanya seharusnya bertanya bagaimana keadaan Ibu.
Tetapi Arman justru bertanya hal lain.
“Dokternya sudah buka riwayat pasien?”
Jantungku berdetak keras.
“Kenapa kamu tanya begitu?”
“Jawab saja, Dina.”
Aku menarik napas.
“Sudah.”
Telepon langsung terputus.
Sepuluh menit kemudian, Arman menelepon lagi.
Kali ini suaranya terdengar jauh lebih lembut.
“Din, dengarkan Mas. Ada hal yang belum sempat Mas jelaskan. Jangan bicara dengan siapa pun dulu.”
“Hal apa?”
“Pulang saja. Kita selesaikan di rumah.”
“Ibu sedang dirawat.”
“Kalau begitu, jangan serahkan dokumen apa pun kepada pihak rumah sakit.”
Aku menatap layar ponsel dengan tangan gemetar.
“Mas, sebenarnya kamu melakukan apa?”
Arman tidak menjawab.
Malam itu dia tidak datang menjenguk Ibu.
Sebaliknya, dia mengirim pesan bahwa dirinya harus pergi ke Surabaya untuk urusan pekerjaan mendadak.
Aku tidak percaya.
Pagi berikutnya, aku menghubungi kantor Arman.
Selama ini dia mengaku bekerja sebagai supervisor administrasi di sebuah perusahaan logistik.
Namun perempuan yang menjawab telepon mengatakan sesuatu yang membuat darahku terasa berhenti mengalir.
“Pak Arman sudah mengundurkan diri empat bulan lalu, Bu.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
“Empat bulan?”
“Iya. Sejak awal Juni.”
Aku mengucapkan terima kasih, lalu menutup telepon.
Selama empat bulan, Arman berangkat setiap pagi mengenakan kemeja rapi, membawa tas kerja, dan pulang menjelang malam.
Ke mana sebenarnya dia pergi?
Aku mulai memeriksa dokumen rumah tangga kami.
Di laci meja kerja Arman, aku menemukan map berisi fotokopi KTP Ibu, kartu keluarga, dan beberapa formulir kosong yang sudah ditandatangani.
Di bagian paling belakang terdapat sebuah kartu nama.
PT Cakra Medika Konsultan.
Di bawahnya tertulis nama seorang perempuan.
Maya Kusumawardani.
Konsultan administrasi klaim kesehatan.
Aku memotret semuanya.
Lalu aku menemukan sebuah buku catatan kecil.
Isinya hanya tanggal, angka, dan singkatan nama rumah sakit.
Empat tanggal di dalam buku itu sama persis dengan tanggal rawat inap palsu Ibu.
Di sampingnya tertulis sejumlah nominal.
18,5 juta.
21 juta.
19,8 juta.
26,7 juta.
Jumlahnya delapan puluh enam juta rupiah.
Namun ada satu catatan yang membuatku merinding.
Sri selesai. Berikutnya Sulastri.
Aku tidak mengenal siapa Sulastri.
Tetapi aku langsung memahami bahwa Ibu mungkin bukan satu-satunya korban.
Siang itu aku mendatangi kantor BPJS Kesehatan untuk mengajukan pemeriksaan riwayat pelayanan Ibu melalui prosedur resmi.
Petugas menjelaskan bahwa data klaim harus diverifikasi dengan fasilitas kesehatan yang mengajukannya. Aku diminta membuat laporan tertulis beserta bukti bahwa Ibu tidak pernah menjalani perawatan tersebut.
Aku menyerahkan salinan dokumen yang kuperoleh secara sah.
Dua hari kemudian, seorang petugas menghubungiku.
Ada ketidaksesuaian serius.
Empat klaim itu memang tercatat atas identitas Ibu, tetapi sebagian dokumen pendukung berasal dari fasilitas kesehatan berbeda. Terdapat dugaan penggunaan identitas pasien tanpa persetujuan.
Kasusnya diteruskan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Pada hari yang sama, seorang perempuan meneleponku.
“Apakah ini Bu Dina, anak Bu Sri?”
“Betul. Dengan siapa?”
“Saya Maya.”
Aku langsung berdiri.
“Dari PT Cakra Medika?”
Perempuan itu terdiam.
“Jadi Ibu sudah tahu.”
“Tahu apa?”
“Saya perlu bertemu. Tapi jangan bawa suami Ibu.”
Kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat Jalan Ijen.
Maya berusia sekitar empat puluh tahun. Wajahnya tampak lelah, dan tangannya terus meremas tisu.
“Saya dulu bekerja mengurus administrasi klaim untuk beberapa fasilitas kesehatan,” katanya.
“Suami saya terlibat?”
Maya mengangguk perlahan.
“Arman awalnya membantu mencari peserta yang datanya bisa digunakan.”
“Mencari peserta?”
“Orang-orang lanjut usia. Biasanya mereka menyerahkan KTP untuk pengurusan administrasi, lalu tidak pernah memeriksa riwayat pelayanan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi kalian membuat pasien palsu?”
“Tidak semuanya palsu. Ada identitas asli yang digunakan untuk mencatat pelayanan yang tidak pernah diterima pemilik identitas.”
Aku merasakan mual.
“Berapa orang?”
Maya menunduk.
“Saya tahu setidaknya sebelas.”
“Dan ibuku salah satunya?”
“Iya.”
Aku mengepalkan tangan.
“Kenapa kamu memberitahuku sekarang?”
Maya mengeluarkan ponsel.
“Karena Arman mulai mengancam saya.”
Dia memperlihatkan beberapa pesan.
Arman menuduh Maya menyimpan uang hasil klaim dan mengancam akan menyerahkan seluruh kesalahan kepadanya.
Namun ada pesan lain yang jauh lebih mengerikan.
Arman meminta Maya mencari cara agar identitas Bu Sri tidak lagi menimbulkan masalah dalam pemeriksaan.
Aku membaca kalimat berikutnya dengan tubuh gemetar.
“Kalau orangnya meninggal, biasanya keluarga tidak akan repot memeriksa riwayat lama.”
Aku menutup mulut.
“Dia menulis ini?”
Maya mengangguk.
“Saya tidak tahu apakah dia serius. Tapi setelah mendengar ibu Anda sakit, saya takut.”
Aku langsung teringat kapsul putih tanpa nama.
Aku bangkit dari kursi.
“Kalau kamu benar-benar ingin membantu, berikan semua bukti kepada penyidik.”
Maya menangis.
“Saya juga bersalah.”
“Kalau begitu, berhentilah menyembunyikannya.”
Sore itu aku kembali ke rumah sakit.
Aku menyerahkan kapsul yang kusimpan dalam kemasan tertutup kepada dokter dan menjelaskan bahwa obat tersebut diberikan Arman tanpa resep yang dapat diverifikasi.
Dr. Reza tidak langsung menyimpulkan apa pun.
Beliau meminta agar kapsul tersebut diperiksa melalui jalur yang sesuai dan menghentikan penggunaannya sampai kandungannya diketahui.
Kondisi Ibu mulai membaik setelah mendapat penanganan.
Namun ketika aku menceritakan sebagian kejadian itu, Ibu justru menangis.
“Nduk, sebenarnya Ibu pernah curiga.”
Aku memandangnya.
“Curiga apa?”
“Dua bulan lalu, Arman menyuruh Ibu menandatangani beberapa kertas. Katanya untuk administrasi rumah sakit.”
“Kenapa Ibu tidak cerita?”
“Ibu takut kalian bertengkar.”
Aku menggenggam tangannya.
“Bu, tidak ada uang yang lebih penting daripada keselamatan Ibu.”
Beliau mengangguk sambil menangis.
Malam berikutnya, Arman akhirnya pulang.
Aku sudah menunggunya di ruang tamu.
Di atas meja terdapat salinan laporan polisi yang kubuat bersama bukti-bukti awal.
Wajah Arman berubah ketika melihatnya.
“Kamu melaporkan suamimu sendiri?”
“Aku melaporkan dugaan kejahatan terhadap ibuku.”
“Dina, kamu tidak mengerti. Aku cuma membantu administrasi.”
“Dengan mengaku sebagai anak kandung Ibu?”
Dia terdiam.
“Dengan membuat empat riwayat rawat inap yang tidak pernah terjadi?”
“Bukan aku yang membuat semuanya!”
“Tapi kamu menyerahkan identitas Ibu.”
Arman mengusap wajahnya kasar.
“Kamu pikir aku mau hidup seperti ini? Setelah kehilangan pekerjaan, aku punya utang. Maya menawarkan jalan keluar.”
“Dan kamu memilih menjual identitas ibuku?”
“Aku tidak menjualnya!”
“Lalu apa namanya?”
Dia membanting tas ke lantai.
“Aku cuma dapat bagian kecil! Orang-orang di atas sana yang mengambil uang paling banyak!”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat suami yang pernah kucintai.
Aku melihat laki-laki yang rela mengorbankan keselamatan perempuan tua demi menutupi kebohongannya.
“Kenapa kamu melarang Ibu ke rumah sakit?”
Arman memalingkan wajah.
“Karena kalau riwayatnya diperiksa, semuanya bisa terbongkar.”
“Dan obat yang kamu berikan?”
“Aku dapat dari seseorang. Katanya untuk lambung.”
“Kamu bahkan tidak tahu isinya?”
Dia tidak menjawab.
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Keluar dari rumah ini, Mas.”
Arman menatapku tajam.
“Kamu mau menghancurkan pernikahan kita?”
“Tidak. Kamu sudah melakukannya.”
Dia mencoba mendekat, tetapi aku mundur.
“Kita bicara melalui pengacara.”
Malam itu Arman pergi.
Tiga hari kemudian, polisi memanggilku untuk memberikan keterangan tambahan.
Maya telah menyerahkan percakapan, catatan transaksi, dan sejumlah dokumen yang mengarah pada dugaan penyalahgunaan identitas pasien serta klaim pelayanan fiktif.
Penyelidikan kemudian meluas ke beberapa orang yang diduga terlibat.
Arman turut diperiksa.
Hasil pemeriksaan kapsul juga akhirnya keluar melalui pemeriksaan laboratorium yang diminta penyidik.
Kapsul tersebut mengandung zat obat yang tidak sesuai untuk diberikan kepada Ibu tanpa evaluasi medis, dan berpotensi memperburuk keluhan pencernaannya.
Namun penyidik menjelaskan bahwa belum ada bukti cukup untuk menyimpulkan Arman sengaja meracuni Ibu.
Aku menerima penjelasan itu.
Aku tidak membutuhkan tuduhan yang dibesar-besarkan.
Kebenaran yang sudah ditemukan pun cukup menyakitkan.
Sebulan kemudian, kondisi Ibu jauh lebih baik.
Beliau kembali bisa berjalan pagi di halaman rumah dan menyiram tanaman kesayangannya.
Aku sedang menyiapkan sarapan ketika Ibu memanggilku.
“Nduk, ada sesuatu yang belum Ibu ceritakan.”
Aku menghampirinya.
Beliau mengeluarkan sebuah amplop tua dari lemari.
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan Ayah.
Aku mengenali tulisan itu seketika.
Ayah menulisnya beberapa bulan sebelum meninggal.
Isinya tentang tabungan, rumah, dan satu pesan khusus untukku.
Tetapi yang membuatku terdiam adalah paragraf terakhir.
Ayah menulis bahwa Arman pernah datang menemuinya secara pribadi sebelum pernikahan kami.
Saat itu Arman meminta pinjaman uang dalam jumlah besar untuk menutup utang.
Ayah menolak.
Arman kemudian memohon agar hal itu tidak diberitahukan kepadaku.
Aku menatap Ibu.
“Ibu sudah tahu sejak dulu?”
Air matanya jatuh.
“Ayahmu ingin memberitahumu. Tapi waktu itu kamu sangat mencintai Arman. Setelah Ayah sakit, kami tidak pernah menemukan saat yang tepat.”
Aku membaca kembali surat itu.
Di bagian paling bawah, Ayah menulis satu kalimat.
Dina, orang yang baik tidak akan memaksamu memilih antara cinta dan keselamatan keluarga.
Aku menangis lama sekali.
Bukan hanya karena pengkhianatan Arman.
Tetapi karena selama bertahun-tahun, aku terlalu percaya bahwa orang yang kucintai pasti memiliki hati yang sama denganku.
Beberapa minggu kemudian, pengacaraku membantu mengurus proses perceraian.
Aku juga terus mendampingi Ibu dalam pemeriksaan dan memberikan keterangan kepada pihak berwenang.
Kasus dugaan klaim fiktif itu belum selesai. Ada banyak dokumen yang harus diperiksa dan orang-orang yang harus dimintai pertanggungjawaban.
Namun setidaknya, sebelas identitas yang diduga disalahgunakan kini sedang ditelusuri.
Suatu sore, aku menerima telepon dari seorang perempuan bernama Sulastri.
Usianya enam puluh delapan tahun.
Dia mengatakan namanya ditemukan dalam pemeriksaan kasus tersebut.
“Bu Dina, saya dengar Ibu yang pertama kali melapor.”
“Betul, Bu.”
“Saya cuma mau berterima kasih.”
Aku terdiam.
“Kenapa, Bu?”
“Saya juga tidak pernah dirawat di rumah sakit yang tercatat itu. Tapi waktu anak saya mau mengurus pengobatan, kami baru tahu ada masalah dengan riwayat pelayanan saya.”
Suaranya bergetar.
“Kalau Ibu tidak berani bicara, mungkin kami tidak akan tahu.”
Setelah telepon berakhir, aku duduk lama di samping jendela.
Ibu menghampiriku membawa dua cangkir teh hangat.
“Ada apa, Nduk?”
Aku tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa, Bu. Cuma ada orang yang bilang terima kasih.”
Ibu duduk di sampingku.
Untuk beberapa saat kami hanya mendengarkan suara hujan yang turun perlahan di halaman.
Lalu beliau menggenggam tanganku.
“Dina, Ibu minta maaf sudah merepotkanmu.”
Aku langsung menggeleng.
“Ibu jangan pernah bilang begitu lagi.”
“Tapi karena Ibu, rumah tanggamu…”
Aku memotong perkataannya.
“Bukan karena Ibu, Bu. Rumah tanggaku hancur karena kebohongan Arman.”
Beliau menunduk.
Aku merangkul bahunya.
“Kalau hari itu aku menuruti Arman dan tidak membawa Ibu ke rumah sakit, mungkin aku akan kehilangan Ibu tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Ibu menangis dalam pelukanku.
Enam bulan kemudian, sebuah surat resmi datang dari pihak berwenang.
Penyidikan telah menemukan bukti tambahan mengenai penggunaan identitas sejumlah pasien untuk pengajuan klaim yang diduga tidak sah. Berkas perkara beberapa tersangka, termasuk Arman, sedang diproses sesuai ketentuan hukum.
Aku membaca surat itu tanpa perasaan puas.
Tidak ada kemenangan yang benar-benar membahagiakan ketika orang yang harus dimintai pertanggungjawaban adalah seseorang yang pernah menjadi bagian dari keluargamu.
Tetapi ada satu hal yang membuatku merasa lega.
Nama Ibu tidak lagi sekadar menjadi angka dalam daftar klaim.
Beliau telah didengar sebagai manusia yang haknya dilanggar.
Malam itu aku menyimpan surat Ayah kembali ke dalam amplop.
Di luar kamar, Ibu sedang tertawa menonton acara televisi kesukaannya.
Suara tawa itu terdengar sederhana.
Namun bagiku, itulah suara paling berharga di dunia.
Aku pernah mengira pengkhianatan terbesar dalam pernikahan adalah ketika pasangan mencintai orang lain.
Ternyata aku salah.
Pengkhianatan yang paling kejam adalah ketika seseorang memanfaatkan kepercayaan kita untuk menyakiti orang yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri.
Dan terkadang, keputusan paling penting dalam hidup bukanlah memilih siapa yang akan kita pertahankan.
Melainkan berani menyelamatkan orang yang hampir kita kehilangan, meskipun untuk itu kita harus melepaskan seseorang yang pernah kita cintai sepenuh hati.
